Kelabu

Kelabu
Episode 13


__ADS_3

Langit mulai bersemu merah, tetapi aku masih di area parkir toserba, menjaga motor Yasinta. Seperti kurang kerjaan saja menjaga motor yang sudah dikunci ganda. Pemiliknya sedang belanja bahan-bahan untuk tugas kelompok. Sebenarnya aku tidak ikut turun karena malas.


Malas jalan, malas bersenggolan dengan orang, malas ditanya-tanya Yasinta tentang kertas mana yang bagus, dan malas lain-lainnya. Entahlah, aku tidak tahu kenapa jadi begini. Yang jelas, suasana hatiku berubah sejak perdebatan di perpustakaan tadi.


Setelah itu, Elang sama sekali tidak bicara apapun lagi denganku, tidak melirik atau menatapku tajam seperti biasanya, hanya lalu begitu saja. Tentu ada kata-kataku yang membuatnya tersinggung, sebab dari awal dia juga sengaja menyinggungku. Namun, seharusnya aku tidak bersikap begitu. Harusnya biarkan saja dia mau bilang apa tentangku. Biasanya aku cuek dengan penilaian orang. Biasanya aku juga tidak peduli jika Elang marah kepadaku. Rasanya hari ini benar-benar tidak seperti biasanya.


“Ra! Shira!” seru Yasinta membuyarkan lamunanku.


“Ha?”


“Ayo pulang! Tolong kamu bawa ini ya!” katanya menyerahkan sekantong besar gulungan-gulungan kertas —kertas karton, manila, dan entah apa lagi.


“Apa kita akan menggunakan semuanya?” tanyaku.


“Iya, Ra, agar media kita bagus. Untuk penilaian tidak boleh setengah-setengah, harus totalitas!” jawabnya antusias. Totalitas, heh? Totalitas pula pengeluaranku untuk iuran kelompok ini. Tugas kelompok memang merepotkan.


Sepanjang perjalanan pulang Yasinta membicarakan banyak hal. Entahlah, aku tidak begitu mendengar suaranya yang dibawa angin. Kiranya aku akan langsung diantar pulang, tetapi kami masih mampir ke sekolah.


“Besok akan sangat sulit bagiku membawa semua barang ini sambil menyetir, kalau dibawa kamu berisiko ketinggalan, jadi lebih baik kamu simpan di kelas saja sana,” jelas Yasinta. Aku hanya mengangguk.


“Ra,” panggil Yasinta sebelum aku berbalik, “kamu pendiam sekali, apa terjadi sesuatu?”


“Aku memang pendiam, Yas,” jawabku.


“Cih! Omong kosong!” jawab Yasinta tidak setuju. Sejenak ia menerima panggilan telepon, menjawab iya-iya singkat kemudian mengakhiri panggilan.


“Maaf, Ra, aku tidak bisa mengantarmu pulang, sebab ....“


“Iya, tidak apa-apa,” jawabku sebelum Yasinta menyelesaikan bicaranya.


“Ra, kamu ini kenapa?”


“Eh? Aku baik-baik saja, Yas. Tidak apa-apa, kok! Aku memang lebih suka jalan kaki,” jawabku.


“Tapi, Ra, kamu ini ... Ah, aku harap kamu memang baik-baik saja, Ra,” jawab Yasinta. Aku tahu dia mengkhawatirkanku. Dia melambai sebelum menarik gas motornya.


“Entahlah, Yas, aku juga tidak tahu ada apa dengan diriku,”


gumamku.


Aku menengok arloji. Nyaris pukul lima, sekolah sudah benar-benar sepi. Kegiatan ekskul telah usai. Tidak ada tanda-tanda keberadaan orang lain di sini. Oh, tidak juga, bola basket masih berserakan di lapangan. Berarti anak basket belum seluruhnya pulang.


Lampu-lampu di sepanjang koridor sudah menyala. Kelasku belum dikunci. Bangkuku yang dipojok benar-benar tempat strategis untuk menyimpan barang-barang begini. Alih-alih segera pulang, kusempatkan melempar pandangan ke jendela. Matahari terlihat merebah di kaki langit. Posisi kelasku di lantai dua memberikan sudut pandang yang sempurna. Kuaktifkan kamera ponsel, menangkap sepotong pemandangan langit yang sedang merona. Sudah cukup, aku harus pulang.


Kudapati pintu kelas tertutup ketika aku berbalik. Kuraih daun pintu dan menariknya. Sepasang pintu ini enggan membuka. Heh, yang benar saja! Tadi tidak terkunci begini! Bagaimana aku tidak sadar kalau ada yang sudah menguncinya? Aku berusaha membukanya lagi. Sial! Tidak bisa! Berteriak minta tolong pun percuma, sekolah sudah sepi.


Ah, ponsel! Niat awalku adalah memberi tahu siapapun kalau aku sekarang terkunci di kelas. Namun, demi melihat ponselku yang tidak bisa dinyalakan membuatku ingin melemparnya. Aku lupa kalau dayanya habis. Aduh, bagaimana ini? Bukaan jendela tidak cukup lebar untuk kulewati. Tolonglah! Jangan kehabisan akal pada saat genting begini!


Saat nyaris kukira tidak ada jalan lain, kulihat seseorang keluar dari kamar mandi di ujung koridor. Hei! Itu Elang! Kugedor kaca jendela dan berteriak kuat-kuat. Sayangnya, kulihat Elang sedang mengenakan earphone, tetapi aku tak mau putus asa dulu. Aku terus berupaya agar dia mendengarku.


Aku hampir menangis ketika Elang mulai menuruni tangga. Sudahlah lupakan saja! Dengan telinga tersumpal begitu dia mana mungkin bisa dengar. Kusandarkan dahi ke jendela kaca sambil meninjunya lemah. Terserahlah, aku akan terkunci semalaman di sini.


Namun, ketika kutegakkan kepalaku lagi, Elang kembali berada di mulut tangga, menatap horor ke arahku. Earphone di telinganya sudah lepas. Ah, sepertinya dia kembali untuk mengambil sepatu olahraganya yang tertinggal di dekat kamar mandi.


“Lang! Lang! Ini aku, Lang! Cepat bantu aku keluar dari sini!” seruku.


“Kamu?! Sedang apa masih di sini?! Bikin kaget saja!” jawabnya.


Tanpa perlu kujelaskan dia sudah mengerti situasiku.


“Tadi aku berpapasan dengan Pak Aslan, staf keamanan sekolah, bagaimana kamu tidak tahu kalau dia mengunci kelas?” tanyanya berusaha membuka gembok entah bagaimana caranya sementara aku di sisi dalam kelas menunggu usahanya.


“Aku juga tidak tahu! Pak Aslan belum pulang 'kan? Kuncinya pasti ada padanya!”


Tepat setelah aku berkata demikian, pintu kelas akhirnya terbuka. Ah! Aku melonjak kegirangan, tidak jadi bermalam di kelas sendirian.

__ADS_1


“Sudah, tidak perlu memanggil Pak Aslan,” jawab Elang. Ia berhasil membuka gembok dengan kunci cadangan. Ah, aku baru ingat, setiap ketua kelas pasti memiliki kunci itu.


“Terima kasih, Lang! Terima kasih banyak! Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau kamu tidak ada!” ujarku senang. Elang pun kembali mengunci kelas.


“Makanya kalau sudah sore segera tinggalkan sekolah,” katanya.


“Kamu sendiri kenapa belum pulang juga?” balasku. Dia memperlihatkan sepatu olahraganya. Oh, iya, latihan basket.


“Cepat pulang! Sebentar lagi gerbang yang akan dikunci, kalau sudah begitu aku tidak bisa membantumu jika kamu terkunci lagi.”


“Iya, kamu juga mau pulang 'kan?” jawabku. Eh, sebentar! Kata-katanya tadi!


“Kenapa? Mau bareng?” tanya Elang.


“Tidak perlu!” jawabku cepat, tiba-tiba aku menyadari ada yang menarik dari kata-katanya tadi.


“Ya sudah,” jawabnya berbalik menuju tempat parkir.


“Eh, tunggu!”


Dia menoleh. Oh, ayolah! Apa ini saat yang tepat untuk menjelaskan gerbang sekolah yang akan dikunci dan kaitannya dengan misteri yang harus kami pecahkan? Apalagi setelah kejadian di perpustakaan tadi siang. Elang sudah tidak ingin membahasnya lagi.


“Apa?” tanyanya tidak sabar. Aku jadi bingung harus berkata apa.


Tiba-tiba kusentil dahinya seperti yang sering dia lakukan kepadaku, tidak begitu keras, tapi dia tidak sempat menghindar.


“Ada apa, sih?!” tanyanya kesal sambil mengusap dahinya.


“Bukan apa-apa, aku hanya kesal dengan orang pesimistis seperti kamu, tapi aku akan tetap egois. Begitu jalan keluar itu kutemukan, aku akan tetap membawamu, meski harus kuseret,” jawabku. Elang hanya terdiam.


“Sudah hampir malam, Shir. Pulang!” jawabnya.


 ****


Aku terpaku di tempatku berdiri, terperangah menatap pemandangan di hadapanku. Kesiur angin dingin menerpa wajah, menyisir helai-helai rambutku.


“Ini peringatan pertama agar kamu segera pergi dari sini, Shira,” kata sebuah suara di ujung lorong. Suara yang biasanya selalu riang menyapaku kini terdengar prihatin.


“Bagaimana aku bisa keluar jika tidak tahu jalannya, Sakti?” ujarku balik bertanya.


“Oh, awas saja jika sudah tahu kamu tidak langsung keluar dan masih memikirkan orang lain,” jawab Elang juga tiba-tiba muncul. Butir-butir salju banyak tersangkut di rambut hitamnya. Perlahan aku mulai terbiasa dengan kehadirannya di tempat ini.


“Apa salahnya?” balasku.


“Aku takut kau tersinggung, tapi memang kenyataannya kamu bodoh, Shir. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu,” jawab Elang.


“Berhenti berdebat! Kita masih di tempat terbuka! Cepat cari tempat berlindung sebelum salju mencair!” potong Sakti mengingatkan.


“Aku bosan dengan skenario ini! Kenapa kita harus selalu sembunyi? Tidak bolehkah kita melawan?” tanya Elang berjalan paling belakang. Sesekali memainkan pisau lipat di tangannya. Kalau tebakanku benar, itu masih senjata yang sama dengan yang dimilikinya kemarin, senjata yang bisa berubah sesuai keinginan Elang.


“Satu-satunya jiwa yang pernah tersesat di sini, yang punya pemikiran untuk melawan hanyalah kamu, Elang. Mungkin karena kamu punya senjata hebat dan senjata itu juga belum pernah kulihat selama ini,” kata Sakti memimpin di depan, mencari bilik kosong yang aman.


“Itu tidak terdengar seperti pujian,” jawab Elang.


“Dia memang tidak sedang memujimu,” jawabku. Elang mendengus sebal.


“Sungguh, tentang boleh atau tidaknya membunuh monster itu aku juga tidak tahu. Meski telah direpotkan selama ratusan tahun aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk membunuh mereka,” kata Sakti. Sejenak dia berhenti, menatap Elang dengan serius, “selain itu, aku tidak akan membunuh saudaraku sendiri, atau membiarkannya terbunuh di tanganmu,” kata Sakti dingin.


Aku menyadari akan adanya ketegangan. Aku harus cepat membelokkan pembicaraan.


“Ah, ngomong-ngomong soal Sekti, ada yang ingin kutanyakan,” ujarku.


“Kita bicara sambil jalan ya, Shira,” jawab Sakti kembali memimpin perjalanan. Entah kenapa sepanjang menyusuri koridor kelas sepuluh MIPA semua bilik dalam keadaan tertutup.


“Um, aku dan Elang kesulitan menerjemahkan bahasa di buku kuno itu. Aku ingin bertemu Sekti dan menanyakannya langsung tentang pesan balasannya,” ujarku. Kudengar Sakti terkekeh pelan.

__ADS_1


“Kalian pasti bersusah payah mengorek informasi, mencocokkannya dengan ribuan aksara yang ada di dunia. Sayangnya, itu tidak akan berhasil,” jawab Sakti. Aku hanya diam tidak mengerti. Kami mulai memanjat tangga, barangkali di lantai dua ada bilik yang terbuka.


“Sebenarnya itu kode rahasia buatanku yang dulu kugunakan ketika menjadi pengintai,” jawab Sakti.


“Kau pernah jadi mata-mata?” tanya Elang.


“Wah, berarti kalian berdua sama!” sahutku.


“Jika kalian mencari informasi tentang aksara itu di buku-buku sejarah, maka kalian tidak akan pernah menemukannya, sebab memang tidak banyak orang yang tahu. Bagi mereka yang tahu pun kode itu tidak akan disebarkan karena selalu ada pesan rahasia dibalik kode itu,” jelas Sakti.


Ah, pantas saja!


“Sebenarnya Sekti juga tidak pernah belajar tentang kode itu, tetapi entah kenapa dia bisa mengerti dengan sendirinya. Apa mungkin pikiran kami terhubung? Entahlah, aku juga tidak tahu, tetapi itu ada untungnya. Sekarang kami jadi bisa berkomunikasi dengan aman melalui sandi itu,” tambah Sakti lagi.


“Di dunia yang sekarang hanya ada kalian berdua —dan monster— ini kalian masih berkomunikasi dengan cara begitu?” tanya Elang.


“Mereka tidak bisa berdiri di ruang dan waktu yang sama dalam wujud manusia, Lang. Salah satu dari mereka masih berwujud monster ketika yang lain berwujud manusia. Siklusnya memang seperti itu,” jawabku. Sakti mengangguk membenarkan pernyataanku.


“Apa perlu menggunakan sandi serumit itu? Mereka berdua hanya bertukar informasi satu sama lain. Mereka ingin merahasiakannya dari siapa?”


“Dari pencipta tempat ini,” jawab Sakti.


“Pencipta?”


“Pencipta tempat ini, Shira. Dialah pemilik kekuatan hitam yang pernah membantu Sekti hingga jiwa Sekti dikutuk dan dipenjara selamanya di tempat ini,” jawab Sakti. Aku merinding mendengarnya. Jika dunia ini begitu mengerikan, apalagi penciptanya?


“Pencipta tempat ini pasti tidak suka kalau aku dan Sekti diam-diam mendiskusikan jalan keluar. Bukuku pernah dirampasnya, tetapi syukurlah dia tidak mengerti apa yang kami tulis di sana.”


“Seperti apa orang yang menciptakan tempat ini?” tanyaku.


“Dia adalah keturunan iblis yang kita tahu selalu memusuhi manusia. Tidak ada kegelapan yang berani berada di hadapannya. Segala kejahatan menghamba kepadanya,” jelas Sakti.


“Apa kunci jalan keluar dunia ini juga diketahui iblis itu?” tanya Elang.


“Tentu saja, Elang. Dia penciptanya, dia tahu segala rahasia tempat ini, tapi mana mungkin dia akan memberitahumu jika kamu menanyakannya,” jawab Sakti. Ya, tentu saja, akan konyol sekali jika iblis itu membiarkan kami pergi begitu saja.


“Tapi kalian jangan putus asa, informasi itu juga sudah diketahui Sekti. Sebaiknya kalian berdua segera menemuinya,” kata Sakti.


“Aku memang ingin menemui Sekti,” gumamku lirih.


Kami tiba di ujung koridor lain. Sampai sini pun, tidak ada bilik yang terbuka. Kami terpaksa turun melalui tangga.


“Wah, kata-katamu selalu terkabul, Shira,” ujar Sakti menghentikan langkanya di tengah-tengah tangga.


“Oh ya?”


“Iya, Sekti ada di bawah sana, tapi waktunya tidak tepat, kita kembali naik!” jawab Sakti. Eh? Sekti ada di bawah? Saat ini? Jangan-jangan dalam wujud monsternya?


“Iya, Sekti masih dalam wujud monster, tapi dia masih berhibernasi. Cepat menjauh sebelum salju mencair!” bisik Sakti. Aku dan Elang menurut, kembali naik dan mendapati langit gelap tidak lagi berguguran salju. Halaman sekolah yang putih —agak kelabu— sebab tadi tertimbun salju sekarang hanya menyisakan tanah lapang yang becek. Sungguh, ini pertanda buruk.


“Oh, tidak, cepat! Cepat pergi ....”


Belum jauh kami meninggalkan tangga, geraman rendah terdengar menggema dari dasar tangga. Salju telah mencair dan monster itu bangun dari hibernasinya. Sakti segera menarik tanganku, bersiap lari secepat mungkin, tetapi tidak dengan Elang yang mencabut pedang dari pinggangnya, memasang kuda-kuda kokoh.


“Apa yang kau lakukan? Cepat pergi!” perintah Sakti.


“Tidak akan sempat! Tidak ada tempat sembunyi! Tangga berikutnya masih di ujung sana!” jawab Elang. Yang dia katakan benar juga. Sakti berdecak pelan. Suara debum langkah kaki monster itu semakin dekat.


“Biar aku yang menanganinya! Kamu dan Shira berlindunglah! Kalian berdua jangan sampai terpisah!” seru Sakti lalu detik berikutnya monster itu terlihat di mulut tangga. Aku segera berlari tanpa aba-aba diikuti Elang masih dengan senjatanya yang siaga di belakangku.


“Ayo cepat, Shira!” seru Elang ketika aku sempat berhenti untuk melihat Sakti yang bersusah payah menahan serangan monster itu tanpa menyerang balik sekali pun. Tentu saja, meski demikian monster itu tetaplah adiknya.


“Lang, kamu ingin skenario yang berbeda?” tanyaku masih berlari ke sembarang arah. Kali ini kami menelusuri koridor dua belas IPS, gedung tengah.


“Apa maksudmu?” tanya Elang.

__ADS_1


"Aku tahu ke mana harus pergi!"


.Bersambung.


__ADS_2