
“Inilah yang disebut titik balik, anak-anak! Titik balik bagiku! giliran angkara dan bencana kembali berkuasa!”
Kata-kata Griseo di telingaku terdengar seperti tak akan ada lagi matahari terbit esok pagi. Bila dua pilihan yang tersedia sama sekali tidak memihak kami, skakmatlah sejatinya semua ini. Sambil masih membendung kepungan air, pikiranku meraba-raba dan tak berhenti membuat perhitungan sementara dua iblis di sana malah bersila main kartu.
Sial! Mana yang lebih berisiko? Bila penyegelan itu tidak dilakukan, aku dan Elang tidak bisa kembali ke Nigra dan kami kehilangan Kak Garuda, tapi bila memaksa melakukannya ... Portal menuju Nigra memang akan terbuka, tapi kami hanya membawa bencana untuk seisi Nigra, gelombang pasang itu.
“Shir ... Aku ingin sekali bersikap egois, tapi tidak cukup berani ...” kata Elang dengan tatapan kosong, benar-benar tertekan dengan situasi ini. Seandainya bisa menurunkan tangan sejenak, aku ingin menghampirinya dan mengatakan apa pun untuk saling menguatkan.
“Tetap lakukan penyegelannya, Kesatria Agung!” bisik Luska yang tertangkap dengarku.
“Aku juga ingin, tapi ....”
“Jangan khawatirkan soal portal yang akan meneruskan gelombang pasang itu ... karena sebenarnya portal raksasa menuju Nigra akan muncul di langit,” kata Luska, “gelombang pasang tidak akan meraihnya dan tidak akan diteruskan sampai ke Nigra.”
“Kau bisa menjamin hal itu?” tanya Elang.
“Ya, Kepala Dewan merencanakan invasi ke Nigra dengan pasukan angkatan udara. Aku juga sempat melihat pesawat induknya. Itu yang membuatku yakin portal antardimensi akan membuka di langit!”
“Masalahnya tetap sama, Luska, gelombang pasang itu! Bagaimana mereka bertiga bisa meraih portal setelah kekuatan Yang Mulia lenyap dan gelombang pasang ini tak terbendung, menyapu kita semua setelahnya? Pada akhirnya mereka tetap tidak bisa kembali ke Nigra!” jawab Aquila.
“Tidak apa-apa menurutku ... asal Kak Garuda tetap bisa diselamatkan,” sahutku, “tidak bisa kembali ke Nigra pasti akan membuatku sedih berbulan-bulan, tapi aku tidak sendirian ‘kan?”
“Shira ... Apa kau juga yakin dengan kata-katamu?” tanya Elang menatapku dengan tatapan bersalah yang tak seharusnya.
__ADS_1
“Ya ... Tidak apa-apa, Lang. Aku lebih takut bila kamu kehilangan kakakmu. Lagipula aku tidak takut terjebak di dunia mana pun ... asalkan bersamamu,” jawabku sebisa mungkin tersenyum tanpa terlihat memaksa, “tugasmu berikutnya adalah menghiburku semisal aku kangen orang-orang rumah. Yah, kita akan saling menghibur nantinya. Kita akan banyak memulai hal baru di dunia baru.”
“Yang Mulia ....”
Luska terlalu sungkan untuk tersenyum atas pilihanku, tapi Elang akhirnya sedikit terhibur oleh kata-kataku meski aku belum berniat menghiburnya.
“Jangan senang-senang karena terjebak di sini meski bersamaku, dasar aneh!” jawabnya hampir menyentil dahiku, tapi segera urung mengingat posisiku yang masih menmbendung gelombang.
“Tapi ... baiklah, kita memang harus mengambil konsekuensi ini atas pengorbanan Garuda. Dia hanya semakin keren bila tidak terselamatkan dan aku hanya semakin seperti pecundang yang gagal menyelamatkannya,” kata Elang lagi.
“Kenapa malah masih membahas soal keren atau tidak keren?! Kita dikejar waktu!” jawab Aquila memandang langit yang semakin kemerahan karena matahari mulai merebah di kaki langit.
“Aku akan mengurus pedang ini di tengah sana. Tolong, kalian berdua awasi Griseo dan Lupus agar tidak melukai Shira mau pun abangku,” kata Elang, “satu lagi yang paling penting. Setelah gelombang ini tak tertahan lagi dan menggulung kita semua, usahakan tidak ada yang terpisah ... jangan ada yang terpisah jauh.”
“Dimengerti, Kesatria Agung!” jawab Luska lalu semua orang bergerak sesuai rencana sementara aku hanya menunggu detik-detik hilangnya kekuatanku, tercabut dan tersegel di pedang Elang yang mulai tertancap di pusat pulau ini, menunggu deburan masif sekian juta liter air menenggelamkan kami semua. Ngomong-ngomong soal tenggelam, aku tidak bisa berenang. Aku lupa hal itu karena lebih berharap Kak Garuda benar-benar bisa selamat.
“Sial, ah! Mereka akhirnya memilih jalan itu, Griseo! Tidak asyik!” kata Lupus membanting kartunya kesal.
“Yah, sampai jumpa, Lupus! Percayalah dengan satu Lupus yang tertahan, masih ada ribuan Lupus yang berkeliaran. Sejatinya aku tidak kehilanganmu!” jawab Griseo meregangkan tangan bercakarnya, merangsek maju menerkam Lupus di tubuh Kak Garuda.
“Tapi mereka akan tetap kehilangan bocah tengik ini ...” gumam Griseo dengan seringaian setan itu.
“Aku suka idemu! Biar kubantu!” jawab Lupus sebelum ia benar-benar tercabut dari raga Kak Garuda, menggores dadanya sendiri.
__ADS_1
“Maaf ya, kami mengacau!” balas Aquila tiba-tiba mengalungkan –atau menjerat– sehelai benang ke leher Lupus sementara Luska mengayunkan pedangnya ke arah Griseo meski selanjutnya sempat ditepis.
“Aaaarghh! ****** sialan! Dan jimat-jimat sialanmu juga! Kaupikir aku akan kalah dari sehelai benang?! Tidak akan!”
Ocehan Lupus mau pun duel Luska dan Griseo harus terinterupsi oleh terjangan air yang tak bisa lagi kutahan setelah rasa sakit di tengkukku menjalar ke seluruh tubuh. Aku pernah tidak sengaja tersengat listrik hanya kurang dari satu detik dan sensasi kejutnya cukup mengerikan bagiku. Kali ini sensasi seperti itu berlangsung lama ketika kekuatanku tercabut, membuatku kolaps seketika dan tidak melihat apa pun lagi selain Elang yang berlari ke arahku, seolah berkejaran dengan gelombang di belakangnya.
Aku tak sempat tahu apakah akhirnya ia berhasil meraihku atau tidak. Kejadian detik berikutnya teramat singkat karena tiba-tiba tak ada yang bisa kudengar, telingaku masih beradaptasi dengan perbedaan tekanan saat tubuhku melayang-layang di dalam air. Tak banyak bergerak, aku benar-benar pasrah atas apa pun yang terjadi –pasrah karena sejatinya tidak bisa berenang. Pandangan di dalam air yang teramat samar, tapi cukup bagiku untuk mengenali seseorang yang menggenggam tanganku, yang juga berusaha meraih tangan satu orang lain lagi. Elang ... dan ia sedang berusaha menggapai tangan kakaknya yang juga melayang-layang di dalam air. Seketika aku pun melakukan hal yang sama sambil menahan-nahan kebutuhan menghirup udara.
Tubuh Kak Garuda seolah melayang semakin menjauhi kami, tapi Elang cukup lihai bergerak di dalam air. Ia hampir meraih tangan kakaknya yang tak sadarkan diri itu dan ia benar-benar meraihnya bersamaan dengan satu hal mengejutkan terjadi berikutnya. Sesuatu bergerak dari dasar laut, mendorong kami terus ke atas, mengacaukan gerakan kami di dalam air. Aku tak sengaja menghirup air setelah diserang panik. Sesuatu yang tak seharusnya masuk ke hidungku itu benar-benar terasa aneh dan tertolak. Sistem pernapasanku tidak menerimanya dan tubuhku juga bereaksi, menggeliat ke sana ke mari sebelum akhirnya lemas dengan sendirinya, tetapi belum kurasakan pegangan di tanganku lepas.
Dengan dorongan dari dasar yang terus menekan kami ke atas tanpa henti, aku masih pingsan dan tak mengetahui apa-apa hingga entah beberapa saat selanjutnya kurasakan guncangan kencang di pipiku disertai suara Elang yang terdengar senang setengah mati.
“Shir! Bangun, Shir! Kau harus melihat ini!”
Aku masih setengah sadar dan belum membuka mata, tapi berikutnya cukup terdengar suara tepukan mirip gamparan keras, bukan menyasar pipiku beruntungnya.
“Dan kau juga cepatlah bangun, heh! Jangan memaksaku memanggilmu abang-abang lagi!” katanya setengah menahan tawa.
“Shir, tolong buka matamu dan lihatlah pulau yang tadi tenggelam ditelan gelombang sekarang bergerak naik dengan sendirinya! Seperti kecambah kacang yang terus tumbuh dari dasar samudera! Shir, aku serius! Lubang portal di atas sana menyambut kita dan pulau ini mengantar kita mencapainya! Shira! Shir?! Sialan! Kenapa harus aku sendiri yang didera euforia seperti ini?!”
Aku menari-nari di alam bawah sadar demi mendengarnya, memilih terlelap semakin tenang mengetahui hal itu, memilih tertidur dengan senyum tipis terulas di wajahku. Tak peduli meski Elang menyadarkanku dengan segala cara, entah kenapa aku lebih suka tinggal di pangkuannya daripada berselebrasi atas sekali lagi kemenangan kami ... tapi Elang benar-benar pemaksa.
Setelah terbatuk karena air yang kuhirup berhasil dikeluarkan, hanya ruang putih hening dan senyaplah tempatku berada. Sendirian, aku terkesiap begitu menyadari hal itu.
__ADS_1
.Bersambung. Eh, selesai.
Bersambung apa selesai ya enaknya?😫