
Hidangan di atas meja makan membuat senyumku terasa melebar hingga ke telinga. Tidak, tidak ada yang istimewa dibandingkan sajian makananku yang kelewat mewah di Kastel Alba. Benar-benar biasa, perkedel jagung, sayur sup yang isinya didominasi wortel, juga telur dadar tebal-tebal yang dicampur tepung dan daun bawang. Ibu tidak memasukkan sambal pedas dalam menu sarapan karena ... yah, terlalu berisiko, tapi yang paling kurindukan, segelas susu hangat yang tak pernah membuatku muak.
Suasana sarapan di meja makan dengan lengkapnya anggota keluarga kutatap lamat-lamat sambil terus mengelus Shiro di gendonganku –binatang itu tidak menolak. Hubungan ayah dan ibu telah membaik sejak satu setengah tahun lalu, tapi baru kali ini kusadari aku pernah menginginkannya, menginginkan pemandangan di hadapanku.
Namun, suatu hari nanti –besok lebih tepatnya– satu kursi akan kosong di meja makan, kursiku, tapi mereka akan tetap melanjutkan rutinitas tanpa ingat bahwa satu anak gadis tidak lagi di tengah-tengah mereka, tanpa diherankan, tanpa dicari. Adakah pada saat-saat itu mereka akan berpikir, “Seperti ada yang kurang ya?”
Sial, kenapa mataku harus basah memikirkan hal itu?!
“Kakak kenapa masih berdiri di situ? Ayo cepat sarapan! Aduh, kan juga sudah pakai seragam, jangan main-main sama Shiro lagi, nanti bulunya nempel ke mana-mana!” kata Ibu menyadarkanku dari lamunan.
“Kenapa Kakak menangis?” tanya Maurin seketika membuat Ayah turut mengalihkan perhatiannya padaku.
“Si ... siapa?!” kilahku buru-buru menghapus jejak basah di pipi. Ibu segera bangkit memeriksa dahiku sementara Shiro turun dari gendonganku, melenggang keluar.
“Kakak masih sakit?” tanya Ibu cemas. Ayah di seberang meja sana meski ngedumel lelah menasihatiku agar tidak begadang rupanya menyembunyikan kecemasan yang sama. Ah, habis sudah! Aku kalah! Aku tak bisa lagi menahan derai air mata yang semakin membanjiri wajah, menangis tersedu-sedu di pelukan Ibu, mengawali episode pertama drama baru di keluarga ini.
Sungguh, deh! Aku tak tahan ketika bocah yang haus perhatian sepertiku akhirnya menyadari keinginanku terkabul bersamaan dengan kepergianku yang tak lama lagi. Tuh, kan! Drama! Hei, Shiraaa! Kamu masih akan kembali! Apa perlunya menangis seolah kau tidak akan bertemu mereka lagi?! Seketika aku menyesali kecengenganku.
“Ada apa, Kak?” tanya Ibu mengelus kepalaku pelan. Aku hanya menggeleng, bersusah payah menelan kembali isak tangis yang terlanjur terlampiaskan. Berikutnya tetes bening lain yang jatuh juga mengejutkanku, milik Ibu. Ah, bagus! Aku juga membuat Ibu menangis! Ayah hanya garuk-garuk kepala, mengode Maurin barangkali dia tahu sesuatu. Adikku hanya mengendikkan bahu, sejenak mengawasi aku dan Ibu.
“Katakan bila memang ada apa-apa, Kak!” katanya, “tangismu yang tanpa alasan membuat Ibu jauh merasa lebih buruk. Itu seperti Kakak yang dulu, yang menginginkan sesuatu, tapi ....”
“Tidak usah menjelaskan bagian itu!” potong Ayah setengah sebal. Maurin memang selalu menjadi penerjemah situasi yang paling baik sekaligus paling jujur.
“Tapi Maurin benar,” kata Ibu lirih, “ketika Kak Shira menangis tanpa alasan, Ibu jadi berpikir apakah Ibu telah berbuat kesalahan? Orang tua ini sering melakukannya, tapi jarang menyadarinya. Jadi tolong jika memang benar ....”
“Tidak, Bu ... Tidak ada apa-apa, sungguh! Semuanya baik-baik saja. Terlalu baik malah. Maaf, ya, karena telah merusak suasana pagi ....”
Aku janji akan kembali berada di tengah-tengah meja makan ini!
Demikian janjiku itu cukup terucap dalam hati karena bila mereka dengar pasti hanya akan mengundang kecemasan. Aku pun menempati kursiku di sebelah Maurin, mencoba bersikap normal seolah baru saja tidak terjadi apa-apa. Situasi kembali mencair setelah Ayah selalu seperti biasa, yang paling tahu soal selera humor seisi rumah ini. Saat itu aku amat tersiksa karena memaksa tertawa sambil menahan ledakan tangis.
***
Aku sudah memeluk Ibu, tapi belum pada Ayah dan Adik. Kami bertiga sudah berada di dalam mobil, menuju tujuan masing-masing. Yang akan pertama turun adalah Maurin, jadi aku masih bisa bersama Ayah lebih lama –sedikit lebih lama tepatnya. Maurin pulang sebelum aku pulang, aku masih bisa melihatnya lagi nanti sore sebelum menjemput Elang. Sedangkan Ayah biasanya pulang malam. Aku khawatir Luska sudah tiba-tiba menjemputku malam ini.
“Eh, Kak,” kata Maurin di jok belakang ketika kepalaku sedang sibuk-sibuknya berpikir.
“Apa?” jawabku singkat.
“Aku bilang begini karena kebetulan ingat. Kakak tadi bilang tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja, bahkan terlalu baik, iya ‘kan?” tanyanya. Jawabanku hanya gumaman pelan.
“Lain kali jangan gunakan istilah itu lagi,” kata Maurin, “jangan bilang semuanya terlalu baik. Cukup baik, begitu saja. Sebab sesuatu yang terlalu baik tidak sepenuhnya begitu, bisa jadi itu malah pertanda akan datang hal yang sebaliknya.”
Kata-kata Maurin selalu seperti wahyu yang mendatangkan campur aduk perasaan. Terlalu benar, terlalu mustahil untuk dipungkiri, tapi tak memberiku alasan untuk lari.
“Wah, kalau tidak salah Adik anggota klub mading di sekolah ya?” tanya Ayah.
“Benar, redaktur konten sastra fiksi dan puisi,” jawab Maurin menyebutkan jabatannya tanpa diminta.
“Pantas saja kata-kata Adik jadi terdengar puitis, agak berbobot juga,” jawab Ayah yang kutahu sebenarnya hanya membelokkan topik pembicaraan hingga Maurin harus turun di depan gedung sekolah menengah pertama. Lima menit selanjutnya hanya ada aku dan Ayah. Aku tahu saat jeda hening begini Ayah sedang mencoba mencari-cari bahan pembicaraan, tapi kalah cepat, aku menemukannya lebih dulu.
“Oh ya, Yah,” ujarku berdeham sejenak, “apa dari kakek-nenek atau buyutku ada yang keturunan orang sakti?”
Itu dia! Pembahasan yang bagus ‘kan?
“Eh? Kenapa Kakak menanyakan hal itu?” tanya Ayah terlihat sekali menahan tawa, “tangis Kakak tadi tidak ada hubungannya dengan itu ‘kan?”
“Tidak, sama sekali tidak! Barangkali memang benar ada,” jawabku. Lagi-lagi hening mengisi kabin beberapa detik.
“Kenapa kalau memang benar ada?” kata Ayah yang harusnya mengundang penasaran bila kalimatnya diucapkan dengan nada misterius, tapi Ayah menunjukkan ekspresi senyum percaya diri yang teramat menyebalkan.
“Yang jelas bukan Ayah!” tukasku. Orang tuaku ini malah terkekeh sambil menepikan mobil di dekat gerbang sekolahku.
__ADS_1
“Kakak masih saja bertanya ketika orangnya ada di sebelah Kakak,” jawab Ayah yang sesuai dugaanku ternyata hanya melawak, “memangnya apa rahasia ketampanan dan awet muda Ayah bila bukan kesaktian itu sendiri?”
Ayah malah tertawa bebas setelahnya. Aku hanya memutar bola mata sebal.
“Iya, deh, iya! Terserah!” jawabku malas, meraih tangan Ayah dan menciumnya.
“Ayah nanti pulang sore, jadi bisa menjemput. Kalau Yasinta mau bareng juga bisa sekalian.”
“Oh? Um, Shira kan minggu ini ujian praktik. Mungkin lewat tengah hari sudah boleh pulang.”
“Ah, Ayah tetap tidak bisa menjemput Kakak ya?”
“Ti ... tidak apa-apa, kok! Lagi pula Shira juga akan pulang telat ... dan tidak perlu dijemput.”
“Memangnya Kakak mau ke mana?”
Menemui Elang.
“Diundang belajar bersama di rumah Nike,” karangku sambil berdoa semoga Ayah tidak tanya-tanya ke Nike sendiri.
***
Koridor kelas dua belas MIPA mulai ramai ketika langkahku menelusurinya. Beberapa kenalanku dari kelas sebelah sempat menegurku ramah dan kubalas sama ramahnya sementara Yasinta yang duduk di depan teras melambai ke arahku. Sebelum masuk kelas terlihat namaku tertulis di papan absensi dengan centang di keterangan sakit. Luska tidak mengingkari kata-katanya ternyata.
“Hai, Ra! Kamu tidak pakai kacamata?” tanya Yasinta. Oh? Wah! Aku baru menyadarinya! Tumben ayah tidak mengingatkanku? Bila kuingat juga, aku sudah tidak memakai kacamata sejak di Alba karena kacamataku terpental entah ke mana ketika Luska membuka portal menuju Alba di lapangan belakang kampus saat edufair.
“Ra?! Malah bengong!” tegur Yasinta sekali lagi, “masih sakit ya? Kenapa memaksa masuk? Hari ini jadwal ujian praktik kita olahraga, tahu! Kamu pasti bakal capai lagi!”
“Um, yah ... Aku tidak mau praktik olahraga susulan sendirian, asal kau tahu! Lagi pula sakitku tidak serius, kok! Sudah banyak baikan!” jawabku.
“Iya, aku tahu sakitmu sebenarnya hanya merajuk karena tidak sengaja kutinggalkan di edufair Sabtu lalu ‘kan? Dih, bikin khawatir saja sampai susah dihubungi!” jawab Yasinta.
“Oh, entahlah! Tiba-tiba saja aku lupa dan terus berjalan pulang dengan Yuanda. Setibanya di rumah, ya ampun, aku ingin kembali keluar sebelum akhirnya ada pesan darimu bahwa kau sudah di rumah,” jawab Yasinta. Aku masih bersungut-sungut sebal atas jawabannya, ditambah pesan yang tidak pernah kukirimkan itu, pasti ulah Luska.
“Hehe, maaf, Ra!” kata Yasinta beriringan denganku memasuki kelas. Kehebohan teman-teman segera menyambutku.
Tolong, deh! Aku tidak ingin memulai drama cengeng lagi dengan bersedih dan memikirkan sempatkah aku kembali sekolah sebelum Ujian Nasional? Cukup sudah, tekadku harus lebih kuat dari pemikiran pengecut itu! Sudah kusepakati dengan diri sendiri. Aku pasti akan kembali sebelum rangkaian ujian kelulusan!
“Ganti baju dulu, yuk, Ra! Kalau ganti nanti mendekati bel masuk pasti bakal ramai,” ajak Yasinta. Aku baru saja ingin bilang oke dengan semangat, tapi semangat itu segera buyar. Oh, wah, apa aku sempat memasukkan pakaian olahraga tadi pagi? Jelas-jelas tidak! Tapi setelah kuperiksa tas, kaos olahraga dan training panjang lengkap dengan sepatu olahraga sudah berada di dalamnya. Ketika keluargaku di bawah pengaruh hipnotis yang tidak mengingatku selama tiga hari terakhir, sudah pasti Luska yang telah repot-repot menyempatkan waktu menyiapkan semua ini untukku. Aku akan berterima kasih padanya nanti.
Perkiraan Yasinta terbukti meleset. Bilik kamar mandi sudah penuh dan kami harus mengantre. Jadwal ujian praktik olahraga hari ini memang untuk tiga kelas. Aku dan Yasinta terbilang yang paling akhir masuk berganti pakaian. Teman-teman sekelas banyak yang sudah memakai pakaian olahraga dari rumah padahal sebenarnya tidak diperbolehkan demikian. Tepat ketika bel masuk, kami baru dapat dua bilik kamar mandi kosong untuk ganti baju. Lima menit kemudian aku yang keluar lebih awal, merapikan rambut menjadi kucir kuda sederhana sambil menunggu Yasinta.
“Sudah, nih! Yuk!” ajaknya.
“Rambutmu tidak diikat, Yas?” tanyaku karena tahu pasti bakal mengganggu melakukan aktivitas fisik dengan rambut panjang tergerai begitu.
“Sebentar, deh!” kata Yasinta tiba-tiba menyingkirkan ekor kudaku ke bahu. Firasatku tiba-tiba tidak enak.
“Apa ini, Ra? Sejak kapan ada tato di tengkukmu?”
Nah, benar.
Sungguh, aku lupa dengan keberadaan tato itu. Siapa pun, tolong beri aku ide gratis untuk menjelaskan karangan cerita kepada Yasinta!
“Ah, begini, Yas ...” ujarku berbalik tak mengizinkan Yasinta mengamati tato itu lebih lama. Sahabat karibku ini agak kaget ketika tiba-tiba kutangkup kedua pipinya bersamaan.
“Kamu tidak akan memberi tahu siapa pun bahwa ada tato di tengkukku, oke?” pintaku menatap matanya lurus-lurus, “kamu juga tidak perlu mengingatnya. Paham ‘kan?”
Jawaban Yasinta hanya anggukan pelan. Aku terkejut ketika ia tiba-tiba tumbang menghantam lantai. Heeeh?! Apa yang baru kulakukan?!
“Ya ... Yasinta! Aduh, Yas!” teriakku setengah panik, setengah waswas. Beruntungnya –atau tidak beruntungnya– tidak ada yang melihat kejadian tadi. Belum lama aku mengguncang bahu Yasinta, tiba-tiba ia bangun terperanjat bersamaan dengan suara peluit Pak Aji yang cukup terdengar karena posisi kamar mandi dengan lapangan olahraga memang berdekatan.
__ADS_1
“Eh? Kenapa aku tidur di bawah?!”
“Ta ... tadi kamu ....”
“Aduh, jangan bengong, dong, Ra! Kita terlambat berkumpul di lapangan! Ayo cepat!” jawabnya buru-buru menyeretku pergi. Satu tanganku yang bebas melepas karet kucir rambut, membiarkan rambutku tergerai kembali.
***
Berada di bawah kipas angin setelah aktivitas fisik melelahkan memang suatu kenikmatan tersendiri. Tubuhku yang terasa terbakar dengan dibasahi peluh berangsur-angsur mendingin. Posisi bangku di bawah kipas angin memang mantap!
Yasinta belum kembali dari ganti baju. Kursi kosong di sebelah kugunakan untuk meluruskan kaki yang pegal. Sambil beristirahat, kuperiksa ponselku yang entah bagaimana masih utuh padahal waktu itu sempat kubawa ketika menemui Luska untuk pertama kalinya.
“Lang, ini Shira. Maaf tiba-tiba mengganggu. Aku akan menemuimu sepulang sekolah nanti. Penting. Tolong jangan ke mana-mana.”
Demikian pesan yang kukirim untuk Elang tadi pagi. Hingga saat ini masih menunjukkan centang satu, belum ada balasan. Terakhir dilihat tidak tampak, foto profil default. Aku tahu nomor kontaknya ganti, mungkinkah nomor kontakku belum ia simpan ulang? Kuberanikan meneleponnya, berharap ketika dia online lagi nanti akan menghubungiku balik dan menjawab, “Sungguh? Kamu akan ke mari? Sepenting apa hingga kamu harus jauh-jauh menemuiku?”
Penting sekali dan sekarang dia teramat susah dihubungi. Ah, aku tidak bisa tenang!
“Nomormu disimpan, kok, Ra!” kata Yasinta tiba-tiba muncul mengejutkanku, “Elang pernah muncul di grup, bilang bahwa ia masih menyimpan semua kontak teman-teman di sini termasuk kontakmu. Jangan khawatir, ia hanya bertambah sibuk. Nanti pesanmu juga dibalas, kok!”
“Oh, begitu ....”
“Oh, begitu? Kamu ada urusan penting apa sampai harus jauh-jauh menemuinya?”
“Dih! Tidak sopan! Kamu mengintip pesanku ya?!” protesku sebal. Yasinta hanya nyengir tanpa rasa bersalah.
“Tidak sengaja lihat,” jawabnya, “mau kutemani? Nanti kamu tersesat, lho!”
“Terima kasih, tidak perlu. Meski pergi bersamamu pun tidak ada jaminan bahwa aku tidak akan tersesat.”
“Seandainya memang akan tersesat kan tidak sendirian, Ra!”
“Sudahlah, tersesat bukan bagian dari rencanaku! Aku akan tetap pergi sendiri!” jawabku bersikeras.
“Kamu tidak mau bilang alasanmu menemui Elang? Aku tidak sedang menggodamu, tapi aku benar-benar cemas,” kata Yasinta semakin serius menuntut jawabanku, “hal seperti ini pernah terjadi saat awal-awal kedekatan kalian berdua kelas sebelas dulu. Aku yakin kalian sedang terlibat masalah dan kamu merahasiakan segala hal dariku, Ra, membuatku penasaran setengah mati. Setelah terjadi sesuatu, ingatanmu hilang dan aku semakin menyesal karena tidak bisa membantu. Kau mau hal itu terulang lagi?”
Benar, yang dikatakan Yasinta sekilas memang benar. Informasi tentang Dunia Kelabu yang sudah tidak ada di kepalaku pasti bisa kutanyakan dari Yasinta seandainya waktu itu aku memilih tidak merahasiakannya, tapi karena ternyata aku yang dulu begitu kukuh tidak memberi tahu Yasinta, teman terdekatku, berarti Dunia Kelabu sama sekali bukan hal remeh yang layak dicerita-ceritakan seperti mimpi buruk biasa. Memang, lebih buruk lagi malah. Itu sebabnya, saat ini pun aku tetap tidak akan membiarkan Yasinta tahu. Terlalu berbahaya bila ia juga turut terlibat.
“Kau masih mau main rahasia-rahasia, Ra?” tanyanya sekali lagi. Di lain sisi aku tidak bisa pura-pura tidak mengerti kecemasannya. Hanya hela napas panjang yang kulepas.
“Aku akan pergi jauh, Yas,” jawabku menatap lurus-lurus matanya, “tapi sebaiknya kamu tidak perlu tahu ... dan tidak mengingat yang kukatakan tadi, juga rencanaku menemui Elang hari ini, oke?”
Jawaban Yasinta hanya anggukan pelan. Setelah itu kepalanya tergeletak di atas meja. Siapa pun akan mengira Yasinta kelelahan setelah penilaian olahraga yang menguras tenaga. Kali kedua aku melakukan trik yang sama kepada Yasinta, semoga tadi itu bisa disebut hipnotis ... dan semoga saja memang benar bekerja!
***
Pukul setengah satu siang, udara panas bukan main terasa memanggang. Ngadem sejenak, aku baru keluar dari minimarket pinggir jalan raya yang merupakan jalur bis antarkota sambil menyesap teh botol dingin.
Ah, aku sedang mencoba memulai misiku, tapi sebelumnya aku lebih ingin mengomel dulu meski dalam hati. Pertama, Dewan Internal sungguh semaunya sendiri dengan memintaku kembali ke Alba sebelum dua puluh empat jam. Mereka tidak bertanya –dan aku tidak memberi tahu– bahwa Elang tidak tinggal di kota yang sama denganku lagi. Perjalanan ke kota sebelah memang hanya memakan waktu satu jam lebih sedikit. Aku dan Elang pun juga bisa segera merobek kertas lintas dimensi setelah kujelaskan semua situasinya, tapi masalahku bukan di situ.
Aku tidak pernah pergi ke luar kota sendirian, tidak tahu kediaman Elang, dan belum mendapat kabar apakah Elang punya waktu untuk menemuiku –yah, siapa tahu dia harus bimbel atau ada urusan lain. Ditambaah lagi Elang pasti belum siap pergi dalam situasi mendadak seperti ini. Ah, masalahku benar-benar sepaket komplit!
Kuperiksa ponselku untuk ke sekian kalinya. Di riwayat panggilan ada puluhan panggilan tak terjawab tertuju ke kontak Elang di luar jangkauan dan yang kuhubungi belum juga merespons. Terlalu aneh bila Elang hanya sekadar sibuk. Setidaknya aku perlu jawaban singkat. Beberapa bis menuju kota sebelah sudah berulang kali lewat, tapi aku tidak memutuskan pergi sebelum bisa menghubungi teman lamaku itu.
Ketika berbagai campur aduk perasaan mengerjaiku tiada habisnya, sesosok yang tak asing muncul melambai tangan dari seberang jalan bersama satu orang lagi di sebelahnya. Keduanya melintasi zebra cross demi menuju tempatku berdiri.
“Kak Garuda ...”
“Hai, Shira!” sapa Kak Garuda dengan senyum riang yang menjadi ciri khasnya. Berbanding terbalik dengan seorang lagi yang berwajah masam dengan tatapan tidak bergairah.
“Aquila ....”
.Bersambung.
__ADS_1