Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
07


__ADS_3

Akhirnya hari dimana Kanigara datang melamar pun tiba. Keluarga Alora sudah mempersiapkan penyambutan untuk Kanigara dan keluarganya sejak tadi pagi.


"Inka, kenapa kamu lama banget, sayang? Kanigara sama keluarganya udah hampir sampai loh," ujar Elisha saat memeriksa keadaan Inka di kamarnya.


"Inka udah siap dari tadi, Mi. Tapi aku tunggu di kamar aja gapapa ya?" ujar Inka yang membuat Elisha tersenyum maklum. Ia membiarkan Inka mengambil waktu untuk dirinya sendiri karena saat itu Inka terlihat sedikit gugup. Setelah mencium puncak kepala putrinya itu, Elisha meninggalkan Inka sendiri.


Inka kembali menatap cermin yang ada di depannya. Ia menghela nafas panjang, dan mengelus cermin dimana wajahnya kembali terlihat sendu. Inka menutup matanya dan merafalkan kata-kata penyemangat untuk dirinya. Ia tahu bahwa opsi "mundur" tak akan pernah ia ambil. Begitu ia menjatuhkan pilihan maka ia harus menjalankan keputusannya itu dengan sepenuh hati.


"Sekali lagi, Inka. Hiduplah dengan bahagia, kali ini."


Air mata kembali membasahi pipinya.


****


"Ehm, saya ingin pernikahan sederhana, tertutup dan hanya dihadiri oleh keluarga aj...," ujar Inka terputus karena kata-katanya langsung dipotong oleh Kanigara. Saat itu keluarga dari kedua belah pihak, baik keluarga Inka maupun Kanigara sudah berkumpul di ruang tamu di kediaman Alora.


"Oke!" balas Kanigara yang membuat Inka menghela nafas pelan.


"Saya ingin pernikahan ini dilaksanakan di Jak...," lanjut Inka yang lagi-lagi dipotong oleh Kanigara.


"Oke!" timpal Kanigara yang membuat kedua belah pihak keluarga mereka tertawa. Inka menatap Kanigara dengan tatapan kesal yang membuat Kanigara tersenyum sinis.


Ini orang maunya apa sih? Orang belum siap ngomong juga! Tapi kenapa dia kelihatan berbeda dengan yang aku kenal dulu ya? batin Inka sembari menatap Kanigara sedikit lebih lama yang membuat Kanigara kembali menoleh ke arahnya. Inka langsung mengalihkan pandangannya yang membuat Kanigara mendengus pelan.


Setelah beberapa pembicaraan tentang poin penting terkait pernikahan mereka, akhirnya Kanigara menyematkan cincin di jari Inka sebagai pengikat bahwa saat itu juga ia telah menjadi tunangan resmi dari lelaki itu.


****


"Boleh tau kenapa kamu melamar aku?" tanya Kanigara saat mereka ditinggal berdua di taman. Inka menarik nafas pelan, sebelum menjawab pertanyaan dari calon suaminya itu.


"Kalo aku bilang aku jatuh cinta sama kamu sejak lama, apa kamu bakalan percaya sama aku?" balas Inka yang memilih bersikap jujur. Kanigara sedikit terkejut dengan penuturan Inka, tetapi ia mampu menjaga raut wajahnya tetap datar sehingga Inka sama sekali tak bisa menebak isi pikirannya. Inka memberanikan diri menatap Kanigara, seolah sedang menunggu jawaban dari lelaki itu.


Tatapan mereka bersirobok, Kanigara bisa melihat warna bola mata Inka yang berwarna coklat muda dengan sangat jelas.


Ternyata memang berwarna coklat muda, batin Kanigara karena sejak pertemuan mereka di restoran saat itu, ia melihat bahwa warna mata gadis itu berbeda. Wajah Inka sedikit memerah karena tatapan intens Kanigara, yang membuat lelaki itu tersenyum mencemooh.

__ADS_1


"Aku percaya," ujar Kanigara pada akhirnya yang membuat Inka bernafas lega. Kanigara kembali menatap Inka seakan ingin menanyakan sesuatu.


"Kamu tau darimana aku alergi kepiting?" tanya Kanigara yang membuat Inka tersenyum simpul. Ia tahu baru pertanyaan itu pasti akan diajukan oleh Kanigara, mengingat raut wajah terkejut yang ditunjukkan oleh Kanigara kala itu.


"Dari mami, aku pernah dengar waktu dulu kamu ke sini. Mami ngomong sama kepala koki, kalo jangan memasak hidangan berbahan kepiting karena kamu alergi." Kanigara menatap wajah calon istrinya itu untuk mendeteksi kebohongan yang mungkin sedang dilakukan oleh Inka. Namun wajah tenang Inka membuat Kanigara kembali mempercayai perkataan gadis itu.


****


"Wawwww, calon nyonya muda keluarga Janu, kenapa hari ini keliatan makin cakep ya?" goda Gianna saat ia berkunjung ke kediaman Alora keesokan harinya. Inka hanya tersenyum simpul sambil melihat cincin berlian yang ada di jarinya. Ia bersyukur tadi malam ia sama sekali tak merasakan perasaan tertekan yang ia alami saat bertemu dengan Kanigara pertama kali setelah kehidupan keduanya. Ia juga bisa tidur dengan nyenyak tanpa mengkonsumsi obat penenangnya.


"Perempuan iblis itu, masih ada di London. Kayaknya dia belum dengar kabar pertunangan kalian," jelas Gianna dengan raut wajah serius. Inka mengangguk paham dan meminta Gianna untuk mempersiapkan sesuatu yang akan segera diperlukannya begitu memasuki kediaman keluarga Janu sebagai istri sah dari Kanigara.


"Hahhh, seriusan kamu, Ka?" tanya Gianna tak percaya. Inka kembali menganggukkan kepalanya dan menatap Gianna dengan tegas, seolah ia tak ingin sahabatnya itu mempertanyakan keputusannya. Gianna menghela nafas berat, lalu menghubungi seseorang.


Tiba-tiba ponsel milik Inka berbunyi, ia melihat nomor tak dikenal muncul di layar ponsel itu. Ia mengangkat panggilan itu, setelah berdiam diri beberapa saat. Gianna hampir saja mengangkat panggilan itu karena melihat Inka yang hanya mematung menatap ponselnya.


"Halo," ujar Inka datar.


"Ini nomor aku, save ya!" Terdengar suara seorang laki-laki yang tak asing di telinga Inka.


Gianna menatap Inka dengan sorot mata penasaran.


"Kanigara...," ujar Inka singkat yang membuat Gianna memandangnya dengan tatapan tak percaya.


"Trus kenapa langsung kamu matiin telponnya, Inkaaa?" tanya Gianna yang semakin gregetan melihat tingkah sahabatnya itu.


"Dia cuma suruh save nomornya, Gigi sayang! Kan aku udah jawab iya, jadi mau ngomong apa lagi?" balas Inka yang membuat Gianna mencebik kesal. Inka merasa dulu ia begitu bodoh karena menggunakan gaya roman picisan untuk mendapatkan hati Kanigara yang dingin itu. Dia bukan Inka yang dulu, ia tak akan menggunakan metode yang sama lagi.


****


Sementara dalam ruangan kerjanya, Kanigara mengumpat kesal karena tak percaya Inka memutuskan panggilannya saat Kanigara belum selesai berbicara, padahal lelaki itu sudah meluangkan waktu untuk menghubungi calon istrinya itu, di sela jadwalnya yang padat. Jordan yang berada di ruangan yang sama dengan Kanigara, memilih untuk diam karena melihat raut wajah Kanigara yang tak biasa.


"Apa-apaan perempuan itu?! Arghh!" seru Kanigara sembari menatap ke arah ponselnya. Lalu ia menoleh ke arah Jordan, yang membuat Jordan langsung waspada. Tatapan Kanigara sarat akan emosi, membuat Jordan memilih berhati-hati dalam bersikap, salah sedikit ia bisa jadi sasaran empuk kemarahan sang bos.


"Carikan saya semua informasi tentang Inka Alora!" Jordan mengangguk paham dan tersenyum samar karena ia tak perlu bersusah payah untuk mencari informasi tentang Inka karena sang kakak dan Gianna adalah orang yang paling mengetahui banyak hal tentang calon istri atasannya itu dan Jordan tahu mereka akan dengan suka rela memberikan informasi itu bila ia yang memintanya.

__ADS_1


****


Beberapa hari kemudian, Inka sengaja mengirimkan pesan kepada Kanigara yang membuat dahi lelaki itu berkerut.


Kamu lagi dimana? Ayo bertemu!


Kanigara segera menelepon Inka.


"Aku masih di Batam, tiga hari lagi aku baru ke Jakarta. Apa ada yang penting, makanya kamu ngajak ketemuan?" tanya Kanigara.


"Engga, cuma rindu!" ujar Inka santai yang membuat Kanigara meragukan pendengarannya.


"Kamu bilang apa barusan?" tanya Kanigara untuk memastikan bahwa telinganya masih baik-baik saja.


"Aku rindu!" ujar Inka dan kembali memutuskan panggilannya secara sepihak yang membuat Kanigara tak tahu harus bersikap bagaimana.


"S*alan, kayaknya nih perempuan mau mempermainkan seorang Kanigara! Tunggu aja pembalasanku, Inka Alora!" gumam Kanigara yang sudah tak sabar untuk mengajari Inka tentang etika yang baik dalam melakukan percakapan via ponsel.


****


Kanigara memperhatikan Inka yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Inka terlihat segar dan manis, hari itu ia mengenakan gaun santai berwarna soft pink senada dengan pita yang menghiasi rambutnya yang diikat dengan model pony tail.


"Maaf menunggu lama, Kak," ujar Inka sopan yang membuat Kanigara menaikkan alisnya karena mendengar sapaan tak biasa dari Inka.


Kak? Tumben! batin Kanigara yang masih mengikuti permainan yang sedang dimainkan oleh calon istrinya itu. Mereka bersantap siang dalam diam di restoran yang dipilihkan oleh Kanigara. Kanigara terus memperhatikan gerak-gerik Inka yang terlihat sangat tenang. Kanigara mengetahui sejatinya, Inka adalah gadis yang pendiam dan tak suka dengan keramaian. Namun Kanigara baru mengetahui sisi lain Inka, pada saat Oliver melamarnya untuk putri kesayangannya itu. Ia tak pernah menyangka bahwa gadis itu memiliki keberanian meminang seorang Kanigara Janu yang terkenal dingin.


"Inka, setelah kita menikah kamu harus ikut aku untuk tinggal di Batam. Apa kamu keberatan?" tanya Kanigara.


"Tidak, bukannya emang seorang istri harus ikut suami." Jawaban Inka membuat Kanigara mengangguk kepalanya.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan kamu?"


"Aku bisa handle cabang yang ada di Batam. Kakak tidak masalah punya istri yang bekerja kan?" tanya Inka karena di kehidupannya dulu Kanigara meminta dirinya hanya duduk manis di rumah dan menunggu lelaki itu pulang. Kanigara kembali mengangguk, yang membuat Inka bernafas lega.


"Yang terakhir, aku tak ingin punya anak!"

__ADS_1


****


__ADS_2