
Halaman samping telah sepi setelah massa membubarkan diri lima menit lalu. Ladra menjemputku setelahnya, mengatakan bahwa konferensi yang lagi-lagi terinterupsi belum selesai. Belum ada putusan final, katanya.
Ruang konferensi telah tertutup ketika aku kembali, terkunci.
“Yang Mulia ....” tegur seseorang di selasar ruangan.
“Luska? Kenapa mereka menutup pintunya sebelum kita masuk?” tanyaku.
“Oh, konferensi memang belum selesai ‘kan?”
“Lalu para dewan melanjutkannya tanpa kita?”
“Um, begini ... Kepala Dewan menyarankan agar Yang Mulia beristirahat. Hari ini pasti banyak hal yang membuat Yang Mulia lelah,” kata Luska.
“Sangat-sangat lelah!” tambahku, “karena sudah terlanjur lelah, rasanya aku bahkan tidak butuh istirahat.”
“Oh, masa? Kalau begitu setidaknya kendurkan otot dan ketegangan di kepala Yang Mulia. Coba lihat bulan di atas sana!”
Entah kenapa aku menurut kata-kata Luska. Kudongakkan kepala. Bulan kali ini telah menggantung di atas, begitu besar dan cemerlang, membuatku khawatir akan tertimpanya. Cahaya keemasan dari bulan itu memantul di atas kolam yang beriak oleh pancaran air mancurnya sendiri. Tanpa sadar senyumku perlahan tersungging. Berlama-lama memandang langit tanpa peduli leherku mulai pegal, pemandangan seperti ini jelas tak akan pernah kutemui di kota asalku.
“Yang Mulia sepertinya pengagum bulan. Anda pasti tidak keberatan melihat bulan lebih dekat lagi,” kata Luska percaya diri.
“Tidak!” tolakku segera, “jika melihat bulan lebih dekat lagi berarti kau akan membawaku terbang lebih tinggi, aku sangat keberatan! Terima kasih!”
Luska malah terkekeh pelan, “Beruntungnya tidak, Yang Mulia! Kita tidak perlu terbang atau naik menara yang menjulang ke langit untuk melihat bulan di depan mata.”
“Bohong ya kamu? Aku sedang dikerjai ‘kan?” tanyaku tidak percaya.
“Tempatnya di sebelah sini,” katanya berbalik menuju suatu arah. Aku terpancing mengikutinya.
“Awas saja kalu kamu bohong!” ancamku.
“Tidak, saya tidak mungkin berani membohongi Yang Mulia,” jawabnya.
Kami menelusuri selasar samping kemudian berbelok masuk ke bangunan induk, melintasi ruangan luas berbentuk lingkaran dengan pintu-pintu lorong di delapan arah. Aku dan Luska muncul di salah satunya dan menuju salah satu yang lain. Kandelir tergantung di langit-langit ruangan, tampak cantik nan elegan. Pencahayaan di ruangan ini bukan satu-satunya berasal dari benda itu. Sesuatu yang lebih istimewa lagi, menurutku. Bukan lampu atau obor di dinding yang pernah kubayangkan seperti di kastel-kastel lama, melainkan lantai ruangan sendiri. Mineral batuan di lantai tempatku berpijak memancarkan cahaya, bergemeletak ketika beradu dengan sepatu hak yang kukenakan.
Sejak tiba di kasel ini aku belum sempat mengamati banyak hal, jadi wajar bila aku tak bisa menyembunyikan kekaguman.
“Sebenarnya kita akan pergi ke mana?” tanyaku.
“Ke tempat bulan bisa dilihat sedekat mungkin,” jawab Luska.
“Tentu, tapi di mana?”
“Sebelah sini!”
Setelah melintas taman dengan bermacam tanaman hias dan kolam di ruangan berikutnya, pintu kaca tebal di depan kami bergeser membuka. Aku mengikuti Luska yang melangkah masuk, agak terkejut ketika ruangan kecil ini bergerak turun, membuat pemandangan taman tadi tak terlihat, berganti menjadi dinding batu di sekeliling kami.
Harusnya aku tidak terlihat kampungan dengan tampang kebingungan seolah tidak pernah masuk lift –yah, ruang sempit yang bisa bergerak naik turun dalam sebuah gedung apa namanya jika bukan lift? Beruntungnya otakku sedang bekerja normal dan menyadari sesuatu. Jika melihat bulan lebih dekat harusnya lift bergerak naik, tapi ini turun ... sedangkan kastel ini ada di atas awan ....
“Luska, kau tidak sedang mempermainkanku ‘kan ....”
“Kita sampai, Yang Mulia!” kata Luska setelah pintu kaca tebal kembali bergeser membuka. Dengan kewaspadaan ekstra aku mengekor di belakangnya, memerhatikan temaramnya sekeliling ruangan. Satu-satunya sumber cahaya adalah tiang silinder berdiameter satu meter di tengah ruangan hangat ini.
“Selamat datang di ruang inti energi, jantung unit ibukota peradaban langit Alba, Yang Mulia,” kata Luska begitu bangga.
“Bodo amat, di mana bulan yang kaujanjikan?” tanyaku.
“Oh, iya ya, coba Yang Mulia dekati tiang bercahaya di tengah sana,” jawab Luska.
“Ayo, kau juga!” ajakku karena Luska masih diam di tempat ketika bilang begitu.
“Wah, sebenarnya saya ingin, tapi tidak bisa! Dari sini saja saya sudah kegerahan. Semakin ke tengah akan semakin panas bagi orang biasa seperti saya.”
“Panas? Gerah? Padahal hanya hangat!”
“Itu karena Yang Mulia adalah pewaris sah yang mendapatkan kristal bulan itu. Energi besar yang ada padanya tidak akan merepotkan Yang Mulia,” jawabnya. Sekali lagi aku menatap wajah Luska, mencari jejak-jejak kebohongan atau muslihat, tapi yang ada hanya senyum menyebalkan yang ingin kugampar.
Akhirnya kuberanikan diri mendekati tiang bercahaya itu. Tidak ada peningkatan panas seperti yang dirasakan Luska. Yang kulihat dari mataku adalah cahaya memancar yang kian redup seiring langkahku mendekat. Sesuatu yang mengambang di dalam rongga tiang silinder kaca ini benar-benar memancing rasa kagumku.
__ADS_1
“Bulan!!!” seruku senang, menempelkan wajahku sedekat mungkin seperti anak kecil di etalase toko mainan, tapi sungguh ... Miniatur bulan seukuran bola globe di dalam sana benar-benar seperti bulan yang di atas, memendarkan cahaya keemasannya. Sejenak aku ingat sesuatu yang dibahas saat konferensi tadi, tentang kristal bulan sebagai sumber energi peradaban atau apalah itu.
“Kristal bulan lebih tepatnya, Yang Mulia,” kata Luska mengoreksi kata-kataku.
“Yang dibahas dalam konferensi tadi ‘kan?” tanyaku.
“Ya, dari kristal ajaib inilah kami bisa membuat awan menjadi rumah sementara kami, mengembangkan ilmu dan teknologi di atas peradaban yang mengagumkan. Tanpa ditemukannya kristal bulan, peradaban Negeri Putih pasti tak akan terselamatkan saat ekspansi yang merenggut ibukota di daratan benua utama.”
“Oh, jadi sekarang kalian sedang berusaha mencari kristal bulan sebanyak-banyaknya?” tanyaku. Luska menghela napas.
“Yang Mulia sungguh tidak ingat?” tanyanya.
“Ingat apa?”
“Kristal bulan bukan harta karun yang kami temukan dengan pencarian panjang atau penjelajahan, tapi itu semua berkat Yang Mulia. Sepanjang sejarah, hanya Yang Mulia yang pernah mengalahkan Dunia Kelabu. Energi jahat penyusun dunia terkutuk itu lenyap dan sisa energi kebajikan yang terperangkap di dalamnya berubah menjadi kristal sumber kehidupan ini. Kami memungutnya untuk menyelamatkan peradaban yang tersisa,” jelas Luska.
“Aku benar-benar pernah melakukannya?”
“Terlalu banyak bukti untuk dipercaya. Salah satunya kristal bulan ini tidak bereaksi negatif kepada Yang Mulia karena Andalah pemilik aslinya.”
“Tapi ... aku sungguh tidak ingat.”
“Benar, Yang Mulia, ternyata di situ masalahnya. Setelah melihat yang terjadi di sini, saya mengerti. Anda hanya tidak ingat, bukan berarti tidak pernah menang dari Dunia Kelabu. Itu sebabnya, Yang Mulia harus berhenti menyangkal bahwa Anda bukan pewaris sah, ratu kami. Yang Mulia juga pernah menaklukkan Dunia Kelabu. Tidak apa-apa bila Yang Mulia melupakan fakta itu. Kami akan bekerja keras mengembalikan ingatan Yang Mulia.”
“Bisa seperti itu?”
“Bisa ....”
Beberapa detik terdiam, menimbang-nimbang. Tawaran pemulihan ingatan itu terdengar menggiurkan. Dengan teknologi maju negeri ini, hal semacam itu pasti bukan sesuatu yang mustahil.
“Baiklah, perlahan aku mulai bisa percaya. Faktanya memang ada sebagian ingatanku yang hilang dan barangkali itu memang berkaitan dengan Dunia Kelabu!” jawabku.
“Nah, baguslah jika Yang Mulia mengonfirmasi hal itu! Saya akan melaporkannya pada Kepala Dewan,” balas Luska.
“Oke, lalu langkah apa yang akan ditempuh untuk memulihkan ingatanku?”
“Hm, mungkin pemindaian pita memori untuk menentukan bagian yang rusak. Kami akan mendiskusikannya dengan ahli medis.”
“Ayo kita kembali! Yang Mulia butuh istirahat cukup untuk hal itu besok.”
“Sebentar, jelaskan padaku dulu, pemindaian apa ... Ah!”
Cubitan di pangkal hidungku adalah jawaban dari Luska. Kesadaranku segera hilang setelah itu, jatuh pingsan.
“Sudah saya katakan, Yang Mulia harus istirahat.”
****
Kelopak mataku yang terasa berat enggan membuka. Sekalinya berhasil, aku hanya mengerjap beberapa kali, lebih memilih tetap bergeming. Kenyataan bahwa aku terbangun di tempat tidur adem dan selembut sutra, dikelilingi roncean tirai dari mutiara dan permata, harusnya membuatku senang luar biasa, tapi ... ternyata tidak juga.
Sejak malam pertama di menara Aquila, aku selalu berharap terbangun di tempat tidur bersprei Doraemon, disambut pandang oleh nakas yang ditumpahi kertas dan buku-buku, tersuguhi pemandangan dinding-dinding penuh sticky note bertuliskan segala target, motivasi, dan anganku. Ah, untuk pertama kalinya, aku merindukan sekotak dunia zona teritorial pribadiku itu.
“Selamat pagi, Yang Mulia!” kata seseorang tiba-tiba datang, menyibak tirai di sekeliling tempat tidur. Mengenali suaranya, aku segera pura-pura mati.
“Wah, sekalinya benar-benar istirahat malah semakin dikuasai lelah ... Aduh!”
Hadiah timpukan bantal ke wajahnya tidak bisa ia hindari. Habisnya ... Ya ampun!
“Kau tidak berhak keluar masuk kamarku tanpa izin! Ah, apa-apaan ini?! Privasiku lebih terjaga ketika aku menjadi gadis biasa di rumah!” omelku sebal. Lawan bicaraku selalu saja tersenyum tiap kali menjadi sasaran amukku.
“Pelayan sudah membangunkan Yang Mulia sejak tiga jam lalu, tapi tidak ada tanda-tanda Yang Mulia segera bangun. Saya khawatir ada hal buruk terjadi ....”
“Hal buruk terjadi! Benar!” ujarku kembali membenamkan wajah di bantal, berteriak sekencang yang kubisa. Teriakanku yang teredam malah terdengar semakin menyedihkan. Luska semakin menatapku khawatir.
“Ma ... maaf, Yang Mulia, apa benar telah terjadi sesuatu?” tanyanya. Tolong, aku lelah karena selalu mengingat dan mencemaskan hal ini berulang-ulang.
“Yang Mulia?”
“Habislah! Aku sudah menghilang tiga hari! Pagi ini harusnya masuk sekolah ... Jadwal minggu ini ujian ... Ah, pengujung masa sekolahku kenapa harus begini?” gumamku putus asa, “oh ya, ini lebih penting. Jika aku masih harus di sini lebih lama, tolong kabari orang tuaku bahwa aku di sini baik-baik saja. Karang cerita yang bagus bahwa kalian membutuhkanku untuk situasi yang tidak berbahaya atau apalah! Aku tidak ingin mereka semakin cemas!”
__ADS_1
“Yang Mulia ... Yang Mulia tenang saja. Saya telah mengurus semuanya,” kata Luska.
“Mengurus bagaimana?”
“Hm, untuk sekolah, saya telah mengirimkan surat izin sakit ...”
“Itu hanya berlaku tiga hari. Jika melebihi itu tolong buatkan lagi, tapi ... ya ampun ....”
“ ... Untuk keluarga Yang Mulia, saya telah menghipnotis mereka agar sejenak tidak mengingat keberadaan Anda.”
“ITU MALAH LEBIH BURUK!” pekikku sambil mencak-mencak, “kau menghapus keberadaanku dari ingatan mereka, ha?!”
“Bukan dalam artian sebenarnya, hanya semacam hipnotis. Efeknya pun tidak permanen.”
“Tetap saja kau sembrono! Tidak pintar! Aaarghh!” geramku semakin kesal, “coba pikirkan ketika aku sakit melebih tiga hari, lalu teman-teman datang menjenguk dan setibanya di rumah ibu akan menjawab, ‘Apa? Shira? Aku tidak punya anak bernama Shira!’ dan situasi semakin memburuk ketika anak tetangga juga datang, ‘Tante, aku mau minta tolong Kak Shira ajari bikin PR' kemudian ibu semakin frustrasi dan berteriak, ‘SIAPA ITU SHIRA?! AKU TIDAK PUNYA ANAK GADIS BERNAMA SHIRA! TIDAK PERNAH!’” ujarku meniru gaya ibu ketika luar biasa panik.
Oke, faktanya akulah yang paling panik sekarang. Luska hanya tertegun menonton drama soloku tadi.
“Kau tidak terpikirkan ke sana ‘kan?!” semburku sekali lagi.
“Oh, benar. Saya tidak mengira akan jadi sekacau itu,” gumam Luska.
“KAN BENAR! Aduh, aku tidak mau tahu! Jika kau ingin aku fokus menyelesaikan masalah di sini, tolong urus betul-betul kehidupanku di Nigra. Jika tidak, aku akan lebih sibuk memikirkan karangan cerita untuk kujelaskan sekembalinya dari sini ... dan jangan bilang kalau aku akan dipaksa menetap di sini! Tidak, tidak akan!” omelku panjang lebar. Ah, sial! Kenapa jadi berantakan begini?!
“Baik ... baik, Yang Mulia! Saya akan mengatur ulang semuanya,” kata Luska, “tapi untuk pagi ini kita akan menemui ahli medis. Yang Mulia ingat? Pemindaian pita memori ....”
“Ah, iya ... Oke, kita harus bergegas!” jawabku tak ingin menunda-nunda karena ....
Ingatanku akan segera dipulihkan! Hore!
.Bersambung.
Oke, episode sepuluh! 💞Sepertiga dari target bulan ini. Atas request beberapa pembaca, kali ini author hadirkan bintang tamu kitaaa, 😎Elang Dirgarajaaa yang tiba-tiba banyak ditanyain orang.
Elang : Heh, apaan?!
Author : Nah, silakan selesaikan urusanmu sama pembaca. Kamu ada utang kan sampe ditanya-tanya terus? iya kan?
Elang : Heh, bukannya gitu thor! Habisnya aku memang populer dan ini gara2 author yang tiba2 ganti jadwal sekuel Kelabu. Dari yang katanya dibikin bulan Agustus, ternyata malah dibikin Juni
Author : Iya, dong! Katanya sekitar bulan Agustus kau dah sibook kuliah! Makanya bulan ini ajaa
Elang : Yah kan author tahu sendiri aku musti belajar buat seleksi masuk kuliah
Author : Oh iya 💔author lupa
Shira : 😣Thor aku harusnya juga belajar loh
Author : Ish, diem! Shira belajar peka aja, oke?
Shira : Hee?😮
Elang : Nah, alasan absenku bukan karena jadi bintang novel lain loh ya, tapi tenang aja, aku bakal menyusul di episode-episode selanjutnya setelah kebut belajar
Garuda : oke deh jangan lama-lama belajarnya, ntar Shira keburu diambil Lus ... buset Aang napa mendelik?!😓
Elang : Jan bacot makanya😑
Author : Garuda jugaa ngapain tiba-tiba nongol? Kamu kan tidak diundaang, ayo balik syuh syuh!
Shira : Kak Garuda sabar nunggu jatah tayang ya!😅
Garuda : Siap, Raaa! Gak sabar nih dapet popularitas kayak Aang. Ehee😂
Author : (geleng-geleng) Ish ish, dasar! Oke, sekian dulu bincang-bincangnyaa. Elang sudah kasih penjelasan tuh, pembaca sekalian! Ditunggu aja ya^^
Elang : Makasih udah ngangenin aku, gaiss😳
Shira : Makasih udah tetep dukung Kelabu ya teman-teman! Selamat membaca kelanjutan kisah kami!😘
__ADS_1
Author : Sampai ketemu di episode selanjutnya!🙆