Kelabu

Kelabu
BONUS : Farewell or Sequel?


__ADS_3

Hai, semua!


Kangen Shira?


Kangen Elang?


Kangen Sakti?


Kangen author? *tabok


Oke, episode ini pakai sudut pandang Elang ;) Masih ingat kan panggilan Elang di lingkungan keluarga? Iya, dipanggil Sayang ... eh, Aang :v Jadi jangan bingung nanti ya! Well, happy reading!


[Sudut pandang Elang]


Kutarik tirai agar sepenuhnya menutup jendela, melindungiku dari panggangan cahaya matahari yang mulai meninggi. Padahal masih pukul sepuluh pagi, suhu di kota ini tidak pernah tidak panas. Di sekolah lama aku juga duduk di dekat jendela, terpapar cahaya matahari juga, tapi tidak pernah berkeringat berlebih seperti ini. Air minumku juga lebih cepat habis padahal sekarang baru istirahat pertama. Ah, apa-apa memang lebih enak di sekolah lama!


Setahun lebih, harusnya aku sudah tidak rewel dengan keadaan di sini, tapi tetap saja membiasakan diri menjadi hal yang paling sulit. Bukannya tidak bisa beradaptasi, sayangnya semua orang di sini banyak yang tahu status dan reputasi keluargaku. Jadi, bisa ditebak betapa tidak normalnya hidupku di tengah ketidakwarasan para gadis yang tergila-gila dengan nama belakangku. Sementara para laki-laki yang tidak suka dan menganggapku sombong dengan belagunya sesekali mengajak gelut. Heh, kuhabisi sungguhan baru tahu rasa!


Beruntungnya setelah naik kelas dua belas aku tak lagi peduli dengan itu semua. Terlebih semester dua ini, sesuatu yang lebih penting menuntutku berpikir. Tidak hanya ujian dan ujian, tuntutan untuk segera menentukan pendidikan lanjutan juga menambah peningnya kepala. Lembar isian dari BK ini terus saja menodong jawabanku yang masih di awang-awang.


“Woi!”


Seseorang bersuara preman membuyarkan lamunanku dengan jitakan keras di kepala. Tak sempat mengaduh, segera kupelintir tangan orang itu ke belakang punggungnya. Sebelah tangannya yang bebas sempat nyaris menggampar sisi wajahku jika tidak segera kukunci juga.


“Buset, deh, sensi banget hari ini!” komentar cewek berambut pendek yang sekarang tak bisa bergerak lagi. Aku hanya menghela napas ketika melepasnya. Ia duduk di atas meja ketika aku kembali duduk di kursi.


“Turun, enggak, kamu?! Duduklah di kursi!” perintahku sama sekali tak tahan melihat ketidaketisan di depan mata. Gadis paling tomboi di kelas yang beruntungnya –atau tidak beruntungnya– merupakan sepupuku inilah satu-satunya orang yang paling sering bersamaku di sekolah. Jika ada aku, maka ada Dinara. Jika aku hanya sendirian, berarti Dinara sedang sok sibuk di klub band rocker tidak pentingnya.


“Rewel, ah! Aku ke sini mau menagih lembar isian dari BK tentang rencana studi lanjutan! Seingatku lembar itu sejak dua hari lalu ada padamu, Ang! Jangan-jangan kamu belum mengisinya?!” tanya Dinara.


Aku hanya melempar pandangan ke luar jendela menghindari tatapannya.


“Heh, apa-apaan itu?! Jelas-jelas kamu memang belum mengisinya! Asal kau tahu betapa guru-guru menyalahkanku, ketua kelas dua belas MIPA tujuh yang lambat menangani bermacam-macam hal padahal kamulah, balsem ijo! Kamulah yang tidak segera menentukan pilihan!” omelnya. Tak peduli setomboi apa pun. Cerewet dan kelebihan mulut tetaplah ciri khas perempuan.


“Beri aku waktu sampai istirahat kedua, biar kukumpulkan sendiri ke BK, oke?” jawabku.


“Maksudmu istirahat kedua minggu depan?! Tidak, Ang! Kumohon jangan main-main. Cepat tuliskan rencana studimu! Kau mau lanjut ke perguruan tinggi mana? Fakultas dan program studinya juga! Sementara ini diisi asal-asalan dulu tidak apa-apa, deh! Yang penting data di lembar itu lengkap dan bisa segera kukumpulkan!”


“Mana bisa asal-asalan!” jawabku memijit kening.


“Ya sudah, sini biar kuisikan,” katanya mencabut tutup pulpen dan mulai menulis, “aku tahu, kok! Kamu pengin lanjut ke akademi kebidanan ‘kan?”


“Ditulis kayak gitu beneran KUJAMIN KAMU BAKAL NYESEL, DIN!”


“Atau mau langsung kawin?”


“UDIIIIINNNN!!!” raungku tak tahan merampas pulpen dari tangannya. Terlepas nama yang kuteriakkan tadi, makhluk separuh perempuan ini memang lebih cocok dipanggil demikian.


“Tapi mau kawin sama siapa?! Kamu kan jomlo lahir batin. Yah, kecuali kalau ada campur tangan Om Bagas menjodohkanmu sama anak-anak koleganya,” jawab Dinara terdengar bertambah ngawur.


“Enggak, deh! Berhenti bahas soal itu! Enggak bakal kubiarkan papa merecoki hidupku sejauh itu!” jawabku.


“Ya elah! Kenyataannya kamu memang susah sekali didekati cewek. Cuma menang tampang doang! Hati kamu enggak ada! Masih mending Bang Garuda!”


“Iyalah, memang Garuda idaman! Terserah, kelonin saja dia sana!”


“Tapi serius, deh, Ang! Masa kamu enggak tergoda sama anak kepala sekolah yang bohay itu?! Atau minimal selebgram kelas kita? Jangan-jangan kamu enggak normal ....”


“Sepatuku muat di mulutmu, tahu, Din. Terus saja ngomong sembarangan bakal kujejali sungguhan, nih!” jawabku sedemikian rupa masih menahan emosi. Dinara hanya memutar bola mata.


“Terserah, deh! Istirahat kedua beneran dikumpulkan lembarannya, lho! Oh iya, besok mau datang ke edufair, enggak?”


“Acara apa?” tanyaku.


“Pameran sosialisasi kampus-kampus gitu. Nanti ada semacam bazar, kamu bisa dapat banyak informasi langsung di sana. Yuk, selagi besok libur!” ajak Dinara antusias sekali.


“Di mana?”


“Di kampusnya Bang Garuda.”


“Jauh bangeeet! Bodo amat! Mending aku menamatkan latihan soal-soal seleksi masuk perguruan tinggi di rumah!”


Dinara berdecak sebal, “Sekalipun bisa mengerjakan soal tingkat dewa, jika kamu belum menentukan pilihan kuliah ya tidak ada gunanya! Kita jalan-jalan di pameran itu dulu, cari pencerahan buat kamu!”


“Kata Garuda yang dipamerkan di sana kebanyakan kampus-kampus swasta. Aku enggak minat!”


“Ayo, dong, Ang! Aku biar ada alasan main jauh ....”


“Ternyata cuma pengin main-main!”


“... kalau bareng kamu pasti diizinkan sama papa. Ya, Ang?! Siapa tahu kamu bisa ketemu teman-teman lamamu! Anak-anak sekolah lain pasti ke sana juga!”


“Enggak, aku sudah ketemu mereka waktu festival budaya sama liburan akhir tahun kemarin! Masih belum kangen!”


“Oke, aku paham. Memang enggak ada bagusnya jalan sama aku. Begini, deh, kamu boleh janjian sama cewek berkacamata yang sering kamu stalk instagramnya, sementara aku dengan senang hati bakal melayap sendiri, deal?”


“Ma ... mana ada aku pernah stalking instagram cewek ....”


“Dari reaksimu sepertinya kamu memang setuju. Okelah, kujemput besok jam delapan pagi!” jawab Dinara seenaknya memutuskan.


“Kesiangan, woi!”


“Iya, iyaa ... jam enam. Duh, enggak sabaran banget!”


 



 


Dinara tidak pernah benar-benar menepati kesepakatannya sendiri. Esok harinya hingga pukul tujuh lewat ia belum juga datang. Akibatnya kami terlambat satu jam masuk ke sesi satu acara pameran itu.


“Dengar ya, Din! Karena kita berseragam sekolah, kamu jangan ada niat berkeliaran ke mana-mana atau banyak bertingkah!” ujarku memperingatkannya sementara ia acuh tak acuh mengunyah permen karet. Aku tahu benar tampang premannya itu selalu mengundang masalah atau masalah sendiri yang menghampirinya.


Sepuluh menit mengikuti arus pameran, melintasi stan-stan bazar, brosur-brosur berbagai kampus memenuhi genggaman tangan Dinara. Aku tak tahu pasti program apa yang ia minati nantinya. Yang jelas tujuannya ke sini bukan murni untuk mencari pencerahan rencana studi lanjutan, pun aku yang sejatinya memang dari awal mengincar sekolah kedinasan tapi sepertinya tak akan kesampaian. Aku hanya memandangi hiruk pikuk di sekitarku tak berselera.


Semakin tidak berselera ketika mengetahui Dinara tidak lagi di sebelahku. Kuedarkan pandangan menilik kerumunan demi kerumunan, mencari seseorang berseragam yang sama denganku. Rupanya lebih banyak dari yang kukira, aku tak menemukan Dinara di antara mereka. Dengan wajah mengeras kuhubungi gadis bengal itu. Dia malah menjawab santai sedang mengantre beli es doger.


“Awas saja kalau lima belas menit lagi kamu belum kembali, bakal kutinggal pulang, kuadukan ke papamu!” ancamku.


“Ih, dasar tukang ngadu! Tapi aku memang menunggu kamu bilang begitu, sih! Enggak apa-apa, deh, kamu pulang duluan. Bilang ke papaku aku bakal sampai di rumah sebelum pukul lima sore. Dadaah!”


“Heh! Jangan seenaknya! Kamu mau ke mana, Din?!” tanyaku sia-sia sebab ia sudah memutus sambungan telepon, “Di ... na ... raaaaaaa!!!!” geramku teringin membanting ponsel. Gadis yang lewat sendirian di sebelahku sempat terhenti demi menatapku.


“APA?!” semburku masih emosi.


“Eh, ma ... maaf! Kupikir tadi kamu memanggilku. Ternyata aku salah dengar. Ya sudah, maaf ya!” katanya kemudian lanjut pergi. Sejenak aku menyesali sikap kasarku tadi. Itu kan salahku karena teriak-teriak tidak jelas dan membuatnya merasa dipanggil hanya untuk kumarahi setelahnya. Memangnya siapa namanya? Dinara juga? Atau mungkin ... Dinara ... Raa?!


“Shira!”


Aku berani menyebut demikian sebab seragam sekolahnya bercorak sama dengan seragam sekolah lamaku. Baru kuingat juga bahwa teman-teman lebih sering memanggilnya ‘Ra'.

__ADS_1


“Tuh, kali ini aku tidak salah dengar ya! Jelas-jelas kamu memanggil namaku!”


Senyumku menolak disembunyikan. Harusnya aku tidak lagi pangling dengan wajah sok ketus berkacamata yang sering kulihat di postingan akun media sosialnya, tapi tetap saja melihatnya langsung pertama kali tak membuatku terbiasa mengenalinya sebagai Shira. Menertawakan kekonyolanku sendiri, Shira ikut tertawa sambil memukulku dengan gulungan brosur di tangannya, mengira aku baru saja mengerjainya.


“Aku sebenarnya sadar kalu kamu Elang, tapi tingkahmu yang menatapku asing begitu membuatku khawatir salah orang, makanya aku langsung pergi!” ujarnya.


“Ah, alasan! Bilang saja kamu memang lupa!” jawabku.


“Ya enggaklah! Satu-satunya manusia paling ketus dan sedikit-sedikit marah kan hanya kamu!”


“Ya, dan satu-satunya orang yang gampang sekali terpisah dari temannya lalu berakhir tersesat di tengah kerumunan sendirian juga hanya kamu!” balasku tak mau kalah. Shira hanya nyengir. Kata-kataku tidak salah dan tidak bisa ia pungkiri.


“Hei ... apa kabar?” tanyaku sejenak mengingat hal yang sepatutnya ditanyakan setelah lama tidak bertemu. Kelihatannya dia baik-baik saja. Festival budaya lalu ketika aku berkunjung, Shira tidak hadir karena neneknya meninggal, juga liburan akhir tahun yang hanya teman-teman laki-laki yang sempat kutemui. Terakhir kali kami bertemu langsung hanya ketika aku dijemput sebelum pindah. Bisa terhitung satu setengah tahun yang lalu dan itu pun Shira baru keluar dari rumah sakit dengan ingatan kosong tentang kebersamaan kami.


Saat itu aku bilang seolah aku rela dengan keadaan Shira kemudian kata-kataku menjadi cukup menyiksa. Apanya yang tidak apa-apa bila ingatan itu hilang dari kepalanya?! Siang malam aku merutuk, kenapa harus aku seorang diri yang menanggung ingatan mengerikan tentang sisi lain sekolahku? Tentang Sakti dan Sekti, tentang Pak Hanri sialan itu?! Sungguh tidak adil! Aku jadi terlalu waswas di sekolah baru, khawatir terjebak drama petualangan yang sama, tapi sepertinya aku tidak akan terlibat hal-hal semacam itu jika tidak bersama Shira. Kadang masih muncul pertanyaan di benakku. Jika aku terkait dengan peristiwa titik balik karena hubungan garis keturunan Sakti, maka apa kaitannya dengan Shira? Kenapa gadis yang sama sekali tidak ada hubungannya harus sama-sama terlibat dengan tragedi mengerikan itu?


“Terlepas dari aku yang berbakat tersesat, kenyataannya kamu masih saja suka jalan sendirian,” kata Shira menyerah mencari Yasinta dan teman-teman yang lain, memilih duduk santai bersamaku di luar gedung yang dipakai pameran.


“Tidak, sih! Tadi aku bersama sepupuku, tapi dia juga tiba-tiba menghilang. Merepotkan, deh!”


“Cowok atau cewek? Kalau cewek cepat dicari, dong! Kasihan kalau sampai tersesat!”


“Buat apa? Dia yang sengaja meninggalkanku. Lagi pula dia tidak menjadikan tersesat sebagai bakatnya seperti kamu,” jawabku segera membuat pipinya menggembung sebal.


“Iya, deh, iyaa! Ledek saja teruuus!”


Aku tak bisa menahan tawa, “Kamu banyak berubah ya, Shir!” Sesaat kemudian aku menyesali mulutku yang bablas seenaknya berkomentar.


“Kenapa banyak yang bilang seperti itu ya?” tanyanya heran. Apa dia tak pernah bercermin membandingkan dirinya dengan yang dulu? Bahkan Garuda jadi sering muncul di komentar postingan fotonya sejak mengetahui perubahannya, dasar om-om genit!


Masih tidak suka pakai dasi, tetapi Shira terlihat lebih rapi. Untai rambut yang dulu selalu jatuh di sisi wajahnya menutupi telinga kini dijepit rapi ke belakang. Anak rambut memanjang yang tampak mengganggu mata sekarang dipotong lurus sejajar dengan alis. Ditambah kaca mata kotak lensa negatif berbingkai tipis bertengger di pangkal hidungnya. Barangkali sejak naik kelas dua belas, dia mulai serius belajar dan terus belajar hingga lupa waktu, membuat penglihatannya terganggu. Masih kuingat dia pernah tahan begadang semalaman.


Tapi sungguh, tidak hanya penampilan luarnya yang berubah. Awal sekolah dulu Shira begitu pendiam dan cuek. Fakta bahwa dia memang pintar sekaligus pemalas membuatnya tak banyak disukai teman-teman, termasuk aku. Apalagi mata mengantuknya yang terkesan memandang remeh siapa pun. Aku ingat benar isi hatinya yang disampaikan kepada Pak Hanri di perpustakaan ketika terusir dari kelas Bu Listiyah.


Ternyata dia tidak seburuk yang kami kira dan selalu berjuang untuk diterima semua orang –sialnya orang yang memberinya nasihat justru lebih berengsek dari yang pernah kukira. Namun, terakhir kali yang kutahu sebelum pindah, dia sudah dikelilingi banyak teman, meski sejatinya teman-teman mendekati Shira demi memuaskan penasaran terhadap gosip antara aku dengannya. Hal itu tetap membuatku bersyukur karena ia tak lagi hanya berteman dengan Yasinta atau Nike.


“Bukankah perubahan itu memang wajar ya? Elang sendiri juga berubah, kok!” kata Shira.


“Tetap saja perubahanmu yang paling mencolok,” jawabku. Biar sudah, terlanjur dibicarakan.


“Masa, sih?”


“Sepertinya bukan hanya aku yang bilang seperti ini, teman-teman juga merasa kamu lebih ceria.”


“Wah, benar. Aku memang semakin tidak bisa diam,” jawabnya. Aku hanya menghela napas. Jelas dia tidak tahu bedanya ceria dengan pecicilan.


“Tapi mungkin ada kaitannya dengan adanya ayah dan ibu di rumah. Rasanya memang beda ketika bangun dengan aroma masakan dan seseorang mengucapkan selamat pagi di dapur. Rasanya menyenangkan ketika satu-satunya laki-laki di keluargaku ada di meja makan. Entahlah, hari-hariku setelah itu terasa hangat. Aku merasa disayang seutuhnya dan tidak bisa menyembunyikan rasa senang,” jawabnya tersenyum hingga matanya tampak segaris. Aku terkejut senyumnya turut menular kepadaku.


“Syukurlah!”


“Aduh, kenapa malah membahas itu?!” gerutunya, “oh iya, jadi bagaimana, nih? Elang sudah ada gambaran mau lanjut kuliah ke mana? Aku pernah ingat dulu kamu terobsesi ingin masuk akademi militer, eh bukan, sekolah tinggi intelijen, ya ‘kan?”


“Iya, sih! Tapi aku sudah pernah cacat, mungkin sulit untuk lolos,” jawabku sedikit menyesal.


“Ah, iya, lengan kirimu ya? Tapi sudah tidak apa-apa ‘kan?”


“Tidak apa-apa, hanya saja sendiku yang terlanjur geser tidak bisa kembali normal. Lihat, deh, lenganku kelihatan bengkok.”


“Wah, benar. Lalu bagaimana rencanamu selanjutnya?”


“Entahlah ... mungkin aku akan lanjut ke ... ke mana ya? Fakultas ekonomi, mungkin. Entah universitas mana,” jawabku menerawang langit.


“Memangnya tidak boleh?!”


“Bo ... bolehlah, aku kan cuma bertanya,” jawabnya kemudian tersenyum jahil, “oh, aku mengerti! Ah, dasar pewaris tahta perusahaan raksasa!”


“Habisnya ... pak tua itu sampai memohon-mohon agar posisi penting perusahaan keluarga tidak jatuh ke tangan orang lain ....”


“Pak tua?”


“Iya, papaku. Jika ia yang seumur hidup hanya terus mencemoohku akhirnya berlunak hati begitu, aku jadi tidak punya pilihan.”


“Wah, semoga saja kamu tidak terpaksa menjalaninya ya. Kenapa tidak untuk Kak Garuda saja?”


“Setelah lulus tahun lalu Garuda langsung dapat kontrak kerja di Dubai. Tak lama lagi dia pasti harus mengisi posisi penting perusahaan kakek di sana.”


“Makanya jangan terlalu kaya, dong!”


“Shira sendiri bagaimana? Kamu pasti dapat kuota jalur masuk kuliah tanpa tes, iya ‘kan?” tanyaku. Senyum hambarnya adalah jawaban.


“Jangan-jangan belum punya tujuan ya?” tanyaku.


“Iya, nih. Terjepit dua arahan berbeda. Ibu ingin aku jadi pramugari, sementara ayah ingin aku masuk sekolah akuntansi, sedangkan aku tidak minat keduanya,” jawab Shira terlihat risau. Tentu saja, orang yang tidak suka diatur-atur sepertinya pasti tidak betah kerja terikat begitu.


“Bukankah itu berarti kamu sudah punya keinginan sendiri?”


“Iya, sih! Tapi aku yakin ayah dan ibu tidak setuju. Aku sudah pernah bilang ingin masuk psikologi.”


“Wah, kupikir bakal masuk sastra Indonesia karena kamu masih aktif menulis. Dapat motivasi apa tiba-tiba ingin masuk psikologi?”


“Sebenarnya dari dulu aku ingin bisa membaca pikiran orang lain. Dengan kemampuan instan seperti itu pasti tidak akan ada salah paham, tidak ada yang bertengkar. Belakangan ini aku melihat di televisi yang bisa melakukan hal keren seperti itu adalah psikolog.”


Aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Sungguh, hanya karena alasan sepolos itu?


“Kamu ingin jadi seperti Sakti ya?” tanyaku teringat seseorang berambut perak itu.


“Tidak, aku tidak berharap menjadi orang sakti. Kemampuan seperti itu rasional dan bisa dipelajari,” jawabnya. Ah, tidak. Sakti yang kumaksud berbeda dengan sakti yang ia pahami. Ingatannya tentang hal itu belum juga kembali hingga hari ini.


“Hei, bukankah itu Kak Garuda?” tanyanya menunjuk kepada orang yang melambai kepada kami. Aku memicingkan mata demi mengamatinya. Heh, tidak mungkin!


“Kak! Kak Garuda ....”


“Jangan, Shir!” cegahku hanya sempat menarik tangan Shira saat ia hendak berlari. Orang yang berjalan ke arah kami menepuk tangannya tinggi-tinggi ke udara. Seketika kerumunan di sekitar kami mematung seperti maneken, juga pesawat yang melintas di atas kota ini berhenti tanpa jatuh seolah tersangkut di langit. Fenomena ini ... terhentinya waktu ....


“Karena sepertinya Elang sudah sadar, maka aku terpaksa melakukan ini,” kata Garuda muncul dengan senyum seperti biasa.


“Waduh, aku juga enggak bisa gerak, nih?” tanya Shira kebingungan. Tubuhku dan Shira juga terkunci di posisi terakhir kami bergerak. Hanya kepala yang bisa bergerak menoleh, berkedip, dan berbicara. Sial, apa-apaan ini?!


“Siapa kamu sebenarnya?!” tanyaku menatap Garuda tidak senang.


“Kamu masih bertanya? Jelas-jelas aku kakakmu yang paling ganteng sejagat raya!” jawabnya. Shira masih sempat terkekeh.


“Tidak, Garuda masih di luar negeri. Tadi pagi melalui panggilan video Garuda masih di apartemennya!” bantahku.


“Lalu kenapa? Aku tidak boleh muncul di sembarang tempat? Membiarkan kalian mengobrol santai berdua tanpa mengetahui beberapa iblis berbaur di kerumunan ini. Kalian menyadarinya? Tidak ‘kan?”


Kewaspadaanku meningkat, mengawasi sekitar, “Apa maksudmu?!”


Garuda lagi-lagi tersenyum, “Selama ini kukira aku sudah mengenal adikku, tapi aku baru tahu dia pernah bertualang ke dunia kelabu bahkan mengakhiri entitasnya. Harusnya kau tahu selau ada konsekuensi atas segala tindakan.”


“Kau menyalahkanku karena mengakhiri entitas dunia itu? Kau tidak suka jika aku dan Shira selamat?”

__ADS_1


“Heh?” Shira pasang tampang polos.


“Bukan begitu, adikku! Justru karena aku tahu bahaya berikutnya yang kalian hadapi akan semakin besar, jadi biarkan aku bergabung bersama kalian,” kata Garuda.


“Bahaya berikutnya apaan?! Jangan nambahin panjang cerita, deh! NOVEL INI SUDAH TAMAT, WOI!” teriakku geram.


“Oh, sudah tamat ya? Sayang banget aku belum muncul di banyak episode,” jawab Garuda.


“Ya mohonlah sadar diri! Tokoh sampingan jangan berharap muncul di banyak adegan seperti tokoh utama!” jawabku sombong.


“Eh, ki ... kita masih dibaca teman-teman, loh!” balas Shira.


“Enggak apa-apa, sekalian aku umumkan pesan dari author kalau novel ini direncanakan bakal ada sekuelnya, GIMANAA?” tanya Garuda berharap ada efek suara riuh tepuk tangan. Dasar sinting!


“Sekuel apa lagi, sih? Jangan yang berat-berat, tolong!” keluhku.


“Habisnya siapa yang memperumit cerita jika bukan kamu, heh?! Sekarang kutanya di mana pedangmu?!”


“Pedang yang mana?! Oh, jangan-jangan ... pedang cahaya waktu itu,” jawabku. Sial, aku baru ingat!


“Iyaa memangnya kamu punya berapa pedang?! Nah, sekarang di mana pedang itu? Kamu tinggalkan di mana, Ang?! PEDANG ITU TIDAK ADA PADAMU ‘KAN?! DASAR SEMBRONO!” jawab Garuda menjitak kepalaku.


“Aduh! Sialan! Sejak kapan kamu berani memukulku, ha?!”


“Kenapa tidak?! Setelah kamu menyia-nyiakan kekuatan besar itu memangnya berapa dunia yang akan terancam?! Bagaimana jika pedang itu jatuh ke tangan yang salah?! Dan bila kamu tidak ingin LDR-an antardunia paralel dengan Shira, kekuatan yang diwariskan nenek Shira setelah meninggal kepadanya harus segera kita segel di pedang itu. Iya 'kan, Ra? Berapa kali kamu sudah dijemput seseorang dalam mimpimu?” tanya Garuda. Shira tiba-tiba tampak gusar. Hei, ada apa ini?


“Kekuatan apa maksudmu? Shira dijemput siapa?” tanyaku.


“Sssttt! Jangan beri tahu, biarkan dia penasaraan!”


“Kurang ajar! Jangan main-main, Gar! Kalau Shira lagi-lagi terlibat, aku tidak bisa tinggal diam!” jawabku.


“Bagus, artinya kamu setuju dengan rencana sekuel kita!”


“Terserahlah, memangnya kapan akan dibuat?” tanyaku.


“Hm, entahlah, kata author sekitar bulan Agustus, paling lambat Desember tahun ini,” jawab Garuda.


“Agustus?! Mana bisa?! Aku sudah sibuk kuliah!”


“Kuliah apa? Kebidanan?”


Shira menyembur tawa demi mendengarnya. Sialan!


“YA ENGGAKLAH! KATA SIAPA AKU PERNAH BERANGAN MASUK AKADEMI ITU?!”


“Kata Dinara ....”


“Ya bohong! Eh, tapi ... sungguh, kamu kenal Dinara? Berarti kamu benar-benar Garuda?”


“Ya ampun, masih ditanya lagi! Kenapa, sih? Enggak nyangka ya, kakak yang pernah tinggal serumah sama kamu bisa bikin sulap membekukan waktu sehebat ini? Keren ‘kan?” jawabnya.


“Ya sudahlah, terserah! Kalau bercandanya masih lama, tolong kembalikan semuanya jadi normal lagi! Menurutmu enak mematung dengan posisi seperti ini?!”


“Wah, iya ya! Kamu malah untung banyak bisa pegang tangan Shira dari tadi!”


“BUKAN AKU YANG MINTA, HEH!” semprotku kesal. Garuda menjentikkan jarinya di depan Shira, membuatnya kembali bisa bergerak seutuhnya.


“Wah, akhirnya ... makasih, Kak!”


“Jangan cuma Shira, dong! Aku juga, woi!” seruku.


“Enggak, akan kubiarkan seperti itu sampai kamu setuju dengan rencana sekuel kita,” jawab Garuda.


“Bodo amat! Kalau aku enggak setuju, sekuel itu enggak bakal dibuat ‘kan? Biarin! Aku lebih suka akhir seperti ini!”


“Kenapa kamu enggak mau, sih, Ang? Jangan-jangan kamu ada niatan mau jadi bintang novel lain ya?”


“Aku? Jadi bintang novel lain?”


“Ahahahah!”


Malah Shira yang tertawa.


“Dan kenapa kamu ngotot banget ingin menuruti ide gila author kurang kerjaan itu, Gar?” tanyaku tak habis pikir.


“Habisnya ... aku juga bakal diposisikan jadi karakter penting yang sebanding seperti kamu dan Shira!”


“Waah! Serius?!” respons Shira antusias.


“Jangan-jangan ... kamu ... reinkarnasi Sakti?” tanyaku tak percaya. Harusnya aku sadar cara Garuda tersenyum memang tak jauh beda dengan Sakti.


“Sakti siapa?” tanya Shira.


“Ah, ingatan kamu belum kembali ya? Aku bisa memulihkannya jika kamu setuju dengan rencana sekuel ini,” kata Garuda.


“Iya, aku setuju!”


“JANGAN LANGSUNG PERCAYA, HEH!”


“Aku sudah tidak tahan penasaran dengan ingatanku sendiri, Lang! Jika Kak Garuda bisa membuat kejaiban seperti menghentikan waktu, aku percaya dia bisa dengan mudah mengembalikan ingatanku! Oke, kak! Dalam sekuel nanti, buatlah ingatanku kembali!”


“Oke, sip! Shira setuju! Tinggal menunggu Aang, nih!”


“Heh, Kacang Panggang! Berhenti memengaruhi Shira!”


“Hei, adikku, Balsem Ijo! Aku tidak memengaruhinya! Meski sudah tidak bisa membaca pikiran, aku tahu sebenarnya kamu ingin bergabung. Ya sudahlah, sementara menunggu persetujuanmu, aku akan mengajak Shira jalan-jalan sebentar. Ayo, Shira!”


KURANG ASEM!


“Ta ... tapi, kalau Elang dibiarkan mematung seperti pose patung pancoran begitu kan bisa pegal ... kasihan, Kak!” kata Shira ketika Garuda menariknya pergi.


“Biarin, biarin! Setelah dia bilang setuju, barulah aku akan membiarkannya bergerak normal lagi. Sudahlah, jangan pedulikan dia! Aku akan memandumu keliling kampus. Ini layanan gratis bebas hambatan!”


“Woi, Garuda! Awas saja ya! Akan kubuat kau menyesal setelah ini! Kembalikan Shira ... eh, kembalikan semuanya menjadi normal lagi! Jangan pura-pura budeg, heh! Garudaaa! GAAARUUUDAAAAAAAA!!!!!”


.Tamat.


Episode bonus mauku cuma seribu kata aja, eh ternyata udah kebiasaan ngetik banyak. Jadinya begini, deh! Semoga bisa membayar ketidakpuasan teman-teman atas episode sebelumnya yang yah ... padahal endingnya bagusan gitu, hehe.


Oke setelah ini jangan harap ada lanjutannya lagi, kecuali Elang emang benar-benar setuju ada sekuelnya. Semisal Elang minggat dan enggak ngasih kabar, mungkin kita bisa ketemu di judul lain, bersama karakter-karakter baru lain. Yuhuu^^ proyek baru!


Karena setelah ini end dan gak bisa nambah bab bacotan gak penting, mungkin teman-teman bisa gabung di grup buat ngobrol ini itu tentang Kelabu atau hal seru lain. Boleh juga intip akun instagram aku di @ngglendhemi_i karena di sana kurencanakan buat mengenang apa pun (quotes, ilustrasi tokoh, dan lain-lainnya) tentang penulisan novel ini.


Jumlah katanya udah banyak banget, jadi kubikin kayak gini aja, haha




__ADS_1


__ADS_2