
Gianna ternyata sudah tertidur sambil memeluk Inka yang membuat Inka menggelengkan kepalanya sambil tertawa. Ia segera melepaskan pelukan Gianna dan meminta Gianna untuk memperbaiki posisi tidurnya. Gianna hanya menggumam dengan mata tertutup. Inka keluar dari kamar Gianna dan mendapati Leticia baru saja keluar dari kamar utama dengan cara mengendap-endap.
Inka dengan sigap kembali memasuki kamar Gianna tanpa menimbulkan suara. Setelah merasa situasi aman, Inka pun kembali keluar dan memasuki kamar utama. Ia tak menemukan keberadaan Kanigara di tempat itu. Ia segera menggeledah seluruh kamar dan menemukan sesuatu yang terasa janggal dan tersenyum sinis.
"Ternyata sudah dimulai, menarik!" ujar Inka sambil tertawa sinis dengan tatapan nanar seolah ingin membunuh seseorang saat itu juga. Inka bersikap biasa saat mereka sedang makan malam bersama. Leticia terus mencuri pandang ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian yang ditutupi dengan senyuman manis di bibir gadis itu. Inka yang mengetahui hal itu memilih mengabaikan tatapan musuh yang sangat ingin ia lenyapkan itu.
"Ehm, Ka..., besok temenin aku keliling nyari bunga dong!" ajak Gianna yang langsung mendapat anggukan dari Inka yang membuat Gianna berseru senang.
"Aku ikut!" seru Segara yang langsung mendapat dukungan dari Asher dan Niskala yang juga ingin ikut.
"Kalian ikut juga engga?" tanya Asher kepada Kanigara dan Leticia. Leticia menunggu jawaban Kanigara agar ia bisa memutuskan untuk ikut atau tidak.
"Kalian aja deh, kebetulan besok aku ada meeting dengan klien. Ini bos besar juga harusnya wajib ikut, tetap gapapa kali ini aku yang mewakili," ujar Kanigara sembari menyindir sang kakak yang membuat Niskala tertawa dan menepuk bahu adik kesayangannya itu untuk berterima kasih.
"Ehmm, aku juga engga ikutan deh, kan lusa aku udah balik ke London. Jadi aku milih istirahat di vila aja," ujar Leticia yang membuat Inka tersenyum sinis sambil meminum tehnya.
****
__ADS_1
"Kami berangkat dulu, Yang," ujar Inka saat Kanigara dan Leticia mengantar mereka ke depan pintu. Leticia terlihat sangat gembira dan bertindak seolah ia adalah nyonya rumah yang sedang menemani tuan rumah mengantarkan tamu mereka yang baru selesai berkunjung.
S*alan nih cewek, serasa dia pula kayak istrinya Kak Gara, gue garuk juga lu! Batin Gianna kesal karena melihat ekspresi Leticia yang sangat menjijikkan menurut dirinya. Inka tetap terlihat santai dan tak menunjukkan ekspresi apapun saat itu. Gianna mengacungkan empat jempol saat melihat pengendalian diri sahabatnya yang sangat luar biasa, karena jika bicara tentang Inka yang dulu maka saat ini gadis itu pasti akan menunjukkan wajah sedih dan putus asa karena Kanigara tak bersedia menemaninya.
Gianna dengan semangat membara menyambangi semua toko bunga yang ada di daerah yang mereka lewati. Ia juga datang ke tempat budidaya tanaman-tanaman hias. Inka, Asher, Segara dan Niskala hanya pasrah mengikuti Gianna kemana pun ia mau. Inka terlihat senang saat melihat-melihat bunga dan tanaman hias yang ada di tempat itu. Gianna membeli beberapa jenis spesies bunga dan tanaman hias yang menarik perhatiannya. Ia juga membeli beberapa lainnya untuk dikirimkan kepada pelanggan yang memesan.
Menjelang sore Inka dan keempat orang lainnya kembali ke vila. Gianna dan Inka terlihat mengobrol saat memasuki vila. Tiba-tiba Leticia muncul dengan wajah berseri menyambut mereka yang membuat Gianna mengangkat sebelah alisnya karena merasa ada yang aneh dengan gadis itu. Inka membisikkan sesuatu kepada Gianna yang membuat sahabatnya itu langsung mengangguk dan memisahkan diri dari rombongan mereka dan menuju ke suatu tempat.
Leticia memicingkan matanya melihat interaksi tak biasa yang terjadi di antara Inka dan Gianna, tetapi ia memilih untuk mengabaikannya.
Ada apa dengan perempuan ini? Kenapa tatapannya kali ini beda? Batin Leticia sembari bergidik.
"Kak Leti, ini aku ada belikan beberapa suvenir dan makanan khas sini yang bisa kakak bawa lusa ke London," ujar Inka lembut sembari memberikan sebuah paper bag kepada Leticia yang membuat Leticia terkejut, tetapi langsung tersenyum senang.
Ahhh, ternyata hanya pikiranku aja. Perempuan ini tetap perempuan polos yang gampang dipermainkan! Sayang perempuan manis kayak kamu harus aku benci, Inka! Salahkan dirimu sendiri karena berani merampas Kanigaraku! Batin Leticia penuh kebencian terhadap gadis yang sedang tersenyum manis ke arahnya itu.
"Makasih ya, Inka sayang, kamu emang baik bangettt...," ujar Leticia sembari mendekati Inka dan memeluknya. Bibir Inka bergerak tanpa suara yang merupakan sinyal bagi Gianna untuk bergerak. Gianna menyeringai puas setelah melakukan tugasnya itu. Segara yang memperhatikan kelakuan Gianna itu, hampir memprotesnya. Namun tatapan membunuh dari Gianna membuat Segara mengurungkan niatnya. Asher dan Niskala yang membahas tentang bisnis mereka, sama sekali tak melihat apa yang Gianna lakukan.
__ADS_1
Mereka mengobrol dengan santai sembari menunggu Kanigara turun dari ruang kerjanya. Tak lama suami Inka itu pun turun dan kelihatannya sudah selesai membersihkan diri. Leticia tak bisa menutupi tatapan terpesonanya saat memandangi wajah tampan dan segar sahabatnya itu. Niskala berdeham agar Leticia sadar bahwa tatapan seperti itu sudah tak pantas ia tujukan kepada Kanigara mengingat Kanigara sudah menikah dengan Inka dan gadis itu sedang duduk bersama mereka.
Leticia langsung mengalihkan perhatiannya dan pura-pura mengajak Asher untuk mengobrol.
"Gimana perburuan bunganya ada yang oke?" tanya Kanigara sembari duduk di samping Inka dan mengelus rambut istrinya itu dengan lembut yang membuat Gianna melongo tak percaya. Inka membalas perlakuan manis sang suami dengan melemparkan senyum bahagia ke arah Kanigara yang membuat Leticia menunduk sembari menggeretakkan giginya. Leticia terbakar cemburu, tetapi ia tahu jika ia sampai kelepasan maka Kanigara malah akan beralih dan membenci dirinya.
Tahan Leticia! Tahan..., batin Leticia yang berusaha menenangkan gemuruh emosi yang meliputi dirinya saat itu.
"So sweet...," seru Gianna sambil menatap Kanigara dan Inka dengan tatapan memuja yang membuat semua yang ada di ruangan itu tertawa geli, kecuali Leticia yang hanya melemparkan senyum kamuflase untuk menutupi amarahnya.
****
Malam itu Leticia merasa gelisah dalam tidurnya. Ia merasa tubuhnya terasa sangat dingin. Ia menggigil dalam kamarnya. Ia tersentak bangun dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia mematikan ac di kamarnya dan mengira dirinya mengalami demam.
Sementara itu di suatu ruangan seseorang sedang tersenyum puas sembari meminum teh chamomile kesukaannya.
****
__ADS_1