
Kerumunan XI MIPA 1 dengan kaos khas merah-merah begitu senada dengan keceriaan malam festival budaya. Kami berkumpul tak jauh dari panggung ketika penampilan tari tradisional dari Aceh oleh para teman laki-laki mengisi acara malam ini. Sorak riuh kami terdengar begitu mereka mengambil posisi. Latihan selama dua hari tampaknya tak sia-sia, juga kerja keras para perempuan menata para laki-laki itu yang sempat bandel tidak mau dirias.
Tidak ada kendala berarti, mereka menampilkan yang terbaik. Seusai aplaus dan riuh rendah begitu mereka keluar dari panggung, kami sekelas berswafoto. Setelahnya masing-masing dari kami berpencar menjelajah suguhan festival sesuai keinginan masing-masing. Aku sempat menikmati indahnya temaram lampion bergelantungan di atas lalu lalang manusia, aroma makanan dibakar, serta segelas teh susu dingin yang menemaniku menelusuri galeri pameran. Tak kusangka suasana malam di sekolah bisa seindah ini, berbanding terbalik dengan yang kumimpikan tiap malam.
Sayang sekali aku terpisah dari Yasinta yang sudah diseret Sindi dan Yuanda, entah ke mana. Aku kehilangan jejak mereka dan terkatung-katung sendiri di tengah kerumunan, membuatku sedikit pusing. Pada dasarnya memang tak betah berada di keramaian, aku berniat mencari tempat yang agak tenang. Pertunjukan kali ini adalah drama dari ekskul teater. Menontonnya dari lantai dua mungkin bukan ide yang buruk.
“Hei, kembali! Tangga di sana ditutup!” tegur seseorang. Aku menoleh.
“Eh, Elang? Sudah berganti pakaian? Cepat sekali?!” tanyaku tak percaya.
“Ya ampun, Shira! Kenapa kau suka berkeliaran sendiri di tempat sepi?! Aku tidak menyalahkan Danil jika ia pernah mengapa-apakanmu!” jawabannya.
“Mengapa-apakan bagaimana maksudmu, heh?!” balasku kesal.
“Memangnya kau tak bisa berjalan berkelompok dengan yang lain?”
“Sudah demikian, tapi aku terpisah. Harusnya tanyakan hal itu padamu yang juga sendirian!”
“Ah, aku menjaga titik-titik rawan. Mengertilah meski aku bukan satgas keamanan aku tak ingin sesuatu yang terjadi padamu saat liga olahraga terulang lagi, paham?” jawabnya. Aku hanya nyengir, menghabiskan sisa teh susuku lalu duduk di undakan pertama anak tangga. Pertunjukan drama memang tidak terlihat dari sini tapi aku masih bisa menyimak dari suaranya.
“Tidak apa-apa kamu dibenci banyak orang, asalkan kamu tidak membalas mereka dengan kebencian yang sama!”
Aku tertegun mendengar dialog salah satu pemain drama itu. Seseorang pernah menasihatiku demikian, menasihati agar tak ada kebencian tertanam di hatiku. Miris, nasihat itu kudengar dari orang yang mengaku sebagai iblis yang selama ini kami buru. Sungguh tak disangka memang, tapi kali ini bukan hanya aku yang tertipu, Elang juga. Elang yang selama ini begitu percaya diri lebih hebat mengerti kepalsuan masing-masing orang ternyata tak bisa selamat dari kepalsuan guru yang paling ia hormati, pimpinan tim pengawas tata tertib kebanggaannya.
Ketika aku masih mencari-cari alasan kenapa harus Pak Hanri, Elang yang kutahu perasaannya masih teriris dengan kenyataan ini membeberkan semuanya kepadaku. Kecurigaannya tentang pengacau dalam kesatuan tim pengawas tak lain adalah Pak Hanri sendiri.
“Semua cocok dengan tanda yang diceritakan Sakti. Iblis itu menebar bencana. Tak ada yang mengira bahwa pengedar narkoba di sekolah ini juga orang itu. Mungkin dia mengambil wujud lain ketika melakukannya, lalu dengan menjadi pribadi Pak Hanri dia seolah memerangi kejahatan, menaungi kesatuan tim pengawas, padahal dia tak suka kejahatan terbasmi. Dia ingin menyingkirkanku yang selalu menciduk berandalan kecil asuhannya dengan mengadu domba antara aku dan Erik. Sejauh ini semua berjalan sesuai rencananya,” jelas Elang. Dia yang tampak paling terpukul dengan terungkapnya penyamaran iblis itu.
“Harusnya aku menyadari hal ini sejak awal ketika berita miring tentangku saat kasus hari itu memang bersumber dari Pak Hanri. Harusnya aku tahu bahwa yang memalsukan surat pengakuan Danil memanglah Pak Hanri! Tapi tuduhanku selalu jatuh pada Erik. Rasanya ...” kata-kata Elang tergantung di udara ketika ia menutup wajahnya dengan sebelah tangan, “... rasanya memalukan bagiku untuk muncul di depanmu atau Erik. Malu sekali ... karena telah berkeras hati dan menyombongkan diri. Tolong ya, jangan lihat wajahku dulu!”
Berkata demikian, Elang beranjak pergi. Memandang punggungnya yang terlihat semakin jauh, Aku juga malu mengakui bahwa bagaimanapun dia tetap lebih baik dariku. Dengan segala kejujuran di hatinya, dia tak pernah gengsi menyadari kesalahan dan mengungkapkannya dengan benar. Itu merupakan sesuatu yang hingga saat ini belum bisa kulakukan. Sayang sekali, satu hal yang tetap menyebalkan darinya, bukannya minta maaf, ia malah lari.
“Hei, kamu, berhenti!” teriakku yang tentunya dikalahkan suara hiruk-pikuk di sekitar. Elang baru benar-benar berhenti setelah aku berhasil menarik lengan kemejanya. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan, tapi aku tak pernah sejujur dirinya.
“Mau beli-beli ya? Titip, dong!” ujarku malah membahas sesuatu yang tidak penting.
Ia mendengus sebal, “Enggak! Memangnya kenapa kalau kamu juga jalan dan pergi beli sendiri! Merepotkan saja! Menurutmu aku bisa disuruh-suruh seenaknya?!” omel Elang kembali ke perangai aslinya. Setidaknya berhasil. Karena ... yah, Elang sama sekali tidak cocok dengan wajah lesu dan mata redup seperti tadi.
Beberapa saat setelahnya dia malah mengekoriku mampir ke beberapa stan makanan. Agak bingung memilih karena terlalu banyak pilihan. Kami sempat berdebat, bertukar sebagian makanan demi mencicipi makanan berbeda dalam sekali bayar, berdebat lagi, terus seperti itu hingga pertunjukan puncak, penampilan ekskul tari yang penuh kejutan.
Tiba-tiba semua lampu di panggung dan sekitarnya mati. Lampu-lampu di koridor juga. Penerangan yang tersisa hanya lampion-lampion yang tergantung di atas kami. Konsep tarian sakral yang sarat akan kesan magis diperkuat dengan aroma dupa menyebar ke segala penjuru. Sial, gelap, aku tidak suka! Keramaian di sekitar kami mulai gelisah dan bertanya-tanya. Harusnya mereka mengerti ini bagian dari pertunjukan dan tetap tenang. Aku agak sebal ketika sesekali tersenggol atau kaki terinjak.
“Hei, tetap tenang! Jangan dorong-dorong! Awas, di sini ... aduh!”
Aku berusaha tak melepas pegangan pada lengan kemeja Elang ketika mulai terimpit di sana-sini. Ini bahkan lebih buruk dibandingkan penelusuran lorong sempit di dunia kelabu waktu itu!
__ADS_1
“Sial, Shir ... sini menepi dulu!” kata Elang menarikku keluar dari kerumunan. Masih gelap, tapi aku berhasil bernapas lega.
“Aduh, ini mau dibuat gelap sampai kapan? Jadi seperti dunia kelabu ya, gelap-gelapan begini!” celetukku mengusir ketegangan, ternyata malah mengundang pembicaraan serius.
“Purnama ketiga ... jatuh malam ini ‘kan?” tanya Elang.
“I ... iya,” jawabku menengadah ke langit malam bersih tanpa awan, menatap bulan lingkaran penuh yang tampak benderang malam ini.
“Posisi celah cahaya memang belum ditemukan, buku Sakti juga tidak berhasil kita rebut ... barangkali memang karena kebencian dan kesombongan yang pernah membutakanku, itu sebabnya kali ini ... kali ini aku ingin benar-benar memercayaimu,” kata Elang. Tatapanku teralih dari bulan di langit ke Elang di sebelahku
“Iya, aku juga ingin memercayaimu! Kegagalan kita selama ini mungkin juga karena keraguan dan rasa takutku. Ayo kita saling percaya untuk menemukan jalan keluar dari sana!” jawabku antusias, tapi jantungku berdebar tak biasa. Tetap ada kegelisahan bersembunyi di dadaku dan kali ini aku tak bisa menutupinya.
“Tapi maaf ya, aku agak deg-degan memikirkan malam puncak yang kita tunggu-tunggu nanti,” ujarku. Elang menoyor pelan kepalaku, sempat kukira akan mengejek.
“Aku juga ...” jawabnya singkat. Ternyata dia pun merasa hal yang sama.
Lampu-lampu satu per satu mulai menyala lagi. Aku pamit ke toilet sebentar. Membasuh wajah yang mulai mengantuk, niatku sebenarnya ingin mengusir gundah. Kutatap diriku sendiri di cermin. Jika Sakti percaya ... Elang juga percaya ... maka aku sendiri pun sekarang harus percaya pada diriku sendiri. Tidak ada gunanya aku mengkhawatirkan hal itu sekarang. Kutengok arloji, nyaris pukul sembilan. Festival budaya mungkin berakhir sekitar dua jam lagi, tapi aku harus segera pulang.
Aku terkejut ketika berbalik, mendapati orang lain yang seharusnya tak ada bersamaku di dalam toilet.
“Pak Hanri?! Ti ... tidak sopan menyelinap ke toilet perempuan, tahu!” ujarku menjaga jarak darinya. Kilau jingga di mata orang itu tetap tampak walau matanya menyipit menyungging senyum.
“Saya sudah tahu itu, Shira! Kamu menasihati gurumu aturan sepele seperti itu, tapi karena sekarang saya tidak ingin menjadi gurumu, jadi berhentilah memanggil saya Pak Hanri,” jawabnya selangkah demi selangkah maju. Aku yang sudah tertahan dinding toilet di belakangku tak bisa berkutik lagi. Entah kenapa rasanya dinding toilet yang tadinya mulus kini mengelupas sedikit demi sedikit. Juga langit-langitnya yang rontok, berganti menjadi nuansa suram berwarna abu-abu gelap. Lantai ubin yang kupijak lenyap seolah aku berpijak di udara kosong.
“Saya tak pernah punya nama, tapi ada yang pernah memanggil saya Griseo. Mulai sekarang sebutlah saya demikian,” kata orang di depanku. Ia sendiri sedikit demi sedikit mulai berubah. Kulit-kulit hitam dan tebal muncul dan meluas di sebagian wajahnya, seperti tumpahan aspal. Mata jingganya kian menyala-nyala. Ada sepasang taring mencuat di sudut bibirnya ketika ia masih saja menyeringai, serta tanduk tumpul yang seolah pernah patah menumbuhi kepala. Satu-satunya yang paling tidak menyeramkan hanyalah ekor panjang di belakangnya yang tampak meliuk-liuk seperti ekor kucing. Entah sejak kapan badannya bertambah tinggi dan besar dengan tangan-tangan kekar yang cakarnya kini menggores pipiku.
“Apa maumu?” tanyaku menelan ludah.
“Nah, aku menunggumu bertanya, Nona Putih!” jawab iblis itu, “langsung ke intinya. Mari buat kesepakatan!”
“Aku tidak mau membuat perjanjian dengan iblis!”
“Aku tidak menawarkanmu, aku memaksa! Jadi tidak ada penolakan!” jawabnya meninju dinding di sampingnya hingga jebol menampakkan atmosfer gelap seperti udara kosong di lantai. Itu namanya pemaksaan, bukan kesepakatan! Aku tak bisa mencegah tangannya menyentuh dahiku. Sensasi kasar seperti parut terasa perih di kulit.
Sejenak denyut menyakitkan membuatku memekik, pandanganku lenyap berganti hanya ruangan hitam yang tak kuketahui. Entah ada di mana, aku melihat sosokku sendiri meringkuk memeluk lutut. Suara yang tak henti-henti berulang, “Aku tak peduli, aku tak peduli!” terus saja menggema. Kuminta gadis yang meringkuk itu berhenti mengulang kalimat-kalimat tadi. Ia mengangkat kepalanya, membuatku merasa aneh ditatap oleh diri sendiri.
“Kau pikir orang sepertiku mampu menang melawan iblis itu?” tanyanya serak. Dia bicara denganku?
“Kenapa tidak?” balasku.
Ia menatapku remeh, “seandainya aku bisa menang, harusnya ayah dan ibu terselamatkan dari dulu. Ayah dan ibuku yang betapa kau tahu saling mencintai harus berakhir seperti sekarang, memangnya kenapa jika bukan karena iblis itu?! Menebar kerusakan, membisikkan hasut dan muslihat, ia menghancurkan keluargaku yang penuh kasih sayang lalu aku hanya berpangku tangan. Jika memang aku bisa menang, harusnya tidak seperti ini!”
“Cukup!” bentakku tak tahan.
“Malam ini aku hanya akan menghadapi kematian dengan melawan iblis itu secara langsung. Ah, kematianku yang sia-sia!”
__ADS_1
Aku menangkap pipi sosok di depanku, memintanya diam.
“Maaf ya, tapi aku sudah tidak takut lagi ... tidak ada yang kukhawatirkan bila memang harus mati di tangan iblis itu,” jawabku lirih.
“Kamu hanya mengulang kalimat orang lain! Memangnya kau pernah benar-benar seberani Elang?! Jika benar kau tak mengkhawatirkan kematian, tetap harus ada satu hal untuk dipastikan sebelum benar-benar pergi. Ayah dan ibu serta adikku juga, mereka harusnya hidup bahagia, jika ada satu hal yang bisa kulakukan untuk menghilangkan pengaruh iblis itu, aku akan melakukannya, meski harus mengorbankan Elang!” katanya sungguh lancang.
“Kenapa tidak kamu saja yang dikorbankan, hah?! Kenapa harus Elang yang tak tahu apa-apa?! Memangnya melenyapkan pengaruh jahat harus dengan sesuatu yang jahat juga?! Tidak, hei, dasar wujud segala kelemahanku! Dengar ya! Jika memang ada yang layak untuk lenyap dan dikorbankan, itu adalah kamu! Kamu yang sudah memberi jalan masuk bagi iblis itu dalam diriku. Tolong, mulai sekarang, pergi dan lenyaplah!” jawabku menepuk pelan bahunya, bahu sosokku sendiri yang menunduk dalam-dalam, yang balas mencengkeram pundakku kuat-kuat.
“Apa kau tahu cara melenyapkanku?! Agar aku lenyap, maka kau juga harus lenyap! Kita adalah pasangan kelebihan dan kekurangan seorang Shira yang tidak bisa dilenyapkan salah satunya!”
Sosokku sendiri berang menyerangku berhasil meraih leherku dan mencekiknya.
“Maka kamu harus mati agar kita bisa sama-sama lenyap. Apa boleh seperti itu?” tanyanya menatapku sendu.
“Boleh, seandainya memang bisa. Kau pikir kau bisa menghabisiku? Memangnya hidup dan matiku ada di tangan iblis sepertimu? Sayangnya tidak! Jika kamu memilih menyerupai sosokku untuk melawanku, maka itu tak akan banyak berpengaruh,” jawabku sesekali meringis menahan sakit, tapi ada senyum kebanggaan ketika kuucapkan kata-kataku berikutnya, “aku sudah bertekad mengalahkan diriku sendiri sebelum mengalahkan orang lain, sebelum mengalahkan iblis pencipta tempat ini! Aku sudah bertekad menang dari segala kelemahanku sendiri!”
“Omong kosong! Kau tak bisa menang dariku!” teriaknya histeris, mencakar wajahku di sana-sini. Aku tak hanya merasa perih tercabik-cabik, sesuatu yang dingin justru mengalir di tenggorokanku, terus mengalir hingga ke dada dan membekukan seluruh tubuh. Sosok di depanku lenyap. Sebagai gantinya seluruh rasa sakit yang tak bisa kujelaskan datang satu per satu. Kulitku terasa seperti disayat-sayat, tapi aku bahkan tak mampu menggeliat mengusir rasa sakit. Belum lagi bayangan paling menyakitkan terbunuhnya ayah, ibu, dan Maurin dalam kondisi paling mengenaskan melintas jelas di kepalaku, tak bisa enyah meski mata kututup rapat-rapat.
Ayah! Ibu! Aku tidak ingin mereka seperti itu! Yang hanya bisa bergerak dari tubuhku hanya kelopak mata yang menutup, merembeskan bening-bening yang menggenangi mataku.
“Tenang saja, aku akan menghabisimu seperti yang kau minta, tapi akan kubiarkan keluargamu tetap hidup hanya jika kau merelakan jiwa hitam yang hina itu dikorbankan untukku,” tanya iblis itu kali ini muncul dengan sosok aslinya, “mana yang lebih berharga bagimu?”
“Keluargaku ...” jawabku tak mengira mereka akan dilibatkan.
“Benar,” iblis itu tersenyum, senyum yang sama seperti yang diperlihatkan Pak Hanri tiap-tiap harinya, “sekarang ikrarkan bahwa kau memang melepas jiwa hitam itu untukku.”
Aku terdiam, tak menyangka harus mengambil pilihan ini.
“Ikuti kata-kataku! Aku berikrar ....”
“Aku berikrar ....”
“Merelakan yang ternoda kembali kepada penguasa segala dosa ....”
“Merelakan yang ternoda mendapat ampunan-Nya ....”
“Bukan demikian bunyi ikrar itu!”
“ ... Yang Maha Adil tak pernah menutup mata ...”
“Hentikan! Kubunuh kau!”
“... Hidup dan matiku hanya di tangan-Nya!”
“Mati kau!!!”
__ADS_1
.Bersambung.