Kelabu

Kelabu
Episode 48


__ADS_3

“Kamu memang pintar dan selalu mendapat nilai bagus di kelas, tapi jika menghadapi dunia penuh intrik ini aku jauh lebih baik dibandingkan kamu, Shir!” kata Elang.


Koridor yang ramai ini tiba-tiba terasa sepi. Aku bukannya sedih dan tersinggung dengan kata-kata Elang, tapi fakta bahwa kebencian yang menguasainya telah membuat Elang menolak kebenaran, merasa yang paling benar. Jika seperti ini maka benarlah kata Sakti. Dia tidak bisa turut membantu Elang. Hanya Elang sendiri yang harus menyadari kekeliruannya.


Ah, sebentar. Separuh diriku tak terima. Memangnya apa hakku mengatakan Elang keliru? Lantas diriku sendiri juga merasa paling benar? Padahal kebenaran belum muncul secara mutlak dan hatiku pun masih diliputi keraguan. Aku mengusap wajah lelah. Penggolongan jiwa putih dan hitam itu semakin terdengar seperti omong kosong!


“Aku paham kenapa kamu termasuk jiwa putih. Di sajak tulisan Sekti dikatakan putih sangatlah rentan dan tidak bisa mempertahankan jati dirinya di sekitar warna lain. Ia menjadi merah di dekat merah, menjadi biru di dekat biru. Senaif itulah kamu yang mudah percaya, padahal dunia ini tidak sepenuhnya berisi orang-orang baik, lebih banyak yang hanya berpura-pura. Sedikit yang bersandiwara menjadi orang jahat,” kata Elang.


“Aku tidak mengerti maksud kata-katamu, Lang! Lantas kamu yang paling istimewa karena mencoba bersandiwara jadi jahat?”


“Eh? Bukan, Shira! Kamu masih mengira kejadian semalam adalah sandiwara? Meski aku menyesalinya, tapi itu bukanlah sandiwara. Aku memang sedikit kesal pada Sakti ... padamu juga. Habisnya kalian susah sekali mengerti!” jawab Elang, “jadi tolong, kamu tidak boleh terbalik menebak mana yang baik dan yang tidak. Aku sedikit kesal kamu selalu berhasil teperdaya. Memangnya di mana matamu yang tidak bisa melihat intrik licik seorang Erik? Dan jangan kau pikir aku tak tahu, kamu sebenarnya tidak setuju bila aku mencurigai Bu Lasmi karena penampilan orangnya yang seperti itu. Iya ‘kan?”


“Aku memang tidak punya argumen untuk menolak pendapatmu, Lang. Meski firasatku mengatakan bukan Bu Lasmi, tapi aku berharap –walau terpaksa– semoga kecurigaanmu benar. Semoga kecurigaanmu tidak salah agar kita tidak perlu repot-repot lagi mencari penyamaran iblis itu.”


Tak terasa kami sudah sampai di depan kelas, tapi kami lebih memilih berdiri di teras luar, memandangi lapangan upacara.


“Tapi tetap saja pada akhirnya kamu hanya memercayaiku setengah hati, Shir. Kadang aku heran bagaimana kata-kata Sakti selalu berhasil meyakinkanmu, juga Erik yang semudah itu mengelabuimu. Aku benar-benar tak habis pikir!”


“Ini bukan tentang siapa yang bicara, Lang! Kenyataannya kamu juga selalu langsung percaya petunjuk yang diberikan Sekti! Asal kau tahu, aku tidak ingin kau berprasangka dan mencurigai orang yang salah!”


“Nah, benar ‘kan? Kamu memang tidak memercayaiku sedikit pun, tapi barangkali kamu punya dugaan sendiri. Aku bisa mempertimbangkannya. Katakan saja, Shir! Akan lebih mengesalkan ketika firasatmu menolak dugaanku tetapi kamu sendiri justru belum punya dugaan,” kata Elang sambil menggapai daun pohon tanjung, memtik pucuknya. Ada kekesalan yang sedang ia tahan. Ah, aku sudah mengira ini akan terjadi.


“Kamu diam saja, Shir? Serius kamu benar-benar belum punya dugaan dan begitu percaya dirinya membantah dugaanku?!”


“Aku memang masih belum mencurigai siapa pun, tapi aku akan segera menemukannya. Selain itu, aku tidak bisa mencurigai Bu Lasmi bukan tanpa alasan ....”


“Ya, kamu tidak bisa mencurigai Bu Lasmi karena menurutmu terlalu mustahil bagi wanita tua itu untuk memiliki kekuatan iblis. Terlalu pendiam, terlalu lemah, sangat tidak cocok dengan penampakan iblis yang pernah kita lihat. Aku mengerti jalan pikiranmu yang sesederhana itu, Shir!”


“Aku juga mengerti jalan pikiranmu yang sederhana, Lang! Tiba-tiba menyimpulkan bahawa iblis itu menyamar dalam wujud Bu Lasmi hanya karena dua dari enam posisi kunci perangkap ada di bawah kuasa beliau! Hanya karena sikap Bu Lasmi yang aneh dan berbeda dari guru-guru yang lain! Hanya karena itu, Lang, sungguh?! Padahal ciri penting dari iblis itu adalah selalu berbuat kerusakan. Sejauh ini aku tak paham kerusakan apa saja yang pernah diperbuat Bu Lasmi!”


“Ya jelas, orang yang tidak pernah memeperhatikan sekitar tidak mungkin tahu! Kamu baru akan ternganga dan memercayaiku ketika iblis itu menerkammu lebih dulu!”


Aku menghela napas, lelah dengan perdebatan ini. Terlalu konyol bagi kami untuk meributkan sesuatu yang jauh dari kepastian. Masih sama meraba-raba, harusnya kami satu suara dalam penyelidikan penting ini, tapi ternyata masing-masing dari kami punya rencana dan dugaan tersendiri yang tak ingin dibantah. Dalam sisa waktu sebelum purnama ketiga yang tidak singkat ini, harus ada sesuatu yang bisa kubuktikan kepada Elang dan dia harus menurutiku setelahnya!


“Masing-masing dari kita sama-sama ingin dipercaya, tapi tetap harus ada satu jalan yang kita tempuh. Daripada kita terus berputar-putar dengan situasi membingungkan ini, mari kita buat kesepakatan baru!” ujarku kemudian masuk ke kelas.


“Boleh, asalkan hasil kesepakatan itu benar-benar mutlak tidak seperti kesepakatan sebelumnya yang sekarang tinggal omong kosong!” jawab Elang mengekor di belakangku. Rupanya tak begitu banyak orang di kelas. Hanya beberapa anak tampak sibuk dengan ponsel masing-masing. Aku meraih catatan harianku untuk dicoret-coret.


“Baik, begini ... ada lima belas mata pelajaran. Ayo bersaing secara sehat mendapat nilai yang lebih tinggi dalam UTS nanti. Yang nilainya lebih tinggi dalam satu mapel akan dapat poin. Pemenangnya adalah yang mengumpulkan poin paling banyak dan yang kalah harus mengikuti kemauan pemenang, apa pun itu. Kau mengerti?”


jelasku.


“Wah, permainan adu kecerdasan akademik. Itu terlalu memihakmu! Kau sengaja memilih permainan yang mudah untuk kau menangkan!”


jawab Elang.


“Wah, kau menolak? Bukankah aku tidak sepintar yang kamu kira, Lang? Kenapa sekarang kau jadi takut melawanku?”


“Siapa yang bilang aku takut?!”


“Menolak tantangan berarti khawatir terkalahkan. Jelas-jelas kamu takut! Jika memang kamu punya nyali, tak peduli betapa pun aku bisa memenangkan permainan ini, kamu akan tetap berusaha mengalahkanku! Hei, bukankah itu cita-citamu sejak dulu? Atau sekarang sudah tidak lagi? Kamu mundur dan ... ”


“Tutup mulutmu, Shira!” bentak Elang sambil menggebrak meja. Seketika kami menjadi pusat perhatian teman-teman yang ada di kelas. Bagus, provokasiku berhasil!


“Aku akan menang darimu! Akan kubuat kau menuruti semua yang kuinginkan!”


ujarnya penuh penekanan.


“Wah, kedengarannya kamu sepakat!”


“Aku sepakat!”


“Bagus, aku tidak sabar merasakan bagaimana dikalahkan! Yah, hanya jika kamu bisa mengalahkanku!”


jawabku senang.

__ADS_1


“Aku tak pernah melihatmu sesombong ini, Shir, tapi aku tahu kau hanya menguasai empat mapel peminatan sementara sisanya biasa saja. Jadi percayalah aku masih punya peluang besar menang darimu!”


“Ya, ya! Aku juga akan lebih menyibukkan diri mencari-cari dugaanku daripada belajar. Apa pun dugaanku nanti, kau harus mematuhinya semisal aku menang.”


“Jangan sok mengalah ketika aku sudah bersungguh-sungguh! Ingatlah bahwa aku yang akan menang!” jawab Elang kemudian meninggalkan bangkuku. Teman-teman yang sempat memperhatikan kami kembali pada kesibukannya masing-masing setelah Elang menatap mereka sambil keluar dari kelas.


Aku hanya tersenyum. Setidaknya keadaan ini berhasil kukendalikan. Sisanya akan kupikir nanti. Jika memang Elang menang, aku percaya dugaan yang ia pikirkan memang jalan terbaik yang harus kupatuhi. Justru agak merisaukan jika aku yang menang. Belum ada satu pun nama untuk kucurigai sebagai penyamaran iblis itu. Sejujurnya yang kuinginkan hanyalah Elang berhenti memercayai bahwa dia satu-satunya yang harus dikorbankan. Hanya itu.


 


Aku berseru senang ketika kartuku habis paling awal. Berikutnya Ardian, memberiku tepuk high-five setelah kartunya juga habis. Baskom plastik masih menelungkup menjadi topi di kepalanya sebagai hukuman karena ia kalah di permainan sebelumnya. Tersisa Rehan dan Yuanda yang masih bergelut memenangkan permainan. Bel pulang tak menginterupsi keseruan kami. Kartu domino Rehan tersisa satu lebih banyak ketimbang milik Yuanda ketika rantai domino tidak bisa diteruskan lagi. Rehan menunjukkan sisa kartunya, total lima angka.


“Yuanda apes! Hahaaa!” ejek Marvel yang kebetulan lewat berhasil mengintip. Dengan pipi menggembung kesal, Yuanda membanting satu-satunya kartu sisa yang ia punya, kembar 5-5. Kami tak bisa menahan tawa. Ardian memindah baskom di kepalanya ke kepala Yuanda sambil tak bosan mengejek gadis bergigi gingsul itu.


Lima belas menit sebelum bel pulang, guru jam terakhir meninggalkan kelas dengan setumpuk tugas. Beruntungnya tidak ada perintah dikumpulkan hari ini, lagi-lagi untuk latihan pra-ujian. Sayangnya aku yang sedang ogah-ogahan malah bersila di lantai belakang kelas, bergabung dengan tiga orang ini untuk bersenang-senang.


“Ra, pulang, yuk!” ajak Yasinta sudah selesai mengemasi barang-barangnya. Ah, sudah bel ya?


“Enggak! Shira belum pernah kalah, satu permainan lagi!” jawab Yuanda sewot sambil mengocok kartu.


“Kamu duluan, deh, Yas!” jawabku. Rehan juga pamit harus pulang, tapi Marvel mengganti posisinya. Kami berempat melanjutkan permainan.


“Tumben kamu enggak bucin di organisasi, Vel?” celetuk Ardian. Ah, benar, biasanya anggota pengurus OSIS ini sering pulang kelewat malam demi organisasi maupun sederet panjang ekskul yang dia ikuti.


“Enggaklah, Jumat ini libur,” jawab Marvel. Oh iya, jelang UTS. Pantas saja Yasinta juga langsung pulang.


“Eh, kalau ekskul libur berarti sebentar lagi kelas-kelas juga akan ditutup ‘kan?” tanyaku cukup trauma karena sangat berpengalaman terkunci.


“Santai saja, kita pergi setelah Pak Aslan benar-benar mengusir kita,” jawab Ardian.


“Hei, kalian! Jangan lupa sebelum meninggalkan kelas, matikan kipas angin dan tutup jendela sebelah barat!” kata Elang tampak sudah menyandang tasnya di punggung, mengambil helm di rak belakang.


“Oke, boss!” jawab Yuanda membuka kartu pertama.


“Ritsleting paling depan belum ditutup!” ujarku memberi tahu. Tanpa membalas sepatah kata pun atau sekedar menoleh, Elang menutup ritsleting tasnya yang kumaksud sambil terus berjalan keluar kelas.


“Tidak, memang dasarnya Elang seperti itu ‘kan?” jawabku membuang salah satu kartu. Sekarang giliran Yuanda.


“Iya, sih! Tapi tadi aku jelas-jelas mendengar kalian berdua ribut,” kata Ardian.


“Kamu menguping?!” tanyaku.


“Ya bukan salahku yang tidak sengaja mendengarnya. Elang sampai menggebrak meja begitu. Yang ada di kelas pasti sempat dengar kata-kata Elang. Dia yang pasti menang atau apalah itu!” jawab Ardian.


“Ya, aku memang tidak di kelas, tapi aku dengar dari Diana. Sepertinya semua teman-teman sudah tahu, Ra,” timpal Yuanda. Aku benar-benar tak habis pikir betapa cepatnya informasi menyebar.


“Wah, memangnya Shira dan Elang sedang bertaruh?” tanya Marvel masih bingung memilih kartu yang akan ia buang.


“Iya, sepertinya bersaing mendapat nilai-nilai tertinggi dalam UTS nanti, iya ‘kan?” kata Yuanda lagi.


“Entahlah, itu benar-benar tidak penting bagi kalian. Jadi, lupakan saja!” jawabku tak ingin mereka semakin membahas hal ini, khawatir mereka tahu ada masalah lain terkait tantangan itu.


“Serius, Nda? Siapa yang menantang? Elang? Hebat ya berani menantang Shira! Apa konsekuensinya kalau Elang yang kalah, Ra? Tenang saja, aku mendukungmu!” kata Marvel malah antusias dan terus membahasnya.


“Oh, benar! Bisa kubuat konten youtube, nih! Ketua kelas cari mati menantang bintang kelas adu keenceran otak! Siapa yang akan menang? Kenapa tantangan ini ada? Saksikan vlog-nya di kanal youtube XI MIPA 1!” kata Ardian mendapat aplaus dari Marvel dan Yuanda. Hanya aku yang menepuk jidat tak tahan dengan kesintingan mereka. Daripada membuat yang seperti itu bukankah mereka sebaiknya belajar?


Beruntunglah Pak Aslan segera membubarkan kami. Kelas harus segera dikosongkan karena sudah tidak ada kegiatan. Permainan kami belum selesai dan obrolan ngelantur tadi juga tidak perlu diperpanjang. Ardian menawariku pulang bersama, tapi aku lebih memilih Yuanda sebab tahu benar kebiasaan Ardian menyetir motor yang seperti orang kesetanan. Tidak, aku belum ingin mati. Aku harus tetap hidup sampai misteri dunia kelabu itu terpecahkan.


Motor Yuanda masuk ke halaman rumahku. Basa-basi, kuajak dia mampir sebentar.


“Makasih, Ra! Lain kali aku pasti main ke sini!” kata Yuanda.


“Oke, makasih juga ya!”


“Anu ... Ra, maaf ya, aku lebih mendukung Elang,” kata Yuanda sebelum aku masuk. Yah, dibahas lagi.

__ADS_1


“Ah, ya ... terserah kamu,” jawabku nyengir, “aku dan Elang bukannya serius bermusuhan apalagi sampai harus mencari dukungan. Sungguh, itu hanya masalah sepele! Bilang ke teman-teman agar tidak perlu memikirkannya!”


“Tidak bisa, nih! Aku sudah kepikiran. Menantangmu seperti yang Elang lakukan sebenarnya adalah ideku dari dulu, tapi aku tak pernah benar-benar seberani Elang. Memang aku tidak terlalu suka dengan orang itu, tapi karena dia mencuri ideku, aku harus turut andil membantunya. Aku yakin sudah banyak yang mendukung Shira dan percaya kalau Shira akan menang sementara aku selalu menunggu yang sebaliknya. Aku ingin sesekali melihatmu kalah, Ra! Tidak apa-apa ‘kan?” tanya Yuanda begitu polosnya. Paling tinggi naik-turun di peringkat dua atau tiga tiap semester, wajarlah bila ia ingin sesekali melihatku kalah.


“Oh, tidak apa-apa ... benar ya, bantulah Elang!” jawabku. Semoga orang menyebalkan itu bisa memanfaatkan aliansinya.


“Tentu, aku dan Elang akan mengalahkanmu dengan cara sesehat mungkin!” jawab Yuanda bersemangat.


“Bagus! Oh iya, sebenarnya aku yang menantang Elang, bukan sebaliknya,” ujarku memberi tahu.


“Eh? Jadi kamu? Kenapa? Sebenarnya ada masalah apa di antara kalian berdua, sih?”


“Sudahlah, pulang saja sana!” jawabku beranjak masuk.


“Ra! Beri tahu aku dulu! Pokoknya nanti kalau aku yang menang aku ingin kamu menceritakan semuanya!” kata Yuanda. Suaranya semakin menghilang seiring langkahku masuk ke rumah. Aku memang senang ada yang ingin mengalahkanku, tapi bukan berarti aku akan mengalah atau bersedia dikalahkan. Enak saja!


Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul setengah tiga. Adikku, Maurin, tertidur dengan televisi masih menyala. Bodohnya, sudah berkali-kali kubilang jangan menonton tv sambil tiduran kalau sedang sendiri. Seandainya aku pulang sore bisa kubayangkan betapa listrik akan terbuang percuma. Ini bukan termasuk dosa besarnya karena tidak mengakibatkan hal fatal. Ia pernah lupa memanasi kuah sup lalu ditinggal mendengarkan musik sampai ketiduran. Beruntung sebelum dapur terbakar, aroma gosong segera mengundang kecurigaanku ... Eh? Aroma ini?!


Aku segera melesat ke dapur. Khawatir Maurin mengulang kesalahan yang sama . Aroma yang kucium memang bukanlah gosong –sedap sekali malah. Hampir terpeleset keset karena terlalu panik, sedetik kemudian aku terpaku di pintu dapur mendapati sesuatu yang kulihat. Seseorang berdiri membelakangi posisiku, dari gerakannya tampak merajang sesuatu. Wajan di atas panci tampak mengepulkan asap yang membawa aroma sedap tadi. Aku memercayai bahwa yang kulihat hanya ilusi sebelum orang itu menoleh dan tersenyum.


“Oh, hai, Sayang! Ibu tahu hari ini kamu pulang lebih awal!”


Mataku belum berkedip. Ini sungguhan?


“Makan siang akan siap setelah kamu cuci tangan dan ganti baju! Ibu tahu tiap Hari Jumat kamu tidak pernah bawa bekal. Jadi, cepatlah isi perutmu!” katanya lagi. Wah, sok tahu.


 ***


Malam Sabtu, ada acara musik kesukaanku di televisi, tapi ibu yang tiba-tiba entah datang dari mana menguasai ruang tengah, menonton acara kesukaannya. Aku hanya rebahan di kamarku, masih mengawasi ibu dari pintu kamar yang setengah terbuka. Maurin yang harusnya kutanya-tanya sedang keluar beli permen karet. Sial, aku sama sekali tidak punya ide kenapa ibu tiba-tiba pulang.


“Sayang, daripada kamu diam-diam memperhatikan ibu, sebaiknya ke marilah dan mengobrol!” kata Ibu tanpa menoleh, matanya masih menatap layar televisi sementara ia mencemil keripik jagung persediaanku. Aku hanya menurut, bergabung duduk di kasur lipat depan televisi.


“Bagaimana sekolahmu?”


“Kenapa ibu tiba-tiba pulang?” tanyaku langsung ke intinya, tak memedulikan pertanyaan Ibu.


“Sepertinya kamu terganggu dengan kehadiran Ibu ya?”


“Bu ... bukan begitu,” jawabku setengah berbohong. Sesuatu yang tidak biasa memang agak mengganggu, setidaknya sampai aku tahu alasannya. Tahun lalu ketika nenek kritis di rumah sakit ibu tetap tidak bisa pulang, tapi betapa ajaibnya hari ini –kurang dari sebulan sejak kepulangan terakhirnya saat aku masuk rumah sakit– ibu ada di sini tanpa alasan mendesak. Jelas ada sesuatu yang tidak beres.


“Ibu sudah tidak bekerja di kapal pesiar ‘kan?” tebakku. Mata orang tuaku ini terlihat menyipit ketika tersenyum


“Ya, sebenarnya setelah punya anak, ibu tidak pernah lagi kerja di sana. Maaf ya sudah membohongi Shira selama ini."


“Yah, aku tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan Ibu, tapi ...”


Jantungku semakin berdebar menanyakan hal selanjutnya.


“... tapi selama ini ibu ke mana saja?”


“Meski tidak di kapal pesiar, ibu tetap menjadi tenaga kerja di luar negeri.”


“Tetap saja ada perjanjian kontrak yang seharusnya tidak membiarkan ibu pulang atau kembali seenaknya. Jujurlah padaku, Ibu kerja di mana?”


Ada jeda panjang mengisi atmosfer. Tatapan Ibu jatuh ke tangan di pangkuannya sendiri, menyadari tak bisa menutupi apa pun dariku lagi.


“Ibu kerja di resor perhotelan di Singapura milik kenalan Ibu saat kuliah dulu. Ya, memang ada perjanjian, tapi dia lebih suka memperkerjakan Ibu atas dasar kepercayaan.”


“Kenalan yang Ibu maksud itu ... Mr. Lee?” tanyaku berhati-hati menyebutkan nama itu. Semoga ibu menjawab tidak, tapi ternyata iya. Aku ingin melegakan kegelisahanku dengan terus bertanya-tanya sebelum adikku muncul melempar jatah permen karetku. Memprotesnya karena ia membelikanku rasa yang tidak kusuka, aku mulai ribut ingin menukar dengan miliknya. Pembicaraan tadi seolah tenggelam dan terlupa. Biarlah, aku tak ingin membahasnya di depan Maurin.


Namun, bukan berarti kegelisahanku lenyap setelahnya. Hingga larut malam aku mencoba menebak-nebak. Benarkah tidak ada yang diharapkan dari hubungan kerja atas dasar kepercayaan oleh Mr. Lee kepada Ibu. Aku tak tahu nama lengkap orang itu, hanya pernah bertemu sekali ketika aku masih kecil di taman hiburan. Pria beretnis Tionghoa itu sepertinya juga mengenal Ayah, terbukti dari betapa akrabnya mereka mengobrol saat itu, tapi tak lama sebelum ada masalah antara Ayah dan Ibu, nama Mr. Lee sempat disebut-sebut.


Sungguh, meski rasanya telah terjadi sesuatu, aku masih berharap semoga saja tidak.


.Bersambung.

__ADS_1


Eh, telat banget emang, tapi aku ada rencana bikin ilustrasi Shira, Elang, sama Sakti. Nanti ku up di episode awal. Udah jadi sih sebenernya! Tinggal finishing aja. Maaf yang udah baca sejauh ini tapi baru ada ilustrasinya, soalnya yah ... bikin gambar lebih lama daripada ngetik cerita :v author gak terlalu berbakat hahaa. Dan nggak henti-hentinya aku bilang muakaasih banget buat pembaca yang setia hingga episode ini, buat semua dukungan kalian. I feel supported! Thanks a lot, everyone! Love ya!


__ADS_2