
Jam pelajaran keenam, diskusi berkelompok bahasa Inggris. Miss Zahira hanya menggunakan lima belas menit jam kelima untuk menjelaskan acara presentasi untuk pertemuan selanjutnya. Sisa waktu yang panjang ini kemudian diserahkan kepada kami untuk membentuk kelompok dan berdiskusi. Berdasarkan undian, aku sekelompok dengan Yuanda, Dila, dan –kebetulan– Elang. Materi dan metode presentasi telah selesai kita bahas dan disepakati lebih awal dari kelompok mana pun. Jagonya bahasa asing ada di kelompok kami, Yuanda. Ia juga mengarahkan teknik sikap dan penyampaian yang benar berdasarkan pengalamannya mengikuti speech contest baik debat, presentasi, membaca berita, bahkan menceritakan dongeng. Itu menjadi obrolan seru sepanjang diskusi.
Sayangnya, karena ia lagi-lagi harus mewakili sekolah dalam lomba debat bahasa Inggris, Miss Zahira harus meminta Yuanda berlatih bersama perwakilan lain di laboratorium bahasa. Bintang dan beberapa temanku yang terpilih juga harus meninggalkan kelas. Jumlah siswa yang tinggal semakin berkurang setelah pengumuman bahwa anggota ekskul tari juga diminta berkumpul. Dila pamit, selaku ketua ekskul tari ia harus hadir dalam setiap kumpulan.
“Untung saja kelompok kita sudah beres!” ujarku sambil meregang badan. Kelompok ini hanya tersisa aku dan Elang. Cukup menguntungkan karena selanjutnya kami bisa membahas hal lain. Elang tampak melamun sesaat kemudian beranjak menuju sudut baca di belakang tempat dudukku.
“Kita sudah menemukan dua,” katanya membolak-balik susunan buku di sana.
“Ya ... Apa rencanamu selanjutnya?” tanyaku.
“Melihat yang terjadi padamu tadi, aku ingin menyelidikinya sendiri saja. Terlalu berisiko untukmu.”
“Kamu meyakini setiap kunci selalu melepas energi negatif yang membuat tubuhku bereaksi?”
“Iya, aku tidak berani bertanggung jawab bila sesuatu terjadi padamu setelah kesurupan enam kali!” jawab Elang masih belum menemukan sesuatu yang ia cari di antara buku-buku.
“Hei, jangan mengacak-acak buku di sana, dong!” tegurku bangkit merapikannya lagi, “apa yang sebenarnya kamu cari?”
“Harusnya jika ini memang kunci perangkap yang sama, akan ada hologram lambang setan yang membuatmu kesurupan, tapi sepertinya tidak ada?” kata Elang agak bingung.
“Mungkin reaksinya memang beda-beda, bukan di setiap kunci selalu tersimpan energi negatif itu,” jawabku asal.
“Dari mana kamu tahu?!”
“Buktinya sekarang aku tidak apa-apa. Tempat dudukku di sekitar sudut baca ini, tapi aku baik-baik saja ‘kan?”
“Tidak, Shir ... tidak seperti itu!” bantahnya.
“Lalu apa? Kamu tidak yakin kalau ini kunci perangkap yang sama? Sayang sekali, posisi kelas kita dengan gedung olahraga segaris lurus. Kemungkinan ini adalah diagonal formasi perangkap heksagon itu,” jawabku menunjuk puncak gedung olahraga yang bahkan terlihat dari dalam kelas.
“Bukan, Shir, aku bukan meragukannya, tapi bagaimana menjelaskan padamu ya? Intinya jangan terlibat langsung di sekitar kunci perangkap lain, oke?”
“Lalu kamu akan menyelidikinya dan mengungkap identitas iblis itu sendiri? Curang, ah! Kau pikir aku betah berdiam diri saja dan selalu menunggu informasi darimu?!” protesku.
“Kau benar-benar pembantah ya?! Terus terang saja, kamu hanya menghambatku mengumpulkan informasi, tahu!” bentak Elang lumayan keras. Ardian yang memainkan gitar di belakang sempat berhenti dan menoleh, tapi ia tak ingin ikut campur dan lanjut menyanyi.
“Ya ampun, kau selalu membuatku terkesan seperti orang jahat, Shir! Tapi jika itu membuatmu bisa menjaga diri maka tidak apa-apa, aku akan jadi orang jahat yang selalu membentak-bentakmu,” kata Elang.
“Sayangnya tidak, silakan bentak dan caci aku sesukamu. Aku memang lemah dan merepotkan seperti katamu, tapi aku ingin berubah menjadi lebih kuat. Aku hanya akan tetap lemah dan tertinggal bila terus bergantung kepadamu, Lang. Jadi kumohon, biarkan aku terlatih menghadapi segala bahaya dan melawannya!”
“Aaarrgh! Sebenarnya kau tercipta dari apa, Shira?!” balas Elang kesal mengacak rambutnya sendiri, “apa-apaan katamu ingin terlatih menghadapi bahaya?! Kenapa kau tak mengerti juga?!”
“Aku percaya diri bilang begitu karena faktanya ketika peristiwa di belakang gedung olahraga tadi aku bisa melawan! Aku bisa menang dari kekuatan asing yang mencoba mengambil alih kesadaranku! Aku yakin selanjutnya bisa kulawan sendiri tanpa bantuanmu!” ujarku berargumen. Kenapa dia juga tidak mau mengerti?!
“Ah, terserahlah! Bodo amat!” jawab Elang menyerah, kembali duduk di depan mejaku, memainkan ponselnya acuh tak acuh.
“Ya, bodo amat! Aku tak peduli sekali pun kamu melarangku. Jika kamu bersikeras tak ingin aku membantumu menyelidiki di titik yang sama, aku akan menyelidiki titik lain. Dengan begitu posisi enam kunci akan ditemukan lebih cepat.”
“Tidak! Jangan coba-coba bergerak sendiri! Dasar keras kepala!”
“Nah, kamu sendiri yang bilang, jangan bergerak sendiri! Baiklah, kita cari sama-sama istirahat kedua nanti!” jawabku berhasil membalik kata-katanya. Elang tak bisa menjawab lagi. Sepanjang ingatanku inilah pertama kalinya aku menang berdebat dengannya. Haha!
“Nih, denah sekolah yang kamu cari!” kata Elang. Sesaat kemudian ponselku bergetar. Ia baru mengirim fail pdf.
“Wah, nemu di mana? Aku cari di internet, kok, tidak ada?” tanyaku.
“Dulu saat pengenalan lingkungan sekolah kamu ke mana saja?! Setiap peserta pasti punya data seperti ini!” jawab Elang. Oh? Iyakah? Aku hanya nyengir. Masa pengenalan lingkungan sekolah sudah satu tahun yang lalu, mana mungkin secuil data ini masih bertahan di ponselku. Kuutak-atik sebentar gambar denah ini, menandainya di beberapa titik, mengamatinya sungguh-sungguh.
“Ini justru lebih mudah, Lang!” seruku senang begitu menyadari sesuatu, “posisi dua kunci yang sudah kita temukan kemungkinan adalah salah satu diagonal segi enam. Jika formasi perangkap itu benar-benar segi enam beraturan, aku bisa menerapkan persamaan matematika untuk memprediksi titik yang lain!” jawabku meraih buku dan kertas mulai mencorat-coret. Kuminta Elang membantu menghitung jarak antara kelasku dan gedung olahraga berdasarkan skala denah sementara aku mencoba mencari panjang masing-masing sisi dengan menggabungkan berbagai prinsip sifat bangun datar, bermain logika. Kurang dari lima menit, variabel yang kami cari pun ketemu.
“Dapat, Lang!” seruku antusias, “kita bisa membagi segi enam ini menjadi enam segitiga sama sisi. Bila jarak antara kelas ini dengan gedung olahraga adalah seratus meter, maka panjang sisi segitiga adalah separuhnya, lima puluh meter. Titik selanjutnya bisa dicari sejauh lima puluh meter di arah enam puluh derajat dari garis lurus ini. Untuk titik lain cara mencarinya pun sama!” jelasku.
“Kalau begitu, lima puluh meter dengan arah enam puluh derajat dari garis lurus ini, maka ... titik berikutnya ada di greenhouse taman belakang dan kelas XI MIPA 4,” kata Elang menandai denah di ponselnya juga.
“Benar, lalu dua titik yang lain ada di XI MIPA 7 dan area parkir belakang,” sambungku.
“Nah, bagus! Kita tinggal memastikannya ketika istirahat kedua nanti, tapi mungkin tidak semua titik bisa diperiksa. Waktunya sangat terbatas dan ada titik yang tidak bisa sembarangan kita akses,” kata Elang. Benar juga, aku masih ingat betapa susahnya minta izin masuk ke greenhouse. Ah, tapi jika minta izin Bu Lasmi mungkin tidak akan dipersulit.
“Kalau begitu kita periksa titik di kelas-kelas dulu. Aku ke XI MIPA 4, kamu ke XI MIPA 7,” ujarku.
“Hei, siapa yang memintamu menentukan seenaknya begitu! Kita sudah sepakat mencarinya bersama!” jawab Elang.
“Pertama, demi menghemat waktu. Kedua, akan terlalu mencolok bila kita masuk ke kelas-kelas itu bersama. Aku punya kenalan di MIPA 4 dan kamu juga kenal Waldi di Mipa 7. Kita bisa berpura-pura ada urusan menemui kenalan untuk masuk dan memperhatikan isi kelas itu.”
__ADS_1
“Aku benar-benar tidak mau mengambil risiko bila kamu sampai kerasukan karena Sakti bilang akibatnya bisa fatal, Shir. Kita bisa menyelidikinya sepulang sekolah ketika keadaan sudah sepi. Lebih baik begitu!”
“Lang, kita akan terekam CCTV menggeledah kelas orang lain dan itu jauh lebih mencurigakan. Apa yang harus kita jelaskan? Mengaku yang sejujurnya? Tidak mungkin! Lagi pula menjelang banyak acara penting anak-anak tidak akan segera pulang.”
Elang menghela napas, “Jadi serius tidak apa-apa kamu bergerak sendiri?”
“Untuk kali ini tidak ada pilihan, tapi selanjutnya jika kamu memang cemas, kita akan bergerak bersama. Aku akan berhati-hati dan mengamati dari jauh. Begitu kutemukan sesuatu yang janggal, kamu akan segera kukabari, oke?” jawabku meyakinkannya.
“Baiklah kalau begitu. Jika semuanya lancar, dua titik lain bisa kita amati pulang sekolah atau besok.”
“Ya, semoga semuanya berjalan sesuai rencana!”
Bel istirahat pun berbunyi. Kelompok-kelompok bahasa Inggris bubar kembali ke tempatnya.
“Kalian berdua malah membahas matematika! Aku benar-benar tidak habis pikir!” komentar Tiara pemilik bangku di hadapanku yang ditempati Elang.
“Biar tinggal berdua, kelompok ini ada Yuanda dan Shira, sih! Pasti cepatlah diskusinya,” sahut Yasinta yang baru kembali.
“Ah, kelompokku masih santai! Miss Zahira bilang apa? Pertemuan selanjutnya sedangkan dua minggu ke depan UTS. Pertemuan selanjutnya masih lama ya ‘kan, Lang?” kata Tiara. Elang mengangguk membenarkan kata-kata Tiara kemudian kembali ke tempatnya. Lembaran hasil diskusi kelompokku kusimpan dalam map.
Saatnya makan siang! Aku tak lagi melupakan kotak bekalku. Yasinta selalu mengomel dengan komposisi menuku yang melewatkan sayuran. Dia benar-benar seperti ibu yang memaksa meletakkan acar atau tumis taoge dalam porsiku. Jika urusan sayur aku memang terlalu pilih-pilih, tidak semuanya suka. Padahal siapa pun yang tahu selalu tidak setuju dengan asupan makanku yang cenderung kering dan tinggi gula. Kecuali Nike, dia satu-satunya orang yang terkadang memanjakanku dengan roti sobek dan makanan ringan yang gurih. Kami memang ...
“Shiraaa!”
Suara itu direspon dengan kericuhan teman-temanku. Mereka terheran bagaimana aku yang pendiam bisa punya sahabat bersuara seberisik toa, tapi sungguh, anak satu ini benar-benar panjang umur. Baru saja ia kupikirkan dan segera muncul.
“Yo! Kamu enggak makan siang, Nik?” sapa Yasinta.
“Enggak, nanti saja minta jajan ke Waldi,” jawabnya menempati kursi di hadapan kami.
“Bucin teroos!” komentarku.
“Enggak apa-apa, seru tahu!” cengirnya.
“Bucin teriak bucin.”
“Apa katamu, Yas?” tanyaku sempat mendengar sesuatu yang salah.
“Ada urusan apa kamu ke mari?” tanyaku kepada Nike.
“Ya ampun, apa aku harus punya urusan tertentu untuk boleh menemuimu, Ra?” tanya Nike.
“Langsung ke intinya saja. Ada yang bisa kubantu?” tanyaku balik. Jika Nike sampai repot-repot mendatangiku maka jelas ada sesuatu yang ia inginkan.
“Apa-apaan langsung ke intinya begitu?! Tidak seru, ah! Padahal aku ingin basa-basi dulu!”
“Maaf, aku sibuk setelah ini. Katakan saja tujuanmu!” jawabku melirik Elang sudah tidak ada di bangkunya. Ia memulai lebih awal dariku. Aku juga harus buru-buru.
“Apa ini hanya perasaanku, Yas? Shira semakin dingin akhir-akhir ini ya?” kata Nike setengah meledek.
“Hm, dia belajar dari ahlinya,” jawab Yasinta.
“Apa maksudmu, Yas? Kali ini aku tidak salah dengar,” jawabku.
“Bisa langsung katakan apa tujuanmu ke mari, Nik?” tanya Yasinta tak menggubris pertanyaanku sebelumnya.
“Yasinta pun sama, ah!” rengek Nike, “begini, teman-teman. Sebentar lagi UTS. Tolong bantu aku belajar! Ra, aku ingin bimbel privat kepadamu, boleh ya?”
“Aku juga mau, Ra! Tapi bisa kutebak kamu pasti menolak ....”
“Oke, deh!” jawabku segera sebelum Yasinta selesai bicara.
“Apa?!”
“Oke, kita belajar bareng, sepulang sekolah selama ujian. Bergiliran yang jadi tuan rumah ya! Tapi janji harus serius dan tidak boleh malah ngerujak,” jawabku. Kedua temanku ini sama-sama menatapku horor.
“SERIUS BOLEH, NIH?!” tanya Yasinta heboh melebihi Nike.
“Ah, Shira langsung setuju begitu saja?! Dunia belum mau kiamat ‘kan?!” timpal Nike.
“Kenapa? Kalian tidak suka dan lebih baik ngerujak saja? Kubatalkan saja, deh ....”
“EH, JANGAN! Iya, kita belajar, serius!” jawab Yasinta dan Nike bersamaan.
__ADS_1
Teman-teman lain hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan keduanya. Aku sendiri tak bisa menahan tawa. Segera kubereskan kotak bekal yang sudah kosong lalu menenggak air.
“Maaf ya, aku sedang ada urusan di luar,” ujarku.
“Yah, mau ke mana?” tanya Nike.
“Sebelas MIPA empat. Apa kamu ada barang pesanan untuk diantar ke sana? Sekalian saja, sini!”
“Ada, banyak! Sebentar kuambil dulu, Ra! Ah, Shira lagi baik banget hari ini, huhuu! Aku terharu!” jawab Nike lebay menuntunku mengambil barang ke kelasnya.
“Jangan lupa ada keterangan yang benar dan jelas! Aku tidak mau nyasar lagi!”
“Kebangetan kalau kamu sampai tersesat hanya di Mipa empat, tapi serius, nih? Tidak biasanya Shira begini. Kamu mau modus ketemu siapa?”
“Aku bukan seperti kamu yang masuk kelas orang untuk tebar pesona, Nik! Aku mau ketemu Bella,” jawabku menunggu di depan pintu. Tak lama kemudian Nike kembali dengan sekantong sedang tepung bubuk yang dikemas dalam plastik-plastik bening berlabel, berjudul masker.
“Ini buat kamu, biar kamu coba juga!” kata Nike memberikan satu untukku.
“Aku enggak tahu cara pakainya. Mending susu atau jajan ....”
“Enggak ada! Pokoknya harus coba! Kamu harus belajar merawat diri!” jawab Nike memaksa. Aku hanya mengendikkan bahu lalu segera pergi ke XI MIPA 4 di ujung koridor.
Kedatanganku di sana seketika menarik perhatian. Beberapa anak terdengar sewot menyinggung-nyinggung soal kelas saingan atau apalah itu. Aku baru ingat jika XI MIPA 1 dan XI MIPA 4 memang selalu bersaing dalam banyak hal, tapi karena adanya temanku di sini membuatku tak terlalu peduli dengan persaingan itu. Toh, sejauh ini selalu MIPA 1 yang menang.
“Wah, kamu jualan masker ya sekarang?” tanya Bella, salah satu teman SMP-ku.
“Bukan, ini titipan Nike. Aku cuma jadi kurir!” jawabku.
“Wah, dapat apa kamu disuruh-suruh begini? Mending kamu ikut mulai usaha seperti dia. Lumayan, lho!” kata gadis ras campuran Melayu-Kaukasoid ini. Pianis yang sudah populer melalui kanal youtube-nya ini belakangan juga kuketahui mengembangkan binis jual-beli online. Kami sering mengobrol banyak hal. Wawasan luas dan sifat kreatif adalah sesuatu yang kupelajari darinya.
Tak lupa dengan tujuanku ke sini, mataku tak berhenti curi-curi pandang ke seisi ruangan. Terlalu mudah, sesuatu yang kucari tampak mencolok. Spanduk di dinding belakang memampang jelas lambang komunitas kelas ini yang berbentuk heksagon. Bella masih asyik bercerita sementara perhatianku masih tertuju pada gambar itu. Hologram jingga pun muncul darinya, dengan corak yang sama seperti di belakang gedung olahraga tadi. Seisi kelas tidak ada yang menyadarinya.
Bella kemudian tahu aku tidak mendengarkannya. Ia segera menarikku keluar dari kelas, terlihat begitu cemas.
“Jangan menatap matanya, Shira!” kata Bella sungguh-sungguh, “aku tahu kamu baru saja melihatnya! Ada kekuatan jahat di dalam kelasku, di kelasmu juga,” katanya. Aku baru ingat sesuatu. Bella adalah anak indigo! Tentu ia bisa melihat hal-hal semacam ini.
“Apa ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk mengusirnya?” tanyaku.
“Jangan! Jangan, Shira! Jangan mencari masalah dengannya! Dia iblis berbahaya yang telah menghabisi banyak nyawa. Terlalu sulit bagi kita untuk melawan. Aku lebih memilih pura-pura tidak melihatnya!” jawab Bella.
“Apa kamu tahu wujud penyamaran iblis itu di antara kita?” tanyaku bersemangat. Ini menarik, aku akan segera tahu secara instan dari Bella.
“Apa? Iblis itu menyamar? Di antara kita?” Bella justru bertanya balik. Dia tidak mengetahui hal itu rupanya.
“Ah, bukan. Aku hanya menebak.”
“Kumohon, Shira! Jika kamu tahu sesuatu tolong beri tahu aku! Kamu bisa melihat mata iblis itu dan bereaksi karenanya. Apa telah terjadi sesuatu padamu?”
“Ti ... tidak, kok!” jawabku tapi bohong. Jelas-jelas aku sudah menginjakkan kaki di dunia ciptaan iblis itu dan terancam akan tinggal di sana selamanya.
“Aku berharap kamu memang tidak terlibat sesuatu dengannya! Asal kau tahu, di dunia ini ada banyak hal yang tidak kita ketahui karena sebaiknya memang begitu. Ada banyak hal yang sebaiknya kita tidak terlibat karena sebaiknya memang begitu.”
Aku hanya tersenyum setengah menyetujui kata-kata Bella. Padahal yang kulakukan justru sebaliknya. Aku sedang menantang bahaya mencoba mengungkap identitas iblis itu. Apanya yang tidak terlibat? Aku sudah terperangkap sejauh ini. Berpamitan setelah urusanku selesai, Bella melambai tangan, memintaku agar sering-sering main ke rumahnya seperti dulu.
Setibanya aku di kelas, Elang belum juga kembali padahal dia pergi lebih awal dariku. Setelah lima belas menit menunggu, aku pun memutuskan untuk menyusulnya ke XI MIPA 7. Dari depan lobi kulihat dia melintas halaman utama.
“Bagaimana?” tanya kami bersamaan.
“XI MIPA 4 positif, ada! Temanku yang indigo juga bisa melihatnya,” jawabku.
“Sungguh? Kamu tidak cerita-cerita tentang masalah kita ‘kan?” tanya Elang. Aku menggeleng.
“Tidak, aku tidak mau melibatkannya. Terlalu berbahaya,” jawabku. Elang mengangguk setuju. Koridor mulai sepi karena bel masuk sudah tak lama lagi.
“Aku tidak menemukannya di XI MIPA 7, Shir,” kata Elang.
“Oh ya? Masa? Mungkinkah prediksi kita meleset beberapa meter?”
“Jika iya harusnya sudah kutemukan di XI MIPA 6 atau lorong kamar mandi di sebelah kelas Waldi, tapi tetap tidak ada,” jawabnya tak bisa menyembunyikan ekspresi bingung. Pantas saja Elang lama karena ia masih memeriksa area sekitar XI MIPA 7.
Mengherankan! Berdasarkan perhitunganku harusnya kunci perangkap ada di sekitar situ. Satu kemungkinan sempat terlintas di kepalaku. Lambang setan kunci perangkap itu pasti sangatlah tersembunyi.
.Bersambung.
__ADS_1