
Gelas susu coklat di mejaku masih hangat ketika isinya telah tandas. Aku sedang ingin memanjakan diri sendiri setelah menyelesaikan latihan soal. Merebah santai di atas ranjang sambil memandangi langit malam tanpa bulan. Mungkin fase sabit akan teramati dua hari ke depan, lalu fase purnamanya dua minggu lagi. Selalu ada gelombang aneh yang mendera dadaku ketika memimirkan hal itu. Ketegangan, penuh harap, tekad, keberanian, kekhawatiran, semuanya berpadu jadi satu.
Menghela napas, tak akan ada hasil jika hanya memikirkan perasaan-perasaan itu. Sejak beberapa minggu terakhir aku sudah berusaha serius memikirkan jalan keluar dari dunia kelabu. Format khusus untuk penyelidikan beserta urutan rencana dan daftar petunjuk yang harus kutemukan telah kusiapkan. Bagian perangkap enam kunci di enam penjuru kutandai centang karena sudah berhasil dipastikan keenam posisinya. Hasil yang didapat dari terungkapnya enam kunci itu harusnya adalah dugaan identitas iblis yang memerangkap aku dan Elang. Satu nama sudah Elang curigai, tapi ... entah kenapa aku tidak bisa tiba-tiba saja setuju.
Kenapa ya? Jika aku tidak sependapat dengannya maka harus ada alasan. Sayangnya, aku sendiri tak mengerti alasan tanganku yang menolak menulis nama Bu Lasmi sebagai terduga dalam penyelidikan ini. Kuraih ponsel di atas nakas, berniat menghubungi Elang, tetapi tak ada tanda-tanda dia sedang online. Aku hanya meninggalkan pesan.
Sesaat kemudian aku malah sibuk membalas pesan japri teman-teman yang bertanya ini-itu tentang sebendel latihan soal matematika. Sekalian saja kusebar di grup langkah-langkah pengerjaanku. Teman-teman masih banyak yang cerewet bertanya-tanya bagaimana bisa begini dan begitu. Jadilah malam ini aku memimpin kelas matematika daring hingga hampir dua jam ke depan. Pesanku kepada Elang belum dibalas, padahal dia menyimak obrolan grup. Ketika teman-teman sudah tak mempermasalahkan apa pun lagi dan berganti topik pembicaraan ngelantur, aku berniat offline, saat itulah akhirnya pesan balasan dari Elang masuk.
“Maaf, Shir. Dua puluh empat jam waktuku bukan untuk selalu membahas dunia kelabu itu.”
Kursorku hanya berkedip tak tahu bagaimana harus merespon. Apa aku ... berbuat salah?
Samar-samar suara bincang-bincang dua orang tertangkap telingaku. Warna merah darah di langit menyambut pandanganku. Segera aku tahu bahwa ini bukan dunia asalku. Bangun dari lantai dingin berdebu, dua orang yang berbincang tadi menoleh ke arahku.
“Wah, halo, Putri Tidur! Karena kamu yang bangun paling terakhir, mungkin kamu ketinggalan banyak obrolan,” kata yang bersurai putih dengan senyum khasnya. Sementara Elang duduk membelakangiku dengan punggung yang menampakkan siluet hitam pedang tertanam di dalamnya. Ilusi pakaian orang satu itu belum pulih dan memang lambat untuk kembali normal.
Kutebar pandangan ke sekeliling. Warna langit yang tak biasa, cahaya yang tampak seperti lembaran tipis mengelilingi dinding. Jangan-jangan ....
“Ya, benar! Kita bertiga terkunci dalam bilik dengan mode pertahanan mutlak. Iblis itu mungkin sedang menguji coba sebelum benar-benar akan mengurungku di sini,” kata Sakti lagi, dan apa-apaan senyumnya itu? Bagaimana dia bisa memberi tahuku hal buruk dengan ekspresi demikian?!
“Ini kebetulan atau kita memang diatur agar terkunci di bilik yang sama?” tanyaku mendekati keduanya.
“Aku tidak tahu persis. Jelang perubahanku kembali ke fase manusia setelah fase monster di dalam bilik, mode pertahanan mutlak bilik ini tiba-tiba aktif. Lalu kalian berdua muncul satu per satu. Yah, terlalu ajaib untuk dikatakan kebetulan,” jawab Sakti mengendikkan bahu.
“Kata Sakti hanya kau yang bisa mengakhiri mode pertahanan menyebalkan ini, Shir. Jika ada sesuatu yang bisa kau lakukan, aku minta tolong,” jawab Elang. Aku paham dia bukannya senang duduk manis sepanjang malam di sini sementara posisi celah cahaya masih menuntut untuk dicari.
Aku mendekat ke arah pintu. Lembaran cahaya tipis yang melindunginya agar tetap tegak sekilas berkilat, melepas energi yang siap melontarkanku jauh. Aku menahan diri, tidak buru-buru menyentuhnya. Sempat mengira pertahanan bilik ini mengenali energi yang kubawa, aku kembali menembuskan tanganku. Seketika yang kurasakan seperti terbakar. Penolakan pertahanan bilik ini sungguh tak kuduga. Tanganku seolah tertarik sekaligus dipanggang matang.
Sakti yang mendengar jeritanku segera berdiri, mendapati tangan kananku menggelap separuh lengan seperti mengenakan sarung tangan. Ia terbelalak tak percaya.
“Ya ampun, kali ini Shira juga tertolak bahkan dengan akibat seburuk ini! Sepertinya bilik ini memang tidak bisa ditembus siapa pun lagi!” kata Sakti tanpa menunggu diminta segera memulai teknik penyembuhan.
“Sial! Sejak kapan bilik tempat kita berlindung berubah menjadi penjara berdinding mematikan seperti ini?!” gerutu Elang kesal, meninju telapak tangannya sendiri.
“Ya, kita jadi tidak bisa keluar dan rencana penyelidikan kita selanjutnya terhambat total,” jawab Sakti masih mengalirkan energi yang meregenerasi sel-sel dan jaringan rusak di tanganku. Tak ada hangat atau sejuk yang kurasakan seperti biasa ketika Sakti melakukan teknik penyembuhan. Tanganku mati rasa setelah panas dan perih yang singkat tadi. Kuharap tidak ada kerusakan serius di jaringan syarafku.
“Tapi bukankah posisi enam kunci di enam penjuru sudah kalian ketahui? Apa kalian sudah tahu sesuatu tentang penyamaran iblis pencipta dunia ini?” tanya Sakti.
“Ya, sedikit. Seandainya ada lagi bukti lain yang mengarah kepadanya, aku bisa semakin yakin,” jawab Elang.
“Apa ada kelemahan atau ciri khas tertentu dari iblis itu, Sakti?” tanyaku sambil sesekali mendesis lirih karena tanganku mulai merasakan sensasi kesemutan yang menggelitik dan tak biasa.
“Aku tak terlalu tahu, tapi bayangkan saja dia hidup di tengah manusia selama ratusan tahun menebar kerusakan, berganti wujud dan menyamar demikian hebatnya tanpa ada yang menyadari sosok aslinya. Jelas ia juga tak sembarangan menunjukkan kelemahannya, tapi bukan berarti tidak ada. Coba perhatikan lingkungan sekitar kalian, jika ada kerusakan besar, iblis itulah pelakunya dan memang begitulah ciri khasnya, menebar bencana,” jelas Sakti. Aku menggeleng. Tidak, tidak cocok. Bu Lasmi yang kami curigai hanyalah orang tua pendiam yang tidak banyak tingkah. Ekspresi dan intonasi bicara saja dia tidak punya. Kurasa Elang harus berpikir ulang untuk mencurigainya.
“Meskipun kecurigaanku benar, aku tak ingin langsung menodongnya dan membuka kedok iblis itu di depan umum. Itu bukan rencanaku, tidak terlalu berguna. Aku dan Shira sepakat tak ingin melibatkan lebih banyak orang. Mungkin kami berusaha mendekatinya diam-diam dan mencuri informasi tentang celah cahaya dari iblis itu,” jawab Elang.
“Ya, itu memang rencana kalian dari awal. Kusarankan agar kalian berhati-hati. Iblis itu memang belum tentu akan langsung menghabisi kalian, tapi informasi celah cahaya yang harusnya berhasil kalian curi justru akan semakin dijauhkan. Aku mengerti iblis itu juga menikmati permainannya sendiri. Semoga ia membiarkan kalian hidup hingga perlawanan terakhir kita,” harap Sakti.
__ADS_1
Tak lama kemudian ia menyelesaikan teknik penyembuhan di tanganku. Warna kulit tangankubyang sempat menggelap karena terpanggang kembali normal. Hanya bagian ujung-ujung jemari yang masih membiru. Mungkin karena bagian itu yang terkena kontak pertama, tapi selebihnya aku baik-baik saja. Tanganku bisa digerakkan tanpa rasa sakit meski agak gemetar. Lagi-lagi aku berterima kasih kepada Sakti. Seandainya ini terjadi di dunia nyata mungkin aku harus menghabiskan banyak uang untuk datang ke dokter.
“Lalu apa yang bisa kita perbuat sekarang? Terus saja berdiam diri? Harusnya ada sedikit celah bagi kita untuk keluar dari sini,” kata Elang.
“Sayangnya tidak ada, bilik ini sekarang tersegel sempurna. Dinding-dinding, langit, dan lantainya terlalu berisiko untuk ditembus,” jawab Sakti. Padahal aku punya ide untuk meloloskan diri melewati dinding bilik ini dengan menggali melalui bawah tanah hingga tembus ke luar, tapi kata Sakti benar-benar tidak bisa.
“Ah, sialan! Jika terus seperti ini bagaimana kita bisa terus hidup sampai perlawanan terakhir? Betapa pun berharganya informasi celah cahaya yang akan kita temukan dari iblis itu, jika kita tak bisa menuju celah cahaya karena terus terkunci di sini, maka semuanya akan sia-sia! Tidak ada perlawanan terakhir yang bisa kita lakukan lagi!” kata Elang mulai menggerutu kesal, “penyelidikan kita tidak boleh hanya dilakukan satu sisi di dunia nyata saja. Justru yang paling penting adalah penyelidikan di dunia kelabu ini!”
“Tenanglah, Elang! Kali ini iblis itu memang banyak campur tangan, tapi tak peduli betapa pun iblis itu merecoki usaha kita, jika sudah waktunya bagi entitas dunia ini berakhir, maka tak ada yang bisa mempertahankannya agar tetap ada. Itulah yang disebut peristiwa titik balik, yang dikhawatirkan sang iblis hingga repot-repot melakukan ini semua,” jawab Sakti.
“Aku tak peduli kekhawatiran iblis itu!”
“Sungguh kau tidak peduli, Elang? Iblis itu khawatir ramalan titik balik benar-benar terjadi. Aku bukan berarti menjamin kebebasan kalian sehingga kalian bisa santai, tapi rasanya peristiwa itu memang akan datang sebentar lagi,” jawab Sakti.
“Ya, benar, Sakti. Aku tidak bisa santai dan terlalu optimis dengan yang kau sampaikan. Sebab apa? Sebab Kau selalu menyampaikan hal yang sama kepada jiwa-jiwa tersesat sebelumnya, ramalan titik balik akan terjadi pada masa mereka, tapi kenyataannya sangat berlainan. Jiwa-jiwa itu berakhir sebelum peristiwa yang kau ramalkan terjadi!” jawab Elang menaikkan suaranya. Tiba-tiba saja diskusi kami menjadi tegang seperti ini.
“Ah, itu memang kesalahanku ....”
“Lalu kau ingin mengulangnya kepada aku dan Shira?!”
“Lang, kita diskusi dengan otak, bukan otot!” ujarku memperingatkannya. Ini bukan hanya perasaanku saja bahwa dia tiba-tiba jadi temperamen.
“Hei, orang yang jarang menggunakan otaknya dan lebih suka menggunakan perasaan bilang demikian padaku? Tidak salah?” jawab Elang memantik emosi. Ah, seandainya saja tanganku sudah pulih dan bisa menoyor bebas kepalanya!
“Sudah, dong, kalian berdua! Iya, benar, Lang, aku tidak menolak fakta bahwa memotivasi jiwa-jiwa tersesat sebelumnya dengan ramalan titik balik ternyata berakhir buruk untuk mereka ....”
“DENGARKAN SAKTI BICARA DULU, BODOH!” jawabku akhirnya hanya bisa ngegas. Elang hanya mendengus sebal.
“Aku hanya ingin bilang kalau seandainya keadaan kita tetap seperti ini, jangan ada yang putus asa dan menganggap usaha kita sia-sia. Ramalan titik balik itu memang terdengar seperti omong kosong, tapi tanda-tanda kebenarannya yang muncul satu per satu di hadapanku ... Eh?!”
Kata-kata Sakti terpotong ketika kepalan tinju melayang cepat melewati sisi wajahku, menyasar Sakti tetapi berhasil ia tahan dengan telapak tangannya. Aku terkejut mengetahui Elang berani menyerang Sakti lebih dulu.
“Sudah kubilang berhenti membicarakan omong kosong itu!” geram Elang rendah. Garis rahangnya terlihat mengeras dengan alis yang tampak menyatu. Dia tidak sedang main-main.
“Aku tahu ada yang salah denganmu, tapi tidak seharusnya kamu bersikap seperti ini, Lang!” ujarku berusaha melerainya.
“Tutup mulutmu, Shira! Kau tidak tahu apa-apa! Bahkan kau tidak tahu Sakti berbohong tentang ramalan itu!” jawab Elang mendorongku agar menyingkir, lanjut melancarkan serangan berikutnya kepada Sakti.
“Aku tidak berbohong!” jawab Sakti sambil terus menghindar dari pukulan dan tendangan Elang.
“Kau bohong! Itu hanya khayalan gilamu untuk menghibur diri! Tidak ada catatan tentang ramalan itu di buku kuno hingga halaman terakhir! Yang ada hanya petunjuk untuk mengorbankanku! Shira yang tidak bisa membaca dan memastikannya pasti tidak memercayaiku dan selalu membelamu!”
“Ada, Lang! Seandainya aku lupa menuliskannya bukan berarti itu khayalanku yang tidak nyata!”
“Masih saja membantah, ha?! Kenapa?! Sekalipun kau diam saja Shira akan tetap memercayaimu!”
“Cukup, Lang! Hentikan!” teriakku tak bisa berbuat banyak menyaksikan Elang yang tak henti menyerang Sakti, membabi buta. Ini bukan seperti Elang yang kukenal, yang kepala dingin dan tidak emosional. Ada apa dengannya?
“Aku tak habis pikir kenapa justru kau yang seolah menghalangi kami keluar dari tempat ini dengan menjanjikan harapan termudah tentang ramalan itu?! Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau yang membuat Shira menjadi ragu untuk mengorbankanku?! Kenapa, Sakti?! Padahal kau sendiri juga ingin terbebas dari tempat ini, tapi kenapa tidak mau mengikuti petunjuk yang ada?!”
__ADS_1
Satu tendangan keras tak sempat Sakti hindari, telak mengenai dagunya hingga ia terlempar beberapa meter. Keadaan berbalik, kali ini Elang sangat sempat menghajar Sakti yang terbanting di lantai.
“Jangan-jangan iblis itu justru ada dalam dirimu! Jangan-jangan penyamaran hebat yang kau maksud adalah sikap baikmu selama ini yang membuat aku dan Shira tak perlu mencurigaimu, begitu, ha?! Sebenarnya kau memang tidak ingin siapa pun lolos dari tempat ini ‘kan?!”
Aku menutup mulutku tak percaya, beraninya Elang berkata demikian. Sakti lagi-lagi bisa menahan tinjunya, menyingkirkan Elang ke samping membalikkan posisi. Sekarang Elang yang telentang di lantai dengan Sakti menahan kedua tangannya.
“Jika kamu belum sempat membacanya, biar kuberi tahu,” kata Sakti sambil masih mengatur napas, “tanda pertama peristiwa titik balik adalah sikap jiwa putih dan hitam yang menghargai pasangannya, ingin melindungi satu sama lain meski dihadapkan kenyataan bahwa salah satu dari mereka tetap harus mati dikorbankan di sini. Aku percaya hanya dengan kasih sayang seperti itu sihir-sihir jahat penuh angkara dan kedengkian di tempat ini bisa dikalahkan.”
“Kenyataannya itu hanya pendapatmu saja ... aghk!” ringis Elang ketika Sakti lebih kuat mencengkeram tangannya karena ia terus mencoba melawan.
“Kedua, adanya jiwa hitam keturunan jiwa putih yang mewarisi kekuatan luar biasa. Aku tak tahu secara pasti, tapi mungkin kekuatan itu berbentuk pedang yang sekarang tertanam di punggungmu,” jelas Sakti semakin kesusahan menahan perlawanan Elang yang tak mau mendengar penjelasannya. Dengan sekali cubit di pangkal hidung, barulah Elang jatuh pingsan dan tenang. Aku masih terdiam mencerna penjelasan Sakti. Itu berarti ....
“Benar, Elang adalah keturunanku,” kata Sakti.
“Su ... sungguh?!” tanyaku tak percaya. Aku lebih percaya jika orang keras kepala dan menyebalkan seperti Elang adalah keturunan Sekti.
“Sungguh, Shira! Ketika Elang tertangkap di sarang monster lalu bunuh diri hari itu, aku berhasil menyelamatkannya mungkin karena ikatan garis keturunan di antara kita. Kekuatanku mengalir lancar dalam tubuhnya tanpa ada penolakan. Secara mengejutkan, keadaannya berangsur membaik padahal ia sudah demikian sekarat. Ditambah lagi Elang secara ajaib mengerti sandi yang kupakai di buku kuno, yang hanya dimengerti aku dan Sekti. Itu bukan keberuntungan. Jelas bahwa Elang adalah keturunanku,” jelas Sakti.
“Bukan keturunan Sekti?” bantahku masih ngeyel.
“Bukan, Sekti sudah menukar jiwa anak dan istrinya agar mendapat bantuan kekuatan iblis. Sedangkan aku memang belum menunggu istriku melahirkan anak pertama kami sebelum memutuskan menyusul Sekti ke dunia kelabu ini, tapi aku yakin mereka tetap hidup dan meneruskan garis keturunanku hingga ke keluarga Elang,” jawab Sakti. Ah, fakta mengejutkan! Setelah sejauh ini aku baru mengetahui bahwa si kembar sudah berkeluarga? Kupikir mereka masih seumuran denganku! Sakti hanya tertawa mengerti sesuatu yang kupikirkan.
“Wah, kami memang terlihat muda ya ‘kan? Sepertinya aku memang beberapa tahun tak jauh darimu, tapi keluarga kami memang mengharuskan kami menikah sebelum dua puluh tahun,” jawab Sakti. Benar juga. Nenekku bahkan menikah saat berusia empat belas.
“Jadi ... dari tanda-tanda tadi kamu yakin peristiwa titik balik akan terjadi pada masa aku dan Elang?” tanyaku.
“Bukannya seratus persen yakin, aku hanya berharap. Siapa yang tidak berharap jika tanda-tanda itu muncul pada kalian? Tapi kekhawatiranku akan gagalnya peristiwa itu juga sama-sama muncul,” jawab Sakti.
“Maksudmu?”
“Kekhawatiranku tentang masalah yang timbul dalam hati kalian, yang aku sendiri tidak bisa mengatasinya. Aku harus mengatakan ini agar kamu tidak membenci Elang. Apa pun yang terjadi tolong maafkan sikapnya,” kata Sakti.
“Eh? Harusnya aku yang bilang begitu, Sakti! Dia bahkan menuduhmu hal yang sangat tidak masuk akal. Aku sangat khawatir kamu akan tersinggung dan benar-benar marah kepadanya,” jawabku.
“Aku marah? Mungkin iya jika aku tidak tahu maksud Elang yang sebenarnya, tapi jelas Elang lupa aku bisa membaca pikiran.”
“Oh ya? Memangya ada apa?”
“Ayolah, kamu pasti heran dengan perubahan sikapnya yang demikian.”
“Iya, sih! Itu bukan seperti dirinya yang biasa,” jawabku sekilas memandang Elang yang masih terbaring.
“Mungkin kamu lebih tahu, ada banyak tekanan yang ia hadapi. Elang sudah berada di batasnya. Paling tidak ia ingin masalah dunia kelabu ini berakhir sesuai rencananya. Memang agak konyol bila ia memutuskan untuk bersikap kasar dan dingin agar kamu percaya bahwa dia memang jahat dan layak dikorbankan, tapi asal kau tahu itu hanya kepura-puraannya demi menjagamu tetap hidup dan bisa bebas dari dunia ini.”
Aku hanya menunduk mengepalkan tangan mendengar penjelasan Sakti. Seandainya aku juga bisa membaca pikiran sepertinya, aku pasti bisa menoyor Elang lebih awal. Jelas-jelas ia melanggar kesepakatan, katanya sudah tak peduli bagaimanapun akhir penyelesaian jalan keluar dari dunia ini dan berdamai denganku, tapi kenyataannya diam-diam masih mempercayai bahwa satu-satunya jalan adalah dengan mengorbankannya. Ini lebih tepat dikatakan ia sedang ingin lari dari sesuatu dan memang ingin mati untuk menghindarinya. Keputus-asaan yang dikhawatirkan Sakti sungguh lebih serius dari yang kukira.
“Dasar bodoh!” ujarku lirih meninju pelan pipinya. Lain kali kalau mau main sandiwara bilang-bilang, dong!
.Bersambung.
__ADS_1