Kelabu

Kelabu
#S2 Episode 18


__ADS_3

“Maksudmu ... maksudmu, pewaris sah sebelumnya yang bunuh diri ... adalah kamu, Luska?”


“Benar, Yang Mulia. Sayalah si pengecut itu!”


Darahku seketika terasa berdesir mendengar pengakuan Luska. Amat terlambat bagiku untuk lari karena embus napasnya telah mengusik sisi wajahku. Yang benar saja! Jika Luska sungguh pewaris sah yang bunuh diri ....


“Lalu ... dirimu yang sekarang ini apa?”


Jeda singkat setelah pertanyaanku berakhir dengan pecah tawa Luska yang tidak bisa ditahan. Heh?! Apa-apaan dia?!


“Maaf ... maaf, apa saya membuat Yang Mulia takut?” tanyanya berusaha mati-matian meredam gelak.


“Apa maksudmu?! Jika ternyata kamu hanya bercanda, akan kutendang kau dari atas sini!” geramku kesal.


“Tidak, Yang Mulia. Saya tidak bisa mati dua kali setelah pernah lompat dari ketinggian tiga kali lipat dari posisi kita sekarang,” jawab Luska semakin membuatku bingung.


“Jangan berbelit-belit, Kesatria Mabuk!” balasku menggunakan julukan dari Kak Garuda.


“Begini, soal pengakuan saya tadi ... itu sungguhan. Saya tidak bercanda. Tanda dan kekuatan pewaris sah itu pernah muncul pada saya, dan sebelum banyak yang tahu hal itu, saya melakukan bunuh diri,” kata Luska.


“Lalu bagaimana kau masih bisa hidup setelahnya? Bunuh dirimu gagal?” tanyaku.


“Berhasil, sih!”


“Ha?”


“Saya sudah mati dan berharap semua beban dan tanggung jawab lenyap, tapi ganjaran setelah mati atas tindakan pengecut itu bukan hanya hilangnya kekuatan pewaris sah, tapi justru kehidupan sekali lagi.”


“Heeh?! Hidup sekali lagi sebagai hukuman?” tanyaku tidak percaya.


“Benar, saya malah dikutuk hidup abadi dan tidak bisa mati walau jantung dan otak dirusak seburuk apa pun. Sel dan jaringan organ-organ tersebut akan kembali beregenerasi. Jadi, percuma bila saya berusaha bunuh diri lagi.”


Aku masih ternganga tidak percaya atas penjelasan Luska, tidak paham lebih tepatnya. Bagaimana mungkin keabadian ia sebut sebagai hukuman? Maksudku, banyak sekali orang-orang yang berharap hidup lebih lama bahkan tidak ingin mati, tapi kesatria satu ini ... malah menceritakan tentang keabadiannya dengan senyum palsu menutupi kesedihan.


“Kamu ... tidak suka hidup abadi?” tanyaku, “padahal sebagian orang menganggap hal itu sebagai anugerah.”


“Um, itu bukan masalah suka atau tidak suka, tapi ... dunia ini bukan surga yang nyaman untuk ditinggali selamanya,” kata Luska sambil menatap kilauan lentera yang semakin meninggi, “suatu waktu kita butuh yang namanya mati, tapi bila kebutuhan itu dijadikan pelarian untuk lepas tangan terhadap segala masalah dan tanggung jawab, maka akibatnya seperti diriku ... aku justru abadi dalam rasa malu dan hina.”


“Seandainya benar-benar mati pun, aku akan tetap dikenang sebagai pewaris sah yang pengecut, mengecewakan seisi Alba, dan membuat malu keluarga. Apalagi ayah, wajar bila sekarang dia membuang namaku dari daftar anggota keluarga dan tidak mengakuiku sebagai putranya.”


“Dan ayahmu itu ... Kepala Dewan?” tebakku.


Luska sempat terdiam sebelum akhirnya bertanya, “Kepala Dewan sudah cerita ya?”


“Tidak, tebakanku hanya kebetulan benar,” jawabku, “orang tua itu memperlakukanmu dengan berbeda dibandingkan kesatria lainnya. Meski kesal setengah mati, aku yakin dia tidak bisa benar-benar lupa bahwa kau adalah putranya.”


Luska hanya tertawa pelan karena kata-kataku, kali ini tidak terasa palsu.


“Mari kembali ke dalam, Yang Mulia. Di atas sini semakin dingin,” ajaknya yang kemudian kusetujui. Sebelum menuruni tangga, kusempatkan menengok kelipan lentera-lentera semakin tinggi, terbang jauh tertiup angin.


“Oh ya, Luska ... Apa sekarang kamu menyesal?” tanyaku iseng.


“Menyesal? Um, saya mencoba tidak menyesali jalan yang telah saya pilih,” jawab Luska.


“Tapi akhirnya tidak sesuai yang kamu harapkan. Apa kamu baik-baik saja bila harus terus hidup?”

__ADS_1


“Selain sebagai hukuman, kehidupan saya yang sekarang juga sebagai penebusan dosa. Itu sebabnya, tidak ada yang saya sesali. Sebaliknya, saya akan mengabdikan sepanjang hidup ini untuk Alba, untuk Yang Mulia, dan semua orang yang pernah saya kecewakan.”


“Baguslah kalau begitu,” jawabku sedikit lega, “seandainya kamu tidak baik-baik saja dengan hukuman keabadian ini, aku ingin bilang bahwa pada dasarnya tidak ada yang abadi ... Tidak ada yang abadi selain Tuhan, itu sebabnya jangan khawatir, kita semua akan mati suatu hari nanti, pasti!”


“Saya sudah tahu hal itu, Yang Mulia! Kutukan itu pasti berakhir dan saya pasti akan mati!” jawab Luska tanpa kusadari telah mengelus lembut puncak kepalaku, “karena Yang Mulialah yang akan mengakhiri kutukan saya, juga kutukan yang menimpa seisi negeri, maka dari itu ... Jangan tinggalkan kami!”


Aku malah tertegun karena kata-katanya. Mengakhiri kutukan, heh?


“Tolong jangan bilang-bilang Kepala Dewan ya!”


“Ha?”


“Jangan bilang-bilang Kepala Dewan atau siapa pun bahwa saya pernah menyentuh kepala Yang Mulia. Maaf juga karena itu sangat-sangat tidak sopan, tapi saya tiba-tiba ingin melakukannya karena ... daripada seperti ratu, Yang Mulia lebih terasa seperti teman yang berusaha menyemangati saya, terima kasih!” jawab Luska meninggalkanku yang masih mematung di dasar tangga.


“Memangnya siapa yang memintamu memanggilku Yang Mulia-Yang Mulia, ha?!” protesku ketika punggung laki-laki itu semakin menjauh seiring langkahnya menelusuri lorong lain.


Aku pun mengambil arah berlawanan dari yang dituju Luska, berniat kembali ke kamar. Seseorang di kejauhan segera berbalik pergi begitu tertangkap pandang olehku. Apa dia sudah di sana sedari tadi?


“Kesatria Agung Elang! Tunggu!” panggilku berusaha menyejajari langkahnya.


“Aku tidak akan memanggilmu Yang Mulia hanya karena kau memanggilku dengan sebutan menggelikan itu!” jawab Elang tak peduli dan terus berjalan.


“Sudah kuduga kau memang tidak suka,” jawabku menahan tawa karena respons Elang, “aku baru saja mengatakannya, aku tidak meminta siapa pun di sini memanggilku Yang Mulia, asal kau tahu!”


“Tapi kelihatannya kau senang.”


“Sudah lihat lentera-lentera terbang? Eh?! Waah!” seruku refleks menepis tangan dingin Elang yang terasa menggelitik bergerak menyingkirkan rambut di tengkukku.


“Ma ... maaf, kaget,” ujarku mengakhiri jeda canggung yang tidak nyaman.


“Maaf juga, aku ... aku tidak bermaksud apa-apa,” jawab Elang agak salah tingkah, “tapi tanda itu benar-benar ada di sana.”


“Aku tidak tahu bagaimana bisa seperti itu, tapi akhirnya pertanyaanku terjawab,” kata Elang.


“Pe ... pertanyaan?”


Sial, aku tidak bisa berhenti tergagap.


“Ya, aku sempat heran. Kita sama-sama berhasil mengalahkan sepetak kecil Dunia Kelabu berkat pedang yang dianugerahkan kepadaku karena aku adalah keturunan Sakti, tapi semuanya juga tidak lepas dari peranmu. Kadang aku berpikir, kenapa harus kamu? Kenapa kamu yang menjadi pasanganku untuk melawan dunia terkutuk itu? Ternyata bukan hanya karena kamu yang bersamaku mengaktifkan kunci perangkap di enam penjuru, ternyata karena kamu memang bagian penting dari suatu negeri yang wilayahnya terenggut oleh Dunia Kelabu, karena kamulah ratu selanjutnya dari negeri itu. Ternyata ini semua memang bukan kebetulan,” jelas Elang.


“Oh? Hm, ya ... iya ya!” jawabku masih didera ketidakpahaman mengenai sesuatu yang dia katakan, mengenai pedang dan enam penjuru atau apa pun yang tidak kutemukan di loker ingatanku.


Sejujurnya aku sendiri agak terkejut pada akhirnya mengetahui bahwa Elang juga terlibat mengenai penaklukan Dunia Kelabu. Mungkin inilah yang dimaksud teman-teman bahwa aku pernah dekat dengannya, kami terlibat masalah besar dan sering menghabiskan waktu bersama, terlihat amat mengundang penasaran karena kami merahasiakannya dari semua orang. Yah, sekarang aku pun baru mengerti.


“Tapi kau tidak lupa ‘kan, Shir?” tanya Elang masih dengan tatapan risaunya, “kau tidak lupa dengan tempatmu dilahirkan dan dibesarkan ‘kan? Aku hanya bilang, bahwa tak peduli betapa pun benang keturunan panjang itu masih terhubung denganmu ... tapi tetap saja, tempatmu seharusnya bukan di sini.”


“Aku tidak lupa, kok!” jawabku sambil mengingatkan diri sendiri.


“Perasaan tiap orang bisa berubah kapan saja. Aku tidak mau terlanjur membantumu mewujudkan harapan seluruh penduduk negeri ini, kemudian kau akan tetap tinggal dan tidak lagi kembali. Jika akhirnya seperti itu, lebih baik aku tidak pernah membantumu mengalahkan sisa Dunia Kelabu!”


“Ja ... jangan, dong! Apa kamu tega membiarkan banyak orang tidak terselamatkan dan peradaban yang mengagumkan ini hancur? Ah, aku tahu pasti banyak hal yang kaukorbankan demi membantuku di sini, tapi akan kupastikan kamu mendapat keuntungan ....”


“INI BUKAN TENTANG KEUNTUNGAN, SHIRA! Aku hanya perlu kau kembali! Itu saja!” bentak Elang tiba-tiba.


“Eh? Ke ... kenapa?”

__ADS_1


“Kenapa, ha?!”


Aku tak sempat melihat wajah Elang yang memerah karena ia lebih dulu menyentil dahiku. Tidak sakit, aku hanya terkejut, mundur beberapa langkah hingga punggungku membentur dinding lorong. Sungguh, aku hanya terkejut dengan sensasi aneh seolah kejadian tadi berulang-ulang dalam satu detik yang singkat. Sambil mengusap dahi, kucoba menangkap kepingan reka adegan ketika Elang melakukan hal yang sama di masa lalu, menyentil dahiku yang seolah menjadi kebiasaannya sambil mengatakan, “Dasar bodoh!” atau “ternyata kau tidak sepintar kelihatannya!” Semua itu sama sekali tidak terasa asing.


Berikutnya kesadaranku kembali ke masa sekarang ketika Elang terus mengomel.


“Karena kau jelek dan masih tidak pintar! Kau belum pantas menjadi ratu! Daripada hanya mengacaukan pemerintahan negeri ini, sebaiknya kau kembali ke tempat asalmu dan belajar lebih banyak hal lagi!”


Heh, masih sama! Caranya bicara kepadaku masih sama! Semua yang sesaat melintas di kepalaku hanya potongan ingatan tak beraturan, tapi aku mengingatnya, mengakui bahwa Elang yang di depanku saat ini masih orang yang sama seperti satu setengah tahun lalu! Aku ingin menertawakan diri sendiri karena berharap ingatanku akan pulih seandainya aku lebih sering berada di sisinya.


“Jangan malah nyengir, dong!”


“Maaf!” jawabku.


“Aku serius, Shir! Jika kau benar-benar ingin bantuanku, berikan aku alasan atau jaminan bahwa kau akan kembali pulang setelah semuanya selesai,” pintanya sungguh-sungguh.


“Aku akan pulang, Lang ....”


“Alasan, Shir, apa alasan kuatmu untuk kembali pulang seandainya kita berhasil mengalahkan Dunia Kelabu seluruhnya? Kau pasti disambut dengan pujaan dan dibanjiri rasa hormat yang membuatmu ingin tetap tinggal. Apa kau bisa menolak itu semua dan tetap kembali ke dunia asal kita?”


“Iyaa ... Ya ampun, kubilang iya! Aku akan kembali, Lang! Asal kau tahu, aku sedang terlibat persaingan besar membuat pabrik kembang api di masa depan!”


“Pabrik ... pabrik kembang api?” tanya Elang jelas tidak mengerti.


“Benar! Yuanda telah menantangku dan aku tidak mungkin lari darinya! Dalam ujian nasional nanti, di antara kami yang nilai kimianya lebih tinggi boleh menjadi bos di pabrik itu! Sementara yang nilainya lebih rendah harus menjadi tukang pel lantai! Hahaha! Aku pasti akan menang darinya!” jawabku yakin sambil meninju udara.


Entah bagian mana yang lucu, tapi setelah itu Elang tertawa hebat, membuatku takut setengah mati. Setan mana yang merasukinya hingga orang dengan wajah sok garang ini akhirnya terpingkal-pingkal?


“Hei, sudah, dong! Maaf telah membuatmu tertawa. Memangnya ada yang salah ya? Oh, iya, sih! Pabrik kembang api tidak perlu dipel ‘kan? Sebab akan ada banyak bahan yang tidak reaktif bila terkena air. Hm, iya ...” gumamku. Tawa Elang malah semakin kencang.


“Ya ... am ... pun! Yang benar saja! Hanya karena itu?” tanyanya sedikit demi sedikit meredakan tawa. Wah? Dia masih mengira aku bercanda?!


“Heh! Aku serius, tahu!” semburku kesal.


“Baiklah, baik! Aku tahu kau memang selalu serius bila terkait persaingan akademis dan hal-hal semacam itu,” jawab Elang membuang napas lega. Senyum dari sisa-sisa tawa belum terhapus dari wajahnya.


“Nah, harusnya tidak ada sesuatu lagi yang membuatmu khawatir ....”


Kata-kataku terpotong karena detik berikutnya akulah yang dibuat khawatir –kaget dan campur aduk perasaan lainnya– ketika Elang tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arahku.


“Aku tidak khawatir lagi ... bila seperti itu, kau pasti akan kembali,” bisiknya rendah. Seandainya lengan Elang di kanan-kiriku tidak menghalangi, aku ingin sedikit membuat jarak demi menjaga kesehatan jantungku yang berdetak kian menggila.


“Nanti-nanti, aku akan bergabung dalam persaingan itu dan berjibaku untuk mengalahkanmu ... seperti dulu!”


Seperti dulu?


Kuharap dinding ini masih bersedia menjadi tempatku bersandar bahkan ketika Elang telah pergi, membiarkanku membisu di lorong yang hanya berisi senyap. Sambil menetralkan berbagai serangan perasaan, kutatap dua tanganku yang berkeringat dingin.


Satu memintaku tinggal. Satu yang lain memintaku kembali. Mana yang seharusnya kutempuh?


Bayangan imajiner sesosok anak kecil memelukku seperti dalam mimpi, kali ini sebatas meraih pinggangku karena posisiku berdiri.


“Tetaplah pada kebaikan yang kauyakini!” ujarnya membisikkan kata-kata ajaib yang sama saat aku masih sibuk menanyai diri sendiri. Entah kenapa kali ini ia terasa begitu nyata, sama-sama kupeluk dan kembali kutanya.


“Kesatria Perak, kebaikan mana yang sekarang sedang kuyakini?”

__ADS_1


Ia hanya tersenyum.


.Bersambung.


__ADS_2