
Pukul enam lewat sepuluh, segala perlengkapan dan keperluan sekolah sudah terkemas dalam tas. Persiapan hari ini kumulai lebih awal. Tak kusangka mimpi panjang semalam membuatku terbangun pukul dua dini hari dan aku tak lagi bisa melanjutkan tidur. Sempat tak bisa menggerakkan tubuh, tenagaku terasa hilang dan lumpuh. Yang kulakukan selama satu jam ke depan setelahnya hanya bengong memandangi langit-langit, tak pernah menyangka akan terlibat masalah seserius ini.
Barulah menjelang matahari terbit kakiku terasa kesemutan hingga perlahan bisa kugerakkan dengan susah payah. Mungkin itu efek dari kekacauan yang kudapatkan dalam dunia kelabu. Beruntunglah teknik penyembuhan Sakti berfokus pada daerah leher, tak bisa kubayangkan bila aku harus teleng sepanjang hari karena sakit leher, tapi bila kuperhatikan ... ada bekas cengkeraman jemari samar-samar terlihat. Sepertinya tidak begitu tampak bila rambutku kubiarkan tergerai.
Masih tersisa banyak waktu, kusempatkan memeriksa catatan harian, rencana hari ini. Harusnya rencanaku jelang UTS hanyalah belajar dan belajar, tapi kali ini ada juga penyelidikan tentang titik terakhir dari posisi enam kunci, greenhouse. Ah, aku sudah punya ide agar bisa masuk ke sana. Mencabut tutup spidol, aku mencoret tanggal hari kemarin, menghitung sisa hari sebelum purnama ketiga. Tujuh belas hari persis, jatuh empat hari setelah UTS. Penyelidikan celah cahaya masih belum menjumpai titik terang, tapi kami belum berencana menyerah dan berharap segera mendapat banyak petunjuk.
Terkait rencanaku memeriksa greenhouse, aku segera bergegas, menyandang tas lalu mengenakan sepatu. Sambil berjalan kuperiksa pesan masuk dari Yasinta. Akhir-akhir ini dia lebih sering mengingatkanku hal-hal sepele yang kadang kulupakan. Mungkin kasihan –atau muak– mengetahuiku sering melupakan hal-hal kecil seperti PR, iuran, kotak bekal, dan lain-lain. Kali ini dia mengingatkanku agar tak lupa membawa lembar praktikum yang kemarin dibagikan karena hari ini ada eksperimen fisika di laboratorium.
Lima belas menit kemudian barulah aku memasuki gerbang sekolah. Kutengok arloji, setengah jam sebelum bel masuk. Bu Lasmi mungkin belum datang, tapi tidak ada salahnya aku datang lebih awal darinya. Suasana sekolah mulai ramai. Satu per satu siswa menuntun motor ke area parkir belakang karena area parkir depan sudah penuh.
Matahari yang mulai meninggi membiarkan cahayanya mengintip dari pucuk-pucuk pohon tanjung, menerobos jendela kaca kelasku. Teman-teman selalu menuai komentar tiap kali aku datang lebih awal. Memang harus basa-basi dulu sebelum meminjam buku PR-ku lalu menyalin jawaban secara berjamaah. Aku tak bisa menolak dan lebih memilih segera memulai misiku. Kulihat sudah ada tas di bangku Elang sementara pemiliknya entah ke mana.
Area greenhouse dan taman di belakang gedung utara dapat terlihat dari teras kelasku di lantai dua. Cukup mengherankan melihat tempat itu sudah ramai pagi-pagi begini. Jika aku tidak salah lihat, Elang juga sudah ada di sana. Lihatlah betapa seenaknya dia memulai penyelidikan tanpa menungguku! Aku pun segera turun menyusulnya.
Bu Lasmi sudah ada di sana, diserbu beberapa anak yang kukenali dari XI MIPA 4. Elang berdiri tak jauh di sekitar mereka.
“Ada apa ini?” tanyaku.
“Simaklah saja!” jawabnya singkat mengendikkan bahu. Laki-laki jangkung yang paling cerewet dari perwakilan XI MIPA 4 itu tampak memohon-mohon agar Bu Lasmi bersedia meminjamkan tanaman dari greenhouse atau tanaman lain di sekitar taman ini. Sayangnya negosiasi itu terlihat alot. Bu Lasmi yang tanpa ekspresi itu kini bersikeras tak mengizinkan satu pun pot tanaman dipinjam.
“Kepala sekolah sudah melarang saya. Tanaman di greenhouse bukan seperti buku di perpustakaan yang bisa seenaknya dipinjam,” kata Bu Lasmi. Hm, sudah tidak diizinkan lagi!
“Tapi XI MIPA 1 boleh pinjam di sini tempo hari, Bu! Kenapa giliran kami tidak boleh? Bukankah itu tidak adil?” tanya anak itu. Wah, siapa yang membocorkan informasi kalau aku pinjam tanaman di sini?
“Lalu akhirnya kalian juga ikut-ikutan? Apa sudah tidak ada inisiatif lain? XI MIPA 1 sudah pinjam sejak lama sebelum dilarang kepala sekolah. Saya pikir dalam tempo beberapa hari itu kalian sudah menemukan pengganti yang baru. Intinya sekarang sudah tidak boleh pinjam-pinjam lagi!” jawab Bu Lasmi tak bisa dibantah. Anak-anak XI MIPA 4 itu meninggalkan taman dengan raut kesal. Mungkinkah penilaian final akan diadakan hari ini hingga mereka demikian memaksa?
“Jadi bagaimana sekarang? Sudah tidak boleh masuk ke sana,” ujarku. Elang tampak berpikir.
“Ya sudahlah, kita periksa dari luar. Separuh dinding greenhouse kan hanya jaring-jaring kawat,” jawab Elang.
“Tingginya satu setengah meter lebih, aku kesulitan mengintip ke dalam,” jawabku.
“Siapa yang menyuruh orang pendek sepertimu mengintip keadaan di dalam? Kamu mengamati sekitar taman saja!” jawab Elang seolah tanpa dosa menyinggung soal tinggi badan, tapi aku tidak boleh sakit hati karena memang aku tidak setinggi dirinya. Belum lama kami mengamati keadaan sekitar dan yang kami cari pun belum ditemukan, bel masuk sudah berbunyi lebih dulu. Terpaksa kami harus kembali ke kelas.
“Tidak apa-apa, kita belum menemukannya, bukan berarti tanda setan itu tidak ada di sana,” kata Elang ketika kami berjalan menuju kelas.
“Ya, terkait yang kamu temukan di area parkir belakang kemarin bagaimana? Bukankah katamu ada di pohon beringin? Mungkin dengan meneliti tanda yang muncul di tanaman kita bisa mudah menemukannya di sekitar greenhouse yang juga dikelilingi tanaman,” jawabku.
“Tanda yang kutemukan di pohon beringin itu adalah guratan samar di pohon berbentuk heksagon. Intinya hampir sama dengan tanda yang biasa kita temukan di titik lain,” jawab Elang.
“Oh, tergurat di pohon ya? Sayang sekali di sekitar taman hanya ada tanaman kecil tak berkayu. Mungkin penempatan tandanya tidak sama seperti di pohon beringin,” jawabku.
“Ya, mungkin lebih sulit menemukannya. Kita harus menaruh perhatian pada setiap detail tempat,” jawab Elang.
“Oh ya, soal Bu Lasmi, apa kamu memikirkan sesuatu?” tanyaku. Aku teringat kemarin Elang sempat membahas ini. Seringai kecil Elang bukan jawaban yang memuaskan.
“Tidak, atau iya, ah, entahlah! Nanti-nanti saja kuberi tahu!” jawabnya. Aku ingin terus mencecarnya pertanyaan, tapi kami sudah tiba di kelas.
***
Sepanjang jam pelajaran pertama hingga keempat aku tak bisa fokus menyimak pelajaran. Titik yang kami curigai di sekitar greenhouse itu adalah pemeriksaan terakhir dan aku ingin segera memastikannya. Tak betah di tempat duduk, aku lebih banyak gelisah dan melamun. Pemandangan di luar jendela lebih banyak mendapat perhatianku, langit biru bersih tanpa awan, berharap pikiranku bisa selapang itu untuk beberapa waktu. Pak Rudi sempat menegurku untuk kembali memperhatikan layar proyektor, menyimak materi sejarah Indonesia yang diterangkannya. Aku agak bosan karena telah membaca materi itu berulang kali. Nenekku yang sempat hidup di zaman penjajahan juga sering menceritakannya padaku.
Setelah beberapa jam yang terasa lama itu, bel istirahat akhirnya berbunyi. Aku dan Elang tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Bodo amatlah dengan persiapan praktikum jam kelima dan keenam nanti. Aku tak begitu antusias karena tidak ada yang bisa meledak dalam percobaan fisika nanti. Teman-teman malah sibuk mencari makalah laporan di internet. Menurutku itu sama seperti mencari spoiler sebelum menonton film. Tidak akan seru karena jalan ceritanya sudah tertebak.
“Itu demi keamanan supaya kita tidak melakukan kesalahan saat praktikum nanti, Ra!” kilah Yasinta. Dih, padahal petunjuk praktikum sudah ada di lembar kerja!
__ADS_1
Taman belakang gedung utara memang tak pernah ramai ketika istirahat. Daerah ini memang sejatinya bukan area untuk main-main. Taman yang lebih populer di sekolah ini dan sering jadi latar belakang swafoto adalah taman dekat kantin dan di pelataran depan. Memang tidak ada yang terlalu menarik dari tempat ini. Bangunan greenhouse yang tampak terlalu membosankan, juga seperangkat proyek tanaman hidroponik di sudut lahan yang sebaiknya tidak sembarangan disentuh. Daripada untuk taman hiburan, tempat ini lebih difokuskan untuk penelitian.
“Ketemu, Shir?” tanya Elang setelah sepuluh menit mencari. Aku menggeleng. Semua objek sudah menjadi sasaran perhatianku, tapi tak satu pun tampak mencurigakan. Dibandingkan tanda kunci di titik lain yang terlihat mencolok dan mudah ditemukan, kali ini kami cukup kesulitan.
Ketika kami berniat kembali ke kelas, saat itulah kakiku tersandung batu paving yang tidak rata. Sesuatu yang kulihat di atas batu paving segi enam itu membuat mataku terbelalak. Hologram jingga menyala-nyala, kali ini bukan mata, tapi lipatan mulut dengan gigi-gigi menggigit ujung sepatuku. Aku segera mengalihkan pandangan sambil menarik kakiku. Seketika kram menyerang sepanjang lengan kaki kananku. Elang berusaha menginjak-injak gambar imajiner itu, tapi sihir jahatnya tak terpengaruh oleh perlakuan Elang. Kucoba menenangkan diri, menghilangkan segala ketakutan. Elang pernah bilang agar aku melawan sihir jahat ini dengan keberanian. Rasa takut kepada iblis berarti tunduk kepadanya. Aku tidak boleh memiliki perasaan demikian.
“Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” Suara bernada datar itu mengejutkan kami. Entah sejak kapan Bu Lasmi sudah berdiri tak jauh dari kami. Elang membantuku berdiri, sihir jahat yang menahanku telah lenyap.
“Area ini untuk sementara disterilkan. Ada proyek penelitian baru yang biayanya tidak murah. Saya tidak mau mengambil risiko bila sampai ada kerusakan,” katanya lagi bahkan sebelum aku dan Elang menjawab. Tanpa banyak bicara kami pergi meninggalkan tempat itu. Setidaknya sesuatu yang ingin kami temukan sudah kami jumpai.
“Kakimu tidak apa-apa?” tanya Elang.
“Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut, tak menduga tanda itu bisa muncul di sana, tapi aku senang akhirnya pembuktian di titik terakhir berhasil,” jawabku.
“Titik terakhir? Apa kau lupa aku tidak menemukan apa-apa di XI MIPA 7 yang kita curigai? Di rak sudut baca kelas juga. Tugas kita masih banyak, Shir!” jawab Elang. Aku menghela napas, baru sadar telah melupakan titik-titik lain yang belum terbukti itu.
Istirahat pertama berakhir. Teman-teman bersiap menuju laboratorium fisika. Aku bersama kelompokku –Yasinta, Tiara, dan Puput– mendapat meja di tengah. Hari ini tiap kelompok melakukan dua percobaan sekaligus. Kami harus pandai-pandai membagi waktu dan tugas. Rencananya nilai praktikum ini akan menjadi penyelamat nilai UTS yang dikhawatirkan selalu di bawah batas kriteria sebab Pak Hamid tidak pernah berkenan menyelenggarakan remedial. Jadi praktikum ini harus kami selesaikan dengan sungguh-sungguh.
Aku dan Yasinta menguji titik berat sementara Puput dan Tiara menguji pegas. Rambut yang jatuh mengganggu di sisi wajahku kujepit ringkas menjadi satu ekor kuda ke belakang. Barulah aku bisa fokus melakukan praktikum. Percobaan fisika kali ini agak membosankan, tapi bukan berarti aku mengabaikan ketelitian. Satu jam kemudian, sesuai rencana, kami selesai mengumpulkan data. Yasinta dan yang lain membereskan alat-alat sementara aku mulai menulis laporan. Seseorang di meja belakang membuka jepit rambutku, membuat beberapa untai kembali jatuh di sisi wajahku.
“Bekas cekikan di lehermu terlihat mencolok. Jangan menarik perhatian!” kata seseorang itu yang ternyata Elang. Heh, aku sendiri lupa! Semoga tidak banyak yang sempat melihat.
Kami sekelas keluar dari laboratorium sepuluh menit sebelum bel istirahat. Aku keluar paling akhir karena Pak Hamid meminta bantuanku membereskan beberapa hal. Koridor laboratorium lantai dua sudah sepi, tapi seseorang di depan laboratorium kimia itu sepertinya kukenali.
Benar saja, itu Elang. Sedang apa dia di sana? Tak kusangka dia terkejut ketika kutegur, segera menyuruhku diam.
“Berjagalah di sini, aku akan memeriksa ke dalam,” katanya.
“Memeriksa apa?” tanyaku.
“Kelas apa? Kelas ... XI MIPA 7, memangnya kenapa?” tanyaku kemudian segera mengerti, “oh, jangan-jangan posisi kunci perangkap yang tidak ditemukan di sana ada di lab kimia! Benar, Lang! Posisinya masih segaris!”
“Iya, aku sudah tahu, Shir! Itu sebabnya aku ingin memeriksa ke dalam!”
“Tapi ada kamera CCTV.”
“CCTV semua laboratorium sedang dalam perbaikan. Sudahlah, aku harus cepat,” kata Elang kemudian benar-benar masuk. Heh, tumben dia bertindak gegabah. Memangnya apa yang harus kukarang bila ada yang memergoki kami berdua? Memasuki laboratorium tanpa izin benar-benar sesuatu yang terlarang.
Aku masih berjaga di pintu. Lima menit kemudian bel istirahat terdengar. Berdecak sebal karena Elang terlalu lama, aku menyuruhnya untuk agak cepat, khawatir ada yang sedang menuju ke mari.
“Di ruangan ini tidak ada!”
“Barangkali di ruang penyimpanan. Kau lihat pintu di belakang itu? Coba periksa! Hati-hati, ada banyak bahan kimia di sana,” jawabku. Syukurlah pintu itu tidak dikunci.
Seseorang yang muncul dari tangga tengah, mengarah ke sini benar-benar mengejutkanku. Lumayan panik, tak akan sempat memberi tahu Elang, aku justru masuk ke dalam. Tepat waktu sebelum Bu Lasmi menyentuh pintu, aku berhasil bersembunyi di ruang penyimpanan yang ternyata tak begitu luas. Elang terkejut karena aku ikut masuk, tapi ia segera mengetahui situasi, menjaga suaranya agar tidak ketahuan. Aku juga harus pandai-pandai menjaga jarak dengan etalase-etalase tempat menyimpan alat laboratorium dan bahan kimia.
“Kenapa kamu malah ikut bersembunyi di sini?” bisiknya lirih.
“Aduh, tak akan sempat memberi tahumu agar keluar, Lang. Bu Lasmi tiba-tiba muncul!” bisikku pula.
“Harusnya kau mengalihkan perhatiannya dulu!”
“Kau tahu aku tidak pandai melakukan yang seperti itu.”
“Kau memang tidak sepandai yang kukira!” jawab Elang ingin sekali kujambak jika saja gagang pintu di hadapan kami tidak bergerak-gerak. Sial, kami ketahuan! Beberapa detik berlalu lengang dan menegangkan, tetapi pintu belum juga membuka. Aku yakin meskipun Elang terlihat tenang tapi jantungnya tidak. Memangnya apa yang harus kami jelaskan bila sampai tertangkap basah bersembunyi di sini?
__ADS_1
Bunyi klik singkat adalah yang terakhir kami dengar, setelah itu pintu utama terdengar dibanting. Dengan sisa-sisa kewaspadaan, kuintip keadaan dari lubang kunci. Laboratorium kimia kosong, pintu utama tertutup. Aku meraih dan menarik gagang pintu, menggerakkannya beberapa kali, tak menerima fakta bahwa pintu ini tidak bisa dibuka.
Aku hanya nyengir berusaha menelan kepanikan, “Kita terkunci, Lang!”
“Apa?! Yang benar saja!”
Kali ini Elang yang mencengkeram gagang pintu sambil sesekali menariknya. Masih seperti ketika aku yang melakukannya, pintu ini tak mau bergerak. Elang mengumpat lirih, tak menyangka akan berakhir seperti ini.
“Tenanglah, jangan panik! Aku bawa ponsel, mungkin ada seseorang yang bisa kita hubungi,” ujarku.
“Ide buruk, Shir! Kau ingin menghubungi seseorang hanya untuk menemukan kita berdua di tempat ini? Tidak, aku tidak mau diinterogasi!” jawab Elang. Ah, benar juga! Posisi kami memang sulit, sekalipun berkata jujur mana mungkin akan ada yang percaya dengan sesuatu yang sedang kami selidiki?
“Aku bisa menjebol pintu ini, tapi aku tidak mau bila harus ganti rugi,” kata Elang. Ya, ini memang bukan bilik dunia kelabu yang bisa seenaknya dihancurkan.
Kulirik arloji, istirahat kedua masih lama. Semoga saja kami sempat keluar sebelum bel masuk, entah bagaimana caranya. Ketika sedang berpikir cara keluar dari sini, formasi segi enam cahaya jingga yang tak asing bagi kami muncul di pintu. Mata tunggal di tengahnya membelalak, memelototi kami.
“Paling tidak, kita sudah menemukannya,” kata Elang. Aku sempat mundur beberapa langkah, menghindari tatapan mata iblis itu.
“Kamu sudah tahu cara menolak kekuatan jahat ini ‘kan? Aku percaya kamu tak akan terpengaruh olehnya,” kata Elang menyandar di pintu, mencegah formasi cahaya itu terlihat olehku. Aku hanya mengangguk, mengabaikan segala perasaan tidak nyaman yang mulai menyerang. Tidak, aku tidak akan kalah dari sihir jahat itu.
“Shir, jangan diam saja! Tetap pikirkan cara keluar dari sini! Barangkali kau punya penjepit rambut atau kawat, atau sesuatu yang bisa kita coba,” kata Elang menjaga kesadaranku agar tidak kosong.
“Tidak punya, Lang. Penjepit rambutku bukan kawat tipis yang bisa ...” Kata-kataku terhenti ketika tanganku mendapat sesuatu setelah merogoh saku rok. Gemerincing suara kunci terdengar cukup menggembirakan.
“Aku baru ingat! Akulah yang tadi keluar paling akhir dan bertanggung jawab mengunci lab fisika. Berdoalah semoga salah satu kunci di sini adalah kunci lab kimia,” jawabku.
“Kenapa tidak bilang dari tadi?!” jawabnya sambil bersungut-sungut menerima kunci-kunci itu dariku dan mencobanya satu per satu. Kami bernapas lega ketika ternyata salah satu kunci ini cocok. Kami pun bebas dari ruangan sempit tadi tanpa meninggalkan jejak mencurigakan. Tak lupa pintu utama lab kimia juga kukunci lagi.
“Dengan begini kita tinggal memastikan satu titik di sudut baca kelas. Itu tidak terlalu merepotkan karena setiap hari kita ada di sana!” ujarku sedikit senang.
“Ya, sekalipun tanda setan itu tidak ditemukan, aku tak mau ambil pusing. Lima titik lain telah terbukti. Sudah jelas kita berada dalam area perangkap enam kunci,” jawab Elang, “selain itu, dengan posisi beberapa titik yang sudah kita ketahui, aku jadi punya satu nama yang perlu diwaspadai.”
“Kamu sudah tahu penyamaran iblis itu? Siapa?” tanyaku penasaran.
Elang hanya menyeringai, “Tidak mungkin kau tidak tahu, Shir! Guru dengan perangai paling aneh dan tidak biasa di sekolah ini hanyalah Bu Lasmi!”
“Bu Lasmi?”
“Ya, siapa lagi?! Siapa pun tahu dia pribadi yang tertutup dan tidak bisa bersosialisasi. Aku sudah mengawasinya sejak lama. Masih ingat ketika aku membantu Bu Lasmi saat pindahnya ruang OSIS? Yah, itu penyelidikanku yang terkendala, tapi dengan beberapa posisi kunci perangkap yang hanya bisa diakses Bu Lasmi –seperti di greenhouse dan laboratorium di sini– kecurigaanku kepadanya semakin meningkat,” jawab Elang.
Aku terdiam memikirkan ulang argumennya.
“Memang saat ini aku belum bisa membuka kedoknya, tapi itu bukan tujuanku. Kita harus mencuri petunjuk posisi pasti munculnya celah cahaya dari iblis itu. Entah dari catatan, jejak-jejak yang tertinggal, kita hanya perlu terus merangsek maju setelah mendapat titik terang.”
“Anu ... sebentar," ujarku ragu-ragu, "maksudku, benarkah kira-kira guru senior yang agak bungkuk dan berjalan menyeret-nyeret kaki itu adalah iblis yang telah mencelakai kita? Yang hampir memutus leher Sakti?” tanyaku.
“Ah, karena terlalu bersemangat aku jadi lupa mendengar pendapatmu. Ada apa? Kamu terkelabui dengan wujud fisiknya yang seperti itu? Kekuatannya tidak tersimpan di tubuh fisiknya, ingat? Lagi pula penampilan itu benar-benar penyamaran yang sempurna bagi iblis dengan kekuatan mengerikan. Kamu tidak menyangka ‘kan Shira? Aku juga! Penyamaran iblis itu selama ini benar-benar sukses,” jawab Elang sebelum kami berpisah.
Aku harus ke ruang guru mengembalikan kunci laboratorium sementara Elang lanjut menuju kelas. Pak Hamid menyuruhku langsung mengembalikan kuncinya ke laboran yang berwenang, Bu Lasmi. Sebenarnya Bu Lasmi berwenang terhadap hampir semua kunci ruangan di sekolah ini, berbagi tugas dengan Pak Aslan dan staf keamanan lain. Beliau sedang mengetik dokumen di depan monitor, tampak lebih bungkuk dengan mata menyipit di balik kaca mata lensa cembungnya.
“Tinggalkan saja di atas meja, lalu tanda tangani jurnal di bagian pengembalian,” kata Bu Lasmi tanpa memindahkan perhatiannya dari monitor. Sejenak aku mengamatinya tanpa berkedip.
Benarkah iblis pencipta dunia kelabu bersemayam di dalam orang ini?
.Bersambung.
__ADS_1