
“Aku memang terbiasa merasa cemas ketika semuanya berjalan terlalu baik.”
Kata-kata Elang sore itu terngiang di telingaku. Ia bukannya senang mendengarkan perasaan yang tidak rasional, tetapi tampaknya ia lebih tidak senang lagi ketika perasaan yang tidak rasional itu terbukti benar untuk berulang kali. Ini adalah reaksinya yang sama seperti ketika penyamaran Pak Hanri dulu terungkap.
Masih dengan ekspresi yang tak terbaca, ia duduk di sebelahku di tengah konferensi. Aku ragu apakah ia betul-betul mendengarkan penjelasan Profesor Cakra tentang efisiensi kristal bulan baru atas kemenangan besar kami waktu itu. Dua kursi lain di ruangan ini kosong, milik Aquila dan Kak Garuda. Keduanya sudah dapat izin melakukan riset di lapangan, mengumpulkan materi informasi untuk upaya pencegahan ekspansi ulang dan hal-hal karangan yang terdengar penting lainnya, tapi yang jelas, keduanya sedang keluar bukan untuk mengurus hal-hal tadi.
“Tim kami telah menguji sampel kristal bulan baru dan mendapat hasil yang mencengangkan. Ini akan menjadi kabar baik untuk semua orang,” kata Profesor Cakra kemudian lanjut memaparkan bahwa energi kristal bulan itu rupanya ribuan kali lebih besar dibandingkan yang sekarang ini. Dengan masa pakai yang sama bisa digunakan untuk membangun seribu unit daratan awan seluas unit ibukota Alba, tetapi daripada membangun peradaban di atas awan yang suatu saat tidak dapat dipertahankan, energi sebesar itu akan dipergunakan untuk pembangunan di permukaan, merancang ulang sistem keamanan dan komponen pertahanan demi mengantisipasi meluasnya kembali ekspansi Dunia Kelabu.
Pertemuan hari ini berakhir. Misi untuk menghabisi sisa Dunia Kelabu masih dalam perencanaan dan akan dibahas dalam pertemuan selanjutnya. Harusnya sekalian dibahas hari ini saja, pikirku. Apa susahnya menyingkirkan dua persen Dunia Kelabu setelah sembilan puluh delapan persennya ludes di tangan kami? Yah, anggota dewan lebih menginginkanku istirahat sejenak setelah kemenangan besar kemarin. Ah, mereka tidak mengerti bahwa aku sedang buru-buru ... dan tidak berniat menetap di sini. Mereka tidak tahu karena aku memang belum bilang kepada siapa-siapa selain kepada Luska –yang tidak ia tanggapi dengan serius. Mungkin aku harus menyampaikannya sekali lagi ... dan menuntut keseriusan Luska.
“Yang Mulia ....”
Panjang umur, seseorang yang baru kupikirkan muncul. Kesatria itu menawarkan acara jalan-jalan berkeliling kota untuk melihat hiruk pikuk persiapan upacara.
“Upacara apa?” tanyaku tidak mengerti.
“Yang Mulia akan tahu sendiri nanti,” jawab Luska yang begutu berbakat menggantung-gantung penjelasan.
“Kamu juga ikut ya, Lang!” pintaku, tapi yang kuajak bicara telah melenggang lebih dulu.
“Lang?!” panggilku sekali lagi dan dia pura-pura tuli. Ah, baiklah, terserah! Semoga dia juga tidak lupa bahwa kita sedang berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Kenapa dengan Kesatria Agung?” tanya Luska.
“Entahlah, mungkin sakit gigi,” jawabku asal. Luska sempat mengerjap tidak mengerti, tapi ia tak mau ambil pusing, lanjut menyiapkan tunggangannya untuk berkeliling.
“Yang Mulia tidak ingin mencoba menunggang paxii sendiri?” tanya Luska menuntun keluar binatang campuran kuda dan garuda berbulu emas yang ia gunakan untuk menjemputku dari menara Aquila waktu itu.
“Eh? Aku? Menungganginya sendiri?”
“Kenapa tidak? Sejak awal bertemu Yang Mulia binatang ini sepertinya menyukai Anda. Normalnya butuh waktu berminggu-minggu untuk bisa menjinakkan dan dipercaya paxii, tapi sepertinya berbeda dengan Yang Mulia,” jawab Luska mengelus lembut bulu binatang itu. Aku jadi ingat Shiro dan teman-temannya yang sok akrab denganku.
“Baiklah, aku akan mencobanya, tapi bila ia mencak-mencak dan melemparku, ia harus menjadi menu makan malamku!”
“Kau dengar itu?” balas Luska terkekeh menepuk kepala garuda ini, “jadilah tunggangan yang manis untuk Yang Mulia!”
Paxii ini menyahut dengan suara imut seperti anak ayam, sangat berbeda ketika kudengar suara lengkingan garudanya waktu itu. Luska membantuku menaikinya. Ia hanya menonton ketika aku berputar-putar sebentar di halaman untuk membiasakan diri duduk stabil di atas binatang ini. Tak lama setelah itu kami berdua berangkat dengan ditemani beberapa pengawal yang juga menunggangi paxii mereka.
Keramaian di luar tembok istana meledakkan antusiasme demi melihat rombonganku, beberapa saat kemudian segera menguasai diri dengan membungkuk rendah penuh hormat. Anak-anak yang tak peduli soal itu segera mengerubungi kami, tapi dihalau oleh para pengawal. Aku agak menyesal karena tidak membawa permen atau sesuatu yang bisa dibagi dengan mereka –Luska tidak bilang jauh-jauh hari kalau aku boleh keluar kastel! Sekian pasang mata memandang dengan binar kagum, mengelu-elukanku.
Kami akhirnya tiba di lahan lapang yang merupakan alun-alun Alba. Beberapa orang tampak bergotong royong membangun panggung kecil di tengah sedangkan sisanya merapikan dan menata ulang bekas-bekas kemeriahan parade kemarin. Dalam satu panel raksasa seperti baliho, terpajang gambarku yang ... ya ampun, sedang apa wajahku sok imut di sana?
“Beberapa hari lagi, bila tidak ada halangan, upacara pengangkatan Yang Mulia sebagai ratu Alba akan dilaksanakan di sini, disaksikan sekian ribu penduduk yang beruntung sebab acara semacam ini tidak pernah ada pada generasi-generasi sebelumnya. Tidak pernah ada pengangkatan raja atau ratu karena pewaris sah penyelamat kami semua baru ditemukan belakangan ini,” jelas Luska juga tak bisa menutupi senyum suka citanya.
Kesadaran akan suatu hal cepat-cepat menghantam kepalaku. Upacara apa katanya?
“Luska ....”
Bagus, tenggorokanku tercekat pada saat yang tidak tepat –atau pada saat yang tepat untuk saat ini. Aku memang pernah menolak untuk menjadi ratu dan memaki-maki Luska karena dia tetap memaksa, tapi untuk sekarang mustahil mengatakannya di tengah gelombang suka cita orang banyak seperti ini. Tak bisa kubayangkan bagaimana reaksi khalayak seandainya kubilang aku harus cepat-cepat pulang dan bukannya duduk penuh wibawa di singgasana. Barangkali akan ada banyak hati yang terluka. Kenyataan bahwa sebagian besar tanggung jawabku menyingkirkan bencana terlunasi membuat mereka semakin percaya bahwa akulah dinasti baru pemimpin negeri ini, tapi ... seseorang yang mereka percaya dan mereka harap-harap itu tetap harus pergi.
Bagaimana mengatakan keinginanku dengan benar tanpa ada yang terluka? Ah, sudah kuduga situasi penuh dilema akan menjepitku seperti ini. Sepanjang perjalanan kembali ke kastel mungkin wajahku lebih terlihat muram karena memikirkan bermacam-macam hal dan Luska menyadari hal itu tanpa kuminta.
__ADS_1
“Yang Mulia merisaukan sesuatu?” tanyanya menyejajari langkahku melalui pelataran samping yang sepi. Luska telah menatapku penuh seris ketika aku masih berdebat dengan diri sendiri, mencari-cari argumen yang tak akan bisa ia tolak.
“Oh ya, Luska ...” ujarku setelah berdeham sejenak, “apa kamu betul-betul percaya konsep pewaris sah yang menjadi dasar pengangkatan pemimpin di negeri ini?”
Lawan bicaraku sempat terdiam, mencoba meneropong arah pembicaraan ini, “Hampir tidak ada alasan bagi saya atau seisi Alba untuk tidak memercayainya, Yang Mulia, sedangkan alasan untuk memercayainya terlampau gamblang, tak bisa diingkari.”
“Hanya karena tanda bangsawan? Dan kekuatanku ini?” bantahku, “akan kubeberkan lubang ganjil yang mengubah pandangan kalian tentang pewaris sah!”
“Mengenai kekuatanku ini, kau bilang itu adalah tanda mutlak pewaris sah, diwariskan secara acak melalui siapa pun yang masih terhubung dengan garis keturunan bangsawan, benar?” tanyaku. Luska mengangguk.
“Nah, kebetulan aku mewarisinya dari nenekku. Beberapa tahun lalu beliau masih hidup ... sementara kamu sendiri juga memliki kekuatan pewaris sah itu meski menolaknya dengan bunuh diri. Apa yang sebenarnya terjadi? Dua orang memiliki kekuatan pewaris sah dalam periode yang sama? Kupikir itu kekuatan spesial yang hanya teranugerahkan secara khusus kepada satu orang karena akan merepotkan bila terjadi dualisme kepemimpinan. Kupikir kekuatan itu bukan satu-satunya pertanda mutlak bahwa aku harus diangkat menjadi ratu ... dan sepertinya pemahaman tentang hal itu sudah harus mulai diubah,” jelasku. Ruang aula yang kami lintasi masih senyap karena Luska belum juga menjawab.
“Saya sudah menduganya,” kata Luska setelah beberapa saat, “saya sudah mengira pembicaraan ini akan bermuara pada penolakan Yang Mulia.”
“Aku bukannya menolak ....”
“Sebenarnya saya tahu Yang Mulia tetap ingin kembali ke Nigra. Itu sebabnya tadi saya mengajak Yang Mulia berkeliling, melihat-lihat betapa cintanya rakyat Alba kepada Yang Mulia, tetapi ternyata Yang Mulia tetap bersikeras ingin pergi.”
“Aku bukannya menolak, asal kau tahu ... Maksudku, maksudku siapa pun berhak menjadi pemimpin. Yang punya kekuatan menerbangkan debu dan benda-benda sepertiku belum tentu becus mengurus hajat hidup orang banyak. Bukan itu tanda mutlaknya. Kenyataannya kepala dewan juga berhasil memegang setir pemerintahan selama kekosongan ....”
“Tapi perpecahan retak di tengah masyarakat kita, Yang Mulia. Selama itu tetap ada jurang pemisah fraksi ini dan fraksi itu. Tidakkah Yang Mulia sadar bahwa kehadiran Andalah yang menghapus jurang itu? Yang mempersatukan kami semua?” bantah Luska, “mungkin kekuatan menerbangkan benda-benda itu bukan satu-satunya tanda mutlak, tapi kekuatan Yang Mulia yang tidak terlihat, keluhuran dan kebaikan yang mendamaikan kami semua ... Saya pikir itulah yang membuat Yang Mulia pantas menjadi ratu kami.”
Kuhela napas panjang, berharap ada Elang di sisiku yang selalu bisa memenangkan perdebatan, tetapi aku segera tidak berharap demikian mengingat bisa memecahkan perang bila keduanya berdebat demi keinginan mereka yang sama sekali berlainan.
“Bila hanya kebaikan dan keluhuran itu ... kupikir setiap orang memilikinya, hanya saja terkadang lebih didominasi oleh nafsu dan keinginan lain, sejatinya siapa pun berhak menjadi pemimpin,” ujarku belum menyerah, “apalagi Luska sendiri yang dulu pernah teranugerahi kekuatan pewaris sah itu.”
“Apa maksudnya?” taya Luska sambil menahan tawa, “Yang Mulia ingin bilang bahwa saya juga bisa diangkat menjadi raja? Untuk menggantikan Yang Mulia?”
“Sama sekali tidak, Yang Mulia. Tidak lucu. Negeri ini hanya akan kembali dilanda bencana dengan pantat orang terkutuk yang di atas singgasana. Saya tidak sedikit pun berani membayangkan hal itu,” jawab Luska.
“Ah, benar, kutukan itu ya? Kamu ... kupikir memang mau hidup abadi seterusnya.”
Ekspresi Luska benar-benar berubah setelah kata-kataku tadi dan aku semakin tidak ingin berhenti bicara.
“Apa yang sedang kamu rencanakan? Menerima kutukan itu dan terus menerus mengakui dirimu sebagak orang terkutuk tanpa ingin bangkit menebus kesalahanmu?”
“Seandainya memang bisa, kesalahan lampau saya hanya bisa ditebus dengan pengabdian untuk Alba dan memerangi angkara, tidak harus dengan menjadi raja selanjutnya,” jawab Luska.
“Harus dengan cara seperti itu! Kamu telah lari dari tanggung jawab dan anggap saja telah melempar tanggung jawab itu kepadaku! Ah, dasar!”
“Sekarang kita jadi seolah saling lempar tanggung jawab, deh!”
“Kamu yang mulai!” semburku benar-benar telah hilang kesabaran.
“Maaf, Yang Mulia ...” kata Luska dengan pundak menurun, “sepertinya ini semua memang salah saya. Gara-gara sayalah Yang Mulia harus jauh dari Nigra, tanah kelahiran yang Anda cintai.”
“Aduh, aku bukannya cinta setengah mati dengan Nigra, tapi ujianku ... Ya ampun! Tolong, mengertilah! Aku tidak boleh bolos lama-lama dan bayangkan sudah berapa hari aku tidak makan latihan soal?!” jawabku demikian jujur, itulah yang kurisaukan hingga saat ini.
“Kutukan saya mungkin memang tidak bisa ditebus dengan menjadi pemimpin selanjutnya, akan datang bencana baru ... tapi sejatinya bencana tidak hanya datang karena hal itu,” kata Luska sempat tertunduk menatap ujung kakinya sendiri.
“Nah, benar. Bencana tidak hanya datang karena diangkatnya pemimpin yang salah. Kamu harus berhenti berpikir picik!” timpalku.
__ADS_1
“Saya serius, Yang Mulia ... Sejujurnya saya tidak berencana membiarkan bencana selanjutnya terjadi ....”
Wajah Luska lebih sendu dari dugaanku ketika mengatakan hal itu. Masih tidak banyak mengerti, aku menuntut penjelasan atas kata-katanya.
“Mungkin akan banyak hal yang berubah, suka cita semu yang baru dirayakan ... dan Yang Mulia akan semakin menjauh, tapi daripada dua dunia terlibat bencana, maka sebaiknya Yang Mulia perlu tahu,“ kata Luska.
“Apa maksudmu, Luska?”
Luska perlu melepas keraguan di dadanya sebelum lanjut bicara.
“Invasi, Yang Mulia,“ katanya menatapku lurus-lurus.
“Ha?”
“Dalam upacara pengangkatan Yang Mulia nanti, kepala dewan akan sekalian mengumumkan rencana invasi ke Nigra.”
“INVASI KE MANA?!”
Seolah jantungan mendengar kata-kata Luska tadi, telingaku mencoba menggapai-gapai sisa potongan informasi yang kudengar darinya, kusetel berulang-ulang di kepala. Invasi ke Nigra? Invasi katanya?!
“Oh, baguslah bila Yang Mulia tahu lebih awal soal ini,” sahut sebuah suara semakin memperburuk keterkejutanku.
“Kepala Dewan?”
“Terima kasih, Luska! Kau telah menyampaikannya pada Yang Mulia,” kata Ladra, “tapi kenapa kau sempat menyebut-nyebutnya bencana dua dunia? Itu terdengar mengerikan dan membuat Yang Mulia ketakutan.”
“Membuka portal raksasa dan membumihanguskan Nigra untuk merebut wilayah mereka, apa namanya jika bukan bencana? Kau ingin menjebak Yang Mulia dalam upacara pengangkatannya sendiri agar tidak bisa menolak ide itu di hadapan banyak orang!” balas Luska.
“Di hadapan banyak orang pun, setelah diangkat menjadi ratu atau dewa sekali pun, AKU TIDAK AKAN PERNAH SETUJU TANAH KELAHIRANKU DILENYAPKAN!” seruku marah, betul-betul tak habis pikir apa yang membuat Kepala Dewan tiba-tiba merencanakan hal ini?!
“Ah, padahal setelah semua perlakuan istimewa dan kedudukan Yang Mulia, saya pikir Yang Mulia bisa sedikit memihak Alba. Harusnya Yang Mulia memihak tanah leluhur kita, tapi ... ternyata tidak sedikit pun ya? Hm, seperti yang dikatakan Luska, Yang Mulia memang lebih mencintai Nigra dan selalu bersikeras kembali ke sana. Rakyat pasti tidak akan memaafkan pengkhianatan semacam itu!” kata Ladra.
“Sialan! Memangnya rakyat mana yang lebih menyetujui penyerangan gila itu?!”
“Asal Yang Mulia tahu ... Ratusan tahu, kami orang-orang di Alba tersiksa oleh ekspansi Dunia Kelabu, berakhir menyingkir dari permukaan dan hampir punah karena siapa? Karena nafsu jahat orang-orang Nigra yang menjadikan Dunia Kelabu tercipta! Yang tak pernah surut dan terus bertambah, membuat Dunia Kelabu terus meluas! Bukankah sekarang setelah kita memiliki kekuatan baru, kristal bulan itu, giliran orang-orang Nigra yang merasakan derita?”
Gila! Orang tua ini gila!
“Dan cita-cita invasi itu telah lama terpikirkan oleh pendukung fraksiku, menjadi agenda nomor dua setelah melenyapkan Dunia Kelabu. Sayangnya, pewaris sah pengganti Luska justru berasal dari Nigra. Saya pikir itu akan menjadi pertunjukan menarik melihat Anda, putri dari Nigra, memimpin invasi ini dan memberangus tanah kelahiran Anda yang lebih terkutuk. Kalau begini, sih, kelihatannya tidak akan kesampaian, tapi kami dengan kekuatan kami sendiri ditambah kristal bulan itu ... sepertinya sudah lebih dari mampu, kok!”
“Berengsek! Kristal bulan itu milikku! Aku dan Elang yang mendapatkannya!”
“Wah, benar! Kalau begitu kami akan melenyapkan peradaban di Nigra dengan hadiah kekuatan besar dari putra putri Nigra sendiri! Judul pertunjukannya masih sama-sama menarik!” kata Ladra terkekeh hebat.
“Itu tidak bisa dibenarkan, Kepala Dewan!” sahut Luska.
“Putraku? Kenapa kau baru bilang begitu sekarang? Ingin bersikap seperti pahlawan di depan perempuan yang merebut hatimu? Takut kehilangannya bila kau memihakku? Barangkali kau lupa, jauh sebelum ini kau sepakat mewujudkan rencana kita! Bersuka rela menjemput pewaris sah untuk kita manfaatkan mengalahkan Dunia Kelabu dan wah ... semuanya berjalan sesuai rencana! Kau akan menjadi raja abadi negeri ini, membalas rasa sakit hati kita atas penghinaan yang kauterima dulu! Kenapa kau masih khawatir kehilangan gadis itu, putraku?! Tidak ada yang berani menolak kuasa raja, kau tetap bisa menikahinya dengan paksa, menikahi ribuan gadis yang kaumau!”
Seketika aku ingin bangun dari mimpi. Tolong katakan padaku bahwa ini hanya mimpi buruk panjang yang mencapai puncaknya. Menatap wajah Ladra dan Luska bergantian, aku hanya ingin lari, lari sejauh mungkin.
.Bersambung.
__ADS_1