Kelabu

Kelabu
Episode 44


__ADS_3

Monster-monster buas di hadapan kami menggeram, bergerak mendekat.


“Mundur, Shir!” perintah Elang menoleh kepadaku. Separuh wajahnya bukan lagi wajah manusia. Ia menginduksi kekuatan monster-monster ini. Aku menurut, kembali masuk beberapa langkah ke mulut lorong. Pertarungan serius segera dimulai. Dengan Elang yang sekarang dan kekuatan induksinya aku tak terlalu khawatir, tapi bukan satu monster yang ia lawan. Lima sekaligus, kuharap dia bisa mengatasi mereka. Keributan juga masih terdengar dari lorong utama di dalam. Aku terjepit di antara dua perkelahian hebat. Seandainya saja ada yang bisa kulakukan. Seandainya saja aku juga bisa melawan!


Sungguh, sama sekali tidak seru hanya menunggu sambil berharap-harap cemas. Di sebelah kananku dari mulut lorong bisa kulihat sekelebat gerakan Elang menahan pergerakan monster agar tak bisa masuk meraihku. Jelas ia agak kerepotan. Sementara di sebelah kiri jauh di dalam lorong yang semakin menyempit, pertarungan Sakti dengan sang iblis masih berlangsung. Dinding-dinding di sekitarku sempat bergetar. Bunyi dentum saling bersahutan.


Sesosok monster berhasil masuk ketika Elang sibuk mengurus yang lain, tetapi belum sempat menyentuhku, monster itu ditarik keluar oleh Elang dan dilempar dengan kasar ke halaman, menimpa kawanan monster lain. Belum boleh merasa aman, satu monster lagi bergerak lebih cepat merangsek masuk mengejarku. Tak ada pilihan lain bagiku untuk kembali masuk ke lorong utama, tapi dentuman hebat seketika merontokkan dinding-dinding di sekitarku. Puing-puing bangunan runtuh menimbunku bersama satu monster tadi. Material berat yang menghantam punggung mengirim rasa sakit menembus dada, membuat paru-paruku mendadak terasa sempit. Belum lagi debu-debu yang turut terhirup.


Namun, rasa sakitku terabaikan ketika geraman monster terdengar di sebelahku. Ia selamat dari timbunan reruntuhan dan masih bisa bergerak, mengorek-ngorek puing-puing yang menindihku demi mencengkeram leher begitu menemukanku. Terlalu lemah untuk meronta, hanya erangan lirih yang lolos dari tenggorokan ketika leherku yang semula memang sudah sakit kian bertambah sakit dicekik tangan sebesar dan sekuat itu. Aliran darah dari dan menuju kepalaku terasa terhenti. Aku tak tahan lagi! Aku tak tahan bila harus mati dan terbunuh di tempat ini!


Kucolok kedua mata bengis monster itu, kucakar wajahnya, dan kutendang dengan sisa tenaga. Cengkeraman di leherku terlepas, yang kurasakan justru lemas. Kesadaranku mulai mengambang di udara, tapi sempat kulihat Elang datang dengan wujud separuh monsternya, menarik kepala monster yang tadi menyerangku lalu mematahkan lehernya semudah mematahkan lidi. Monster itu meraung panjang sebelum akhirnya tak bergerak dengan mata mendelik dan mulut menganga. Harusnya monster itu sudah tamat, tapi tangannya masih bergerak dengan sisa tenaganya, menikamkan ujung kayu runcing menembus perut Elang di bagian ulu hati.


Mataku yang sudah meredup kembali terbelalak melihatnya. Baik Elang maupun monster itu tak lagi bergerak. Elang sempat membisu, perlahan kembali ke wujud normal. Semua monster yang menjadi sumber kekuatan induksinya mati, kekuatan yang ia pinjam dari mereka juga turut lenyap. Elang menghampiriku yang mencoba merangkak mendekatinya. Kayu yang tertancap di perutnya menciptakan rembesan darah yang tidak sedikit.


“Sssttt! Satu-satunya yang harus dikhawatirkan adalah kamu!” kata Elang sebelum aku sempat berkata-kata tentang lukanya. Ia menggendongku di punggungnya untuk mencari bilik tempat berlindung, menunaikan pesan Sakti sebelum kami berpisah. Ah, Sakti, apa juga yang terjadi padanya? Gedung di sekitar area pertarungannya dengan iblis itu runtuh. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk.


Elang berhasil menemukan bilik yang masih utuh setelah menyeberangi halaman utama menuju gedung terdekat di belakang, bilik sepuluh MIPA 3 yang tak terlalu luas. Aku tak bisa merasakan apa-apa ketika Elang menurunkanku rebah di lantai. Dengan luka seperti itu dia masih tetap harus berdiri menyangga pintu agar tetap tertutup. Posisi bilik ini yang tak jauh dari gerbang belakang tempat monster bersarang membuatnya tidak aman dengan pintu dibiarkan terbuka.


Aku memejamkan mata, tak tahan dengan pemandangan perut Elang yang terkoyak itu. Aku ingin segera bangun dari mimpi panjang yang mengerikan ini! Entah seberapa lama mataku terpejam. Ketika kubuka mata lagi, sentuhan hangat menempel di dahiku. Sosok bersurai putih yang biasa kukenali itu kini memperoleh luka sayat di pelipis memotong garis alis dan sudut mata kirinya.


“Wah, tadi itu gawat sekali!” kata Sakti, “untung saja ada Elang!”


Elang, aku mengedarkan pandangan menemukannya masih menyandar di pintu bilik. Sudah tidak ada lagi potongan kayu menancap di ulu hatinya. Sakti bahkan sudah menyelesaikan teknik penyembuhan terhadap luka Elang. Bekas lukanya yang menggelap terlihat kontras dengan kulit cerahnya. Eh, ke mana pakaiannya?


“Penyembuhan Elang selalu mengikis banyak energi. Lihat ‘kan? Ilusi pakaiannya jadi rusak lagi! Ah, untunglah penyembuhan Shira tidak perlu merusak ilusi pakaian ... eh, maaf!” ujar Sakti kemudian menghentikan kata-katanya. Kami berdua sama-sama mengalihkan pandangan. Itu terlalu mengerikan untuk terjadi!


“Sayang sekali kita belum menemukan apa-apa ya! Kalian belum putus asa ‘kan?” tanya Sakti berusaha mencairkan suasana. Elang sendiri masih terdiam melamun, pandangannya jatuh ke lantai. Aku bangun mengambil posisi duduk.

__ADS_1


“Putus asa tidak ada dalam daftar rencana kami,” jawabku. Sakti tersenyum lega. Sisa-sisa ngilu masih terasa di persendianku.


“Elang, kamu bisa duduk dan istirahat. Aku sudah memasang teknik kuncian di pintu itu. Monster di sekitar sini sudah banyak berkurang, kita bisa sejenak meregangkan badan, atau jika kamu tetap khawatir, aku bisa berdiri di sana menggantikanmu,” kata Sakti. Elang hanya bergeming dari tempatnya. Ada sesuatu yang ia pikirkan.


“Kenapa iblis itu jadi sering ke sini?” tanyanya.


“Wah, itu bahasan yang terlalu serius. Aku tidak ingin ada kekhawatiran lain di hati kalian. Tetaplah fokus menyelidiki celah cahaya, dia tidak bisa melukai kalian secara fisik tanpa tubuh fisiknya pula. Dia hanya akan menyerang keteguhan hati kalian, maka dari itu hilangkan segala ketakutan dan kekhawatiran,” jawab Sakti.


“Sayangnya, sesuatu yang serius itu memang harus kami ketahui, Sakti. Asal kau tahu juga, aku tak pernah takut kepada iblis mana pun selain iblis yang pernah bersemayam dalam diriku sendiri. Jadi, tolong katakan, jika memang iblis itu tak bisa membahayakan kami, kenapa dia sampai repot-repot datang ke sini?” tanya Elang memaksa.


“Iblis itu mengincar Sakti, Lang,” jawabku teringat kata-kata Sakti sendiri, “entah apa yang akan dia lakukan, iblis itu ingin menyingkirkan Sakti agar tak lagi membantu dan melindungi kita mencari jalan keluar dari dunia ini.”


“Nah, benar kata Shira!” jawab Sakti masih tersenyum, berusaha agar pembicaraan ini tak terdengar menegangkan, tapi itu tak banyak membantu. Kenyataan bahwa iblis itu akhirnya turun tangan sama sekali tidak bisa membuat kami tenang.


“Karena sejatinya aku sudah mati dan entitasku akan tetap ada di dunia kelabu ini, mungkin iblis itu akan menyegel jiwaku dalam bilik dengan mode pertahanan mutlak permanen sehingga aku tak bisa bergerak bebas dan tak seorang pun bisa membebaskanku. Ah, tentu saja aku tidak mau dipenjara dalam penjara, tapi jika suatu saat nanti aku sampai tertangkap, kumohon kalian tetaplah ... tetaplah berjuang meski tanpa aku,” kata Sakti kian lirih. Kesedihan di matanya tak bisa tertutupi oleh senyum yang terpaksa itu. Elang terdiam. Aku membisu, tak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Perjalanan kami saja sudah cukup sulit dengan Sakti di sisi kami, apalagi bila tanpanya.


“Sebelum itu terjadi dan aku akan semakin direpotkan, bisakah aku meminta sesuatu padamu, Shir?” tanya Elang, “kumohon agar kau sebaiknya diam saja, biarkan aku dan Sakti yang melanjutkan pencarian celah cahaya. Setelah kejadian tadi kupikir ini terlalu berisiko untukmu. Kita baru saja mulai dan kau hampir meregang nyawa di tangan monster. Aku tak ingin hal buruk terjadi lebih cepat.”


“Maksudmu aku harus membiarkanmu berjuang sendiri? Kau sudah tahu, aku tidak bisa!” jawabku.


“Aku berjuang bersama Sakti dan aku tak ingin kau menjadi penghalang!”


“Aku tak pernah berniat menjadi penghalang. Aku hanya tak bisa menjadi satu-satunya yang selamat ketika kalian menderita dan terluka!”


“Wah, sayangnya kau harus! Kau harus menjadi satu-satunya yang tetap hidup untuk membebaskan kami semua, Shir!” kata Elang menghampiriku, “cepat atau lambat aku pasti mati, aku tak takut menghadapinya, tapi mati di tempat ini dan berubah menjadi monster bukanlah sesuatu yang kuinginkan. Jadi kumohon, agar jiwaku, jiwa Sakti dan Sekti, juga jiwa-jiwa tersesat yang menjadi monster di sini terbebas, kau harus tetap hidup dan membuka segel celah cahaya. Hanya jiwa putih yang bisa melakukannya! Kau mengerti?”


Aku hanya menunduk, menghindari tatapan matanya yang tak biasa. Entah berapa kali Elang mengulang kata ‘kumohon' dan ‘kumohon’ menuntut pengertianku. Itu sama sekali tak biasa bagi orang yang biasa memerintah dengan nada tegas, tapi meskipun demikian bukan serta merta aku langsung setuju. Rasanya tidak adil bila hanya Elang yang bisa sok keren berkata siap mati dan tak peduli masih banyak orang di luar sana yang membutuhkannya. Barangkali dia sudah lupa dengan sesuatu yang telah kita sepakati. Jelas-jelas dia lupa.

__ADS_1


“Elang, aku mengerti kekhawatiranmu. Sayangnya jika kamu meminta Shira mundur dari pencarian ini, kita justru semakin tidak menemukan apa-apa. Celah cahaya hanya bangkit dan bereaksi ketika Shira di dekatnya, persis seperti dalam peristiwa kilas balik hari itu,” jawab Sakti. Elang hanya menghela napas. Aku paham ini sulit baginya. Ini sulit bagi Sakti juga. Tidak mudah bagi mereka yang berjuang mencari kepingan informasi sambil melindungiku. Sejujurnya aku tak ingin siapa pun kesulitan karena aku hanya menjadi beban.


“Tidak ada yang menganggapmu beban, Shira! Jika kamu berkecil hati karena itu, penyelidikan kita menjadi dingin dan tidak seru!” kata Sakti masih mencoba melucu. Jelas-jelas tadi Elang bilang aku hanya akan jadi penghalang. Tentu saja aku sadar kalau dia terluka demi melindungiku, aku sadar bila seandainya aku bukan bagian penting dari pencarian ini, Sakti dan Elang bisa bergerak lebih cepat tanpa harus menanganiku yang rentan dan sedikit-sedikit terluka.


Elang semakin terlihat sebal, mengacak rambutnya lalu kembali berdiri di pintu membelakangi kami. Tangannya yang menahan pintu terlihat mengepal seolah menahan segumpal kekesalan.


“Pstt! Dia minta maaf karena tidak bisa menyampaikan kekhawatiran dengan benar,” bisik Sakti kepadaku, “jangan diambil hati, oke?”


Aku hanya tersenyum. Kurasa aku juga perlu minta maaf. Pasti menyebalkan menghadapiku yang keras kepala dan tidak mengerti kecemasan yang ia rasakan. Ah, atau mungkin tidak. Elang sendiri juga sama-sama keras kepala! Sesaat kemudian Sakti malah tertawa. Sungguh, satu-satunya yang masih ingin bercanda hanyalah dia.


“Kalian sama-sama mengomel dalam hati, aku tidak bisa tidak mendengarnya! Aduh, bagaimana tidak lucu bila kalian sama-sama mengkhawatirkan satu sama lain? Itu sangat berbeda dengan jiwa-jiwa tersesat sebelumnya yang justru bertengkar memikirkan keselamatan masing-masing. Namun, kali ini jiwa-jiwa tersesat di depanku justru sibuk memikirkan cara agar pasangannya bisa tetap selamat. Belum pernah ada jiwa hitam yang benar-benar mengaku hitam maupun jiwa putih yang merasa tidak terlalu bersih. Ini unik! Aku jadi semakin optimis peristiwa titik balik akan terjadi musim ini!” kata Sakti.


“Jangan bicara omong kosong, Sakti! Meyakini kemungkinan terbaik hanya akan membawa kita menuju kemungkinan terburuk. Kita jadi lupa sesuatu yang harus diperbuat karena terlalu optimis. Untuk sementara aku tidak ingin percaya ramalan apa pun!” jawab Elang.


“Eh? Aku hanya ingin menyemangati kalian! Dari ramalan itu aku ingin kalian percaya bahwa tidak boleh ada perpecahan dalam menyelesaikan teka-teki ini. Kalian sudah sepakat untuk menemukan jawabannya bersama tanpa peduli bagaimanapun akhirnya nanti. Iya ‘kan, Elang? Iya ‘kan, Shira? Aku tak ingin kekhawatiran dan perasaan bersalah di hati kalian menjadi alasan untuk kemudian menyerah,” kata Sakti tak pernah berhenti menyemangati kami.


“Rupanya kamu juga punya kekhawatiran ya, Sakti?” tanyaku, “hanya satu dan tidak berubah, kamu khawatir aku dan Elang tak lagi searah ‘kan? Maaf ya, kami memang seperti ini. Kamu pasti lelah melihat kami selalu bertengkar. Kelihatannya memang buruk, tapi tujuan kami masih sama, memecahkan misteri jalan keluar dari dunia ini.”


“Kekanakan memang, tapi mau bagaimana lagi? Gadis bebal ini benar-benar sulit mengerti!” jawab Elang.


“Apanya?! Kamu juga sama-sama keras kepala!”


“Yah, mulai lagi!” kata Sakti.


“Eh, maaf! Nah, kamu tahu sendiri ‘kan Elang yang paling berbakat memancing keributan!” balasku. Elang menyahut tak mau kalah. Cek-cok tidak penting ini benar-benar dimulai. Sakti hanya nyengir, diam-diam ingin lari.


.Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2