
Nyeri di kepalaku telah reda. Suster yang mengganti perban di kepalaku juga terkejut dengan lukaku yang tiba-tiba lenyap menyisakan bekas gelap. Ah, aku tidak mengira Sakti akan menuntaskan penyembuhannya sebaik ini. Menguntungkan bagiku, tapi menghebohkan bagi tenaga medis di sini. Aku tak bisa menahan tawa melihat campuran ekspresi kaget, was-was, sekaligus kagum dari suster di depanku.
“Apa Anda masih merasakan suatu keluhan?” tanyanya.
“Ah, masih sedikit pusing, Sus,” jawabku mengarang. Mungkin dia akan lebih panik mengetahui aku tiba-tiba sehat tanpa keluhan apapun.
“Kami akan melakukan pemeriksaan sekali lagi nanti siang. Jujur saja, benturan sekeras kemarin tidak menyebabkan kerusakan serius –selain pendarahan luar– saja sudah sangat luar biasa. Apalagi dengan luka pasien yang lenyap dalam semalam, ini keajaiban!” kata suster. Ibu yang baru bangun hanya mengangguk-angguk sambil turut terheran tanpa mengerti sepenuhnya apa yang terjadi.
“Kenapa tadi ribut sekali?” tanya Maurin yang masih menguap. Aku tak habis pikir dia turut menginap di sini semalam.
“Aku akan segera diizinkan pulang,” jawabku.
“Eh? Masa?” Maurin tidak percaya.
“Entahlah, kakak silumanmu ini memang jarang sekali sakit dan akan cepat sembuh sekalinya sudah sakit. Ibu sudag paham betul, tidak ada yang perlu Ibu herankan.”
“Ibu senang punya anak siluman?” tanyaku.
“Ya ampun, Sayang! Ibu hanya bercanda! Habisnya memang tidak ada manusia biasa yang bisa pulih secepat ini!”
“Ya, itu keren! Aku senang punya kakak siluman!”
“Mau kulempar bantal?!”
“Eh, ini bukan di rumah, jangan ribut di sini!” tegur Ibu, “Maurin, kamu tetap sekolah ‘kan? Ayo pulang, kita siap-siap,” kata Ibu. Adikku merengek ingin bolos satu hari saja beralasan untuk menemaniku di sini. Namun, kali ini aku berpihak pada Ibu, tidak mau dijadikan alasan bolos sekolahnya.
“Kamu tidak apa-apa sementara sendirian ‘kan, Shira? Ibu tidak akan lama.”
“Ya, tidak apa-apa. Ibu bisa urus bocah itu dulu,” jawabku. Maurin mencibirku kesal sebelum meninggalkan ruangan. Aku mencibir balik. Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat betapa akurnya kami berdua.
Setelah keduanya pergi tidak ada hal lain yang bisa kulakukam selain memainkan ponsel. Terakhir kali aktif kemarin pukul sebelas siang, ratusan pesan dari grup obrolan kelas masuk, beberapa baris pesan pribadi, serta sederet panggilan terlewat –panggilan terlewat paling akhir adalah kontak ayah dan satu nomor tidak kukenali.
Grup kelas meributkan kekalahan tim basket dalam pertandingan kemarin yang ... APA?! Tim basket kalah?! Skor akhir memang tidak terlalu jauh. Mungkin tim basket sudah berjuang semampu mereka. Ardian teman sekelasku mengirim video lima menit terakhir pertandingan, ketika terjadi pelanggaran yang menyebabkan Elang cedera dan tidak dapat meneruskan pertandingan.
Terekam jelas dalam video ini salah satu pemain lawan mendorong Elang dari samping hingga ia jatuh dengan posisi yang sama sekali tidak nyaman. Kakinya tersandung pemain lain dan mungkin juga cedera. Supporter sekolahku tak bisa menahan seruan protes. Meski tim lawan tetap menerima hukuman, tapi itu sama sekali tidak sebanding dengan keluarnya pemain paling berbakat di tim kami. Skor terus berkejaran hingga di detik terakhir tim lawan yang lebih unggul. Supporter kami tetap mengapresiasi pertandingan hari itu meski hasilnya tak sesuai harapan, menyanyikan yel-yel untuk tetap menyemangati tim basket yang melambai keluar lapangan dengan wajah kusut –memaksa tersenyum. Bisik-bisik beberapa orang terdengar kesal karena kemenangan lawan disertai kekerasan.
Barulah ketika Ardian yang merekam video ini terdengar berseru heboh, mengalihkan sasaran rekaman ke tribun di seberangnya. Di sanalah kericuhan terjadi. Anak-anak berseragam olahraga hitam dan merah terang saling dorong sambil adu bacot. Yang satu memprovokasi, yang lain tersulut emosi. Video berakhir ketika sekelompok anak yang kuduga satgas keamanan bersama beberapa guru mulai menertibkan situasi. Ah, jadi ini yang terjadi kemarin. Pantas saja cecunguk sekolah bebas melakukan kenakalan sebab para satgas disibukkan dengan kericuhan di gedung olahraga. Eh, lantas siapa yang menolongku jika bukan satgas keamanan?
Panggilan masuk dari nomor tak dikenal membuyarkan lamunanku. Sempat ragu menerimanya, tapi ini nomor yang juga meneleponku kemarin. Siapa ya?
“Halo?” jawabku ragu-ragu menerima telepon itu.
“Hai, Shira! Aku senang akhirnya kamu bisa dihubungi,” jawab suara di seberang sana.
“Kak Garuda? Ini nomor Kakak?”
“Iya, aku dapat kontakmu dari Aang ... eh, dari Elang. Diam-diam kucuri, sih! Habisnya dia tak mau memberi ketika kuminta baik-baik. Tidak masalah ‘kan?”
“Ah, ya, tidak apa-apa.”
“Bagaimana kondisimu sekarang? Aku berdoa semoga tidak ada sesuatu yang serius,” katanya terdengar begitu tulus.
“Doa Kakak dikabulkan, aku baik-baik saja,” jawabku.
“Ah, syukurlah! Aku dapat berita kamu masuk rumah sakit dari Sindi, tapi Sindi tidak mengerti detail kronologinya. Itu benar-benar membuatku khawatir memikirkan bagaimana kamu bisa dikeroyok seperti itu?”
__ADS_1
“Aku juga tidak menduga bisa terjadi seperti ini, padahal sudah kubilang aku tidak mau terlibat lebih jauh dan akan tutup mulut tanpa mereka melakukan ini semua, tapi ya ... anggap saja aku sedang apes.”
“Kuharap lain kali tidak terjadi seperti ini lagi ya, Shira. Semoga urusan ini tidak berbuntut panjang. Aku sangat ingin mengunjungimu tapi dua hari ke depan tidak ada kelonggaran, maaf ya!”
“Ya, tidak perlu memaksa, kok! Mungkin nanti sore aku sudah bisa pulang.”
“Sungguh? Itu terdengar melegakan. Kalau begitu Elang akan segera kusuruh mengunjungimu pagi ini,” kata Kak Garuda.
“Tidak perlu repot-repot, Kak! Lagi pula kudengar Elang cedera ketika bertanding kemarin,” jawabku.
“Ah iya ... meski cedera begitu, kamu pasti tidak percaya apa yang dia lakukan sepulang sekolah kemarin.”
“Oh ya? Memangnya ada apa?”
“Entahlah, dia tiba di rumah dengan wajah berang, padahal aku sangat ingin menanyakan kebenaran kabar yang kudapat dari Sindi tentang kamu. Ya ampun, dia malah memelototiku kesal! Sambil berjalan terpincang-pincang tanpa mandi, minum, dan masih bercucuran keringat begitu dia mengurung diri di ruangan pribadi tempatnya berlatih bela diri, menghajar samsak seolah melampiaskan seluruh kekesalannya hingga lewat matahari tenggelam,” jelas Kak Garuda tak bisa menyembunyikan kekhawatiran.
“Sepertinya aku punya sedikit penjelasan. Kurasa Elang kesal karena tim basketnya kalah, bahkan dia sampai cedera begitu," jawabku.
“Ya, aku juga sudah tahu. Bukan sekali aku melihatnya jatuh dan kalah, dia selalu punya emosi positif menghadapi kekalahannya, tetapi yang kemarin ini sungguh lain! Kesal, marah, frustasi, aku tak punya ide kenapa dia tidak bisa menahan ledakan emosinya.”
“Kakak sudah mencoba bertanya?”
“Tidak, tidak ketika dia masih emosi! Haha, bisa-bisa aku dijadikan sasaran pukulan, tapi tadi pagi dia terlihat lebih tenang dan sudah coba kuajak bicara.”
“Lalu? Bagaimana katanya?”
“Dia tidak bicara sepatah kata pun.”
“Eeh?! Terus apa, sih, maunyaa?”
“Tidak apa-apa, sebagai sesama kakak aku mengerti perasaan Kak Garuda. Memang akan sangat mengkhawatirkan bila adik kita tiba-tiba bersikap aneh.”
“Ah, iya, kamu punya adik juga ‘kan? Lain waktu aku ingin mengobrol lebih banyak. Kamu cepatlah sehat, maaf ya harus kututup dulu.”
“Tentu, tidak apa-apa, kok! Terima kasih ya, Kak.”
Setelah Kak Garuda mengakhiri panggilan kusempatkan membalas pesan pribadi dari teman-teman. Pesan paling nyampah dari Nike dengan segala kelebayannya menyesal telah lepas mengawasiku. Dih, sejak kapan aku memesannya sebagai anjing penjagaku?
“Shiiiiraaaaaaa!!!!”
Panjang umur, begitulah katanya jika orang yang baru dipikirkan segera muncul, tapi tidak bisakah makhluk satu ini muncul sekalem mungkin tanpa lengkingan suara yang memekakkan telinga?
“Hei, ini di rumah sakit! Mohon kondisikan suaramu!” jawabku.
“Ya, setidaknya salamlah dulu,” sahut Yasinta ternyata juga ikut bersama Marvel dan Elang. Ah, perwakilan kelas ya.
“Yo, Shira! Sesuai tebakanku, kepalamu pasti dililit-lilit perban seperti mumi,” komentar Marvel. Sekretaris kelas itu menjabat tanganku, sementara si ketua dengan wajah datarnya benar-benar tak banyak bicara, meletakkan sekantong buah tangan di meja sebelah ranjangku.
“Padahal ini belum selevel mumi, tahu!” balasku.
“Sebenarnya teman-teman yang lain juga ingin ikut menjenguk, tapi tidak mungkin bersamaan. Mereka sama-sama mengkhawatirkanmu,” kata Yasinta.
“Wah, aku terharu. Sampaikan terima kasihku ya!”
“Huhuuu, Raaa ... Aku minta maaf! Kalau tahu akan begini jadinya tak akan kubiarkan kamu lolos dari pengawasanku, akan kurantai tanganmu agar selalu terhubung denganku!” rengek Nike yang malah terdengar mengerikan. Siapa yang mau diperlakukan seperti itu?!
__ADS_1
“Aku juga, Ra. Bayangkan saja kamu beberapa menit yang lalu di sebelahku, pergi sebentar lalu kudengar kabar kamu sudah dilarikan ke rumah sakit. DASAR BIKIN KHAWATIR SAJA!” kata Yasinta malah ngegas. Dua sahabatku ini memang tidak pernah menunjukkan kekhawatiran dengan cara yang normal!
“Aku malah tidak tahu apa-apa sebelumnya. Setelah kericuhan di gedung olahraga itu, kulihat beberapa anak satgas dan PMR berlarian menuju lorong kamar mandi di sebelah gudang. Tahu-tahu Shira sudah dibopong Pak Hanri dengan wajah berdarah-darah,” sahut Marvel.
“Wah, aku baru tahu kondisiku segawat itu,” balasku.
“Heh, ketua kelas kalian sedang sakit gigi ya? Dari tadi diam saja!” celetuk Nike benar-benar cari mati. Dia belum tahu betapa Elang tidak bisa diganggu ketika suasana hatinya buruk seperti sekarang. Marvel menyikutnya supaya diam.
Elang sendiri tampak sedang melamun tak mendengar sesuatu yang baru saja Nike katakan. Rahangnya mengeras dengan tangannya yang diperban juga mengepal erat, terlihat sekali ada kekesalan yang ia tahan. Ah, aku jadi ingat yang diceritakan Kak Garuda di telepon tadi.
“Hei, kamu yang cedera waktu main basket kemarin ‘kan? Bukannya cuma kakimu yang terluka, tapi kenapa tanganmu juga diperban begitu?” tanya Nike.
“Ya ampun, kamu sungguh tidak bisa diam ya!” jawab Yasinta teringin menoyor kepala Nike.
“Apa?” tanya Elang baru tersadar.
“Ti ... tidak ada apa-apa, kok, Lang. Anu ... Tapi kelihatannya kamu sudah lumayan membaik ya, Ra? Syukurlah!” kata Marvel cepat-cepat membelokkan topik pembicaraan.
“Ya, aku ingin segera pulang!”
“Iyalah, siapa juga yang betah berlama-lama di sini!”
“Kamu sendirian saja di sini, Ra?” tanya Yasinta.
“Tidak, semalam ibu dan adik menungguiku di sini,” jawabku.
“Waaah, serius? Tante Mira pulang? Om Rei juga?” sahut Nike.
“Kalau ayah, sih, hanya menemui Maurin dan menitipkan sesuatu untukku, tapi tidak ke sini menemuiku.”
“Eh? Memangnya orang tua Shira kerja di luar kota?” tanya Marvel tidak paham.
“Ya, papanya Shira sudah lama kerja di proyek pertambangan di Sulawesi. Meski kesannya galak dan pendiam, tapi Om Rei itu baik, ganteng juga! Hanya sekali aku pernah ketemu, tapi udah cukup bikin aku pengin jadi anaknya, huhuuu!” kata Nike sinting.
“Serius, Nik? Kamu pernah ketemu Om Rei? Aku cuma pernah lihat fotonya dan dia emang ganteng. Kelihatan muda, putih, mata sipit. Oh iya, kamu pernah cerita kalau ayahmu blasteran Jepang ya, Ra?” sambung Yasinta.
“Heeh? Kenapa kalian malah bergosip?!” protesku sebal.
“Aduh, tidak apa-apa, Ra! Sepertinya aku menemukan narasumber terpercaya. Selama ini tidak banyak yang tahu tentang keluargamu,” jawab Marvel.
“Ah, kamu juga, juru rumpi! Tidak usah ikut-ikutan!”
“Kalau mamanya Shira bagaimana?” tanya Marvel pada Nike dan Yasinta benar-benar mengabaikanku.
“Mamamnya Shira kerja di kapal pesiar, jadi juru masak senior yang terkenal di sana. Kalau aku sempat naik kapal pesiar itu aku ingin menyombongkan diri dengan mengaku keponakan Chef Mira, haha!” jawab Yasinta. Aku yang merupakan darah daging mereka tidak pernah segila ini.
Memutar bola mata sebal, Aku tak bisa berbuat banyak demi menghentikan obrolan tidak penting ini. Tatapan mata Elang yang redup bertemu denganku. Ia belum juga ikut nimbrung pembicaraan. Aku hanya menelengkan kepala. Seandainya dia bisa mendengar pertanyaanku, “Kenapa, sih, uring-uringan begitu?” tapi Elang mengalihkan pandangan, menghindar. Ah, terserahlah.
Setelah serangkaian pembicaraan panjang tidak penting lainnya, teman-teman pun pamit. Jam besuk berakhir tak lama lagi. Aku melambai tangan ketika mereka keluar dari ruangan. Elang yang keluar paling terakhir sempat melempar tatapan yang tak bisa kumengerti. Tak bisakah dia langsung mengatakan masalahnya?! Itu membuatku kesal!
Aku sendirian lagi. Kutengok jam, katanya Ibu tidak akan lama tapi kenyataannya ini hampir jam sebelas. Karena tak banyak yang bisa kulakukan, iseng-iseng kuraih sekantong jajanan yang dibawakan teman-teman tadi. Satu benda lain yang tertinggal di atas meja membuatku terheran.
"Milik siapa, nih?"
.Bersambung.
__ADS_1