Kelabu

Kelabu
#S2 Episode 1


__ADS_3

“Dengan segala hormat saya masih menunggu kesediaan Yang Mulia untuk bergabung!”


Suara bariton ini lagi, pikirku. Sesosok lelaki berpenampilan ala-ala punggawa kerajaan seperti di film-film, bersurai coklat panjang dengan jubah yang lebih panjang, tiga langkah berada di depanku. Kalimat berikutnya yang akan dia katakan sudah cukup kuhafal.


“Negeri Putih sedang dalam ancaman! Hanya kekuatan Yang Mulia yang dipercaya rakyat untuk meredakan huru-hara! Demi peradaban ribuan tahun yang telah dibangun leluhur kita, kembalilah bersama kami!”


Benar ‘kan? Dia bilang seperti itu, lagi.


Tangannya terulur di hadapanku sementara aku masih terdiam seribu bahasa, merasa tidak berurusan dengannya meski entah –aku lelah menghitung– sudah berapa kali ia datang di mimpi ini. Terus berulang-ulang tiada bosan. Lalu, kejadian berikutnya berhasil kutebak. Sesosok bocah memelukku dari belakang. Aku sempat berbalik sebelum ia melingkarkan lengan kecilnya di leherku manja.


“Tetaplah pada kebaikan yang kau yakini!” bisiknya masih dengan senyum yang sama.


Kalimat itu bukan sekedar susunan kata-kata. Seolah bernyawa, ia merasuki kepalaku, mencari ruang tempat seharusnya ia berada, berlarian ke sana ke mari, membuatku pening. Aku berusaha menangkapnya, mencekal kemudian menanyainya, “Kebaikan mana yang sedang kuyakini?!”


Bangun dengan mata membelalak menatap langit-langit, kuharap wujud dari kata-kata tadi ada di sana, atau di balik selimut, tumpukan bantal, di mana saja di dalam kamarku. Jarum pendek jam dinding tersangkut di angka dua belas. Aku belum juga mengganti baterainya. Tak tahu sekarang pukul berapa, matahari yang sudah naik memperburuk firasatku.


“Kakak sudah bangun?” tanya Ibu muncul di ambang pintu.


“Aku kesiangan!” ujarku tersadar segera melesat, tapi segera ditahannya.


“Duduklah, duduklah!” kata Ibu menempelkan punggung tangannya di dahiku, “semalam lewat dini hari ayah sempat memeriksa. Kakak tertidur di meja dengan laptop masih menyala. Berapa kali kami bilang agar jangan belajar kelewat larut. Hasilnya tidak akan baik. Lihat, nih! Sekarang Kakak jadi demam ‘kan?! Lain kali jika waktunya istirahat ya istirahat!”


“Tapi Ibu tidak punya alasan untuk tidak membangunkanku! Ayah pasti juga sudah berangkat bersama adik! Ah, keterlaluan!”


“Pokoknya Kakak harus istirahat dulu!”


“Bu, mengertilah! Hari ini ada simulasi ujian! Aku harus tetap pergi!” jawabku tak mau ditahan-tahan lagi. Semester dua kelas dua belas, aku tidak mau kalah dengan demam hingga sering tidak masuk karenanya. Ibu tak punya pilihan selain segera mengemas bekalku untuk sarapan. Setengah tujuh, mana mungkin aku sempat sarapan di rumah. Tiba tepat waktu di halaman sekolah saja terhitung keajaiban. Mungkin aku akan agak terlambat tiba di lab komputer dengan bonus semprotan omel pengawas. Lima belas menit sebelum simulasi semua peserta harus berada di lab komputer.


Perkiraanku terbukti benar. Lewat satu menit dari pukul tujuh, gerbang belakang nyaris ditutup. Deretan kelas dua belas MIPA sepi. Semuanya sudah berada di lab komputer. Aku tak ada waktu untuk membenahi tali sepatu yang lepas atau kacamataku yang agak melorot. Sesuatu telah membuatku bersemangat dalam simulasi ujian kali ini, pertaruhanku dengan Yuanda!


Sejak awal semester empat Yuanda yang menduduki peringkat di bawahku semakin blak-blakan mengatakan ingin mengalahkanku. Bukannya takut, tapi akhirnya memiliki lawan yang bersemangat ternyata berimbas membangkitkan semangatku juga. Tidak akan kusia-siakan hal itu! Dalam mapel simulasi hari ini, kimia, targetku tak pernah tanggung-tanggung, harus menjadi yang teratas dari siapa pun, bukan hanya dari Yuanda.


Ada sedikit kekhawatiran karena simulasi sebelumnya, tanpa diduga-duga seseorang merebut posisi teratasku. Bukan Yuanda atau pemegang peringkat dua paralel, tapi entah siapa. Anak laki-laki yang juga sekelas denganku di kelas kimia. Tentu saja itu menjadi keterkejutanku karena ia sama sekali tidak menonjol. Bahkan bila boleh kukatakan, dia seperti tidak memiliki ketertarikan dengan kimia, lebih sering bolos. Aku tak mau berpikir panjang dan menduga itu hanya keberuntungan. Peluang mendapat jawaban benar tanpa berpikir dalam soal pilihan ganda tetap ada walau sekecil apa pun, ya ‘kan?


Ruang ujian tiba-tiba riuh ketika aku muncul. Seisi kelas yang kebanyakan sudah log in menyorakiku karena jelas-jelas terlambat.


“Ya ampun, Shiraa! Orang pintar mah bebas, gitu ya?!”


“Shira telat, Pak! Suruh push up dulu!” kata Yuanda di bangku belakang. Aku hanya memelototinya sebal. Pengawas ujian tak banyak bicara dan segera memintaku log in. Dua menit kuhabiskan hanya untuk berulang-ulang memasukkan id username dan kata sandi, kotak dialog yang muncul di monitor juga berulang-ulang mengatakan bahwa username yang kupakai tidak bisa log in. Dahiku berkerut, memastikan tiap digit yang kumasukkan tidak salah.


Memang tidak salah, lalu kenapa bisa begini? Kulaporkan hal ini kepada operator server. Lima belas menit waktuku terbuang percuma dengan jawaban Pak Faisal, petugas operator yang akhirnya memintaku log in dengan username cadangan sebab id username atas namaku sendiri sudah dipakai log in orang lain. Berstatus aktif sedang mengerjakan, akunku telah log in berbarengan dengan akun anak-anak lain yang tidak terlambat. Pak Faisal mengendus ketidakberesan sementara aku mati-matian menahan kejengkelan.


Setidaknya kejengkelanku meningkat setelah nilaiku tidak muncul di akhir waktu. Jangan-jangan tidak terkoreksi karena aku menggunakan id user cadangan?!


“Sialan!” makiku lirih sambil menggebrak meja. Seketika bunyi bip berulang kali terdengar bersamaan dengan layar monitorku yang menggelap. Monitor teman-teman lain juga. Bunyi itu sebagai penanda terputusnya aliran listrik. Pak Faisal berusaha menangani masalah ini. Aku hanya menelan ludah. Untuk ketiga kalinya kebetulan ini terulang. Sedikit meyakini kejadian barusan mirip seperti ketika lampu kamarku tiba-tiba meletup setelah aku mengamuk Maurin. Tidak, ini hanya kebetulan ya ‘kan?


Berharap-harap cemas, kudengar teman-teman bersyukur karena masalah ini terjadi setelah simulasi selesai. Kami diminta meninggalkan lab komputer. Entah mungkin hanya perasaanku saja, anak laki-laki yang tadi duduk di sebelahku menyunggingkan seringai kecil.


Aku pura-pura tidak melihatnya.


 ***


“Ra, berhentilah cemberut! Kamu hanya akan bertambah jelek!” kata Yasinta. Ketika ia repot-repot menghiburku begini bisa kutebak hasil simulasi biologinya memuaskan. Aku tak bisa memastikannya sebab ruang ujian kami terpisah. Dalam satu kelas dikelompokkan sesuai mapel pilihan UN masing-masing.


Ah, jangankan memastikan nilai Yasinta, nilaiku sendiri buram dan aku masih merajuk kepada Pak Faisal yang tidak bisa memulihkan akun asliku. Seenaknya tiba-tiba memutuskan agar aku menggunakan akun cadangan yang hasilnya jawabanku berakhir tidak dikoreksi. Seandainya tahu begini aku tak masalah menunggu perbaikan hingga satu jam, mengerjakan soal dengan sisa waktu yang ada daripada mengerjakan dalam waktu penuh tapi berakhir seperti ini! Ah, suasana hatiku benar-benar buruk!


“Sip, Ra! Kutunggu traktirannya ya! Kamu memang harus sesekali tidak beruntung! Ahahahaha!” ejek Yuanda semakin membuatku jengkel.


“Siapa bilang kamu menang?! Nilaiku belum muncul! Jangan senang-senang dulu!” balasku geram.


“Oh ya? Padahal jelas namamu ada di peringkat terbawah dengan nilai nooool!”


“SUDAH KUBILANG ADA YANG MERETAS AKUNKU! Tanyakan Pak Faisal jika kau tak percaya!”


“Tidak, nih! Pak Faisal tidak bilang apa-apa!”


“Iya, ih! Pak Faisal juga bilang jawabanku harusnya tetap bisa dikoreksi!”


“Anu ... sudah, dong, kalian berdua!”

__ADS_1


Yasinta tak berhasil menengahi cek-cok di antara kami. Dengan bersungut-sungut aku meninggalkan kelas ke meja kerja Pak Faisal, menagih nilaiku demi menjungkir-balikkan keadaan Yuanda. Beliau kutemukan di lab komputer pertama. Kiranya sedang menyiapkan ulang satu-dua hal untuk simulasi sesi kedua setelah masalah kecil tadi, ternyata Pak Faisal sedang berbincang dengan anak laki-laki yang ... yang sepertinya tadi duduk di sebelahku. Jantungku terasa mencelos mengingat anak itu sempat melihat yang kulakukan sebelum listrik padam. Heh, dasar tukang lapor!


“Bapak tidak punya bukti untuk menuduh saya.”


Pak Faisal terdengar terkekeh pelan, “Siapa namamu? Kevin Anggara? Bukankah terlalu kebetulan kamu duduk di sebelah Shira dan sempat mengunggulinya di simulasi sebelumnya.”


“Wah, hanya karena sekali pernah beruntung mengungguli Shira, Bapak lantas menuduh saya meretas akunnya?”


Eh, sebentar. Ternyata pembicaraan ini bukan karena dia berniat melaporkanku dan kejadian sesaat sebelum listrik padam. Telingaku semakin kupasang baik-baik.


“Baiklah, mungkin kamu perlu dipuji dulu,” kata Pak Faisal, “pertama, saya ucapkan selamat karena kamulah yang pertama menyadari kelemahan sistem ujian ini. Kode username dan kata sandi seharusnya memang kami bagikan secara personal, bukan dijadikan daftar yang disebar di obrolan grup hingga tiap siswa mengetahui username dan kata sandi siswa lain. Ya, kami memang menggunakan cara yang seefisien mungkin, mengira masing-masing siswa pasti sibuk dengan soalnya sendiri, tapi jelas kamu menyadari satu hal ‘kan, Kevin?”


Yang dipanggil Kevin belum bereaksi.


“Ini bukan peretasan dengan teknik hebat –tidak hebat sama sekali malah– sebab kamu memang sudah tahu kode username dan kata sandi akun Shira lalu memanfaatkannya di simulasi pertama. Saat itu kami memang belum memperbarui sistem sehingga membolehkan satu akun aktif dalam dua perangkat. Mungkin melalui ponselmu sendiri, kamu log in dengan akun Shira ketika ia sedang mengerjakan lalu menyontek jawabannya. Di akhir waktu kamu pun mengganti beberapa jawaban Shira dengan yang salah. Akhirnya cantik sekali, nilaimu menjadi yang tertinggi.”


OH?!


“Namun, ketika kamu ingin mengulangi hal yang sama hari ini, sistem sudah diperbarui, akun yang sudah log in tidak bisa log in untuk kedua kalinya di perangkat berbeda. Sebenarnya kamu tidak akan ketahuan jika Shira tidak datang terlambat.”


“JADI BEGITU?!” semburku tak tahan. Dua orang di dalam ruangan terkejut dengan kemunculanku.


“Nah, silakan uleg biang kerok masalahmu tadi pagi, Shira. Jelas-jelas ini bukan salah saya,” cengir Pak Faisal.


“Ternyata kamu! Tidak akan kumaafkan!”


“Sssttt! Marahmu tidak menakutkan dengan pipi gembul dan kacamata melorot seperti itu,” jawabnya abai. Si ... sialan!


“Aku tidak memintamu mengomentari penampilanku!”


“Jadi, sebagai orang yang pertama menyadari kelemahan sistem ini apakah ada reward untuk saya? Bagaimanapun saya terhitung membantu mengevaluasi kelemahan sistem ujian ini dan tidak menyebarkannya kepada yang lain,” lanjut Kevin benar-benar tak memedulikanku.


“Hm, entahlah. Jika kamu berhasil membongkar jaringan cyber cheat, mungkin kamu bisa tiba-tiba diangkat menjadi anggota istimewa tim pengawas tata tertib. Mendekati musim ujian kami sangat memerlukan orang seperti itu,” jawab Pak Faisal. Aku semakin geram saja. Malah diberi reward sungguhan?!


“Baiklah, akan saya pertimbangkan,” jawab Kevin keluar ruangan begitu saja. Sungguh, dia benar-benar mengabaikanku?! Oh, awas ya saat kelas kimia besok!


 ***


“Terima kasih traktirannya, Ra! Senang bisa bersaing denganmu!” kata Yuanda belum juga beranjak dari bangku kantin.


“Ya, ya ... terserah!” jawabku tak berselera memainkan ponsel.


“Ya ampun, kenapa kamu jadi ngambek? Aku menang secara adil, tahu! Lagi pula ini kemenangan pertamaku!”


“Benar, Ra! Kamu tidak boleh cemberut hanya karena sekali tidak beruntung!” timpal Yasinta.


“Ah, kenapa kalian mengaitkannya dengan hal itu? Tenang saja, aku memang sengaja membiarkan Yuanda unggul dan aku tidak risau karenanya,” jawabku.


“Tapi mukamu kusut sekali. Tadi juga datang terlambat. Apa kamu sedang dalam masalah?” tanya Yuanda cemas.


“Tidak, kok, tidak ada!” jawabku setengah benar. Yasinta menjitak pelan kepalaku.


“Awas ya, bilang tidak apa-apa, tapi ternyata ada apa-apa! Kamu selalu saja tertutup, lalu tiba-tiba bikin heboh sekalinya masalahmu sudah memuncak!” omel Yasinta.


“Ya, benar-benar ciri seorang Shira!”


“Sungguh, teman-teman! Masalahku hari ini hanya tidak enak badan. Itu saja,” jawabku.


“Tidak enak hati juga sepertinya ya?” tanya Yuanda. Ah, aku tidak pernah suka bila harus terbaca semudah ini. Mereka tidak seharusnya mengetahui yang tidak perlu. Aku sendiri bahkan terlalu takut memahami yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Segala keanehan yang coba kuyakini hanya sebagai kebetulan demi kebetulan.


“Pssst, Ra, ngomong-ngomong kamu masih sering mengontak Elang?” tanya Yasinta.


“Entahlah, sepertinya nomor Elang sudah tidak aktif lagi,” jawabku.


“Harusnya dia memberi tahu kita nomor barunya!” gerutu Yuanda kesal.


“Ngomong-ngomong, dia menanyakanmu saat malam festival budaya waktu itu,” kata Yasinta selalu tahu cara memancing gosip murahan.


“Wajar saja ditanyakan karena aku memang tidak hadir. Seandainya aku datang, dia tidak akan bertanya,” jawabku semakin tak berselera, cukup tahu ke mana pembicaraan ini akan berujung.

__ADS_1


“Tidak ada rencana mau ketemuan lagi? Dia kelihatan agak kecewa, tahu! Ayo segera kita rencanakan reuni sebelum tak lama lagi semakin jauh terpisah karena kesibukan kuliah!” timpal Yuanda.


“Entah kenapa aku lebih pusing menyiapkan rencana kuliah itu sendiri dibandingkan reuni atau hal remeh lainnya,” jawabku memijit kening. Ini lagi! Sesuatu yang tidak ingin kubahas akhirnya terbahas juga, tapi mau tidak mau aku tetap harus memikirkannya.


“Kalau begitu, aku punya solusi untuk mendapatkan dua-duanya, reuni dengan Elang sekaligus mencari pencerahan rencana kuliahmu,” ujar Yasinta sesaat kemudian menggeser-geser layar ponselnya, “kita datang ke sini besok!”


Poster suatu acara di ponselnya ia tunjukkan di hadapan wajah kusutku.


“Edufair? Pameran kampus-kampus? Aku ... tidak begitu mengerti rencanamu,” jawabku.


“Acara ini bakal dihadiri siswa kelas dua belas seluruh SMA di kota ini dan daerah sekitarnya! Ada kemungkinan Elang akan datang juga, lho!” jawab Yasinta.


“Jujur, aku tertarik datang ke sini, tapi tolong jangan menyelewengkan tujuan utamaku! Kalian harus benar-benar membantuku mendapat petunjuk rencana studi lanjutan daripada hanya sekedar menemui Elang.”


“Memangnya kau tidak senang bertemu teman lama?” tanya Yuanda.


“Bukan begitu, aku senang, kok! Maksudku, rasanya tidak mungkin Elang jauh-jauh ke kota ini hanya untuk acara ini. Jadi, aku tidak terlalu berharap. Jika nanti memang tidak sempat bertemu ya sudah, tapi bila memang sempat berarti itu bonus dari tujuan utamaku,” jelasku.


“Nah, agar bonus itu tetap terjadi, aku akan menghubungi semua akun media sosial mantan ketua kelas kita itu. Instagram, line, facebook, twitter, akan kubilang bahwa kita harus janjian ketemu di acara edufair nanti!” kata Yasinta demikian bersemangat. Aku hanya tertawa dalam hati. Coba saja hubungi seandainya Elang memang benar-benar aktif.


“Oh ya, Ra. Akun instagram @dirgaruda yang sering muncul di komentarmu itu ... kakaknya Elang ya?” tanya Yuanda yang juga menggeser-geser layar ponselnya. Aku hanya mengangguk.


“Nah, itu juga membuatku tak habis pikir! Memangnya dulu kalian sempat seperti apa hingga kakak Elang ikut sok kenal sok dekat begitu?!” timpal Yasinta.


“Entahlah, Yas. Seandainya aku sempat mengingatnya kembali ...” pikirku.


Lupa telah menjadi bagian dari manusia, tapi melupakan sesuatu selamanya membuatku merasa bersalah terhadap siapa pun yang terlibat dalam ingatanku. Dokter bilang harusnya ingatan yang hilang itu segera kembali. Namun, yang datang kepadaku adalah hal lain.


Hal asing yang sama sekali tidak kumengerti. Seseorang dalam mimpiku itu ....


Siapa?


.Bersambung.


.


.


.


Elang : Loh? Dibuat betulan. Padahal aku belum ada ngasih kabar.


Author : Wah, Elang? Kupikir kamu udah jadi bintang novel lain^^


Elang : Ya enggaklah, Elang Dirgaraja tetep di sini. Eh, sebentar. Jadi Author mikirnya gitu? Oh, pantesan aku belum muncul di episode pertama dan bakal digantiin sama karakter baru yang namanya Kevin itu?!


Kevin : Beruntungnya enggak. Gue cuma chameo numpang lewat. Nanti kalau author panjang umur, gue bakal dibikinin judul sendiri


Shira : Wahwaah^^ judulnya apa Kak Kevin?


Elang : Hih, sok manis panggil-panggil Kak segala_-


Shira : Apasi kamu,-


Author : Udah, dong, Ra, Lang! Masih ada banyak episode tempat kalian ribut nanti! Disimpen dulu tenaganya ya!


Garuda : Aang jealous lah tuuu


Elang : Bacot!


Author : Udah, udah! Kita sapa pembaca dulu, yuk! Selamat datang lagi di Kelabu!🙌 Semoga sekuel kita berjalan lancar di tengah trouble-nya ponsel author yang abis jatoh tak tertolong dan berakhir sering error :'v


Garuda : Poor author :'v


Shira : Semoga kami bisa terus menghibur teman-teman yang masih di rumah aja :)


Elang : Jangan lupa tinggalkan jejak, like, vote, komen. Aku maksa, nih!


Author : Nih orang masih aja tengil ya😅 Oke, deh! Kita ketemu di episode selanjutnya. Makasih semuanya! See ya!

__ADS_1


__ADS_2