Kelabu

Kelabu
Episode 39


__ADS_3

Pak Hanri tetaplah Pak Hanri. Tak peduli betapa pun teman-teman bilang aku murid kesayangannya –selain Elang– aku tetap dihukum ketika salah, tidak pandang bulu. Kerangka novel yang tadinya diminta sebelum UTS akhirnya diminta sebelum bel pulang hari ini. Entah bagaimana caraku mengerjakannya.


Padahal selama ini aku tidak terbiasa membuat kerangka sebelum menulis meski itu sesuatu yang penting. Ide segar kadang datang di tengah-tengah dan mengubah rencana yang sudah kutentukan. Memang sangat berisiko hilang arah, tetapi aku tidak pernah peduli karena sebelumnya menulis bukanlah prioritasku. Sepertinya mulai sekarang aku harus memprioritaskannya dan belajar lebih tertata.


Kuhela napas panjang. Halaman baru di catatan harianku masih kosong, tidak berselera mengerjakannya. Aku malah membuka fail terjemahan buku kuno dari Elang. Ada banyak hal yang membuatku penasaran sejak pertemuan terakhir dengan Sakti. Tentang enam kunci di enam penjuru yang menjawab terbukanya celah cahaya untuk mengisap sepasang jiwa. Informasi itu tidak kutemukan di naskah terjemahan yang dikirim Elang karena sepertinya ia baru mengerti tentang hal itu baru-baru ini dan belum sempat menyalinnya ke sini.


Kulirik arloji, lima belas menit setelah bel masuk istirahat pertama. Aku meluruskan kaki di bangku kosong yang ditinggalkan pemiliknya. Yasinta melayap entah ke mana. Seisi kelas gaduh dengan acara masing-masing. Guru-guru sedang rapat terkait pelaksanaan UTS minggu depan, akibatnya jam kosong hingga istirahat kedua nanti. Harusnya ini momen yang tepat untuk mendiskusikan perangkap enam kunci itu. Sayangnya Elang yang merupakan ketua kelas juga sedang mengikuti Musyawarah Pengurus Kelas bersama Marvel si sekretaris. Ah, aku benar-benar bosan!


Catatan harianku akhirnya kugeletakkan di atas meja. Sesuatu di atas meja Elang menarik perhatianku. Jika tidak salah ... Nah, benar ‘kan?! Itu buku kuno milik si kembar! Bagaimana mungkin Elang membiarkannya tergeletak seperti ini?! Apa dia tidak khawatir Rihana meminta satu halamannya lagi karena mengira kertas di buku ini terlihat klasik dan cocok untuk puisi di mading? Terkadang Ardian juga sering meminta kertas darinya untuk mengerjakan soal uraian di modul. Tak bisa kubayangkan jika satu lembar saja buku ini hilang. Aku tidak rela kehilangan satu potong informasi pun!


Segera kubereskan buku itu, tetapi aku menemukan kertas-kertas lain di dalamnya. Kertas buku biasa itu berisi tulisan tangan Elang yang tergolong enak dibaca –tulisan anak laki-laki di kelas tidak demikian. Sepertinya tentang terjemahan informasi yang baru ia dapat. Setelah kucermati ternyata benar. Perangkap enam kunci di enam penjuru!


Tertulis di sana bahwa dunia kelabu selalu menarik sepasang jiwa tiap enam dekade untuk mempertahankan eksistensinya. Iblis pencipta dunia itulah yang bertanggung jawab menebar perangkap, menjaring sepasang jiwa agar tersesat di dunia itu. Enam lambang setan dipasang di enam arah mata angin untuk membuka segel tak kasat mata yang mengaktifkan celah cahaya, membentuk pola heksagon seperti dalam gambar. Gambar yang dimaksud kutemukan di lembaran asli buku kuno tempat tulisan tangan Elang tersemat. Ada catatan tambahan dari Elang sendiri bahwa pola itu adalah pola heksagon yang sama seperti yang ia lihat ketika kilas balik aktifnya celah cahaya. Kecocokan formasi itu membuat Elang yakin bahwa peristiwa yang terjadi dalam kilas balik memang benar adanya. Seperti itulah gambaran yang akan kami hadapi ketika malam purnama ketiga nanti.


“Demi mempertahankan keberadaan dunia ini, sang iblis melalui kekuatan yang merasukiku menghabisi jiwa-jiwa tersesat itu, menumbalkan nyawa mereka ... melalui keluguan dan kebaikanmu, menyisipkan keraguan di hati jiwa putih untuk mencegah datangnya ramalan titik balik.”


Kalimat tadi kuyakini sebagai kata-kata Sekti kepada Sakti. Apa maksudnya? Menyisipkan keraguan apa? Datangnya titik balik yang bagaimana? Kurasa Elang sempat menyinggung tentang peristiwa titik balik jauh sebelum Sakti mengatakan bahwa itu merupakan bagian dari ramalannya. Sayang sekali aku tak begitu ingat. Informasi terbaru yang diketahui Elang pun berakhir di sini. Memang tidak banyak hal baru yang kumengerti. Setelah tahu tentang enam kunci di enam penjuru itu memangnya apa yang harus kulakukan?


Ketika kepalaku masih dijejali banyak pertanyaan dan aku mengusap wajah lelah, Rehan menatapku horor dengan wajah tak biasa.


“Be ... berani-beraninya kamu menyentuh barang pribadi Elang, Ra!” katanya, “aku yang teman sebangkunya saja tidak seberani itu!”


Aku mengernyit, “Memangnya Elang demikian pelitnya ya?”


“Bukan, dia paling tidak suka bila ada yang mengusik privasinya! Sebaiknya kamu letakkan buku harian Elang dengan posisi yang sama sebelum kamu membukanya! Atau dia akan memarahimu!” kata Rehan. Ah, dia mengira ini buku harian Elang dan dia tahu persis perangai teman sebangkunya.


“Tidak masalah bila aku yang menyentuhnya, Han! Ini juga bukuku!” jawabku kembali membalik halaman demi halaman sebelum seseorang turut bicara.


“Iyalah, jika Shira yang menyentuhnya tidak apa-apa! Apa lagi sesuatu yang kalian bagi, Ra?” tanya Yasinta dengan senyum jahil yang entah sejak kapan sudah berada di bangku sebelah. Ada Sindi dan Imelda juga. Aku hanya berdecak sebal.


“Kamu mengharapkan jawaban yang seperti apa, Yas?” tanyaku tidak berselera, tak mengerti maksud Yasinta bertanya demikian.


“Ayolah, apa salah satu dari kalian tidak bisa sedikit saja terbuka? Tidak mungkin kamu dan Elang hanya kebetulan terlihat akrab akhir-akhir ini!” timpal Imelda. Ah, aku sedikit tidak suka karena mengerti arah pembicaraan ini. Dasar kurang kerjaan!


“Kebetulan atau tidak kebetulan, apakah itu mengganggu kalian? Jika iya, aku minta maaf, deh!” jawabku.


“Ah, Shira! Jangan salah paham dulu, dong! Kami tidak bermaksud apa-apa, justru senang kalau memang benar ada sesuatu ....”


“Iya, memang ada sesuatu! Aku dan Elang terlibat masalah yang sama, jadi kami harus menyelesaikannya bersama. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan, oke?!”


“Kamu ada masalah dan tidak cerita kepadaku, Ra? Aku jadi sedikit kesepian. Kau pikir dalam cerita remaja pasaran apa yang membuat seseorang melupakan sahabatnya jika bukan asmara?” kata Yasinta.


“Sayangnya ini memang bukan untuk dicerita-ceritakan, Yas!” jawabku. Terlalu halu untuk dia percaya. Bukankah Yasinta sendiri memilih tutup telinga ketika aku ingin menceritakan pertama kali tentang dunia kelabu yang kukira mimpi itu?!


“Justru karena itu, Shira,” kata Sindi memulai gaya bicara seperti host acara gosip di televisi. Dih, tidak ada Marvel maka dialah gantinya, “klarifikasi saja tidak cukup! Publik juga perlu tahu alasannya. Menurutmu kenapa kami bisa berpikir sejauh itu? Masalah apa yang membuatmu bahkan sampai dekat dengan Kak Garuda Dirgaraja, kakak laki-laki Elang Dirgaraja?”


Yasinta dan Imelda sama-sama terkejut. Aku menahan umpatan atas betapa bocornya mulut Sindi.


“KAU PIKIR DEMI MENGANTAR SKIN CARE SIAPA AKU SAMPAI NYASAR DI RUMAH DUA BERSAUDARA ITU, HA?!” semprotku kepada Sindi yang dibalas cengiran polosnya.

__ADS_1


“Wah, tapi hebat ya, Shira sudah kenal abangya Elang!” komentar Yasinta.


“Elang punya kakak? Namanya Garuda? Apa dia juga punya adik bernama Rajawali?” tanya Imelda sungguh tidak penting. Ah, memang dari awal pembicaraan ini tidaklah penting!


“Takdir macam apa yang membuatmu kebetulan nyasar di rumah Elang coba?” tanya Yasinta belum menyerah juga. Oh, awas saja dia nanti!


“Sindi dan Elang bertetangga, Yasinta! Rumah mereka mirip dan persis berhadapan. Oh iya, Sindi, tolong bantu jelaskan kepada teman-teman betapa Kak Garuda memang ramah dan mudah akrab dengan siapa saja, sehingga sama sekali tidak mengherankan jika ia bersikap demikian padaku, oke?”


“Ah, benar, Kak Garudaaa! Ganteng dan baik berkebalikan dengan adiknya! Aku sudah mengincarnya dulu, tahu, Ra!” kata Sindi genit.


“Aku tidak berencana menjadi sainganmu, kok!” balasku acuh tak acuh.


“Iya, berencanalah jadi adik iparku saja, oke?” jawab Sindi sukses memancing tawa Yasinta dan Imelda. Aku hanya mengernyit tak bereaksi. Ah, mereka hanya akan membuatku lelah!


Baru saja aku ingin beranjak dari kelas, Elang dan Marvel kembali. Mereka menyampaikan hasil musyawarah di muka kelas yang sebagian besar berisi kegiatan tengah semester yang tak lain adalah UTS beserta rangkaian acara hiburan setelahnya. Aku mencium bau-bau pengeluaran tak terduga lagi. Apa kabar jurnal keuanganku?


“Akhir pekan setelah minggu kedua UTS akan diselenggarakan festival budaya. Kelas sepuluh yang sudah menyiapkan bazar produk sejak sebulan lalu sudah siap dengan acara itu dan tidak terganggu belajarnya jelang UTS. Bagaimana dengan kelas kita?” tanya Elang memimpin diskusi yang berlanjut lama ini. Aku hanya menguap. Kelas sebelas diminta memeriahkan panggung hiburan dengan minimal satu penampilan tiap kelas. Teman-teman sibuk membahas konsep pertunjukan yang akan ditampilkan nanti. Tidak seperti kelas sepuluh, kami baru saja mulai menyiapkan acara ini. Apakah tidak akan mengganggu belajar jelang UTS?


Entahlah, kantuk menggodaku untuk meletakkan kepala di atas meja, tetapi segera kuingat hukuman membuat kerangka novel ini belum juga selesai padahal harus dikumpulkan hari ini juga. Mau tak mau aku harus menegakkan kembali kepalaku dan mulai menulis. Biarlah, membuat kerangka itu mudah ‘kan? Pak Hanri tidak meminta sedetail mungkin, jadi biar kukerjakan semampuku sambil mendengarkan diskusi. Tampaknya teman-teman sepakat bahwa perwakilan kelas adalah semua anak laki-laki, menampilkan tari tradisonal berkelompok yang mereka gunakan saat penilaian seni tari kelas sepuluh dulu. Dengan begitu tidak perlu ada latihan serius karena mungkin mereka masih ingat sebagian besar gerakannya. Hm, boleh juga! Anak perempuan akan membantu urusan properti dan tata rias.


Dalam benakku yang tidak mengerti rias-merias, sekiranya aku bisa membantu apa ya? Aku ingin sedikit berkontribusi tapi tidak banyak yang kutahu. Diskusi kami berakhir ketika bel istirahat kedua. Sungguh tak terasa, catatanku masih tak banyak terisi meski sudah berniat akan mengerjakannya dengan cara paling mudah. Ah, apa yang harus kujelaskan pada Pak Hanri?


“Sudahlah, Ra! Istirahat dulu! Aku bisa melihat asap mengepul dari kepalamu!” kata Yasinta mengeluarkan kotak bekal makanannya. Harusnya aku juga, tapi karena terburu-buru, kotak bekalku mungkin tertinggal di meja ruang tamu. Hm, memangnya apa yang tidak tertinggal dari kebutuhan satu hari ini?


“Ra? Diam saja? Oh, kamu ngambek gara-gara yang tadi? Maaf, deh! Aku hanya terlalu suka menggodamu! Memangnya kenapa seandainya benar kamu dan Elang ....”


“Oke, kali ini serius, tidak akan kubahas lagi!” katanya tentu saja tak bisa kupercayai. Sekarang dia bilang seperti itu. Lihat saja nanti ketika ada kesempatan, maka Yasintalah yang menjadi korek api, menyulut gosip murahan itu.


“Tidak bawa bekal?” tanyanya. Aku hanya menggeleng, tapi Yasinta segera tahu bahwa aku lagi-lagi lupa.


“Memangnya apa isi kepalamu, Ra? Semuanya kamu lupa! Tapi kalau materi pelajaran, kok, tidak ya? Ih, mengerikan!” komentar Yasinta, “kamu tidak lupa bawa uang saku ‘kan? Aku bisa meminjamkan punyaku jika kamu juga lupa membawanya.”


“Terima kasih, Yas. Kalau itu tidak boleh sampai lupa!” jawabku kemudian beranjak lesu dari kursiku, batal menanyakan pelajaran apa saja setelah ini. Melihat ada buku paket biologi di laci Yasinta menandakan akan ada kelas Bu Listiyah sementara –aku lelah harus mengatakannya lagi– hari ini aku salah jadwal. Keluar dari kelas menuju entah ke mana, aku tak ingin kembali lagi.


 ***


Berkali-kali merogoh saku ketika hendak membayar sekotak susu, aku tak menemukan uangku. Ayolah, sudah kupastikan aku membawa selembar sebelum ke kantin, tetapi serius tidak ada? Barulah aku mengerti, saku rokku robek dan mungkin saja uangku jatuh entah di mana.


“Jadi satu dengan punya saya, Pak,” kata seseorang turut membayar minuman yang kubeli. Ia berterima kasih kepada penjual setelah menerima kembalian.


“Kamu berutang dan tetap harus membayarnya lain kali, ingat!” katanya. Meski tetap ketus, setidaknya Elang agak baik hari ini.


“Iya, aku mengerti, terima kasih!” jawabku kemudian duduk di salah satu kursi diikuti Elang yang mengambil posisi di seberangku. Ia menyedot sekotak mocca-latte-nya. Entah seberapa sering aku melihat Elang mengonsumsi minuman itu-itu terus.


“Kamu tidak kembali ke kelas?” tanyaku. Dia menggeleng.


“Belum, jenuh tahu! Istirahat kan masih lama,” jawabnya sambil memainkan ponsel. Aku menghela napas. Yang kurasakan bahkan lebih dari sekedar jenuh. Aku tak tahan dengan tekanan yang harus kuhadapi karena kecerobohanku hari ini. Ah, segala kekhawatiran dan penyesalan mengisi kepalaku.


Aku baru saja ingin meletakkan kepala di meja kantin, tapi Elang melakukannya lebih dulu. Ia tumbang, tidak lagi sungkan tampak tak berdaya di depanku.

__ADS_1


“Hei, tidak apa-apa, nih, kamu loyo di tengah publik begini? Ayo bangun! Ih, tidak keren, tahu!” ujarku entah kenapa merasa aneh jika Elang seperti ini.


“Biarin! Siapa peduli?! Yang harus kupikir terus saja bertambah sementara penyelesaiannya tak kunjung ketemu!” jawab Elang agak tidak jelas karena menunduk begitu. Benar juga, menjadi ketua kelas membuatnya bertanggung jawab terhadap banyak hal. Belum lagi tanggung jawab belajar terhadap dirinya sendiri. Masalah-masalah Elang seolah benar-benar membuat kepalanya terlihat seberat itu, tapi bukan hanya dia yang punya masalah dan kekhawatiran ‘kan?


“Kamu bilang seperti itu seolah menanggung semuanya sendirian, padahal teman-teman juga banyak membantu!” jawabku.


“Tidak, ini bukan tentang festival budaya.”


“Lalu apa? Ujian?” tebakku. Ia tidak menjawab hingga kotak susuku kosong. Kupikir Elang ketiduran hingga akhirnya ia mengangkat kepalanya lagi.


“Ah, sudahlah, lupakan!” katanya terdengar lebih tegas, “kamu tadi membuka buku kuno itu ‘kan?”


“Iya, perangkap enam kunci di enam penjuru sudah kubaca. Eh, tidak apa-apa, nih, kita diskusi di sini?” tanyaku mengawasi lalu-lalang keramaian di sekitar kami.


“Tidak apa-apa, tidak ada yang peduli!” jawab Elang, “jadi bagaimana menurutmu? Kurasa enam kunci itu ada hubungannya dengan celah cahaya,” kata Elang.


“Aku setuju. Perangkap itu membuka celah cahaya untuk yang pertama, maka ia juga yang akan mengaktifkan celah cahaya untuk yang kedua.”


“Caranya?”


“Aku tidak begitu yakin, mungkin dengan merusak formasi enam kunci itu, perangkapnya akan rusak dan celah cahaya bisa aktif lagi membukakan jalan keluar. Ide itu terlintas seperti membatalkan ritual tertentu dengan merusak lingkaran sihirnya,” jelasku.


“Masuk akal, tapi karena kita terlanjur terjebak di dalam, sebaiknya kita tidak merusak apa pun yang berhubungan dengan jalan keluar sebelum mengetahui kepastiannya,” jawab Elang.


“Benar juga, setidaknya kita perlu tahu apa dan di mana posisi enam kunci itu.”


“Jika tebakanku tidak salah, enam kunci itu pasti ada di lingkungan sekolah. Bisa kukatakan demikian sebab dunia kelabu hanya sisi lain dari sekolah ini, selain itu kita hanya bertemu di sekolah dua bulan terakhir ketika celah cahaya terbuka dan akhirnya menyeret kita masuk ke sana,” kata Elang.


“Benar, jika demikian lingkup penyelidikan kita tidak terlalu sulit. Kita hanya perlu memeriksa seisi sekolah ini,” jawabku. Sebelumnya karena Sakti bilang perangkap itu sangat luas, aku sempat berpikir mungkin luasnya bisa satu kota.


“Tidak sulit? Apa kamu tidak tahu beberapa titik di sekolah ini tidak bisa diakses sembarang orang? Misalnya laboratorium, ruang arsip, gudang, greenhouse. Kita perlu izin dengan alasan yang jelas untuk memasukinya. Selain itu, kita jadi harus mencurigai seribu lima ratus orang di sekolah ini,” jawab Elang.


“Benar juga! Kunci itu ada enam ‘kan? Pasti butuh waktu untuk menemukan keseluruhannya. Ah, bukankah formasi enam kunci itu membentuk heksagon beraturan? Jika kita bisa menemukan minimal tiga kunci, posisi kunci yang lain bisa kita prediksi!”


“Iya, sih! Jangankan tiga, satu kunci saja belum kita ketahui,” jawab Elang. Aku menghela napas panjang. Ini memang sulit, tapi bukan saatnya untuk menyerah.


Bel masuk akhirnya berbunyi. Giliranku meletakkan kepala di atas meja. Sempat sesaat kekhawatiranku terlupa, tetapi bukan berarti aku benar-benar bisa lari. Jam pelajaran setelah ini, Bu Listiyah, dan kaitannya dengan kecerobohanku salah jadwal menghantui pikiranku.


“Sudahlah, kita lanjutkan lain waktu. Ayo kembali ke kelas!” ajak Elang bangkit dari kursinya sementara aku masih bergeming di posisiku.


“Ayo, Shir!” kata Elang sekali lagi.


“Iya, kamu duluan saja,” jawabku kemudian tanpa diduga ia menarik paksa tanganku, “hei, sebentar! Aku mau ke toilet dulu!”


“Tidak , aku sudah mengendus niatan bolosmu ... dan aku tidak bisa membiarkan siapa pun bolos seenaknya,” jawab Elang tak peduli. Dia sungguh tidak mengerti kekhawatiranku!


.Bersambung.


Hai, episode 39! 39 bahasa Jepangnya adalah sankyuu, yang juga punya artian terima kasih (Thank you). *NgomongApaSihAku? :v Intinya terima kasih buat yang tetap baca sampai sejauh ini! Ikuti akun instagramku juga di @ngglendhemi_i ya

__ADS_1


__ADS_2