
Langit yang menyambut pandanganku tiap kubuka mata masih sama gulita seperti pertama kali aku tiba di sini. Telah banyak malam yang kulalui di dunia kelabu dengan segala tragedi. Ini bukan urusan waktu untuk terbiasa, sampai kapan pun aku tidak mau terbiasa terjebak di sini. Yang ada waktulah yang memburuku, memaksaku mengupas sendiri tabir misteri jalan keluarnya.
Aku bangkit menelusuri koridor kelas sebelas IPS yang gelap dan sepi. Jujur, bila boleh kukatakan sungguh perkembangan yang kurang menggembirakan. Sejak malam pertama di tempat ini petunjuk jalan keluar –buku kuno milik si kembar– sudah ada di tanganku, tapi betapa lambat aku menyadari pentingnya isi buku itu. Kemudian ketika Elang bahkan sudah bisa membaca dan mengerti isinya, kami berdua justru ditimpa masalah silih berganti, tanpa ada jeda bagi kami untuk sempat membahas petunjuknya.
“Sial, setelah ini apa lagi yang akan terjadi?” gumamku lirih, tak kuduga akan menggema sepanjang lorong. Aku menutup mulut, tapi suaraku terlanjur lepas. Tidak biasanya terjadi seperti ini! Sepasang titik jingga berkedip tak jauh di depanku. Aku mundur perlahan, bersiap dengan segala kemungkinan. Rupanya titik-titik itu justru bergerak menjauh. Obor sepanjang lorong yang ia lewati padam, menyisakan gelap sejauh mata memandang. Tidak, Shira, jangan diikuti! Betapapun penasarannya, jangan bertindak sendirian tanpa Elang atau Sakti. Demikian aku meyakinkan diri sendiri.
Dengan sisa kewaspadaan aku berbalik, menjauhi arah sepasang titik tadi bergerak. Obor di sekitarku juga mendadak padam. Nah, bagus, gelap total! Tak ada seberkas cahaya pun tertangkap mata.
“Siapa di sana?” tanya sebuah suara menggema di depanku. Aku mengenalinya.
“Kamu di sana, Lang?” balasku balik bertanya.
“Shira?”
“Ya ....”
Aku terkejut ketika sentuhan di pundakku justru dari arah belakang.
“Hei, tenanglah, ini aku,” kata Elang.
“Bukankah suaramu tadi dari depanku?”
“Entahlah, arah suaramu tadi juga berbeda dengan posisimu, Shir, tapi aku bergerak ke arah berlawanan karena hawa keberadaanmu ada di sini,” jawabnya.
“Apa yang baru saja terjadi?”
“Mungkin ada yang sengaja ingin mengacaukan kita.”
“Titik jingga yang seperti mata setan tadi?” tebakku.
“Kau juga melihatnya?”
“Ya, setiap obor yang dilaluinya padam, membuktikan bahwa ia mengacau energi di sekitarnya.”
“Itu penjelasan masuk akal, tapi aku tak punya ide tentang apa sebenarnya dua titik jingga tadi.”
“Semoga bukan sesuatu yang membahayakan,” harapku cemas.
“Tertarik mencari tahu?” tanya Elang. Meski tak dapat melihatnya bisa kubayangkan dia menyeringai tertantang.
“Itu ide bagus seandainya ada sumber cahaya atau paling tidak Sakti bersama kita,” jawabku tak setuju, “untuk sekarang, temukan tempat berlindung dulu. Monster jelmaan Sekti bisa muncul dan menyerang kapan pun.”
“Ah, rasanya tidak seru bila harus selalu bergantung pada Sakti!”
Memangnya dia pikir aku juga suka selalu mengharap tangan orang lain dan selamanya tak berdaya? Setidaknya Elang punya kemampuan bertarung dan pedang hebat tersemat di punggungnya. Sementara aku? Apa yang kupunya?
“Kamu sudah bertemu Sakti?” tanyaku masih mengekori Elang. Sejauh ini aku percaya dengan indera penglihatannya yang lebih tajam dari pada milikku.
“Belum, biasanya dia yang lebih dulu menemukan kita ‘kan?”
Benar juga. Lantas kenapa Sakti belum juga muncul? Monster jelmaan Sekti pun. Bukannya aku berharap segera bertemu monster itu, tapi bukankah dengan suara kami yang bergema di lorong tadi cukup menarik perhatiannya? Aku sempat khawatir bila ia akan menyerang kami karena itu, tapi kenyataannya tidak. Demi apa malam kali ini di dunia kelabu terasa ganjil?
Aku dan Elang menelusuri gedung belakang, deretan kelas sepuluh MIPA. Obor di sepanjang koridor yang masih menyala cukup membantu penglihatan meski api kelabunya tidak seterang lampu senter, tapi yah, setidaknya ini lebih baik.
“Kita baru saja mengambil jalan memutar, Shir,” kata Elang menghentikan langkah sebelum kami melintasi halaman yang merupakan area parkir di dunia nyata, “lorong yang dilalui titik jingga tadi berujung di halaman ini. Jika kamu siap, mungkin kita akan menemukan beberapa petunjuk.”
__ADS_1
“Yah, kenapa tidak?” balasku.
Elang tersenyum puas, “Bagus, kupikir kamu takut!”
Aku hanya melengos karena kata-katanya. Pohon beringin di tengah halaman tampak lebih seram dibandingkan yang biasa kulihat di dunia asli. Akar-akar napasnya bergelantung lebih panjang di sisir angin, beberapa bahkan menyentuh dahiku. Terasa lengket dan tidak nyaman. Sejak kapan akar napas beringin jadi seperti ini. Belum lagi rerumputan liar yang tumbuh setinggi lutut terasa geli menggelitik kaki telanjangku.
“Apa yang sebenarnya kita cari, Lang?” tanyaku mulai tak betah berlama-lama. Di sini tidak ada ular atau serangga beracun ‘kan?
“Sial, setidaknya ada jejak yang tertinggal!” gerutu Elang. Fokusku yang sedari tadi ke bawah membuatku melihat sesuatu.
“Lang, tanahnya ....”
“Di sebelah sana!” tunjuk Elang ketika tanah yang kami pijak mengeluarkan asap.
“Kenapa tanah mengeluarkan asap?!” seruku panik.
“Ini kabut, Shir! Cepat kita susul kelipan titik jingga tadi sebelum kehilangan jejak lagi!” seru Elang segera menarik tanganku menuju bilik tunggal berdinding tinggi dengan pintu masuk lebar, gedung olahraga di dunia nyata. Kabut itu segera memenuhi ruangan, mengambang naik menutupi pandangan seolah menelan kami berdua.
Tidak seperti bilik-bilik kelas yang kecil dan sederhana dengan pintu yang dapat ditutup papan kayu, bilik gedung olahraga ini tidak. Akibatnya sistem waktu di luar dan di dalam berbaur, padahal seharusnya tidak demikian. Ketika di luar malam, di dalam bilik siang, begitu juga sebaliknya, tetapi itu tidak berlaku di bilik ini. Ketika sampai di sini pun kami tak sempat menemukan sesuatu untuk menutup pintunya menahan kabut masuk.
Aku dan Elang hanya diam di posisi masing-masing hingga kabut menipis. Barulah isi ruangan ini terlihat. Benar-benar mirip seperti bagian dalam gedung olahraga yang dikelilingi tribun, kami berada tepat di tengahnya.
“Bilik ini sama luas seperti kondisi aslinya, butuh waktu lama untuk memeriksa keseluruhan,” kata Elang menebar pandangan ke sekeliling.
“Sebelum penelusuran kita sia-sia, apa kamu yakin melihat titik-titik jingga itu masuk ke sini?” tanyaku tetap waspada.
“Sangat yakin, Shir. Tolong bantu aku mengamati setiap sudut ruangan!” kata Elang kemudian memanjat tangga menuju tribun atas. Masih bergeming di tempatku, kilauan cahaya dari bawah kutengok. Mata tunggal yang seolah tertanam di tanah membuka, mengerjap beberapa saat memancarkan cahaya. Refleks aku melangkah mundur, pola garis-garis cahaya secara otomatis terbentuk di atas tanah lapang tempatku berdiri.
Elang di tribun atas terkejut mendengar jeritanku, buru-buru turun bahkan terpeleset, jatuh terbanting-banting hingga ke dasar. Darah segar merembes dari hidungnya. Sementara aku yang tak bisa berlari menghampirinya baru menyadari bahwa kakiku tenggelam sebatas betis ditelan tanah.
*“*Putih dan hitam hanya akan menjadi kelabu. Putih tak seharusnya ternoda. Yang hitam memang seharusnya kelam.”
“Harus ada sekat jelas tanpa keabu-abuan. Celah cahaya mengantar pulang siapa pun yang tak seharusnya di sini. Ia melepasmu hanya jika kau melepas jiwa yang terkutuk!”
Tidak mungkin! Tidak mungkin hari ini! Sakti bilang musim purnama ketiga! Aku berusaha mencabut kakiku tapi sia-sia. Elang yang terkapar beberapa meter dariku masih tak bergerak. Darahnya yang menetes ke tanah menimbulkan kilauan putih yang membangkitkan formasi cahaya lain, memperumit pola garis-garis cahaya di tanah lapang dengan aku di pusatnya. Tanah yang sekarang berkilauan kian menenggelamkanku hingga sebatas lutut.
“Lang, bangun! Lang!” teriakku lantang tapi sama sekali tidak mempan.
“Lenyapkan sisa-sisa keraguan! Belas kasih kepada jiwa penuh angkara akan menorehkan dosa yang sama. Biarkan ia mendapat ampunan dengan mengorbankan jiwanya untuk kebebasanmu!”
“Suara sialan! Memangnya kamu siapa?!” makiku kesal. Tiba-tiba sesuatu yang kulihat berbeda dari sebelumnya. Elang yang belum sadarkan diri berganti menjadi orang lain bersurai putih, sama-sama meringkuk terkapar dengan genangan darah di sekitarnya.
“Kesempatan terakhir atau tidak lagi selamanya, relakan pengikut setan itu dan kembalilah ke tempatmu!” kata suara itu lagi.
Tanpa kuketahui, aku menggeleng. Tanah yang hampir menelan tak lagi menahanku. Sepasang kaki ini bisa kucabut dan lagi-lagi gerakanku sama sekali di luar kendali, menghampiri sosok bersurai putih itu.
“Aku tak bisa menukar nyawaku dengan nyawa saudaraku,” begitulah kata-kata yang keluar dari mulutku, “seburuk apa pun dia yang dulu, aku telah memaafkannya. Jika aku bisa bebas dari tempat ini, aku mohon dia juga.”
Tanganku membalik tubuh bersimbah darah di hadapanku, kemudian semuanya kembali normal. Sosok bersurai putih itu lenyap dan yang kulihat adalah wajah Elang.
Kepalaku terasa berdenyut setelah kejadian tadi. Ditambah aroma tidak sedap yang mulai memenuhi ruangan. Mual yang tidak biasa segera mengaduk perut. Tangan hitam gempal menyentuh lenganku. Sebelum sadar apa yang terjadi, aku dan Elang lenyap menuju suatu tempat, sebuah bilik terang dan hangat. Pemilik tangan hitam tadi menggeram. Aku menahan napas mati-matian sambil merangkak mundur. Sejenak aku ingat dengan monster di depanku ketika ia mulai bertransformasi ke wujud aslinya.
“Bertahanlah ... Shira! Sedikit lagi,” katanya. Urat-urat besar di sekitar mata dan dahinya perlahan lenyap. Surainya kembali memutih, begitu juga kulit yang kembali memucat.
“Sakti ... akhirnya kamu muncul juga,” jawabku kemudian tak tahan lagi memuntahkan isi perutku. Sakti menyentuh tengkukku, mengalirkan sensasi hangat yang membuatku berangsur-angsur membaik. Tak sengaja kulihat luka robek menganga di sekitar lehernya. Kurasa dia juga baru menemui kesulitan. Apa yang sebenarnya terjadi?
__ADS_1
“Kamu pasti terkejut,” kata Sakti kali ini menyentuh dahi Elang yang belum juga siuman, “tadi itu ... kilas balik ketika celah cahaya muncul enam ratus tahun lalu.”
Aku terdiam, mengingat-ingat sejenak. Ah, jadi begitu. Yang kulihat tadi adalah ingatan Sakti dan sosok bersimbah darah itu mungkin adalah Sekti yang seharusnya dikorbankan.
“Aku hampir gila karena mengira peristiwa tadi itu sungguhan!” jawabku mengusap wajah lelah.
“Bilik besar tadi adalah tempat persis celah itu muncul enam ratus tahun lalu. Ah, itu satu-satunya bilik yang selamanya akan terintervensi oleh pengaruh dari luar. Aku tidak bisa mengakses tempat itu ketika malam hari dengan wujud manusia. Yah, seperti yang kamu lihat tadi, aku berubah jadi monster sewaktu di sana,” kata Sakti.
“Apa berikutnya celah itu akan muncul di sana lagi?” tanyaku.
“Aku tidak tahu. Jiwa-jiwa tersesat sebelum kamu tak pernah bertahan sejauh kamu dan Elang melakukannya. Tak ada yang tetap selamat hingga musim purnama ketiga,” ujar Sakti lirih.
“Bagaimana bisa?” tanyaku.
“Ceritanya beda-beda, tapi aku berharap kamu dan Elang tidak berakhir dengan kejadian yang sama. Aku juga tidak bisa menjamin bahwa celah itu memang selalu muncul di sana. Apa kamu sudah menemukan titik terang dari catatan yang ditinggalkan Sekti?”
Aku menunduk lesu kemudian menggeleng. Fakta bahwa buku itu ada padaku sementara aku tetap tidak tahu apa-apa sungguh memalukan.
“Argh!” Elang tersadar, memijit keningnya, “apa yang terjadi?”
“Semuanya sudah baik-baik saja,” jawabku.
“Aku sempat melihatmu terjebak di formasi cahaya aneh. Tadi itu sebenarnya apa?” tanya Elang. Sakti menjelaskan ulang tentang kilas balik peristiwa munculnya celah itu.
“Sial! Kenapa aku justru pingsan di saat-saat penting seperti itu?!” sesal Elang.
“Ini biasa terjadi setelah jiwa-jiwa tersesat melewati musim purnama kedua. Kilas balik itu seolah memberi petunjuk ... juga masalah baru yang tak bisa kubantu dengan campur tanganku,” kata Sakti. Aku dan Elang terdiam, menyimak dengan sungguh-sungguh. Masalah yang bagaimana?
Sakti tampak menahan diri untuk mengatakannya, menatapku dan Elang bergantian, “Aku takut ini terjadi pada kalian ... Aku tidak ingin kesalahan jiwa-jiwa sebelumnya terulang.”
“Itu sebabnya kamu harus membiarkan kami tahu, kami ingin menghindari kesalahan yang sama,” jawabku. Sakti masih menundukkan tatapannya. Elang hanya diam seolah tahu apa yang Sakti pikirkan.
“Masalah itu ada pada diri kalian sendiri,” kata Sakti, “setelah melihat kilas balik tadi, gejolak emosi dan keraguan akan menghantui kalian. Perbedaan penyelesaian akan berujung pada pertikaian. Masing-masing dari kalian ingin menempuh jalan masing-masing, berjuang sendiri-sendiri padahal misteri jalan keluar dari tempat ini tidak akan ditemukan dengan cara seperti itu.”
Entah kenapa sudut mataku terasa menghangat. Yang dikatakan Sakti tadi ... terasa sangat benar. Tidak ada sesuatu yang berakhir baik karena perpecahan. Sedangkan selama ini aku selalu diam saja dan tidak peduli, menganggap semua akan baik-baik saja ketika kami menuruti ego masing-masing. Aku tak tahu apakah masih sempat menyelamatkan satu-dua hal yang kubiarkan berantakan?
“Itu sebabnya, aku minta kalian berdua agar tetap bersatu, apapun jalan yang kalian yakini. Tak ada kepastian jalan siapa yang paling benar, tapi selama kita menyatukan kekuatan, kebenaran akan terbuka dengan sendirinya. Kita akan berjuang sekuat tenaga sampai batas waktunya!” tutur Sakti. Aku mengangguk mantap.
“Ya! Kamu benar!” seruku antusias.
“Tidak perlu menangis juga, dong! Dasar lebay!” ledek Elang.
“Si ... siapa yang menangis, ha?!” balasku kesal.
“Apa luka di lehermu itu baik-baik saja dibiarkan seperti itu?” tanya Elang menunjuk bekas luka sobek seperti cabikan binatang buas di leher Sakti. Ah, benar, aku tak habis pikir bagaimana sayatan sedalam itu tidak merembeskan darah?
“Tidak apa-apa, ini tidak seperti yang kalian kira. Aku tidak akan mati karena pendarahan hebat atau bibit penyakit masuk melalui luka terbuka seperti ini karena ... yah, aku kan memang sudah mati!” jawab Sakti malah tersenyum. Itu terdengar tidak menyenangkan bagiku.
“Bukankah kemarin kamu baik-baik saja? Bagaimana kamu bisa terluka seperti ini?” tanyaku.
“Ah, sepertinya hari ini terlalu banyak kabar buruk,” jawab Sakti lagi-lagi enggan menceritakannya, tapi ia tahu tidak mungkin membiarkan kami tak tahu, “sebenarnya tadi kita kedatangan tamu.”
“Tamu?”
“Benarkah? Siapa?”
__ADS_1
Sakti nyengir sambil berbisik pelan, “Iblis pencipta tempat ini!”
.Bersambung.