
Termangu di depan jendela, aku bosan setengah mati. Sejak kembali dari menemui Dokter Kara, tak banyak yang bisa kulakukan sementara menunggu keputusan selanjutnya dari Kepala Dewan. Homesick tingkat dewa, aku rindu betul dengan rutinitas lamaku. Bagaimana ibu dan ayah di rumah yang sekarang melupakan keberadaanku ya? Atau Yasinta yang berulang kali tidak bisa menghubungiku? Semoga kekacauan yang terbayang di kepalaku tidak terjadi!
Ingatanku belum bisa dipulihkan ketika aku sudah banyak berharap. Yah, ternyata masih ada satu harapan terakhir. Entah siapa nama yang disebut Ladra, yang diduga bertanggung jawab atas rusaknya ingatanku. Griseo ... Griseo, terdengar amat asing di telingaku. Ladra tak memberi banyak penjelasan sebelum akhirnya buru-buru pergi dan kembali ke ruang konferensi bersama Luska.
Ah, daripada seperti ratu, aku lebih mirip seperti anak-anak yang nasibnya ada di tangan keputusan anggota dewan kastel ini. Aduh, sekalinya nanti sudah jadi ratu sungguhan, pasti akan sangat merepotkan.
“Yang Mulia ....”
“Hm?” responsku singkat kepada seseorang yang selalu seenaknya keluar masuk kamarku.
“Yang Mulia baik-baik saja?” tanya Luska. Aku hanya menghela napas panjang. Tidak! Jelas tidak sejak semua ini dimulai! Kata-kata itu tertinggal di tenggorokanku. Terlalu melelahkan untuk terus mengeluh dan merutuki keadaan, aku sedang mencoba pasrah untuk takdir apa pun yang membawaku berakhir di mana pun.
“Yang Mulia jangan khawatir, kita akan tetap menempuh jalan terakhir untuk memulihkan ingatan Yang Mulia,” kata Luska lagi.
“Dan jalan terakhir itu ... apa?”
Luska meraih buku yang kemarin kubaca, duduk di sebelahku sambil membuka halaman pertama.
“Seperti yang sudah disepakati dalam konferensi tadi, kita akan menemui Griseo,” jawabnya.
“Sudah kuduga, memangnya Griseo itu siapa?” tanyaku lagi.
“Dia iblis yang telah merusak ingatan Yang Mulia.”
“Kepala Dewan memang bilang dialah pelaku perusakan ingatanku, tapi Griseo ternyata ... iblis?”
“Benar! Oh, Yang Mulia jelas tidak mengingatnya!” jawab Luska kembali menutup buku tadi.
“Jadi, begini ceritanya ... Griseo adalah iblis penguasa sepetak Dunia Kelabu yang telah ditaklukkan Yang Mulia. Di akhir perlawanannya, dia mungkin sempat merusak ingatan Yang Mulia untuk mencegah Yang Mulia menaklukkan sisa Dunia Kelabu yang ada,” jelas Luska.
“Oh, lalu kita akan menemuinya untuk memulihkan ingatanku?”
“Benar, terdengar berisiko dan saya sebenarnya sama sekali tidak setuju. Memangnya apa yang membuat Griseo berkenan untuk memulihkan ingatan Anda?”
“Terlalu menyeramkan untuk kubayangkan! Aku sendiri tidak mau! Dia hanya akan merusak sisa ingatanku!” jawabku merinding memikirkan hal itu, “tolong katakan pada Kepala Dewan, aku tidak akan pergi! Kenapa kalian memutuskan hal ini tanpa meminta persetujuanku?!”
“Yang Mulia tenang dulu. Keadaannya tidak seburuk yang Anda bayangkan!”
“Benar, tapi lebih buruk lagi!”
“Sungguh, Yang Mulia, dengarkan dulu! Saat ini Griseo dipenjara di pulau terpencil di tengah samudera. Kekuatan sihir gelapnya lenyap setelah Dunia Kelabu miliknya hancur.”
“Tapi dendamnya kepadaku sama sekali tidak akan lenyap! Tidak ada kemungkinan baik bahwa dia akan benar-benar memulihkan ingatanku!”
“Ada,” jawab Luska, “dengan menjanjikan kekuatan baru untuknya. Yah, tidak sungguhan, sih! Menipu iblis bukan termasuk hal berdosa, ya ‘kan?”
***
Tadi aku sempat menginginkan sesuatu dan sekarang harus terkabul secepat ini.
“Mari, Yang Mulia! Kita menunggang paxii seperti yang Anda harapkan tadi!” kata Luska terlihat paling mencolok dengan paxii berbulu keemasan yang mengantarku terbang ke atas awan beberapa hari lalu. Paxii tunggangan Kepala Dewan saja tidak secantik milik Luska, berbulu hitam legam dengan beberapa aksesoris di bagian kaki dan leher.
“Maaf karena lagi-lagi Luska yang harus mendampingi Yang Mulia dalam perjalanan,” kata Ladra, “saya akan mengawasi dari belakang. Jika Luska tidak bisa mengendalikan kecepatan tunggangannya, cambuk saya akan dipastikan melesat ke punggungnya.”
“Eh, jangan, dong! Nanti kalau malah jatuh sungguhan kan bisa gawat!” balasku sementara Luska hanya nyengir.
Kali ini yang mengantarku lebih banyak orang. Selain salah satu anggota dewan lain, Kepala Dewan juga mengajak serta sejumlah pengawal dengan paxii tunggangan yang sama hitam dengan miliknya. Aku juga melihat Dokter Kara dalam rombongan ini. Tanpa mengulur waktu lagi, kami segera berangkat, beriringan meninggalkan kastel.
Sepanjang daratan awan, paxii berjalan seperti kuda. Iring-iringan ini menjadi tontonan para penduduk dari jendela tinggi di rumah-rumah kotak mereka. Seorang bocah perempuan terlihat melambaikan tangan ke arahku, kemudian ibunya kelihatan menegurnya. Senyum bocah itu sempat luntur, tapi segera kembali setelah aku melambai balik. Si ibu jadi turut salah tingkah.
“Nah, perjalanan seperti ini baru seru!” ujarku.
__ADS_1
“Yang Mulia suka?” tanya Luska.
“Lumayan!” jawabku masih sesekali mengelus lembut bulu paxii. Binatang ini tampak tak terganggu dan terus menderapkan langkah stabilnya.
“Ngomong-ngomong, kenapa kali ini kita tidak bepergian dengan gerbong portal?” tanyaku.
“Karena kita akan pergi ke permukaan,” jawab Luska.
“Oh, gerbong portal tidak terhubung dengan permukaan ya?”
“Sebenarnya beberapa menara gerbang dimensi terhubung dengan titik akses gerbong portal di kastel, tapi satu-satunya menara yang masih berdiri telah hancur karena ekspansi Dunia Kelabu kemarin,” jelas Luska mengingatkanku kembali pada satu hal.
“Maksudmu, menara yang ditinggali Aquila dan neneknya?”
“Benar, Yang Mulia. Menara itu dulu dibangun untuk membuka portal antardimensi dari dan menuju Nigra, tapi portal tersebut sudah lama ditutup dan menara itu tidak terpakai lagi. Kami sempat menggunakannya untuk titik pemantauan ekspansi sebelum akhirnya pindah ke daratan awan. Ternyata sebagian sistem masih berfungsi dan sanggup membuka portal antardimensi untuk menjemput Yang Mulia.”
Bodo amat soal menara itu. Aku terdiam beberapa saat memikirkan betapa sedihnya Aquila karena harus kehilangan neneknya. Bagaimana kondisinya sekarang ya? Seandainya ada kesempatan, aku pasti akan menjenguknya.
“Oh ya, Luska, kenapa Aquila dan neneknya tinggal di permukaan?” tanyaku menyadari keanehan itu, “kenapa dia tidak ikut pindah ke daratan awan?”
Luska yang mengendalikan tali kekang di belakangku belum menjawab hingga beberapa saat. Ada apa memangnya? Oh, baru kuingat bahwa sebenarnya hubungan dua orang ini sama sekali tidak baik. Tidak hanya dari yang disampaikan Aquila bahwa Luska adalah bagian masa lalu yang tidak menyenangkan, tapi juga terbukti dari adu bacot keduanya ketika Luska datang menjemputku di menara waktu itu.
“Dia memang sudah tidak banyak peduli, tapi pasti ada beberapa hal yang perempuan itu sampaikan kepada Yang Mulia, benar ‘kan?” kata Luska malah balik bertanya.
“Benar, itu sebabnya aku penasaran kenapa dia tidak menyukaimu,” jawabku.
“Ada kaitannya dengan persaingan politik dalam pembentukan Tubuh Dewan Internal beberapa tahun lalu,” jawab Luska terdengar malas menceritakan hal ini, “Aquila yang merupakan pimpinan fraksi oposisi tidak mendapat dukungan rakyat dan dengan sisa egonya yang tak kian menyusut memutuskan untuk tetap tinggal di permukaan, menolak bergabung dengan kami di atas sini.”
Ah, jadi seperti itu. Aku tidak mengerti tentang politik atau sekadar berminat terhadapnya, tapi teramat sayang bila Aquila harus mempertaruhkan keselamatan neneknya untuk tetap tinggal di permukaan hanya demi menuruti ego. Memangnya apa yang begitu dia incar demi berada di tengah-tengah sekelompok orang berjudul Tubuh Dewan Internal yang sekarang pusing minta ampun demi memikirkan keselamatan banyak orang?
Aku sendiri dengan kepala kosong yang dibebani tanggung jawab besar begini kadang sesekali masih mengeluh. Sungguh, berada di posisi tinggi tidak melulu tentang kesenangan. Yah, pada dasarnya aku tidak suka ketinggian, dalam artian sebenarnya maupun bukan.
Gapura yang menyambutku pertama kali saat tiba di atas sini mulai terlihat tak jauh di depan. Beberapa penjaga di kanan kirinya menunduk hormat ketika iring-iringan kami lewat.
Setelah melalui gapura itu, daratan yang kulihat berkabut semakin tebal. Dua pengawal di depan lenyap ditelan gumpalan kabut, berikutnya aku dan Luska menyusul, juga beberapa orang di belakang kami. Aku masih ingat sensasi butir-butir embun sejuk menampar wajah, merayap di sekitar mata, dan denging di telinga saat pertama kali melalui kabut tadi.
Detik berikutnya kembali kubuka mata, disuguhi hamparan kolam mahaluas berbatas lengkung cakrawala. Menengok ke salah satu arah, terlihat puncak-puncak bukit di kejauhan penanda adanya daratan. Namun, bukan daratan itu yang sedang kami tuju. Jika tebakanku tidak salah, itu adalah daratan tempatku tiba pertama kali di sini, yang sekarang sudah dikuasai Dunia Kelabu. Kubah gelap yang bahkan juga terlihat dari atas sini memperkuat kebenaran tebakanku.
Daratan itu semakin hilang di balik horizon seiring gerak paxii kami yang terus menjauh. Aku tidak sempat melihat noktah kecil di tengah samudera ketika binatang tunggangan ini terbang merendah. Beberapa saat kemudian barulah terlihat olehku batu karang yang kesepian di tengah amuk ombak. Aku bahkan ragu apakah kami semua bisa mendarat bersamaan di bawah batu karang kecil ini.
Keraguanku terjawab setelah cahaya tipis kemerahan berbentuk lingkaran dengan corak heksagon rumit di tengahnya tampak sebelum paxii menapak di atas karang. Entah sejak kapan Luska telah melukai tangannya, meneteskan darahnya di pusat lingkaran cahaya itu. Kesiur angin yang datang tiba-tiba membuatku memejamkan mata beberapa detik. Ketika kembali kubuka, batu karang kecil tadi lenyap. Kami telah mendarat di atas hamparan pasir pesisir. Aku tidak mengerti bagaimana pulau kecil yang kering kerontang ini tadi tersembunyi dalam wujud batu karang yang bisu.
Kami bergerak menuju tengah pulau yang semakin cekung ke dalam. Ada lubang menganga seperti mulut gua yang menuju bawah tanah, melompong tidak tertutup apa-apa.
“Griseo, iblis yang telah merusak ingatan Yang Mulia terkurung di dalam sana,” kata Ladra.
“Terkurung? Mulut guanya terbuka begitu saja,” bantahku, agak was-was akan hal itu.
“Gua ini lebih rendah dari permukaan laut. Jika Griseo mencoba keluar dari pulau ini dan menabrak segel cahaya tadi, air laut akan menenggelamkan seluruh pulau,” jelas Ladra.
“Griseo dengan kekuatan kosong seperti sekarang ini takut dengan air, asal Yang Mulia tahu,” tambah Luska. Wah, seperti Shiro saja! Apa kabar bola bulu itu ya?
“Meski Griseo telah kehilangan kekuatannya, kita tetap harus waspada,” kata Ladra turun dari paxii diikuti yang lain. Dua orang pengawal bersama Dokter Kara tidak ikut masuk. Aku, Ladra, Luska, dan dua pengawal menuruni lubang cekungan itu. Tangga akses masuk menciptakan bunyi detak ketika beradu dengan langkah kami. Aroma lembab yang tercium semakin ke bawah semakin kuat terasa tidak nyaman untuk terhirup. Ditambah pencahayaan yang remang-remang sukses memberi kesan angker tersendiri. Jantungku deg-degan tidak karuan, membayangkan wujud iblis di bawah sana.
Luska menahanku, mencegah agar aku tidak turut mendekat ketika punggung sesosok makhluk berkulit hitam tebal dan kasar seperti dilapisi aspal mulai terlihat. Posisinya membelakangi kami, membuat ekor hitam panjangnya yang meliuk-liuk seperti ekor kucing menjadi satu-satunya hal yang bisa kami lihat. Makhluk itu tiba-tiba merebah untuk sesaat kemudian menyadari keberadaan kami.
“Hore! Ada tamu!”
Tatapan dingin Ladra dan Luska menimpa makhluk itu.
“Ya, ya ... Aku tahu aku bukan tuan rumah yang ramah, jadi wajar bila kalian bersikap demikian. Mari, silakan duduk! Anggap saja di sini ada beberapa toples kue dan teko teh panas. Yah, anggap saja begitu, bayangkan saja, oke?” kata makhluk yang sekarang bisa kulihat seringaiannya itu. Sejujurnya dia tidak akan menakutkan tanpa kulit aspal dan tanduk patah sebelahnya itu. Ekornya tidak masalah karena meski aneh tetap bisa dibilang lucu.
__ADS_1
“Dan ... Hai, Nak Shiraaaa! Lamaaa tidak bertemu! Oh, bukan, tapi sekarang Yang Mulia! Hidup selalu penuh kejutan ya! Eh? Ada apa dengan tatapan asing itu? Ya ampun, aku sudah berumur ribuan tahun, jadi wajar bila aku pikun, hahaa! Tentu saja Yang Mulia tidak ingat denganku!”
“Sudahi omong kosong ini, Griseo!” kata Ladra.
“Nah, akhirnya Kepala Dewan angkat bicara. Kenapa kalian tidak membiarkan Yang Mulia turut mendekat ke sini? Aku tidak akan melukainya untuk kedua kalinya. Mana mungkin aku tega melakukan hal itu setelah dia jauh-jauh melintas portal antardimensi untuk menemuiku? Ya ampun, aku terharu!” jawab Griseo dengan tatapan yang seolah merongrong kepalaku, memaksaku mengingat siapa sosok di balik wajah setan itu.
“Aku tidak akan berlama-lama di sini! Langsung ke intinya saja ....”
“Aku diminta memulihkan ingatan Yang Mulia! Tadaaa! Aku masih cukup sakti untuk menebaknya! Kalau begitu, biarkan dia mendekat ke mari!” kata Griseo memotong ucapan Ladra. Dalam sekejap mata, Luska telah melompat ke sisi lain di belakang Griseo, menempelkan pedang yang sudah tercabut dari sarungnya ke leher iblis itu.
“Jangan main-main! Jika kau malah melukai Yang Mulia lebih parah, kupastikan kau mati sebelum hal itu terjadi!” gertaknya.
“Apa, sih, Kesatria Muda? Kau tahu aku sama-sama abadi seperti dirimu, jadi ancaman itu sama sekali tidak menakutkan!” jawab Griseo dengan santainya menyingkirkan pedang itu setelah Luska merasa tertohok dengan kata-katanya.
“Dan juga, simpan semua negosiasi yang sedang kalian rencanakan! Aku sudah tidak butuh kekuatan lamaku! Semuanya berakhir setelah aku dikalahkan bocah-bocah, tersingkir dari kaum elite para iblis karenanya. Ah, intinya aku sudah pensiun jadi iblis! Mungkin menjadi tukang urut kesleo otak menjadi profesi baru yang lebih cocok buatku!” jawab Griseo bangkit dari posisinya, dengan percaya diri melangkah ke arahku. Ladra dan dua pengawal yang menghadang tersingkir dengan mudahnya hanya dengan sekali tepukan kosong di udara, membuat mereka lumpuh dan tumbang di tempat, juga Luska yang berada di belakangnya.
Aku sudah mengambil langkah untuk berlari sebelum lebih dulu tercekal. Kulit kasar seperti parut itu terasa perih ketika bersentuhan denganku. Dua pengawal di luar bersama Dokter Kara bergegas masuk setelah mendengar teriakan Luska, tetapi hanya berakhir dalam keadaan yang sama setelah Griseo menjentikkan jari ke udara. Aku tidak tahu teknik apa yang ia gunakan, tapi kekuatanku sama sekali tidak berada di tingkatan yang sama sepertinya.
Gila memang! Bahkan ketika Griseo telah kehilangan kekuatan, ia masih mampu melumpuhkan banyak orang dalam waktu singkat! Benarkah aku pernah mengalahkan iblis sekuat ini?
“Mereka terlalu munafik! Datang ingin minta tolong sambil mengancam-ancam dan membuat Yang Mulia menunggu lama! Padahal kita bisa segera memulai sesi pemulihan, benar ‘kan, Yang Mulia? Oh, atau kamu lebih suka dipanggil Shira saja?” tanya Griseo berusaha menyentuh dahiku tapi berulang kali kutepis.
“Jangan sentuh! Memangnya siapa yang percaya kau akan benar-benar memulihkan ingatanku?!” jawabku ketakutan setengah mati.
“Lalu kenapa kalian tetap pergi ke mari?” tanyanya mengamini kekhawatiranku sejak sebelum keberangkatan. Habis sudah! Sisa ingatanku, aku tidak mau kehilangannya!
Seandainya ingatan itu memiliki wujud, aku pasti akan memeluknya erat-erat ketika Griseo mulai merampasnya, berhasil menangkap dahiku. Detik berikutnya denyut menyakitkan seolah kepalaku dilubangi dengan bor membuat tubuhku terasa tercerai berai. Jika ada pilihan, sebaiknya aku mati saja daripada hidup dengan kepala kosong sepenuhnya! Aku ingin mati saja! Mati saja! Aku tak tahan!
“BERENGSEK!”
Umpatan Griseo terdengar bersamaan dengan lepasnya tangan iblis itu dari kepalaku. Mati rasa, aku tidak merasakan apa-apa ketika tubuhku ambruk di atas bebatuan lantai gua ini.
“Ada ingatan orang lain yang mengisi kerusakan itu!” kata Griseo lagi, “aku tidak bisa memulihkan ingatannya bila seperti ini!”
“Pola ... pola gelombang konstruktif ....” gumam Dokter Kara.
“Kau tahu? Kau sudah memeriksanya?! Ada ingatan orang lain yang menggantikan kerusakan di kepala Shira! Kurang ajar! Siapa pelakunya?!” amuk Griseo, “aaargh! Kesatria perak sialan!”
Griseo mengamuk sesuka hati ketika orang-orang yang ia lumpuhkan kembali normal. Luska yang pulih paling cepat segera menolongku yang terkapar, mengguncang pipiku pelan.
“Yang Mulia? Yang Mulia, bertahanlah! Dokter Kara, tolong ....” katanya memasrahkanku kepada Dokter Kara yang juga baru saja pulih dari kelumpuhan temporalnya. Dalam sekali pukulan, Luska membanting iblis itu menghantam dinding gua.
“Itu bukan salahku!” kata Griseo, “bukan ulahku yang meletakkan ingatan orang lain di kepalanya! Tanyakan pada dokter itu, seandainya gelombang konstruktif itu tidak ada, aku pasti bisa memulihkan ingatan ratu kalian!”
“Kau sungguh-sungguh mencoba mengembalikan ingatan Yang Mulia?!”
“Kenapa tidak?”
“Kenapa tidak?!”
Satu kali bantingan lagi bagi Luska untuk melampiaskan kemarahannya.
“Mana mungkin kau benar-benar melakukannya!” bantah Luska.
“Aku benar-benar mencoba memulihkannya! Sedikitlah berterima kasih karena aku telah berusaha!” jawab Griseo.
“Tapi kenapa?!”
Aku sudah tidak peduli dengan apa pun karena kepalaku sendiri masih terasa sakit setengah mati. Pembicaraan keduanya hanya samar-samar kudengar. Seringaian Griseo yang terbit di wajahnya tidak bisa kulihat ketika ia mengatakan hal selanjutnya.
“Karena semuanya lebih seru ketika bocah itu mendapatkan kembali ingatannya. Aku hanya perlu menjadi penonton setelah itu, bertepuk tangan atas tragedi yang kuharapkan terjadi tanpa repot-repot mengotori tanganku sendiri!”
__ADS_1
.Bersambung.