Kelabu

Kelabu
Episode 15


__ADS_3

Aku terbangun dengan perasaan yang luar biasa kacau. Terperanjat kaget, sensasi terempas kuat baru saja kurasakan. Napas tersengal tak karuan, keringat membasahi wajah dan leher, bisa kurasakan tanganku gemetar.


Kututup mataku kembali. Ini pertama kalinya aku tidak suka menatap langit-langit kamar setelah bermimpi dari dunia kelabu. Tak peduli matahari sudah meninggi di luar sana, aku memaksa agar jatuh tertidur sekali lagi. Sekali lagi aku harus kembali ke sana dan menyelamatkan Elang! Dia dalam bahaya!


Kejadian mengerikan itu masih terlintas jelas di kepalaku. Elang tertangkap dan itu karena salahku! Aku yang bertanggung jawab atas segala kemungkinan buruk yang terjadi pada Elang dan sejujurnya ... sejujurnya aku tak pernah siap menghadapi kemungkinan buruk itu. Kumohon kembalikan aku ke sana! Aku ingin membuktikan kepada Sakti bahwa Elang masih bisa diselamatkan! Kumohon biarkan Elang kembali!


“Kak ....”


Suara kekanakan itu menegurku dari samping. Aku membuka mataku lagi.


“Kenapa ... kenapa kakak menangis?” tanya adikku yang sudah menyandang tas sekolahnya.


“Siapa yang menangis?” tanyaku.


“Kakak menangis, apa yang kakak tangisi?” tanyanya lagi. Aku mengusap mataku, basah. Pertanyaan tadi berulang di benakku. Apa yang kutangisi?


“Mimpi buruk ya?” tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk, bangkit berdiri dan menyambar ponsel di meja belajar.


“Kak, ayo antarkan aku ke sekolah!”


“Kamu naik ojek saja ya, hari ini kakak sibuk sekali meski libur,” jawabku tanpa mengalihkan perhatian dari ponsel, mencari nama seseorang di kontakku.


“Sibuknya kan nanti, sekarang kakak belum ngapa-ngapain. Cuma main-main ponsel begitu! Antarkan aku sekolah dulu!”


“Dik! Jangan rewel! Kakak sedang dalam masalah!” jawabku tegas. Jika sudah demikian ia tidak mungkin berani membantah lagi. Dia pun berlalu, menggerutu.


Kuperiksa satu per satu nomor kontak di grup obrolan kelas. Aku harus menghubungi Elang. Duh, yang mana nomornya, sih? Kurasa aku belum menyimpannya.


“Nah! Ketemu!” seruku setelah menggeser pesan-pesan lama. Segera kutelepon nomor yang dipanggil ‘Lang’ oleh teman-teman itu. Di seberang sana berdering. Jika Elang selamat dari tempat itu seharusnya dia akan bangun dari mimpi dan memang kuharap dia akan bangun lagi.


Setidaknya kecemasanku meningkat setelah tiga kali panggilan tidak terjawab. Tidak mungkin! Mana mungkin orang tua Elang diam saja ketika anaknya belum bangun hingga pukul sekian? Yang kutahu keluarga Elang begitu disiplin —tercermin dari kepribadian Elang sendiri. Jadi, harusnya sudah ada yang berusaha membangunkan Elang jika memang terjadi sesuatu.


“Halo, selamat pagi!”


Aku terkejut dan buru-buru menjawab, “Halo! Lang?! Lang! Syukurlah kamu sudah bangun! Kamu baik-baik saja 'kan?!” serbuku panik.


“Eh? Bukan, ini Garuda, kakaknya Aang,” jawab suara lelaki di seberang sana.


“Aang?”


“Oh, maaf, itu panggilan Elang kalau di rumah. Kamu temannya Aang ... eh, temannya Elang ya?”


Heh? ******! Justru kakaknya yang menerima telepon! Aduh, bagaimana ini?


“Haloo? Masih ada yang bicara?” tanya Kak Garuda menyadarkanku.


“Eh, anu ... apa saya salah menelepon ke ponsel Kakak?”


“Tidak, ini ponsel milik Elang, tergeletak tanpa di-charge semalam sementara pemiliknya masih tertidur pulas di ruang tengah. Ada apa? Kalau sampai menelepon begini pasti penting sekali 'kan?” tebak Kak Garuda.


“Um, iya! Ini penting sekali, Kak. Boleh saya minta tolong bangunkan Elang? Sebentar saja?” pintaku penuh harap.


“Sebenarnya sudah dari tadi aku berusaha membangunkannya, sepertinya dia tidak enak badan. Aku tidak tega membangunkannya,” jawab Kak Garuda.


“Tidak enak badan? Apa Elang sakit?” tanyaku.


“Semalam masih baik-baik saja, sih, tapi kalau dia tidur lama berarti dia sangat lelah, mungkin itu penyebabnya tiba-tiba tidak enak badan.”


Ya ampun! Apa itu pertanda buruk? Aku jadi semakin tidak tenang.


“Ada apa?” tanya Kak Garuda lagi. Aku bingung harus menjawab bagaimana. Maksudku menelepon hanyalah memastikan keadaan Elang setelah tertangkapnya ia di dunia kelabu sana.


“Ini tentang ... tentang tugas kelompok!” jawabku seratus persen mengarang.


“Oh, katakan saja, aku akan menyampaikannya segera setelah dia bangun.”


“Apa Elang benar-benar tidak bisa dibangunkan sebentar saja? Saya ingin bicara langsung. Tolong, Kak, ini mendesak!”


“Sebenarnya kamu mencemaskan tugas kelompok atau Elang sendiri, sih?”


Aku menggigit bibir sebal, sama sekali tidak sadar jika kesannya ternyata seperti itu. Kak Garuda tertawa pelan di ujung sana.


“Maaf, bercanda,” katanya, “baiklah, sebenarnya aku khawatir Elang akan memelintir leherku jika aku berani mengganggu tidurnya pada akhir pekan begini. Yah, kamu mungkin tidak tahu kalau diam-diam anak itu ternyata tukang pukul.”


Aku mengernyit tidak percaya. Bukan karena baru mengetahui fakta tentang Elang yang setengah psikopat —tidak, aku sudah tahu itu— tapi tentang Kak Garuda sendiri. Yang benar saja? Begitu tunduknya dia kepada adiknya. Di mana harga dirinya sebagai kakak?

__ADS_1


“Berarti Elang sebenarnya baik-baik saja 'kan?” tanyaku teringat kembali tujuan utamaku.


“Tuh, kamu memang mengkhawatirkan Elang ya? Baiklah, mungkin tidak apa-apa leherku agak teleng untuk beberapa hari. Aku akan membangunkannya.”


“Eh, kalau begitu tidak perlu ....”


“Aang! Bangun! Ang! Sebentar ya ....”


Segera kututup telepon tanpa permisi. Bodo amat dengan kondisi Elang saat ini! Aku tak pernah menduga Elang ternyata memiliki kakak laki-laki yang demikian. Garuda Dirgaraja memang lebih bersahabat daripada adiknya, tetapi tetap saja sama-sama menyebalkan! Cih, dasar dua bersaudara aneh!


Kembali kuempaskan badan ke ranjang. Jika memang Elang baik-baik saja, dia pasti akan datang ke sekolah, tetapi sekarang hari Sabtu, libur. Padahal aku ingin cepat-cepat memastikannya. Ah, sudahlah! Jika memang dia baik-baik saja, dia pasti akan menelepon balik dan mengabariku. Ya, Kuharap dia memang baik-baik saja.


Kulirik jam dinding, masih pukul tujuh lewat sekian menit. Aku ingin rebahan sedikit lebih lama hingga akhirnya ponselku berdering, membuatku terperanjat.


“Halo? Lang?!” ujarku tanpa berpikir dua kali. Di seberang sana hening, lalu kemudian terdengar tawa tertahan.


“Halo, Shira,” jawab suara feminin yang gagal meniru gaya bicara Elang yang dingin. Aku mengernyit, melihat nama penelepon di layar. Oh, sial! Yasinta!


“Apa maumu?!” tanyaku sama sekali tidak ramah. Lagi-lagi dia tertawa.


“Apa yang membuat kamu mengira kalau Elang menelepon, hah? Oh, atau jangan-jangan kalian sudah sering bertelepon akhir-akhir ini? Wah, itu mengejutkan ....”


“Kalau kamu meneleponku pagi-pagi hanya untuk meledek, kumatikan saja,” jawabku ketus.


“Aduh, begitu saja, kok, marah!” balas Yasinta.


“Ada apa?!”


“Bertanya begitu seolah tidak punya dosa, dasar kau! Kuingatkan agar nanti pukul sembilan kita berkumpul di kelas,” jawab Yasinta. Aku menguap lebar.


“Ke kelas? Untuk apa?”


“Kita mulai menyusun media presentasi hari ini, Ra. Setidaknya hari Senin Pak Fahri bisa menilai separuh kerja kita.”


Media presentasi? Puh, merepotkan saja! Memangnya Microsoft Power Point diciptakan untuk apa?


“Tidak bisakah aku absen dulu? Kamu ajak teman-teman anggota yang lain saja ya?” pintaku. Biar anggota yang lain juga bantu-bantu. Setidaknya kemarin aku sudah membantu Yasinta belanja bahan-bahan hingga aku terkunci di kelas.


“Memangnya kamu sedang apa di rumah, sih? Mager saja terus!” kata Yasinta mulai mengomel. Ah, mendengar kata mager aku jadi ingin bergelung dalam selimut lagi.


Yasinta berdecak pelan.


“Kamu serius, Yas?”


“Serius, Ra.”


“Um, baiklah, kuusahakan datang,” jawabku.


“Nah, bagus! Pokoknya kamu harus datang ya, Ra! Tidak peduli meski niatmu hanya modus ingin ketemu Elang, pokoknya kamu harus datang!”


“Heh! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Yas!”


“Terima kasih, Ra! Sampai nanti!”


“Yasinta!” teriakku sia-sia sebab Yasinta sudah menutup telepon. Aku menggeram sebal. Hanya kurang dari satu jam, dua orang telah salah paham mengenai aku dan Elang. Sepertinya nanti harus ada yang diluruskan.


 ***


“Eh, menurutmu desain mana yang bagus?” tanya Yasinta menunjukkan gambar tangkapan layar model-model media kreatif. Aku menatapnya tak berselera.


“Aduh! Unyu banget! Aku suka yang ini, Yas!” jawab Sindi memilih desain semacam buku pop-up. Aku kaget mengetahui dia bagian dari kelompokku. Sejujurnya aku tidak tahu siapa saja anggota kelompok ini hingga kami berempat —Aku, Yasinta, Sindi, dan Rehan— duduk melingkar dan berdiskusi di mejaku. Sementara kelompok lain baru datang beberapa.


“Bagus, sih, Sin, tapi desain ini sudah dipakai kelompok sebelah. Kalau bisa kita bikin yang beda,” jawab Rehan.


“Kalau bisa kita menyesuaikan dengan bahan yang sudah dibeli ,” jawabku, “jujur saja aku terkejut sebab kita belum menentukan apa yang harus dibuat setelah belanja sebanyak ini. Kukira kamu sudah memikirkannya, Yas.”


“Berpikir adalah tugasmu, Ra,” jawab Yasinta enteng.


“Tapi yang dikatakan Shira benar, aku khawatir akan ada bahan yang tidak terpakai, sia-sia,” timpal Rehan.


“Tidak juga, kok. Ini bahan-bahan dasar. Shira sendiri yang bilang kalau kita harus menyesuaikan dengan bahan,” jawab Sindi.


“Iya, jangan menyalahkan nafsu belanjaku, dong!” balas Yasinta pasang tampang polos. Aku mengernyit jijik.


Selama beberapa menit ke depan kami serius mendiskusikan tugas ini. Desain dan segala urusan hias-menghias kuserahkan kepada Yasinta dan Sindi. Sementara aku —yang tidak paham tentang keindahan— bersama Rehan menyusun materi presentasi.

__ADS_1


Kutengok arloji. Sudah satu jam lebih, tapi Elang belum datang juga sementara semua anggota kelompoknya sudah datang dan memulai diskusi dari tadi. Terlambat hingga satu jam sama sekali bukan kebiasaannya. Apa Elang memang tidak bisa datang? Jika memang begitu aku tidak ingin mendengar kabar buruk tentangnya.


Tiba-tiba aku teringat kejadian semalam dalam mimpi, begitu menyesal karena tidak tahu apa yang terjadi setelah Elang tertangkap. Aku menyesal karena belum sempat menyusulnya. Kumohon, apa pun yang terjadi setelah itu, jangan sampai hal buruk menimpa Elang. Jangan sampai ....


“Ra?” kata Rehan membuyarkan lamunanku, “ada apa?”


“Apanya?”


“Kamu ... menangis?”


Kuraba sudut mataku yang entah sejak kapan sudah basah. Buru-buru kuseka air mataku sebelum ada yang melihat. Aduh, sial! Kenapa aku jadi cengeng begini?!


“Aku kaget mengetahui ternyata kamu bisa menangis,” kata Rehan menatapku tidak percaya.


“Diamlah, jangan sampai Yasinta dan yang lainnya tahu,” jawabku. Dia mengangguk.


“Aku tidak tahu masalahmu, tapi jika itu rahasia, aku bisa menjaganya. Ceritakan saja, Ra!”


“Tidak ada apa-apa, Han. Lupakan saja,” jawabku kembali fokus mengetik materi di laptop. Rehan hanya memandangku sejenak, kemudian menuruti permintaanku, melupakan apa yang baru saja ia lihat. Ia juga kembali sibuk mengetik di laptopnya.


Menyusun materi ternyata lebih cepat daripada pekerjaan Yasinta dan Sindi. Meski demikian, aku tidak boleh membantu mereka karena dikhawatirkan justru merusak. Ya sudah, aku pulang saja.


“Jangan pulang, dong, Ra!” cegah Yasinta.


“Aku sudah tidak ada pekerjaan, Yas. Aku tidak mau melewatkan tidur siang yang hanya dua kali dua jam seminggu,” jawabku.


“Masa aku dan Sindi masih bekerja kamu malah enak-enakan tidur?”


“Kamu sendiri yang bilang, aku tidak boleh bantu-bantu!”


“Kamu bisa bantu dengan cara lain, Ra,” kata Sindi.


“Apa?!” tanyaku sebal. Sebentar, perasaanku tidak enak.


“Bantu kami belikan makan siang di luar ya?”


Nah, kan! Benar!


“Kenapa tidak bilang dari tadi! Rehan sudah pulang, tuh!”


“Tidak apa-apa, Ra, kamu sendirian saja. Nih, bawa motorku,” jawab Sindi melempar kunci motornya. Heeh?! Dia pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu?!


“Pft, Seorang Shira bawa motor? Dia hanya akan menuntunnya sepanjang jalan. Itu pun kalau dia kuat menuntun motor,” timpal Yasinta.


“IYA, YAS! IYA! Aku memang tidak bisa menyetir motor! Kamu puas?!” jawabku ngegas. Seisi kelas jadi menertawaiku, kemudian terdiam seketika.


“Kenapa diam, hah?!” ujarku ketus. Suara dehaman terdengar dari belakangku. Aku nyaris berseru demi melihat Elang sudah ada di sini. Heh?! Kenapa dia baru datang?!


“Lang, Kamu ....”


“Minggir!” ujarnya sebelum aku bicara lebih banyak. Aku tahu aku memang menghalangi jalannya dan aku tahu, tidak mungkin membicarakan masalah itu ketika masih banyak teman-teman begini. Aku menyingkir.


Kulihat dari ekor mataku Yasinta pasang tampang jahil. Kupelototi dia sebelum berbuat macam-macam. Tidak jauh beda dengan Sindi yang pada dasarnya ganjen kepada Elang, dihadiahi tatapan membunuhnya. Sindi cemberut seketika, kembali merengek minta dibelikan makan siang.


“Pesan antar saja, Sin!” tolakku.


“Tidak mau! Kalau menyuruh kamu kan tidak perlu bayar ongkir atau tip-nya, hehe!”


Ah! Ya ampun! Sebenarnya Sindi ini tercipta dari apa?! Tak ingin berlama-lama cek-cok, aku segera kabur hingga bersenggolan dengan Elang di ambang pintu kelas.


“Memangnya harus lari-lari begini ya?!” kata Elang sewot seperti biasa. Lagi pula dia sendiri kenapa harus keluar bersamaan denganku, sih?


“Iya, iya ... Maaf!”


“Laaang..? Baru datang, kok, sudah mau pergi lagi? Mau ke manaaa?” tanya Sindi manja.


“Bukan urusanmu!” jawab Elang dingin.


“Mau beli karton, kelompokmu mau titip sesuatu juga?” tanya Dila teman sekelompok Elang.


“Iyaaa, aku lapar, nih! Titip makanan boleh? Makanan berat yang bikin kenyang pokonya, deh!” jawab Sindi. Cih! Beton juga berat, memangnya dia mau?


“Aku juga titip!” sahut Yasinta kemudian satu per satu dari teman-teman juga ikut memesan. Wajah Elang terlihat sebal sekali. Kelihatannya dia tidak bisa menolak karena merasa bersalah sudah datang terlambat. Menyadari keadaan yang tidak menguntungkan, aku bersiap berbalik pergi hingga kemudian Elang menahanku.


“Yang punya ide titip makanan adalah kelompokmu, jadi kamu juga harus membantu,” kata Elang. Aku hanya nyengir, gagal melarikan diri. Aha, sial!

__ADS_1


.Bersambung.


 


__ADS_2