
Selanjutnya aku terjebak di tengah gelombang antusiasme penonton menjelang quarter ketiga. Pertunjukan cheerleader mengisi jeda istirahat. Papan skor masih menunjukkan angka yang sama sekali tidak seimbang. Akan membutuhkan perjuangan keras bagi tim sekolahku untuk melampauinya, tapi semoga dengan bergabungnya Elang –yang sepertinya sangat diharapkan– akan banyak membantu.
Quarter ketiga pun dimulai. Ini mengejutkan, tidak ada perubahan formasi pemain dari tim sekolahku, tapi seseorang yang beberapa saat lalu bersamaku tampak di bangku pemain cadangan sudah mengenakan outfit basket hitam-hitam khas sekolah kami bersama beberapa orang lain. Barangkali dia memang tidak ingin bermain karena belum sehat betul. Elang bukan tipe orang yang suka membuat malu tim dan orang-orang yang mendukungnya.
Setidaknya alur permainan mulai berpihak pada kami. Perlahan angka skor merangkak naik meski tim lawan juga tak jarang sesekali meloloskan serangan. Tampaknya sedikit meremehkan dan menyangka mustahil bagi tim sekolahku untuk mengungguli mereka. Namun, senjata rahasia memang harus ditempatkan di akhir untuk serangan penutup yang mengejutkan ‘kan?
Lima menit setelah bersusah payah mengejar skor di quarter ketiga, pergantian pemain untuk tim sekolahku. Pemain nomor delapan belas keluar, digantikan pemain nomor dua puluh dua.
“Itu Kak Elang!” seru anak laki-laki tadi, begitu mengagumi pemain yang baru memasuki lapangan dengan wajah mengantuknya, benar-benar ciri khas seorang Elang. Sesekali melemaskan ototnya kemudian ia tampak bersiaga.
Permainan pun dilanjutkan. Awalnya Elang bermain cukup natural, sama sekali tidak mencolok seperti pemain andalan yang dirumorkan. Namun, kurasa memang itulah keahliannya, tak terlihat untuk menyelusup di pertahanan lawan. Memiliki keseimbangan yang bagus serta kelentukan di siku dan pergelangan tangan, membuat shoot jarak jauhnya tak pernah meleset. Aku pun mengerti kenapa dari sekian banyak pemain cadangan hanya Elang yang paling diharapkan. Lima menit yang tersisa terasa cepat, secepat angka di papan skor perlahan mulai seimbang. Quarter ketiga berakhir, tetapi semangat supporter dari sekolahku tidak.
“Waw, pahlawan memang selalu datang belakangan ‘kan?” celetuk seseorang di sampingku.
“Wwaw betapa hebatnya kamu bisa menemukanku di antara ribuan orang di sini, Yas!” jawabku. Yasinta hanya terkekeh.
“Mudah sekali, ketika Elang Dirgaraja main, Shira pasti ada di tribun terdepan,” cengirnya jahil.
“Aku lebih suka kau jauh-jauh dariku dan bertugas di PMR. Itu lebih berguna dari pada hanya meledekku,” jawabku tak berselera.
“Wah, sayangnya tugasku sudah selesai. Lagi pula aku bukannya senang meledekmu. Tidak seru, tidak bereaksi!” jawabnya.
“Maka dari itu, diamlah!”
“Tapi sungguh, Ra! Aku tak pernah tahu Elang berbakat main basket. Di kelas olahraga pun dia tak suka memamerkan kemampuannya. Wajar bila banyak yang terkejut dengan kemunculannya sekarang. Kamu tidak terkejut, Ra?”
“Kenapa harus terkejut? Tiap orang pasti punya potensi tersembunyi, itu hal yang biasa,” jawabku.
__ADS_1
“Iya, sih! Mungkin Elang juga tidak suka jadi pusat perhatian. Setelah ini dia pasti akan terkenal, jadi idola yang dikerubungi penggemarnya, terutama gadis-gadis. Aduh, bisa kubayangkan Elang akan mengusir mereka dengan uring-uringan dan muka juteknya, hahaha!” tawa Yasinta tertelan sorak penonton seiring dimulainya quarter terakhir dari pertandingan ini. Aku sendiri juga heran kenapa tidak bereaksi apa pun atas kata-kata Yasinta tadi.
Formasi pemain banyak berubah. Permainan tim sekolah kami semakin baik. Angka di papan skor berkejaran, memainkan degup jantung supporter kedua pihak. Aku tertawa kecil kemudian meninggalkan tempat.
“Mau ke mana, Ra? Lagi seru-serunya, tahu!” tegur Yasinta. Aku hanya menggeleng.
“Aku sudah tahu bagaimana akhirnya nanti,” jawabku lalu benar-benar meninggalkan tribun. Riuh rendah sorak penonton tak semakin berkurang seiring menjauhnya aku dari tempat itu.
“Oh, kukira karena kamu tidak suka melihat nanti Elang akan diserbu penggemar-penggemar barunya,” kata Yasinta tersenyum miring ketika aku sudah cukup jauh dan tak bisa mendengarnya.
***
Alih-alih menonton pertandingan bulu tangkis yang kuinginkan sejak awal, aku justru melangkah ke ruang guru di gedung depan yang jauh dari pusat keramaian. Hampir saja lupa, aku punya utang kepada Bu Lis. Akan berakibat panjang jika tidak segera kuserahkan PR-ku yang kemarin.
Namun, penemuanku di sini sungguh mengejutkan. Ruang guru kosong menyisakan desau AC yang sepertinya lupa tidak dimatikan. Ah, sudahlah! Apa yang perlu disesalkan? Dalam acara seperti hari ini siapa yang mau sok sibuk di kantor? Para guru juga ingin melihat pertandingan atau rebahan di rumah karena tidak ada KBM. Buku PR kuota imam begitu saja di atas meja Bu Lis, segera berbalik kemudian terkejut dengan perasaan tidak biasa dengan kemunculan seseorang.
“Ya ampun, Bu Lasmi!” seruku sambil mengelus dada. Orang ini selalu muncul dengan cara tak biasa, dengan wajah tanpa dosa pula.
“Saya kaget karena sebelumnya tidak ada siapa pun lalu tanpa aba-aba Bu Lasmi muncul begitu saja,” jawabku.
“Kalau urusanmu sudah selesai, silakan keluar,” jawabnya datar. Aku menghela napas panjang lalu segera angkat kaki. Kenapa pula aku perlu diusir-usir?!
Kulirik arloji, harusnya pertandingan basket sudah selesai, tapi aku tidak berniat kembali ke gedung olahraga. Apalagi dari keributan yang kudengar sepertinya terjadi masalah terkait hasil pertandingan, entah apa. Sebaiknya aku memang tak kembali ke sana. Sebelum pulang, aku mampir ke kamar mandi sebentar. Aroma yang sama sekali tidak wajar tercium, bukan pesing atau bebauan menjijikkan khas kamar mandi, tetapi bau asap rokok. Kakiku terlanjur melangkah mengikuti sumber bau ini, ke belakang deretan kamar mandi yang hanyalah lorong sempit yang kotor.
Harusnya aku tak perlu ke sini hanya untuk diam-diam memergoki sekelompok anak bermain kartu dengan rokok menyala di tangan mereka. Belum lagi botol-botol minuman kosong berserakan yang jelas-jelas kukenali sebagai barang terlarang di sekolah ini. Salah satu dari mereka bersorak sambil meraup tumpukan uang sedangkan beberapa lainnya tampak kecewa. Beginilah yang terjadi di sudut paling tersembunyi ketika ada momen besar di luar sana. Aku sendiri heran kenapa satgas keamanan belum juga menemukan mereka.
Mundur perlahan, aku tak ingin terlibat lebih jauh lagi. Oh, sebentar, aku harus memotret aksi mereka sebagai bukti laporan. Sayangnya belum sempat kulakukan, seseorang telah menyergapku dari belakang, membopong tubuhku seperti boneka, dan mengempaskanku di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
“Hai, hai, semuaa! Kita kedatangan tamu! Ucapkan selamat datang, dong!” ujar laki-laki yang membantingku barusan. Seringai teman-temannya terbit, mengantarkan berbagai perasaan tidak menyenangkan.
Aku bersusah payah bangun untuk kemudian kedua tanganku dicekal kuat. Aroma alkohol yang tidak enak turut melekat di pakaianku.
“Tolong, aku bisa pura-pura tidak tahu jika kalian membiarkanku pergi,” ujarku memohon.
“Tadinya aku juga berpikir begitu. Siapapun pasti akan diam hanya karena digertak, tapi berhubung aku ingat kau dekat dengan pengintai itu, maka kurasa ... kami benar-benar harus membungkammu,” jawab pimpinan kelompok ini.
“Wah, jadi dia ceweknya Elang? Aduh, jangan sentuh! Sebentar lagi dia akan datang menyelamatkan seperti pahlawan di dongeng-dongeng klise!” sahut yang mencengkeram tangan kananku disusul gelak tawa yang lain.
“Tutup mulut kalian! Sekali lagi kukatakan, biarkan aku pergi dan melupakan apa yang kulihat di sini, atau jika kalian tetap memaksa berbuat macam-macam ....”
“Hei, hei! Kelinci kecil kita sedang mengancam! Wah, aku takut!” sekali lagi yang paling berengsek di antara mereka memancing ejekan tawa, mendekatkan wajahnya ke arahku, “sayangnya kami tetap harus menjamin agar kau benar-benar tutup mulut. Akan kupastikan kau mendapat video kenang-kenangan sebagai suvenir dari pesta kami!”
Kakiku yang bebas memberi tendangan di perutnya sebagai jawaban. Insting terancam memberi kekuatan untuk melawan. Kepalan tangan kananku mengeras untuk kemudian melayangkan pukulan di dagu laki-laki yang mencengkeramku. Namun, tangan kiriku menjadi sasaran sundut rokok yang tak bisa kuhindari, membuatku merintih kesakitan.
“Diem, enggak, lo! Mau gue kenain pas nadi?!” ancamnya.
“Coba saja kalau kamu berani membunuhku!”
Anak dengan bekas luka di dahinya ini mengamini kata-kataku, benar-benar menempelkan ujung rokok yang menyala di area pergelangan tanganku. Jeritan tak bisa kutahan atas luka kedua yang lebih perih ini.
“Heh, *****! Kita bukan mau bunuh orang!” caci bos geng mereka, “aduh, sorry, ya! Dia mungkin udah mabuk berat. Sini lihat.”
Aku pun menampar dan mendorongnya sebelum dia menjilat lukaku. Kalap, aku tak tahan berada di sekitar mereka. Meronta, memukul, dan menendang sembarang arah ketika siapa pun berusaha menyentuhku. Barulah ketika botol minuman menghantam kepala dengan bunyi pecahan kaca, aku jatuh terduduk merasakan nyeri menjalari segenap kepala yang perlahan merenggut kesadaranku.
“Dasar sembrono! Gue udah bilang jangan kasar-kasar! Sekarang lo mau tanggung jawab?!”
__ADS_1
“Kalian semua yang akan bertanggung jawab ... dan kupastikan kalian membayar mahal atas semua ini,” kata suara seseorang yang baru datang tepat ketika aku tumbang. Seseorang yang tak sempat kuketahui siapa.
.Bersambung.