Kelabu

Kelabu
Episode 22


__ADS_3

Serial animasi yang kutonton harus terpotong di tengah episode sebab layar laptopku tiba-tiba hitam tanpa peringatan. Kulihat indikator baterainya, sekarat, perlu diisi ulang. Meregang badan kemudian merangkak malas mendekati nakas di ujung tempat tidur, kucari charger laptop di antara tumpukan buku yang semrawut bercampur dengan kabel-kabel kehidupan lain –seperti charger ponsel, power bank, dan earphone. Seketika aku ingat penyebabku maraton nonton animasi sejak 5 jam lalu. Seperti kondisi di atas nakas ini, begitulah segala keruwetan memenuhi pikiranku.


Banyak hal yang terjadi hari ini dan yang akan terjadi nantinya justru lebih banyak. Kasus yang menimpa Elang, masalah di dunia kelabu, lomba menulis yang setengah sadar langsung kusanggupi saja itu, jadwal UTS minggu depan, semuanya menggencetku bersamaan. Belum lagi tugas yang lain-lain. Aku ingat betapa tadi kepalaku ingin meledak hingga kuputuskan menghibur diri menonton ulang animasi komedi ini untuk kesekian kalinya. Ah, mungkin aku memang tidak bisa tertawa karena lelucon yang sama, tetapi setidaknya ketegangan di kepalaku sedikit mengendor. Sayangnya, bukan berarti sepenuhnya aku lupa dan seluruh masalah berakhir begitu saja.


Gara-gara itu aku jadi tidak belajar dan lupa menanyakan buku PR-ku kepada Nike. Aku yakin dia sekarang sudah tidur, tetapi mungkin saja besok pagi begitu ia membuka mata adalah ponsel benda yang pertama dicarinya. Aku berniat mengiriminya pesan sebelum ponselku di tepian nakas jatuh terbanting disusul buku-buku diktatku satu per satu menimpanya. Sambil mengutuk diri sendiri yang ceroboh, aku segera memungut benda itu dan berharap dia baik-baik saja. Layarnya berkedip lemah dalam mode malam ketika kuaktifkan kembali. Syukurlah, tidak ada kerusakan serius.


Layar utama menampilkan waktu pukul 23:57. Ratusan obrolan dari grup kelas masuk, meributkan ulangan Bahasa Indonesia yang besok sangat mendadak. Aku menguap sambil memeriksa pesan-pesan yang tertimbun. Empat jam yang lalu Pak Hanri menghubungiku, meminta kesaksian atas kasus yang menimpa Elang.


Kuceritakan semua kronologi penemuanku di tas Elang, segala kecurigaan, dan tuntutanku agar Pak Hanri mencegah tersebarnya kabar miring itu. Terkantuk-kantuk kuketik semuanya kemudian Pak Hanri membalas.


“Baiklah, saya akan memikirkannya dengan jernih. Semuanya butuh proses. Ada beberapa hal yang perlu dibuktikan. Kita tidak bisa menuduh seseorang tanpa bukti 'kan?” Pak Hanri kembali mengetik kemudian aku segera menjawab.


“Jika saya diperlukan, saya akan turut membantu,” balasku.


“Dan kita tidak bisa sepenuhnya mempercayai seseorang sebelum ada bukti 'kan?” Begitu pesan Pak Hanri tepat sebelum pesanku terlepas. Kantukku hilang seketika. Ha? Apa katanya?


Aku ingin segera membalas tetapi Pak Hanri meninggalkan obrolan.


 ****


Samar-samar setitik cahaya terlihat di ketinggian. Tak cukup terang –bisa dibilang redup– tetapi di langit yang gulita cahaya tetaplah cahaya, menerangi sekelilingnya.


Aku terbangun dengan kepala berdenyut. Pandanganku yang berkunang-kunang perlahan normal setelah beberapa detik mengumpulkan kesadaran. Aroma lembab dan atmosfer suram di sekitarku bukan hal asing lagi. Sudah bukan hal yang mengejutkan bahwa aku akan terisap di dunia mengerikan ini setelah beberapa menit yang lalu terlelap di dunia asalku. Ah, sampai kapan mimpi buruk ini akan terus mengganggu? Oh, mungkin tidak, ini lebih dari sekedar mimpi buruk!


Sempat sesaat aku mendongak, memperhatikan sumber cahaya temaram yang tak lain bulan purnama setinggi beberapa meter dari puncak atap lantai dua. Posisinya sedikit lebih tinggi dari saat pertama aku melihatnya. Sekali lagi kuulang kata-kataku, harusnya sangat indah melihat bulan sedekat ini, tetapi ada apa dengan cahayanya?


Raungan monster terdengar dari kejauhan, jauh sekali, sepertinya di sudut belakang. Posisiku sekarang ada di depan tangga dekat UKS. Normalnya butuh waktu yang lama bagi monster itu untuk mencapaiku, tetapi sejak kuingat dia memiliki kemampuan teleportasi maka dia boleh jadi muncul di depanku saat ini juga. Tidak, aku tidak mau, aku harus bergabung dengan Elang dan Sakti yang sekarang entah di mana.


Aku buru-buru memanjat tangga ketika keributan tiba-tiba menyeruak dari barisan pohon. Angin puyuh dahsyat seolah menyisir pepohonan, menumbangkannya beberapa, lalu menerjang deretan bilik ruang guru dan lobi depan. Begitu masifnya bahkan lantai dua gedung itu turut runtuh. Ya ampun, ujung koridor lantai dua itu adalah kelasku! Aku ternganga melihat sesuatu yang terempas bersama angin puyuh itu masih sanggup bergerak. Monster jelmaan Sekti, bahkan ia kembali bangun dengan segar seolah empasan tadi tak berefek apa-apa. Sementara yang melepas angin puyuh tadi sepertinya sesuai tebakanku, Sakti. Tak berapa lama Elang juga muncul.


“Heh! Kau bilang tidak ingin membunuh saudaramu sendiri?!”


“Ah, iya, tenang saja. Dia tidak akan terbunuh hanya karena itu.”


“Lalu kenapa kau melarangku turut menghajarnya, hah?!”


“Tidak, tidak perlu! Biar kulakukan sendiri! Lebih baik kamu cepat temukan Shira!”


“Sementara kau bersenang-senang sendiri di sini? Tidak adil!”


Aku tersenyum kecut melihat adu bacot itu. Harusnya menyenangkan melihat Sakti dan Elang bisa bekerja sama satu sama lain, tapi ... ah, sepertinya memang Elang yang keras kepala dan susah diatur. Mustahil ada yang bisa berdamai dengan orang sepertinya, kalaupun ada aku sangat penasaran.


Entah sejak kapan pertarungan ini dimulai. Yang jelas monster Sekti kembali menyerang keduanya dari sembarang arah, memanfaatkan teknik teleportasinya untuk muncul di mana pun sesukanya. Beruntung Sakti dan Elang sama-sama petarung tangguh. Namun, tidak seperti Sakti, Elang lebih menguasai pertarungan jarak dekat. Itu terlalu berisiko untuk menghadapi makhluk sebuas monster Sekti. Bodohnya, kenapa aku malah menonton? Tanpa kusadari posisiku di lantai dua ini justru sangat terancam sebab bila terimbas pertarungan mereka, gedung ini mungkin bernasib sama seperti gedung depan tadi, luluh lantah.


Baru saja aku hendak beranjak tiba-tiba Elang terlempar, tubuhnya menimpa bilik di belakangku. Aku pun nyaris terhantam juga bila terlambat menunduk sedetik saja. Bisa kurasakan lututku gemetar menatap kepulan debu seiring dengan rontoknya dinding-dinding bilik ini. Erangan lemah di dalam memaksaku masuk.


“Lang? Lang! Kamu masih hidup 'kan?!” tanyaku panik. Dia tidak bergerak, telentang tanpa daya, badannya bermandi keringat dengan beberapa memar di sana-sini. Cairan merah merembes dari hidungnya.


“Argh, doamu belum terkabul. Aku masih hidup,” desis Elang rendah. Aku lega masih ada jawaban darinya. Memangnya siapa yang mengharapkannya mati?!


“Candaan seperti itu sangat tidak lucu di saat seperti ini,” jawabku setengah bingung, mendadak bodoh karena tidak tahu harus berbuat apa. Sebelum banyak berbuat pun, lantai tempatku berpijak goyah.


“Apa yang ....”


“Awas!”


Elang hanya sempat menarik kepalaku agar menunduk. Kejadian berikutnya begitu singkat ketika kurasa gedung ini benar-benar runtuh. Segala rasa sakit menimpaku dengan instan bersama puing-puing bangunan yang menindihku. Aku tak sempat mengkhawatirkan Elang yang sebelumnya sudah terluka. Kondisi ini pasti memperburuk keadaannya.


“Shir, kakimu tertindih balok,” kata Elang. Aku hanya bisa mengintipnya dari celah jemari yang sempat melindungi kepalaku tadi. Separuh tubuh kami bisa dibilang selamat, tidak seluruhnya tertimpa reruntuhan, tapi ....


“Tapi jika kau bergerak sedikit saja, puing-puing tidak stabil di atas sini akan benar-benar runtuh dan menimbun kita sepenuhnya,” tambahnya. Aku menelan ludah, mengerti betul konsekuensi itu.


“Jadi tolong ....”

__ADS_1


“Baik, aku mengerti ... aku akan tetap seperti ini sampai ... sampai kapan?” tanyaku. Elang sama-sama pasi, ia sendiri mungkin tidak tahu.


“Sakti tidak akan lama. Dia akan segera membereskan monster itu dan menolong kita,” jawabnya pura-pura tahu. Sempat kurasakan tangannya di rambutku bergerak pelan seolah berkata, “Bertahanlah!”


Sepuluh menit berlalu tanpa mengubah posisi sesenti pun, nyeri perlahan mulai merambat naik seolah menggerogoti sepanjang lengan kaki kananku. Aku hanya menggigit bibir. Di luar sana suara-suara keributan tak kunjung reda. Tak bisa kubayangkan bagaimana repotnya Sakti menghadapi monster itu sendirian.


“Apa ini hanya perasaanku saja?” tanyaku memecah kecanggungan.


“Apa?”


“Monster Sekti sepertinya hari ini lebih ganas. Daya tahannya yang luar biasa itu kian tak biasa.”


“Ya, bahkan gelombang suara berintensitas tinggi yang merupakan kelemahannya juga sudah tidak mempan,” jawab Elang, “apa tak ada cara untuk menjinakkan makhluk itu?”


“Sakti tidak pernah menyinggungnya. Dia selalu bilang bahwa tak ada cara lain selain menghindar. Seolah memang mustahil untuk menjinakkan monster itu.”


“Jika demikian, kau mungkin tidak suka, Shir. Sepertinya mereka akan bertarung hingga fajar.”


“Apa?!”


“Monster itu mengincar kita, dia tahu kita terjepit di sini. Sementara Sakti tidak bisa berhenti menghalaunya agar monster itu tak mendekati kita hingga fajar tiba, hingga fase monster brutal Sekti berkakhir,” jelas Elang. Sampai fajar? Terus seperti ini?!


“Yang benar saja! Apa kita benar-benar hanya menunggu Sakti? Kuharap ada sedikit celah bagi kita untuk lolos dari sini dengan selamat,” jawabku tak bisa menyembunyikan kegelisahan, tanpa sengaja sedikit menggerakkan kakiku. Reruntuhan di atas kami berderak. Aku memejamkan mata rapat-rapat, bersiap dengan segala kemungkinan.


Embusan angin tiba-tiba terasa di sekitar kami, menerbangkan debu-debu bahkan reruntuhan yang nyaris menimpa aku dan Elang. Beban yang menindih kakiku turut terangkat, tetapi kakiku tak merasakan apa-apa, mati rasa.


“Aku ... maaf aku terlalu lama! Kuharap aku tidak terlambat,” ujar suara yang sudah kunanti-nanti.


“Tepat waktu,” jawabku mencoba bangun dibantu uluran tangan Sakti sementara Elang masih terbatuk-batuk.


“Ya ampun, Shira! Kakimu! Aduh, Elang juga terluka!” seru Sakti tak pernah terlihat sepanik ini, “aku bisa mengobatinya, tapi tidak di sini. Ayo, pindah ke bilik sebelah!” kata Sakti sekali lagi sudah menggendongku di punggungnya. Ia juga membantu Elang yang bersusah payah berdiri.


“Kau berhasil menghalau monster itu?” tanya Elang sesekali meringis menahan sakit.


“Iya, tapi tidak lama,” jawab Sakti kemudian raungan yang tak ingin kudengar menggaung dari kejauhan, “tuh, benar ‘kan?”


“Sial! Bilik ini tidak bisa dibuka!” kata Elang.


“Sebelahnya lagi!”


Kami bergeser ke pintu terdekat ketika monster Sekti terlihat tak begitu jauh. Sakti bisa saja langsung lari, tetapi Elang yang berjuang menyeret kakinya tidak. Aku hanya memejamkan mata sambil berdoa, berharap hidupku tak berakhir di sini.


“Shira, kamu bisa turun,” kata Sakti menyadarkanku. Rupanya ketika aku membuka mata kami berhasil mencapai bilik. Tanpa sadar aku memeluknya erat seperti pengecut yang ketakutan. Elang hanya merebah di lantai tak berdaya. Monster di luar masih mengamuk mencoba mendobrak pintu yang ditahan Sakti. Aku khawatir ia tak sanggup menahannya sendiri.


“Ya, sepertinya ini memang sulit,” jawab Sakti mengerti sesuatu yang kupikirkan.


“Aku masih bisa menahan rasa sakit, kok! Biarkan aku membantu!” ujarku.


“Aku ragu itu akan berhasil, monster itu sudah tahu posisi kita. Dia hanya akan semakin membuas,” jawab Sakti.


“Maksudmu kita harus pindah dan menghilangkan jejak? Itu juga mustahil, kita sudah terperangkap di sini dan maaf saja, aku tidak sanggup berjalan lagi,” jawab Elang.


“Ah, mungkin kalian lupa kalau aku juga bisa berteleportasi,” kata Sakti terdengar sedikit melegakan.


“Oh, benar! Kau bisa berpindah ke bilik mana pun!” pekikku senang seolah terselamatkan.


“Ya, selama di dalam bilik, kekuatanku yang itu bisa diandalkan. Ayo, semuanya berpegangan!” kata Sakti. Aku mengulur tangan kepada Elang. Kami bertiga terhubung. Tepat ketika pintu bilik hancur, kami sudah berubah menjadi kunang-kunang ungu yang memudar menuju suatu tempat.


Sensasi aneh muncul ketika kembali kurasakan gravitasi. Teleportasi kami sukses. Kami telah berpindah di bilik lain yang sedikit lebih baik. Sitem waktunya yang berlawanan dengan di luar membuktikan bahwa bilik ini utuh tanpa celah, tidak terintervensi oleh waktu malam hari di luar.


“Puh, kalian baik-baik saja?” tanya Sakti.


“Tidak, bisa kau lihat sendiri,” jawab Elang bersungut-sungut.

__ADS_1


“Eh, jangan marah, dong! Bukankah sudah kukatakan jangan bertarung jarak dekat dengan monster itu. Dia jadi punya banyak kesempatan untuk menarik lehermu lalu mengempaskannya kuat-kuat,” jawab Sakti.


“Ya mohon maaf, aku tidak punya kekuatan angin-anginan sepertimu yang bisa dikendalikan dari jauh. Ah, aku kan tidak sekeren itu. Aku tahu!”


“Sudahlah, Lang! Tidak ada yang mempermasalahkan kekerenanmu! Sakti juga tidak berharap kamu terluka seperti ini. Ah, aduh ...” pekikku kaget. Sakti memulai teknik penyembuhannya padaku.


“Sendi di lututmu geser, Shira. Ini mungkin sedikit sakit. Tahan ya!” ujar Sakti sambil menyentuh lembut daerah yang dimaksud. Lembut, tetapi ngilu setelahnya membuatku harus menggigit bibir demi menahan teriakanku.


“Isi kepalanya tidak geser kan, Sakti? Kalau iya tolong benahi juga. Akan sangat merepotkan bila ....”


“Kelemahan isi kepala Shira adalah memorinya. Dia tak peduli detail dan tak mau mengingat sesuatu yang menurutnya tidak penting. Jika benar ada masalah dengan kepala, kemungkinan Shira bisa tidak ingat denganmu, denganku juga. Kau mau seperti itu, Elang?” tanya Sakti. Tidak ada jawaban. Aku sendiri terkejut Sakti bisa membacaku sejauh itu.


“Eh? Aduh, jadi canggung ya? Maaf, aku tidak bermaksud menakut-nakuti. Kupikir Elang akan dengan sombong seperti biasa dan berkata, ‘bukankah tidak penting Shira mengingatku atau tidak?’ Maksudku, hei, aku hanya bercanda. Kalian masih suka bercanda kan?” tanya Sakti malah tidak enak sendiri.


“Apa tidak apa-apa kau membiarkan pintunya seperti itu?” tanya Elang banting setir pembicaraan. Sakti masih sibuk memulihkan kakiku.


“Tidak apa-apa, aku menggunakan teknik kuncian. Sepertinya Shira sudah tahu teknik itu ‘kan?” jawab Sakti.


“Ya, seingatku, terakhir kali kamu mencobanya tidak begitu menjamin keselamatan. Apakah benar tidak apa-apa dibiarkan begitu?” ujarku mengulang pertanyaan.


“Tidak apa-apa, posisi kita sudah cukup jauh dari monster itu. Semoga dia tidak menemukan kita hingga fajar,” jawab Sakti. Ah, semoga saja! Kuharap fajar tak lama lagi.


“Sudah, Shira. Coba gerakkan kakimu,” kata Sakti mengakhiri sentuhan sejuk di kakiku. Aku menurut. Hanya disentuh seperti itu bisa sembuh, keren kan? Sakti mungkin akan jadi tabib terkenal jika ia hidup di dunia asalku.


“Terima kasih, kakiku pulih seperti tak pernah cedera!”


“Bagus, sekarang giliran Elang.”


“Kalau begitu aku akan berjaga di pintu!” jawabku. Sakti menghampiri Elang, memeriksa punggungnya. Dia bilang rusuk belakang Elang ada yang patah. Aku merinding tak sanggup membayangkannya.


“Apa pedang itu masih tertanam di sini?” tanya Sakti.


“Tidak tahu, mungkin iya,” jawab Elang singkat.


“Wah, pantas saja. Normalnya kamu sudah pingsan jika hal ini terjadi, tapi sepertinya pedang ajaib itu memberimu banyak kekuatan,” jelas Sakti. Tangannya di punggung Elang mengeluarkan cahaya putih dengan bunyi seperti kesiur angin. Elang sesekali merintih, penampilannya sangat kacau. Teknik penyembuhan Sakti baru diselesaikan di satu titik. Aku yakin masih banyak lagi bagian tubuhnya yang terluka.


“Kenapa monster Sekti sangat marah hari ini?” tanyaku.


“Oh, itu biasa terjadi setelah musim dingin ketika ia banyak berhibernasi. Dia menjadi lebih agresif setelahnya, mungkin hanya untuk hari ini saja,” jawab Sakti.


“Baguslah, tidak bisa kubayangkan jika setiap hari dia seperti itu. Bisa-bisa seluruh bilik di dunia ini hancur tak bersisa,” komentar Elang.


“Meski begitu, Sekti akan memperbaiki semuanya ketika dia sadar, lho!” kata Sakti tersenyum kecil.


“Itu juga mengherankan. Kenapa dia mau memperbaiki sesuatu yang nantinya akan dirusak lagi? Ah, dasar monster labil!” jawabku. Sakti terkekeh pelan.


“Sekti paham bilik-bilik di sini adalah tempat berlindung Sakti. Lagi pula seandainya dia sadar, dia tidak mau merusak segalanya dan berusaha menangkap kita, Shir,” jawab Elang, “begitu kata Sekti di buku kuno yang sempat kubaca.”


“Wah, Elang sudah bisa membacanya? Luar biasa! Kuharap musim purnama berikutnya misteri jalan keluar dari tempat ini berhasil terpecahkan!” kata Sakti antusias. Aku tertegun, musim purnama?


“Eh?! Ada apa?!” seru Elang kaget ketika Sakti tiba-tiba tumbang di sebelahnya. Aku juga tak kalah panik. Ini bukan hal yang biasa bagi seorang Sakti.


“Tidak apa-apa, aku hanya lelah. Aku tidak punya masa hibernasi seperti Sekti, jadi ...” Sakti menjeda, berusaha menormalkan napasnya, “... jadi aku tidak punya simpanan energi yang bisa diboros-boroskan seperti Sekti. Aku akan kelelahan jika penggunaan energiku mencapai batasnya. Kalian tenang saja, aku ... aku hanya kelelahan,” jawab Sakti meyakinkan kami. Memang benar Sakti kelihatannya tidak apa-apa, tetapi kondisi Elang belum sepenuhnya pulih ketika Sakti sendiri tumbang.


“Oh iya, aku senang Elang berhasil memecahkan sandi di buku kuno itu. Kumohon, berjuanglah kalian berdua ...” kata Sakti memandangku dan Elang bergantian, “aku menyukai kalian dan mungkin akan kesepian bila kalian tiada, tetapi aku akan lebih senang bila jiwa pertama yang berhasil keluar dari sini adalah kalian berdua.”


Senyum Sakti saat ini terlihat begitu tulus. Aku bahkan tak sanggup menatapnya. Sejenak aku lupa bahwa dia berasal dari enam ratus tahun lalu dan sempat berharap dia bisa hadir di kehidupan asliku setelah kami terbebas nanti. Ah, aku melupakannya.


“Kuharap setelah ini tak ada lagi jiwa tersesat di tempat ini. Kalianlah yang terakhir dan ini juga musim purnama terakhirku, sebab musim purnama berikutnya adalah pertarungan hidup dan mati kita. Jalan keluar sudah harus terungkap,” kata Sakti.


Jika tidak?


“Jika tidak ... maka akan ada sepasang monster baru di dunia ini ...” jawab Elang. Sakti memejamkan mata, tak ingin hal itu terjadi.

__ADS_1


Musim purnama berikutnya? Apa yang bisa kutemukan bersama Elang hanya dalam satu bulan?


.Bersambung.


__ADS_2