Kelabu

Kelabu
Episode 55


__ADS_3

“... Hidup dan matiku hanya di tangan-Nya!”


“Mati kau!!!”


Iblis itu meraung marah demi mendengar kata-kataku, nyaris menghunjam dada dengan cakar panjangnya, mengincar jantungku. Sebelum itu terjadi, lantai tempatku tergeletak benar-benar lenyap. Tubuhku yang melemas merasakan sensasi jatuh bebas. Sesaat ia lenyap dari pandangan. Menutup mata berpasrah atas apa pun yang selanjutnya terjadi, samar-samar terdengar seseorang meneriakkan namaku. Mataku refleks membuka, mencari-cari sumber suara itu.


“Shira!”


“Lang?!”


Aku terkejut ketika suara Elang terdengar tak jauh. Ia juga dalam posisi jatuh bebas beberapa meter dariku, mengulurkan tangannya. Bersusah payah menggapai tangan Elang, kemudian kugenggam kuat begitu kudapatkan. Sejenak merasa aman meski tak tahu akan seberapa buruk terempas dari ketinggian yang bahkan kami tak tahu ini. Berikutnya kulihat jelas kilauan cahaya menyilaukan dari punggung Elang. Pedang yang lama tersemat di sana muncul kembali, terlihat indah daripada sebelumnya. Seperti terbuat dari kristal bening memancarkan cahaya lembut. Tanganku berhasil menggapai ujungnya bersamaan dengan tangan besar bercakar yang juga menggapai gagangnya. Sesaat kami tak merasakan gravitasi, melayang ketika menyentuh pedang ini. Seringaian yang kulihat membuatku segera menarik tanganku tak rela iblis itu merebutnya. Yang kulakukan ternyata justru melepas sarung pedang sementara pedang aslinya masih di tangan iblis itu. Cahaya yang lebih mengagumkan terpancar.


Belum lama sempat mengaguminya, tendangan keras nyaris mengenai wajahku jika tak segera kutahan dengan sarung pedang. Tak mengenaiku, tendangan berikutnya mengenai Elang. Tangan kami yang masih terhubung membuatku turut terempas karena tendangan itu. Aku tak begitu merasakan sakit sebab Elang melindungiku dalam rengkuhnya.


“Lang! Lang?! Kamu baik-baik saja?” tanyaku menyingkirkan reruntuhan yang sempat menimpa kami. Jawabannya tidak, meski Elang mengaku tidak apa-apa dia pasti sedikit-banyak terluka. Aku mengenali persis bangunan-bangunan di sekitarku. Dunia kelabu, sisi lain sekolahku, dan bulan purnama bercahaya temaram yang seolah turut memandang kami.


Tidak salah lagi, musim purnama ketiga!


Rasanya baru saja kami ada di suasana festival yang menyenangkan, tiba-tiba sudah ada di tempat yang sebaliknya.


“Sial, aku kehilangan pedang itu sebelum memulai pertarungan apa pun!” sesal Elang meludahkan darah di sudut bibirnya.


“Maaf, harusnya aku bisa mempertahankannya,” jawabku menyerahkan sarung pedang yang sempat kuselamatkan.


“Bukan salahmu, Shir.”


“Pedang itu memang penting, tapi pertarungan puncaknya sudah berakhir,” kata Sakti yang tiba-tiba muncul. Eh, bukan, wajah murungnya ... mungkinkah dia ... Sekti? Dalam wujud manusia saat malam hari begini?


“Benar, jangan khawatir. Pedang itu akan selalu kembali kepada sarungnya. Selama sarung pedangnya ada pada kalian, aku yakin semuanya baik-baik saja,” jawab satu orang lain yang serupa dengan ekspresi riang. Nah, benar ... dia Sakti, yang tadi adiknya. Sakti memulai teknik penyembuhannya pada Elang yang mungkin terluka saat terempas tadi.


“Sakti! Sekti! Kalian berdua ... berdiri di ruang dan waktu yang sama?” tanyaku tak begitu mengerti bagaimana bisa seperti ini, tapi aku sungguh tak terbiasa melihat mereka yang bagai pinang dibelah dua berjejer satu sama lain.


“Ya, saat ini celah cahaya sudah terbuka dan kami akhirnya bisa bersama. Sayangnya temu kangen kami setelah ratusan tahun tak terlalu dramatis karena adik kembarku yang minim emosi ini!” jawab Sakti. Eh?! Apa aku salah dengar?!


“Diamlah kau!” balas Sekti tak peduli.


“Celah cahaya terbuka?” tanya Elang mendahuluiku.


“Ya, setelah pertarungan puncak yang kalian menangkan, celah cahaya yang selama ini tertutup dari kebajikan telah terbuka, membawa ampunan yang dimohonkan Shira untuk jiwa-jiwa hitam di sini,” jawab Sakti semakin membuatku tak mengerti. Pertarungan puncak? Yang mana? Aku dan Elang bahkan baru saja sampai.


“Pertarungan puncak yang selama ini belum pernah kami lihat, yang hanya baru dimenangkan kalian berdua, ternyata adalah pertarungan melawan iblis dalam diri kita sendiri, melawan segala kelemahan dan kegelapan dalam hati kita masing-masing,” jawab Sekti. Oh, yang tadi itu?!


“Kami tak pernah bisa menafsirkan tentang pertarungan puncak terkait peristiwa titik balik jika tidak melihat yang terjadi pada kalian. Itu perlawanan yang tidak mudah. Tidak banyak orang yang bisa mengalahkan hawa nafsu, kelemahan, dan kegelapan diri kita sendiri. Tentu saja aku kagum kalian berdua sama-sama bisa memenangkannya!” jawab Sakti. Aku dan Elang saling pandang. Heh? Yang benar saja! Elang juga? Wah, wah!


“Jiwa-jiwa tersesat sebelumnya mungkin terbunuh karena sifat buruk masing-masing menguasai diri mereka lebih dulu saat pencarian celah cahaya. Tapi kalian punya cara sendiri menemukan kebenaran demi memercayai satu hal yang sama.”


“Benar, kegagalanku dan Sekti keluar dari sini ratusan tahun lalu mungkin karena Sekti memercayai hal yang berbeda. Sekti sendiri tidak menginginkan pengampunan. Pembelaanku jadi tak berguna. Aku juga sempat khawatir Shira berubah pikiran mengingat pilihan yang Shira hadapi juga tidaklah mudah,” jawab Sakti. Aku agak malu karena mereka sempat menontonku.


“Eh? Tapi sungguh sudah selesai, nih? Berarti benar kataku tidak ada yang harus dikorbankan ‘kan? TUH, LIHAT! KUBILANG JUGA APA?! UNTUNG SAJA AKU YANG MENANG WAKTU ITU!” ujarku ngegas di hadapan Elang, teringat betapa keras kepalanya dia dulu. Aku banyak bersyukur karena Elang yang harus sependapat denganku.


“Iya, iya ... terima kasih! Aku baru benar-benar bisa memercayai hal itu dan mencintai diri sendiri ketika akhirnya ada seseorang yang memintaku untuk tetap hidup,” jawabnya untuk pertama kali tersenyum tulus. Aku hanya mencibirnya kesal. Andaikan dia memercayaiku dari dulu!


“Nah, karena celah cahaya sudah membuka saat ini, coba kalian aktifkan segelnya agar kita bisa bebas. Apa kalian sudah tahu posisinya?” tanya Sekti.


Elang menggeleng sementara aku mengangguk.


“Aku tahu! Satu-satunya benda bercahaya di tepi batas dunia ini adalah bulan purnama itu!” tunjukku ke langit, “tadi kita tiba di sini setelah jatuh bebas dari udara ‘kan? Selama ini kita mengira batas-batas dunia kelabu sama dengan pagar-pagar pembatas sekolah, padahal jelas kita tidak pernah keluar-masuk dunia ini melaluinya. Selalu langit yang pertama kulihat ketika membuka mata karena dari sanalah jiwa kita terlempar untuk tiba di sini.”


“Ya ampun, tiap siklus enam puluh tahun ketika purnama ketiga aku selalu memandangi bulan itu, bertanya-tanya di mana posisi celah cahaya, ternyata justru bulan itu sendiri ....”kata Sakti terdengar menyetujuiku.


“Apa-apaan ini?! Semua informasi yang kuhimpun lebih banyak salah daripada benarnya,” sambung Sekti.


“Jelas-jelas kita kalah banyak dari Shira! Menyebalkan!” timpal Elang.


“Bukan begitu, Sekti! Kenyataannya informasi darimu tidak sepenuhnya salah,” bantahku.


“Ya, satu kebenaran yang dicampur dengan berbagai tipu daya, seperti inilah dunia yang terkutuk!”


Aku hanya tersenyum, “Tapi kamu pernah bilang bahwa aku tak akan terkena tipu daya dunia ini, itu yang pernah kamu katakan saat pertama kita bertemu, Sekti.”

__ADS_1


“Ah, ya ... terserah, jiwa putih memang menyilaukan!”


“Lalu wujud celah cahaya dalam peristiwa kilas balik waktu itu bagaimana?” tanya Elang.


“Sepertinya itu bukan celah cahaya, Lang! Aku tak merasa ingin dibebaskan. Tuntutannya sama seperti yang diminta iblis itu, mengorbankanmu. Kurasa itu adalah perangkap iblis yang lain,” jawab Sakti.


“Benar, formasi heksagonnya juga sama dengan kunci perangkap di enam titik yang kita temukan, Lang!” jawabku.


“Ah, perangkap di dalam perangkap, sialan!” umpat Elang kesal.


“Dan sepertinya kilas balik itu sengaja ingin menyesatkan kalian.”


Elang menghela napas sejenak setelah Sakti menyelesaikan teknik penyembuhannya, “Jadi, bagaimana cara mengaktifkan segel celah itu?” tanya Elang.


“Coba tanyakan pada pedangmu,” jawab Sekti.


“Kau tidak lihat pedang itu tidak di tanganku?” jawab Elang.


“Makanya dipanggil, dong! Pedang itu hanya menurut dengan pemiliknya!” Jawab Sakti.


“Jangan bilang kamu juga tidak tahu cara memanggilnya?” tanyaku kemudian menyerahkan sarung pedang tadi kepadanya, “nih, dia masih senjata yang sama, yang hanya menurutimu seperti dulu. Kamu pasti bisa memanggilnya ke mari! Cobalah!”


Elang hanya membolak-balik sarung pedang ini, tapi tetap serius mengamatinya. Sesekali berdecak kesal, ia masih belum juga mengerti. Kami bertiga masih berharap. Setelah itu barulah Elang membuat gerakan seperti mencabut pedang itu dari sarungnya seolah pedang itu ada di sana. Perlahan, titik-titik cahaya mengumpul di genggamannya, semakin solid membentuk pedang ketika Elang terus menariknya perlahan. Aku menahan napas demi menyaksikan adegan itu.


Tak ada yang menduga petir tiba-tiba menggelegar ketika langit begitu bersih tanpa awan, bersamaan dengan tercabutnya pedang itu keseluruhan. Cahaya mengagumkan dari mata pedang itu berpendar indah. Elang sempat mencoba mengayunkannya ke beberapa arah.


“Kau lupa berkedip, Shir? Aku tahu aku keren,” katanya terlampau percaya diri.


“Tidak!” bantahku mentah-mentah, “tanganmu jelas-jelas gemetar. Ayunanmu jadi tidak stabil.”


“Benar, ada aliran energi menuju tubuhku. Tanganku belum terbiasa menerimanya,” jawab Elang.


Berikutnya kumengerti bahwa petir tadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekuatan pedang ini. Petir itu muncul karena hal lain, suatu bencana yang selanjutnya kami hadapi. Cambukan petir kedua dan ketiga sempat membelah jarak antara aku dan Elang, juga Sakti dan Sekti, meninggalkan jejak api yang panjang setinggi satu setengah meter yang tak bisa kulalui. Kepul asap hitam melayang rendah tak jauh dari kami. Sepasang titik jingga yang amat kukenali berkilatan di antaranya. Akhirnya dia muncul setelah pedang ini kami rebut kembali!


“Nah, sekarang giliran kita yang bertarung,” jawab Sakti meregangkan badan sesaat.


“Ya, kalian berdua selesaikan urusan terakhir kalian. Serahkan yang satu ini kepada kami,” jawab Sekti. Sepasang kembar bersaudara itu melesat cepat, menahan serangan yang mengarah kepada kami.


“Sebentar, bagaimana caraku menembus api ini untuk ke tempatmu?” tanyaku. Pagar api ini sepertinya melintang panjang hingga halaman belakang. Ah, bodo amatlah! Jika memang harus mengambil jalan memutar sejauh itu, aku tetap harus melakukannya selagi Sakti dan Sekti masih bisa menahan serangan iblis itu. Sejenak aku teringat kata-kata Sakti bahwa serangan iblis dalam wujud itu tak berpengaruh padaku maupun Elang. Aku berhasil menembus pagar api tanpa terluka, justru memadamkannya.


“Jadi, bagaimana?” tanyaku.


“Bagaimana kau melakukan yang tadi?” jawab Elang balik bertanya.


“Kujelaskan nanti-nanti! Urus segelnya dulu! Apa yang harus kubantu?”


“Baiklah, bisa kau lihat pola redup di halaman ini?” tanyanya. Aku mengangguk, mendapati cahaya kebiruan berbentuk lingkaran berdiameter sepuluh langkah dengan satu lingkaran lebih kecil di dalamnya. Kutangkap sarung pedang yang Elang lempar kepadaku. Tak banyak bicara, Elang membuat goresan di tanah dengan pedangnya mengikuti pola tadi. Pola cahaya lingkaran yang redup memancar terang setelah tergores pedang Elang. Aku mengerti, melakukan hal yang sama menggunakan sarung pedang, menciptakan goresan pada pola lingkaran yang berdiameter lebih kecil. Suara keributan masih terdengar dari pertarungan dua lawan satu si kembar dengan sang iblis.


Ketika kami separuh jalan hampir menyelesaikan masing-masing satu lingkaran, pola cahaya lain yang lebih rumit menyebar, mengisi pola lingkaran yang kami buat. Tepat setelah dua lingkaran kami selesaikan, formasi cahaya yang kami pijak semakin berpendaran. Aku dan Elang yang ada di tengahnya terkagum-kagum. Lalu entah datang dari mana, sekelompok orang mengelilingi kami di tepi lingkaran paling luar, bersimpuh menyentuh formasi cahaya di dalamnya.


“Jiwa-jiwa tersesat sebelum kita, Shir,” kata Elang menjawab sesuatu yang belum sempat kutanyakan. Mereka juga kembali ke wujud asli mereka!


“Aku tak percaya mereka adalah monster-monster yang merepotkan kita tiap malamnya,” jawabku memerhatikan mereka satu per satu, kemudian terperangah begitu mereka luruh menjadi kunang-kunang biru seperti ketika Sakti berteleportasi. Pemandangan di sekeliling kami terlihat indah. Aku selalu kagum ketika Sakti seorang diri yang melakukannya, tapi kali ini sekitar dua puluh orang, membuatku seperti dikelilingi tirai cahaya yang perlahan naik ke langit. Tak lama kemudian, muncul tangga spiral dari lingkaran tadi, terus menjulang hingga hampir menyentuh kristal bulan purnama yang tak pernah melayang tinggi di angkasa dunia ini.


“Cepat, Shir! Mereka menunggu dibebaskan di atas sana!” kata Elang mulai memanjat naik. Aku mengekor di belakangnya. Kilatan petir sempat mengalihkan perhatianku. Perlawanan si kembar masih terus berlangsung. Kali ini serangan iblis langsung mengarah kepada aku dan Elang, tapi seolah ada dinding penangkal di sekeliling tangga, tak mengizinkan sihir apa pun mengenai kami.


“Kita tahu banyak sekali sihir hitam yang menelan cahaya di tempat ini. Tak ada cahaya yang benar-benar benderang sekalipun purnama yang kita lihat sekarang. Terlalu redup, padahal harusnya tak ada yang bisa menyembunyikan cahaya,” kata Elang masih terus bergerak naik tanpa terlihat kelelahan sementara aku tertinggal beberapa langkah di bawah. Semakin ke atas terasa semakin jauh.


“Itu sebabnya, di puncak tangga ini nanti, ketika aku berhasil menggores kristal purnama dengan pedang ini, kamulah yang akan mengucapkan mantra untuk membuka segel celah, membebaskan cahaya purnama itu agar memancar terang, menerangi penjuru tempat ini, mengalahkan kegelapan yang selama ini berkuasa. Inilah sesuatu yang kita percaya, Shir! Peristiwa ketika yang pergi akan kembali, yang berdosa diampuni, peristiwa ketika giliran kebajikan yang menang ....”


“Titik balik!” sahutku.


Teriakan Sakti dan Sekti terdengar bersamaan dengan suara petir. Yang sempat kulihat hanya tubuh mereka yang sudah terkapar.


“BERANINYA KALIAN MEMBAHAS OMONG KOSONG ITU!”


Elang tak mengizinkanku mengkhawatirkan keduanya, memintaku agar terus naik karena si iblis mulai memanjat dari dasar tangga. Dengan mengambil wujud manusia barulah iblis itu bisa mendekati tangga ini, tetapi akhirnya tak ada sihir apa pun yang bisa ia gunakan untuk melukai kami, hanya pertarungan jarak dekat dengan tangan kosong atau senjata yang bisa ia lakukan untuk mencegah kami membuka segel celah cahaya, tapi posisinya yang jauh di bawah masih tak terlalu membahayakan. Yang perlu kami lakukan hanya terus bergerak naik.


“Hentikan! Ramalan itu tak pernah ada! Dunia ini akan sama abadinya dengan kebajikan yang kalian percaya! Kalian tak bisa menghancurkan satu sisi kehidupan yang tidak kalian suka! Kubilang hentikan!”

__ADS_1


Teriakan iblis itu hanyalah angin lalu bagiku dan Elang yang sudah menapak di puncak tangga. Tak banyak yang bisa ia lakukan ketika pedang Elang mengacung ke udara, terayun menancap pada kristal bulan purnama di atas kami, menyalurkan kilauan cahaya menyilaukan mata yang sempat menelan kami beberapa saat, kemudian pedang itu seolah menuntunku mengucap mantra yang tak pernah kuketahui sebelumnya. Ini dia!


“Demi nama kebajikan ... Kejahatan dan angkara tak berhak menguasai semesta selamanya ... Ketika tiba waktunya ... aghk!”


Kata-kataku terhenti ketika punggungku terasa terkoyak. Mata Elang membulat sempurna, cukup terkejut ketika cipratan darahku mengenainya. Sebilah belati melesat hingga menembus dada kiriku. Pemilik mata bengis di bawah sanalah pelakunya. Terhuyung, aku hilang keseimbangan, jatuh terguling di sepanjang tangga sebelum Elang sempat mencegahku. Suaranya yang meneriakkan namaku terdengar serak.


Aku baru berhenti terguling ketika sebuah tendangan menyasar perut, membuatku memuntahkan darah. Seringaian iblis itu tertuju pada Elang.


“Cabut pedang itu dari sana!” perintahnya dingin. Elang baru ingin turun menyusulku tapi perintah iblis itu masih sama, semakin tak mau dibantah. Aku menggeleng, mengisyaratkan agar Elang tak menurutinya. Aku sendiri masih sebisa mungkin terus berbisik menyelesaikan mantra pembuka segel yang kudengar dari pedang itu. Semua benda di dunia kelabu ini perlahan luruh menjadi serbuk cahaya yang terbang ke angkasa.


“Ah, baiklah, sihirku sebagian lenyap karena segel itu mulai bekerja. Apa yang masih bisa kugunakan dengan sisa kekuatanku ya? Hm, penyiksaan fisik terlalu membosankan, gadis ini terlalu lemah dan tidak mengasyikkan,” kata iblis itu mencengkeram kepalaku dalam sekali genggaman.


“Aku akan mencabutnya! Singkirkan tanganmu dari Shira!” jawab Elang bersusah payah menarik kembali pedangnya.


“Jangan, Lang!” ujarku meronta dengan sisa tenaga, lebih khawatir Elang benar-benar melakukannya.


“Mari kumainkan sedikit sulap,” kata iblis itu mengirimkan denyut sakit di kepalaku yang tak biasa. Tubuhku mengejang karenanya.


“Wah, aku tak sengaja menghapus ingatannya dua bulan terakhir tentang dunia ini. Apa sekalian saja kuhapus seluruh ingatan semasa hidupnya?”


“Jangan kau berani ....”


Kata-kata Elang selanjutnya belum habis kudengar. Pandanganku dibungkus gelap dan telingaku tersumbat hening. aku tak merasakan sakit lagi. Ada perasaan lega memelukku hangat. Berbagai kilas balik yang melintas di depanku kubiarkan lewat. Pertemuanku dengan Sakti, berkejaran dengan monster, aku dan Elang yang berdiskusi, mencari petunjuk, akan kukemanakan semua ini?


Selanjutnya aku tak mengerti di mana posisiku. Aku seolah berada di langit menyaksikan semuanya. Menyaksikan Elang kini bertarung menggunakan pedangnya melawan si iblis –wah, dia mencabutnya sungguhan, menyaksikan Sakti dan Sekti yang masih terkapar, menyaksikan diriku sendiri yang kini meringkuk tak jauh dari si kembar, di atas genangan darah yang memancar dari lubang di dadaku. Suasana di sekitar masih mengagumkan dengan semua yang berkilauan menjadi serbuk cahaya terangkat ke udara.


Pedang Elang berhasil menempel di leher iblis itu setelah beberapa lama ia hilang kendali menyerang, membabi buta, membuat si iblis berhasil terdesak seperti sekarang. Namun, iblis itu sama sekali tak merasa terancam dengan situasinya sekarang.


“Kau ingin membunuh Pak Hanri?” tanyanya kepada Elang yang pedangnya masih bergeming, “keinginanmu untuk membunuh masih selalu ada. Mengerikan ya?” kata iblis itu sukses membuat Elang hanya mematung. Tidak, Lang! Jangan dengarkan kata-katanya!


“Faktanya begini, Nak! Kau tak bisa menghabisiku meski telah mengakhiri entitas dunia kelabu ini, meski telah membunuh wujudku yang sekarang. Aku akan tetap ada di hati setiap orang, dalam hatimu juga. Silakan habisi aku dan rayakan kemenanganmu, tapi sejatinya aku tak pernah kalah, asal kau tahu!” kata iblis itu menyingkirkan pedang Elang dari lehernya. Pedang itu terlempar tetapi Elang sendiri tak berniat memungutnya, menatap tajam sosok iblis itu.


“Tapi aku tak akan pernah bosan melawanmu, tak peduli betapa pun kau sulit dikalahkan! Jika aku pernah mengalahkanmu dalam diriku sendiri, maka aku sedikit berani mengalahkanmu dalam wujud orang lain, dalam wujud apa pun!” jawab Elang, “ini permintaanku sebagai pemenang kali ini. Pergilah jauh-jauh dariku, dari Shira, dari orang-orang yang berhubungan dengan kami!”


Aku muak melihat iblis itu tersenyum dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Pak Hanri.


“Baiklah, aku akan menghabiskan sisa hidup di pengasingan, terlalu malu karena dikalahkan anak-anak. Habisnya aku hanya iblis rendahan, sih! Jangan khawatir, iblis-iblis lain yang lebih bengis pasti akan penasaran dan ingin segera menemui kalian!” kata sosok iblis itu menyeringai untuk terakhir kalinya kemudian dijemput sambaran petir, ia lenyap, menyisakan kobaran api membumbung tinggi.


Perhatian Elang tertuju kepada tubuhku yang tergeletak. Sekali lagi aku tidak tahu menahu tentang posisiku yang sebenarnya sekarang. Melihat semuanya dengan jelas membuatku merasa ada di langit, tapi tak hanya itu. Melalui udara di tempat ini, aku bisa merasakan tangan Elang yang gemetar menyibak rambutku dari wajah. Helai-helainya yang mulai memutih terlihat keren seperti milik Sakti. Aku pernah bilang bahwa menyukai warna rambut demikian. Melalui udara di tempat ini juga, bisa kurasakan tenggorokan Elang menyempit menyuarakan namaku lirih, memintaku bangun walau kekhawatiran akan hal terburuk telah menguasainya. Melalui tanah di tempat ini, aku bisa merasakan adanya pergerakan. Sakti mengerang singkat, terbangun dan terperangah melihat keadaan sekitar.


“Segelnya ... berhasil terbuka,” ujarnya dengan dada naik turun, “titik balik ... peristiwa itu benar-benar terjadi!”


Kemudian pandangannya menyasar kepada Elang yang menunduk memangku tubuhku. Bersusah payah merangkak mendekati kami, ia sendiri mulai luruh menjadi debu cahaya.


“Elang ... Shira?!”


Sakti sendiri kehabisan kata-kata, menatap belati yang menembus dadaku penuh sesal.


“Memang pada akhirnya tidak ada yang dikorbankan, tapi bila Shira terbunuh ketika membebaskan kutukan dunia ini ... apa itu namanya?! Apa yang harus kujelaskan kepada orang tuanya? Adiknya? Teman-teman? Aku mengerti kenapa ia tak ingin melihatku mati, karena beginilah rasanya ....”


Aku membisu meski sedari tadi memang tak berkata-kata. Bisa kurasakan dada Elang mulai sesak dijejali sejumlah perasaan bersalah.


“Tidak akan kubiarkan, Lang,” jawab Sakti. Ia dengan hati-hati mencabut belati itu dari tempatnya menancap. Darah tak lagi mengalir ketika lubang di dadaku yang berhenti naik turun itu menganga. Dengan sisa-sisa kekuatan, Sakti mencoba teknik penyembuhannya padaku, tapi itu justru mempercepatnya luruh menjadi debu cahaya.


“Kumohon, Sakti! Bertahanlah hingga Shira selamat!” pinta Elang.


“Aku juga menginginkannya, Lang!” balas Sakti. Lubang di dadaku hampir menutup ketika Elang tak bisa mencegah Sakti semakin memudar.


“Aku terlalu sedih untuk mengucapkan terima kasih,” kata Sakti.


“Tidak, tolonglah, Sakti! Bertahanlah lebih lama! Katakan sesuatu yang harus kulakukan untuk menyelamatkan Shira!”


Sayangnya aku juga sedih karena tak bisa mengucapkan salam perpisahan dengan sosok baik yang banyak membantuku di dunia kelabu itu. Aku ingin menangkap luruhan debu cahayanya, merasakan sisa-sisa kehangatannya, keramahan, dan ketulusannya. Sedikit berharap senyumnya bisa kusimpan dan kubawa pulang. Sayang sekali tak ada kenang-kenangan yang sempat kita tukar untuk saling mengingat. Tak ada foto atau cendera mata. Jejak-jejak kebersamaan kami juga lenyap dari tempat ini. Bilik-bilik tempat kami bersembunyi sambil berdiskusi, gedung-gedung yang hancur lalu diperbaiki lagi, semuanya, lenyap tak bersisa.


Hanya ada aku dan Elang di tanah lapang yang luas. Tangan Elang tak lagi gemetar merengkuh tubuhku. Lemas, sisa kekuatannya juga seolah tercabut dihadapkan dengan fakta ini. Menunduk dalam-dalam, ada titik-titik bening yang diam-diam berlinang menuruni pipinya. Sudah kubilang, ia sama sekali tidak cocok dengan wajah seperti itu. Aku ingin balas memeluknya, tapi saat ini kan aku berada di langit, menyaksikannya membopong tubuhku, entah ke mana.


.Bersambung.


Dah, lunas janjiku! Episode terakhir sebelum bulan April berakhir. 😫Eh, harusnya kan tamat bukan bersambung? Gampang deh, kalau emang bener ini yang terakhir tinggal kuganti aja nanti. Beres!

__ADS_1


Buat temen-temen yang tetep setia baca sampe sini, 🙆love ya!


__ADS_2