
Kami bertiga tercengang melihat hamburan manik-manik hitam dari kalung jimat Kak Garuda yang tertinggal sementara pemakainya menghilang entah ke mana. Bagaimana kami tidak menyadarinya? Aku baru saja berpaling sebentar setelah Luska datang dan Kak Garuda menghilang tanpa kami ketahui.
“Aquila ... Bila Kak Garuda tidak memakai jimat ini ....”
“Dia dikuasai penuh oleh Lupus,” jawab Aquila. Segaris kecemasan tak bisa disembunyikan Elang.
“Dan dilihat dari caranya menghilang, itu teknik khusus para iblis. Lupus benar-benar memegang kendali penuh atas jiwa dan raga Garuda untuk saat ini.”
Kata-kata Aquila hanya berputar-putar di kepalaku, kucerna lambat-lambat. Dikuasai penuh katanya?
“Baiklah, sampai kapan kita akan mematung terkejut seperti ini? Bila ada yang bisa diperbuat, tolong jangan ditunda-tunda!” kata Elang.
“Lupus harus cepat-cepat ditemukan dan ritual penyegelan itu harus segera dilakukan sebelum matahari terbenam. Bila lewat dari itu ... Kita tak akan mengenali Garuda sebagai Garuda lagi ....”
“Matahari terbenam? Yang benar saja! Itu tinggal beberapa jam lagi! Dari mana kita tahu Lupus berada saat ini?!” ujar Elang mengacak rambutnya kesal.
“Aku tahu ... Sekarang dia pasti sudah di tempat sekutunya, Griseo,” jawab Luska.
“Tempat itu adalah penjara dengan segel akses masuk yang hanya bisa membuka oleh darah bangsawan Alba. Bagaimana dia bisa masuk?” sahut Aquila.
“Yah, mungkin ada campur tangan Kepala Dewan. Proyek portal raksasa itu sepertinya telah dimulai sejak beberapa hari terakhir,” jawab Luska.
“Pak tua sialan!”
“Tempat itu untuk sementara ini hanya mengizinkan akses masuk, tapi bila Griseo atau Lupus menabrak segel pelindungnya untuk keluar, pulau itu akan tenggelam ditelan gelombang pasang. Mereka berdua sejatinya malah terkunci di tempat itu!”
“Kedengarannya bagus! Jangan membuatnya menjadi buruk dengan datang terlambat,” kata Elang buru-buru pergi. Kami bertiga segera mengikutinya.
Paxii tunggangan Aquila saat menuju ke mari bersama Kak Garuda kali ini digunakannya bersama Elang. Adik Kak Garuda itu tampak tak banyak berpikir dan ingin cepat-cepat pergi. Aku belum sempat mengatakan ingin satu tunggangan dengan Aquila dan paxii mereka telah terbang. Konsekuensinya amat menyebalkan, aku harus satu tunggangan bersama Luska dengan paxii emasnya.
“Mari, Yang Mulia!” kata orang itu mempersilakanku naik dulu. Sungguh, aku masih ingin menghajarnya sampai detik ini atas semua tipu dayanya. Sesaat kemudian ia menyadari tatapan sinisku.
“Ah, benar ... Yang Mulia masih kesal ya? Tapi waktu yang tersisa akan sangat sia-sia bila hanya untuk memelototi saya,” katanya lagi.
“Kenapa kau tiba-tiba berada di pihakku?” tanyaku waswas, “bila kau merencanakan tipuan lain yang lebih fatal ....”
“Yang saya rencanakan adalah membebaskan diri dari kutukan ...” ujar Luska menatapku penuh sesal, “dengan tidak lagi merahasiakan rencana invasi itu dari Yang Mulia, dengan membantu Yang Mulia kembali ke Nigra, dengan membantu terwujudnya ritual penyegelan itu dan mencegah terjadinya bencana, dengan menarik diri dari nafsu kekuasaan yang salah ... Saya rasa dengan begitulah saya bisa selamat dari kutukan.”
__ADS_1
Tatapan kesalku masih tidak bisa hilang. Berdecak pelan lalu segera menaiki paxii, aku terlanjur tak mau mendengar ocehannya lagi. Luska pun turut naik setelahnya, duduk di belakangku. Ketika kupikir harusnya ia segera menarik tali kekang, tangannya justru melingkar di pinggangku dan sesuatu bersandar di puncak kepala. Tak bisa kulihat, tapi bisa kurasa embus napas hangat melalui helai-helai rambut.
“Saya juga ingin minta maaf, Yang Mulia ... tak peduli betapa pun Anda belum bisa memaafkan,” bisik Luska, “tolong jangan membenci seisi Alba hanya karena satu dua orang berengsek yang menyakiti hati Yang Mulia. Pasti ada banyak orang yang merasa kehilangan setelah ratu kami pergi ....”
“Berhenti membicarakan omong kosong itu! Kita sudah ketinggalan jauh dari Aquila dan Elang!” jawabku tak berselera. Luska terdengar menghela napas singkat kemudian menarik tali kekang, memerintahkan binatang ini terbang.
***
“Heh! Kalian berdua lama sekali!” kata Elang sesaat setelah tungganganku dan Luska mendarat di tepi pesisir. Matahari sudah semakin turun setibanya kami di sini. Garis terminator, batas siang dan malam itu pasti sedang melintas tempat ini sekarang.
“Kalian belum menemukan Griseo dan Lupus?” tanya Luska.
“Kami belum berani bergerak mendekati gua bawah tanah tempat Griseo karena tidak tahu prosedur ritual penyegelan itu,” jawab Aquila.
“Oh ... Hampir sama seperti mengaktifkan portal antardimensi. Kesatria Agung perlu menancapkan pedangnya di titik tengah pulau ini. Selama matahari belum tenggelam dan dua pemilik kekuatan yang akan disegel berada di pulau ini, pedang itu akan menghisap kekuatan keduanya, menciptakan portal besar yang membuka selama beberapa menit sebelum akhirnya tertutup dan tak akan membuka lagi sampai kapan pun,” jelas Luska.
“Semoga memang semudah kedengarannya,” jawab Elang.
“Di mana titik pusat pulau ini?” tanyaku, “jangan-jangan di gua tempat Griseo sendiri?”
“Kalau begitu rintangan kita hanya dua iblis itu. Kemungkinan mereka tidak akan membiarkan Kesatria Agung mencapai tempat mereka,” kata Aquila.
“Empat lawan dua, kita boleh sedikit optimis ‘kan?” jawab Elang.
“Sihir Griseo telah lenyap. Yang perlu diwaspadai adalah Lupus. Dia bisa leluasa menyerang, sementara kita harus berhati-hati untuk tidak melukai tubuh Garuda,” kata Luska.
“Baiklah, aku mengerti,” kata Elang mengangkat tangannya di atas kepala, membuat gerakan seolah mencabut pedang kristal itu dari punggungnya. Titik-titik cahaya perlahan mengumpul di genggaman tangan Elang, membentuk formasi solid sebilah pedang dengan kilau mengagumkan itu. Ia kembali mengayunkan tangannya ke depan setelah pedang itu utuh di genggamannya.
Dengan kewaspadaan tinggi kami bergerak menuju tengah pulau dengan daratan yang semakin menurun. Aku ingat penjelasan bahwa gua Griseo lebih rendah dari permukaan laut. Harusnya yang terlihat dari tempat kami berdiri adalah mulut gua selebar pintu garasi, harusnya hanya selebar itu. Kenyataannya lubang yang jauh lebih besar menganga, anggap saja gua griseo sekarang benar-benar jebol di atap menjadi semacam cekungan lebar di tengah-tengah pulau.
“Tanah di sekitar bongkahan batu perak itulah pusat pulau ini, Kesatria Agung. Pedang Anda harus ditancapkan di sana,” kata Luska.
“Benar, kami bahkan sudah repot-repot membongkar mulut gua menjadi selebar itu agar kalian bisa mudah mencapainya,” sahut sebuah suara dari belakang yang membuat kami menoleh bersamaan. Mataku membulat sempurna melihat wajah sosok yang amat kukenali itu sekarang memiliki noda tumpahan aspal yang sama seperti Labe atau pun Griseo, juga sepasang tanduk mencuat di kepalanya. Taring di sudut bibirnya menyempurnakan kesan mengerikan dari seringai yang terbit ... dan mata yang selalu memancarkan kesan teduh itu kini begitu asing karena menyerupai mata serigala. Juga suaranya ... meski agak serak dan bernada aneh, itu tetap suara Kak Garuda. Ia berdiri di sana, beberapa langkah dari kami dengan Lupus yang telah memegang kendali seluruh kesadaannya.
“Abang ....”
Sejenak ekspresi bengis itu lenyap berganti menjadi keterkejutan karena gumaman lirih Elang.
__ADS_1
“Ang ... Iya, ini Abang ... Lama tidak mendengarmu memanggilku seperti itu ...” kata sosok di seberang sana.
“TAPI BOHOOONG!!! HAHAHAHA! Kau ingin dengar bocah tengik ini bilang seperti itu? Terlambat, bodoooh! Abangmu sudah menjadi milikku! Hahahaha! Abang Lupus, panggil aku seperti itu sekarang! Hahahaha!”
Belum selesai kami memunguti kepingan hati yang berserakan setelah hancur karena kata-kata Lupus, satu iblis lain terlihat di pucuk dahan pohon kering tak berdaun, sama-sama menatap kami dengan seringai puas.
“Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul, mari kita mulai ritual penyegelannya!” kata sosok yang kukenali sebagai Griseo itu, melesatkan dirinya ke udara tinggi-tinggi. Kilauan cahaya di langit semakin terang seiring posisinya yang terus meninggi hingga akhirnya sambaran petir di langit bersih mencambuk udara.
“Tadaaaa!”
“Kenapa?! Kenapa dia sengaja menabrak segel pengunci pulau ini?!” kata Luska.
“Sial! Kita termakan jebakan mereka! Gelombang pasang sedang menuju ke mari! Pulau ini sebentar lagi tenggelam!” seru Aquila menatap horor sekeliling.
“Griseooo! Kenapa kau buru-buru?!”
Aku tak sempat mendengar protes Lupus karena desir angin semakin kencang. Sesuatu bergerak dari garis cakrawala, mengepung kami dari segala penjuru, bergulung membentuk riak ketika bercumbu dengan pasir pesisir, tumpahan gelombang air. Yang terpikirkan di kepalaku adalah merentangkan tangan ke dua sisi yang kubisa. Seandainya punya banyak tangan, aku ingin mengerahkannya ke segala penjuru, tapi untuk sementara ini hanya dengan dua tangan, kepungan air berhasil kubendung dengan kekuatanku. Seolah ada dinding tak kasat mata, kami seperti dikelilingi tebing-tebing air yang terus menggeliat tak bisa diam.
“Wah, wah, boleh juga! Mari kita tonton seberapa lama Yang Mulia bisa menahannya! Aku tidak akan mengganggu!” kata Lupus malah duduk bersila. Ini bukan soal seberapa lama, tapi mengendalikan partikel air yang lebih rapat dari udara dan tetap bisa bergerak bebas bukanlah hal yang mudah.
“Seberapa lama? Masalahnya mereka harus segera memulai ritual penyegelan itu sebelum matahari terbenam, Lupus! Jika tidak, kesempatan untuk mengambil alih Garuda darimu dan pulang ke Nigra hanya akan menjadi mimpi! Tapi dengan memaksa melangsungkan ritual itu, kekuatanmu dan Yang Mulia akan terhisap dalam pedang itu, bendungan air ini juga tidak bisa dipertahankan dan wush! Kita semua tersapu ombak!” balas Griseo.
“Hanya itu? Lalu bagaimana dengan portal besar yang tercipta setelahnya? Aduh! Jalan ke Nigra jadi terbuka lebar!”
“Ya! Mereka pun bisa pulang ... Membawa oleh-oleh tumpahan air yang disebut tsunami dari dunia paralel! Hahahaha!”
Tidak! Itu mengerikan! Sejak kapan situasi tiba-tiba menyulitkan kami seperti ini?
“Heh? Kenapa Kesatria Agung hanya diam? Semua keputusan ada di tanganmu! Ritual penyegelan dilaksanakan atau tidak, kami hanya akan menonton!” kata Lupus. Elang hanya bergeming di tempatnya berdiri, belum mengendurkan cengkeraman di pedangnya sementara tanganku mulai pegal. Langit telah berubah kemerahan. Hanya Elang dan waktulah yang bisa memberi jawaban.
Aquila dan Luska tak bisa banyak berkata-kata. Elang lebih sering menatapku yang masih berjibaku menahan tekanan air di segala penjuru, seolah bertanya tanpa suara, meminta pendapatku. Sayangnya, tidak satu pun pilihan memihak kami. Tidak yang mana pun!
“Inilah yang disebut titik balik, anak-anak! Titik balik bagiku!” kata Griseo memandang rendah kami, “giliran angkara dan bencana kembali berkuasa!”
.Bersambung.
Juni udah abis, tapi belum bisa namatin :(
__ADS_1