Kelabu

Kelabu
Episode 50


__ADS_3

Berangkat sekolah dengan masih mengenakan masker, akhir pekan kemarin aku lebih banyak berbaring karena demam. Rencana belajar Hari Minggu bersama Yasinta dan Nike yang sudah kujanjikan pun harus kubatalkan. Maurin yang memberi tahu mereka kemudian bocah itu mengomel kepadaku. Kedua kawan karibku nyepam melalui kontaknya karena mengira itu kontak baruku. Mereka belum tahu bahwa ponselku ikut hujan-hujanan.


Ujian tengah semester hari ini pun aku harus meminjam ponsel adikku setelah melalui negosiasi panjang. Laptopku yang bermasalah membuatnya jadi lebih cepat kehabisan daya jadi mana mungkin bisa kupakai. Sistem ujian di sekolah ini memang sudah lama berbasis komputer dan ponsel pintar dengan aplikasi CBT dan browser khusus ujian. Lebih menghemat kertas, lebih efisien, lebih menegangkan juga karena nilai langsung bisa dilihat di akhir waktu tes. Teman-temanku banyak yang segera log out sebelum membuka nilai mereka.


“Wah, sudah kuduga Shira memang punya ponsel baru!” komentar Yasinta, “mana lucu banget case-nya, ih, meong! Sejak kapan kamu suka yang imut-imut, Ra?”


“Ini punya adikku, Yas. Apa kemarin dia tidak bilang kalau ponselku rusak?” tanyaku.


“Tidak. Dia hanya bilang kalau kamu sakit. Kupikir itu hanya akal-akalanmu untuk membatalkan sesi belajar yang sudah kita sepakati,” jawab Yasinta. Aku hanya bersin sebagai jawaban.


“Yah, sepertinya memang bukan akal-akalan. Aduh, padahal panasmu masih tinggi, Ra! KENAPA TIDAK ISTIRAHAT SAJA DI RUMAH!” seru Yasinta selalu paling heboh menunjukkan kekhawatirannya.


“Wah, tidak bisa, Yas! Aku khawatir seseorang mengiraku melarikan diri!” jawabku dan ternyata orang yang kumaksud memperhatikan kami sedari tadi. Ia mengalihkan pandangan ketika tatapanku menyasar padanya. Menyeringai kecil, kehadiranku pada hari pertama menunjukkan semangat dan niatku yang bukan main-main. Akan kubuat persaingan antara aku dan Elang menyenangkan!


Jam pertama, Bahasa Indonesia. Suasana menegangkan menyerang seisi kelas ketika pengawas ujian adalah Pak Hasibuan. Suara ketuk tongkat kebanggaannya menggema memecah sepi. Tongkat itu nanti bisa menyasar tangan siapa pun yang terbukti menyontek. Entah bagaimana caranya, guru senior itu selalu bisa mendeteksi kecurangan. Aku tak terlalu terpengaruh dengan siapa pun yang mengawasi ujian sebab memang tak pernah terlibat dengan urusan sontek-menyontek. Segera log in, aku mulai mengerjakan soal tanpa sempat tengak-tengok. Aku bahkan lupa kalau sekarang dalam persaingan dengan Elang –yang sudah menjadi bahan omongan seisi kelas. Lima belas menit sebelum jatah waktu habis, semua soal sudah kuisi, tapi aku tak mau buru-buru. Bahasa Indonesia sering kali menipu. Terasa mudah lalu kukerjakan dengan percaya diri, tetapi setelah melihat nilai hasilnya jauh dari harapan. Aku tak mau terjebak pada kesalahan yang sama, tetap meneliti jawabanku meski Elang sudah log out dan keluar ruangan. Teman-teman menengok ke arahku. Aku tak peduli, pemenangnya adalah yang nilainya lebih tinggi, bukan yang lebih awal selesai.


Sayangnya, memang dasar kemampuan berbahasaku lemah. Hingga waktu ujian berakhir, yang tertera di kotak nilaiku tetaplah delapan puluh padahal aku berharap lebih. Kekecewaanku berlipat setelah mengetahui Elang delapan angka unggul di atasku. Jam pertama, Bahasa indonesia, aku kalah. Nilai tertinggi di kelas diraih oleh Nabilah.


Jam kedua, aku semakin kehilangan minat. Hafalanku tentang pasal-pasal dalam mapel kewarganegaraan tak pernah tuntas. Di tambah kondisiku sendiri yang bukan kian membaik. Separuh lebih dari soal pilihan ganda kuisi dengan spekulasi, hanya sedikit yang benar-benar kuyakini tidak salah. Namun, aku tetap beruntung karena sebagian besar spekulasiku benar. Tujuh puluh enam persis. Salah satu soal lagi maka aku bisa kena remidi. Dengan nilai seperti itu jelas-jelas aku kalah lagi dari Elang yang masih stabil di nilai delapan puluh delapan, tapi kali ini dia menempati nilai tertinggi dalam mapel kewarganegaraan. Kesimpulannya, hari ini aku belum memperoleh poin apa-apa. Elang punya dua setelah dua kali mengungguliku.


“Tidak apa-apa, Ra! Kamu belum benar-benar kalah! Elang hanya beruntung karena kamu sedang sakit!” kata Yasinta menyemangatiku. Dia mengajakku pulang dan berniat mengantarku sebelum suara rengek lebay memasuki kelas.


“Shiraaa! Tolong untuk hari ini jangan dibatalkan lagi! Sesi belajar yang kamu janjikan, Raa! Besok matematika peminatan! Kamu tahu itu mimpi burukku!” seru Nike sambil mewek.


“Ah, iya, besok matematika ya!” ujarku teringat, benar-benar tidak enak bila harus membatalkannya lagi. Mapel inilah yang diharapkan teman-teman untuk aku bisa membantu mereka.


“Baiklah, tapi di kelas saja ya! Mungkin juga tidak lama,” jawabku.


“Apa? Apa? Belajar matematika sama Shira? Aku ikuut!” sahut Sindi diikuti teman-teman lain yang kembali duduk di tempat mereka, urung pulang.


“Tapi jangan lama-lama ya, teman-teman! Kalian tahu sendiri Shira sedang tidak enak badan. Kalau bertanya gantian ya! Dimohon tertib, kasihan Shira!” kata Yasinta. Sepertinya dia akan lebih mengkhawatirkanku dan akan lebih banyak membantu mengorganisir teman-teman ketimbang mengikuti alur belajar.


“Apa-apaan ini?! Sudah waktunya pulang ya pulang! Kalian belajarlah di rumah masing-masing!” kata seseorang menarik kepalaku agar menyingkir dari muka kelas.


“Hei, kamu yang apa-apaan?! Aduh, lepaskan, Lang!” protesku.


“Pulang saja sana!” serunya ketus.


“Sejak kapan kamu berkuasa memerintahku, ha?!”


“Aku tidak suka menang dari orang sakit! Istirahatlah dan segera sembuh!”


“Minggir, Lang! Jangan menghalangi niat baik Shira! Kami membutuhkannya!” kata Imelda disetujui yang lain terutama Nike.


“Yas, kamu mengerti ‘kan? Bawa Shira pulang!” kata Elang tak memedulikan protes teman-teman.


“Maaf, Ra! Kali ini Elang benar. Kamu harus istirahat. Ayo!” jawab Yasinta tak kusangka menurutinya, menarik tanganku keluar dari kelas.


“Tenang semuanya! Kita tetap bisa belajar matematika bersama Yuanda!” kata Elang sempat kudengar sebelum jauh meninggalkan kelas.

__ADS_1


“Kenapa harus aku?! Enak saja! Kamu juga bantu!” balas Yuanda. Kegaduhan di kelas semakin tak terdengar seiring langkahku dan Yasinta yang semakin menjauh.


Namun, kenyataannya meski sudah istirahat cukup dan minum obat, keadaanku belum membaik hingga malam harinya. Ketika kuperiksa ponsel, grup obrolan kelas begitu ramai. Aku terkejut mengetahui Elang mengeluarkanku dari grup.


SEBENARNYA ADA MASALAH APA DIA DENGANKU?!


Menahan gemuruh emosi, aku hanya bisa membaca pesan-pesan sebelumnya dari teman-teman yang menandaiku meminta bantuan mengerjakan latihan soal. Aku baru akan mengirim jawaban secara japri sebelum melihat pesan dari Elang memperingatkanku agar tak membalas japri siapa pun yang minta bantuan dan memintaku belajar untuk diriku sendiri yang sedang sakit. Aku semakin tak tahan dengan sikapnya yang kian menyebalkan, tapi mari kubuat dia lebih jengkel. Jawaban-jawaban latihan soal yang diminta teman-teman justru kuunggah di status. Dengan begini permintaan siapa pun terpenuhi termasuk permintaan Elang sendiri. Aku paham benar betapa teman-teman membutuhkan uraian jawabanku untuk mereka pelajari sebab guru matematika kami jarang menyertakan pembahasan.


 ***


Esok harinya aku masih mengenakan masker karena flu yang kuderita belum reda. Sejujurnya panasku semakin tinggi, tapi aku tak peduli. Ini mapel kesukaanku dan aku tak mau melewatkannya atau memilih ujian susulan. Ibu tak bisa mencegahku pergi sekolah.


Tiba di kelas tepat ketika bel masuk berbunyi, aku selangkah lebih cepat ketimbang pengawas ujian. Teman-teman menatap lega kehadiranku di muka pintu.


“Kupikir kamu tidak datang hari ini,” kata Yasinta.


“Oh, tidak! Kau tahu ini mapel andalanku!” jawabku bersiap mengakses browser ujian.


“Elang sudah mengembalikanmu ke grup?” tanyanya.


“Tidak tahu, tidak peduli!” jawabku acuh. Yasinta hanya terkekeh pelan.


“Aku benar-benar tak habis pikir! Tapi kalian berdua lucu!” komentarnya. Apanya yang lucu, heh?! Seandainya belum waktunya mengerjakan, aku pasti akan memprotes panjang kata-kata Yasinta.


Hari kedua, jam pertama, matematika peminatan. Aku sedikit lega tipe soal yang kuar tak jauh beda dengan soal-soal latihan. Semoga teman-teman juga tidak menemui kesulitan agar rata-rata kelas ini tetap lebih unggul dibandingkan kelas mana pun. Ah, sebentar, jika memang semudah ini, artinya Elang juga tidak kesulitan mengerjakannya. Aku harus waspada. Dia boleh jadi memenangkan mapel ini juga. Tidak bisa dibiarkan. Aku harus lebih teliti!


Waktu terus berjalan. Sisa soal kukerjakan dengan kepala tergeletak di meja. Tidak banyak, hanya lima soal lagi.


“Ra, kamu masih kuat?” tanya Yasinta di sebelahku.


“Aku tidak apa-apa, Yas. Khawatirkan urusanmu sendiri,” jawabku. Yasinta memang tak sempat mengobrol lagi setelahnya. Aku tak sadar sempat memejamkan mata. Ketika kubuka lagi, tiba-tiba suara bel membuatku menegakkan punggung dengan sensasi terkejut yang tidak biasa. Serius, nih, sudah istirahat?! Aku kan hanya tidur sebentar!


“Sialan!” umpatku didengar seisi kelas, “kenapa kamu membiarkanku ketiduran, Yas?!”


“Bukankah kamu bilang agar aku mengkhawatirkan urusanku sendiri? Aku sudah mengkhawatirkannya, tapi nilaiku tetap merah!” rengek Yasinta.


“Memangnya kenapa, Ra? Aku tahu kamu tidur tapi kupikir sudah selesai,” kata Tiara yang duduk di depanku.


“Aku belum sempat memeriksa ulang jawabanku, aaaarggh!” geramku kesal, khawatir ada jawaban salah karena tidak teliti yang belum kuperbaiki. Itu dosa besarku selama ini! Aku juga tak ingat berapa banyak sisa soal yang belum selesai kukerjakan. Tiara membuka kotak nilaiku kemudian balik menggeram kesal.


“Kamulah yang sialan, Ra! Aaargghh! Menggemaskan! Bagaimana bisa soal gila itu kamu kerjakan ketika demam sampai ketiduran pula? Nilaimu pun nyaris sempurna begini dan kau masih mengamuk?!” kata Tiara menunjukkan angka sembilan puluh enam dari ponselku. Satu soal kosong. Harusnya bila terjawab bisa dapat sempurna.


“Kau pikir betapa kecewanya aku yang sehat dan terjaga sepanjang waktu tetapi nilaiku tak juga menjilat tujuh puluh! Kamu jelas-jelas mengejekku, Ra!” balas Yasinta masih loyo di bangkunya. Kuperhatikan Elang yang berdecak lalu keluar dari kelas. Sesaat kemudian kuketahui nilainya kali ini delapan puluh empat, nilai tertinggi kedua setelahku. Bahkan Yuanda juga dikalahkannya. Boleh juga, tapi tetap aku yang menang.


Namun, jam kedua, sejarah Indonesia, aku lagi-lagi kalah. Memang jika harus menghafal aku tak terlalu andal, terutama detail tanggal dan nama-nama tokoh yang terlibat dalam peristiwa sejarah. Sering terbalik-balik, tak ada pola yang bisa kumengerti, memang bukan seperti matematika. Total jawaban benar Elang hanya satu lebih banyak dibandingkan aku. Beda tipis memang, tapi dengan kekalahan tipis itu, poin hingga hari kedua ini aku masih kalah banyak dari Elang. Tiga mapel dimenangkannya sementara aku baru satu. Kerja kerasku masih panjang ke depannya.


Itulah kenapa aku harus segera sehat dari demam yang hampir empat hari ini tak kunjung enyah. Segera tidur begitu sampai di rumah. Yasinta berusaha memberi pengertian kepada Nike bahwa aku belum bisa memulai sesi belajar sepulang sekolah yang kujanjikan. Lagi-lagi aku berjanji akan sembuh esok hari untuk melunasi janjiku. Beruntungnya –atau tidak beruntungnya– di dunia kelabu aku, Elang, dan Sakti masih terkunci di bilik yang sama sejak beberapa malam terakhir. Aman dari jangkauan monster, tapi tanpa kemajuan sedikit pun mengenai informasi celah cahaya yang kami cari.


Lagi pula percuma mencarinya bila aku dan Elang masih berbeda pendapat. Sepertinya kami berdua masih sama-sama sabar menjemput takdir pemenang persaingan yang kami buat. Siapa pun yang kalah harus menuruti penyelesaian yang dipercaya pemenang. Itulah yang kami sepakati.

__ADS_1


 ***


Hari ketiga UTS, jam pertama, fisika. Semalam aku tertidur pulas tanpa menyentuh buku, tapi kondisiku telah jauh membaik. Seisi kelas panik karena Zulkifli, maniak fisika di kelas tidak masuk hari ini. Padahal sekalipun masuk mereka tak bisa banyak berharap karena pengawas ujian hari ketiga ini lagi-lagi Pak Hasibuan, tapi sekali lagi kubilang, itu tidak berpengaruh padaku.


Menyadari fisika sebagai saudara matematika, aku telah mencoba berdamai dengan mapel ini dan banyak belajar mandiri, mengaca dari yang dilakukan Zulkifli. Hasilnya aku sedikit memahami fisika meski hanya di beberapa bab. Soal-soal yang mudah kukerjakan lebih dulu. Agak merasa aman, aku tahu Elang kurang menguasai mapel ini. Terbukti di akhir waktu ketika nilaiku menjadi yang tertinggi di kelas sementara nilai Elang rupanya merah, di bawah batas kriteria minimum. Seandainya Zulkifli masuk, mungkin dia bisa dapat nilai sempurna dan menjadi yang tertinggi, tapi aku tak peduli. Satu poin untukku setelah mengungguli Elang.


Jam kedua, mapel seni memihakku. Lagi-lagi Elang tertinggal di bawahku. Dengan begini poin kami seimbang, tiga sama, sama-sama memenangkan tiga mapel. Persaingan semakin seru, tapi Elang mulai kesal sendiri, semakin irit bicara denganku.


Bahkan situasi seperti itu terbawa ke dunia kelabu. Elang dengan wajah angkuhnya tak pernah memulai bicara. Aku pun didiamkan seperti itu juga semakin diam.


“Hei, um ... Apa kalian berdua sama-sama sakit gigi?” tanya Sakti merasakan kejanggalan di antara kami.


“Ya,” jawabku dan Elang bersamaan, terlalu singkat.


“Tapi ini terlalu dingin dan canggung. Kalian boleh bertengkar seperti biasa karena yah ... bilik ini menjadi sepi sejak kalian sama-sama tak saling bicara,” kata Sakti.


“Tidak, Sakti. Kami sadar terus saja berdebat hanya buang-buang energi,” jawabku.


“Benar, kau akan melihat kami berdebat lagi nanti bila tiba waktunya,” timpal Elang. Sakti hanya menggaruk kepalanya tidak mengerti.


“Shira, aku tahu kalian sedang tidak baik-baik saja, tapi semuanya masih dalam kendali ‘kan?” tanya Sakti berbisik kepadaku, masih saja khawatir.


“Masih, Sakti. Bahkan semuanya memang baik-baik saja! Kamu terlalu khawatir!” balasku.


“Aku tak mau pertengkaran kalian belum membaik atau semakin bertambah parah hingga purnama ketiga. Jadi tolong ya ...” kata Sakti penuh harap. Tenang saja, Sakti. Dengan cara seperti inilah semuanya akan baik-baik saja.


 ***


Hari keempat UTS, terjadi hal menjengkelkan yang pernah ada. Jam pertama, kimia, nilaiku dan Elang sama, menjadi yang sama-sama tertinggi di kelas. Harusnya itu menyenangkan, tapi aku agak jengkel tak menduga Elang bisa menyamai kemampuanku di mapel yang kurencanakan untuk kupilih dalam UN nanti. Bu Julia pengajar mapel itu mengucapkan selamat hanya kepada Elang.


“Cih, dasar peniru! Bilang saja ingin merebut perhatian Bu Julia!” gerutuku tak bisa menahan kekesalan. Elang yang ternyata ada di belakangku mengetuk pelan kepalaku dengan buku.


“Tenang saja, tidak akan kuulangi lagi. Berikutnya nilai kita tak akan sama sebab nilaiku akan jauh berada di atasmu!” jawab Elang memandangku dengan dagu terangkat dan tatapan sombongnya.


“Jangan mimpi!” balasku bersungut-sungut pergi.


Posisi seimbang kami segera kuubah dengan kumenangkan mapel jam kedua, wirausaha. Aku satu poin lebih unggul dibandingkan Elang, tetapi poin kami harus seimbang lagi setelah Elang memenangkan satu-satunya mapel hari kelima esok harinya. Ini benar-benar menyebalkan dan mengganggu pikiranku. Seandainya nilai kimiaku lebih tinggi pasti minggu pertama ini aku lebih unggul dari Elang. Jika terus saja begini kemungkinan aku akan terkalahkan dan harus menuruti jalan keluar yang dipercaya Elang. Sial, aku tidak mau!


Kemungkinan paling buruk juga bisa terjadi, kami berdua tetap seri hingga UTS selesai. Itu lebih buruk karena akhirnya kami sama-sama menang dan menginginkan jalan yang kami pilih sama-sama dituruti. Perselisihan di antara kami semakin tidak berujung.


“Itu tidak boleh terjadi!” ujarku mengepalkan tangan, bertekad memenangkan setidaknya empat dari enam mapel yang belum diujikan minggu depan.


Baru menyadari jika aku terlalu meremehkan Elang, inilah pertama kalinya aku takut terkalahkan. Tak peduli betapa pun kerasnya Elang belajar demi memenangkan persaingan ini, tetap harus aku yang menang! Dialah yang harus mengikuti jalan yang kupercaya!


.Bersambung.


Oh iya, kalau pembaca sekalian heran kapan cerita yang bikin mabok ini selesai, maka jawabannya ... segera :v Sebelum bulan April berakhir.


Dadah😴

__ADS_1


__ADS_2