
“Wah, ponsel siapa ini?” pikirku.
Terkunci dengan latar belakang lockscreen burung rajawali, eh ... bukan, ini elang. Eh? Mungkinkah ini milik Elang? Tidak biasanya dia ceroboh begini. Apa memang karena suasana hatinya yang benar-benar buruk? Kak Garuda yang sudah terbiasa hidup dengannya saja bahkan sampai heran begitu.
Beberapa menit kemudian tebakanku terbukti benar. Elang dengan menata napasnya yang agak terengah-engah muncul di ambang pintu seorang diri.
“Apa ponselku tertinggal di sini?” tanyanya.
“Enggak ....”
“Lalu yang di tanganmu itu apa?!” jawabnya kembali masuk. Aku hanya nyengir. Padahal sudah kusembunyikan di balik bungkus snack. Dasar matanya yang teliti!
“Mana?!” pintanya.
“Kenapa terlihat tidak sabar begitu? Sepertinya kamu memang senang memamerkan muka kusutmu!” ujarku memancingnya bicara.
“Biarin! Muka kan mukaku sendiri!” jawabnya justru memancing emosi.
“Kalau tidak mau cerita ya bersikaplah sewajarnya. Jangan bikin orang khawatir, dong!”
“Satu-satunya yang harus dikhawatirkan ADALAH KAMU!”
Aku tertegun sejenak karena kata-katanya tadi. Elang sendiri jadi salah tingkah mengacak rambutnya kesal.
“Sialan! Menjengkelkan sekali, aku tak tahan!” geramnya jatuh terduduk di kursi. Kepalanya kolaps di tepian ranjangku. Dia terlihat lebih menyedihkan sekarang, tampak tak berdaya melawan gelombang emosi di dadanya. Tangannya yang terbalut perban bersebelahan dengan tangan kiriku yang juga diperban. Sesekali aku penasaran ingin menyentuhnya, mengetahui seberapa buruk memar-memar dan lebam di baliknya.
“Menyebalkan, aku tidak bisa berbuat apa-apa ...” kata Elang lirih. Dari posisi setengah berbaringku bisa kulihat matanya terpejam, ada kenyataan yang tak berani ia lihat, “ ... menjengkelkan sekali, aku ingin memburu tapi tak bisa bergerak ... aku harus diam padahal ingin menerkam, aku nyaris mati hanya karena menahan diri.”
“Dan kamu selamat setelah orang lain tahu,” jawabku tanpa sadar menepuk pelan kepalanya, “padahal yang perlu kamu lakukan hanya berbagi. Asal kau tahu, Lang, teman-teman dan Kak Garuda mengkhawatirkan perangaimu, tapi tidak berani menyelamatkanmu.”
Ia bangkit menegakkan kepala.
“Sejujurnya aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan dan tidak yakin akan banyak membantu, tapi jika kamu masih malu mengeluarkan unek-unekmu silakan anggap aku batu bisu. Itu lebih baik dari pada kamu menyiksa diri,” jawabku menunjuk tangannya yang terluka dengan dagu.
“Malah aneh kan kalau bicara dengan batu!” bantahnya masih saja keras kepala.
“Lebih aneh lagi kalau tanganmu terluka padahal hanya kakimu yang kemarin cedera,” jawabku.
“Ah, aku tak peduli dengan pertandingan itu! Dari awal aku memang tidak ... jangan-jangan kamu mengira aku kesal karena kekalahan kemarin?”
“Ya, memangnya apa lagi?”
“Cih, aku tidak sekekanakan itu!”
“Eh?! Lalu kenapa?”
Dia mengusap wajahnya yang masih agak memerah, menghela napas.
__ADS_1
“Aku hanya tak habis pikir bagaimana satgas keamanan bisa kecolongan seperti kemarin,” ujarnya, “itu sangat memalukan!”
Ah, ternyata masalah itu. Sekarang aku sedikit mengerti.
“Perhatian mereka terpecah karena keributan di gedung olahraga, Lang. Kurasa wajar bila sampai seperti ini akhirnya,” jawabku.
“Tidak ada alasan, Shir. Kami pernah menggagalkan pesta miras di tengah kepanikan ketika lampu padam saat festival budaya tahun lalu. Sedangkan kemarin, cuaca terang benderang dan keributan kecil itu membuat mereka lengah? Mengecewakan!” bantah Elang, “bahkan sampai jatuh korban begini. Orang tuamu dan siapapun yang tahu pasti diminta tutup mulut demi menjaga reputasi sekolah, tapi tamu dari luar yang hadir pada acara itu terlanjur tahu. Apa lagi yang bisa diselamatkan dari reputasi kita?!”
Aku baru tahu Elang berpikir sejauh itu, tapi tak peduli seberapa ia kesal dan kecewa, ia tak bisa berbuat apa-apa. Segala urusan terkait masalah ini benar-benar di luar wewenangnya sejak ia keluar dari tim pengawas tata tertib. Itulah kenapa ia nyaris mati hanya karena menahan diri. Tidak bisa, ia terbiasa selalu di depan memburu siapa pun yang tidak benar. Ia tak terbiasa hanya menonton dan berpangku tangan.
“Su ... sudahlah, bukankah katamu selama ada Pak Hanri semuanya akan baik-baik saja,” jawabku berusaha menghibur, “aku tak begitu ingat kejadian kemarin, tapi seseorang yang menemukanku bilang bahwa dia akan memastikan para pelaku merasakan akibat perbuatan mereka!”
Elang justru mendengus kesal.
“Siapapun dia, dia pasti bagian dari teman-teman pengawasmu. Aku yakin anak-anak berandal itu akan diadili di bawah wewenang Pak Hanri,” ujarku diam-diam penasaran dengan kata-kataku sendiri. Kira-kira siapa yang menolongku di detik-detik terakhir itu ya?
“Sayang sekali, Danil, pimpinan kelompok itu adalah anak pejabat donatur sekolah. Mungkin sekolah tidak berani memberi sanksi keras kepadanya. Sudah berulang kali Danil berbuat seenaknya, tapi baru kali ini yang paling parah. Sungguh kelewatan jika sekolah masih membiarkannya muncul di sekolah kita!”
“Ya ... aku juga berharap sekolah bertindak seadil mungkin,” jawabku.
“Apa sudah ada yang bertanggung jawab kepadamu, Shir? Siapa yang menanggung biaya rumah sakit?” tanya Elang.
“Aku tidak tahu ...” cengirku, “ibu tidak ingin membahas apa pun tentang peristiwa kemarin dan yang terjadi setelahnya.”
“Jangan-jangan ibumu sudah dipaksa tutup mulut. Apa orang tua Danil sudah menemui ibumu?”
“Aku juga tidak tahu, Lang. Ketika aku bangun Pak Hanri lah yang pertama menyapaku, lalu ibu datang ....”
Elang seolah membeku di tempat beberapa saat, “Eh, bukan ... maksudku, iya. Maaf, Tante.”
“Heeh?! Apa makasudnya ‘bukan'?” tanya adikku mengekori ibu.
“Ibu lama sekali ... dan bocah tengil ini bukannya pergi sekolah?!” balasku. Cih, jangan-jangan dia berhasil merayu ibu agar membiarkannya bolos.
“Kamu tidak pernah sekolah tiap Hari Sabtu dan tidak seorang pun meributkannya, Kak!” bantah Maurin.
“Karena memang aku libur di hari itu!”
“Dasar curang! Kenapa SD tidak libur juga?!”
“Memangnya kamu mau pulang lebih lambat dari biasanya, ha?! Tidak ada tidur siang, kamu tidak bisa nonton Si Unyil, kamu mau?!”
“Hei, memangnya Maurin tidak malu ribut di depan teman Kakak? Aduh, maaf ya ... anak-anak memang selalu begini,” kata ibu.
“Tidak apa-apa, itu hal yang biasa terjadi antara dua bersaudara,” jawab Elang. Ya, tentu saja, dia dan kakaknya mungkin bisa ribut lebih parah.
“Kamu kan yang pernah mengantar Kakak pulang hari itu,” kata Maurin menatap Elang sinis.
__ADS_1
“Wah, benarkah? Siapa namamu?” sambung ibu.
“Kamu bicara apa, adik kecil?” tanya Elang memaksa tersenyum.
“Bukan kakak ini, Dik! Kamu salah lihat,” jawabku.
“Kakak yang ini, kok! Aku ingat! Aku bukannya pikun seperti Kak Shira!”
“Sudah kubilang, bukan dia, Mauriiin! Yang waktu itu mengantarku adalah kakak laki-lakinya. Mereka berdua mirip!” tegasku. Maurin masih tidak percaya, mengamati Elang yang beramah-tamah dengan ibu.
“Ah, iya ... mirip tapi beda.”
“Nama saya Elang, kami teman sekelas. Teman-teman lain yang berkunjung ke sini sudah pulang, tapi saya kembali karena ponsel saya tertinggal.”
“Oh ya? Wah, sayang sekali! Aku sangat ingin bertemu teman-teman Shira. Kamu tidak keberatan di sini sedikit lebih lama lagi ‘kan? Tante terlambat kembali ke sini karena lama di dapur. Yah, kangen dapur di rumah jadi membuat bersemangat memasak sampai lupa waktu. Tante akan senang kalau kamu juga mencoba masakan Tante,” kata ibu panjang lebar.
“Terima kasih, Tante. Saya jadi merepotkan!”
"Ah, tidak, kok!"
“Memangnya apa saja yang Ibu masak?!” tanyaku tak bisa membayangkan yang telah ibu lakukan berjam-jam di dapur. Tidak hanya membuat menu makan siang, ternyata ibu juga sempat membuat kue kering kesukaanku dulu. Aku benar-benar tak habis pikir.
Kami menikmatinya bersama. Elang mengaku dia merindukan mamanya, tanpa sadar menceritakan keluarganya juga. Entah kenapa pembicaraan mengalir begitu saja. Seandainya teman-teman yang lain juga masih di sini mungkin akan sangat ramai. Ibu mudah sekali dekat dengan anak muda, terlebih dia sangat menghargai teman-temanku, siapa pun itu.
“Syukurlah kalau kamu suka, Lang. Selagi masih di sini Tante akan buat banyak kue kering untuk kamu dan kakakmu. Anggap saja itu sebagai rasa terima kasih Tante karena kamu menjadi teman Shira,” jawab ibu.
“Tanpa Tante repot-repot begitu, saya dan Shira akan tetap berteman, kok!” jawab Elang. Aku tersedak mendengarnya. Wah, akhirnya dia bilang begitu.
“Eh, bukan apa-apa! Tante memang biasa seperti ini karena Tante pikir, tidak ada yang bisa membuat Shira bahagia selain teman-temannya, bahkan tidak Tante sendiri meski Tante ibu kandungnya,” jawab ibu seolah-olah hanya ada dia dan Elang di ruangan ini. Adikku memainkan ponsel tak peduli. Aku memutar bola mata sebal. Mulai lagi, deh!
“Tante ingin memperlakukan teman-teman Shira maupun Maurin sebaik mungkin, berusaha menjaga orang-orang yang dekat dengan anak-anak Tante agar selalu bersama mereka, karena itu adalah hal yang telah Tante gagal lakukan sebagai orang tua. Ayah Shira juga, keadaan membuat kami tak bisa ....”
“Nah, cukup di situ! Tidak perlu menceritakan aib keluarga!” potongku tegas.
“Apa yang membuat Ibu berpikir bahwa teman-teman kami perlu tahu hal semacam itu?!” balas Maurin juga angkat bicara.
“Maaf, jam besuk telah berakhir. Kami harus memeriksa pasien dan mari membiarkannya istirahat,” kata dokter yang baru muncul.
“Ah, baik. Saya harus pamit, Tante. Terima kasih untuk kue dan lain-lainnya,” kata Elang beranjak dari tempatnya.
“Ya, terima kasih juga sudah berkunjung. Salam buat teman-teman yang tadi ke sini ya!” balas ibu.
“Kau juga, Shir. Lekaslah sembuh,” ujar Elang menjabat tanganku.
“Aku sudah sembuh, tahu!” balasku percaya diri.
“Bagus, kalau begitu Hari Senin aku sudah bisa melihatmu di sekolah. Jangan lupa kita punya banyak PR!” kata Elang memberi tekanan pada kata PR, seolah mengode sesuatu.
__ADS_1
Ah, iya, aku paham.
.Bersambung.