
Karena tidak ada lawan, akhirnya seseorang di tengah arena kombat sana meminta disediakan rintangan dan alat-alat pendukung untuk berlatih parkour. Ia semakin giat berlatih sejak kemarin sore, sejak keberangkatan misi ke Dunia Kelabu semakin dekat. Yah, harusnya aku juga melatih kemampuan fisik, tetapi paling banter hanya lari dan peregengan otot. Jangan bandingkan diriku dengan Elang yang sudah terbiasa dengan olahraga porsi berat, tolong!
Melihat temanku demikian giatnya, kesadaran akan satu hal segera mencambukku. Meski tidak sekuat Elang, setidaknya kemampuanku tidak boleh jauh-jauh di bawahnya. Aku tak mau menjadi beban dalam misi nanti. Satu-satunya yang bisa kuandalkan adalah kekuatan hadiah dari garis keturunanku, teknik telekinesis itu. Tak mau menyia-nyiakannya, tanpa bersama Kak Garuda pun, kadang di dalam kamar aku juga berlatih sendiri. Semuanya masih serba susah. Menggerakkan benda berat melelahkan, sedangkan menggerakkan benda partikel kecil memang kelewat mudah sampai-sampai aku tidak bisa mengontrol arah gerakannya.
Sama seperti Elang yang belum merasa puas atas kemampuan dan ketahanan fisiknya yang sekarang, aku ingin bercermin darinya, belum berencana lelah dan menyerah.
“Ayo, Laaaang! Semangaat!” teriakku di pinggir arena, berasa menonton acara Ninja Warrior. Sejak masih menjadi teman sekelasku, aku tahu Elang adalah bagian dari organisasi bela diri, tetapi tetap saja rasa heran dan kagumku tidak bisa ditahan melihat dia cukup jago melewati tiap-tiap rintangan. Sejenak aku menyesali teriakanku tadi karena Elang sempat melirikku, mungkin kehilangan fokus beberapa detik dan berakhir jatuh jungkir balik di atas landasan yang beruntungnya lentur seperti trampoline.
“Eh, ma ... maaf, kamu tidak apa-apa ‘kan? Tidak ada yang cedera ‘kan?” tanyaku cemas menghampirinya yang masih telentang mengatur napas, barangkali agak kaget.
“Padahal cuma dikasih semangat, langsung hilang fokus,” kata Kak Garuda muncul entah dari mana.
“Siapa cewek ini, Gar?” tanya Elang yang terdengar menohokku.
“Aku hanya potong rambut dan kamu sudah tidak kenal, ha?!” protesku sebal. Tidak, Elang bukannya betul-betul tidak kenal, aku tahu tadi itu hanya ejekan.
“Siapa yang menyuruhmu?!” tanyanya ketus.
“Memangnya harus disuruh siapa-siapa dulu? Suka-suka hatiku, dong!” jawabku tak kalah ketus, mencoba membanggakan potongan pendek rambut baruku, “tak lama lagi kita berangkat ke medan perang, kamu tidak pernah tahu rasanya ribet direpotkan dengan rambut panjang!”
“Kenapa, sih, Ang? Shira tetap manis, tahu! Lihat, deh, pipinya malah kelihatan gembul!” timpal Kak Garuda ketika Elang hanya melengos sebal.
“Itu tidak terdengar seperti pujian, deh, Kak,” jawabku ragu-ragu meraba pipi. Jika memang terlihat demikian, setelah misi aku akan menenggak nutrisi penumbuh rambut banyak-banyak. Eh? Atau sebaiknya ... diet sehat?
“Huh, bikin ingat sama Dinara saja!” gerutu Elang.
“Hei, Shira jelas-jelas tidak sama dengan cewek bar-bar itu, tahu! Memangnya di mana matamu?!” balas Kak Garuda.
“Dinara siapa?” tanyaku tidak mengerti.
“Sepupu kami yang sekelas dengan Aang. Cewek bertampang preman yang sangat-sangat tidak kusetujui bila disamakan denganmu!”
“Oh, jangan-jangan yang bikin Elang marah-marah waktu di edufair itu ya?” tebakku yang ternyata benar.
“Sial, terakhir kali bersamanya akulah yang mengancam agar dia tidak keluyuran dan pulang tepat waktu, tapi ternyata sampai sekarang aku yang belum juga pulang,” kata Elang rupanya bisa gelisah, “sudah berapa hari kita di sini? Kau tidak bisa menghubungi papa atau mama?”
“Um, soal Dinara aku sudah melakukan ‘suatu hal' agar dia tidak bilang-bilang mama atau papa yang masih di luar negeri,” kata Kak Garuda menekankan kata ‘suatu hal' yang kutebak adalah hipnotis yang seperti dilakukan Luska pada keluargaku,” intinya aku sudah menciptakan bermacam-macam drama agar tidak ada yang curiga selama kamu hilang, termasuk orang-orang di sekolah, asisten di rumah, semuanya! Terima kasih sudah membuat Kakak repot, Ang!”
“Sama-sama! Itu juga bukan kehendakku!”
“Tapi sebentar lagi Luska dan Aquila akan dikirim ke Nigra ‘kan? Semuanya akan lebih normal dengan peran mereka!” jawabku.
“Ya, aku ditugaskan untuk mengawasi keduanya selama di Nigra, jadi aku juga akan pulang,” kata Kak Garuda.
“Oh, benar, tolong awasi Aquila terutama ya, Kak. Katakan padanya agar jangan memaksakan diri seandainya ia tidak tahan dengan kehidupanku dan orang-orang di sekitarku,” jawabku teringat hal semalam yang jelas menyiksanya. Pasti merepotkan bila harus menjadi orang lain yang sangat berbeda.
“Um, kenapa tidak bilang langsung padanya? Kebetulan aku dipinjami wrist tab yang terhubung dengan perangkat komunikasi tiap orang di Alba,” ujar Kak Garuda memamerkan sesuatu di pergelangan tangannya, seperti jam tangan berwarna gelap, tetapi teramat tipis dan rata, hanya seperti pelat logam –atau entah bahan apa– yang menempel fleksibel di kulit, “ini perangkat komunikasi generasi sebelumnya. Mereka meminjamiku untuk mendukung tugas pengawasan, tapi sebaiknya kuuji coba dulu sekarang.”
“Wah, wah! Boleh juga!” jawabku antusias.
“Jangan ke mana-mana, Ang! Kamu pasti juga ingin mengatakan satu dua hal kepada Luska ‘kan?” kata Kak Garuda sambil mengutak-atik pancaran layar hologram dari benda itu.
“Tolong sampaikan, jangan mencoreng reputasiku dengan berbuat semaunya selama berwajah serupa denganku. Itu saja,” jawab Elang beranjak pergi.
“Bilang sendiri!” balasku segera menariknya sebelum ia jauh. Elang hanya mendengus sebal.
__ADS_1
“Wah, panggilan video tertolak. Kita hanya terhubung dengan panggilan suara,” kata Kak Garuda.
“Maaf, aku dan Luska sudah mulai di-make-over. Ruangan ini tidak mengizinkan rekaman gambar atau bertukar foto,” jawab suara perempuan di seberang sana.
“Aquila! Aquila, kamu baik-baik saja?” serbuku.
“Saya sehat, Yang Mulia. Terlepas dari yang tadi malam, yah, emosi manusia memang melelahkan. Saya masih tak habis pikir bagaiamana Yang Mulia atau siapa pun bisa selamat dari depresi semacam itu,” jawab Aquila.
“Hm, sejujurnya aku yang tak habis pikir bagaimana kau selalu terhindar dari depresi semacam itu,” kata Kak Garuda, “meski sama-sama si wajah datar, adikku ini juga bisa sesekali ....”
“Bocornya mulutmu benar-benar tidak bisa ditambal ya, Gar?!” potong Elang memelototi kakaknya. Oh, benar, terkait perangai Luska semalam ketika dimasuki ingatan Elang, aku masih belum berhenti penasaran.
“Oh ya, halo, Luska! Kamu di sana masih diam saja? Jangan pura-pura tidak tahu! Aku juga menghubungkan panggilan ini denganmu!”
“Berisik, Garuda!” jawab Luska terdengar malas.
“Hai, kamu sendiri bagaimana, Luska? Sudah membaik?” tanyaku.
“Saya selalu baik-baik saja, Yang Mulia, tapi pemilik ingatan yang kupinjam itu tidak, bahkan hingga saat ini. Masih ada saja benang-benang kerisauan menggumpal di kepalanya.”
“Kau berkewajiban merahasiakan baik-baik apa pun yang ada di kepalaku, ingat?!” sergah Elang.
“Ah, iya, deh, iya ... Terserah! Aku bukannya senang harus menyimpan-nyimpan rahasia orang lain,” jawab Luska, “seandainya diizinkan, aku lebih memilih pergi ke medan perang bersama Yang Mulia.”
“Eh, su ... sudah, dong! Kupikir kalian sudah sepakat dengan tugas masing-masing,” jawabku memutus rantai cekcok yang bisa jadi terus memanjang ini.
“Saya dengar, Yang Mulia dan Kesatria Agung akan turun ke permukaan sebentar lagi ya? Untuk mencari pedang kristal itu?” tanya Aquila.
“Iya, Kepala Dewan dan beberapa pengawal akan turut mengantar juga,” jawabku agak deg-degan mengingat hal itu.
***
Lima puluh kilometer ke arah barat daya, menuju daerah bersih beradius sepuluh kilometer yang kubebaskan satu setengah tahun lalu. Rombongan kecil kami sedang menuju ke sana –hanya aku, Elang, Kepala Dewan, dan sejumlah punggawa. Meski menurut cerita Elang, Dunia Kelabu yang kami kalahkan hanya sebatas sisi lain dari sekolah, ternyata wilayah yang bersih di Alba bisa mencapai seluas itu.
Menurut laporan Profesor Cakra, beberapa monster dari Dunia Kelabu masih sering berkeliaran di daerah bersih itu walau telah dipasang penangkal sihir. Itu sebabnya belum ada pembangunan baru di sana. Hanya ada hutan hijau dikelilingi daratan beratmosfer gelap. Paxii tunggangan kami merendah ke pusat daerah itu di tengah-tengah, agak kesulitan ketika menembus dahan-dahan pohon besar yang mulai membentuk kanopi, menghalangi cahaya masuk ke dasar hutan.
“Selamat datang di tanah pembebasan, Yang Mulia. Tempat inilah terbitnya secercah harapan kami menyingkirkan Dunia Kelabu, tempat ditemukannya kristal bulan sebagai denyut kehidupan seisi Alba,” kata Ladra yang pertama kali turun dari paxii, menjejakkan kakinya di tanah lembap yang sama lembapnya dengan aroma udara.
“Seingatku tempat ini hanya tanah lapang luas setelah semuanya luruh menjadi debu cahaya,” kata Elang mengedarkan pandangan ke sekitar. Aku melakukan hal yang sama sambil menggesek-gesekkan telapak tangan, mengusir dingin dengan panas tubuhku sendiri.
“Benar, Kesatria Agung. Selama kurun satu setengah tahun, vegetasi dengan cepat menyebar dan menutup wilayah ini, tapi di tepi wilayah masih gersang. Monster yang berkeliaran sering mengamuk dan merusak banyak hal.”
“Monster ya? Seberapa banyak jumlah mereka?” tanyaku.
“Tidak banyak, Yang Mulia. Tidak banyak yang berkeliaran ketika siang hari seperti ini, tapi tetap ada meski hanya satu dua,” jawab Ladra.
“Atau tetap sama banyaknya karena tempat ini minim cahaya matahari,” sambung Elang, “sebaiknya kita tidak berlama-lama.”
“Ternyata meski di daerah bersih pun tidak menjamin sepenuhnya akan aman ya!” komentarku menyejajari langkah Elang.
“Benar, Yang Mulia! Keamanan dan kedamaian sesungguhnya adalah lenyapnya seluruh Dunia Kelabu,” jawab Ladra kemudian ia kembali memeriksa peta.
Kami telah sepakat menyisir daerah ini sedikit demi sedikit sesuai urutan yang telah kami tentukan sebelum berangkat tadi. Jika dalam radius satu kilometer di pusat ini kita belum menemukan tanda-tanda keberadaan pedang itu, maka kami akan ke utara, lalu bergerak searah jarum jam ke timur. Mungkin pencarian ini akan memakan waktu seharian karena benar-benar harus dilakukan secara manual.
Kedengarannya kamera mikro yang disebar ke segala penjuru menjanjikan cara termudah dan efisien, tapi Profesor Cakra sudah memastikan tidak ada perangkat elektronik yang bisa bekerja di sekeliling medan energi negatif Dunia Kelabu. Sempat juga terpikirkan membagi pasukan yang ada untuk memeriksa di empat penjuru dalam waktu bersamaan, tapi menurut catatan lama yang dipelajari Nona Yastra, pedang kristal itu mampu berkamuflase dan hanya menampakkan wujud aslinya di sekitar Elang. Jadi, pedang itu tidak akan ketemu jika tidak dicari bersama pemiliknya –kecuali Elang bisa mengganda menjadi empat, tapi jelas dia tidak bisa.
__ADS_1
“Oh ya, Lang ... Ngomong-ngomong, seperti apa wujud pedang itu? Bagaiamana dulu bisa ada di tanganmu?” tanyaku. Barangkali dengan mengetahui jawabannya, aku jadi punya ide menemukan cara mencari pedang itu dengan lebih cepat.
“Dulu, pedang itu datang sendiri kepadaku,” kata Elang, “terakhir kali di tanganku, ia begitu mengagumkan seperti terbuat dari kristal bening dengan cahaya lembut yang berkilauan menyelimutinya. Pertama kali kutmeukan, wujudnya belum seindah itu. Hanya pedang kayu biasa, tergeletak di sebelahku ketika suatu malam aku terbangun di Dunia Kelabu. Berikutnya aku mengerti ia bisa berubah menjadi bermacam-macam senjata yang kumau.”
“Wah? Sungguh?”
“Ya, kau sendiri juga sempat tahu, Shir, bahwa pedang itu suatu ketika tertanam di punggungku setelah aku menggunakannya untuk bunuh diri. Aku tidak bisa menggunakannya lagi, tapi sebagai gantinya ketahanan fisikku semakin kuat. Pedang itu terus tertanam di punggungku hingga malam musim purnama ketiga, setelah pertarungan puncak dengan kegelapan di hati kita masing-masing, hingga akhirnya pedang itu bisa kugunakan kembali.”
“Sepertinya pedang itu sendiri tahu kapan ia harus digunakan ya!” komentarku, “tapi kenapa setelah itu kamu tidak memedulikannya, heh?! Kenapa kamu meninggalkannya begitu saja?!”
Sesaat kemudian Elang menatapku dengan mata setengah mengantuknya, agak lama sebelum akhirnya menjawab, ”Karena saat itu ada hal lain yang harus kupedulikan ... yang kurasa lebih penting dari kekuatan ajaib mana pun.”
Gumaman Elang terdengar semakin lirih hingga semakin tidak jelas di akhir. Telingaku terlanjur terlambat menangkap dengar apa pun yang ia katakan barusan. Ada hal lain yang harus ia pedulikan, aku memintanya mengulang kata-katanya, tapi Elang malah menoyor kepalaku, mengataiku budek dan segala macam.
“Bukannya apa, tapi aku jelas mengerti kekhawatiran Nona Yastra akan jatuhnya pedang itu ke tangan yang salah! Sementara kamu yang menghilangkannya malah santai begini!” jawabku kesal.
“Santai bagaimana maksudmu?! Memangnya sekarang aku sedang apa?! Aku juga sedang mencarinya, tahu!” jawab Elang bersungut-sungut. Aku tak sadar bahwa Kepala Dewan sedikit cemas menatap kami bergantian yang seru adu bacot. Sekalinya sadar, aku jadi malu sendiri karena ribut di depan Kepala Dewan dan para punggawa ....
Jantungku terasa hampir copot begitu menyadari hal mengkhawatirkan lain. Tanganku tak sempat berpikir, mengarah pada salah satu punggawa dengan seringai mengerikan terbit di wajahnya. Senjata semacam shuriken ia lepaskan sesaat setelah berhasil berkelit menghindari angin kosongku, melesak mengoyak leher dan pundak punggawa lain. Kepala Dewan mengerang kencang setelah sisi tajam benda itu mengenai mata kanannya. Aku tak bisa menahan panik karena serangan mendadak ini, sama sekali tidak menyangka jajaran punggawa yang mengawal kami sedari tadi, disusupi orang jahat.
“Sialan! Siapa kau?!” tanya Elang dingin menatap sinis sosok penyerang kami yang sudah berpindah ke atas dahan. Hanya Elang satu-satunya yang masih berdiri setelah yang lain tumbang. Ada bercak darah di dada tiap punggawa yang punggungnya terkoyak senjata tajam tadi. Ini sungguh tidak baik bagi kewarasanku melihat mereka terbunuh dalam satu detik yang singkat.
“Halo! Aku selalu mencari-cari kesempatan untuk menyapa kalian. Akhirnya benar-benar tidak ada penghalang lagi,” jawab sosok itu masih dengan seringainya. Jangan-jangan ... dia orang yang mengejarku bersama Kak Garuda dan Aquila waktu itu?
Elang telah mencabut pedang baja satu-satunya yang ia bawa dari kastel, bersiap atas segala kemungkinan sementara aku seolah mengumpulkan semua kekuatanku di telapak tangan, segera melepasnya sebelum orang itu lanjut menyerang kami lagi. Mungkin gerakanku yang mudah terbaca, sosok itu masih dengan mudahnya melompat ke sana-sini seperti kucing, menghindari seranganku, bahkan mengembalikannya.
Angin yang kulepas seolah memiliki wujud yang bisa dilihat mata, seperti lembaran cahaya tipis yang mengiris udara, sedikit melukai lengan orang itu. Detik berikutnya angin itu berbalik, menghantam tanah yang segera berombak mengempaskan aku dan Elang. Guguran batuan hampir menghujaniku jika saja perisai cahaya terlambat melindungi aku dan Elang. Perisai itu bukan buatanku, tapi buatan seorang lagi yang baru muncul, yang sesaat menapak di atasnya untuk melompat menerjang orang jahat itu.
“Cih, sesekali bosanlah bermain dengan anak-anak!”
“Garuda ...” gumam Elang tidak percaya kakaknya bisa ada di sini. Bukannya tidak mungkin, tapi bukankah Kak Garuda sudah berangkat ke Nigra bersama Aquila dan Luska?
“Kaulah yang harus bosan menghalangiku!” jawab sosok jahat itu balas menyerang Kak Garuda, sedikit demi sedikit tak bisa menutupi sosok aslinya. Tidak lagi berwajah manusia, orang itu lebih mirip Griseo dengan bercak kulit hitam tebal seperti tumpahan aspal meluas di sekujur tangan, leher, dan wajah. Ia sengaja tidak menghindar ketika Kak Garuda melayangkan tendangan yang segera membuatnya terhempas di atas tanah, memuntahkan darah yang tidak sedikit. Kupikir dia akan mati atau minimal pingsan setelah itu, tetapi rupanya malah menyempatkan pamer seringai sambil mengucapkan sebaris kalimat, “Selamat bersenang-senang!”
Setelahnya jejak basah darah tadi meluas di tanah, menjadi atmosfer gelap yang menenggelamkanku dan Elang seketika. Sebelum ditelan ruang serba hitam tak bertepi, yang sempat kudengar hanya teriakan cemas Kak Garuda. Detik berikutnya benar-benar pekat membungkus pandangan, begitu gelap, begitu senyap. Seolah buta, aku bahkan tak bisa melihat tangan atau kakiku sendiri, tapi aku bisa merasakannya. Aku bisa merasakan tanganku ketika jemari lain meraihnya, bertaut semakin kuat setelah kurasakan gravitasi tanpa permisi menarik tubuhku ke satu titik.
“Lang ...?”
“Ya?”
Suara yang merespons sedikit membuatku lega. Syukurlah karena ini memang betul Elang. Tak peduli sebuta apa pun, yang kuinginkan saat ini hanya tidak sendirian. Ngomong-ngomong soal buta ....
“Entah kenapa aku ingat kau bisa melihat dalam gelap,” ujarku tanpa tahu Elang tersenyum.
“Tolong ingat-ingat sisanya ya!”
Lalu sensasi gravitasi itu berakhir begitu saja, tanpa empasan yang membuat tulang punggung patah atau sekujur tubuh remuk seperti yang kubayangkan saat jatuh dari ketinggian. Aku dan Elang telah berdiri di tengah tanah lapang luas dengan langit hitam tak bersahabat. Aku akan mengingat sisanya, sisa-sisa pemandangan yang tidak asing ini.
“Kau tahu tempat ini, Shir?”
“Dunia Kelabu ya?”
“Benar.”
.Bersambung.
__ADS_1