Kelabu

Kelabu
Episode 36


__ADS_3

Aku baru saja mencabut sebuah antologi cerpen dari sudut baca kelas, berniat membaca beberapa halaman untuk menyegarkan pikiran. Lima belas menit istirahat pertama mungkin terlalu singkat bagiku, tapi aku sudah terlalu rindu membaca buku. Jika diingat, terakhir kali aku membaca buku fiksi adalah ketika lomba resensi novel dua bulan yang lalu. Setelah itu ketegangan satu per satu mengisi hidupku hingga membuatku lupa cara bersantai.


Benar, baru saja kubuka halaman judul pertama kemudian seseorang memintaku untuk datang ke ruang BK. Menghela napas sambil memutar bola mata sebal, aku menggerutu dalam hati. Ada apa lagi?!


“Sepertinya baru kemarin aku masuk ke sana!” ujarku bangkit dari tempat duduk.


“Beda posisi, Ra! Kemarin kamu tersangka, sekarang jadi korban,” jawab Yasinta yang masih asyik memainkan ponsel, “kalau tebakanku benar, pasti akan ada sidang terkait kasus yang menimpamu, Ra!”


“Di posisi mana pun aku bukannya senang keluar-masuk tempat itu! Ah, apes sekali!” omelku pada diri sendiri. Yasinta hanya nyengir tak bisa berkomentar lagi. Kuharap ini akan segera berakhir tanpa perlu merepotkanku lagi ke depannya.


“Tali sepatumu lepas, tuh!” tegur suara seseorang dari belakang ketika aku menuruni tangga. Sayangnya terlambat kusadari ketika sudah terinjak. Nyaris jatuh tersungkur dari jarak sekitar lima hingga enam anak tangga. Kepalaku mungkin akan bocor lagi jika yang menegurku terlambat menarik tanganku.


“Apa berhati-hati terlalu susah untukmu?! KAMU MEMANG HOBI BIKIN CELAKA DIRI SENDIRI YA!” amuk Elang ketika aku sendiri belum sembuh dari keterkejutan. Lututku bahkan terasa lemas.


“Ma ... maaf,” jawabku lirih sambil menunduk, menghindari pandangan orang-orang yang sempat berhenti menonton.


Elang berdecak kesal, “Sial, bikin kaget saja! Aku tidak bermaksud membentak ... habisnya akan sangat konyol kalau kamu terluka lagi setelah baru sembuh! Terlalu menjengkelkan untuk terjadi!”


“Iya, iya ... aku kan sudah minta maaf!” jawabku sambil membenahi tali sepatu.


“Tidak, kurasa akulah yang harus minta maaf,” kata Elang setelah terdiam sejenak lalu melangkah pergi. Eh? Sungguh? Dia bilang apa tadi?


Aku buru-buru menjajari langkahnya.


“Sebelum kamu, aku yakin banyak yang sudah tahu dan memergoki anak-anak nakal itu, tapi mungkin hanya diancam agar tutup mulut lalu dibiarkan pergi. Sedangkan yang terjadi padamu hingga seperti kemarin ... mungkin karena aku.”


“Eh?”


“Mungkin karena kamu mengenalku dan kita terlihat dekat akhir-akhir ini, mereka merasa terancam hingga perlu melukaimu. Maka dari itu ... kurasa akan lebih aman bagimu jika tidak berteman denganku, Shir,” kata Elang.


“Hei, lelucon apa tadi itu? Aku tidak peduli kita berteman atau tidak, tapi kamu terdengar merasa bersalah. Menurutku itu tidak perlu!” jawabku.


“Jelas itu perlu! Aku menyesal karena telah melibatkanmu dalam urusanku sebelumnya, tapi berikutnya tidak akan lagi. Mungkin sidang BK hari ini akan sekaligus membahas masalahku yang waktu itu, tapi kumohon katakan pada Pak Hanri kalau keterlibatanmu cukup sampai di sini. Kau mengerti?”


“Tidak ...” jawabku polos, “aku tidak mengerti bagaimana aku tiba-tiba harus mundur. Dengan ditariknya aku dari kesaksian bisa kau tebak akan berakibat apa?”


“Aku tidak peduli, Shir! Aku tidak mau dibunuh rasa bersalah sebelum berhasil mengungkap semuanya. Jadi tolong, menjauhlah dari bahaya ... biar kuhabisi sendiri ....”


Kalimat terakhir Elang segera membuatku merinding. Terdengar dalam dan dingin. Baru kupahami ketika berbicara demikian matanya tidak tertuju padaku, tapi ke arah lain, seseorang di depan ruang BK yang juga memandang Elang dengan seringaian dan tatapan membunuh yang sama. Siapa anak itu ya? Menyadari aku juga menatap ke arahnya, dia mengedipkan sebelah mata. Ah, aku baru ingat! Si berengsek itu!


“Lang, lihat di sana! Miss Zahira memanggilmu! Cepatlah!” ujarku buru-buru memutus perang mata antara keduanya dan memang beruntung Miss Zahira sedang memanggil Elang di depan ruang guru. Elang berbalik sambil menyembunyikan kepalan tangan di saku celananya. Puh, hampir saja!


Aku melangkah ke arah anak itu yang berdiri sambil tersenyum seolah tanpa dosa. Padahal dialah yang duduk di kursi pesakitan dalam sidang kali ini. Masih terekam jelas di ingatanku, anak itu yang menangkapku setelah aku memergoki teman-temannya. Jadi dia yang bernama Danil, pimpinan anak-anak berengsek itu.


“Hai, hai! Kamu terlihat sehat! Padahal kamu bisa memeras papaku dengan pura-pura gegar otak,” kata Danil belum mengubah senyum menyebalkannya itu.


“Apa maksudmu?!”


“Ah, kita bicara di dalam saja. Kamu tetap bisa memeras papa karena memang itu niatnya datang ke mari. Ayo, ayo!” ujarnya menarik tanganku.


Aku tak habis pikir dengan caranya menyambutku seolah dia bukanlah terdakwa yang sepantasnya merasa malu atau bersalah. Ruang BK lengang, hanya ada seorang laki-laki paruh baya mengenakan setelan jas rapi di sofa tamu. Jangan-jangan dia ....


“Paa! Ini yang namanya Shira! Shira, ayo sapa papaku!” ujar Danil seperti orang mabuk padahal dia sepenuhnya sadar. Dasar tidak waras!

__ADS_1


“Lepaskan tangannya, Danil! Dasar tidak sopan!” kata laki-laki itu.


“Oke, deh!” jawab Danil menuruti perintah papanya. Aku segera membuat jarak darinya. Papa Danil berdeham, menatapku penuh sesal dan terlihat menahan emosi karena ulah anaknya. Tatapan itu membuatku mengerti betapa sulitnya membesarkan seorang anak yang jadinya seperti Danil.


“Ah, maaf dan terima kasih semuanya sudah menunggu!” kata Pak Hanri yang baru memasuki ruangan.


“Sama-sama, Pak! Tidak apa-apa, kok!” kata Danil satu-satunya yang menjawab masih dengan gaya cengengesan begitu. Sungguh, aku tak tahan dengan sikapnya!


“Harusnya pertemuan ini juga dihadiri tiga teman-teman Danil beserta orang tua mereka, tapi setelah saya hubungi, para orang tua itu tidak bisa bekerja sama, bahkan seolah pasrah bila anak mereka di-drop out,” Pak Hanri menghela napas, tampak pusing dengan masalah ini.


“Sebenarnya pihak sekolah tidak ingin men-DO karena beberapa pertimbangan, salah satunya karena anak-anak ini sudah tahun ketiga. Segala bentuk sanksi dan bimbingan telah kami berikan, tapi sama sekali tidak mengarah pada kesadaran anak-anak, perbuatan mereka semakin di luar batas dan tiada jeranya. Ditambah pihak orang tua yang tidak mendukung. Jujur, kami pihak sekolah dengan penuh sesal telah merasa gagal dan sangat terpaksa harus mengembalikan tanggung jawab ini kepada orang tua,” kata Pak Hanri.


“Tapi bila dengan hadirnya saya di sini dapat berarti bahwa saya masih bersedia bekerja sama dengan sekolah untuk menyelamatkan masa depan anak saya, maka ... maka apakah ada satu lagi kesempatan untuk Danil, Pak?” tanya Papa Danil, “saya ... saya sudah kehabisan kata-kata. Entah pembelaan apalagi yang bisa saya gunakan selain karena Danil adalah putra semata wayang saya, satu-satunya penerus keluarga. Saya masih ingin menaruh harapan bahwa anak saya bisa berubah.”


“Sayang sekali! Kenapa harus Bapak yang memohon? Hei, Danil, kamu tidak ingin membela dirimu sendiri? Apa yang tersisa di pikiranmu?” tanya Pak Hanri. Yang bersangkutan hanya diam sambil memainkan anak rambutnya. Tatapan orang tua di sebelahnya jatuh ke lantai terlihat putus asa.


Padahal Papa Danil bisa kubilang baik dan perhatian. Jika tidak, mustahil dia meluangkan waktu di tengah agendanya sebagai anggota dewan –dengan mengorbankan segala reputasi– repot-repot datang sendiri ke sini hanya untuk memenuhi panggilan BK demi anaknya yang terlibat masalah. Seandainya ia tak peduli, ia bisa saja menyuruh pembantunya atau siapa pun untuk memenuhi ‘undangan' tidak menyenangkan ini. Dibandingkan orang tua ketiga teman Danil yang bukan siapa-siapa, yang menolak hadir di sini, Papa Danil sungguh orang yang luar biasa. Sayang sekali Danil menutup mata.


“Danil? Sungguh, tidak ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Pak Hanri sekali lagi.


“Terserah!” jawab Danil dengan sorot mata redup. Wajah tidak seriusnya tadi lenyap entah ke mana. Ada berbagai kekesalan dan unek-unek yang tak bisa ia sampaikan, seperti yang kulihat pada Elang ketika di rumah sakit waktu itu. Ia beranjak dari tempat seenaknya.


“Heh, mau ke mana kamu?! Duduk! Ini belum selesai!” ujarku menarik jaketnya, mencegah dia pergi. Senyum bodohnya kembali.


“Baiklaaah kalau kamu yang menyuruh!” jawabnya kembali duduk. Aku sendiri kaget berani bertindak seperti itu.


“Saya tidak tahu harus bilang apa, Pak,” kata Pak Hanri, “dari awal kami berusaha untuk mempertahankan anak Bapak. Tolong berikan jaminan bahwa Danil tidak akan mengulangi perbuatan itu –ah, meski entah sudah ke berapa kalinya saya bilang begini– tapi insiden kemarin sangat fatal hingga memakan korban.”


“Tutup mulut kamu Danil! Berani-beraninya masih membantah! Papa benar-benar kecewa!” kata orang tua itu tak bisa menahan kekesalan. Ya, bukan Danil yang memukulku, tapi biar kuingatkan bahwa dia yang punya ide melecehkanku! Sialan!


“Cepat selesaikan ini, Pa! Berikan uang kompensasinya untuk Shira lalu Papa bisa pulang. Aku sudah biasa menghadapi situasi seperti ini sendirian sebelumnya, kehadiran Papa kali ini justru terasa aneh! Aku tahu Papa hanya peduli pada reputasi Papa sendiri! Papa khawatir berita ini tersebar dan mencoreng reputasi Papa. Kalau begitu segera selesaikan urusan Papa! Shira, katakan saja kamu butuh apa?! Tuntut Papaku sebanyak-banyaknya, biaya rumah sakit, asuransi, terapi, semuanya! Tolong selamatkan reputasi Papaku ....”


Kata-kata Danil terpotong dengan tamparan keras di pipinya. Tangan gemetar Papa Danil seolah ingin menambah satu-dua tamparan lagi tapi beliau mencoba menahan diri sedemikian rupa.


“Hanya itu yang bisa kusampaikan, Pak Hanri. Sanksi apa pun yang Bapak putuskan nanti, Aku enggak peduli! Sekian, terima kasih!” kata Danil kali ini benar-benar pergi. Pak Hanri tak sempat berkata apa-apa. Apalagi Papa Danil sendiri. Atmosfer drama di ruangan ini tiba-tiba mengental. Aku tidak paham dengan posisiku sekarang.


“Maaf, anak saya benar-benar memalukan. Rasanya saya sendiri juga sudah menyerah,” kata Papa Danil tidak berani mengangkat wajahnya, “saya akan menerima segala keputusan dari sekolah. Jika Danil memang akan dikeluarkan, mungkin memang itu yang terbaik. Ini bukan semata-mata tentang kebaikan Danil ‘kan? Tapi juga keselamatan orang lain. Saya tidak mau ada korban selanjutnya.”


Pak Hanri masih diam menimbang-nimbang. Beliau juga ada di posisi yang sulit.


“Danil juga tidak salah, saya memang ingin menjaga nama baik saya. Jadi tolong, Nak Shira saya mohon pengertiannya. Uang kompensasi ini mungkin ....”


“Maaf, sa ... saya lebih khawatir dengan perasaan Kak Danil. Kalau boleh saya ingin menyusulnya untuk bicara sebentar dan tolong, Pak Hanri ... saya minta waktu beberapa hari untuk menangguhkan keputusan. Maaf, saya izin pergi dulu!” jawabku terbata-bata kemudian segera keluar ruangan. Danil sudah terlihat jauh di ujung koridor gedung belakang. Aku buru-buru lari menghampirinya.


Setelah mendengar kata-katanya tadi, kurasa ini tidak serumit yang kukira, bahkan terlalu klise. Sorot mata redup yang kesepian itu pernah kulihat sebelumnya.


“Kak Danil! Berhenti!” teriakku tak didengarnya. Ia sudah berbelok di area parkir belakang yang sepi. Bel masuk sudah berbunyi tapi aku tak peduli.


“Kak ... Danil! Woiii!”


Akhirnya dia menoleh dengan memamerkan cengiran menyebalkannya.


“Wah, ternyata benar ada yang memanggil. Kukira aku di-prank, jadi aku pura-pura budeg!” jawabnya membuatku menahan umpatan.

__ADS_1


“Apa Kak Danil sedang menginginkan sesuatu?” tanyaku tak tahu harus memulai dari mana. Ia mendekat beberapa langkah tanpa melepas pandangannya dariku.


“Apa tidak ada pertanyaan lain? Jelas sekali kalau itu hanya basa-basi!” jawabnya.


“Aku serius! Aku bertanya seperti itu karena jangan-jangan ... kita memiliki keinginan yang sama,” jawabku. Ya, sorot mata redup yang kesepian itu pernah ada di mataku juga. Dia tertawa terpingkal-pingkal.


“Apa ini? Kamu mencoba membaca perasaanku?! Lucu!” jawab Danil untuk sedetik kemudian tawanya lenyap berganti ekspresi datar yang serius, “jangan berpura-pura mengerti ketika sebenarnya kau tak peduli! Munafik! Aku benci! Memangnya siapa kamu yang tiba-tiba bisa memahami perasaanku?!”


“Yah, kamu benci dengan fakta bahwa aku memang bisa mengerti secepat itu! Kaget ya? Itu karena aku juga merasa kekosongan yang sama. Kamu hanya ingin perhatian ‘kan? Tapi hatimu terlanjur mengeras dan sekalipun Papamu peduli, kamu menganggapnya kepalsuan! Kamu tidak bisa melihat kebaikan darinya ... aghk!”


Kata-kataku terpotong ketika Danil mendorongku ke dinding sambil mencekik leherku.


“Ditambah lagi bicara tentang kebaikan! Kau pikir itu pilihan hidup yang menyenangkan?! Asal kau tahu betapa Papaku yang baik itu dijebak teman-temannya, ikut terseret dalam kasus korupsi yang dirinya sama sekali tidak terlibat! Begitu akibatnya jika kau terlalu lembut, orang-orang yang juga mengaku baik akan memangsamu! Kasihan sekali! Aku menolak untuk menjadi seperti itu!”


“Lalu apa ... apa yang kau dapatkan dengan memilih menjadi ********?! Ughk ... Hidupmu berubah lebih baik?!”


“Ya ampun, kau tidak mengerti juga! Jika kau merasakan kekosongan yang sama, harusnya kau tahu betapa menyiksanya menahan diri! Semuanya terasa lega setelah dilampiaskan, Shira! Teman-teman bajinganku itu tahu benar cara bersenang-senang. Di sekitar mereka aku merasa diterima seutuhnya, tanpa kepura-puraan, sebagian rasa sakitku lenyap. Aku hanya ingin dibebaskan!”


Tendangan telak menyasar rahang Danil tanpa bisa ia hindari. Tangannya tersingkir dari leherku, akses udara di tenggorokanku kembali normal.


“Kau membebaskan diri dengan menginjak batasan norma dan keselamatan orang lain! Bebaslah di neraka!” kata orang yang baru saja menendang Danil, bersiap menambah beberpa tinju tapi segera kucegah.


“Tahan, Lang!” seruku agak kesulitan membendung tenaga laki-laki.


“MINGGIR, SHIR!”


“Kamu juga akan kena masalah jika berkelahi di sini! Tolong jangan memperumit situasi!” jawabku sepertinya berhasil meredakan emosi Elang. Dih, kenapa dia ada di sini?! Bukankah katanya kita tidak boleh dekat-dekat?


“Dan orang sok keren sepertimu juga ... memuakkan!” kata Danil menatap Elang dengan penuh kebencian, meludahkan darah dari luka yang mungkin robek di mulutnya, “selalu saja menghalangiku dengan muka belagu seolah kau yang paling benar! Memangnya sesuci apa dirimu, ha?”


“Maaf, aku memang bukan tidak pernah berbuat dosa, tapi jika kau memperluas jaringan sampahmu dan membuat lebih banyak orang menderita, aku meski di luar kewenangan tim pengawas akan tetap memburumu sampai mati!” jawab Elang.


“Sungguh? Bagaimana kalau aku mati hari ini? Kau bisa membunuhku!” kata Danil memindahkan pisau lipat dari balik jaketnya ke tangan Elang. Aku terkejut dia menyimpan yang seperti itu ke mana-mana.


“Kau tidak perlu repot-repot memburuku lagi. Sejauh ini aku sudah kalah, aku tak tahan seperti ini terus! Teman-temanku tak di sini lagi, Papaku sebentar lagi dipenjara ... bila kau bisa mengakhiri hidupku hari ini, tolong lakukan saja!” bisik Danil serak.


“Jangan lakukan, Lang!” seruku menyadari situasi gawat ini. Entah kenapa kulihat tangan Elang gemetar menggenggam pisau lipat itu, “dia hanya menjebakmu! Jangan terpancing emosi!”


“Aku serius, Shira, kamu juga boleh melakukannya untukku. Ah, jangan-jangan kamu juga tidak mau? Baiklah, biar kulakukan sendiri!” kata Danil merebut kembali pisaunya lalu menggurat pergelangan tangannya sendiri. Darah segera memancar dari lukanya.


“Hentikan itu, bodoh! Memangnya siapa yang menginginkanmu mati?!” seruku mencegah Danil memperdalam sayatan. Pisau di tangannya berhasil kurebut lalu kubuang jauh-jauh. Aku cukup panik dengan luberan darah yang juga membanjiri tanganku.


“Lang, cepat panggilkan PMR!” ujarku terheran dengan Elang yang masih bergeming membisu. Aku berseru lagi, barulah ia merespon seolah tersadar dari lamunan. Danil tak lagi banyak bicara. Sebisa mungkin kutahan pendarahannya agar ia tak kehilangan banyak darah, tapi tak cukup banyak yang bisa kulakukan.


Beberapa menit kemudian datang petugas PMR segera melakukan penanganan pertama. Papa Danil dan Pak Hanri juga, melarikan Danil ke UGD. Kerumunan di sekitarku membombardir pertanyaan. Aku baru sempat menghela napas, menyadari sesuatu. Ada banyak darah di tangan serta pakaianku, berbau, dan aku tak tahan.



Aku terbangun ketika baru dibaringkan di ranjang UKS. Kenapa aku tiba-tiba ada di sini? Mungkinkah aku pingsan? Orang yang pertama kali kulihat adalah Elang yang membereskan tandu lipat dibantu petugas UKS lain. Satu orang petugas lagi membawakan baskom berisi air untuk membasuh tanganku yang bersimbah darah. Serentetan kejadian beberapa saat lalu berhasil kuingat.


Ah, apa lagi yang akan terjadi selanjutnya?!


.Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2