Kelabu

Kelabu
#S2 Episode 26


__ADS_3

Sekumpulan kunang-kunang di kejauhan sepertinya sedang mengerubungi seseorang, atau sejatinya seseorang itu sendiri muncul dari sekumpulan kunang-kunang? Entahlah! Keberadaannya tak bisa disembunyikan di ruang yang hanya ada gulita ini dan sama sekali tidak aneh bila aku menghampirinya ... sebab dalam kegelapan, siapa pun hanya ingin menuju titik cahaya.


Beberapa langkah darinya, sesosok wujud manusia itu menoleh. Surai putihnya terkibas ketika tubuhnya juga berbalik memutar, menatapku lekat.


“Sakti ...” gumamku pelan. Orang itu balas menyebut namaku dan aku pun menyerukan namanya lebih keras sekali lagi, dengan antusias menghampirinya lebih dekat, berharap bisa meraih tangannya atau apa pun setelah rangkaian memori bersamanya kumiliki lagi. Namun, ternyata saat ini Sakti hanya sekumpulan cahaya yang tertembus ketika kusentuh.


Terlepas dari sosoknya yang tak bisa kusentuh, aku tetap merasa senang karena mendapat kesempatan melihat senyumnya yang masih seramah dulu setelah yang muncul di mimpiku selama ini hanya Sakti kecil yang teramat asing. Senyumku sendiri menolak disembunyikan, tetapi belum sempat berbasa-basi, Sakti lebih dulu mengatakan sesuatu.


“Penyesalan dan rasa bersalah memang mengerikan ya! Keduanya bisa menjadi bayangan gelap yang membekas di lubuk hati, muncul sewaktu-waktu dan melemahkan seketika,” katanya tanpa kutahu kenapa tiba-tiba membahas hal ini, “maka dari itu, penyesalan tidak seharusnya ada. Harusnya tidak ada yang patut disesali.”


Aku terdiam beberapa saat, menggali timbunan ingatanku tentang penyesalan, segunung rasa bersalah, dan masa lalu tidak menyenangkan. Terakhir kali yang kuingat soal itu, satu nama yang terlintas di kepalaku.


“Apa yang kamu maksud Elang?” tanyaku.


“Bukan hanya Elang, tapi aku juga, kamu juga. Selalu ada konsekuensi atas setiap situasi, termasuk dalam melakukan kebaikan yang kita yakini, tetapi tidak ada yang patut untuk disesali karena kebaikan tetaplah kebaikan.”


Detik berikutnya sosok Sakti lenyap begitu saja sebelum sempat kubalas dengan sepatah dua patah kata. Tinggal aku seorang diri di ruang hitam yang berisi senyap selama beberapa saat. Kemudian sentuhan entah dari mana di dahiku terasa hangat, memberi kekuatan untuk membuka mata.


Sorot mata setengah mengantuk yang khas itu menjadi hal pertama yang kulihat.


“Meski tidak terluka parah pun, kamu tetap bangun paling akhir. Dasar ratu molor!”


Aku hanya mengerjap beberapa saat. Jika ada nominasi penghargaan pemicu adu bacot terbaik, maka Elang Dirgaraja ada di urutan teratas. Setelah ingatanku kembali, citra cerewet dan menyebalkannya yang membekas di setiap kebersamaan kami tak bisa kupungkiri. Ah, bukan cerewet, sih, dia kan pendiam, tapi bakatnya memulai cekcok itu, lho! Ya ampun!


“Kamu siapa?” tanyaku malas meladeni keributan. Sungguh tak kuduga dua kata yang kulontarkan tadi mengubah ekspresi wajah Elang dalam sekejap. Muka dingin dan belagunya berganti menjadi keterkejutan bercampur cemas.


“Tidak mungkin, Shir ... Ada yang salah lagi dengan kepalamu?”


Aku harus menutup mulut demi menahan semburan tawa. Elang betul-betul menanggapi serius kata-kataku tadi? Wah, aku berhasil mengerjainya meski tidak berniat begitu! Aku yakin Kak Garuda juga akan terpingkal-pingkal melihat ekspresi adiknya sekarang.


“Heh! Diam! Tidak lucu!”


Tawaku belum terhenti bahkan ketika Elang menoyor-noyor pipiku geram, menelan kembali sisa kecemasannya.


“Sekali lagi kamu bercanda seperti itu akan kupukul sungguhan! Kupukul sungguhan, tahu!” katanya yang sama sekali tidak menakutkan menggertak dengan wajah memerah seperti itu.


“Aduh, iya, Lang ... iya! Maaf, deh!” jawabku kembali meredam tawa. Seseorang yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu ruangan tertangkap pandanganku.


“Oh, hai, Luska!” sapaku membuat Elang menoleh ke arah yang sama, “eh? Bukannya kamu ada di Nigra?”


“Um, ya, saya dan Aquila sudah pulang,” jawabnya menghampiri kami berdua, “senang melihat Yang Mulia kembali pulih, Kesatria Agung juga. Penduduk Alba pasti menyambut suka cita kabar baik ini.”


“Eh? Kenapa kamu dan Aquila sudah pulang? Urusan kami di sana bagaimana?”


“Kepala Dewan sedang mengkaji ulang semuanya setelah penaklukan Dunia Kelabu berhasil,” jawab Luska.


“Ah, benar, kita berhasil ya, Lang?”


“Dan kamu enak-enakan tidur sampai berhari-hari setelah itu, padahal lukamu sama sekali tidak parah dibandingkan yang dulu!” jawab Elang.


“Oh ya? Sudah berapa hari?” tanyaku.


“Delapan hari,” jawab Luska. Heh?! Selama itu?! Memangnya aku tidur atau berhibernasi, sih?!


“Jadi ... Aku sudah ketinggalan apa saja selama delapan hari itu?” tanyaku. Entah kenapa Elang malah pergi, seolah tak berselera mengikuti pembicaraan. Katanya ingin menengok Kak Garuda. Ah, benar, Kak Garuda juga terluka malam itu ‘kan?


“Saya baru kembali ke Alba tiga hari lalu dan telah banyak melihat kemajuan. Yang Mulia bisa melihatnya sendiri nanti. Intinya, sebagian besar permukaan telah bersih dari Dunia Kelabu,” jelas Luska.

__ADS_1


“Seberapa banyak?” tanyaku.


Luska tersenyum sejenak sebelum menjawab, “Sembilan puluh delapan persen.”


“Wah? Kamu bercanda?! Dunia Kelabu yang kami kalahkan dulu hanya sepetak area sekolah, penaklukannya hampir dua bulan, wilayah yang bersih di Alba hanya satu kota kecil. Bagaimana bisa sekali penaklukan terakhir yang hanya kurang dari dua puluh empat jam bisa membersihkan wilayah sebanyak itu?!” cecarku tidak percaya.


“Saya sendiri tidak begitu mengerti, Yang Mulia. Perintah kembali ke Alba sebelum terhitung satu minggu sejak keberangkatan membuat saya terkejut, tetapi berita tentang lenyapnya Dunia Kelabu sebanyak itu adalah satu-satunya hal bagus yang akhirnya saya dengar,” jawab Luska.


Berita bagus ya? Benar. Sekarang giliranku yang harus mengusahakan berita bagusku sendiri.


 ***


Tidak ingin lama-lama berbaring, aku memaksa meninggalkan ruang perawatan. Pindaian kondisi kesehatan menunjukkan performa fisik dan psikisku membaik. Tidak ada alasan untuk tetap tinggal di sini lebih lama. Aku ingin cepat-cepat mengetahui perkembangan situasi.


Kepala Dewan menyambutku setibanya di kastel. Ia mengenakan penutup mata di mata kirinya. Seketika aku teringat kejadian sesaat sebelum Labe membuka portal menuju Dunia Kelabu yang menyeretku bersama Elang, penyerangan hari itu ... menewaskan seluruh punggawa yang mengawal kami dan merenggut sebelah penglihatan Ladra.


“Dibandingkan yang hilang, saya dan seluruh rakyat Alba mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga. Lenyapnya sebagian besar Dunia Kelabu dari permukaan membuat saya tidak beralasan untuk menyesali cacat mata ini!” jawab Ladra. Orang tua ini tak bisa menyembunyikan suka cita yang terlihat dari kerut-kerut di sekitar matanya ketika ia tersenyum.


“Semua itu berkat Yang Mulia!” tambahnya.


“Ah, bu ... bukan hanya aku sendirian yang berjuang di balik itu semua, Kepala Dewan!”


“Benar, Kesatria Agung Elang dan Kesatria Muda Garuda juga. Kami telah berterima kasih kepada keduanya lebih dulu.”


“Tidak hanya mereka berdua, tetapi semua orang-orang di departemen lain yang juga turut mendukung misi ini. Sampaikan terima kasihku pada mereka juga,” imbuhku teringat Profesor Cakra dan Nona Yastra, “aku yakin sampai saat ini orang-orang itu belum berhenti bekerja menindaklanjuti situasi terbaru.”


“Benar, Yang Mulia. Jika Anda tidak keberatan, saya ingin banyak menjelaskan situasi terbaru yang menggembirakan itu,” kata Ladra.


Bersihnya permukaan dari Dunia Kelabu tidak hanya mengembalikan wilayah Alba, tetapi juga meninggalkan kristal bulan dengan energi ratusan kali lebih besar dari kristal bulan sebelumnya. Masuk akal sebab Dunia Kelabu yang tersingkir memang amat luas dan energi positif yang terlepas otomatis juga semakin besar. Departemen pertahanan telah menerjunkan sejumlah pasukan untuk menebar penangkal sihir dan penetral energi negatif di area-area pembebasan sekaligus mengepung ketat sekeliling wilayah Dunia Kelabu yang masih tersisa. Dalam waktu dekat, relokasi penduduk ke permukaan akan segera dilakukan setelah stabilitas keamanan benar-benar menjadi hal yang pasti.


Intinya, semua berjalan dengan baik sesuai harapan. Terlalu baik malah! Misi di permukaan hari itu hanya bertujuan mencari pedang milik Elang, tetapi sungguh tak disangka iblis penguasa Dunia Kelabu itu sendiri malah mengundang paksa kami masuk ke sana dan semuanya berakhir sebaik ini. Kupikir penaklukan Dunia Kelabu akan berlangsung lama dan kami harus keluar masuk ke sana berulang-ulang. Kenyataannya aku dan Elang hanya perlu masuk ke sana sekali lagi untuk membereskan dua persen Dunia Kelabu yang tersisa.


Aku ingat Kak Garuda pernah menjanjikan suatu cara dan sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk menagihnya. Berpamitan setelah mendengar semua laporan Kepala Dewan, aku ingin cepat-cepat menemui Kak Garuda. Kupikir ia masih dirawat karena tadi kudengar Elang akan menengoknya, ternyata Kak Garuda tidak ada di kamarnya, begitu juga Elang. Penjaga sempat melihatnya keluar bersama Aquila beberapa saat lalu. Ah, iya, Aquila! Aku juga ingin sekalian mengobrol dan bertanya ini itu tentang kabar orang rumah dan urusan sekolah karena dialah yang menggantikan posisiku selama beberapa hari terakhir.


Beberapa penjaga di gerbang kastel tidak memperkenankanku keluar –heh, sejak kapan mereka berani melarang-larang?! Para penduduk sebentar lagi akan memulai parade perayaan atas kemenangan besarku. Semua itu bisa kunikmati dengan aman dari puncak menara depan. Demi alasan keamanan, sebaiknya aku tidak meninggalkan kastel terlebih dahulu, begitu kata mereka. Ah, baiklah, terserah! Aku pun kembali masuk, berpikir untuk menemui Kak Garuda nanti-nanti saja. Untuk sementara ini, entah kenapa aku penasaran dengan parade yang dimaksud penjaga tadi. Aku pun mendaki anak tangga untuk mencapai puncak menara yang mereka maksud.


Rupanya sudah ada orang lain di atas sini. Posisinya membelakangiku, menghadap bentangan daratan awan Alba di bawah sana.


“Kamu sudah tahu soal parade itu ya, Lang?” tanyaku menghampirinya, agak menjaga jarak dengan tepian yang berbatas dinding setinggi dadaku. Hiruk pikuk negeri di atas awan ini masih cukup tampak dari tempatku berdiri. Lalu lalang orang-orang yang seolah berjalan di atas kabut, gedung kotak-kotak dengan ketinggian beragam telah menyalakan beberapa lampunya, dan di suatu titik pusat kerumunan tampak orang-orang berbaris panjang, menunggu parade benar-benar dimulai. Aku tak yakin apakah perhatian Elang benar-benar tertuju pada pemandangan itu sebab sepertinya ... Elang melamun?


Mungkin tidak juga. Ia mendengar pertanyaanku, tetapi kemudian hanya menoleh dan merespons dengan tatapan lurus tanpa berkata-kata.


“A ... ada apa?” tanyaku sangsi.


“Aku sudah tahu,” jawabnya, “parade untuk merayakan kemenanganmu!”


“Merayakan kemenangan kita lebih tepatnya!” jawabku, “untuk saat ini yang dibangga-banggakan penduduk Alba bukan hanya aku, tahu! Mereka tidak lupa denganmu! Jangan khawatir!”


“Aku tidak peduli seandainya mereka tidak menganggapku,” jawab Elang, “pujian dan sanjungan mereka bukanlah sesuatu yang kubutuhkan, apalagi membuatku ingin berlama-lama di sini.”


Sejurus kemudian barulah kumengerti hal yang ia risaukan –yah, aku sudah mengetahuinya sejak awal– tapi Elang jadi dengan mudahnya risau hanya karena parade hari ini.


“Tenang saja, Lang! Kesepakatan yang waktu itu masih kuingat. Tak peduli sekali pun penduduk negeri ini bahkan sampai menyembahku, aku akan tetap pulang!” jawabku yakin, meski belum tahu caranya apalagi mengetahui konsekuensinya. Yang jelas, aku masih punya keinginan untuk kembali ke tempat asalku!


“Aku bukannya mencemaskan hal itu, Shir,” kata Elang. Dih, padahal tadi jelas menjurus ke sana.


“Kamu terlalu mencemaskan banyak hal dalam waktu bersamaan, Lang!” jawabku.

__ADS_1


“Aku memang terbiasa merasa cemas ketika semuanya berjalan terlalu baik,” katanya tiba-tiba membuatku tertegun sejenak, menggapai-gapai istilah ‘terlalu baik' dalam memoriku. Terlalu baik, heh? Itu seperti yang pernah dikatakan Maurin.


“Entah kenapa aku ingin berhati-hati ketika semuanya berlangsung teramat baik dan lancar. Penaklukan Dunia Kelabu yang demikian mudah, menurutmu memang akan semudah itu, Shir?” tanya Elang.


“Entahlah, harusnya tidak seperti itu, tapi kupikir memang wajar karena kita telah berpengalaman dan tidak lagi meraba-raba kebenaran. Tidak ada lagi misteri pelik yang menyulitkan kita,” jawabku. Elang hanya mengangguk-angguk merespons kata-kataku.


“Ya, ya ... semoga saja memang tidak ada,” jawabnya.


“Kamu mengetahui sesuatu, Lang?” tanyaku, “kamu pasti menyadari sesuatu yang tidak kusadari.”


“Entahlah,” jawab Elang mengendikkan bahu, “aku tidak suka menuruti perasaan, tapi rasanya memang aneh, ganjil ... Ah, lupakan saja, Shir! Perasaan ini tidak berdasar apa-apa!”


Setelah berkata demikian Elang pergi bersama segala keruwetan di pikirannya.


 ***


Aku tahu menemui seseorang malam-malam sebenarnya tidak sopan karena kemungkinan besar aku akan mengganggu istirahatnya, tapi aku sudah menunggu sejak sore. Lagi pula sepertinya sekarang memang waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu.


Kuketuk pintu ruangan Kak Garuda. Sejak diakui menjadi tamu kehormatan, kamar Kak Garuda terpisah dengan kamar Elang meski masih bersebelahan dalam kompleks bangunan tersendiri di kastel ini. Letaknya tak begitu jauh dari ruanganku dan aku bisa bolak-balik tanpa tersesat –yeah!


“Ini Shira, Kak. Apa Kak Garuda ada di dalam?” tanyaku setelah beberapa menit tidak mendapat respons sementara kudengar ada suara di dalam sana.


“Hai, Shira! Kita belum sempat ketemu setelah evakuasi dan kamu tertidur lama sekali!” kata seseorang yang akhirnya muncul di balik pintu, masih dengan senyum ramahnya meaki agak sedikit pucat. Luka sobek di alis kanannya juga menyisakan bekas jahitan.


“Iya, nih! Kak Garuda baik-baik saja?” tanyaku.


“Hei, aku malah bangun yang paling awal bahkan sebelum Aang, tahu! Jelas aku sangat baik-baik saja!"


“Oh ya? Wah, wah!”


“Shira ingin bicara sesuatu?” tanyanya. Jawabanku adalah angguk.


“Kak Garuda tidak keberatan bila aku masuk? Aku ingin tanya yang waktu itu ... Eh? Kak Garuda!” seruku panik karena ia tiba-tiba tumbang terduduk di lantai.


“Aku ... tidak apa-apa ... tidak apa-apa, kok ... Sebaiknya kita bicarakan besok saja ... Aku mengerti yang akan kamu tanyakan ...” jawab Kak Garuda terbata-bata sambil menunduk mencengkeram sebelah keningnya dengan napas terengah-engah tak beraturan.


“I ... iya, tapi Kak Garuda kenapa? Ada yang sakit ya? Biar kupanggilkan seseorang ....”


“Tidak, jangan! Tidak perlu!” jawab Kak Garuda buru-buru menarik tanganku, “jangan panggilkan siapa-siapa ....”


Sesuatu yang membuatku terdiam selanjutnya bukan hanya suara Kak Garuda yang tiba-tiba serak dan terdengar lain, tapi perih di tanganku juga. Cakar tajam Kak Garuda yang entah tumbuh dari mana otomatis menggores kulitku.


“Kak Garu ... da ....”


Sepasang mata yang selalu terlihat segaris karena sering tersenyum itu kini tampak seperti mata ular, mengintip perlahan ketika Kak Garuda mengangkat wajahnya. Cengkeramannya semakin menguat bersamaan dengan seringai yang juga semakin melebar. Aku baru akan berteriak sebelum akhirnya Kak Garuda tampak terperanjat, kembali ke wujud normalnya.


“Shi ... Shira!”


Ia buru-buru melepas cengkeramannya dari tanganku yang terlanjur berdarah, menatapku penuh keterkejutan dan kepanikan seketika. Ya ampun! Apa-apaan tadi itu?! Aku segera beringsut mundur, menghindari tatapan mata Kak Garuda.


“Kamu ... kamu melihatnya? Kamu sudah melihatnya! Tolong, Shira ....”


Ya, aku melihatnya! Aku melihat Kak Garuda sesaat berubah seperti iblis! Siapa yang masih ingin berlama-lama?! Aku buru-buru melesat melalui pintu, tapi Kak Garuda lebih dulu menarikku kembali, menutup pintu rapat-rapat.


“Tolong, jangan ke mana-mana dulu ... Aku bisa memberi penjelasan!” pintanya penuh harap. Kakiku belum berhenti gemetar meski rupa Kak Garuda telah kembali normal.


“Aku punya penjelasan ... Tolong, dengarkan ....”

__ADS_1


.Bersambung.


__ADS_2