
Tempias air hujan masuk terbawa angin. Aku masih bergeming di sebelah jendela, kepala kuletakkan di atas meja. Mangkuk mie di sebelahku yang mengepul lima menit lalu telah kutandaskan isinya. Pukul setengah sepuluh malam, jika hari tidak gelap aku pasti sudah menari-nari gila di luar sana di bawah derasnya hujan. Aku rindu dengan sensasi jatuhnya air dari langit mengguyur kepala, mengalir jauh membawa segala pening.
Ah, setidaknya masalah tadi siang berakhir tanpa ada yang dikhawatirkan lagi. Sayatan Danil tidak sampai memotong nadinya. Perawat perlu kerja keras untuk menghentikan pendarahan sehebat itu, tapi kudengar dia akan segera membaik. Sekolah menjatuhinya skors satu minggu dan hukuman tambahan dariku. Aku memintanya menulis apapun yang dia rasakan, minimal satu halaman setiap hari selama seminggu. Dia harus tahu cara melampiaskan kekesalannya terhadap situasi dengan benar. Tak ada jaminan apakah caraku akan membantu, tapi yang jelas seseorang merasa lebih lega setelah perasaannya terbaca.
Kutegakkan kepala ketika ponselku bergetar. Pesan untuk Elang sepuluh menit yang lalu baru terbalas. Kuunduh fail berisi terjemahan buku kuno itu setelah berterima kasih. Ada banyak yang ingin kuteliti mulai hari ini. Catatan harian kuambil untuk dicoret-coret.
Untuk sementara kufokuskan perhatian tentang informasi celah cahaya. Melaluinyalah aku bisa keluar dari dunia kelabu. Dari catatan Sekti disebutkan bahwa celah itu aktif dua kali dalam siklus enam puluh tahunnya. Aktif pertama ketika mengisap masuk jiwa-jiwa yang tersesat dan aktif kedua untuk membuka jalan keluar. Karena informasi terkait jalan keluar masih sangat minim sebab tak satu pun jiwa yang berhasil melaluinya, maka aku lebih tertarik mencari sebabnya celah itu membuka. Kenapa harus aku dan Elang yang terisap ke sana?
Kutarik ingatanku mundur ke waktu dua bulan lalu. Apa yang kulakukan sebelum malam pertama tersesat di dunia kelabu? Kuperiksa juga catatan harian untuk memastikan detail kegiatan yang kulakukan. Sayangnya, delapan minggu yang lalu catatanku berantakan sekali. Tidak ada detail jelas atau peristiwa menarik yang sempat kutulis. Yang ada hanya coretan acak soal-soal trigonometri dan rencana keuangan. Dih, tidak ada hubungannya sama sekali! Lebih tepatnya, sejak delapan minggu ini aku memang jarang menyentuh catatan harianku dan membiarkannya kosong atau berantakan.
Betapa anehnya ketika aku meminta orang lain menulis sementara aku sendiri sudah jarang menulis atau membaca perasaanku sendiri. Terlalu kacau untuk diingat.
Lagi-lagi kuletakkan kepala di atas meja, memejamkan mata. Peristiwa-peristiwa selama delapan minggu ini tak akan sempat kutulis ulang dalam semalam, tapi terlalu sayang untuk tak kusimpan. Kubuka mataku kembali berniat memeriksa jurnal belajar. Sayangnya aku sudah tidak duduk di meja depan jendela kamarku lagi. Langit gelap dan ruangan terbuka menyambut pandanganku.
Eh? Aku pasti ketiduran dan terisap ke dunia ini. Padahal aku belum berniat tidur, tapi ya sudahlah! Kuedarkan pandangan ke sekitar, menyadari posisiku ada di halaman parkir belakang. Area ini jauh dari kompleks bilik sehingga minim pencahayaan. Tak jauh dari tempatku berdiri ada gapura gerbang belakang. Atmosfer hitam yang terpancar sama pekatnya seperti yang pernah kulihat di gerbang depan. Ingatan tentang peristiwa mengerikan segera terlintas di kepalaku. Jika gerbang ini identik dengan gerbang depan, maka bisa jadi ...
“Graaaaaaaaaaa!!!”
... bisa jadi ini adalah sarang monster yang sama! Buru-buru aku menyingkir dari tempat itu, berlari sepanjang koridor kelas sepuluh MIPA tanpa berani menoleh ke belakang. Debum langkah di belakangku cukup menandakan bahwa ada monster yang mengejar. Kuharap ia tak melihatku berbelok ke arah tangga, tapi aku lupa bahwa sekali pun monster itu tidak sempat melihat, dia tetap bisa mendengar langkah kakiku. Gerakanku justru melambat karena menaiki tangga sementara monster di belakangku tidak terpengaruh, dengan ajaibnya memanjat tangga tanpa hambatan meski memiliki kaki-kaki yang lebih pendek dariku.
Ada tangan yang muncul di balik pintu bilik menarikku ke dalam, menyelamatkanku pada detik yang tepat. Sementara aku yang tidak siap dengan tarikan itu jatuh terjerembap di lantai berdebu. Orang yang menarikku kini berjibaku kembali menutup pintu, kerepotan menyingkirkan tangan monster yang terlanjur menerobos meraih-raih ke dalam. Aku segera beranjak mengambil potongan kayu, memukul-mukul tangan gempal itu. Monster di luar sana meraung lebih kencang, menarik kembali tangannya. Aku dan orang di sebelahku sama-sama menghela napas lega.
“Tadi itu hampir saja, Lang! Terima kasih sudah menolongku tepat waktu,” ujarku. Elang mengangguk sambil tetap menyandari pintu bilik.
“Ya, aku senang kau agak pintar malam ini,” jawabnya terdengar menohok. Maksudnya aku tidak pintar sebelumnya? Baru saja akan kuhadiahi jambakan atas kata-kata tidak sopannya tapi pintu bilik bergetar diterjang kekuatan monster dari luar. Aku buru-buru turut menyandar di pintu, berharap ketahanan bilik ini meningkat.
Beberapa saat kemudian monster di luar terdengar meraung kencang lalu beranjak pergi.
“Yang benar saja? Bukankah biasanya monster itu keras kepala, akan terus mendobrak ketika tahu mangsanya ada di sini?” ujarku sambil mengintip melalui celah di pintu, memastikan keadaan di luar. Tidak salah lagi, monster itu benar-benar pergi.
“Kalau tebakanku benar, mungkin Sakti berusaha mengalihkan perhatiannya. Dia akan muncul di sini tak lama lagi. Sebaiknya kita tidak lengah dan tetap menjaga pintu,” jawab Elang. Aku mengangguk setuju.
“Apa ada informasi baru terkait celah cahaya?” tanyaku tak menyia-nyiakan kesempatan. Selagi keadaan tenang, aku ingin membicarakan banyak hal.
“Sayangnya tidak ada. Pembahasan tentang celah itu tidak kutemukan lagi di halaman-halaman selanjutnya, tapi kuharap ciri-ciri yang disebutkan dalam buku itu akan menuntun kita ke celah cahaya yang sesungguhnya,” jawab Elang.
“Ah, benar, ciri-ciri ya? Aku sempat baca beberapa. Sesuai namanya, celah cahaya adalah satu-satunya benda bercahaya di dunia ini,” timpalku.
“Ya, dan bila kejadian di bilik gedung olahraga itu memang kilas balik munculnya celah cahaya enam ratus tahun lalu, maka petunjuk itu cocok dengan apa yang kulihat sebelum jatuh terpeleset dan pingsan,” jawab Elang.
“Oh ya? Apa yang kau lihat?”
“Mustahil kau tidak tahu, Shir. Kau tetap sadar sepanjang kilas balik itu dan berada di tengah formasi cahaya berbentuk heksagon.”
“Benar, aku dikelilingi garis-garis cahaya di tanah tapi tidak tahu pasti pola yang tergambar. Saat itu tepat ketika ...” Kata-kataku mendadak tergantung di udara.
Tidak mungkin kuceritakan peristiwa ketika darah Elang mengaktifkan pola cahaya rumit lain yang membuatku semakin ditelan portal cahaya itu. Dia akan semakin memercayai bahwa dirinya memang harus dikorbankan. Tidak, itu bertentangan dengan yang kuyakini!
“Tepat ketika apa?” tanya Elang.
__ADS_1
“Ketika ... ketika aku ....”
“Tepat ketika darahku menyentuh tanah, cahaya di tempatmu berdiri semakin terang, nyaris mengirimmu kembali ke dunia asal kita. Sayangnya kau menolak ikrar untuk merelakanku mati di tempat ini dan meninggalkan celah itu. Benar ‘kan?” kata Elang justru telah mengetahui semuanya.
“Apa sekarang kamu bisa membaca pikiran seperti yang Sakti lakukan?” tanyaku memalingkan wajah.
“Tidaklah, cerita itu sudah ada di buku kuno. Aku memang sudah tahu,” jawabnya, “sudah jelas tertulis di sana, Shir, tapi kelihatannya kamu masih saja mempertahankan kebebalanmu. Rasanya tidak berguna meskipun aku memberi terjemahan buku itu jika kamu tetap menolak kebenaran yang tertulis di sana.”
“Kamu percaya begitu saja, Lang? Penulis catatan itu bahkan tidak berani menjamin kebenarannya. Aku sama sekali tidak bermaksud meragukan, tapi setiap informasi perlu dipahami seteliti mungkin. Apalagi jika itu bertentangan dengan perasaanku sejak awal.”
“Ya ampun, kamu masih membahas perasaanmu yang ... ah, aku tidak berani menyebutnya. Kamu jelas akan sakit hati dengan kenyataan yang pernah terjadi karena terlalu memercayai perasaanmu.”
“Kali ini aku berani percaya sebab Sekti sendiri di awal pertemuanku mengatakan bahwa aku akan terhindar dari segala tipu daya dunia ini!”
“Ah, aku tidak paham bagaian mana yang kau sebut tipu daya, tapi mungkin kata-kata Sekti ada benarnya. Jiwa putih sepertimu memang layak terhindar dari bahaya, tapi jiwa hitam sepertiku tidak dan memang harus berakhir di sini.”
“Kumohon berhenti membahas tentang putih-hitam yang tak kupahami itu! Aku bahkan tak mengerti kenapa aku harus putih sementara kamu hitam padahal situasi kita sangat berbeda dibandingkan kisah Sakti dan Sekti!”
Elang terdiam sejenak untuk kemudian berkata, “Berbeda? Pada dasarnya sama, Shir. Akan kubuat kau mengerti, meski akhirnya kau menyesal telah mengenalku, tapi tidak apa-apa. Memang begitulah harusnya.”
“Apa maksudmu?!”
“Sudah kubilang jangan lagi terlibat denganku. Kau tak pernah tahu betapa terkutuknya aku. Sama seperti Sekti, aku pernah tercebur dosa yang membuatku layak berakhir di seburuk-buruknya tempat. Itu layak bagi orang yang pernah berniat menjadi pembunuh sepertiku.”
Aku tertegun. Elang pasti tidak serius.
Kata-kata Elang terdengar kosong, sekosong tatapannya seolah ia tak lagi di sebelahku, hilang jauh dalam memori kelamnya.
“Dulu kebencianku terhadap Garuda jauh lebih buruk. Papa memupuk iri hati dan dendam di hatiku dengan rajin, mendorongku agar bisa lebih hebat dari kakakku, padahal bagaimanapun, aku yang lebih muda dari Garuda tak akan bisa berada pada tingkat pencapaian yang sama. Sampai kapan pun Garudalah yang tetap paling jenius sementara aku hanya anak kecil cengeng yang tak bisa memanfaatkan sakit hati dan frustrasi untuk berkembang lebih baik. Kebencian di hatiku semakin memuncak ketika Garuda tak mengakuiku sebagai lawannya. Itu penghinaan yang telak karena memang dilihat dari mana pun, aku bukanlah apa-apa dibandingkan dirinya. Mengesalkan ....”
Elang menundukkan pandangan serendah yang ia bisa, tapi posisiku di sampingnya membuatku masih bisa melihat jelas garis rahangnya yang semakin mengeras.
“Malam itu ketika aku menyelinap ke kamar Garuda, ia tertidur di meja belajar dengan buku-buku berserakan di sekitarnya. Tangan Garuda yang dilingkari jam tangan hadiah dari papa setelah ia diterima di universitas ternama begitu mengejekku. Aku yang bahkan tidak bisa masuk sepuluh besar di kelas mungkin hanya bisa bermimpi memilikinya. Malam itu aku tiba-tiba membenci diriku sendiri yang lemah dan pengecut. Padahal aku bisa merebut paksa jam itu dari tangannya, padahal aku bisa merebut paksa segala perhatian dan kasih sayang yang ia dapat. Aku bisa merebutnya ... hanya jika Garuda lenyap dari dunia. Itulah yang terlintas di kepalaku, Shira.”
“Bayangkan diriku yang baru tiga belas tahun memiliki nafsu terkutuk seperti itu! Dengan silet pensil di meja belajarnya aku hampir menggores tangan Garuda, tapi ia terbangun lebih dulu dan mencekal tanganku yang menggenggam silet menempel di kulitnya. Akulah yang mati detik itu, aku tertangkap basah dan akan segera berakhir bila ia melapor pada papa, tapi apa kau tahu yang dilakukan Garuda selanjutnya? Dengan wajah mengantuknya ia membetulkan posisi siletku tepat di atas denyut nadinya sambil berkata, ‘adikku payah dan bahkan tak tahu cara membunuh dengan benar. Kau harus belajar lebih baik!’ begitu katanya ...”
Aku tak salah dengar. Suara Elang bergetar. Dadanya terlihat naik-turun berusaha menetralkan emosi yang menyerbunya karena mengingat peristiwa itu, serbuan emosi yang sama dengan yang terjadi tadi siang ketika ia ditantang membunuh Danil. Sangat masuk akal bila ia sempat tergugu dihadapkan dengan sebilah pisau dan perintah membunuh.
“ ... Rasa malu dan kesal menghantamku bersamaan. Garuda sialan itu selama ini tak pernah menganggapku musuh karena ... karena memang dia memandangku sebagai adik, bahkan ketika aku berniat menghabisinya. Begitu juga dengan hari-hari setelahnya, Garuda justru menyiapkan skenario agar aku terhindar dari teror papa dengan tinggal bersamanya. Aku semakin kesal menyadari bahwa sampai kapan pun aku tidak bisa menang dari orang seperti itu!”
“Sekarang kau sudah tahu ‘kan, Shir? Berhentilah mengira bahwa aku anak baik-baik. Nafsu terkutuk dan kebencian itu telah lama bersemayam dalam diriku. Mungkin yang dikatakan Danil benar, usahaku di tim pengawas memburu anak-anak nakal sangat tidak pantas ketika aku memiliki catatan dosa yang lebih besar ....”
“Tutup mulutmu!” ujarku benar-benar membungkamnya, tak tahan lagi dengan kata-kata yang semakin melantur itu. Yang kulihat sekarang adalah tatapan putus asa dan kekalahan dari mata Elang. Itu tak biasa, itu aneh, dan sama sekaki mengerikan. Ia tak bisa menang melawan masa lalunya. Sama seperti Danil, Elang juga ingin dibebaskan.
“Apanya yang tidak pantas?! Tidak ada kebaikan yang tidak pantas, Lang! Tak peduli seberapa kelamnya masa lalumu, kebaikan tetaplah kebaikan. Jika memang kamu merasa demikian terkutuk, anggaplah itu sebagai penebusan dosamu! Jadi tolong ... jangan berhenti menegakkan kebenaran sebisa yang kamu lakukan karena itu terlalu keren untuk dilewatkan!” ujarku tanpa sadar membuat Elang menegakkan kepalanya lagi.
“Sejauh ini aku masih sepemahaman dengan Sakti. Kejahatan apa pun layak mendapat pengampunan, sama seperti kamu yang pernah memeberi kesempatan kedua untuk anak-anak nakal itu. Kumohon berhentilah putus asa dan meyakini dirimu layak dihukum sebelum berusaha mencari ampunan ...”
Ada jeda hening yang nyaman sebelum kusampaikan kata-kataku selanjutnya. Kuharap Elang bisa mengerti.
__ADS_1
“ ... Oh iya, satu lagi. Mungkin kamu merasa pantas diposisikan sebagai jiwa hitam karena masa lalumu itu, tapi aku bukannya pantas di posisi jiwa putih hanya karena menginginkanmu selamat dari tempat ini. Sudah jelas dilihat dari mana pun, aku tidak sesuci yang kautahu. Aku pemalas, apatis, lemah, dan merepotkan. Aku tak banyak bermanfaat untuk teman-temanku, aku abai terhadap adik yang harusnya kuperhatikan, aku meninggalkan orang tuaku ketika seharusnya mempersatukan mereka! Kalau kau ingin tahu, ada serentetan dosa yang tak akan selesai kusebutkan hingga kita terbangun,” jawabku. Langit siang hari di dalam bilik bersemu merah, terasa lembut dan hangat, tetapi hatiku terasa sebaliknya. Selalu ada penyesalan dan perasaan lemah bila mengingat kesalahan-kesalahan yang sudah lampau. Terlebih bila rasanya mungkin tak sempat lagi memperbaikinya.
“Bagaimanapun kamu jauh lebih baik daripada aku, Lang. Kamu merasa berdosa dan segera menyadarinya, merasa takut lalu rela mengorbankan nyawamu demi menebusnya, sedangkan aku banyak berbuat salah tapi justru tak peduli. Seharusnya akulah yang ada di posisi jiwa hitam itu, bukannya kamu.”
Acara pengakuan dosa kami terinterupsi dengan suara hantaman di pintu bilik. Aku yang sempat melepas sentuhanku kembali menopangnya. Elang juga segera melakukan hal yang sama. Sayang sekali, retakan mulai merekah pada papan kayu yang kami sangga. Satu pukulan lagi dan pintu ini akan ....
“Menunduk, Shir!”
Tepat setelah kata-kata Elang tadi papan pintu ini terbelah karena retakannya dihajar monster dalam sekali pukul. Satu kepingan papan yang roboh menimpaku segera kulemparkan mengenai wajah monster itu. Elang buru-buru menarik tanganku, menyingkir dari tempat itu. Kami nyaris mencapai tangga di ujung koridor ketika langkah monster itu terasa persis di belakang kami. Seseorang dari langit-langit bangunan muncul bergelantung menyerang monster itu dengan tiba-tiba, memukul tepat di kepala. Kemudian tanpa memberi kesempatan monster jelmaan Sekti menyerang balik, ia melancarkan serangan berikutnya, membanting monster itu ke halaman di lantai bawah.
“Sakti!” seruku senang, tapi ia tak menghiraukanku dan ikut terjun dari lantai dua, lanjut menghajar monster di bawah sana.
“Nanti saja terima kasihnya,” kata Elang menarik tanganku lagi dan kembali berlari, “monster itu bisa berteleportasi dan muncul lagi di depan kita meski dibuang ke tempat terjauh. Sakti tidak akan berhenti menahan serangannya selagi kita belum aman.”
Benar juga kata-katanya. Beruntung bilik laboratorium biologi bisa dimasuki. Papan kayu segera kami tutupkan di pintu, menopangnya agar tetap tegak. Baik aku dan Elang masih sama-sama mengatur napas ketika raungan monster di luar terdengar kencang disertai suara keributan.
“Mungkinkah ini hanya perasaanku saja? Sakti semakin brutal menghadapi monster itu!” ujarku sambil mengintip dari celah pintu berharap dapat sedikit gambaran tentang pertarungan di luar sana. Sayangnya posisi bilik lab yang di lantai dua sementara si kembar itu bertarung di halaman bawah membuatku tak dapat melihat apa-apa selain langit gelap malam hari di luar.
“Asalkan Sakti yang menghajarnya tidak masalah, begitu katanya. Dia melarangku ikut-ikutan bertarung dengan monster itu dan menuruhku melindungimu saja,” jawab Elang.
“Ya, sebab akan menjadi masalah jika kamu sampai babak belur lagi, Lang!”
“Apalagi kamu yang tanpa pertahanan seperti ini, sangat berisiko dibiarkan berkeliaran sendiri!”
“Membiarkan kalian berdua berjuang sendiri juga sesuatu yang berisiko untuk saat ini,” kata kumpulan kunang-kunang ungu yang mulai menunjukkan wujud aslinya. Sosok bersurai putih itu tersenyum hangat, “karena kalian berhasil bertahan sejauh ini, aku pun akan lebih serius untuk melindungi kalian.”
“Sejak dulu kamu memang serius melindungi kami, Sakti,” balasku.
“Aku bukannya ingin dipuji, Shira, tapi seperti yang kamu tahu sendiri, monster itu semakin ganas. Aku tidak mau kalian berakhir sebelum purnama ketiga ... dan aku yakin kalian tidak akan berakhir semudah itu,” jawab Sakti.
“Oh, tentu saja,” jawab Elang percaya diri, “aku sudah tidak peduli tentang siapa yang harus dikorbankan atau yang berhak lolos dari tempat ini. Telah disepakati bahwa prioritas kami adalah menemukan celah cahaya bersama tak peduli bagaiamanapun akhirnya.”
Aku sempat tercengang karena kata-kata Elang. Tanpa sadar senyumku mengembang. Tak ingat kapan kesepakatan itu dibuat, kurasa sejak Elang mendeklarasikannya baru saja. Lagi pula aku tidak ada niatan untuk menolak. Baguslah jika Elang sudah mengerti!
“Ya, ini memang bukan waktunya mundur!” jawab Sakti turut senang. Kulihat guratan bekas luka masih di lehernya.
“Apa lukamu sudah agak membaik?” tanyaku.
“Oh? Ini? Iya, sudah tertutup. Teknik penyembuhanku memang sebatas ini, bekas lukanya tidak bisa segera hilang,” jawab Sakti.
“Kalau boleh tahu bagaimana kau bisa mendapat luka mengerikan seperti itu kemarin?” tanya Elang. Aku terkejut dia juga penasaran. Ah, siapa yang tidak penasaran mengingat luka robek menganga di leher Sakti kemarin?
“Oh, itu ... tapi janji ya kalian tidak boleh takut,” kata Sakti sedikit berbisik. Tiba-tiba aku ingat sesuatu yang ia katakan kemarin, kita kedatangan tamu!
“Iblis pencipta tempat ini ... kemarin aku sempat berhadapan dengannya dan dihadiahi luka cabikan di leher,” Sakti masih konsisten berbisik, “dia repot-repot datang kemari karena mulai penasaran dengan kalian berdua!"
Aku menahan napas demi mendengar kata-kata Sakti. Kumohon, tidak perlu penasaran terhadap kami! Cukup dunia ciptaannya saja yang merepotkan, iblis itu jangan ikut-ikutan!
.Bersambung.
__ADS_1