
Pagi itu suasana di ruang makan sedikit suram karena Kanigara dan Inka sedang terlibat perang dingin, yang menyebabkan Niskala menghela nafas beberapa kali dan akhirnya ditegur oleh Kanigara.
"Butuh oksigen tambahan kak? Makan kok engga bisa tenang?" gerutu Kanigara yang membuat Niskala tertawa geli dan mendapatkan pelototan dari sang adik. Inka tetap memilih diam karena merasa Kanigara mulai bersikap arogan dan mengatur hidupnya. Padahal perjanjian mereka sudah sangat jelas bahwa tak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing dengan catatan kedua belah pihak berkewajiban menjadi martabat dan nama baik keluarga.
Inka hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa minat yang membuat Kanigara berdecak kesal.
"Kalo engga niat makan, jangan di sini!" ujar Kanigara ketus yang membuat Inka menoleh ke arahnya. Awalnya Inka tak ingin melawan sang suami apalagi di depan Niskala dan seluruh staf yang berada di ruang makan itu. Namun Inka berubah pikiran. Gadis itu tertawa dalam hatinya.
"Maaf, apa Kak Kani ngomong sama aku?" tanya Inka sembari menatap Kanigara dengan tajam yang membuat Kanigara terkejut dengan keberanian sang istri.
"Iya! Kalo emang engga niat makan, engga usah makan sekalian!" bentak Kanigara yang membuat seseorang bersorak senang dalam hatinya.
Dia sudah mulai kehilangan akal rupanya, bagus rencanaku berjalan lancar.
"Sudah, sudah..., Inka apa makanannya engga sesuai dengan lidah kamu? Atau perut kamu sakit lagikah?" Niskala berusaha menengahi suami istri yang sedang bersitegang itu.
"Makanannya enak kok kak, cuma aku aja yang lagi engga selera makan. Maaf ya kak, aku permisi duluan mau ke kamar," ujar Inka sopan sembari menatap sinis ke arah Kanigara yang membuat lelaki itu menatap Inka seolah ingin mencekik istrinya itu.
****
"Apa itu cewek salah makan ya? Tumben berani mendebat aku!" ujar Kanigara kesal saat ia dan Niskala sudah berada di dalam mobil.
"Mungkin dia bosan karena biasanya Inka itu kan kerja. Atau kamu ada ngomong sesuatu yang buat dia kesal engga?" tanya Niskala yang membuat Kanigara terdiam dan mengingat kejadian tadi malam.
Apa aku keterlaluan ya? Batin Kanigara.
Sementara di dalam kamar, Inka terlihat tenang menikmati teh chamomilenya sembari memikirkan langkah selanjutnya. Ia merasa ada yang janggal, tetapi ia tidak mengetahui apa yang salah. Inka membuka laptop miliknya dan mulai mengecek sesuatu.
__ADS_1
"Tak ada yang aneh, ketiga orang itu melakukan semua seperti biasa bahkan sama sekali tak mendekati dapur. Jadi siapa? Apa ada tokoh baru yang harus aku waspadai?" ujar Inka bermonolog.
Saat Inka sedang memikirkan semuanya, tiba-tiba terdengar ketukan pada pintu kamarnya.
"Masuk!" ujar Inka sembari menutup laptop miliknya.
"Nona Muda, Mba Rima sudah sampai," ujar Seila sambil tersenyum. Inka meminta agar Seila membawa Rima ke kamarnya.
"Nona Muda, saya kangennn!" ujar Rima yang langsung mendapat pelukan hangat dari sang nyonya.
"Aku juga, Rim. Untunglah kamu di sini sekarang," ujar Inka sembari tersenyum hangat. Inka memperkenalkan Rima kepada seluruh staf yang ada di kediaman keluarga Janu. Rima mendapat kamar yang sama dengan Seila karena Bik Marni sudah sekamar dengan Riska.
"Rim, boleh aku minta tolong sesuatu?" tanya Inka saat ia hanya berdua di kamar. Staf pribadinya itu langsung menganggukkan kepala dengan cepat. Inka menceritakan detailnya kepada Rima. Rima sedikit terkejut dengan permintaan Inka, tetapi gadis itu langsung menerima tugas yang diberikan oleh sang nyonya tanpa bertanya apapun. Ia selalu tahu bila Inka bertindak atau meminta sesuatu kepada Rima pasti ada alasan yang kuat di baliknya.
****
"Oke Ris, aku ke sana sekarang. Makasih," ujar Inka sambil tersenyum. Rima mengikuti sang nyonya mudanya dengan tenang. Rima tersenyum saat melewati Riska tapi anehnya wanita itu hanya diam dan menatapnya lekat yang membuat Rima merasa aneh.
Apa aku melakukan kesalahan? Batin Rima karena sewaktu pertama kali diperkenalkan tadi, Riska terlihat ramah. Namun kini perasaan bersahabat itu menguap begitu saja.
Inka mengetuk pintu kamar Kanigara dan membukanya setelah mendengar jawaban dari dalam ruangan.
"Kak, kenalin ini Rima staf pribadi aku selama ini," ujar Inka.
"Selamat malam Tuan Muda, saya Rima," timpal Rima. Kanigara hanya mengangguk dan menyalami gadis muda itu. Rima langsung pamit undur diri setelah perkenalan singkat dengan Tuan Muda barunya itu.
"Duduk," ujar Kanigara mempersilakan Inka duduk di sofa yang ada di depannya.
__ADS_1
"Ehmmm, aku mau minta maaf soal kejadian semalam. Aku tau mungkin aku sedikit keterlaluan," ujar Kanigara memulai pembicaraan mereka. Inka merasa Kanigara yang ia kenal kini terlihat semakin aneh di mata Inka. Lelaki yang bahkan tak pernah meminta maaf sekali pun kepada Inka selama kehidupan pertamanya dan tega mengurung Inka di kamar sempit saat penyakit Inka semakin parah, kini meminta maaf kepadanya. Inka merasa tak tahu harus bersikap bagaimana, air mata tertahan yang sudah ia pendam selama sebelas tahun tertumpah tanpa bisa ia tahan.
Kanigara terkejut dengan reaksi yang diperlihatkan oleh sang istri. Kanigara yang tak pernah berurusan dengan air mata wanita terlihat kebingungan bagaimana harus bersikap. Kanigara berlutut di hadapan Inka, dan berinisiatif memeluk istrinya itu. Ia tak menemukan kata-kata yang tepat untuk menghibur Inka, sehingga ia mengekspresikannya melalui tindakan.
Inka sempat terkejut saat Kanigara memeluknya, bahkan ia sempat ingin mendorong tubuh lelaki yang banyak menorehkan luka di hatinya itu. Namun entah kenapa tubuhnya menolak perintah untuk melakukan hal itu.
Bolehkah sekali ini saja Tuhan, aku menjadi egois dan merasakan kenyamanan sesaat dari pelukan suamiku? Andai dari kehidupan pertama perlakuan seperti ini yang aku terima, maka aku akan mati bahagia! batin Inka dengan suara tangisan yang terdengar sangat memilukan seolah semua perasaan sakit itu memaksa keluar dan menyelimuti raga Inka saat itu.
****
Kanigara tak bisa tidur malam itu, tangisan Inka yang menyayat hati itu masih terngiang dalam benaknya. Ia seolah bisa merasakan sebuah perasaan sakit saat mendengar tangisan dari sang istri.
Kenapa ia menangis sepilu itu? Apakah kata-kataku sebegitu kasarnya sampai tangisannya malah membuat hatiku ikut pedih? pikir Kanigara sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Si, siapa itu? Siapa kamu?" ujar Kanigara dengan tatapan nanar.
"Tolong aku, Kanigara!" ujar suara lirih yang sedang berada dalam kungkungan api yang membumbung tinggi. Kanigara merasa tercekik melihat pemandangan itu. Pemandangan itu semakin jauh dengan tangisan dan jeritan yang memilukan hati. Kanigara meremas dadanya yang terasa sakit.
"Inka!!!" seru Kanigara dengan peluh yang menetes dari dahinya. Ia terbangun dari mimpi buruk yang terasa sangat nyata itu.
"Inka," ujar Kanigara lirih yang langsung lompat dari tempat tidurnya menuju kamar Inka. Ia membuka pintu penghubung kamar mereka dengan terburu-buru. Nafasnya memburu karena kekhawatirannya terhadap sang istri. Ia menghela nafas lega saat melihat Inka sedang tertidur pulas di ranjangnya. Ia mendekati gadis itu dan menatap Inka dengan lekat.
Ingatannya tentang mimpi buruknya tadi kembali menghantui. Ia berusaha mengingat kembali mimpi yang terasa nyata itu. Ia menutup matanya dan terlintas wajah Inka yang terlihat begitu kesakitan karena berada dalam kobaran api yang membakar tubuhnya.
"Gadis itu, Inka...?"
****
__ADS_1