Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
31


__ADS_3

Keesokan harinya, Inka pergi ke kantor tanpa Asher karena Asher sedang meninjau proyek baru mereka bersama Oliver. Saat Inka memasuki ruangan kerjanya, ia mendapati Segara sudah berada terlebih dahulu di ruangan itu.


Segara tersenyum manis ketika melihat sahabat kecilnya itu dan mengambil sebuah paper bag dan menyerahkannya kepada Inka. Inka tersenyum samar saat melihat hasil temuan Segara.


"Cukup banyak ternyata Bu Bos, tapi semua area udah clear. CCTV tersembunyi juga udah dipasang. Cuma kita belum bisa tau siapa racun yang ada di kantor ini, karena kayaknya mereka masang hidden cameranya sebelum kamu masuk ke kantor ini," jelas Segara yang membuat Inka menganggukkan kepalanya paham.


"Ehmmm, tapi aku engga bisa bantuin kamu lagi karena lusa aku udah harus balik ke Jakarta bareng Kak Asher," lanjut Segara dengan nada penuh sesal. Inka tersenyum simpul lalu menepuk bahu Segara santai.


"Terbangkan sekretaris lamaku, cari sendiri sekretaris baru untuk kamu. Itu udah cukup. Aku udah bilang ke kak Asher, buat pindahkan Sellah ke sini. Aku butuh orang kepercayaanku untuk berada di sisiku." Perkataan Inka membuat Segara tertawa. Mereka pun kembali melanjutkan serah terima tugas mereka, karena Inka tahu Asher membutuhkan Segara untuk berada di sisinya di Jakarta secepatnya.


****


"Aku pulang," seru Inka yang langsung di sambut dengan pelukan hangat oleh sang ibu.


"Capek sayang? Mami udah masakin, masakan favorit kamu. Kamu bersih-bersih dulu gih, baru kita makan bersama," balas Elisha yang langsung dikerjakan oleh putri kesayangannya itu.


Ketika Inka memasuki ruang makan, ternyata seluruh keluarganya sudah lengkap dan duduk bersama menanti kedatangannya.


"Maaf sudah menunggu," ujar Inka lembut yang membuat Kanigara menyambutnya dan memberikan kursi untuk sang istri tepat di samping dirinya. Adegan manis nan sederhana itu tetap menjadi poin penting buat Elisha dan Oliver untuk menilai anak menantunya itu. Oliver tersenyum bahagia karena merasa penilaiannya sejak awal terhadap Kanigara tidaklah salah. Kanigara pasti bisa membahagiakan putri terkasihnya itu.


Malam itu, Oliver, Elisha dan Inka duduk bertiga di taman. Mereka ingin menghabiskan waktu mereka bersama Inka sebelum mereka kembali ke Jakarta.


"Kamu bahagia dengan pernikahan kalian, sayang?" tanya Oliver yang membuat Inka tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku bahagia, Pi. Kak Kani memperlakukan aku dengan baik dan manis. Papi sama mami liat sendiri kan?" ujar Inka yang membuat kedua orang tuanya tertawa kecil sambil menganggukkan kepalanya.


Malam itu, mereka bertiga menghabiskan waktu mereka dengan bernostalgia tentang masa kecil Inka dan Asher yang membuat rasa haru, lucu dan bahagia berbaur menjadi satu menyelimuti perasaan orang tua dan putri mereka itu. Elisha sampai menitikkan air mata yang membuat Inka memeluk sang ibu sedangkan Oliver menggenggam tangan wanita yang sudah menemaninya selama 30 tahun dalam mengarungi biduk rumah tangga mereka.


****


Keesokan harinya, hal tak terduga datang lagi. Leticia sudah duduk manis bersama Elisha. Inka terkejut saat melihat keberadaan Leticia di kediaman mereka sepagi itu. Senyuman sedih di wajah Leticia saat menatap Elisha sudah menjelaskan semuanya.


Inka mengepal tangannya sembari mendekati kedua wanita itu.


"Kak Leti, tumben pagi-pagi udah di sini?" ujar Inka dengan wajah tenang dan tak terbaca. Leticia langsung berdiri dan memeluk Inka dengan wajah sedihnya.


"Inka sayang, maafin kata-kata aku kemarin, aku tau kami salah. Kamu juga korban!" ujar Leticia sembari menitikkan air mata buayanya. Elisha melihat ke arah Inka yang mematung dengan tatapan meminta penjelasan.


Inka hanya tersenyum untuk meminta pengertian kepada sang ibu. Elisha menganggukkan kepalanya, seolah memahami arti senyum dan tatapan sang putri.


"Sepertinya, Kak Leti sudah menceritakan kejadian yang menimpa kita kepada mami. Terima kasih buat bantuannya jadi aku engga harus menjelaskan panjang lebar lagi sama mami. Ehmm, karena aku dan mami akan pergi, jadi mungkin Kak Leti bisa bertamu lain waktu," ujar Inka dengan wajah yang dihiasi senyum simpul yang membuat Leticia mengumpat dalam hatinya.


Leticia menahan amarahnya, ia tetap tersenyum lalu berpamitan dengan kedua wanita dari keluarga Alora itu.


"Jelaskan sama mami, sekarang!" ujar Elisha dengan tegas yang membuat Inka menghela nafas pelan. Ia mengajak sang ibu keluar dari kediaman mereka. Tidak ada yang membuka suara selama perjalanan mereka menuju restoran tepi pantai yang sudah direservasi Inka untuk ia dan seluruh keluarganya.


****

__ADS_1


Sesampainya di restoran, setelah mereka duduk berhadapan, Inka pun menceritakan kronologi yang terjadi pada insiden beberapa hari yang lalu itu. Elisha mendengarkan Inka dengan beragam ekspresi. Bahkan nafas sang ibu tercekat saat mendengar Seila yang mencoba menghujam tubuh Inka dengan pisau di tangannya.


Tubuh Elisha bergetar hebat setelah mendengar keseluruhan cerita Inka. Walau pun ia sudah mendengar cerita dari Leticia sebelumnya, tapi mendengarkannya langsung dari sang putri membawa efek yang lebih dramatis. Ia tak menyangka bahwa putrinya harus mengalami kejadian yang membahayakan dirinya seperti itu.


"Ja..., jadi Kanigara diam aja, kamu diperlakukan seperti itu, sayang?" tanya Elisha dengan nada kecewa. Inka berusaha menjelaskan bahwa Kanigara tak tahu menahu soal kejadian itu. Elisha berdiam diri dan mencoba menyikapi perkara itu dengan bijak.


"Baiklah, mami percaya sama kamu, sayang. Dan lebih baik kita engga nyampaikan cerita ini ke papi dan Asher, kamu tau sendiri gimana papi kamu!" ujar Elisha yang mendapatkan anggukan lega dari Inka. Ia tahu bahwa sang ibu adalah ibu yang pengertian dan sangat bijaksana. Elisha adalah wanita berkepala dingin yang mempunyai andil terbesar dalam kesuksesan Oliver selama ini, karena Elisha mampu memberikan pandangan yang objektif setiap kali Oliver membutuhkan saran terkait bisnis atau hal lainnya.


Tiba-tiba Elisha mendapat panggilan dari Oliver yang membuat Elisha meminta Inka untuk segera mengantarkannya kembali ke kediaman keluarga Janu.


"Mami, Papi harus pulang sore ini, sayangku. Ternyata besok papi ada meeting penting yang terjadi mendadak, dan papi harus hadir sebagai salah satu pemegang saham," ujar Elisha saat mereka sudah berada di dalam mobil. Inka langsung memeluk sang ibu dengan erat, karena sebenarnya ia berharap keluarganya bisa tinggal lebih lama bersama mereka di Batam.


****


Inka, Kanigara, Niskala dan Asher mengantarkan keberangkatan kedua orang tua Inka dan Asher ke Bandara. Saat di Bandara, Elisha meminta Kanigara untuk berbicara dengannya. Inka tahu alasan sang ibu meminta waktu untuk berbicara berdua dengan anak menantunya itu. Oliver hanya tersenyum maklum karena ia tahu bahwa Elisha tak akan puas bila belum memberikan wejangan pernikahan kepada Kanigara untuk menjaga Inka, sebelum kepulangan mereka ke Jakarta.


"Nak Kani, mami engga akan panjang lebar. Mami tau kejadian yang terjadi di kediaman kalian beberapa hari yang lalu dari Leticia dan mami juga udah mengkonfirmasi kebenarannya dari Inka. Mami harap yang kemarin adalah yang pertama dan terakhir,


sebagai suami kamu harus bisa menjaga Inka," ujar Elisha dengan lembut tapi penuh penekanan yang membuat Kanigara mengetahui bahwa Elisha sedang memperingatkan dan menegur dirinya secara bersamaan.


Kanigara mengangguk mantap dengan tatapan yang teguh untuk menjawab perkataan dari sang ibu mertuanya. Ia pun tak berusaha membela diri dan mengatakan bahwa sebenarnya di hari yang sama ia sudah menelepon Asher untuk memberitahukan kejadian yang terjadi di kediaman mereka yang sempat membuat Asher berang dan memaki dirinya, sembari mengancam untuk membawa Inka kembali ke Jakarta bila Kanigara tak mampu menjaga adik kecilnya itu.


"Satu lagi, jangan tidur pisah ranjang lagi!"

__ADS_1


Deg!!!


****


__ADS_2