Kelabu

Kelabu
#S2 Episode 5


__ADS_3

Fajar menyingsing di balik barisan bukit. Semburat merahnya menyelinap melalui celah-celah bingkai jendela di seberang sana. Sebentar lagi langit terang. Semalam aku telah mendapat porsi makan dan tidur cukup, tapi tetap bangun dengan tingkat stres tinggi.


Alasannya jelas, aku sudah mengingkari janji untuk pulang sebelum sore sedangkan sekarang sudah pagi. Selain itu juga belum tahu menahu tentang urusan yang harus kuselesaikan agar Luska sialan itu mengantarku pulang. Ah, bahkan dia belum menjemputku seperti yang dikatakan Aquila.


Ngomong-ngomong soal Aquila, aku lebih suka bertanya-tanya kepadanya daripada kepada Luska nanti. Sayang sekali, ia tampak tertutup dan tak peduli.


“Aku sekarang hanya rakyat sipil biasa yang tidak terkait dengan kebijakan pemerintah. Yah, kebijakan itu sudah bukan rahasia publik, tapi bila kau mendengarnya pertama kali dari mantan oposisi sepertiku, tebaklah bagaimana aku akan semakin dimusuhi karena dianggap mencuci otakmu,” jawab Aquila yang sekarang tampak sibuk memasak. Ia sudah tidak mengenakan pakaian bajing terbangnya lagi.


Kami berada di lantai dua, satu tingkat di bawah ruangan puncak menara tempatku tiba di sini kemarin.


“Kebijakan? Kebijakan apa?” gumamku, “aku butuh gambaran posisi kalian. Sebenarnya Luska itu siapa? Dan kamu sekarang hanya rakyat biasa? Mantan oposisi? Apa Kak Garuda juga ada di pihak yang sama denganmu?”


Aquila menghela napas sebal, “Kau sungguh cerewet! Menara ini jadi penuh tanda tanya sejak kau datang! Jika kau memang ingin tahu, dari sudut pandangku, Luska adalah bagian masa lalu yang tidak menyenangkan! Sekali lagi, itu dari sudut pandangku! Jadi, aku sedang tidak ingin membicarakan tentangnya. Tanyakan apa pun, akan kujawab, kecuali tentang orang itu, paham?!”


“Ah, ba ... baik,” jawabku sambil mengerjap beberapa kali.


“Kau tidak ingin mandi?” tanya Aquila.


“Aku boleh mandi?” tanyaku balik.


“Jika tebakanku benar, Luska tak akan peduli kebersihan tubuhmu. Yang diprioritaskannya setelah menjemputmu pasti membicarakan kebijakan ....”


“Bukankah kamu bilang tidak ingin membahas tentang Luska?”


Pertanyaanku dijawab tatapan dingin Aquila. Heh, sebenarnya siapa yang salah bicara?!


“Baiklah, baiklah! Aku akan mandi!” ujarku segera bergegas sama seperti ketika dipelototi ibu, “ngomong-ngomong ... kamar mandi di sebelah mana?”


Aquila menunjuk sisi ruangan yang berseberangan dengan tempat memasak, suatu cekungan lingkaran di lantai yang kupikir tangga menuju lantai bawah, tetapi ternyata ... sungguh hanya cekungan seperti kolam renang kosong? Terlalu dangkal, Seandainya aku duduk ke dalamnya Aquila bahkan bisa melihatku dari tempatnya berdiri. Ia menekan sesuatu di dinding yang membuat air mulai memenuhi cekungan ini.


“Aku bisa meminjamkan setelan pakaian, semoga ukuran kita sama,” kata Aquila sebelum menuruni tangga ke lantai yang lebih bawah. Yang kulakukan hanya terbengong-bengong hingga air berhenti naik, mengisi setengah penuh cekungan ini.


“Kau belum juga masuk berendam?” tanya Aquila ketika ia kembali. Aku? Berendam di sini? Serius, nih?!


“Dih, apa-apaan muka memerahmu itu?! Selama ini hanya ada aku dan nenekku di sini, tempat berendam memang sengaja kubuat terbuka begitu saja.”


“Oh, maaf, aku tidak terbiasa mandi di tempat terbuka dengan keberadaan orang lain di tempat yang sama meski kamu sama-sama perempuan.”


“Ah, rewel! Memangnya siapa yang akan menontonmu?! Aku akan lebih menyibukkan diri menyiapkan sarapan dan ramuan untuk nenekku!” jawab Aquila bersungut-sungut kesal. Aku hanya nyengir sambil mengikat rambut.


“Ngomong-ngomong, nenek di mana? Aku tidak melihatnya sejak tadi pagi,” ujarku mulai mencelupkan ujung kaki, tak menduga suhu air akan sehangat ini.


“Ada di lantai satu, sedang memanjakan diri di kursi terapi,” jawab Aquila. Aku tak banyak tahu tentang kursi terapi yang ia maksud, tapi aku yakin Aquila masih dalam program irit bicaranya, jadi percuma saja aku bertanya. Kadang perangai Aquila mencoba mengingatkanku pada seseorang, tapi siapa ya?


“Asal kau tahu, mendiang nenekku mirip seperti nenekmu, lho!” ujarku akhirnya yang akan banyak bercerita, “beliau tutup umur tiga bulan lalu setelah komplikasi organ-organ dalamnya, tapi yang paling membuatku kesal beberapa tahun terakhir adalah penyakit alzheimer yang ia derita.”


Aku menjeda sejenak, terdiam menyelami memori ketika nenek masih ada. Satu-satunya suara yang terdengar di seisi ruangan hanya suara alu Aquila yang menumbuk sesuatu, mungkin bahan ramuan untuk neneknya sementara air di kolam tempatku berendam berbau menyegarkan meski tanpa gelembung sabun. Kulitku juga terasa lebih kesat dan bersih.


“Nenekku begitu penyayang dan aku pun lebih menyayanginya. Aku dan adikku lebih dekat dengan nenek daripada orang tua kami sendiri. Semua berubah setelah gejala penyakit sialan itu perlahan menguasainya. Nenek pikun, yang dia ingat hanya punya satu cucu, adikku. Sementara bila aku muncul di hadapannya, ia akan berteriak histeris dan meracau-racau demi mengusirku. Akhirnya aku mengalah, tidak lagi mendekati nenek meski sangat ingin. Kami semakin terpisah setelah ia dirawat paman dan bibi, tinggal di rumah mereka hingga akhir usia.”


Hening. Aku tidak tahu bahwa Aquila terdiam menengok ke arahku karena posisiku membelakanginya.

__ADS_1


“Aku sedikit kesal –tidak, sih, sangat kesal– karena kehilangan banyak kesempatan pada saat-saat terakhir, apalagi tidak berada dalam ingatan nenek. Aku jadi iri dengan Aquila yang masih sempat melakukan banyak hal untuk orang yang disayang.”


Ah, sial, kata-kataku seolah memiliki rasa, tersangkut di pangkal lidah, begitu pahit. Mau tidak mau aku harus menelannya. Sesuatu tentang melupakan dan dilupakan selalu memancing perasaan buruk bagiku. Mungkin hilangnya sebagian ingatanku adalah hukuman karena aku sempat kesal kepada nenek.


“Ceritamu membuatku sedikit bersyukur,” kata Aquila.


“Jangan sedikit, dong! Bersyukur yang banyak ....”


“Tapi ternyata kau jauh lebih menarik dari yang kukira,” lanjutnya. Aku menoleh karena risih dibilang seperti itu ketika Aquila menatapku yang sedang berendam.


“A ... apa, sih?!”


“Jangan salah paham! Memangnya pikiranmu ke mana? Maksudku, sesuatu di tengkukmu itu, pernahkah kau menyadarinya?” tanyanya. Aku meraba bagian yang ia maksud.


“Ada apa? Tidak ada apa-apa!” jawabku.


“Kau pasti tahu tato di kening kanan Luska, ternyata kau juga punya motif yang sama di tengkukmu.”


“Wah, masa?! Sejak kapan?!” tanyaku tidak percaya. Jika benar ada yang seperti itu, ayah dan ibu pasti sudah melihatnya dan akan menginterogasiku. Terlebih Yasinta, dia pasti akan teramat bawel bertanya-tanya. Jelas-jelas tato yang dimaksud Aquila muncul baru-baru ini.


“Malah mengherankan jika kau balik bertanya. Ah, sepertinya cepat atau lambat aku juga akan terlibat. Ini pertanda besar! Pantas saja kau bisa menenangkan nenek kemarin,” gumamnya. Heh? Apa katanya?


“Maaf, aku lupa namamu. Biar kuingat lagi, siapa?”


“Shira, Shira Amanda,” jawabku meraih handuk, merasa cukup setelah membersihkan diri. Tepat setelahnya, suara keributan terdengar di lantai atas. Suara derap sepatu kuda mendominasi. Pakaian yang disediakan Aquila buru-buru kukenakan sementara Aquila sendiri sudah naik memanjat tangga, memeriksa keadaan di atas. Outfit turtleneck hitam polos ini sama seperti yang dikenakan Aquila, tapi agak kedodoran saat kupakai.


“Aku tidak dengar ada yang bilang permisi,” kata Aquila berkacak pinggang memyambut yang datang.


“Salam, Yang Mulia! Maaf atas keterlambatan saya!” ujarnya turun dari tunggangan setengah kuda setengah garudanya. Aduh, aku jadi ingat Kak Garuda!


“Harusnya saya segera menjemput Yang Mulia segera sebelum perempuan ini banyak memengaruhi Anda,” katanya lagi.


“Keahlianku memengaruhi orang jauh terkalahkan olehmu, asal kau tahu!” balas Aquila.


“Terima kasih! Itu pujian buatku,” jawab Luska sambil tersenyum.


“Oke, berhenti! Kamu berutang banyak penjelasan karena Aquila sendiri belum menceritakan banyak hal apalagi sampai memengaruhiku! Sebelumnya berdirilah dan jangan bersikap aneh kepadaku, tolong, itu menggelikan!” jawabku.


“Senang mendengarnya, Yang Mulia! Kita bisa bicarakan semuanya di istana yang nyaman, itulah tujuan saya menjemput Anda.”


“Enggak, deh, di sini saja.”


“Sebaiknya kauikuti kata-katanya. Jangan membuat orang ini berlama-lama di sini,” jawab Aquila.


“Aku juga tidak berkenan,” balas Luska.


“Baiklah, aku ikut denganmu, tapi Aquila juga,” tawarku.


“Aku tidak punya urusan, maaf!”


Aquila pergi meninggalkan ruangan.

__ADS_1


“Hei, aku tidak ingin ke mana-mana! Tolonglah, Aquila! Kamu satu-satunya orang yang kupercaya!” pintaku.


“Kau tidak boleh mudah percaya pada orang yang baru semalam kaukenal. Terlalu naif, kau bahkan tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri, apalagi seisi negeri!”


“Ha?”


“Jika Yang Mulia memercayai Aquila hanya karena memberi tumpangan semalam dan pakaian seadanya ini, maka Yang Mulia pasti bisa memercayai saya melebihinya setelah saya antar ke istana megah tempat Anda harusnya berada.”


“Terserah, silakan bawa aku ke mana pun yang kau mau. Aku ingin pergi bukan karena istana itu, tapi untuk menagih penjelasanmu!”


Senyum Luska semakin melebar, memintaku naik ke tunggangannya, “Mari, Yang Mulia!”


“Satu lagi, orang yang ingin benar-benar dipercaya tidak perlu mengatakan bahwa ia membutuhkan hal itu. Sama seperti orang baik yang tidak mengaku-ngaku baik,” ujarku.


“Saya akan mengingatnya,” jawab Luska menarik tali kendali binatang tunggangan ini melalui pinggangku, “ternyata Anda tidak senaif yang dikira Aquila. Yang Mulia tentu bisa menyelamatkan banyak orang.”


Makhluk bertubuh kuda dengan kepala garuda –yang entah apa sebutannya– ini merentangkan sayapnya, mengambil ancang-ancang sebelum terbang melalui jendela menara yang lebar. Jantungku berdebar bukan karena aku menunggang makhluk aneh bersama laki-laki yang sama anehnya, tapi, hei ... aku sedang mencoba melupakan fakta bahwa ketinggian adalah musuhku.


Aku tidak takut! Aku tidak takut! Aku tidak takut!


Tolong, kali ini saja aku tidak ingin takut menatap hamparan hijau area hutan dan perbukitan yang memanjakan mata, sekian puluh meter di bawah lintasanku. Ini terlalu indah untuk dilewatkan. Matahari masih belum terlalu tinggi. Atmosfer terasa begitu hangat menerpa wajah, menyeruak menyisir rambutku. Makhluk tunggangan kami bersuara. Lengkingan khasnya menggema ke berbagai penjuru. Kuelus bulu lehernya yang berwarna keemasan, lembut dan cantik berkilauan.


“Dia pasti bangga menjadi tunggangan pemimpin baru negeri kita,” kata Luska.


“Apa?” tanyaku tak begitu mendengar suaranya yang dibawa angin.


“Sebenarnya menara Aquila terhubung dengan portal instan di istana, tapi demi memperkenalkan Yang Mulia pada Negeri Putih, perjalanan konvensional seperti ini adalah pilihan terbaik.”


“Oh, masa?”


Pilihan terbaik seandainya binatang ini berhenti terbang semakin meninggi. Pemandangan telah berganti menjadi lengkung cakrawala bentangan samudera yang membosankan untuk dinikmati. Ketakutanku kembali saat melihat riak ombak di pesisir. Sama sekali tidak lucu bila aku jatuh lalu tercebur ditelan genangan air superdalam dan luas ini.


“Memangnya masih seberapa jauh lagi?” tanyaku heran akan hal itu.


“Sebentar lagi, Yang Mulia!”


“Sebentar lagi?”


“Ya,” jawab Luska memacu kecepatan binatang terbang ini.


“Tapi aku belum melihat daratan mana pun,” jawabku memejamkan mata, semakin tegang ketika kami malah bergerak naik.


“Kita akan melihatnya di atas awan.”


“Apa?!”


“Daratan pusat denyut kehidupan Negeri Putih ada di atas awan! Berpegangan, Yang Mulia!”


Heeeehhhh?!


“AKU TIDAK SUKA TEMPAT TINGGI!!!”

__ADS_1


.Bersambung.


__ADS_2