Kelabu

Kelabu
Episode 21


__ADS_3

“Ada yang ingin saya bicarakan,” kata Pak Hanri, “di kantor saja ya!”


Aku mengangguk, hanya menurut. Sempat kulihat Erik melirikku, mengisyaratkan sesuatu. Benar juga, ini kesempatanku mencari tahu persepsi siapa yang salah.


Setibanya di kantor beliau memintaku menunggu, cukup lama hingga akhirnya beliau kembali membawa selembar brosur dan menyerahkannya kepadaku.


“Nah, coba kamu lihat dulu. Saya sudah menawarkan kepada beberapa anak, tetapi tidak ada yang menyanggupi. Saya harap siswa sekolah ini bisa memenangkan lomba ini ... dan saya harap kamu yang memenangkannya,” kata Pak Hanri.


Lomba membuat novel dari salah satu media daring ternama, khusus pelajar SMA, deadline hingga menjelang akhir tahun nanti. Jujur, ini bukan topik pembicaraan yang kuharapkan.


“Bagaimana? Kalau kamu berminat Saya akan selalu siap membantu konsultasi maupun panduan lainnya,” kata Pak Hanri penuh harap. Aku hanya menghela napas.


“Baiklah, akan saya coba dulu,” jawabku setengah sadar.


“Bagus! Info lengkapnya bisa kamu lihat di akun medsos resmi media ini ya! Saya menghubungi kamu karena dengar dari Nike bahwa kamu suka menulis. Benar ‘kan?”


“Benar, Pak," jawabku nyengir. Nike sialan!


“Kalau boleh tahu menulis di mana? Akhir-akhir ini banyak sekali media daring tempat penulis-penulis amatiran berkarya. Itu bagus sekali! Apa kamu punya akun di sana? Saya ingin membaca karyamu.”


EEEHHH???! YANG BENAR SAJA! Tidak! Aku tidak siap mengetahui reaksi Pak Hanri begitu melihat cerita-cerita haluku! Tidaaak!


“Anu ... saya menggunakan nama pena,” jawabku.


“Wah! Biasanya orang-orang yang menggunakan nama pena punya popularitas tinggi dan karyanya banyak diminati pembaca.”


Sungguh, aku hampir menyembur tawa jika saja gagal kutahan mati-matian. HAHAHAHAAA! Popularitas apanyaaa?! Diminati macam apa jika pembaca belum juga menjilat angka seribu?! Aduh, Pak Hanri ini ada-ada saja!


“Baiklah, kalau kamu tidak ingin saya tahu, mungkin kamu belum terlalu percaya diri, tapi saya yakin kamu bisa diandalkan! Kamu boleh pulang sekarang. Oh, iya, jika ada yang perlu saya bantu, jangan sungkan-sungkan hubungi saya ya!” kata Pak Hanri mulai berkemas.


“Baik, Pak,” jawabku singkat. Masih ada yang menggantung di langit-langit kepalaku. Oh iya, sesuatu yang paling penting belum juga dibicarakan.


“Anu ... Pak, maaf, ada yang ingin saya sampaikan,” ujarku membuat Pak Hanri urung menyandang tas.


“Oh, iya, silakan!”


“Um ... ini tentang masalah Elang,” jawabku, “sebenarnya bagaimana tanggapan Bapak mengenai masalah itu?”


Pertanyaan lain seolah berebutan ingin tersampaikan, tetapi aku masih sadar bahwa mencecar Pak Hanri tentu sangatlah tidak sopan. Pak Hanri pun kembali duduk, menyadari bahasan ini akan panjang sekali.


“Tentu saja saya sangat terkejut begitu mendapat laporan itu. Sejujurnya ini kasus yang biasa. Penemuan bukti-bukti kenakalan remaja tidak jarang terjadi, tetapi sangat tidak biasa ketika barang itu ditemukan di tas Elang.”


“Berarti Bapak setuju jika seseorang berusaha mencemarkan nama baik Elang ‘kan?”


“Iya, sejauh yang saya tahu dia memang tidak mungkin melakukan kenakalan yang tidak keren seperti itu. Rasanya tidak ada alasan bagi Elang untuk melakukannya,” jawab Pak Hanri. Benar, tidak keren. Elang suka menggunakan istilah itu untuk sesuatu yang tidak ia setujui.


“Lalu siapa yang mengarang versi lain dari laporan itu? Juga yang menyebarkannya kepada anggota pengawas? Versi miring dari laporan itu benar-benar mencoreng nama baik Elang, Pak!”


“Versi lain? Dari siapa kamu pertama kali mendengarnya?”


“Dari ... dari salah satu anggota pengawas tata tertib juga dan katanya informasi tidak benar itu bersumber dari Anda.”


“Dari saya? Yang benar saja!” jawab Pak Hanri terkekeh pelan, menolak pernyataanku. Berarti memang bukan Pak Hanri yang salah paham mengenai masalah ini. Artinya laporan miring itu benar-benar karangan Erik saja.

__ADS_1


“Ah, ini kabar baik sekaligus buruk. Kabar baiknya, dugaan Elang benar, bahwa orang yang berusaha menjatuhkan nama baiknya adalah sesama anggota pengawas. Kami akan segera tahu. Namun, kabar buruknya berita itu terlanjur menyebar, apalagi sumbernya beratasnamakan nama saya,” sambungnya lagi.


“Itu berarti Pak Hanri-lah satu-satunya yang bisa meluruskan berita bohong itu. Berikan klarifikasi bahwa Anda tidak pernah menyampaikan kabar menyimpang tentang Elang!” jawabku.


“Tentu saja, saya akan mengklarifikasinya. Kesimpang-siuran ini tidak bisa terus dibiarkan terjadi. Meskipun Elang telah keluar dari kesatuan tim pengawas, nama baiknya harus dipulihkan kembali.”


“Benar, Pak. Saya juga ... Eh?! Apa?! Elang keluar dari tim pengawas?!” tanyaku menyadari poin penting yang begitu mengejutkan. Haaa?!


“Benar, itu keputusan Elang sendiri,” jawab Pak Hanri. Reaksi Pak Hanri yang demikian tenang justru lebih mengejutkan.


“Dan Bapak membiarkan salah satu siswa terbaik dalam tim keluar begitu saja?” tanyaku tidak bisa menerima keputusan itu. Pak Hanri jadi terlihat serba salah.


“Saya tidak punya hak melarangnya untuk pergi. Elang telah memutuskannya sendiri.”


“Tapi Anda punya hak mempertahankan Elang agar tetap dalam tim! Dalam kondisi tersudut seperti ini dia pasti telah memutuskan sesuatu dengan gegabah,” bantahku.


“Barangkali jika kamu yang membujuknya, Elang akan kembali bergabung.”


Aku membuang napas kesal. Pak Hanri tidak pernah tahu bahwa Elang akan menyentil dahiku tiap kali kuberikan saran tentang masalah ini. Berhenti ikut campur urusanku, demikian komentar Elang nantinya.


“Aneh ya melihat kalian yang tidak pernah akur ternyata saling mendukung dari belakang,” komentar Pak Hanri tersenyum simpul.


“Saya hanya tidak bisa berdiam diri —membiarkan sesuatu yang tidak benar— terjadi, Pak. Terlebih saya menjadi saksi semua lelucon ini!”


“Iya, saya tahu. Sebaiknya kesaksianmu saya dengarkan lain kali di tempat yang lebih tertutup. Saat ini meski hanya ada kita berdua, dinding-dinding dan langit-langit ruangan ini masih menguping pembicaraan kita, Shira,” kata Pak Hanri. Aku refleks menengok sekitar.


“Apa kita sedang diintai?” tanyaku.


“Entahlah, ada baiknya kamu segera pulang atau menagih buku PR-mu ke rumah Nike.”


“Oh iya, jangan lupa tentang topik awal kita tadi! Bapak tahu kamu punya banyak setok naskah novel yang layak untuk dilombakan. Semangat, ya!” kata Pak Hanri menepuk bahuku kemudian melangkah keluar dari ruang guru bersama tas yang tersandang di pundaknya.


Aku pun turut beranjak dari tempat itu, mengambil pintu di kiri meja Pak Hanri yang langsung terhubung ke lobi, tidak perlu memutar lewat area parkir di belakang karena aku memang tidak mengendarai sepeda atau motor. Seseorang yang masih berdiri merapat tak jauh di balik pintu membuatku terkejut. Apa yang dia lakukan di sini?! Oh, dinding dan langit-langit yang menguping ternyata di sebelah sini! Wah, insting pengintai Pak Hanri memang hebat!


Tatapan mata kami beradu beberapa saat, tetapi karena kurasa aku tidak perlu memulai pembicaraan atau mendengar penjelasan apa pun, maka aku melenggang meninggalkan lobi. Dah, Erik!


“Aku benar-benar tidak mengerti,” katanya menahan tanganku, “Sungguh aku tidak mengerti isi kepala pimpinan kami, tapi dia seolah mengadu domba anak-anaknya sendiri.”


Aku memutar bola mata sebal. Cih, sudah gagal dengan rencananya sendiri, dia masih berani berargumentasi dan terus memelintir opini.


“Ada lagi yang perlu disampaikan?” tanyaku santai, menatapnya tanpa ekspresi.


“Suatu saat nanti kamu akan tahu, siapa saja yang menjadi korban dari masalah ini, Ra. Bukan hanya Elang, tapi juga aku, kamu, semua teman-teman tim pengawas ... dan aku akan tetap bertahan di jajaran pengawas untuk segera memperlihatkan siapa dalang tunggal dari semua ini,” ujar Erik.


“Wah, berarti kamu akan lebih berbahaya, dong? Siapa lagi yang ingin kamu singkirkan dari tim pengawas?” komentarku sambil berusaha melepas tanganku dari cengkeraman tangannya.


“Ra, kamu akan menyesal karena telah menuduhku.”


“Bodo amat! Aku ingin pulang, lepaskan tanganku!” ujarku bahkan mengancam akan menggigitnya. Erik hanya diam menatapku sendu. Tidak, tidak lagi! Wajah layu itu tidak akan membuatku merasa kasihan lagi.


“Rik! Minggir aku mau pulang!” teriakku kemudian di detik berikutnya seseorang yang entah datang dari mana tiba-tiba menyingkirkan tangan Erik dariku.


“Ya ampun, apa sudut lain di sekolah ini kurang strategis hingga kalian harus pacaran di lobi?” katanya bicara seenak udel.

__ADS_1


“Orang dengan akal yang utuh tidak akan mengira kami sedang pacaran, ya! Jadi mohon gunakan isi kepalamu lebih bijak lagi, Elang Dirgaraja!” jawabku sarkastik. Ah, entahlah! Sekalipun dia orang yang kubela tapi tetap saja selalu berhasil memancing kata-kata pedas dariku.


“Sssttt! Diam, Shir! Aku tahu kamu sedang PMS.”


“Lang! Tidak sopan!!!” bentakku kesal tapi dia tidak peduli dan terus bicara.


“Jangan-jangan kamu sudah mengata-ngatai Erik, ya? Ya ampun, Shir ... kamu tidak perlu melakukan hal itu! Dia akan menyesal dengan sendirinya! Intrik kejahatannya telah terbongkar dan kamu semakin membebani pikirannya! Aduh, maaf ya, Rik! Aku akan membawa Shira pergi,” kata Elang menyeretku dari tempat itu.


“Lang, aku tidak akan menyesal karena aku tidak melakukan kesalahan apa pun ....”


“Sssttt ... Aku tahu kamu akan bilang begitu, Rik. Maaf kalau kesenanganmu harus terusik secepat ini.”


“Lang ....”


“Ayo pulang, Shir!” jawab Elang tak mau mendengar apa-apa lagi, terus saja menyeretku yang masih ingin melontarkan berbagai protes atas kata-kata tidak sopannya. Elang melepaskan tanganku setelah agak jauh, di sekitar pelataran pos satpam.


“Tidak usah baper, ya! Aku hanya tidak ingin saksi mata dalam kasus ini dilukai atau dilenyapkan pelaku, jadi aku membawamu pergi darinya,” kata Elang.


“Bodo amat! Memangnya kesaksianku masih ada gunanya? Kasus ini bisa dianggap berakhir dengan mundurnya kamu dari tim pengawas! Orang yang akan kubela telah mundur lebih dulu seperti pecundang!”


“Siapa yang menurutmu pecundang?!” jawab Elang tiba-tiba mencengkeram kedua rahangku erat seolah ingin meremukkannya. Terlihat sekali otot wajahnya mengeras. Bagus, aku membuatnya marah.


“Maaf,” ujar Elang tersadar sedetik kemudian, melepas cengkeramannya dari rahangku. Ah, tadi itu mengejutkan, sih!


“Aku juga minta maaf, kata-kataku memang menyebalkan,” jawabku berusaha menetralkan suasana.


“Tapi harusnya aku tidak perlu sekasar itu,” balasnya serak. Kecanggungan dengan cepat membungkus atmosfer. Ia berdeham pelan kemudian lanjut berbicara.


“Alasanku keluar dari tim pengawas bukan karena ingin lari dari masalah, Shir. Justru dengan begini Erik mengira aku telah menyerah dan dia akan berbuat semaunya. Membuktikan kebusukan Erik akan lebih mudah dengan sandiwara ini,” jelas Elang.


“Tapi kamu akan kehilangan hak istimewamu sebagai pengawas, Lang,” bantahku pelan. Elang terdiam, seperti baru menyadari hal itu, tetapi ia hanya tersenyum kecil.


“Pak Hanri ada di belakangku, Shir. Aku tidak perlu cemas kehilangan kewenangan. Lagipula, kenapa kamu demikian cemas dengan keputusanku?”


“Aku khawatir kamu memutuskan sesuatu dengan gegabah karena masalah tadi.”


“Iya, kamu memang mungkin mengira seperti itu, tapi maksudku kenapa kamu tidak setuju aku keluar dari tim pengawas?” tanyanya.


“Kenapa? Kenapa katamu?! Yah ... Bukankah, bukankah tugas tim pengawas itu keren dan kamu sangat menyukainya?” jawabku asal-asalan.


“Apa itu pujian?”


“BUKAN!”


Elang mendengus sebal. “Memang mustahil mendengarmu dengan tulus mengakui kehebatanku.”


“Aku terkejut kamu sempat bermimpi mendapat pujianku.”


“Sekali lagi kukatakan, keputusanku keluar dari tim sama sekali bukan urusanmu. Selain itu, sebaiknya kita mencemaskan hal lain,” kata Elang mendadak lebih serius. Angin sore sempat menyapu lembut wajah kami yang terpancar cahaya kemerahan. “Nyawa kita sedang terancam. Waktu yang tersisa tidak banyak, jalan keluar dari dunia kelabu harus segera ditemukan.”


Aku terdiam. Kata-katanya benar.


.Bersambung.

__ADS_1


Eh, maaf aku lupa kalau pernah bikin cerita ini. Ke depannya aku pengin berkarya lebih konsisten lagi, doakan ya! Ehe.


__ADS_2