Kelabu

Kelabu
Episode 53


__ADS_3

Aku berdiri paling dekat dengan tempias air. Sakti dan Elang beberapa langkah di belakangku. Badai salju pernah kulihat di dunia kelabu ini, tapi tetap hujan yang membuatku terpukau. Ini hujan pertama yang pernah kulihat di sini. Tak pernah ketinggalan antusiasme soal hujan, kujulurkan tangan untuk merasakan dinginnya tetesan air, Sakti juga melakukan hal yang sama. Fakta bahwa kami tak lagi terkurung di bilik juga hal yang menyenangkan.


“Kamu suka hujan ya, Shira?” tanya Sakti. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia tersenyum, “Aku juga senang dengan hujan kali ini, tidak sendiri. Hujan di sini akan turun dua malam berturut-turut sebelum purnama ketiga. Dalam siklus enam puluh tahun sebelum-sebelumnya, aku selalu kesepian karena jiwa-jiwa tersesat telah terbunuh, menyisakan suasana sendu yang tidak menyenangkan, tapi aku senang hal itu tidak terjadi kali ini. Kalian berdua masih di sisiku.”


Aku sendiri tak bisa menahan senyum. Baru kali ini ada yang mengaku senang hanya dengan keberadaanku.


“Apa kita boleh berlama-lama di luar seperti ini?” tanya Elang.


“Para monster memang tidak berhibernasi, tapi mereka tidak akan jauh meninggalkan sarang ketika cuaca dingin. Tenang saja, posisi kita jauh dari sarang monster mana pun,” jawab Sakti.


“Kuharap akan terus hujan hingga purnama ketiga agar pencarian puncak kita tentang celah cahaya tidak terganggu dengan monster-monster itu,” kata Elang.


“Kenapa tidak kita cari sekarang saja?” tanyaku.


“Masih hujan, Shir!”


“Kamu takut hujan? Hujan kan hanya air! Lagi pula biasanya kamu yang paling antusias menyelidiki celah itu,” jawabku. Elang menghela napas sejenak kemudian menghampiriku.


“Aku tidak suka bergerak tanpa rencana dan aku ingin dengar rencanamu. Setelah memenangkan persaingan itu, kamu pasti telah memikirkan serangkaian rencana untuk kupatuhi,” jawab Elang. Heh, dia tidak akan suka.


“Wah, Shira yang menang? Pertengkaran kalian sudah berakhir ‘kan? Aku sedikit lega!” sahut Sakti.


“Dari awal itu memang bukan pertengkaran yang memperburuk keadaan. Memang begitulah cara kami agar menemukan satu jalan untuk disepakati,” jawabku.


“Nah, jalan apa yang harus kusepakati untuk pencarian celah cahaya?” tanya Elang yang kurespons hanya dengan cengiran polos.


“Apa-apaan itu?! Jangan bilang kalau kau belum merencanakan apa-apa,” kata Elang menatapku sebal.


“Kalau memang iya?”


“Sungguh, Shir?! Kau benar-benar hanya membuatku kesal!” jawab Elang mengepalkan tangannya di depan mukaku, “demi apa kau mati-matian berjuang memenangkan persaingan itu jika ternyata kau hanya ingin main-main seperti ini?!”


“Yah, berantem lagi. Sudah, dong!” lerai Sakti.


“Jangan hanya nyengir, heh! Katakan apa maumu!”


“Iya, sebentar! Aku memang belum punya dugaan tentang penyamaran iblis pencipta dunia ini apalagi petunjuk tentang celah cahaya!”


“Lalu kenapa kau sangat ingin menang dariku?!”


“Sebab aku hanya ingin kau memercayai satu hal! Kamu juga akan tetap hidup dan tidak perlu dikorbankan! Hanya itu, Lang!” jawabku.


“Itu, sih, kemauanmu dari dulu. Aku sudah tahu.”


“Tapi kamu tidak pernah mau percaya! Itu sebabnya aku ingin memenangkan persaingan itu agar kamu tidak membantahnya lagi!”


“Keherananku dari dulu masih sama, Shir. Kenapa kau begitu keras kepalanya meyakini hal itu? Padahal aku pantas ....”


“Aku juga pantas, Lang,” jawabku memotong kata-katanya, “aku juga berdosa dan pantas berakhir di sini. Itu sebabnya ketika hanya kamu yang harus dikorbankan, rasanya sangat tidak benar.”


“Jika itu benar harusnya Sakti sudah bebas sejak dulu, Shir.”


“Aku tidak memintamu membantah ya! Seberapa perlunya kamu ingin mendengar alasan lain, hah?! Memangnya kau tidak mengerti perasaanku?! Terlalu gila bila aku membiarkan orang yang berulang kali menyelamatkanku terbunuh di depan mata! Aku tak bisa tetap hidup dengan mengingat itu semua!” jawabku. Hujan perlahan mereda, tapi keinginanku untuk membuat Elang mengerti belum.


“Akan banyak yang kehilangan jika kamu tiada. Orang tuamu, guru-guru, teman-teman, Kak Garuda, semuanya. Selain itu, mustahil jika kamu tidak punya cita-cita yang ingin diwujudkan. Kamu ingin pergi sebelum ....”


“Baiklah, Shir, iya! Aku mengerti!” jawab Elang memotong kata-kataku.


“Eh? Serius, nih?! Masa tiba-tiba mengerti begitu saja?! Apa coba?!”


“Cita-citaku adalah kamu!”


Aku lebih terkejut karena Sakti menyembur tawa.


“Maksudku, cita-citaku adalah mengalahkanmu!” ralat Elang. Pantaslah Sakti tertawa, kekanakan begitu.


“Apa tidak ada yang lebih keren?” tanyaku.


“Ah, tidak! Untuk sementara ini itulah yang sangat kuinginkan! Aku merasa terhina karena kemarin terkalahkan. Papa belum berhenti meremehkanku. Sial!” jawabnya.

__ADS_1


“Nah, maka dari itu, tetaplah hidup hingga berhasil membuat papamu bangga!” jawab Sakti


“Iya, Sakti! Iya, aku sudah mengerti. Sayangnya kekesalanku masih tidak berkurang. Bagaimana kita bisa tetap hidup jika Shira belum memikirkan penyelidikan celah cahaya?” tanya Elang.


“Begini, untuk penyelidikan dan strategi mengumpulkan petunjuk kuserahkan padamu. Aku percaya kamu punya perkiraan lebih matang,” jawabku.


“Serius, nih? Kupikir ketika aku kalah aku benar-benar harus sepenuhnya tunduk dan kau tak mau mendengar rencanaku lagi.”


“Tidak juga, bagaimanapun kamu sudah berusaha memenangkan persaingan itu. Poin kita tak kalah jauh, jadi ada baiknya aku mempertimbangkan satu-dua rencanamu yang bagus.”


“Ah, itu gara-gara kamu memang belum memikirkan apa-apa!”


“Oh iya, bagaimana dengan buku lain yang milikku? Mungkin itu akan menuntun kalian semakin dekat dengan penyamaran iblis,” kata Sakti.


“Ya, aku sudah ingat pertama kali mendapatkan buku itu,” jawabku.


“Wah, aku terkejut kau mengingatnya secepat ini,” komentar Elang setengah meremehkan.


“Iya, aku memikirkannya sepanjang ujian. Ternyata buku itu merupakan hadiah lomba resensi novel dua bulan lalu, Lang. Kau ingat?”


“Sungguh? Tidak, ah! Aku sempat tahu tiga buku isi hadiahmu waktu itu, tidak ada buku kuno bersampul kulit kayu coklat. Tidak ada, Shir. Barangkali kamu lupa.”


“Benar, Lang. Memang awalnya buku itu berupa novel pada umumnya. Sempat kubawa pulang. Esok paginya kumasukkan tas, lalu setibanya di sekolah novelku tidak ada, berubah menjadi buku kuno itu.”


“Tentu saja, Shira. Buku itu punya kemampuan kamuflase, menyerupai benda di dekatnya bila ada si iblis di sekitarnya,” jawab Sakti.


“Wah, harusnya ini akan lebih mudah. Kita hanya perlu mencari tahu panitia lomba yang mengemasi hadiah-hadiah itu,” jawab Elang antusias.


“Benar, kemungkinan buku yang seharusnya memang menjadi hadiah tertukar dengan buku Sekti yang sedang berkamuflase.”


“Tenang saja, jika kamu memang memercayakan rencana penyelidikan kepadaku. Aku mulai memikirkannya!” jawab Elang antusias sekali.


 ****


“Kak, sudah sampai,” kata Ayah menyadarkanku. Tersadar dari lamunan, tiba-tiba mobil yang tadi melaju sudah berhenti di depan sekolah.


“Eh? Wah, iya ya! Kalau begitu aku pamit dulu, Yah!” jawabku kemudian mencium tangannya sebelum pergi. Aku tertegun ketika Ayah belum melepas tanganku setelahnya.


“Eh? Tenang saja, mulai sekarang aku akan menyibukkan diri biar tidak menangis-nangis lebay lagi,” jawabku tersenyum sebisa mungkin lalu pergi meninggalkan Ayah yang masih terdiam menatap setir.


Aku sempat terkejut ketika sarapan tadi pagi Ayah masih di rumah. Jelas-jelas aku jatuh tertidur setelah lelah menangis dan melewatkan momen ketika dua orang tuaku akhirnya sama-sama di rumah setelah sekian lama, tapi artiannya tetap tidak sebaik kelihatannya. Ibu berbisik agar aku tak mendengar rayuan ayah dan memintaku tinggal bersama ibu setelah mereka resmi berpisah. Sepertinya akan terjadi sengketa hak asuh, tapi satu tahun lagi aku bukan anak-anak dan boleh menentukan pilihanku sendiri ‘kan?


“Raa! Kenapa tadi papamu tidak keluar dari mobil dan menyapaku seperti kemarin? Aduh, bagaimana bisa kau menyimpan sendiri papa sekeren itu dan tidak pernah mengenalkannya kepada kami?” tanya Sindi menyambutku begitu tiba di kelas. Aku hanya memutar bola mata sebal.


“Tolong jangan terlalu berbangga diri dengan bakat genitmu itu!” jawab Elang yang kebetulan lewat menoyor kepala Sindi.


“Aduh, kenapa, sih?! Iya, deh! Kamu juga keren, kok, Laang! Jangan cemburu, dong!”


Elang hanya mengernyit jijik. Aku tak bisa menahan tawa karenanya.


Satu hari ini kami berniat lanjut menyelidiki tentang identitas penyamaran iblis, mencari tahu panitia lomba resensi yang mengemas hadiah, tapi sayangnya persiapan untuk festival budaya membuat Elang tak sempat ke mana-mana. Ia juga diminta bergabung dengan grup tari perwakilan kelas dan sempat menolak.


“Kita sudah sepakat yang mewakili kelas adalah kelompok laki-laki. Kamu laki-laki ‘kan, Lang?” kata Marvel.


“Ak ketua kelas, biar mengorganisir saja, oke?” jawab Elang nego.


“Nah, justru ketua kelas, kamu harus ada di tengah-tengah menjadi panutan kita. Ayo, Pak Ketua jangan banyak alasan!” paksa Rehan.


“Enggak, aku ....”


“Raa! Elang enggak mau gabung, nih!” kata Ardian.


“Ya terus kenapa harus laporan sama aku, heh?!” balasku tak mengerti.


Elang tak punya pilihan lain, menuruti kemauan teman-teman. Selama latihan justru dia yang banyak lupa urutan gerak tari berkelompok itu, mengacaukan formasi. Ini pertama kalinya aku melihat Elang menjadi bulan-bulanan omelan teman-teman dan itu lucu. Aku sendiri diminta membantu menyiapkan properti, tapi tidak lama karena memang tak terlalu banyak. Latihan tari itu belum juga selesai hingga tengah hari. Elang masih serius menonton video rekaman kelompoknya saat penilaian tari kelas sepuluh dulu, menghafalkan ulang gerakan demi gerakan.


Karena sudah tidak ada pekerjaan lain, kusempatkan melihat-lihat persiapan festival di halaman utama dari teras. Posisi kelasku di lantai dua membuatku bisa melihat suasana persiapan dari sudut pandang yang tepat. Tenda-tenda stan bazar mulai dipasang. Koridor kelas-kelas di sekeliling halaman utama dihias sedemikian rupa seperti galeri pameran. Kelompok ekskul tari tampak sedang latihan untuk pertunjukan utama, juga ekskul seni rupa yang membuat patung maskot sekolah untuk dipajang di gerbang depan. Padahal festival budaya masih dua hari lagi, tapi persiapan sudah dimulai semapan ini. Sekolahku memang tak pernah main-main terkait event yang mengundang tamu dari luar. Yah, semoga kejadian tidak enak yang terjadi ketika liga olahraga tidak terulang lagi.


Aku memutuskan turun, ingin segera memulai penyelidikan sendiri. Memang tidak banyak yang bisa kulakukan, tapi setidaknya ada sepotong informasi yang bisa kutemukan. Semua panitia lomba resensi itu pastinya adalah guru dan aku sedikit sedih bila harus mencurigai guru-guruku sendiri, tapi seperti kata Elang, iblis itu memang memilih penyamaran yang tepat untuk mengelabuiku.

__ADS_1


Tak berhasil menyelinap dengan berbasa-basi menanyakan remedi biologi ke ruang guru, Bu Listiyah mengusirku karena mengira mencari tahu bocoran pemenang lomba kebersihan kelas. Pada akhirnya aku tak dapat informasi apa pun selain omelan karena nilai biologiku yang tidak biasa saat UTS kemarin. Aku segera pergi sebelum tubuhku yang alergi diomeli mulai bereaksi.


“Dari mana saja?” tanya Elang ketika aku kembali ke kelas.


“Latihannya sudah selesai?” tanyaku balik. Ia menggeleng. Masih istirahat rupanya. Kuceritakan niatanku mengunjungi ruang guru tadi yang tidak berakhir bagus.


“Aku tak perlu masuk ruang guru tapi sudah tahu satu informasi penting,” jawab Elang sambil memainkan ponselnya, “kutanyakan ke Dimas, putra Bu Ningrum guru bahasa Indonesia kelas dua belas yang menjadi dewan juri lomba resensi itu. Dia turut membantu beberapa orang mengemas hadiah ... Salah satu orangnya adalah Bu Lasmi.”


 ***


Hari kedua persiapan festival, kesibukan bertambah seiring batas terakhir pengumpulan remedi. Hanya sekali geladi bersih, semuanya tenggelam dengan tagihan remedi masing-masing.


Rencanaku dan Elang untuk lanjut membuktikan penyamaran iblis itu jadi tertunda ketika kesatuan teman-teman yang remedi matematika menahanku. Sekilas semua bukti mengarah kepada Bu Lasmi, tapi akal sehatku lagi-lagi mencoba menolak dugaan itu. Memang Bu Lasmi juga turut mengemas hadiahnya, tetapi yang paling bertanggung jawab dari isi hadiah itu tetaplah dewan juri. Bu Lasmi hanya mengemas hadiah yang disiapkan. Aku sempat mencari tahu nama-nama dewan juri lomba resensi dan sekalinya tahu ... memang sepertinya tidak ada yang lebih patut dicurigai selain Bu Lasmi.


“Yes! Sudah selesai!” seru Yasinta diikuti kelegaan teman-teman lain yang juga berhasil menyelesaikan remedi matematika. Kepala mereka tergeletak di atas meja dengan asap imajiner mengepul. Karena terlalu kasihan, akulah yang mengumpulkan remedi mereka.


“Yang remedi bahasa Indonesia sudah semua, nih? Apa ada yang tertinggal?” tanya Elang.


“Sudah, Lang!” jawab Rihana mewakili yang lain.


“Eh, ke ruang guru ‘kan? Titip nih ....”


“Tidak, ayo sama-sama ke sana!” jawab Elang ketus. Aku hanya menurut melihatnya tak bisa menyembunyikan kerisauan. Semuanya masih buram sementara besok adalah puncak peperangan. Posisi pasti celah cahaya, identitas penyamaran iblis beserta catatan Sakti yang dibawanya, belum memberi titik terang hingga detik ini. Semua upaya dan rencana lagi-lagi terhalang banyak hal. Kesibukan kami di dunia nyata benar-benar membelenggu.


Beberapa anak juga keluar masuk ruang guru mengumpulkan tugas remedi, setelahnya lengang. Guru-guru lebih banyak sibuk di halaman atau di ruang ekskul binaannya masing-masing. Setelah kuletakkan lembaran remedi di meja Bu Nindra kusempatkan membantu Elang yang tak sengaja menggulingkan tumpukan buku di meja Pak Hanri. Sempat kulihat novel karya penulis idolaku di antara tumpukan buku yang jatuh tadi tercecer. Elang tak mengerti kenapa aku tiba-tiba memeluk novel ini seperti kitab suci dan terus mengoceh mengaguminya. Novel berjudul sama dengan hadiah lombaku yang hilang waktu itu diam-diam dimiliki Pak Hanri sementara aku sudah lama ingin memilikinya, huhu!


Eh, sebentar!


Aku tiba-tiba terdiam dihantam kesadaran akan dugaan mengerikan. Tidak ... tidak mungkin. Novel yang harusnya menjadi hadiah lombaku ... tertukar dengan buku Sekti yang sedang berkamuflase ... dan novel aslinya ada di meja Pak Hanri. Itu berarti ...


“Kenapa tiba-tiba diam? Sudah selesai sintingmu?” tanya Elang. Aku jatuh terduduk demi menolak dugaanku sendiri.


... itu berarti buku kuno si kembar ada bersama Pak Hanri, di sekitar buku-buku hadiah sebelum akan diserahkan kepada Bu Lasmi untuk dikemas. Bagaimana bisa seperti itu?! Bagaimana bisa buku si kembar ada pada Pak Hanri sebelum tertukar?! Tanganku terlalu gemetar. Ini bahkan jauh tak bisa dipercaya!


“Bangunlah, Shira! Ada apa?!” tanya Elang mengguncang bahuku. Ia juga mengamati novel yang tadi kugilai.


“Tidak, Lang! Tidak! Pak Hanri hanya kebetulan memiliki novel yang sama! Itu bukan berarti dia adalah iblis yang kita cari selama ini! Bukan!”


“Wah, sudah ketahuan ya!”


Romaku meremang demi mendengar suara itu. Suara Pak Hanri kali ini masih sama jernih dan ramah, tetapi yang ia katakan tadi ... tolong, bangunkan aku dari mimpi ini! Terlalu mustahil bila memang benar Pak Hanri!


Sesaat kemudian Elang sendiri terkejut novel yang dipegangnya berubah menjadi buku bersampul kulit kayu coklat yang amat familiar. Ini bukan hanya novel asli yang tertukar dengan buku Sekti, tapi justru buku Sakti yang juga berkamuflase, buku yang kali ini sedang kami cari ... serta seseorang yang mencurinya ternyata memang benar guru bahasa Indonesia kami. Elang sendiri tampak tertegun beberapa saat, tak percaya buku itu ada di meja guru yang paling ia hormati. Masih dilanda keterkejutan yang tak biasa karena kata-kata Pak Hanri sendiri, ia hanya mematung ketika Pak Hanri merebut kembali buku itu dari tangannya. Seringaiannya terlalu aneh dengan tatapan ramah yang menjatuhi kami satu per satu.


“Ternyata benar, kalian berdualah jiwa-jiwa tersesat pengunjung negeri kecilku! Hei, ada apa dengan tatapan kalian? Bukankah kalian juga penasaran dengan jati diriku? Lihat, sekarang kita sudah sama-sama tahu! Tolong, sedikitlah terkesan dan puji kehebatan saya dalam berdrama! Kalian masih diam saja?” tanya Pak Hanri kemudian terkekeh hebat.


“Siapa di antara kalian yang merupakan jiwa hitam keturunan kesatria perak? Ah, sssttt! Biar saya menebaknya. Mungkinkah Elang? Saya melihat segumpal emosi gelap membekas di hatimu. Bagaimana? Salahkah? Atau mungkin Shira? Kamu juga punya kemelut masalah yang sama kelamnya,” jawab Pak Hanri menarik daguku, memaksa mataku sejajar dengan kilauan jingga di matanya, “serta keraguan dan kelemahan dalam dirimu ini ... benar-benar sempurna!”


“Jangan sentuh Shira!” geram Elang lirih menyingkirkan tangan Pak Hanri dari daguku, membantuku berdiri. Pak Hanri tersenyum ramah seperti biasa.


“Baiklah, aku akan menyentuhmu saja!” katanya menjentik dahi Elang. Seolah diempas kekuatan besar, Elang terlempar beberapa meter menimpa deretan meja guru. Keadaan di ruangan ini menjadi kacau dalam hitungan detik. Aku tak bisa menahan jerit panik, menghampiri Elang dan sempat mencegah monitor komputer di meja yang nyaris jatuh menimpa kepalanya.


Urung berteriak minta tolong, kusadari angka detik jam digital besar di ruangan ini berhenti bergulir. Hiruk-pikuk suasana persiapan festival budaya di luar juga telah senyap. Dua anak yang lewat di koridor tampak membatu seperti maneken dengan ekspresi riang, seolah tadi sedang berbincang-bincang. Waktu terhenti entah sejak kapan, membuatku percuma berteriak minta tolong.


“Lang, bangunlah! Kau tidak apa-apa?” tanyaku cemas. Ia mengaduh pelan sambil mengelus tengkuknya.


“Wah, maaf ya, saya tidak bisa menahan diri. Terlalu penasaran berhadapan dengan orang yang diramalkan akan mengakhiri entitas negeri kelabuku, tapi ternyata kalian memang hanya anak-anak biasa. Ah, saya memang terlalu meremehkan! Barangkali kalian memang masih terkejut dan terlalu segan melawan Pak Hanri kepercayaan kalian,” kata orang itu berjalan santai mendekati kami. Tidak, Pak Hanri bukan sepertinya!


“Semoga di pertemuan kita selanjutnya kalian tidak menahan diri lagi, sebab saya akan melakukan hal yang sama, tak akan ada yang saya tahan-tahan lagi. Jangan membuat saya bosan seperti hari ini!” kata Pak Hanri berbalik pergi. Aku dan Elang masih sama-sama menunduk lesu.


“Pak ...” panggilku ragu-ragu. Langkah tenang orang itu terhenti.


“Bab satu novel yang Bapak minta sudah saya kerjakan,” ujarku memelas menatap matanya, masih berharap Pak Hanri yang biasa mencecarku menggarap novel kembali dan bilang semua ini hanya lelucon.


“Wah, akhirnya kamu mengerjakannya dengan sungguh-sungguh! Itu akan menjadi bab pertama dan terakhir yang kamu kerjakan dalam proyek ini. Sayang sekali ya!” jawab Pak Hanri menjentikkan jarinya di udara kemudian angka detik pada jam kembali bergulir, anak-anak yang berjalan di koridor sambil mengobrol melanjutkan urusannya, juga kekacauan di ruangan ini kembali rapi seolah tak pernah terjadi keributan.


Elang masih bergeming di tempatnya, tangan mengepal semakin mengeras, tiba-tiba ingin menghantam lantai dingin tapi segera kutahan. Lukanya yang tak terlihat sudah cukup menyakitkan. Aku tak ingin melihatnya terluka lebih buruk lagi.


Dengan bahu yang naik-turun ia berkata lirih, “Sejak kecil aku merindukan sosok papa yang bisa mendukungku, menghargai kerja kerasku, dan selalu mengandalkanku ... sekalinya ada, ternyata Tuhan hanya memepermainkanku.”

__ADS_1


.Bersambung.


__ADS_2