
Keempat orang lainnya terkejut mendengar perkataan Inka itu. Tak ada satu orang pun yang menyentuh gelas teh yang berada di hadapan mereka. Wajah Kanigara menggelap, ia berseru dengan suara nyaring yang membuat seluruh staf di rumah itu terkejut.
"SIAPA YANG MEMBUAT TEH INI?!" Pak Gugun dan seluruh staf segera berkumpul di taman dengan wajah ketakutan.
"AKU ULANGI SIAPA YANG MEMBUAT TEH INI?" seru Kanigara murka. Inka mendekati Kanigara dan memegang tangan sang suami untuk menenangkannya.
"Sa..., saya yang membuatnya, Tuan Muda Kedua...," ujar Murni dengan sedikit takut. Kanigara yang ingin mendekati Murni langsung dihalangi oleh Inka. Inka melihat Kanigara dengan tatapan memohon yang membuat Kanigara menghela nafas panjang.
Ia mengalah dan membiarkan Inka mengambil alih interogasi yang ingin Kanigara lakukan. Murni meremas kantong setelan kerjanya dengan cemas, kala Inka mendekatinya secara perlahan.
"Murni, boleh saya tetap mempercayai kamu?" tanya Inka lembut yang membuat Murni terkejut.
"Te..., tentu saja nyonya. Saya tak mungkin mengkhianati Tuan dan Nyonya yang sudah bersikap sangat baik kepada saya selama ini," ujar Murni dengan tatapan teguh yang membuat Inka berdiam diri.
"Jika saya meminta kamu meminum teh ini, apakah kamu bersedia meminumnya?" tanya Inka untuk memastikan kebenaran perkataan staf mereka itu. Inka menyodorkan gelas teh yang berada di depannya.
Dengan segera, Murni mengambil gelas itu dan terlihat akan meminum teh itu tanpa ragu. Semua orang yang ada di situ terkejut dengan perkataan Inka maupun perbuatan Murni. Namun, sebelum Murni meminum teh itu, seseorang berteriak dan menyenggol gelas yang berada di tangan Murni hingga jatuh dan pecah.
Inka tersenyum sinis lalu menatap orang yang saat ini berada di antara dirinya dan Murni.
"Boleh tau kenapa kamu melakukan itu, Mas Purwa?" tanya Inka pada lelaki yang merupakan tukang kebun di kediaman itu. Purwa hanya menunduk dan tak berani menjawab pertanyaan majikannya itu.
"KAU BERANI MERACUNI KAMIIII?" teriak Kanigara secara tiba-tiba sembari melayangkan tinjunya yang bersarang di pipi lelaki yang lebih tua dari dirinya itu. Ia tak menyangka ada begitu banyak pengkhianat di kediamannya.
"Maa, maaf, sa..., saya tidak mengerti apa yang Tuan Muda Kedua bicarakan?! Sa..., saya cuma takut Nyonya Muda Kedua mencoba meracuni Murni. Saya cinta sama Murni!" ujar lelaki yang sudah jatuh tersungkur akibat pukulan keras dari suami Inka itu.
__ADS_1
Sementara Kanigara menginterogasi Purwa, Inka mengecek semua gelas dan teko yang ada di meja mereka dan menemukan bahwa lelaki itu hanya memasukkan racun ke dalam gelas yang ada di hadapan Inka saja.
"Baiklah, kalo begitu penjelasan Mas Purwa apakah Masnya bersedia menggantikan Murni untuk meminum teh yang sudah dibuatnya untuk kami. Bagaimana?" Inka memberikan penawaran kepada Purwa yang membuat lelaki itu terkejut.
Ia menjadi ragu apakah gelas yang diserahkan oleh Inka ke Murni tadi merupakan gelas yang memang ditujukan kepada Inka. Purwa mematung dengan tatapan takut yang tercetak nyata di wajahnya.
Inka menyodorkan gelas yang ada di tangannya kepada Purwa yang membuat lelaki pucat pasi. Inka mencibir lalu menatap Purwa dengan pandangan lekat yang membuat Purwa menjadi waspada. Niskala, Asher dan Melanie sejak tadi memilih berdiam diri karena mereka tahu bahwa Inka bisa mengatasi masalah itu dengan baik.
****
Pihak kepolisian sudah datang dan menangkap Purwa. Murni masih kelihatan terpukul atas kejadian tadi. Ia tak menyangka bahwa Purwa tega menggunakan teh yang dibuat olehnya untuk meracuni majikan mereka.
Selama ini, Murni menyangka bahwa Purwa tulus mendekati dirinya karena memang mencintai Murni. Purwa bahkan berjanji akan menikahi Murni enam bulan lagi, menunggu tabungan Purwa cukup untuk menikahi Murni. Murni mempercayai perkataan Purwa dengan setulus hati, tetapi lelaki itu ternyata hanya memanfaatkan dirinya.
"I..., iya..., Nyonya Muda, saya tahu Nyonya engga akan mungkin membunuh saya." Perkataan Murni itu membuat Inka tersenyum.
Sementara itu, Kanigara menyuruh semua stafnya untuk tetap tinggal di taman sementara mereka menggeledah kamar seluruh staf kediaman mereka satu per satu. Kanigara, Niskala dan Asher terlihat murka atas apa yang terus menimpa keluarga mereka terutama Inka.
Kali ini mereka berjanji dalam hati mereka masing-masing untuk menumpas musuh yang terus meneror dan mencoba mencelakai keluarga mereka.
"Max, segera berangkat ke Batam! Persiapkan semua dengan baik!" ujar Asher saat menghubungi bawahannya itu. Ia merasa sudah waktunya Inka memiliki tangan kanan yang bisa Asher percaya untuk menjaga Inka di Batam.
"Baik, Pak Asher, saya akan segera berangkat!" ujar Max yang membuat Asher menghela nafas panjang.
****
__ADS_1
"Apaaaa??? Purwa ketangkap? Dasar tolol! Dikasih kerjaan gampang aja engga becus! Heran kenapa sekarang perempuan m*rahan itu jadi pintar banget ya? Padahal menurut informasi yang aku terima, Inka itu adalah perempuan polos yang kurang pergaulan," ujar Leticia saat ia sedang berada di kamarnya bersama Bimantara.
"Sayang, harusnya kamu bisa belajar dari kesalahan yang aku lakuin kemarin. Inka itu seorang perempuan yang tak biasa! Seolah ia bisa membaca semua rencana kita dengan baik, kita harus lebih berhati-hati agar tak salah melangkah lagi. Untuk sementara waktu, lebih baik kita berdiam diri dulu sembari menyusun rencana baru yang lebih matang!" balas Bimantara sembari mengelus pipi mulus dari istrinya itu.
Sentuhan itu membuat Leticia bergidik jijik. Tetapi lelaki itu menanggapi reaksi Leticia itu dengan pemikiran yang berbeda. Ia berpikir bahwa Leticia menikmati sentuhannya dan reaksi Leticia itu adalah undangan untuk Bimantara.
Leticia terpaksa meladeni keinginan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Walau ia merasa jijik dan enggan setiap kali Bimantara menyentuh tubuhnya. Jika rencananya berhasil, Leticia sudah akan merayakan kemenangannya dan bermimpi akan segera meninggalkan Bimantara.
Ia tak bisa lebih lama tinggal dengan lelaki yang sama sekali tak dicintainya. Lagi pula ia masih menyimpan dendam karena Bimantara telah menodai dirinya, dan menyebabkan Leticia terpaksa setuju menikah dengannya dan menjauhkan Leticia dari Kanigara.
Suatu saat nanti, aku akan membunuhmu, Bimantara! Kau hanya alat untuk mencapai tujuanku! batin Leticia sembari menahan diri di tengah "gempuran" Bimantara malam itu.
****
"Inka, bisa kita bicara, sebentar?!" ujar Niskala saat ia sudah berada di ruang pribadi Inka malam itu.
"Boleh kak, kakak mau bicara tentang apa?" tanya Inka yang terlihat tenang tetapi sebenarnya waspada karena ia merasa Niskala pasti datang untuk membahas masalah yang terjadi tadi.
"Inka, apakah kamu pernah mempelajari tentang racun, adik kecil?" tanya Niskala, sambil tersenyum simpul. Inka hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari kakak iparnya itu.
Niskala menghela nafas pelan dan menatap Inka dengan lekat, sebelum akhirnya kembali bersuara.
"Mau sampai kapan kamu menyembunyikan semuanya dari kami? Dan akan sejauh mana balas dendam yang ingin kamu lakukan, adik kecil?"
****
__ADS_1