Kelabu

Kelabu
Episode 29


__ADS_3

Tak ada yang kulihat selain kabut kelabu membungkus pandangan. Tak berani bergerak, lebih memilih diam karena tak tahu ada apa saja di sekitarku. Embusan angin yang mengacak kecil anak rambut menandakan bahwa aku sedang di tempat terbuka.


Kabut perlahan menipis seolah terbawa angin tadi. Pemandangan di depanku sedikit demi sedikit mulai nampak. Menyadari posisiku yang mengerikan –di puncak gedung lantai dua– membuatku tak bisa menahan kepanikan. Rasanya berbeda ketika belum menyadarinya beberapa saat lalu. Padahal akan lebih aman bila aku diam dan bergerak hati-hati, tetapi ketakutan menguasaiku lebih dulu. Baru saja berdiri langsung salah langkah, terpeleset dan hilang keseimbangan, jatuh bebas puluhan meter dari atas tanah.


Kepalaku yang terjun lebih dulu membuat semua yang kulihat tampak terbalik, melintas dalam sekejap mata. Begitu juga dengan sosok berkulit pucat dan surai putih berkibarnya, mengarahkan kedua telapak tangan ke arahku. Seketika tak kurasakan adanya gravitasi, seperti berenang di udara. Kugunakan kesempatan itu untuk membalik posisi tubuh, kepala kembali di atas. Rambutku benar-benar melayang seperti dalam air. Ah, suasana siang hari di luar bilik, juga wajah dengan ekspresi serius itu. Aku tak kebingungan lagi.


“Sekti ....”


Belum puas menyapa ia telah menurunkan telapak tangannya, membiarkanku terpengaruh gravitasi lagi tanpa persiapan. Ketinggianku dari permukaan sudah tak seberapa, tetapi pantatku yang menghantam tanah lebih dulu cukup terasa sakit.


“Kamu berat,” ujar Sekti singkat, memancing emosi.


“Tidak sopan!” balasku geram kembali berdiri, “asal kau tahu betapa pamalinya menyinggung tentang berat badan perempuan!”


“Tidak bisakah kau berterima kasih? Bersyukurlah bukan kepalamu dulu yang menghantam tanah,” katanya membuatku tersadar.


“Oh, iya, te ... terima kasih.”


Sekti tak menjawab apa-apa selain mengamatiku dari puncak kepala hingga kaki telanjangku.


“Kau tampak berbeda, Shira. Apa kau sedang di alam bawah sadarmu yang terdalam?”


“Haa?” responku tidak memahami kata-katanya.


“Ah, lupakan saja. Setelah Elang, sekarang kamu. Sepertinya kalian sengaja menemuiku satu per satu untuk membicarakan jalan keluar itu.”


“Aku senang kau segera tahu, Sekti,” jawabku menyejajari langkahnya.


“Padahal kau bisa menanyakan langsung dari Elang yang sekarang bisa membaca surat-suratku di buku kuno itu,” balas Sekti.


“Ya, aku ingin menyisihkan waktu untuk berdiskusi, tapi kesibukan di dunia asli seolah menyita banyak kesempatan. Lagi pula diskusiku bersamanya akan lebih banyak berujung adu bacot, tak ada kesimpulan.”


“Itu mengejutkan ketika kupikir kalian berdua cukup akur dan kompak.”


Aku hanya nyengir atas perkiraan orang lain tentang aku dan Elang yang sama sekali salah, “Sayangnya tidak seperti itu. Setidaknya biarkan aku mendengar beberapa informasi langsung darimu.”


“Aku tidak bisa cerita-cerita. Pekerjaanku bukannya sedikit, tapi jika kau mengajukan pertanyaan mungkin akan kubantu menjawab,” kata Sekti.

__ADS_1


“Benarkah? Apa bedanya penjajahan oleh kongsi dagang VOC dengan penjajahan oleh pemerintah Belanda sendiri?”


“Aku hanya bantu menjawab terkait jalan keluar dari tempat ini, Shira! Bukan soal ujian yang tidak bisa kau jawab!” ujar Sekti sambil memutar bola mata kesal. Aku pun terkekeh pelan.


“Sesekali bercanda tidak apa-apa ‘kan? Sakti saja tak jarang bergurau denganku.”


“Cih, aku bahkan lupa caranya bercanda!” gerutu Sekti. Aku tak bisa menahan senyum. Memang benar, hanya rupa wujudnya saja yang mirip dengan Sakti. Kepribadian dan sikapnya sama sekali tidak.


Kami terhenti di depan bilik UKS yang masih berantakan. Sepertinya inilah pekerjaan yang dimaksud Sekti, membangun ulang bilik yang baru.


“Biar kubantu ya!” seruku.


“Tidak perlu! Ini cukup berbahaya, menontonlah saja. Langsung ke pertanyaanmu,” jawab Sekti pendek-pendek seolah terlalu menghemat tenaga untuk bicara. Ia mulai menggunakan kemampuan telekinesisnya untuk menyusun ulang reruntuhan bilik di tempat semula.


“Oh iya, apakah benar pada musim purnama ketiga akan ada celah bagi jiwa putih untuk keluar dari sini?” tanyaku setelah berhasil menaiki dahan pohon rendah yang tak jauh darinya.


“Ya, kamu hanya bisa melewati celah itu dengan mengorbankan Elang,” jawab Sekti.


“Aku tidak peduli tentang itu. Maksudku, keberadaan celah itu sendiri sudah memberi jaminan kesempatan keluar dari sini.”


“Menemukannya? Kupikir kamu yang sudah tinggal di sini ratusan tahun dengan kasus jiwa-jiwa tersesat sebelumnya pernah melihat celah itu.”


“Aku hanya pernah melihatnya sekali ketika Sakti yang bodoh itu tak mau pergi melaluinya.”


“Apa?”


“Hanya ketika Sakti pada hari itu berada di depan lubang cahaya seperti portal, diminta ikrarnya untuk merelakanku terjebak di sini, tapi Sakti menolak,” jelas Sekti, “setelahnya tak pernah kulihat lagi portal semacam itu. Jiwa-jiwa tersesat sesudah kami kuhabisi di luar kendali sebelum purnama ketiga, sebelum celah itu sempat ditemukan.”


Seketika terlintas dalam kepalaku ingatan mengerikan tentang Elang yang pernah tertangkap di sarang monster hari itu, pertarungan hebat yang juga membuatnya babak belur. Mungkin jiwa-jiwa sebelumnya tidak beruntung karena Sakti belum tahu apa yang harus diperbuat dalam situasi itu. Seketika aku merasa lemah, takut bila ke depannya akan menghadapi situasi mengerikan lagi sendirian tanpa Sakti yang selama ini selalu menjadi tameng terdepan. Aku tak ingin berakhir sebelum waktunya.


“Sekti ... bisakah kumohon jangan menghabisiku atau Elang sebelum purnama ketiga?” tanyaku polos. Sekti sempat terdiam beberapa saat lalu menatapku lurus-lurus.


“Sejujurnya aku tak ingin menghabisi siapa pun sesudah atau sebelum purnama ketiga. Kekuatan monster itu adalah kutukan yang tak bisa kukendalikan. Jadi maaf saja, berjuanglah, Shira!” jawab Sekti kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya. Satu sisi dinding bilik berhasil tersusun, tersisa tiga lainnya.


“Dengan hanya pernah melihatnya sekali, apa kau benar-benar yakin portal cahaya itu adalah celah untuk keluar dari dunia kelabu ini?”


“Aku meyakininya karena celah itu berbicara sendiri kepada Sakti. Selain itu, petunjuk yang kukumpulkan mengarah pada ciri-ciri celah itu.

__ADS_1


“Petunjuk?”


“Aku sudah menghimpunnya dalam surat-suratku. Lain waktu tanyakanlah kepada Elang. Ada banyak petunjuk di sana.”


“Dari mana kamu mengumpulkan petunjuk itu?”


“Dari setiap elemen di tempat ini. Batu, kayu, kabut, bahkan angin yang tak berwujud sering kali berbisik kepadaku.”


“Dan kamu ... mempercayainya?”


“Jika petunjuk dari mereka salah, iblis pencipta tempat ini tidak mungkin akan merampas buku kami sebelumnya. Iblis itu tahu kebenaran yang tertulis di dalamnya dan khawatir kami benar-benar lolos suatu hari nanti, pada hari yang disebut titik balik.”


“Titik balik? Ah, sepertinya memang masih banyak hal yang belum kuketahui tentang tempat ini,” jawabku masih kebingungan tiap mendapat potongan informasi. Kuncinya ada di buku kuno itu. Arrgh! Seandainya aku sempat mendiskusikannya bersama!


“Sepertinya kau masih sulit memahami posisimu sebagai jiwa putih yang harus merelakan jiwa hitam. Agar kau tidak lagi keras kepala menginginkan Elang juga bebas dari sini, sebaiknya bicarakanlah dengan Sakti. Dulu celah itu datang sendiri kepadanya, tapi kenapa sekarang perlu dicari? Semoga kau cepat mengerti.”


“Sakti tidak banyak bercerita tentang itu. Dia hanya menekankan bahwa ceritamu benar tanpa memaparkan alasannya.”


“Kenapa ya? Mungkin dia merasa bersalah,” jawab Sekti diam-diam menyeringai kecil.


“Merasa bersalah?”


“Tanyakan saja padanya!”


Aku terdiam menyerap kembali semua yang telah ia katakan. Mencoba menghubung-hubungkannya sendiri, tapi tidak satu hal pun yang berhasil kupahami.


“Ya ampun, Sekti. Setiap detail informasimu sungguh berharga dan seharusnya kucatat. Aku tidak yakin akan mengingat utuh semuanya ketika terbangun nanti!”


“Cih, memangnya apa yang terjadi dengan kepalamu hingga kau jadi sepelupa itu?!” tanya Sekti. Aku hanya tersenyum.


“Entahlah, kenyataannya tidak semua orang bisa mengingat utuh apa yang mereka mimpikan, terbangun dengan perasaan hampa dan kebingungan.”


“Oh ya?”


Aku berniat turun dari dahan rendah yang kududuki, melompat dari atas sini. Namun, sesuatu yang tak kuduga terjadi. Tanah yang hanya satu meter di bawahku tiba-tiba lenyap begitu saja, seolah berubah menjadi awan kabut tipis yang tak bisa kupijak. Sekti dan halaman sekolah lenyap dari pandangan. Aku terjun ke ruangan kelabu tak bertepi, terus tertarik ke dalam hingga sensasi pusing dan mual menguasaiku.


.Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2