Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
59


__ADS_3

Inka terkejut mendengar perkataan Niskala, tetapi ia tahu bahwa suatu saat baik Niskala, Kanigara maupun keluarganya akan mengetahui segala rahasia yang ia simpan. Ia hanya tak menyangka Niskala akan datang dan bertanya tentang hal itu secepat ini.


Inka bersiap untuk menjawab pertanyaan dari sang kakak ipar. Ia tahu bahwa malam itu, ia harus menjawab jujur pertanyaan Niskala karena merasa lelaki yang ada di hadapannya itu mengetahui sesuatu.


"Aku tak bermaksud merahasiakan apapun kak, ini perjuangan aku! Aku hanya tak mengatakan apapun karena tak ingin melibatkan orang lain dan membuatnya terluka," ujar Inka apa adanya.


Niskala menghela nafas berat dan menatap Inka dengan lekat.


"Apakah kami adalah orang lain bagi kamu? Asher, Kanigara dan aku?" tanya Niskala yang membuat Inka terdiam. Ia tak akan mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Niskala. Lelaki manapun pasti akan mengatakan bahwa saat itu Inka pasti berhalusinasi atau mengalami gangguan jiwa.


Ia tak ingin mengambil resiko di mana lawannya akan memanfaatkan kesempatan seperti ini untuk menjauhkan Inka dan keluarganya. Ia tak ingin kejadian dimana Kanigara menganggapnya memiliki gangguan jiwa terulang lagi, bila ia menceritakan semuanya kepada Niskala karena Niskala pasti akan menceritakan hal itu kepada Kanigara.


"Masih tak mau berbagi rahasia dengan kakak?" tanya Niskala seolah ia bisa melihat isi pikiran Inka.


"Gimana kalo kakak yang berbagi rahasia dengan kamu?" ujar Niskala dan mulai menceritakan kisahnya yang membuat Inka membelalak dan tak menyangka bahwa hal seperti itu akan terjadi pada Niskala.


"Kakak, engga lagi membualkan?" tanya Inka memastikan yang membuat Niskala tertawa.


"Menurut kamu?" tanya Niskala dengan wajah yang tidak bisa dibaca oleh Inka. Inka menimbang dalam hatinya terlebih dahulu, sebelum menjawab sang kakak ipar.


"Real?!" ujar Inka ragu yang membuat Niskala tertawa. Niskala tak menjawab perkataan ambigu yang keluar dari mulut gadis yang sudah menjadi adik iparnya itu. Ia hanya mengelus kepala Inka dengan lembut, sembari meninggalkan ruangan pribadi Inka.

__ADS_1


"Tanya Gianna!" Hanya itu petunjuk yang diberikan oleh Niskala yang membuat Inka langsung menghubungi sahabatnya itu.


****


"Apa?! Udah berapa lama kamu tau, mak? Kenapa engga cerita?!" seru Inka saat panggilannya terhubung dengan Gianna.


"Ya ampun nakkk, kagak usah pake tereak juga! Sakit kuping aku!" seru Gianna sembari menjauhkan ponsel yang ada ditangannya agar tak mendengar teriakan Inka yang menggelegar. Gianna pun menceritakan semuanya pada Inka, yang membuat Inka kembali terguncang.


Ia tak menyangka bahwa selama ini ia tak sendiri, Niskala banyak membantu dirinya. Niskala ternyata terus memperhatikan gerak-gerik Inka selama ini. Ia tak tahu bahwa kakak iparnya mengetahui rahasianya sejak awal.


"Jadi kenapa kamu nggak pernah cerita ke aku, mak? Kak Niska tadi tiba-tiba datang ke ruangan aku, terus nanyain tentang rahasia kita!" Perkataan Inka membuat Gianna merasa bersalah dan meminta maaf kepada sahabatnya itu, lalu menceritakan bahwa Niskalalah yang meminta Gianna untuk tetap diam. Niskala mengatakan bahwa ia masih menunggu kejujuran Inka.


Inka tak tahu harus berkata apa mendengar perkataan sahabatnya itu. Ia merasa bahwa kali ini, ia harus mengatakan yang sebenarnya kepada Niskala, apapun reaksi yang akan diberikan oleh kakak iparnya itu. Inka tahu bahwa Ia tak mungkin lagi menyembunyikan kebenaran yang ia tutupi selama ini.


"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya," ujar Inka yang membuat Niskala tersenyum simpul. Inka pun menceritakan semua kisahnya, mulai dari kehidupan pertama hingga kehidupan keduanya. Niskala mendengarkan perkataan Inka dalam diam. Ia sama sekali tidak memotong penjelasan dari sang adik ipar. Ia dengan sabar menunggu hingga Inka selesai menceritakan tentang kisahnya.


Setelah Inka selesai, Niskala berdiri dan mendekati Inka, lalu memeluk gadis itu dengan erat sembari meminta maaf karena di kehidupan pertama Inka, Niskala sama sekali tidak membantu kesulitan Inka hingga akhirnya Inka terpaksa meregang nyawa dengan dibakar hidup-hidup di vila milik mereka.


Inka melepas semua rasa sakitnya dengan menangis di pelukan Niskala. Ia merasa semua beban yang ada di pundaknya, seolah terangkat setelah Inka bersikap jujur kepada Niskala. Ia tahu bahwa Ia membutuhkan bantuan Niskala untuk mencapai tujuannya.


Niskala adalah sosok yang tepat untuk membagi semua keresahan yang ia rasakan selama ini. Inka sudah pernah berpikir untuk bersikap jujur kepada Niskala dan menjadikan sang kakak ipar sebagai sekutunya. Inka merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk meminta bantuan dari orang lain yang ia tahu sangat memperdulikan dirinya.

__ADS_1


Niskala berusaha menenangkan Inka, setelah Inka tenang, mereka mengobrol selama beberapa saat, sebelum akhirnya Inka kembali ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Inka mendapati bahwa sang suami tengah menunggu kehadirannya. Inka sedikit kikuk karena mendapat tatapan aneh dari seorang Kanigara.


"Kamu dari mana aja? Aku cari kamu ke ruangan kamu, tapi kamu tidak ada!" tanya Kanigara yang terlihat dingin. Hal itu membuat Inka merasa sedikit aneh karena biasanya Kanigara selalu bersikap hangat kepadanya akhir-akhir ini, tetapi tatapan yang ditunjukkan Kanigara saat itu adalah tatapan menuduh, yang membuat Inka merasa tidak nyaman.


"Aku baru dari taman, sayang. Aku merasa sedikit penat jadi aku mencoba mencari udara segar di luar. Ada apa Kakak mencariku?" ujar Inka mencoba bersikap santai walaupun ia merasa bersalah kepada Kanigara karena sudah berbohong. Namun Inka tahu ia tidak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya kepada Kanigara.


Niskala sudah berjanji akan menyimpan rahasia itu dari siapapun termasuk Kanigara.


Kanigara terus melihat Inka dengan tatapan dingin yang membuat Inka merasa semakin tak nyaman. Inka tidak mengetahui apa sebenarnya yang menyebabkan perubahan pada diri suaminya itu karena setelah makan malam, sang suami masih tetap bersikap lembut kepada Inka.


"Sayang, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu? Kenapa rasanya kamu terlihat berbeda? Apa aku melakukan suatu kesalahan?" tanya Inka untuk memastikan, karena ia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi yang terjadi antara dirinya dan Kanigara. Ia ingin lebih bersikap terbuka kepada Kanigara karena ia ingin dirinya dan sang suami bisa saling mengenal satu sama lain.


Inka tak ingin orang-orang seperti Leticia mengganggu kehidupan pernikahannya, saat melihat ada ruang kosong di antara dirinya dan Kanigara, yang bisa dijadikan alat untuk memecah hubungan mereka lagi.


Inka ingin agar kehidupan pernikahannya jauh dari percekcokan. Ia ingin membangun hubungan yang romantis dengan sang suami. Kanigara menatap Inka dalam diam, ia menghela nafas panjang, sebelum akhirnya ia mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Kenapa kamu berbohong? Tadi aku lihat kamu baru keluar dari ruangan Kak Niskala, bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"


Deg...

__ADS_1


****


__ADS_2