Kelabu

Kelabu
Episode 31


__ADS_3

Api kelabu di obor meliuk-liuk dimainkan angin. Rambutku yang tergerai bebas juga. Rasanya seperti baru saja kulintasi koridor ini bersama Sekti dan sekarang aku berada di sini lagi dengan suasana yang sudah berbeda.


Langit begitu gulita di luar bilik, membuat barisan pohon di halaman tampak seperti monster bungkuk yang siap menerkamku, padahal monster yang sebenarnya belum juga terlihat dan bisa muncul kapan saja, sesukanya.


Tak mau ambil risiko, aku segera memasuki bilik di dekatku. Pintu bilik tampak hampir menutup tapi segera kutahan. Seolah melawan, papan kayu ini tak mau terbuka lagi.


“Hei, hei! Biarkan aku masuk!” seruku tetap berusaha membukanya. Raungan monster terdengar dari kejauhan.


Ah, sial!


Tepat ketika aku bersiap lari mencari perlindungan, pintu bilik di depanku bergeser membuka.


“Wah, maaf, kukira siapa?! Ayo, cepat masuk!” kata orang yang di dalam. Aku bernapas lega mengetahui seseorang yang menyambutku.


“Sakti, syukurlah kita segera bertemu!” seruku tiba-tiba teringat sesuatu yang perlu dibahas. Pesan-pesan Sekti harus segera kutanyakan sebelum menguap dari ingatanku dan terlupakan.


“Ya, aku juga senang! Tidak ada yang lebih kukhawatirkan selain kamu. Elang mungkin sudah bisa menjaga dirinya sendiri,” jawab Sakti.


“Ah, iya, terima kasih!”


“Kamu terlihat berbeda, apa kamu baik-baik saja?” tanya Sakti menyentuh dahiku, mengaktifkan teknik penyembuhan, tahu persis posisi luka yang kuderita di dunia asalku.


“Oh, ini ... aku terlibat sedikit masalah, tapi kata dokter tidak terjadi sesuatu yang serius, kok!” jawabku. Jadi ini yang dimaksud Sekti ketika ia mengatakan hal yang sama. Sakti hanya geleng-geleng kepala.


“Dengar, Shira! Berhati-hatilah dengan bagian paling vital. Mungkin tidak hanya kamu, tapi titik kelemahan semua orang ada di kepala. Sekali otak cedera, akibatnya akan sangat fatal. Aku juga pernah bilang konsekuensi yang bisa terjadi ketika kepalamu terluka ‘kan?” tutur Sakti sambil masih mengalirkan sensasi sejuk di dahiku. Aku hanya menunduk.


“Kupikir kamu hanya bercanda ketika bilang begitu,” jawabku.


“Itu serius, kok, tapi bukan untuk menakut-nakuti. Kamu mengerti maksudku ‘kan? Berhati-hatilah ....”

__ADS_1


Sakti menjauhkan tangannya dari dahiku setelah ia selesai.


“Ya, aku mengerti,” jawabku, “ngomong-ngomong apa kita tidak perlu mencari Elang?”


“Aku belum menemukan keberadaannya. Mungkin dia masih terjaga di dunia asli kalian,” jawab Sakti.


“Sayang sekali, ada sesuatu yang ingin kubahas.”


“Oh ya? Tentang apa?”


Suasana siang hari yang cerah di dalam bilik tiba-tiba meredup seperti dinaungi awan. Aku sempat terdiam, agak berhati-hati dengan topik kali ini karena Sekti bilang mungkin Sakti akan merasa bersalah. Meski bagaimanapun aku tetap harus mengetahuinya.


“Tentang celah keluar dari dunia ini, yang pernah muncul dan datang kepadamu pada musim purnama ketiga. Sekti meyakini itulah satu-satunya portal keluar yang bisa kulalui,” jawabku.


“Ah, benar! Aku juga meyakini hal yang sama!” balas Sakti.


“Iya, itu batas terakhir pengorbanan jiwa hitam,” jawab Sakti menjatuhkan pandangannya ke tanah, “dan gara-gara aku, celah itu tidak lagi muncul dengan sendirinya. Maaf ya, kamu jadi harus repot-repot berjuang mencarinya!”


“Eh, tidak, itu bukan masalah. Kalau boleh tahu, kenapa bisa begitu?” tanyaku sekilas terdengar tidak jelas, “kenapa celah itu seolah bersembunyi dan harus dicari?”


“Mungkin ... itu karena salahku. Entahlah, sejujurnya aku masih mencari-cari alasan untuk membela diri, tapi tolong, apa pun yang kuceritakan nanti kuharap tidak memengaruhi jalan yang kau yakini,” kata Sakti.


“Jalan yang kuyakini?”


“Ya ... Kurasa kamu bisa memahami perasaanku. Kamu setuju jika tidak boleh ada yang terjebak di sini ‘kan?”


“Iya, ini dunia yang mengerikan!”


“Dan kamu bersikeras tak ingin mengorbankan Elang demi mengeluarkan dirimu sendiri?”

__ADS_1


Aku mengangguk, “Tentu, nyawaku bukan satu-satunya yang paling berharga. Tidak adil rasanya jika aku tetap hidup dengan menumbalkan nyawa orang lain.”


“Nah, apalagi jika harus mengorbankan nyawa saudara sendiri! Itu benar-benar pilihan yang sulit ...” kata Sakti mengusap wajahnya. Sejenak aku bisa memahami ruwetnya pilihan uang telah ia hadapi.


“ ... dan aku tidak tahu jika memperjuangkan kebebasan Sekti merupakan kesalahan besar yang membuatku juga harus dihukum terkurung di sini.”


“Apa?”


“Membela Sekti berarti membela kejahatan. Karena aku menuntut kebebasan Sekti, akhirnya celah itu tak pernah muncul lagi untuk jiwa tersesat berikutnya ... tapi aku yakin celah itu tetap ada. Melaluinyalah kamu masuk dan melaluinya pula kamu akan keluar, Shira,” jelas Sakti.


“Aku tak habis pikir akan jadi serumit ini!” jawabku mengacak rambut frustasi, “bagaimana mungkin niat baikmu berubah menjadi kesalahan paling fatal?!”


“Aku juga heran, sih! Mungkin saja aku memang salah, tapi sebagian dari diriku tidak terima. Mustahil dunia ini tertutup dari ampunan. Setidaknya itulah dasarku untuk membela Sekti.”


Aku membuang napas kesal, terdiam memikirkan semua ini. Jika dilihat dari situasi si kembar Sakti dan Sekti, mungkin saja Sekti memang tidak layak untuk dibela, tapi harusnya tidak perlu jadi serumit ini sebab Sakti sebagai korban kejahatan adiknya telah memaafkan dengan tulus. Harusnya tidak perlu diperpanjang lagi. Keduanya bebas, Sakti tidak perlu menanggung hukuman yang sama sekali bukan karena salahnya! Ketentuan itu juga sangat menyebalkan bila harus berlaku untuk jiwa-jiwa tersesat selanjutnya –termasuk aku dan Elang. Jiwa putih menjadi turut bersalah dan pantas dihukum juga karena membela jiwa hitam? Cih, apa-apaan itu?!


“Kebaikan memang ada di posisi yang sulit ya? Terkadang diartikan sebagai kenaifan, kebodohan, bahkan kepalsuan, tapi aku ingin Shira tetap pada kebaikan yang Shira yakini ... karena aku percaya, dalam artian apapun, kebaikan tetaplah sesuatu yang mulia, meski ia membawa rasa sakit dan derita. Seseorang yang melihat dan merasakan kebaikanmu pasti ... pasti merasa senang,” tutur Sakti sambil menepuk puncak kepalaku pelan. Kebaikan, eh?


Kata-kata Sakti harusnya terasa benar, tapi aku hanya tersenyum hambar, “Sejauh ini aku tak pernah tahu ada yang merasa senang karena kehadiranku.”


“Tapi jelas akan ada yang menyesal ketika tidak ada kamu.”


Kuhela napas panjang, berusaha memberi pengertian, “Aku tidak sebaik yang kamu kira, Sakti.”


“Ya, mana ada orang baik sungguhan yang mengaku-ngaku dirinya baik?” bantah Sakti.


Ah, bukan! Sakti tidak paham!


.Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2