Kelabu

Kelabu
Episode 38


__ADS_3

“Iblis pencipta tempat ini," kata Sakti.


"Kemarin aku sempat berhadapan dengannya dan dihadiahi luka cabikan ini,” Sakti masih konsisten berbisik, “dia repot-repot datang kemari karena mulai penasaran dengan kalian berdua. Jiwa-jiwa tersesat sebelumnya tak pernah bisa bertahan sejauh kalian, jadi wajar jika dia penasaran.”


“Lalu dia berniat menghabisi aku dan Shira dengan tangannya sendiri?” tanya Elang. Suasana jadi sedikit menegangkan dengan bergantinya topik pembicaraan.


“Tidak, semoga saja tidak. Kuharap dia masih meyakini bahwa kalian akan mati di tangan monster sehingga ia tak perlu mengotori tangannya sendiri untuk menghabisi kalian. Kalau pun tidak, iblis itu sudah bosan dengan jiwa-jiwa tersesat yang berakhir sama. Jadi, ada kemungkinan dia akan tetap membiarkan kalian hidup hingga pertarungan musim purnama ketiga. Jangan khawatir, oke?” kata Sakti tapi aku menolak untuk tidak khawatir. Ide tentang pencipta tempat ini sudah mengacaukan suasana hatiku.


“Jangan-jangan sepasang titik jingga kemarin?” tebakku.


“Entahlah, Shira! Dia bisa mengambil perwujudan apa pun yang ia suka. Yang paling sering ia gunakan adalah bayangan hitam seperti gumpalan asap pekat. Itu adalah perwujudan yang paling menguntungkannya karena banyak kekuatan yang bisa dia pakai dalam wujud itu. Bila di sekitar kalian gelap mungkin hanya sepasang mata api jingganya yang terlihat,” jawab Sakti. Aku terkesiap.


“Jadi benar, titik jingga itu!” seru Elang mengepalkan tangannya.


“Kita telah tanpa sengaja membuntutinya! Dia sudah mengenali kita, Lang!” balasku khawatir.


“Beruntungnya dalam wujud seperti itu, dia tidak bisa melihat wajah atau mendengar suara kalian. Dia hanya bisa melihat makhluk yang masih punya tubuh fisik ketika dia berada dalam wujud manusia di dunia asli, tapi itu terlalu mencurigakan, jadi ia memilih tetap muncul dengan wujud asap pekat itu meski akhirnya tidak bisa menyapa kalian.”


“Sebentar, Sakti! Tadi kamu bilang apa? Wujud manusianya di dunia asli kami? Dia bisa menyerupai manusia?” tanyaku tidak percaya.


“Telingamu di mana dari tadi, Shir?! Sakti bilang iblis itu bisa mengambil wujud apa pun yang dia suka,” jawab Elang tanpa kusadar setengah meledek. Ledekan Elang bukanlah sesuatu yang paling mengkhawatirkan saat ini. Kuharap iblis itu bukan orang-orang di sekitarku! Semoga dia berada jauh di seberang samudera! Kumohon, aku tidak ingin bertemu dengannya!


Kulihat Sakti tersenyum memperhatikanku. Aku lupa sesuatu yang kupikirkan tidak bisa disembunyikan darinya.


“Tidak bisa dipastikan, Shira, tapi kemungkinan besar iblis itu ada di sekitar kalian. Logikanya tidak mungkin kalian bisa masuk ke sini jika kalian di luar perangkap yang dia pasang,” jawab Sakti.


“Perangkap? Perangkap apa?” tanya Elang.


“Kupikir kamu sudah tahu dari buku kuno itu,” balas Sakti.


“Informasi dari sana hanya bisa kudapatkan secara bertahap, terakhir kali kubaca tentang enam kunci di enam penjuru,” jawab Elang.


“Nah, itu dia, Elang! Enam kunci di enam penjuru adalah perangkap yang dia pasang untuk menarik secara acak sepasang jiwa putih dan hitam untuk terjebak di tempat ini!”


Ketemu! Satu petunjuk tentang penyebab celah cahaya yang mengisap masuk kami berdua telah didapat!


“Iblis itu sengaja memasangnya? Berarti dia memang merencanakan kami berdua tersesat di sini!” timpalku.


“Tentu saja dia merencanakannya, Shira. Iblis itu ingin mencegah ramalan titik balik. Harus ada sepasang jiwa yang terbunuh di dunia kelabu ini setiap enam dekade, tapi dia tidak bisa memilih siapa yang harus ditarik ke sini. Itu sebabnya perangkap enam kunci mencakup area yang tidak sempit untuk menjaring banyak jiwa dan memilih sepasang di antaranya secara acak,” jelas Sakti yang rasanya membuat kepalaku ingin meledak.


“Ah, aku tidak mengerti! Aku tidak mengerti tentang perangkap enam kunci! Apa pula ramalan titik balik itu? Aku merasa telah menyia-nyiakan penjelasanmu karena ketidak-tahuanku, Sakti! Maafkan aku!” rengekku menyesal. Padahal Sakti telah lebih banyak berbagi segala yang ia tahu dibandingkan Sekti pemurung yang menyuruhku membaca sendiri buku kuno itu –sementara aku tidak bisa membacanya. Ternyata aku memang harus membaca buku itu!


“Tenanglah! Aku akan memberitahumu!” jawab Elang tampak menerawang jauh. Di kepalanya pasti sudah bermunculan banyak dugaan karena jelas ia lebih tahu banyak hal.


“Tidak apa-apa, pelajarilah sedikit demi sedikit,” jawab Sakti menepuk puncak kepalaku tapi itu tak cukup membuat perasaanku membaik. Sejak dulu aku selalu bertanya-tanya. Kenapa hanya Elang yang bisa membacanya ketika buku itu ada padaku pertama kali?


 ****


Kelas agak ribut ketika aku baru sampai. Seharusnya itu wajar sebab aku tiba paling awal lima menit sebelum bel masuk dan hampir semunya sudah datang meramaikan suasana. Namun, keributan pagi itu membuatku mematung di depan pintu.


Teman-teman menyiapkan beraneka kuas dan cat mereka. Sindi dan Nabilah yang sedikit panik menyenggolku bersamaan ketika berebut keluar dari kelas. Ya ampun, pergantian jadwal. Aku lupa kelas seni rupa yang biasanya menjelang akhir pekan ditukar hari ini ... dan proyek melukis di kanvas itu juga. ******! Aku tidak siap apa-apa!


“Heh, anak muda! Pamali berdiri di depan pintu! Susah dapat jodoh tahu rasa kamu!” celetuk Marvel yang tadi mengobrol di bangku Yuanda bersama Yasinta juga.


“Ada masalah, Ra?” tanya Yuanda.

__ADS_1


“Peralatan melukisku ketinggalan,” jawabku setengah mengantuk.


“Nah, kan benar! Kamu kalah bertaruh denganku, Vel! Sudah kuduga Shira akan lupa! Ahahahaha! Jangan lupa mentraktirku m gado-gado!” seru Yasinta terlihat bahagia sekali. Sejak kapan kesialanku jadi bahan taruhan?!


“Kamu curang, Yas! Sahabat terdekat Shira jelas tahu hal semacam itu! Mungkin Shira sudah memberi-tahumu semalam kalau dia akan lupa membawa peralatan lukisnya!” bantah Marvel.


“Kau pikir demi apa aku merencanakan lupa hal sepenting ini, Vel?! Ah, sialan! Jadwal sehari penuh ini tidak ada yang cocok dengan jadwal lama! Buku mapel hari ini tidak ada yang kubawa!” gerutuku kesal tapi Yasinta semakin girang.


“Jackpot! Benar lagi kan dugaanku?! Haha, sekalian traktir es buah juga ya! Maaf kamu kalah telak kalau urusan seperti ini, Vel!” kata Yasinta semakin membuat Marvel cemberut. Aku hanya memijit kening, tak kusangka dia benar-benar bahagia di atas penderitaanku.


“Jadi serius kamu tidak bawa meski satu macam warna cat atau kuas bekas?” tanya Yuanda.


“Beli di koperasi mungkin ada, Ra, tapi stok terbatas. Cepatlah beli!” kata Marvel memberi sedikit harapan. Namun, kembalinya Sindi dan Nabilah dengan membawa alat melukis baru sekaligus membawa kabar bahwa cat dan kuas di koperasi sudah habis. Ah, ya sudahlah! Di ruang seni mungkin masih ada cat dan kuas bekas, mungkin sih.


 ***


Elang telah menginstruksikan teman-teman untuk segera turun ke ruang seni di dekat perpustakaan. Tidak seperti perpustakaan yang merupakan gedung baru bergaya modern dengan pintu kaca, ruang seni rupa hanyalah ruang kelas biasa dengan satu jendela besar menghadap lapangan voli. Sengaja didesain minim jendela agar dinding-dindingnya luas untuk memajang berbagai karya dua dimensi. Ventilasi udara dan cahaya di dinding yang agak tinggi terbilang cukup untuk menjauhkan ruangan ini dari kesan pengap. Di belakang ada rak tempat menyimpan karya tiga dimensi dan sisa-sisa bahan praktikum –seperti kuas dan cat bekas yang kucari.


“Tempat duduk bebas! Tetap jaga kebersihan dan kerapian! Jangan lupa bersihkan tempat masing-masing sebelum meninggalkan ruangan!” seru Elang sambil membagikan kanvas.


“Ya! Jangan lupa yang belum bayar iuran kanvas! Sebaiknya segera dibayar biar hasil lukisan kalian bagus!” sahut Arnita, bendahara kelas. Memangnya utang kanvas berpengaruh terhadap nilai seni lukisan ya? Ah, bendahara bawel itu selalu punya teori agar siapa pun taat bayar iuran, benar-benar bakat alaminya.


Pada akhirnya tak banyak yang sempat kutemukan. Cat-cat warna primer yang kucari hampir kering. Hanya warna putih yang masih bisa dipakai. Beruntungnya Yuanda mendonasikan cat hitam dan salah satu kuas yang dia punya. Ah, dia baik sekali! Aku jadi sedikit tertolong, meski entah apa yang bisa kulukis hanya dengan cat putih dan hitam. Aku kembali ke kursiku di dekat jendela yang sudah diisi orang lain.


“Permisi! Itu tempatku!” ujarku menegur anak yang mulai membuat sketsa ini. Dia menoleh acuh tak acuh.


“Tempat duduk bebas, ingat?” jawabnya dengan wajah menyebalkan itu. Memang sulit berdamai dengan Elang.


“Yang punya niat awal duduk di sini adalah aku! Lihatlah barangku sudah kuletakkan di sini lebih dulu. Jadi kumohon, pindahlah!” ujarku berusaha sesopan mungkin.


“Iyaa barang-barangku memang bekas. Menyingkirlah dari sana, aku suka tempat itu!”


“Maaf, kalau aku juga suka?”


Oh, tidak mau mengalah?!


“Padahal kalian bisa berbagi tempat dan berhenti meributkan hal sepele!” jawab Rehan. Aku hanya mendengus sebal. Elang belum juga angkat kaki. Terpaksa aku mengambil kursi dan duduk membelakanginya. Tidak bisa ditawar, sejak hari pertama kelas seni, di dekat jendela adalah tempat favoritku. Teman-teman banyak yang tahu dan jarang mengambil tempat itu, tapi hari ini seseorang sengaja mencari gara-gara.


Hampir sepuluh menit tanganku belum bergerak, belum menentukan objek yang ingin kugambar. Memangnya apa yang bisa dibuat dengan hanya warna putih dan hitam? Papan catur? Zebra? Ah, tiba-tiba aku menemukan sedikit pandangan. Rehan sempat terkejut melihatku baru memulai. Entahlah, aku penasaran. Mungkinkah bisa kuselesaikan sebelum bel pergantian jam?


Enam puluh menit berlalu, aku tak banyak tengok kanan-kiri. Sesekali merecoki Rehan untuk minta cat warna lain.


“Kamu melukis karakter The Thing Fantastic Four ya, Ra?” tebak Rehan mengamati pekerjaanku.


“Hm, memang mirip, sih!” jawabku masih serius menoleskan cat.


“Oh, bukan ya? Lalu apa?” tanya Rehan lagi. Yang sempat muncul di kepalaku adalah sosok Sakti dengan wajah separuh monster, mengulurkan tangan berusaha keluar dari celah cahaya yang nyaris menelannya. Itulah yang kulukis saat ini, potret yang didominasi putih dan hitam. Rehan lanjut sibuk dengan lukisannya. Aku masih berusaha seteliti mungkin membangun detail pada mata dan kibaran surai putih sosok Sakti. Berkali-kali aku membuat kesalahan dengan menyerempet area hitam ketika memoleskan cat putih, membuat rambut Sakti terlihat abu-abu. Aku sedikit kesal karena kecerobohanku, menghela napas sejenak sambil melemaskan tangan. Detail lain tidak terlalu mengkhawatirkan, terutama ekspresi mata Sakti yang seolah berbicara dan tangannya terasa nyata sedang terulur, ingin kuraih.


“Kau membuatnya terkesan tidak ingin dibebaskan, Shir,” komentar Elang yang entah sejak kapan ada di sebelahku, tanpa khawatir mulai membahas hal itu di tengah kelas begini, tetapi kalau pun ada yang dengar mereka tidak akan mengerti apa yang kami bicarakan.


“Ya, dalam kilas balik itu pun aku juga merasa tidak sedang akan dibebaskan. Pilihan yang dihadapi Sakti terlalu pahit dibandingkan kenyataan terbebasnya ia dari tempat itu,” jawabku masih memandangi lukisan setengah jadi ini. Aku sedikit salah tingkah ditatap balik oleh mata Sakti yang sejatinya tidak nyata itu.


“Sakti tampan ya!” gumamku lirih ternyata didengar Elang.


“Hm, tapi rambutnya seperti kakek-kakek!” jawab Elang.

__ADS_1


“Dih, itu warna rambut yang langka, tahu! Dia cocok dengan warna putih di rambutnya, aku suka!” belaku.


“Tetap hitam yang keren, Shir! Sebelum Sakti terjebak di dunia kelabu, warna rambutnya hitam. Kau tidak ingat Sakti pernah bilang begitu?” kata Elang, “sebaiknya kamu cat hitam saja dari pada warna rambutnya abu-abu seperti itu,” kata Elang lagi.


“Ah, entahlah! Itu kesalahanku!” jawabku setengah putus asa.


“Putih memang terkesan bersih dan suci, tapi ia begitu rentan. Tetap hitam yang paling kuat!” kata Elang menyeringai tanpa terlihat, “berbeda dengan putih yang tidak bisa mempertahankan jati dirinya di sekitar warna lain, hitam tak akan berubah hanya karena tercampur sedikit merah, biru, atau kuning. Hitam hanya akan berubah karena putih.”


Aku sempat terdiam mendengarnya. Apa yang sebenarnya ia bahas?


“Analogimu bagus,” jawabku setuju meski tidak tahu persis maksud kata-katanya. Elang hanya mengendikkan bahu.


“Itu sajak yang kubaca di buku Sekti semalam,” jawab Elang kembali ke kursinya di dekat jendela, merapikan lukisan gadis tanpa wajah yang merebah dengan latar abstrak warna coklat. Sangat mengherankan ketika ia bisa melukis tanpa ada noda cat di tangan atau pakaiannya sementara yang terjadi padaku sungguh sebaliknya. Ah, noda cat di rokku ini bisa hilang atau tidak ya?


Tiga puluh menit yang tersisa terasa seperti lima menit. Aku belum banyak membereskan detail latar belakang lukisanku. Beruntungnya Bu Yulita sedang ada kepentingan sehingga pengumpulan tugas ini diserahkan kepada ketua kelas. Mungkin Elang bisa diajak kompromi memberiku waktu tambahan sepuluh menit lagi.


“Tidak bisa, Shir. Setelah ini jam bahasa. Pak Hanri tidak pernah terlambat masuk kelas,” jawab Elang.


“Iya, Lang, aku mengerti. Sebentar, biar aku yang tinggal paling akhir. Kamu dan yang lain ke kelas saja lebih dulu, oke?” pintaku sambil tetap bekerja.


“Sudahlah, Ra! Punyaku juga belum selesai,” kata Rehan


“Ya, ini bisa dilanjutkan pertemuan selanjutnya,” timpal Elang.


“Pertemuan selanjutnya? Minggu depan? Kita UTS, teman-teman, ingat?” jawabku.


“Berarti minggu depannya lagi! Bu Yulita bilang tidak harus selesai sekarang, kok, Ra!” kata Rehan. Ah, mereka ini tidak bisa mengerti! Sekalinya sudah ada di depan kanvas, aku tidak bisa beranjak sebelum benar-benar tuntas.


“Sungguh? Bu Yuli bilang demikian? Tidak bisa dipercaya! Firasatku mengatakan kalau nilai tugas ini akan muncul di rapor sisipan setelah UTS,” jawabku masih keras kepala. Aku trauma dengan adanya nilai D di tugas seni karena Bu Yulita tiba-tiba mengubah deadline seenaknya. Teman-teman tidak bisa belajar dari kejadian semester lalu, ketika kami menanyakan proyek yang belum selesai dan harusnya dilanjutkan, tetapi Bu Yulita bilang proyek itu sudah dinilai. Setelah menerima rapor sisipan barulah kami sekelas melihat nilai D di tugas seni kami. Sungguh, nilai merah itu terlalu mencolok dan sangat merusak pemandangan di raporku.


Elang dan Rehan akhirnya benar-benar pergi kembali ke kelas. Kupandangi lukisanku yang akhirnya selesai juga meski hari ini aku tidak bermodal apa-apa. Ah, lain kali aku ingin membalas kebaikan Yuanda! Segera kubereskan tempatku dan mencuci tangan. Seperti yang sudah kurencanakan, aku keluar sepuluh menit setelah bel pergantian jam. Pak Hanri terlihat baru keluar dari ruang guru berjalan ke arah tangga menuju kelasku. Aku buru-buru lari tapi sudah tak akan sempat mendahuluinya.


“Hayo, Shira! Dari mana saja kamu? Bukankah berkeliaran saat pergantian jam itu tidak boleh?” tegur Pak Hanri menyadari aku berjalan tak jauh di belakangnya.


“Ah, tadi kelas seni rupa, Pak. Saya piket, jadi harus bantu beres-beres dulu,” jawabku membuat alasan.


“Oh ya? Piket sendirian saja? Aneh!” kata beliau curiga. Aku hanya nyengir. Yah, memang mustahil bisa mengelabui pimpinan mata-mata sekolah ini. Kasus pelanggaran berat saja bisa ia ketahui apalagi kebohongan kecilku begini.


“Maaf, Pak. Saya yang selesai paling terakhir,” jawabku akhirnya mengaku.


“Tck-tck-tck! Enaknya Shira dihukum apa ya?”


“Eh? Masa saya tetap dihukum? Saya kan tepat waktu, Pak, bukan terlambat!” bantahku.


“Ah, bagaimana kalau kamu buat kerangka novel!” kata Pak Hanri tidak peduli protesku, “habisnya kamu tidak ada kabar lanjutan tentang lomba mengarang novel yang sudah kita sepakati waktu itu!”


“Eh? Lomba apa?” tanyaku pura-pura lupa. Tolonglah, sebentar lagi UTS dan batas purnama ketiga itu sudah sangat dekat! Aku sedang menghindari segala kesibukan yang tidak perlu karena ... yah, dunia kelabu mempertaruhkan nyawaku.


“Wah, memang niat menghindar ya? Padahal kamu ada banyak naskah lama. Sayang sekali kalau ditelantarkan dan terus dirahasiakan. Siapa tahu jika diikutkan lomba, pemirsamu yang belum juga lebih banyak dari jumlah siswa sekolah ini bisa naik,” jawab Pak Hanri. Eeeh?! Pak Hanri tahu jumlah pemirsaku?! Itu berarti ....


“Dari mana Pak guru tahu akun penulis saya?!” tanyaku menahan seruan dan seberondong pertanyaan lain, tapi Pak Hanri hanya tersenyum dan memasuki kelas, mengucap salam. Pertanyaan itu masih berputar-putar di kepalaku. Pak Hanri sempat bilang kalau dia tetap akan menagih kerangka novel sebelum UTS minggu depan. Ah, bagus! Tanggunganku bertambah!


Sesuatu yang lebih bagus lagi segera kusadari. Aku tidak bawa buku bahasa Indonesia, juga buku-buku mapel lain yang terjadwal dalam satu hari ini. Ehe, sial!


.Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2