
Dunia Kelabu, sebuah tempat yang tercipta dari angkara, kedengkian, dan nafsu jahat manusia. Di bawah kendali tiap-tiap iblis yang menebar bencana, dunia itu terus membutuhkan jiwa-jiwa yang ternoda elemen negatif untuk tetap ada. Sejak kemunculannya pertama kali di Alba hingga meluas seperti sekarang ini, bisa dibayangkan betapa banyaknya jiwa yang menjadi korban di sana, menjadi korban kegelapan dalam hati masing-masing.
Begitu bunyi rekaman naskah lama yang kudengar. Aku bersama Elang sedang berada di sekotak ruangan yang disebut Pangkalan Data, dipandu Kak Garuda yang lebih tahu cara menggunakan piranti-piranti canggih dan panel-panel pengakses informasi di sini.
Sementara ini kami hanya menyimak beberapa audio naskah kuno yang dikirim oleh Nona Yastra untuk perencanaan strategi. Kenapa harus audio? Karena ternyata Elang buta huruf dengan aksara yang dipakai di negeri ini. Kupikir dia akan sama-sama otomatis mengerti seperti yang terjadi padaku, tetapi ternyata tidak.
“Ini bukan kampung halamanku, jadi wajar bila aku tidak serta merta mengerti. Posisiku tidak sama sepertimu,” kata Elang.
“Lalu apa bedanya dengan naskah audio? Bukankah bahasa Alba juga berbeda dengan yang kita gunakan?”
“Ketika dalam masa perawatan, dokter Alba juga memasang penyelaras bahasa di liang telingaku. Alat itu bekerja seperti penerjemah suara yang otomatis mengirimkan terjemahan ke otak melalui serangkaian prosedur dan gelombang informasi hingga akhirnya bisa kumengerti,” jawab Elang.
“Aku juga memakai alat itu, tahu, Ra!” kata Kak Garuda, “database bahasa kita pertama kali di-install dalam sistem ketika aku tiba di sini beberapa tahun lalu.”
“Dan orang-orang di Alba sepertinya memakai penyelaras bahasa dengan generasi yang lebih canggih, terintegrasi dengan perangkat lunak komunikasi di lengan kiri mereka. Itu sebabnya mereka juga otomatis mengerti bahasa yang kita gunakan.”
“Wah, syukurlah! Berkat adanya alat itu kalian jadi tetap bisa berkomunikasi lancar dengan orang-orang di sini,” ujarku senang, “aku masih berharap perangkat komunikasi itu juga dipasang di lengan kiri kita!”
“Um, sepertinya untuk sementara ini kita belum bisa mendapatkannya, deh,” kata Kak Garuda.
“Masa? Kepala Dewan sudah menjanjikannya padaku, tahu!”
“Benar, tapi untuk sementara ini operasi penanaman perangkat itu belum bisa dilakukan. Selain karena memakan waktu lama juga karena sistem perangkat itu sering eror di sekitar medan energi Dunia Kelabu, ditambah beberapa perangkat lunak berkesinambungan dengan kerja sistem saraf dan kardiovaskuler. Daripada membahayakan, perangkat itu harus dinon-aktifkan ketika kalian berangkat misi,” jelas Kak Garuda.
“Kesimpulannya, perangkat itu tidak dibutuhkan dalam misi dan Kepala Dewan tidak sedang mempertimbangkan cip prosesornya untuk ditanam di lengan kiri kita, Shir,” kata Elang sambil terus menyimak rekaman audio dengan serius.
“Oh ya, ngomong-ngomong soal operasi, Luska dan Aquila telah memulai operasi rekonstruksi ingatan dari kalian berdua, lho!” kata Kak Garuda.
“Sungguh? Ah, pantas saja aku tidak melihat Luska sejak tadi pagi,” jawabku.
“Ya, operasi itu memang dimulai sejak semalam dan baru selesai nanti malam juga.”
“Wah?! Dua puluh empat jam tanpa jeda?”
“Yah, sebenarnya komputer yang sedikit demi sedikit memasukkan benang memori kalian ke dalam ingatan keduanya. Prosesnya memang lama karena bila dilakukan dengan buru-buru bisa berakibat buruk seperti yang terjadi di memori Shira, gelombang konstruktif kasar muncul seperti benang menggumpal, tidak bisa ditarik lagi setelah misi selesai.”
“Ah, berisik! Suaramu mengganggu kerja penyelaras bahasa, Gar!” kata Elang sewot. Kak Garuda hanya nyengir. Aku lebih dari tahu bahwa yang mengganggu bukan suara Kak Garuda, tetapi sesuatu yang Kak Garuda katakan. Meski sudah tidak protes soal ingatannya yang dipinjam Luska, aku mengerti bahwa Elang sebenarnya masih belum merelakannya, apalagi bila ingatan itu tidak bisa ditarik lagi dari kepala Luska.
Ah, ngomong-ngomong, soal ingatanku sendiri bagaimana ya? Aku belum sempat bertemu Aquila dan berbincang banyak hal. Kuharap apa pun memori burukku yang pernah terjadi tidak mengganggunya dan dia bisa dengan mudah menyesuaikan diri dengan kehidupanku. Yah, Aquila kan serba bisa!
“Psstt, Ra, kita dapat rincian misi dari Kepala Dewan,” bisik Kak Garuda ketika panel informasi di depannya mengatakan telah menerima satu fail dokumen. Aku merapat melihat barisan aksara dan tabel-tabel yang muncul. Elang melepas sejenak headphone-nya dan turut bergabung denganku dan Kak Garuda. Fitur narator yang membacakan isi dokumen itu kuaktifkan agar Elang dan Kak Garuda juga bisa mengetahui isinya.
Laporan dari Nona Yastra menyampaikan bahwa pemberangkatan aku dan Elang belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Timnya mengatakan bahwa sepanjang sejarah, tidak ada yang pernah berhasil memasuki kubah gelap Dunia Kelabu, kecuali satu orang, Kesatrka Perak. Caraku dan Elang yang dulu masuk ke sana melalui kunci enam perangkap di enam penjuru sudah tidak bisa dipakai lagi karena harusnya setelah berhasil mengalahkan sepetak Dunia Kelabu, aku dan Elang bisa kembali masuk ke sana melalui cara yang ditempuh Kesatria Perak. Para sejarawan dan pustakawan sedang berusaha mengobrak-abrik catatan terdahulu untuk mengungkap kembali cara itu.
Di lain sisi, pedang milik Elang juga belum ketemu. Untuk sementara kami akan menelusuri keberadaan pedang itu terlebih dahulu. Yang jelas, pedang itu tidak ada di Nigra karena Elang terakhir kali meninggalkannya begitu saja setelah pertarungan puncak dulu. Kemungkinan besar tertinggal di atas tanah bekas lenyapnya Dunia Kelabu yang kami kalahkan dan tanah itu merupakan suatu wilayah di daratan permukaan Alba. Jadi, ke tempat itulah besok aku dan Elang memeriksa. Profesor Cakra telah menyertakan peta persebaran Dunia Kelabu –yang mendominasi semua daratan– dan menandai lokasi yang akan kami periksa.
Sementara pencarian pedang kunci kelemahan Dunia Kelabu dan jalan masuk ke sana terus berlangsung, departemen lain berusaha mengembangkan riset untuk membangun peradaban di dasar laut atau di bawah permukaan tanah sebagai rencana cadangan, khawatir misi ini belum rampung setelah daya kristal bulan habis. Kami sama-sama belum tahu seberapa lama misi ini berlangsung dan kapan akan berakhir dengan keberhasilan –tapi kuharap secepatnya sebelum aku lulus sekolah, huhuu!
Departemen pertahanan yang sejak dulu gagal melakukan perlawanan dengan misil dan pasukan artilerinya saat ini sedang mencari cara untuk mempertahankan wilayah yang nantinya berhasil kami rebut kembali. Entah dengan memasang penangkal sihir atau penetral energi negatif, jelasnya mereka tidak ingin wilayah yang kembali bersih jatuh lagi di bawah kekuasaan Dunia Kelabu.
__ADS_1
Tidak ada yang tinggal diam ketika aku dan Elang berjibaku di garis terdepan. Semuanya sama-sama berjuang di jalannya masing-masing, dengan caranya masing-masing. Aku tersenyum lega mengetahui semuanya saling dukung dan percaya. Kenapa orang-orang Alba tidak melakukan hal ini sejak dulu? Apa hanya karena tidak ada pewaris sah di tengah-tengah mereka? Memangnya apa bedanya aku ada atau tidak? Entah kenapa menurutku konsep pemimpin berdasarkan pewaris sah itu hanya sugesti lama, ditambah kepercayaan bahwa bencana alam akan datang sebagai malapetaka atas diangkatnya pemimpin yang salah. Hei, apa itu serta merta salah si pemimpin?
***
Bulan lingkaran penuh yang mengambang di angkasa beberapa waktu lalu kini tersisa setengah sesuai periodenya. Angin semilir malam hari tidak begitu terasa, tetapi desaunya lumayan kuat untuk menyisir helai rambut dan membuat ujung gaun satin putih sebetis yang kukenakan menari-nari. Tak peduli bulan sedang setengah, penuh, sabit, atau bahkan sedang fase mati sekalipun, langit malam tetap menjadi tontonan terbaik, apalagi di Alba, di atas daratan awan.
Sepasang mata yang entah sejak kapan mengawasiku dari selasar tertangkap pandanganku. Temaram lampu di tiang bangunan membuatku sejenak tak bisa mengenali yang di sana Kak Garuda atau Elang karena, yah, keduanya amat mirip, tapi aku segera tahu tanpa senyum riang yang membentuk lekukan lesung pipi atau luka gores di alis kirinya, orang itu bukan Kak Garuda, melainkan adiknya.
“Heh, kupikir ada kuntilanak yang jauh-jauh tersesat hingga ke sini!” katanya membuatku teringin mencopot sepatu untuk melempar muka songong itu.
“Sembarangan!” delikku sebal hanya bisa menahan kesal segera melengos sebelum sempat melihat senyum jahil Elang, tapi aku sempat melihat ada lebam baru di dagunya. Itu gara-gara Elang dengan keras kepala memaksa berlatih bertarung dengan pengguna kekuatan kendali jarak jauh, Kak Garuda.
Kekuatan itu jelas bukan tandingan petarung jarak dekat yang memerlukan kontak fisik untuk melakukan serangan, tetapi dia ngotot meminta Kak Garuda tidak mengalah sedikit pun. Dia bilang sedang bereksperimen menghindari atau menangkis serangan jarak jauh semacam itu. Ternyata kuncinya sama, kelincahan dan kecepatan, ia harus lebih cepat daripada pukulan berwujud angin atau apa pun yang menyasar ke arahnya. Sekali saja ia lengah, lebam baru itulah hadiahnya.
Ya, kekuatan kendali jauh, telekinesis yang dikombinasi dengan teknik lain memang menakjubkan. Sayangnya aku belum begitu mahir menguasainya. Semisal Kak Garuda bisa bergabung dengan kami mungkin akan seru, tapi lagi-lagi sayangnya, ia tidak bisa.
“Bagaimanapun Garuda pernah gagal menahan ekspansi Dunia Kelabu. Itu baru upaya penahanan, bukan penyusupan menembus kubah gelap yang disengaja. Sepertinya sama seperti orang-orang biasa, Garuda tertolak menuju ke sana. Daripada ia mati, sebaiknya tidak coba-coba ‘kan?” kata Elang. Entah kenapa kupingku terasa aneh mendengarnya tidak memanggil kakaknya dengan sebutan yang seharusnya.
“Lagi pula Garuda tidak punya pemeran pengganti, mungkin dia akan segera kembali ke dunia asal kita,” tambah Elang lagi.
“Masa kita ditinggal? Lalu Kak Garuda tidak menengok kita di sini lagi? Soalnya untuk saat ini tidak mudah bolak-balik dari Alba ke Nigra,” bantahku.
“Memangnya kenapa bila tidak ada Garuda? Dia memang tidak perlu bolak-balik karena kita tetap akan menyelesaikan urusan kita dan segera pulang,” jawab Elang selalu kukuh mengenai hal itu.
“Iya, Lang, iya ....”
“Bayangkan hanya dengan seperti itu kita bisa melaluinya, apalagi dengan keadaan kita yang sekarang, dengan bantuan dan dukungan banyak orang. Aku sedang mencoba meyakini bahwa ini akan menjadi kemenangan kedua kita.”
Senyumku tidak bisa tertahan, terasa manis sekaligus hambar dalam waktu bersamaan.
“Terima kasih, Lang. Aku juga sedang mencoba meyakini hal yang sama,” jawabku. Maaf bila terkadang aku terkesan plin-plan, pemaksa dan pengecut di waktu bersamaan karena terjepit dua pilihan. Yah, tentu saja aku tidak akan mengatakan hal itu. Aku tak tahu seperti apa ujung perjuangan ini nantinya, tapi untuk sementara ini aku ingin minta maaf atas hal lain.
“Maaf karena aku tidak mengingat sesuatu yang harusnya kuingat padahal itu adalah pengalaman berharga yang dibutuhkan pada saat-saat seperti ini.”
Elang sempat terdiam lama sebelum akhirnya menjawab lirih, “Bukan salahmu, Shir ... bukan salahmu. Maaf juga karena sebagian kecil dari diriku dengan egoisnya sempat mensyukuri hilangnya ingatanmu ... hanya sebagian kecilnya ....”
“Eh?”
“Ah, lupakan saja!” jawab Elang sambil mengacak rambutnya seolah bagian kecil yang mengganggu itu ada di sana dan ingin ia singkirkan cepat-cepat. Aku tak membiarkan jeda hening berikutnya berlangsung lama karena sesuatu terlintas di kepalaku.
“Mau menemaniku menengok Luska dan Aquila? Kudengar operasi rekonstruksi mereka selesai satu jam lalu,” ajakku teringat hal itu. Elang masih saja diam dan kupikir itu jawaban ‘tidak' karena –ya ampun– dia pasti tidak mau tahu Luska yang sekarang mengerti isi kepalanya.
“Baiklah, aku duluan ya!” pamitku kemudian detik berikutnya Elang mengekor di belakangku.
“Asal pergi saja! Aku belum menolak ajakanmu, tahu!” jawabnya menyejajari langkahku. Aku hanya tersenyum kecil.
***
Mulanya aku dan Elang tidak diperkenankan masuk ke ruangan Dokter Kara setibanya di sana. Kak Garuda yang ternyata sudah ada di dalam entah sejak kapan, keluar memberi tahu kami hal yang tidak kedengaran bagus.
__ADS_1
“Ini bukan berarti buruk, sih! Kata Dokter Kara hal ini wajar saja karena Aquila dan Luska masih sedang menyesuaikan dengan ingatan dan alam bawah sadar kalian,” jelasnya.
“Iya, tapi ‘hal ini' yang kaumaksud itu sebenarnya apa?” tanya Elang.
“Penyesuaian ... penyesuaian? Jangan-jangan ....”
Aku tak bisa menahan diri untuk tidak masuk mengingat sesuatu yang mungkin saja terjadi pada Aquila. Aku melihatnya, gadis itu menangis tersedu sedan dengan Dokter Kara yang tampak bingung belum melakukan tindakan selanjutnya. Di tempat tidur lain, Luska tampak duduk terdiam dengan sikap normal. Sepertinya tidak ada masalah penyesuaian dengan ingatan Elang, tapi Aquila ... dia yang tidak pernah terbawa emosi pasti tersiksa dengan jejak depresi dan sakit mentalku dulu.
“Hei, hei? Aquila? Aquila, kamu bisa mendengarku? Tenangkan dirimu!” ujarku sambil mendekap Aquila yang jelas tidak akan didengarnya. Ketika depresi ini dulu menguasaiku, yang tersugesti di kepalaku adalah ketidakpedulian terhadap sekitar, menutup mata dan telingaku rapat-rapat dan hanya terus menangis sampai matilah yang ingin kulakukan. Aku tak sadar luka karena konflik keluarga beberapa tahun lalu masih membekaskan sedalam ini.
“Dia tidak sedang menjadi Aquila. Alam bawah sadar Yang Mulia lebih menguasainya saat ini,” kata Dokter Kara.
“Kenapa tidak ada yang bilang kalau ini bisa menyakiti Aquila?! Kenapa tidak ada yang memberitahu kalau nanti dia juga merasakan bekas lukaku?! Jika tahu begini aku tidak akan membiarkan siapa pun menjadi penggantiku di Nigra!” protesku kesal, mendekap Aquila seerat yang kubisa, meredam isak tangis yang mengguncang bahunya.
“Ssshh ... Lihat aku, Shira, lihat! Semuanya sudah berakhir! Dengarkan aku, hei! Semuanya sudah baik-baik saja! Semua perasaan menjengkelkan itu sudah tidak ada! Shira yang sekarang tidak merasakan ini semua lagi!” bisikku tepat di telinganya berharap Aquila segera berangsur-angsur tenang. Ini mengerikan! Rasanya mengerikan melihat diriku yang dulu dan kelemahanku meskipun telah menang darinya. Kenyataan bahwa hal itu masih membekas di kepalaku dan bisa kembali kapan saja, memaksaku harus tetap waspada.
Setelah kukatakan 'semuanya baik-baik saja' terus berulang-ulang, isak tangis Aquila perlahan mereda. Tubuhnya terasa limbung dalam pelukanku.
“Yang Mulia ...” gumamnya pelan sesaat sebelum matanya yang basah tertutup penuh. Syukurlah, dia sudah kembali menjadi dirinya.
“Maaf, Qila ....”
“Emosi manusia benar-benar melelahkan ya!” gumamnya lagi kemudian benar-benar jatuh dalam lelap. Dokter Kara membantuku membaringkan kembali gadis ini. Luska di ranjang sebelah mengawasi kami tanpa berkomentar, masih tidak berusara.
“Yang Mulia jangan mencemaskan Aquila. Sejak memori Anda terpasang di kepalanya, Aquila menelusuri ingatan Yang Mulia sejak awal dan tidak bisa menghindari memori buruk itu, tapi penelusuran memori terus bergerak maju hingga tiba di ingatan paling ujung, masa sekarang. Berdasarkan pemeriksaan terakhir, kondisi psikologis Yang Mulia cukup baik. Saya yakin Aquila juga akan baik-baik saja,” jelas Dokter Kara.
“Syukurlah kalau begitu,” jawabku lega.
“Apa Luska ... apa Luska juga mengalami hal yang sama?” tanya Elang yang ternyata juga menonton kejadian tadi.
“Tentu saja, Kesatria Agung, tapi sepertinya tidak ada gejolak emosi berarti pada diri Anda sepanjang memori yang ada. Kesatria Muda Luska tetap normal sejak bangun satu jam yang lalu,” jawab Dokter Kara.
“Wah, masa? Coba ajak dia bicara!” kata Kak Garuda.
“Heh, Luska!” kata Elang terkesan seperti menantang gelut, tetapi Luska tidak bereaksi.
“Lang? Kamu bisa mendengarku?” tanyaku melambaikan tangan di depan wajah Luska karena mungkin saja Luska saat ini sedang menjadi Elang. Masih sama, tidak bereaksi.
“Apanya yang tidak apa-apa?! Ketika Elang tidak mau bicara, tandanya dia sedang gila luar biasa! Yah, tentu saja, pasti Luska sedang berada di ingatanmu yang waktu itu ....”
“Tutup mulutmu, Gar!” potong Elang cepat dengan nada datar tanpa memelototi kakaknya, “jangan ganggu Luska dulu! Biarkan dia sendiri!”
Aku hanya menatap Elang, Luska, dan Kak Garuda bergantian, mencoba menebak-nebak sesuatu yang baru saja dibicarakan. Ketika aku ingin mencemaskan Luska sekali lagi, Elang buru-buru menarikku pergi.
“Sudah kubilang jangan mengajaknya bicara dulu!”
.Bersambung.
Oh ya, aku mau minta maaf sebab di episode sebelumnya salah ketik sungguh bertebaran😫 maaf atas ketidaknyamanannya, bakal segera kubenerin dan terima kasih buat yang tetep setia mantengin Kelabu💞 Janjiku sama seperti di season 1, episode terakhir sebelum akhir bulan. Enggak lama lagi kan ya! Heheh, makasih dukungannya, teman-teman!😘
__ADS_1