
Aku tak tahu seberapa pentingnya mendebat bagaimana pedang kristal Elang bisa kembali. Elang bilang karena memang pedang itu datang sendiri kepada orang yang tepat dan di saat yang tepat pula, tetapi aku masih mencoba mengait-ngaitkannya dengan katapel buatanku –iya, dong! Sebelumnya Elang tidak pegang apa-apa selain katapel yang ia olok-olok dan aku ingin dia mengaku khilaf karena telah meremehkan katapelku itu.
“Tidak, Shir! Tidak ada hubungannya!” bantah Elang.
“Ada! Kamu pernah bilang pedang itu bisa berganti-ganti wujud menjadi senjata apa pun ....”
“Tapi bukan katapel menggelikan itu!”
“Ih, mungkin ia butuh suatu perwujudan untuk sampai ke tanganmu, Lang!”
“Yang jelas tidak harus senjata anak-anak aneh ....”
“Hiyaa ribut terus!” komentar Kak Garuda acuh tak acuh menutup telinganya. Aku pun akhirnya mengalah, mendengus sebal mengakhiri cekcok ini. Lima menit lagi siklus malam tiba. Kusempatkan berkeliling ke sana-sini sebelum akhirnya nanti harus bersembunyi dalam kubah cahaya yang tidak seberapa lega itu.
Selama lima belas jam terakhir kami telah melalui pergantian siang-malam berulang kali. Dengan sistem waktu seperti itu, pantas saja Dunia Kelabu begitu cepat meluas. Bayangkan dari purnama pertama ke purnama ketiga berlangsung kurang dalam dua puluh empat jam. Apa yang sempat dilakukan oleh jiwa-jiwa tersesat dalam waktu sesingkat itu? Mereka bahkan mungkin belum sempat menyadari situasi sulit berada di perangkap dunia terkutuk sebelum akhirnya kehabisan waktu, melampaui musim purnama ketiga, menjadi monster selamanya di sini. Yah, pantas saja.
Namun, kami akan segera membuatnya tak pantas lagi. Tidak akan ada yang terseret ke sini lagi. Setelah Elang menemukan pedang kunci segel celah cahaya, semuanya akan baik-baik saja. Elang sesekali mencoba kekuatan pedangnya, mengayunkan pedang kristal bening itu dengan paduan gerakan bela diri seperti di film-film. Aku bahkan lupa berkedip demi melihat aksinya dari kejauhan. Setelah sempat uring-uringan karena merasa tidak keren, akhirnya makhluk sok keren itu mendapatkan sesuatu yang pantas ia banggakan.
Entitas dunia ini harusnya berakhir beberapa jam lagi setelah semuanya selesai. Pola redup yang harus digores untuk membangkitkan tangga menuju puncak tebing juga telah ditemukan. Semuanya tinggal menunggu waktu. Yah, harusnya terdengar semudah itu, tetapi hal-hal di luar rencana tak pernah mau berhenti ambil bagian dalam riwayat perjalanan kami.
“Wah, selamat ya! Pedang kinclong itu akhirnya ketemu juga! Benar-benar mengagumkan melebihi perkiraanku!” kata Labe muncul ketika siklus siang hari terakhir sebelum purnama ketiga. Ekornya yang meliuk-liuk menggemaskan itu sangat berbanding terbalik dengan wajah bengis mengerikannya.
“Pergi jauh-jauh! Aku tidak butuh komentarmu!” kata Elang dingin, bersiaga mencabut pedang kristalnya.
“Wah? Serius aku langsung disambut dengan mata pedang teracung seperti itu? Apa niatanku untuk merebutnya tampak demikian jelas?” balas Labe selangkah demi selangkah maju mendekat. Elang tidak berencana mundur, sama-sama melesat maju menebaskan pedangnya ke arah Labe. Hanya dengan menundukkan kepala, Labe terhindar dari tebasan pedang itu, melompat melewati Kak Garuda dan mendarat di belakangku.
Cekikan di leher terasa semakin menyakitkan ketika kakiku tidak menyentuh tanah. Perawakan tinggi besar Labe membuatku hanya terlihat seperti mainan dalam cengkeramannya. Tak peduli betapa mulutku turut membantu hidung mendapat udara, tenggorokan yang seolah menyempit ini menjadi satu-satunya masalahku, tangan hitam gempal di sekeliling leherku ini terutama.
“Mau coba ayunkan pedangmu ke sini sekali lagi?” tantang Labe. Kak Garuda dan Elang masih belum berani melawan karena keadaanku. Sial!
“Jangan ... jangan jadikan aku TAMENG!” seruku sama sekali tidak suka hal ini. Debu-debu di tanah kubangkitkan berputar-putar di udara, kali ini entah tanpa kumengerti berhasil kuarahkan sepenuhnya menyerbu Labe yang mencekikku di belakang.
“Apa ini? Kaupikir aku akan terpengaruh siulan anginmu, ha?” ejek Labe terkekeh hebat, “ jika kau ingin membuatmu terkesan, lemparkan aku seperti ini!”
Berkata demikian, Labe memeragakan kata-katanya, mencampakkan tubuhku jauh ke depan. Sebelum kepalaku menghantam tanah lebih dulu, aku tiba-tiba punya ide bersalto di udara dan rupanya berhasil mengendalikan penuh kekuatanku. Seringan kapas, begitulah yang kurasakan ketika tubuhku mengambang di udara, perlahan turun dan menapak kembali di tanah. Hei, akhirnya aku bisa menguasai teknik ini!
“Bagus, Shira!” kata Kak Garuda. Aku belum ingin berbangga-bangga dulu sebab Elang sekarang sedang berjibaku memanfaatkan momen badai debuku tadi untuk menyerang Labe.
“Kita serang sama-sama, Kak!”
“Siap!”
__ADS_1
Kami berdua pun turut maju, mengepung Labe yang terus leluasa berkelit dari serangan Elang. Angin ribut sepertinya tidak berpengaruh pada iblis itu, maka Kak Garuda mengiris tanah membuat lubang jebakan. Sesuai harapan, Labe termakan lubang menganga itu, tetapi sama sekali di luar dugaanku, Kak Garuda juga turut masuk ke dalam, mengaktifkan kubah cahaya yang menutup lubang itu dan mengunci diri bersama si iblis.
“Sebentar lagi malam, kalian cepat urus apa pun tentang celah cahaya itu. Kucing ini akan kutahan di dalam sini!” kata Kak Garuda sempat terdengar dari luar.
“Kak Garuda?! Dia hanya sendirian menghadapi iblis itu di dalam sana, Lang!”
“Iya, Shir, aku tahu! Sebelum terjadi apa-apa padanya ayo cepat selesaikan urusan kita!” kata Elang bersamaan dengan langit yang mulai bersemburat ungu.
Tanpa mengulur waktu, Elang memintaku membantu menggores pola lingkaran yang mengelilingi tebing menjulang menuju purnama ketiga, sementara keributan masih terdengar dari kubah cahaya. Pola redup di tanah memancar semakin terang setelah tergores pedang milik Elang –aku menggunakan sarung pedangnya untuk melakukan hal yang sama. Pola lingkaran penuh itu berhasil kami selesaikan bersamaan dengan terbelahnya kubah cahaya. Labe sukses meloloskan diri dari jebakan Kak Garuda. Ekspresi berang iblis itu terlihat semakin murka mengetahui anak tangga spiral di sisi tebing mulai tumbuh menjadi jalanku dan Elang menuju kristal bulan di atas sana.
Elang belum terlambat menangkis lesatan shuriken yang nyaris menyasar ke arahku dengan pedangnya, menciptakan bunyi denting khas beradunya logam dan pedang kristal itu.
“Hati-hati, Shir!” kata Elang berjaga di depanku hingga aku bahkan tak bisa melihat sosok Labe.
“Wah, protektif sekali! Kenapa? Apa pernah terjadi suatu hal yang tidak menyenangkan pada purnama ketiga sebelumnya?” tanya Labe tak bosan-bosan memprovokasi. Dari belakang sini aku tidak bisa melihat perubahan ekspresi Elang. Yang kutahu hanyalah genggamannya di gagang pedang semakin menguat.
“Jangan dengarkan kata-katanya, Ang ...”
Kak Garuda terlihat merangkak keluar dari lubang jebakan buatannya sendiri dengan luka sayat merobek alis kanannya. Darah tak ayal merembes-rembes hingga ke matanya.
“Kau harus lebih kuat dan menang dari ingatan menyedihkan itu ... Jika tidak ... jika tidak, kejadian itu hanya akan terulang lagi!”
“Aku sudah tahu, Gar ...” jawab Elang lirih, memintaku untuk memanjat naik menuju kristal bulan lebih dulu sementara ia sendiri kembali melesat menyerang Labe. Aku hanya menuruti kata-katanya, menapaki anak tangga spiral di sisi-sisi tebing sambil terus bertanya-tanya, kejadian tidak menyenangkan apa yang dimaksud Kak Garuda tadi?
Pedang kristal terlempar bersamaan dengan Elang yang jatuh terpelanting. Teriakan cemasku tak bisa ditahan mengetahui pedang itu telah berpindah tangan. Seringai Labe terbit saat ia mengangkat pedang itu ke udara, nyaris mengayunkannya ke arah Elang yang masih terkulai. Entah dorongan mana yang mencambukku untuk tergerak, berteriak dari puncak sini dan tanpa sadar melompat begitu saja. Bodoh memang, demikian ingin kurutuki diri sendiri sekalinya aku sadar. Labe urung menikam Elang hanya karena melihatku jatuh bebas dari ketinggian.
“Kau akan kubiarkan tetap hidup setelah menyaksikan ini!” kata iblis itu semakin melebarkan seringaian ketika ia melesat ke udara, menyambutku dengan mata pedang berkilat di tangannya.
“Jangan! Jangan Shira! Kumohon hentikan!” teriak Elang serak.
“Hahaha! Terulang lagi! Kali ini kupastikan dia tidak akan terselamatkan! Hahaha!”
Tawa gila iblis sialan itu teramat mengusikku. Memangnya siapa yang tidak akan terselamatkan?! Aku tidak lupa bahwa aku telah lebih baik dalam menggunakan kekuatanku. Masih dalam posisi jatuh bebas, aku berkelit di udara, menghindari tebasan pedang Labe, berpindah ke belakang punggung iblis itu dan tanpa sengaja menarik ekornya.
Cukup menarik ternyata, Labe meracau-racau panik sama seperti Shiro yang sesekali kukerjai ekornya. Kutarik lebih kencang, iblis itu semakin kalap menyumpah serapahiku sambil terus mengayun-ayunkan pedang ke belakang dengan sembarangan hingga akhirnya pedang itu menebas ekornya sendiri. Sebelum teriak kesakitan memekakkan telinga terdengar di atmosfer, Labe refleks menendangku lebih dulu. Tubuhku limbung terempas ke dinding tebing, jatuh terguling-guling di tangga.
Teriakan demi teriakan tiap orang bertubrukan di telingaku. Teriakan Labe jelas karena kesakitan setengah mati –sosoknya lenyap setelah itu– di lain sisi teriakan Elang menyerukan namaku, sedangkan teriakan Kak Garuda entah kenapa menyerukan nama Labe. Tak ada yang sempat memedulikan hal itu karena aku sempat hilang kesadaran beberapa saat dan Elang sendiri sepertinya luar biasa cemas.
“Shir? Shira! Buka matamu! Hei ... bangunlah!” kata Elang tergopoh-gopoh mengguncang pipiku.
“A ... aku tidak apa-apa! Ti ... tidak apa-apa, sungguh!” ujarku sangat mengingkari rintihan karena nyeri yang seolah menyempitkan paru-paruku.
__ADS_1
“Bertahanlah! Kumohon, bertahanlah! Kita akan segera terbebas dari sini!” kata Elang baru akan membopongku ke tempat kristal bulan di atas tebing, tetapi kutolak. Aku tak ingin merepotkannya sebab tahu dia sendiri juga terluka. Saling menguatkan satu sama lain, kami berdua akhirnya bersusah payah mendaki anak tangga menuju puncak tebing.
Perjuangan kami terbayar dengan sapaan lembut cahaya kristal bulan yang seolah mengembalikan segala kekuatan dan tenaga kami yang hilang. Keinginanku melihat bulan sedekat mungkin, kesampaian juga! Elang mengangkat tangannya ke udara. Pedang kristal yang tadi tertinggal di bawah kembali muncul di tangannya, benar-benar mematuhi si pemilik. Lalu dengan mengikuti bisik yang kudengar dari pedang yang kini tertancap di kristal bulan itu, mantra pembebasan mulai kuucap.
Entah sejak kapan sekeliling kami mulai terangkat ke udara dalam luruhan serbuk cahaya yang mengagumkan. Dari atas tebing ini aku belum berkedip memerhatikan sekitar setelah mantra pembebasan sepenuhnya tuntas kuucap.
“Kita berhasil melakukannya lagi, Shir,” kata Elang menatap sekitar penuh takjub. Tak ada komentar yang ingin kulontar karena kepalaku sibuk meraih-raih kepingan ingatan serupa, tentang pemandangan di sekitarku ini ....
“Ah!”
Rasa sakit tanpa wujud itu menghantam kepalaku tanpa peringatan. Aku jatuh terduduk dan tidak sempat mendengar seruan panik Elang. Memejam mata erat-erat, aku betul-betul tak tahan dengan sensasi denyut seolah mencabutku menuju suatu tempat ... dengan pemandangan serupa ... Ruang lapang dengan bertaburnya debu cahaya di udara ... Pemandangan ini ... membuat bening hangat di mataku segera merembes tanpa kuminta.
“Shira, tolong katakan, kenapa? Apa yang terjadi padamu? Mana yang sakit?” tanya Elang memaksa mengintip dari jemariku sendiri yang menutup wajah. Aku masih enggan menjawab, menikmati sedu sedan yang terasa damai mengisi dadaku.
“Shi ... Shira?”
“Aku melihatnya, Lang ...” jawabku lirih, merasa perlu membuat Elang berhenti cemas, “aku melihatnya ....”
“Melihat apa?” tanya Elang.
“Melihatmu menangis ... dalam diam, di tengah tanah lapang, dengan debu-debu cahaya luruh ke udara ... dengan tubuh sekaratku di pangkuanmu ....”
Aku mengangkat pandangan menabrak ekspresi Elang yang dipenuhi keterkejutan. Sesaat kemudian ia melepas hela napas yang menyisakan lega di rongga dadanya, memejamkan mata seolah ia sendiri juga mencoba melihat kembali peristiwa itu di sudut memorinya.
“Kamu sudah ingat?” tanya Elang begitu sederhana dan jawabanku juga sesederhana anggukan pelan.
“Semuanya?”
“Semuanya ....”
Senyum yang mengantar jawabanku masih diiringi air mata. Aku sungguh tidak mengerti apa yang sedang kutangisi, tapi yang jelas semuanya terasa melegakan. Sama seperti ketika kehilangan sesuatu, tak bosan-bosan dicari dan selalu membayang sepanjang malam, lalu detik ini juga sesuatu yang hilang itu dikembalikan, kumiliki lagi seutuhnya, semuanya. Seolah lubang menganga di kepalaku kembali ditambal, aku merasa jauh lebih baik saat ini. Jauh lebih baik hingga yang ingin kulakukan hanya memeluk erat-erat semua ingatan itu, khawatir ia kembali menguap bersama debu cahaya, khawatir kehilangan lagi untuk kedua kalinya, tetapi saat ini ingatan itu bilang ia tak akan ke mana-mana.
“Sejujurnya aku tidak mengerti kenapa kamu begitu bahagia mendapatkan semua ingatan itu lagi,” kata Elang kian lirih, “bukankah terlalu suram? Ada banyak bekas luka dan rasa sakit yang sebaiknya tidak perlu kamu ingat ... termasuk masa laluku juga, tapi ... jika ternyata kamu sebahagia ini, maka kuucapkan selamat! Selamat ya, Shir!”
“Terima kasih, Lang,” jawabku menyeka sisa air mata, “bekas luka dan rasa sakit itu turut membesarkanku ... tentu saja aku menginginkan mereka kembali. Ya ampun, kupikir kamu juga menginginkan hal yang sama?”
Elang masih menatapku dalam tundukan kepala dalam-dalam. Sempat terdiam beberapa detik seolah menimbang-nimbang yang ia katakan selanjutnya.
“Keinginanku? Keinginanku mungkin terlalu sederhana, asal kau tahu ...” jawab Elang, “setelah purnama ketiga yang berakhir mimpi buruk itu, keinginanku hanya melihatmu tetap hidup. Hanya itu, Shir ... tetapi ketika aku bangun, kau masih tertidur satu minggu lagi.”
“Sungguh, aku tak tahan bila harus kembali hidup dalam satu minggu yang menyiksa itu, hanya menantimu bangun lagi lalu ingin kuserbu dalam peluk seperti ini,” kata Elang memeragakan kata-katanya sendiri, mengingatkanku saat ketika dia pertama kali tiba di Alba, menarikku dalam peluk sambil berbisik ‘masih hidup, masih hidup!’ semacam itu. Dalam rengkuh hangat ini baru kusadari bahwa aku merupakan bagian dari rasa bersalah dan penyesalan Elang yang hampir membunuhnya. Seandainya dia tahu ... aku tidak pernah ingin membuatnya merasa seperti itu ... dan seandainya bisa kusampaikan ....
__ADS_1
Kenyataannya aku tak pernah bisa menyampaikan sesuatu yang ingin kusampaikan.
.Bersambung.