
Penaklukan Dunia Kelabu sebelumnya tidak meninggalkan jejak apa-apa di kepalaku. Sungguh terasa asing, aku harus memulai semuanya lagi, tetapi bagi Elang yang masih mengingat semuanya, harusnya tidak demikian. Aku menangkap suatu kekhawatiran dan kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan. Penyebabnya jelas, Dunia Kelabu yang sekarang tidak sama seperti yang dulu, katanya. Lebih luas, lebih tidak kami ketahui bahaya apa saja di baliknya.
“Kita baru sampai, Shir! Semuanya terlihat mengerikan karena kita belum tahu,” kata Elang sedikit menyemangatiku, mungkin juga menyemangati diri sendiri.
“Ya, kalian tidak keberatan mencari tahu semuanya dari awal lagi ‘kan? Tentang jalan keluar dari tempat ini, tentang kelemahan, dan lain-lainnya?” tanya Kak Garuda.
“Tidak ada pilihan, Gar. Keberatan atau tidak, kita tetap harus mencarinya, sesulit apa pun,” jawab Elang, “dulu Sakti bersama kita, menjadi pelindung sekaligus pemandu menuju ujung misteri. Yah, kali ini kita benar-benar akan menyelesaikannya sendiri!”
“Kita bertiga, Lang! Bukan sendiri-sendiri!” timpalku.
“Um, mungkin agak berbeda bila perjalanan kalian kali ini hanya bersama reinkarnasi Sakti, tapi aku akan tetap membantu sebisa yang kulakukan!” jawab Kak Garuda.
“Eh? Maksudnya ... Kak Garuda adalah reinkarnasi Kesatria Perak? Ah, benar juga! Kakak kan juga keturunannya dan kekuatan Kak Garuda ini ... Oh, sekarang aku baru benar-benar mengerti!” jawabku.
“Padahal Kepala Dewan waktu itu sudah bilang, loh!”
“Tidak, Kepala Dewan tidak bilang kalau Kakak adalah reinkarnasi Kesatria Perak.”
“Aku tidak mengerti, kenapa reinkarnasi Sakti harus ubur-ubur konyol sepertimu?!” kata Elang mendengus kesal. Ih, dasar!
“Kamu benar-benar tidak bisa sopan kepada kakakmu ya, Lang?”
“Selain itu aku butuh penjelasan,” kata Elang lagi mengabaikan pertanyaanku, “kau mengenal iblis bernama Labe itu, Gar. Bagaimana bisa?”
“Oh, hm, ya ... Dia membuntuti kalian sejak lama dan aku sudah berkali-kali berurusan dengannya demi mencegah apa pun yang ia rencanakan. Yah, tidak ada salahnya berkenalan ‘kan?” jawab Kak Garuda, “ternyata yang dia inginkan seperti ini, memaksa kalian berdua terperangkap di Dunia Kelabu sekali lagi.”
“Iblis-iblis sialan itu ... Kita tidak boleh berhenti waspada!” gumam Elang mulai menjejak gundukan tanah empuk yang sesekali amblas ketika ia pijak. Aku dan Kak Garuda mengekor di belakangnya, mencoba menjelajah tempat ini. Sejauh mata memandang hanya ada sisa-sisa kekacauan longsoran tanah.
“Jadi ... Apa yang perlu kita perbuat sekarang?” tanya Kak Garuda memecah lengang.
“Tolong perhatikan sekitar seteliti mungkin. Pasti ada beberapa petunjuk yang bisa kita mengerti. Aku akan lebih banyak berpikir dan membandingkan Dunia Kelabu yang sekarang dengan yang dulu, berharap semoga ada satu dua kesamaan,” jawab Elang. Seandainya ingatanku tidak rusak, mungkin aku bisa membantunya berpikir. Sedikit merasa bersalah karenanya, tapi perasaan itu sama sekali tidak membantu untuk saat ini.
Aku baru saja hendak memulai obrolan tentang celah cahaya atau apa pun tentang Dunia Kelabu, tetapi sesuatu yang terjadi berikutnya sempat merebut perhatian kami. Langit yang semula bersemburat merah dengan kabut kelabu menutup pandangan berubah menjadi keunguan, semakin lama semakin pekat hingga perlahan menggelap.
“Kenapa tiba-tiba sudah malam?” tanyaku heran.
“Seolah-olah siang berlangsung singkat,” timpal Elang.
“Dan ... kenapa kita tiba-tiba dikelilingi makhluk-makhluk ini?” tanya Kak Garuda mengembalikan perhatianku dari langit ke tanah lagi. Aku terenyak menyadari sejumlah bintik-bintik cahaya kuning yang sepertinya berpasang-pasang mata siluman komodo. Entah datang dari mana tanpa suatu pertanda, mereka tiba-tiba sudah muncul sebanyak ini, mendesis-desis di sekitar kami.
“Hm, monster-monster ini aktif ketika siklus malam hari. Masih sama seperti monster sebelumnya,” kata Elang sambil memungut batu seukuran kepala, berjaga-jaga untuk mempersenjatai diri sejak pedang baja yang ia bawa dari kastel hilang entah di mana –meski aku tak yakin apakah batu itu bisa banyak membantu mengusir siluman-siluman ini.
“Kau punya ide untuk melawan mereka, Lang?” tanyaku di posisi siaga. Siluman-siluman komodo ini belum bergerak mendekat dan hanya mengepung kami bertiga, tetapi aku ingin segera membuka kepungan sebelum mereka akhirnya berani mendekat.
“Untuk saat ini ... lakukan apa pun agar mereka jauh-jauh dari kita, Shira!” jawab Kak Garuda tanpa aba-aba mengerahkan kekuatannya, menggulung lapisan tanah, menyapu beberapa ekor siluman komodo di depannya. Aku mencoba melakukan hal yang sama, tetapi justru menerbangkan debu-debu yang mengaburkan pandangan. Desis dan cicitan ramai terdengar beberapa saat bersamaan dengan mengerjapnya bintik cahaya dari mata mereka. Sepertinya siluman-siluman ini tidak tahan dengan debu, sama sepertiku.
“Usaha yang bagus, Shira!” kata Kak Garuda ketika kami akhirnya berhasil kabur dari kepungan siluman, “tapi lain kali mohon dikira-kira semburan anginmu ya! Mataku kelilipan, nih!”
“Hehe, maaf, Kak,” jawabku yang terus berlari di belakang Elang. Entah menuju ke mana, yang jelas kami harus terus menghindar dari kejaran bintik-bintik cahaya kuning tadi. Keadaan di sini cukup gelap, seandainya mata siluman itu tidak memancarkan cahaya, mungkin kami tak tahu bila mereka sedang terus bergerak mengejar. Yah, itu sedikit membantu ... sekaligus mengejutkan karena puluhan pasang bintik cahaya lain tiba-tiba juga muncul di depan sana, di kanan kiri, kembali mengelilingi kami.
“Siaaal! Sebenarnya mereka datang dari mana, siih?!” geram Kak Garuda semakin kalang kabut mengurus sekelompok siluman yang terus bergerak mendekat. Kami bekerja sama menghalau dari tiga arah. Aku tetap menggunakan teknik badai debuku –kunamai demikian biar terdengar keren– sementara Elang dengan teknik hujan batunya –yah, dia hanya melempari para siluman dengan bebatuan di sekitar kakinya. Kami sama-sama berjuang dengan cara kami masing-masing.
“Cih, kenapa aku yang paling tidak keren tanpa kekuatan angin-anginan seperti kalian berdua?!” protes Elang semakin kewalahan atau mungkin mulai kehabisan batu-batu pelurunya.
“Jumlah mereka semakin banyak, Kak,” laporku ketika bintik-bintik cahaya kuning lain bermunculan di kejauhan menuju ke mari. Semakin mendekat ke sini semakin rapat, memaksaku bergerak mundur.
“Kak Garudaaa!!!” jeritku ketika salah satu siluman hampir meraih kakiku, tetapi segera disepak keras-keras oleh Elang. Tanpa kuduga-duga kepala siluman itu lepas dari badannya, melesat jauh dan sepasang cahaya kuning dari matanya meredup hingga akhirnya padam, tetapi ratusan pasang yang lain belum berhenti bergerak mendekat.
“Baiklah, semoga ini berhasil!” kata Kak Garuda tanpa kutahu apa yang dia lakukan di balik punggungku. Sempat kudengar ia meludah, lalu tanpa peringatan angin dahsyat terasa hampir membuatku terhuyung, menyapu kawanan siluman yang mengelilingi kami beberapa meter jauhnya. Kak Garuda segera menandai enam titik di sekeliling kami dengan lompatan-lompatan cepat dan kembali ke tengah-tengah bersama kami. Aku seperti tidak asing dengan teknik ini.
__ADS_1
Sesuai dugaanku, benang-benang cahaya tumbuh dari enam titik tadi, menjulur ke langit, bercabang-cabang menjadi serabut yang lebih tipis, saling bertaut menjadi jalinan rapat membentuk kubah cahaya yang menaungi kami. Kilauan cahaya kuning di luar sana masih dapat terlihat dari celah-celah serabut kubah yang tidak terlalu rapat. Mereka bergerak mendekat, berusaha menerobos kubah cahaya buatan Kak Garuda ini, tetapi tidak berhasil. Siluman-siluman itu semakin berkerubung di luar sana.
“Ah, setidaknya kita berhasil membuat perlindungan!” desah Kak Garuda lega, melemaskan ketegangan di otot wajahnya.
“Ini ... seperti kubah cahaya yang Kakak buat saat Luska mengaktifkan portal menuju Alba waktu itu, saat penjemputan pertamaku. Benar ‘kan, Kak?” tebakku.
“Ya, dengan mengorbankan sedikit darahku, aku bisa meminjam sedikit ruang dimensi dari suatu tempat, membangun kubah ini untuk pengaman atau perlindungan. Aku juga bisa mengontrolnya agar kubah ini tak terlihat dari luar, agar siluman-siluman itu menjauh dan mengira kita menghilang, tetapi sepertinya sudah terlambat,” jawab Kak Garuda.
“Seberapa lama kubah ini bisa bertahan, Gar?” tanya Elang.
“Tidak lama, sih! Mungkin hanya sepuluh menit. Darah yang kukorbankan tadi hanya sekali ludahan saja,” jawab Kak Garuda.
“Setelahnya kau bisa membuat yang seperti ini lagi? Yang bisa bertahan sampai fajar tiba?”
“Hm, aku bisa membuatnya lagi lima menit setelah kubah yang ini lenyap. Setidaknya kita harus bertahan selama itu sebelum aku membuat kubah yang baru,” jawab Kak Garuda, “dan untuk kubah yang bisa bertahan hingga fajar, aku akan merobek perutku untuk mengorbankan banyak darah.”
“Ti ... tidak harus seperti itu juga, Kak!” balasku tidak setuju dengan ide robek merobek perut. Elang mengacak rambutnya sebal, membenci situasi seperti ini. Kepalaku mencoba memikirkan ide lain, ide untuk mengusir siluman-siluman yang terlanjur mengerumun dan otomatis menyerang setelah kubah ini lenyap. Namun, perhatianku direbut sesuatu yang tampak dari celah-celah kubah. Kilauan temaram cahaya lain di puncak tebing julangan tanah di tengah daratan ini.
“Apa itu ... apa itu kristal bulan?” tanyaku tidak percaya. Elang memicingkan mata demi melihat arah tunjukan tanganku. Benda itu tidak tampak jelas dari celah benang-benang cahaya yang lebih terang, tetapi mata Elang lebih jeli dari yang kukira. Ketika ia sedang berusaha mengamati lebih jelas, langit di luar sana perlahan kembali cerah dan kilauan temaram kristal bulan itu lenyap. Siklus siang hari kembali hanya beberapa menit setelah malam yang singkat dan entah ke mana perginya, siluman-siluman komodo juga turut lenyap.
“Tadi itu sepertinya memang benar kristal bulan, Shir, purnama pertama,” kata Elang mantap. “yang perlu kita lakukan sekarang adalah mengamati siklus waktu di tempat ini!”
“Siap, Lang!”
“Pastikan berapa lama siklus siang dan malam hari, kita harus menentukan datangnya purnama ketiga sambil terus bergerak mendekati puncak tebing itu.”
“Harus purnama ketiga ya?” tanya Kak Garuda.
“Iya, Gar. Itu titik waktu membukanya celah cahaya yang merupakan kristal bulan sendiri.”
Sesuai kesepakatan, kami bergantian menghitung lama waktu siang dan malam. Karena tidak ada jam tangan atau stopwatch, kami benar-benar menghitungnya secara manual. Sungguh menjemukan berhitung dari satu sampai ratusan dengan menjaga tempo hitungan agar tidak lebih lambat atau cepat dari standar satu detik. Namun, kami tetap melakukannya. Siang dan malam memiliki rentang waktu yang sama, sekitar enam ratus detik. Benar, sepuluh menit.
“Itu artinya dalam satu jam sama dengan tiga hari tiga malam di tempat ini,” kata Elang menyimpulkan.
“Ah, benar juga!”
“Oke, anggap saja satu kali revolusi bulan dua puluh sembilan hari, berarti ... satu bulan di sini sama dengan sembilan jam empat puluh menit, ya ‘kan, Shira? Eh, benar, enggak, sih?” tanya Kak Garuda.
“Hm, ya ... Tiga hari di sini sama dengan satu jam, satu bulan sama dengan sembilan jam lebih sekian ... Oh, ya, benar, Kak!” jawabku.
“Nah, berarti purnama ketiga sekitar sembilan belas jam lagi, selama itu kita harus terus bergerak ke tebing di tengah daratan ini dan memanjat ke atasnya. Lupakan dulu soal bagaimana cara mengaktifkan segel celah cahaya tanpa pedangku. Yang penting kita terus bergerak maju!”
“Baiklah, Lang. Jadi begitu strategi kita. Selama sepuluh menit siklus siang hari tanpa gangguan siluman, kita harus cepat-cepat bergerak menuju tebing itu, lalu ketika malam datang, kita berlindung di dalam kubah cahaya Kak Garuda.”
“Benar, Shir. Jarak kita ke tebing itu sepertinya kurang dari satu kilometer, kita bisa sampai tepat waktu di dasar tebing, bahkan sepertinya sebelum purnama kedua, tapi jangan santai-santai. Kita belum tahu cara memanjat tebing setinggi ratusan meter itu tanpa tali pengaman atau mengaktifkan segel celah cahaya setibanya dipuncak. PR kita masih banyak,” kata Elang.
“Aku mengerti! Ngomong-ngomong, Kak Garuda tidak apa-apa ‘kan bila harus terus membuat kubah cahaya itu. Jika dihitung-hitung, Kak Garuda harus membuatnya puluhan kali, lho!”
“Tidak apa-apa, Shira! Itu tidak akan menghabiskan darah berliter-liter. Mungkin tanganku akan penuh dengan luka gores, tapi aku yakin setelah kembali ke kastel luka-luka itu akan beres!”
“Sungguh, Gar? Tidak ada efek samping karena kau terus menggunakan kekuatanmu itu?” tanya Elang. Kak Garuda sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng.
“Tidak, Ang ... Tidak ada!”
***
Lihat ‘kan? Semuanya mengerikan di awal karena kami belum tahu. Sekalinya telah ditemukan strategi, hari-hari –atau tiap jam– yang kami lewati sama sekali tidak menegangkan. Aku bahkan sempat main tanah membuat rumah-rumahan dengan Kak Garuda di dalam kubah cahaya ketika dilanda gabut sementara desisan siluman-siluman komodo terdengar di luar sana. Elang tidak mau bergabung, dia kelewat tegang memikirkan cara memanjat tebing. Kami telah menghabiskan sembilan jam pertama, tiba di dasar tebing di tengah daratan tepat waktu sesuai perkiraan. Kami juga telah melihat purnama kedua. Kristal bulan itu seolah menggantung rendah dari puncak tebing ini, bisa digapai dengan mudah seandainya kami ada di atas sana.
“Jangan salahkan keseriusanku! Sama sekali tidak masalah jika yang harus memanjat ke atas sana hanya aku seorang, tetapi ketentuannya Shira juga harus ikut, dia yang mengucap mantra pembuka segel celah cahaya,” kata Elang sambil memijit kening, “sayangnya aku tidak yakin Shira kuat memanjat dan tiba di puncak hidup-hidup. Dia bisa saja kram otot di tengah-tengah lalu jatuh bebas menghantam tanah!”
__ADS_1
“Aku akan menangkap Shira dari bawah!” jawab Kak Garuda merentangkan tangannya.
“Ya! Tangkap!” timpalku kemudian kami berdua tertawa. Elang hanya berdecak sebal, benar-benar tidak sedang ingin bercanda –ah, memangnya kapan Elang pernah bercanda? Aduh, baiklah, aku berhenti tertawa.
Berikutnya siklus siang hari tiba. Kak Garuda menon-aktifkan kubah cahaya pelindungnya. Elang segera memeriksa dinding tebing yang ia risaukan, merasakan tekstur dan keokohannya. Dinding tebing ini tidak terlalu mulus, struktur batuannya cukup memungkingkan untuk dijadikan cengkeraman dan pijakan selama memanjat, tetapi Elang tak bisa mengira-ngira bagian mana yang lebih rapuh dan tiba-tiba luruh ketika dicengkeram. Sangat mengerikan membayangkan hal itu terjadi ketika Elang telah berada jauh di ketinggian tanpa tali pengaman. Ah, yah, aku tidak berharap hal itu terjadi, sih!
“Lang, aku membuatkanmu sesuatu!” ujarku memamerkan karyaku di depan Elang ketika ia sedang serius-seriusnya. Ia hanya mengernyit tidak berselera.
“Ketapel? Buat apa?” tanyanya.
“Kupikir kamu sebal karena tidak punya senjata apa-apa, menggerutu karena yang kaulakukan hanya melempari siluman-siluman itu dengan batu sementara aku dan Kak Garuda seru-seruan dengan kekuatan angin-angin kami,” jelasku.
“Lalu?”
“Kamu bisa melesatkan batu-batu melawan para siluman dengan ketapel ini. Biar agak keren, bayangkan saja kamu sedang menggunakan busur dan anak panah! Nih, coba, deh!”
Elang sempat mengerjap beberapa saat sebelum akhirnya meredam tawa yang ia tahan-tahan, “Shira ... Kita tidak lagi repot-repot mengusir siluman komodo itu karena Garuda sudah membuatkan kubah cahaya tiap malam. Aku tidak mengerti kenapa kamu berinisiatif membuatkanku ketapel aneh seperti ini?”
“Ke ... ketapel aneh?!”
“Iyalah! Apa-apaan karet elastis yang ada renda-rendanya begini?!” ledek Elang.
“I ... itu tali elastis untuk efek kerutan di pinggang pakaianku. Aku sudah rela melepasnya, tahu!” jawabku.
“Memangnya siapa yang menyuruhmu?! Ya ampun!”
“Habisnya kamu murung terus tiap hari!”
“Lau apa? Kamu mencoba membuatku tertawa dengan benda ini?! Selamat ya! Kamu berhasil, Shir! Aku tidak pernah seumur-umur melihat ketapel menggelikan seperti ini! Apalagi disuruh membayangkannya sebagai busur dan anak panah! Keren dari mananya coba?!” kata Elang semakin terpingkal-pingkal.
“Si ... sialan! Sepertinya kamu malah terhibur karena punya kesempatan meledekku ya?! Sini kembalikan jika kamu tidak suka!” balasku geram.
“Sebentar, deh! Aku jadi ingin mencobanya pada seseorang!” kata Elang dengan senyum jahilnya membidik kepala Kak Garuda.
“Eh, jangan, dong! Itu untuk mengusir siluman komodo, Lang! Kak Garuda, awas!”
***
Siklus malam ketiga sejak kami melihat purnama kedua, kubah cahaya lengang karena kami bertiga tidak melakukan apa-apa. Kepala Kak Garuda agak benjol sementara orang yang bertanggung jawab atas hal itu hanya merebah lelah di tanah, sesekali melirikku sambil masih menahan-nahan tawa mengejeknya.
“APA, SIH, KAMU?!” semburku kesal masih mencoba mengempeskan telur puyuh di kening Kak Garuda dengan teknik penyembuhan.
“Aduh, sial! Jangan salahkan aku, dong! Semua ide konyol ini kan berawal dari kamu, Shir!” balas Elang.
“Lalu kenapa kamu terus meledekku?! Kenyataannya kamu masih membawa-bawa ketapel itu! Kamu juga tidak minta maaf sama Kak Garuda!”
“Ssshh ... Shira berhenti marahan sama Aang, dong! Ayo, Aang juga jangan meledek-ledek Shira terus! Kamu sudah tidak ingin memusingkan cara memanjat tebing itu lagi? Tinggal dua puluh lima siklus siang alias delapan jam lagi sebelum purnama ketiga, loh!” kata Kak Garuda.
“Wah, kelihatannya kau memasrahkan segala sesuatunya kepadaku, tapi yah, itu memang tanggung jawabku, sih!” jawab Elang bangun ke posisi duduk.
“Itu sebabnya, apa kamu sudah punya ide? Posisi celah cahaya dulu bagaimana? Kamu dan Shira mencapai ktistal bulan dengan cara apa?”
“Oh, dulu itu ... Aku tiba-tiba dituntun oleh pedang kristalku sendiri, menggores pola samar di tanah, lalu ada tangga spiral yang bangkit menjulang tinggi ke langit, menuju kristal bulan,” kata Elang, “mungkin pola samar itu juga ada di sekitar sini. Aku akan memeriksanya nanti.”
“Masalahnya pedang untuk menggores pola itu ... belum ketemu ‘kan?” tanyaku yang sangat-sangat jelas jawabannya.
“Iya, sih!” jawab Elang dengan pundak menurun, “seandainya saja pedang itu ada di tanganku ....”
Pernahkah ada yang merasa spesial karena keinginan yang baru terucap seketika terkabulkan di detik berikutnya? Kebetulan sekali, orang itu kali ini adalah Elang dan aku sangat iri kepadanya. Pedang yang tiba-tiba ada di tangan Elang itu terlihat cukup mengagumkan meski masih terbungkus sarungnya. Kami bertiga sama-sama tertegun beberapa saat.
__ADS_1
“Shir ... Tadi aku hanya memegang ketapel konyolmu, tahu!”
.Bersambung.