
“Jujurlah, aku dijemput dan dijadikan ratu hanya untuk diperalat ‘kan?”
Atmosfer tiba-tiba terasa senyap dan dingin sejak pertanyaan itu lolos dari tenggorokanku. Luska kembali menatapku lurus-lurus.
“Semuanya tergantung dari pandangan Yang Mulia sendiri. Jika menyelamatkan ribuan jiwa membuat Yang Mulia merasa seperti alat, maka sejatinya saya sendiri juga alat. Kita semua sedang menjadi alat untuk menekan kemungkinan buruk yang akan terjadi,” jawab laki-laki beralis tipis ini.
“Bukannya tidak berkenan, tapi kalian bisa meminta bantuan apa pun dariku tanpa membujuk-bujukku menjadi ratu, mengarang cerita bahwa aku adalah keturunan bangsawan Alba, ini itu dan omong kosong lainnya. Jika kekuatanku memang sedang diharapkan, tidak perlu membuatku terkesan seperti materialistis yang harus disuap kekuasaan dan kemewahan demi uluran tangan. Kau mengantarku kembali ke tempat asalku saja itu sudah cukup,” jawabku.
“Saya tahu Yang Mulia memang lebih mulia dari perkiraan siapa pun, tapi darah bangsawan Alba yang mengalir dalam diri Yang Mulia itu bukan karangan cerita semata,” jawab Luska, entah kenapa tato di keningnya tampak berkilauan dalam warna perak yang mengagumkan.
“Setelah portal antardunia paralel ditutup, bukan sembarang orang yang bisa keluar-masuk. Kedatangan Yang Mulia yang tidak tertolak adalah bukti kuat bahwa Yang Mulia memang keturunan bangsawan Alba, sekaligus pewaris sah takhta berikutnya.”
Aku hanya menghela napas, bahkan terlalu lelah untuk tidak memercayai semuanya. Jika ini bukanlah mimpi, maka harus kuhadapi sebagai kenyataan –duh, masa iya?
“Baiklah, terserah! Apa yang bisa kulakukan untuk membantu?” tanyaku.
“Kenapa Yang Mulia buru-buru sekali?”
Bola mataku memutar sebal, “Kau benar-benar sulit diajak mengerti! Begini situasiku sekarang, aku sudah di pengujung masa pendidikan menengah, batu lompatan menuju cita-cita dan masa depanku. Aku sangat ingin membantu masalah kalian, tapi aku tidak mau mengacaukan masa depanku.”
“Bukankah masa depan Yang Mulia ada di Alba?”
Timpuk. Kutimpukkan buku di tanganku menimpa wajah Luska. Ayah pernah bilang agar aku tidak melempar-lempar buku karena itu adalah tubuh ilmu, tapi ... cukup sudah, kesabaranku menguap setelah kepalaku terasa mendidih.
“KAPAN AKU PERNAH MENYETUJUI HAL ITU?!” semburku marah, “dan berhenti menunjukkan cengiranmu! Kau jelas-jelas hobi membuatku kesal!”
“Tentu, sebab dengan kekesalan itu lambat laun Yang Mulia bisa mencintai Alba,” jawabnya.
“Jangan mimpi!” balasku bersungut-sungut keluar, berjalan ke sembarang arah berharap menemukan jalan pulang, tapi mengingat kerajaan ini berada di atas awan itu artinya ... Ya ampun! Aku tidak akan pernah bisa kabur! Sialan!
“Yang Mulia, museum internal kastel bukan ke arah sana,” kata Luska yang beberapa langkah di belakangku.
“Bodo amat! Memangnya siapa yang sedang ingin tamasya?!” balasku terus berjalan tanpa menoleh, terus menyusuri koridor yang berujung entah ke mana.
“Maaf atas yang tadi, Yang Mulia ....”
“Ya, ya, kumaafkan. Sekarang menjauh, jangan menyentuhku!”
“Itu artinya Yang Mulia masih marah.”
“Persetan! Aku ingin pulang!”
“Tapi Yang Mulia mengarah ke ruang kendali artileri, salah arah! Yang Mulia ....”
Kata-kata Luska terpotong bersamaan dengan suara ledakan yang menggetarkan dinding-dinding koridor. Kekesalanku juga tiba-tiba menguap, berganti menjadi kecemasan luar biasa. Hening beberapa saat mengisi udara.
“Tadi itu ledakan apa?” tanyaku yang sekarang berjongkok memeluk lutut.
“Tidak tahu,” jawab Luska sambil memerhatikan sekitar.
“Kenapa kau tidak tahu? Harusnya kau tahu!” protesku, “awannya tidak runtuh ‘kan?”
“Eh?”
“Daratan awan tempat berdirinya kastel ini! Awas saja kalau sampai jebol dan aku jatuh dari ketinggian!” ujarku sebenarnya takut setengah mati.
__ADS_1
“Yang Mulia boleh berdiri, itu tidak akan terjadi, tapi jujur, saya tidak tahu sumber ledakan tadi,” kata Luska. Itu hanya menambah kegelisahanku.
Tak lama kemudian terdengar pembicaraan menggema di sepanjang koridor. Suara yang terdengar marah-marah itu bisa kutebak milik Ladra. Tebakanku benar setelah ia muncul bersama beberapa orang yang tadi juga ada di ruang konferensi.
“Ya ampun, Yang Mulia! Apa Anda terluka?” tanya Ladra buru-buru menghampiriku, “Luska, kenapa Yang Mulia ada di sini?”
“Tadi ....”
“Jangan pedulikan aku,” ujarku sebelum Luska banyak berbicara, “Kepala Dewan, silakan menyelesaikan urusan di luar sana. Aku tahu ada kegentingan yang dikhawatirkan seisi negeri. Penjelasan dan lain-lainnya akan kutagih dari Luska ... dan tolong jangan ada yang ditutup-tutupi.”
Aku kembali berdiri, beranjak pergi. Beberapa orang di belakangku tak bereaksi. Luska akhirnya mengekoriku setelah beberapa saat.
“Yag Mulia! Yang Mulia, maaf, jangan berkeliaran sendirian ketika Anda tidak tahu jalan,” katanya. Kali ini aku berhasil menemukan pintu yang mengarah ke halaman. Dua orang punggawa yang berjaga merendahkan kepalanya begitu mengetahuiku lewat. Langit telah menggelap di luar sini dan pemandangan yang tersuguh lumayan meredakan gejolak emosiku beberapa waktu lalu.
Aku mendongak, terpana melihat bertaburnya bintang seperti serbuk glitter yang tumpah, berkelip manja begitu indah. Sesuatu yang tiba-tiba mengubah suasana hatiku jauh lebih menakjubkan, bulatan kristal bulan mengintip di balik awan. Sungguh, aku tak pernah melihat bulan sedekat dan sebesar ini! Dalam hati sempat takut bila sewaktu-waktu bulan itu jatuh menggelinding ke halaman kastel ini.
“Seandainya keadaan memungkinkan, saya ingin membawa Yang Mulia berkeliling ke luar. Pemandangan kota di balik dinding tebal ini punya daya tarik sendiri ketika malam hari,” kata Luska menyadarkanku dari lamun kekaguman.
“Ya, sayangnya situasi sedang tidak memungkinkan,” jawabku akhirnya duduk di tepian kolam air mancur di tengah halaman, “ceritakan padaku situasi yang tidak memungkinkan itu!”
Luska menghela napas, “Yang Mulia tidak suka tempat tinggi?”
“Jelas kau tahu itu! Jangan basa-basi atau mengalihkan pembicaraan!”
“Iya, iya, saya tahu. Habisnya saya bingung harus memulai dari mana?”
“Ceritakan keributan apa yang menginterupsi konferensi tadi!”
“Oh, tadi itu ... sepertinya telah terjadi ekspansi Dunia Kelabu, lagi,” jawab Luska.
“Yah, harusnya hanya ada dua dunia. Itu berarti Dunia Kelabu adalah dunia yang tidak seharusnya ada, tidak pernah diharapkan, dan harus disingkirkan karena membawa malapetaka.”
“Yang Mulia tidak suka tempat tinggi ‘kan? Pasti sangat mengerikan membayangkan tinggal di peradaban di atas awan. Itu adalah pemikiran penduduk Alba sebelum kami akhirnya harus pindah ke atas sini. Mulanya kami tinggal di permukaan, sama seperti orang-orang di Nigra,” kata Luska.
“Lalu kenapa kalian harus pindah?” tanyaku.
“Semuanya masih berkaitan dengan masalah kekosongan kekuasaan. Portal antardunia paralel terbuka seribu tahun lalu. Dalam kurun dua ratus tahun, masih tidak terjadi masalah dalam pencarian pewaris sah. Namun, semuanya semakin sulit setelah periode berikutnya. Delapan ratus tahun lalu, tanda pewaris sah mulai tidak ditemukan di antara bangsawan Alba.”
“Tanda pewaris sah? Kekuatan ini?” tanyaku sambil membelokkan arah pancuran air dengan tangan kosong tanpa menyentuhnya. Akhir-akhir ini aku cukup mahir menguasai telekinesisku. Efek sampingnya juga tidak lagi terasa setelah aku menggunakannya.
“Ya, itu hanya sebagian kekuatan dari tanda pewaris sah. Masih banyak lagi kekuatan menakjubkan yang akan terus berkembang. Mungkin Yang Mulia memulainya dari telekinesis, lalu perlahan satu per satu kekuatan luhur lain mengikuti,” jawab Luska. Wah, yang benar saja?!
“Kembali pada kekosongan kekuasaan. Setelah itu apa yang terjadi?” tanyaku.
“Kepala Dewan sudah menceritakannya saat konferensi tadi. Seseorang yang tidak berhak akhirnya diangkat menjadi raja, terpaksa karena banyak sekali urusan yang harus segera diselesaikan. Namun, sikap gegabah itu akhirnya membuahkan petaka,” jawab Luska dengan sorot mata redup.
“Peristiwa semesta yang menjawab. Sebuah kubah gelap muncul di sepetak wilayah kerajaan kami. Awalnya kami tidak sadar akan hal itu, tidak tahu menahu bahwa kubah itu ternyata berada di bawah kekuasaan lain, mencegah akses apa pun bagi kami menuju sepetak tanah kecil tadi.”
“Sepetak tanah kecil, sama sekali tidak ternilai dibandingkan seluruh wilayah yang ada, tapi suatu hari akhirnya kami mengerti bahwa harusnya tidak boleh ada sejengkal tanah pun yang boleh jatuh pada kekuasaan lain. Kubah semacam itu satu per satu muncul di tempat lain, terus meluas. Kami baru menelitinya setelah daerah yang terenggut mencapai seperenam dari total wilayah. Ya, angka yang kecil, tapi wilayah-wilayah yang terambil alih adalah daerah vital dan perkampungan padat penduduk.”
“Ternyata apa sebenarnya kubah gelap yang merenggut wilayah kerajaan ini?”
“Saat itu kami tak tahu pasti, tapi hingga saat ini kami menyebutnya Dunia Kelabu, dunia paralel ketiga yang tidak seharusnya ada, yang dipegang kendali oleh bermacam-macam iblis. Kami tidak pernah tahu ada apa di dalamnya karena memang tak pernah ada yang bisa masuk ke sana, tapi makhluk-makhluk mengerikan di dalam sana ternyata bisa keluar dan mengacau,” jelas Luska.
“Makhluk-makhluk mengerikan?” tanyaku membayangkan semacam mayat hidup, kuyang, vampir, dan kawan-kawannya. Pasti menyiksa hidup di tengah teror seperti itu.
__ADS_1
“Ya, anggap saja peliharaan para iblis penguasa Dunia Kelabu. Sejak saat itu Alba kehilangan kedamaian. Selama ratusan tahun kami berusaha menekan kekacauan itu, tapi semakin lama situasi semakin mengkhawatirkan. Belum lama ini, sekitar puluhan tahun lalu, tuntutan rakyat untuk menyingkirkan kubah gelap itu bersuara di mana-mana. Pasukan pertahanan kami bergerak, tapi sebagian besar gugur tanpa jejak kemenangan.”
“Dunia Kelabu ternyata bukan medan perang tempat amunisi andalan kami boleh menyombongkan diri. Pasukan kami bahkan tidak bisa memecah kubah cangkang sihir dunia itu, mati bahkan sebelum masuk ke dalamnya. Hingga dua abad, perlawanan yang terasa sia-sia terus dilakukan. Perekrutan prajurit dilakukan besar-besaran dan besar-besaran pula yang tidak lagi kembali. Populasi dan luas teritorial kami berkurang drastis. Inilah peristiwa semesta sebagai jawaban atas diangkatnya raja yang salah, bencana,” kata Luska kali ini memejamkan matanya, tak berani melihat bencana itu walau hanya dalam kilas baliknya sendiri.
“Kebijakan untuk melawan Dunia Kelabu akhirnya bergeser menjadi menyelamatkan sisa populasi yang ada. Permukaan telah dikuasai sebagian besar Dunia Kelabu dan semakin banyak makhluk mengerikan berkeliaran. Akhirnya, para ilmuwan lebih menyibukkan diri mencari cara membangun peradaban di atas awan dan ... dan hasilnya adalah Negeri Putih yang sekarang tempat kaki kita berpijak.”
“Wah, populasi kalian berhasil terselamatkan. Syukurlah!” jawabku akhirnya mendengar bagian baik setelah tragedi demi tragedi yang kudengar dari tadi.
“Ya, sayangnya, situasi politik malah bertambah runyam. Satu-satunya pewaris sah berikutnya yang kami temukan malah bunuh diri karena tertekan, merasa terbebani tanggung jawab besar. Maka dibentuklah Tubuh Dewan Internal seperti sekarang ini. Pemerintahan kembali berjalan normal walau di tengah kekosongan,” jawab Luska.
“Nah, bukankah sebenarnya sama saja? Kalian akhirnya mendapat pemimpin bergelar Kepala Dewan. Kenapa masih repot-repot mencari pewaris sah?”
“Oh, jelas berbeda. Ladra memanglah Kepala Dewan, pimpinan kami yang memegang segala kendali kebijakan, tapi dia bukan pemimpin tunggal yang absolut seperti raja. Ia tak punya kejernihan pikir dan kekuatan luhur sehebat pewaris sah, itu sebabnya segala sesuatu yang ia putuskan harus dipertimbangkan bersama anggota dewan lain yang mewakili dukungan rakyat.”
“Wah, demokratis, begitu ya?”
“Ya, semacam itu. Sejauh ini kinerja Tubuh Dewan Internal di bawah kendalinya cukup baik, tapi kesalahan sesekali terjadi, membuat Dunia Kelabu terus berekspansi di bawah sana, sementara daratan awan ini tidak bisa terus selamanya menjadi rumah kami. Pencarian terhadap pewaris sah tetap harus dilakukan untuk meredakan huru-hara dan mengembalikan kedamaian.”
Aku menghela napas panjang. Meredakan huru-hara dan mengembalikan kedamaian? Aku terpilih hanya karena bisa melakukan sulap-sulap kecil? Jangankan merapikan jagat Dunia Putih, sepetak kamarku sendiri saja tidak pernah tertata rapi.
“Tuntutan dan harapan rakyat kali ini adalah hadirnya pewaris sah yang sesungguhnya, yang tidak lari dari tanggung jawabnya ... dan kali ini ... kali ini pewaris sah itu ada di sebelah saya, telah mendengar semua lara tanah leluhurnya,” kata Luska.
Angin malam berdesir pelan, tetapi cukup kuat untuk mengacak anak rambutku. Kebimbangan dan kekhawatiran masih ada di celah-celah pikiran, tapi empati yang mulai merekah tak bisa kucegah.
“Aku ... aku sebenarnya tidak berniat lari dari tanggung jawab,” gumamku pelan.
“Berarti Yang Mulia bersedia membantu kami?”
Ah, sebentar. Kata-kata yang keluar dari tenggorokanku harus tertata dengan benar. Bagaimana keinginanku ya? Tentu saja aku bertekad memberi bantuan, tapi aku tidak mau menetap selamanya di sini. Meninggalkan Alba setelahnya bukankah kembali membiarkan kekosongan singgasana? Dan yah, di situ masalahnya.
Sebelum unek-unekku menjelma menjadi kata-kata, salah seorang yang tadi ada di kursi anggota dewan muncul dengan napas terengah-engah.
“Kesatria Muda ... Maaf, Yang Mulia ....”
“Ada apa?” tanyaku cemas.
“Maaf, Kepala Dewan meminta Kesatria Muda Luska mengamankan Yang Mulia. Massa telah berkumpul di luar kastel dan mengancam menerobos penjagaan,” kata orang itu.
“Cih, apa sebenarnya yang mereka inginkan?!” tanya Luska geram segera menarikku pergi dari halaman. Keributan yang dimaksud mulai terdengar di balik tembok tebal kastel ini. Seruan orang-orang yang memintaku muncul terdengar riuh bercampur dengan pengeras suara dari menara samping yang memperingatkan agar massa tidak bersikap anarkis.
“Sebentar, Luska! Mereka menginginkanku!” ujarku.
“Ya, saya tahu, Yang Mulia. Sejak berita kedatangan Anda, publik sudah tak sabar menunggu klarifikasi pewaris sah dan kebijakan-kebijakan untuk menghadapi masalah, tapi mereka keburu kalap setelah ekspansi Dunia Kelabu beberapa jam lalu,” jawab Luska.
“Nah, itu sebabnya aku harus menenangkan mereka.”
“Tidak, Yang Mulia! Tidak saat ini! Yang Mulia bahkan masih meragukan diri sendiri. Apa yang akan Anda katakan di depan mereka?”
“Seadanya ... Aku akan menyampaikan apa pun seadanya!” jawabku berusaha melepaskan tanganku dari Luska.
“Oh, tidak, tidak! Publik tidak suka sesuatu yang apa adanya! Mereka baru akan kenyang dengan distorsi dan manipulasi! Sesuatu yang apa adanya sedikit sekali memuaskan.”
“Daripada menyampaikan sesuatu yang apa adanya, lebih baik kita mulai membuat yang akan disampaikan itu menjadi ada sesuatunya,” kata Ladra muncul di pintu tempatku keluar tadi.
“Tubuh Dewan Internal telah menyiapkan konferensi tertutup. Jika Yang Mulia memang tidak ingin lari dari tanggung jawab, kebijakan untuk menekan ekspansi Dunia Kelabu harus mulai digodok malam ini juga.”
__ADS_1
.Bersambung.