Kelabu

Kelabu
#S2 Episode 16


__ADS_3

Nah, ini dia! Aku kembali terbangun di gumpalan kapas lembut dan disambut aroma menyegarkan yang melegakan paru-paru. Yah, aku telah kembali ke Alba. Meski sebelum pergi sempat berharap bisa berlama-lama di Nigra setidaknya selama tiga hari, ternyata aku sendiri memilih pergi sore harinya setelah mengetahui Elang menghilang. Beruntungnya ada Aquila dengan kemampuan melacak super keren yang membuat Elang segera ditemukan hari itu juga. Kekhawatiranku tidak perlu bertahan lama-lama karenanya.


“Selamat pagi, Yang Mulia!” sapa pelayan dengan sumringah senyum yang enak dipandang.


“Hai, hai! Pagi! Wah, akhirnya kau menyapaku dengan setulus hati tanpa tekanan karena perbedaan status kita,” jawabku mengambil sebutir apel merah segar dari hidangan sarapan yang ia bawa.


“Habisnya ... saya merasa senang atas kembalinya Yang Mulia. Saya sempat khawatir Yang Mulia tidak akan kembali,” jawabnya. Sambil mengunyah, aku sendiri juga berpikir bahwa kekhawatiran itu sekarang berpindah padaku, khawatir tidak bisa kembali ke Nigra. Ah, sudahlah! Terlalu khawatir saja tidak cukup untuk menjamin nasibku selanjutnya.


“Tapi ternyata Yang Mulia benar-benar tidak lari dari tanggung jawab. Saya dan seluruh orang-orang di negeri ini merasa bersyukur atas hal itu. Rasanya ucapan terima kasih saja tidak akan ....”


“Oh, sebentar. Simpan dulu terima kasihmu. Aku belum berbuat apa-apa,” jawabku segera beranjak dari tempat tidur, membersihkan diri, dan bersiap dengan agenda hari ini. Ngomong-ngomong agenda apa memangnya? Mana mungkin Ladra tiba-tiba menggelar konferensi sebelum kondisi Elang pulih?! Ah, ya, mungkin aku akan mengunjunginya dulu. Kudengar ia telah dipindahkan ke tempat yang lebih layak, termasuk Kak Garuda juga.


Jujur, aku penasaran dengan perseteruan politik yang menjadi pangkal memburuknya hubungan Kak Garuda dan Aquila dengan dewan internal, tapi kronologi tersesatnya Elang ke sini masih menjadi tanda tanya yang ingin kutuntaskan dulu. Terlebih Kak Garuda belum menjelaskan mengenai sosok asing yang kemarin tiba-tiba menyerang kami. Aduh, aduh, semoga kapasitas otakku masih cukup untuk menelan semua informasi itu satu per satu.


“Hei, Kesatria Muda Luska!” tegurku untuk pertama kalinya memanggil orang itu dengan gelar lengkap. Aku tak sengaja melihatnya melintas di koridor.


“Oh, Yang Mulia ... adakah sesuatu yang perlu saya lakukan?” tanyanya. Tidak seperti pelayan yang tampak senang dengan kedatanganku kembali, aku tak melihat Luska tersenyum lagi sejak kemarin sore. Yah, para dewan pasti semakin serius menyiapkan banyak hal.


“Tolong antarkan aku menemui Elang dan kakaknya,” jawabku. Luska hanya mengangguk, melangkah ke tempat yang kuminta. Sepanjang perjalanan menuju ke sana hanya terdengar detak langkah sepatu kami yang beradu dengan lantai. Aku baru ingin memulai bicara ketika ternyata kami telah sampai.


“Di ruangan ini, Yang Mulia. Mereka ada di dalam.”


“Baiklah, terima kasih,” jawabku. Lagi-lagi hanya anggukan yang kudapat, “kau tidak punya informasi singkat untuk kuketahui?”


Luska menghentikan langkahnya, berbalik, “Kami sedang menyiapkan konferensi bersama keturunan Kesatria Perak, sesegera mungkin setelah kondisinya membaik.”


“Urusanku di Nigra?”


“Sudah diatur!”


“Oke, baik, terima kasih!” jawabku setelah itu membiarkan Luska pergi. Kak Garuda tiba-tiba membuka pintu tepat bersamaan dengan tanganku yang setengah terulur akan mengetuk.


“Wah, halo, Yang Mulia! Kamu cocok sekali dengan gaun putih-putih itu!” sapa Kak Garuda membuatku geli. Sejujurnya siapa pun yang menyebutku Yang Mulia masih terdengar menggelikan.


“Ini hanya longdress, Kak!” jawabku.


“Ya, tapi melihatmu di kastel ini membuat aura dan karismamu sebagai ratu tidak bisa ditutupi!”


Aku semakin tidak bisa menahan gelak tawa, “Tolong, berhentilah mengatakan hal-hal konyol!”


“Kalau begitu, menurutmu seisi kerajaan ini konyol?”


“Lumayan!” timpalku, “bagaimana keadaan Elang?”


“Semakin membaik. Sayangnya ia sudah tidur lagi setelah menelan obat. Padahal beberapa menit lalu masih terjaga,” jawab Kak Garuda melirik adiknya sekilas. Elang tidak tampak terlalu pucat, semoga ia benar-benar bisa lekas pulih.


“Elang tidak kebingungan karena tiba-tiba ada di sini?” tanyaku.


“Sikapnya normal, sepertinya dia sendiri yang paling tahu kronologinya, tapi aku tidak ingin membahas hal itu atau bertanya-tanya ketika ia masih seperti mumi.”


“Oh, benar, tapi apa aku akan mengganggu bila mengobrol banyak hal dengan Kakak di sini?”


“Tidak, kok, tidak apa-apa! Aku bosan setengah mati sejak hanya terkurung menunggui Elang dan tidak boleh jalan-jalan ke sana-sini. Yah, aku sadar pernah menjadi bagian dari kekacauan masa lalu dan sebaiknya memang tidak berkeliaran,” jawab Kak Garuda.


“Oh? Aku sudah lama penasaran akan hal itu. Kekacauan apa yang Kakak maksud?”


“Wah, ceritanya lumayan panjang, sih!”


“Aku terbiasa mendengar cerita-cerita panjang sejak di sini,” jawabku, “dan aku perlu mendengarnya. “


Kak Garuda melempar tatapannya ke langit melalui jendela, seolah membaca naskah cerita dari sana, “Semuanya berawal sejak aku terseret ke Dunia Putih beberapa tahun lalu. Berapa tahun ya lebih tepatnya? Yang jelas sejak awal-awal kuliah, sebelumnya malah. Liburan panjang sebelum masuk kuliah aku mulai mengenal Alba, beruntungnya sudah diterima kampus tanpa perlu tes, jadi tidak ada agenda belajar lagi ....”


“Wah, mantap! Sangat berbalik dengan keadaanku yang terseret ke sini ketika jadwal ujian berbaris panjang!”


“Shira yang sabar ya!” jawab Kak Garuda lalu kembali ke bahasan awal.


“Pertama kali tiba di sini, aku muncul di menara tempat tinggal Aquila yang dulu berfungsi sebagai menara pengintai ekspansi. Waktu itu kastel dan ibukota Alba masih di permukaan, tetapi wilayah yang dikuasai Dunia Kelabu sudah mencapai lima puluh persen lebih. Tuntutan rakyat untuk penyelesaian masalah itu telah mendesak pihak kastel sendiri yang sedang ditimpa musibah lain, bunuh dirinya pewaris sah.”


“Kedatanganku teramat kebetulan bersamaan dengan kejadian itu. Sempat digadang-gadang sebagai pewaris sah yang baru, tapi tanda-tandanya tidak muncul padaku. Akhirnya dibentuklah Tubuh Dewan Internal untuk tetap menjalankan pemerintahan selama kekosongan. Dua fraksi politik yang ada berlomba-lomba untuk mendapat dukungan rakyat demi mengisi kursi anggota dewan, mengusung berbagai propaganda dan kebijakan yang diyakini bisa menyelamatkan peradaban Alba.”


“Oh, yang akhirnya menimbulkan persaingan politik antara Ladra dan Aquila ya?” tanyaku. Bagus, aku belum dapat informasi utuh soal perseteruan itu.


“Benar. Dua fraksi politik itu memiliki tujuan yang sama untuk negeri ini, tapi berbeda kebijakan. Fraksi yang dipimpin Ladra punya ambisi kuat untuk memerangi Dunia Kelabu secara fisik –karena latar belakang Ladra sendiri memang dari kalangan militer. Dana yang digelontorkan untuk mengirim pasukan artileri menggempur dunia terkutuk itu tidak main-main. Hasilnya agak mengecewakan karena pengorbanan tidak sesuai dengan harapan. Sementara mereka menjanjikan pencarian terhadap pewaris sah berikutnya, giliran fraksi pimpinan Aquila yang mendapat perhatian.”

__ADS_1


“Sangat berbeda dengan Ladra, Aquila lebih fokus menyelamatkan sisa populasi yang ada, menggerakkan ilmuwan untuk membuat tempat laik huni selain di permukaan serta menekan perluasan ekspansi Dunia Kelabu. Sebagian rakyat mendukungnya, tapi pendukung Ladra mencemooh, menganggap hal itu hanya akan dilakukan oleh pengecut yang menyingkir dari tanah kelahiran sendiri. Namun, Aquila tidak berhenti di situ.”


“Aquila didukung penuh neneknya yang merupakan sejarawan untuk mengumpulkan petunjuk lama tentang asal muasal Dunia Kelabu beserta kelemahannya ... dan tibalah pada sesuatu yang mereka percaya, legenda keturunan Kesatria Perak, pemilik kekuatan besar yang ditakdirkan mengakhiri entitas Dunia Kelabu.”


“Dan Aquila pikir orang itu adalah Kak Garuda?”


“Ya, karena dari cerita-cerita lama itu, katanya sifatku mirip seperti Kesatria Perak, ketampananku juga,” cengir Kak Garuda.


“Wah?”


“Tidak, tidak ... soal ketampanan itu aku bercanda. Jelas lebih tampan aku, deh!” jawabnya. Sopankah bila kiranya aku menyembur tawa? Bukannya aku tidak setuju bahwa Kak Garuda tampan, tapi ... kepercayaan dirinya itu benar-benar di atas rata-rata!


“Selain itu, fakta bahwa aku secara misterius terseret ke Alba dipercaya bukan hanya kebetulan semata. Setelah portal antardunia ditutup, bukan sembarangan orang yang bisa keluar masuk Alba ... dan Aquila percaya aku memang bukan orang biasa. Kau pasti mengerti perasaan orang yang tidak tahu apa-apa, tapi tiba-tiba dihadapkan dengan harapan menyelamatkan seisi negeri,” kata Kak Garuda menghela napas sejenak.


“Aku paham, Kak! Sangat-sangat paham!” jawabku menjamin hal itu.


“Hehe, kamu bahkan malah akan diangkat menjadi ratu juga ya? Pasti mengejutkan sekali!”


“Lalu, bagaimana setelahnya? Akhirnya apa yang Kak Garuda lakukan?”


“Berbeda denganmu yang benar-benar keturunan bangsawan Alba sekaligus pewaris sah, aku sungguh bukan siapa-siapa, Shira! Kekuatan besar sekaligus tanggung jawab memerangi Dunia Kelabu itu tidak memilihku, tapi Aquila dan pendukungnya terlanjur percaya. Di lain sisi, perseteruan antarpendukung fraksi semakin memanas.”


“Pendukung Ladra yang menganggap legenda Kesatria Perak hanya omong kosong belaka semakin menantang kebenaran sesuatu yang dipercaya Aquila, dan aku berakhir mengecewakan gadis itu. Sama seperti prajurit-prajurit lainnya, aku gagal menahan ekspansi Dunia Kelabu dan rakyat merasa tertipu,” kata Kak Garuda terdengar penuh sesal.


“Ya ampun, padahal itu bukan salah Kak Garuda ....”


“Salahku atau bukan, yang jelas setelah itu fraksi pimpinan Aquila tergeser dari elite kepemimpinan karena semakin menurunnya dukungan rakyat. Bersamaan dengan itu, salah satu kubah Dunia Kelabu musnah, meninggalkan kristal bulan dan tanda-tanda hadirnya pewaris sah yang baru –yang ternyata kamu, membuat rakyat kembali percaya kepada Ladra dan mengangkatnya sebagai Kepala Dewan.”


“Oh ... Jadi begitu ...” kata sebuah suara yang agak serak tiba-tiba turut bicara. Seseorang yang tadi hanya berbaring kini berada dalam posisi duduk di tanjangnya.


“Ah, Elang?! Kamu sudah bangun? Dari tadi?” tanyaku menghampirinya. Ia tampak memijit kening dengan tangan yang tidak dililit perban.


“Sepotong cerita tadi sedikit membuatku mengerti, tentang negeri ini ... tentang Shira ....”


“Tentang kalian berdua ...” timpal Kak Garuda, “kamu jelas-jelas juga menjadi bagian dari penyelesaian semua masalah dan aku ... aku benar-benar kecolongan tentang petualanganmu di Dunia Kelabu bersama Shira. Ya ampun, siapa yang mengira dengan isi kepala yang ‘Aku ingin mengalahkan Shira!’ ternyata kalian selalu bersisian demi menghancurkan dunia terkutuk itu?! Kenapa kau tidak menceritakannya kepada Kakak, Ang?!”


“Siapa yang mengira ubur-ubur konyol sepertimu tahu lebih dulu soal dunia paralel?!” balas Elang yang sepertinya punya kekesalan tersendiri terhadap Kak Garuda. Maksudku, apa-apaan sebutan ubur-ubur konyol itu?!


“Yah, selama ini kita memang saling tidak mengira, tapi aku sama sekali tidak lupa kalau kau adalah adikku ... Adik yang gantengnya satu tingkat di bawahku,” jawab Kak Garuda benar-benar tidak bisa serius.


“Kata-katamu selalu saja teramat sampah seperti biasa!” balas Elang. Aku hanya nyengir karena menjadi orang ketiga dalam cekcok ini. Aduh, jadi kangen Maurin!


“Coba tanyakan Shira, deh! Dia pasti setuju dengan kata-kataku karena wajahmu sekarang sangat jelek setelah babak belur begini!”


“Eh, sudah, dong, kalian berdua!”


“Kau boleh menendang Garuda keluar jika tak tahan dengan ocehannya, Shir,” kata Elang.


“Oh, agar kau bisa hanya berdua dengan Shi ....”


Plak!


Gamparan keras menyasar wajah Kak Garuda. Aku gagal menahan jerit panik demi melihatnya.


“Lang! Ja ... jangan memukul Kak Garuda sungguhan!”


“Tidak sakit, kok, tenang saja!” jawab Kak Garuda pasrah.


“Mau yang sakit betulan?!”


“Ah, se ... sebaiknya tenagamu jangan diboros-boroskan untuk berantem dengan Kak Garuda dulu, deh, Lang! Hehe, sudah, ya!” ujarku melerai keduanya.


“Hm, kira-kira beginilah rasanya punya satu adik perempuan lagi! Seru juga!”


“Kak Garudaaa!”


“Siap, Shiraaa!” jawab Kak Garuda akhirnya benar-benar mau diam, masih sesekali cengar-cengir sementara Elang dibalik tatapan lelahnya itu menyimpan niatan membunuh. Ya ampun, ternyata kepribadian dua bersaudara ini benar-benar berkebalikan terlepas dengan wajah mereka yang sangat mirip satu sama lain. Sama-sama tampan, bila boleh kuakui.


Sejenak bersama orang-orang dari dunia asal yang sama denganku agak membuat lupa bahwa sekarang aku berada di Alba, sama sekali tidak menyadari sepasang telinga di luar sana menyimak pembicaraan kami. Aku tidak sadar, tapi Kak Garuda lain lagi.


“Halo, Kesatria Mabuk! Silakan masuk, daripada hanya berdiri di depan pintu!” kata Kak Garuda, “pamali, tahu! Nanti susah dapat jodoh, baru tahu rasa!”


Aku tak bisa menahan tawa karena kelakarnya. Berbeda dengan Elang yang sama sekali tidak terpengaruh dengan candaan itu. Kesatria Mabuk yang dimaksud mendorong pintu yang setengah terbuka. Laki-laki beralis tipis yang menjadi pengawalku sejak hari pertama di Alba itu sempat meminta izin masuk sebelum akhirnya benar-benar kuperbolehkan. Wajahnya masih semasam yang terakhir kali kulihat. Agak kusyukuri karena ia sudah cukup menyuguhiku dengan cengiran menyebalkannya sebelum-sebelum ini.

__ADS_1


“Salam, Yang Mulia!” kata Luska.


“Ah, iya, iya ... Ada sesuatu yang ingin kaukabarkan?” tanyaku. Luska sejenak menatap Elang , menghela napas.


“Saya tahu kondisi Elang belum membaik betul, tapi saya butuh beberapa informasi.”


“Oh, kamu tidak keberatan ‘kan, Lang?” tanyaku pada yang bersangkutan sendiri.


“Tidak,” jawabnya singkat.


Luska berdeham sejenak, “Saya perlu tahu, kenapa Elang bisa sampai di sini? Hal itu sebenarnya di luar tanggung jawab kami. Elang memang tiba pada hari yang sama dengan penjemputan Yang Mulia, tapi saat itu kami belum tahu bahwa dia punya peran penting terkait masalah kita.


“Berarti sungguh bukan karena dijemput pihak kastel ya?”


“Bukan. Kami perlu menyelidikinya karena khawatir ada kebocoran sistem pengamanan portal. Hal itu akan dimanfaatkan kekuatan jahat untuk menyusup ke mari.”


“Kekuatan jahat? Maksudmu, iblis?” tebak Kak Garuda mengingatkanku pada orang asing yang menyerang kami sebelum kembali ke Alba.


“Bisa jadi. Bila memang benar, kami akan meng-upgrade sistem pengamanan,” jawab Luska.


“Aku agak tidak mengerti, tapi kejadian yang kuingat sebelum terisap ke dunia ini adalah penculikan Yasinta di edufair waktu itu. Kau ingat, Shir?” tanya Elang.


“Oh, itu ... ternyata hanya akal-akalan Luska untuk memancingku agar menemuinya ....”


“Luska siapa?”


“Kesatria Mabuk ini, Lang!” kata Kak Garuda.


“Aku tidak berterima kasih untuk julukan aneh itu,” jawab Luska terlihat sebal.


“Aku ingat kejadian itu, Lang. Kita terpisah setelah dapat pesan singkat bahwa aku harus pergi sendirian,” jawabku.


“Benar, pesan singkat. Karena terlalu bingung dan panik harus melepasmu sendirian, aku terbawa emosi hingga merobek secarik pesan itu,” jawab Elang membuatku segera mengerti, “setelah itu aku terlempar ke ruang putih sebelum akhirnya tiba di tengah hutan belantara.”


Luska yang kemudian menampakkan tatapan polosnya kupelototi geram, “Itu, sih, kertas lintas dimensi! Ya ampun, Elang terseret ke sini karena ulahmu sendiri! Pantas saja aku merasa tidak asing dengan kertas itu karena memang pernah lihat sebelumnya!”


“Maaf, Yang Mulia. Saat itu saya tidak punya kertas lain untuk memberi tahu Anda,” jawab Luska.


“Aduh, padahal kau sendiri yang bilang harus berhati-hati soal kertas itu! Tidak bisa kubayangkan bila kertas itu akhirnya ditemukan orang lain dan robek selain di tangan Elang! Dasar ceroboh!” omelku.


“Ya ampun, Kesatria Mabuk! Aku sedang memikirkan julukan lain untuk orang seceroboh dirimu!” timpal Kak Garuda.


“Terima kasih, tidak butuh!”


“Satu keanehan lagi,” kata Kak Garuda kali ini tampak serius, “kenapa Elang jadi babak belur begini? Dan kenapa adikku harus ditempatkan di sel interogasi?”


“Yang jelas pihak kastel tidak berbuat jahat seperti yang kau pikirkan. Kami malah menyelamatkan Elang karena ia terdampak ekspansi Dunia Kelabu,” jawab Luska.


“Benar, Lang? Kau sungguh tidak diapa-apakan ‘kan?” tanya Kak Garuda.


“Luska tidak bohong. Aku memang dikeroyok segerombol monster buas yang pernah kulihat di Dunia Kelabu sebelum akhirnya pingsan,” jawab Elang.


“Kau dengar sendiri ‘kan?” kata Luska menatap Kak Garuda sengit, “kami menempatkannya di ruang interogasi selain mengira dia adalah kau yang akan kembali berulah, juga demi menanyainya ketika sadar terkait kronologi tersesatnya ke mari.”


“Yang ternyata karena keteledoranmu sendiri!” imbuhku.


“Ah, saya pasti juga akan dimarahi Kepala Dewan terkait hal itu,” jawab Luska.


“Baiklah, dengan begini, semua kesalahpahaman menjadi jelas. Pihak kastel akan merilis berita agar kasak-kusuk di tengah publik mereda dan beberapa pendukung fraksi oposisi yang bebal itu berhenti mencurigai kami,” kata Luska sarat akan nada menyindir.


“Wajar, dong! Habisnya legenda keturunan Kesatria Perak yang pernah ditertawakan fraksi kalian ternyata benar adanya, kalian juga kebetulan menyembunyikan Elang selama tiga hari ini seolah malu-malu kucing ....”


“Garuda, aku tidak mau memperpanjang cerita. Sudah kujelaskan, kami menahan Elang karena mengira dia adalah kau. Bagaimanapun kejadian pada masa lampau tetap terasa salah karena kami sempat percaya bahwa kaulah keturunan Kesatria Perak itu,” balas Luska, “jadi jangan salahkan kami bila kami perlu mewaspadaimu.”


“Hei, hei, bukankah salah pahamnya sudah selesai?” ujarku menengahi keduanya.


“Memang sudah, Yang Mulia! Saya pribadi memohon bantuan penjelasan Yang Mulia semisal orang-orang pendukung oposisi terus saja berprasangka kepada anggota dewan. Kami tentu sangat terusik bekerja siang malam demi Alba di atas gelitik segelintir orang-orang bebal itu,” kata Luska, “saya percaya Yang Mulia tetap bisa berlaku adil dan tidak serta merta membela teman-teman Anda. Kami para anggota dewan sedang tidak punya waktu meladeni gejolak politik tidak penting itu.”


Luska melenggang keluar setelahnya. Aku tidak menolak setuju atas kata-katanya. Namun, sayang sekali, mungkin karena ego dan fanatisme masing-masing, gejolak tidak penting itu terlanjur pecah kembali di luar sana.


Aku ingin ada yang menyetujui pendapatku bahwa perang saudara adalah alasan hancurnya peradaban Negeri Putih yang lebih mengerikan daripada ekspansi Dunia Kelabu sendiri. Lebih konyol dan amat disayangkan!


.Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2