
Seseorang sedang tertawa puas saat melihat kobaran api yang sedang melahap sebuah bangunan dari video yang dikirim oleh anak buahnya.
"Rasakan pembalasanku! Itulah akibatnya jika berani mempermalukan seorang Bimantara Yoga!" ujar lelaki itu sambil tertawa puas. Leticia bergelayut manja di lengan Bimantara sambil menyeringai puas melihat perbuatan yang dilakukan oleh lelaki yang telah menjadi suaminya itu.
Namun, tawa Bimantara itu hanya berlangsung sesaat, karena tak lama kemudian, Bimantara mendapatkan panggilan dari anak buahnya yang mengabarkan berita buruk kepada sang bos.
"Bos, gudang bahan baku kita hangus terbakar!" Berita itu sontak membuat Bimantara terguncang. Dia segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan cepat keluar dari kamarnya. Leticia yang bingung, hanya mengikuti Bimantara dalam diam.
Leticia bisa melihat perubahan raut wajah dari suaminya itu, dan ia tahu bahwa lelaki itu sedang tidak baik-baik saja.
"Berangkat ke gudang bahan baku, sekarang juga!" Gelegar suara Bimantara membuat Leticia terkejut. Anak buah Bimantara segera bergegas mengikuti sang tuan yang tampak murka itu.
Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa lelaki ini terlihat sangat marah? batin Leticia yang tetap mengikuti langkah Bimantara itu. Mereka dan anak buah Bimantara segera bergegas menuju gudang bahan baku milik Bimantara.
****
Sesampainya di sana, Bimantara dan Leticia bisa melihat api yang berkobar sudah membakar habis setengah dari gudang bahan baku milik perusahaan Bimantara itu. Bimantara mengepalkan tangannya dan menatap kobaran api itu dengan pandangan nanar.
Tak lama suara sirine dari mobil pemadam kebakaran terdengar mendekat ke gedung itu. Para pemadam kebakaran segera melakukan aksinya untuk memadamkan si jago merah yang terlihat masih mengamuk dan melahap apapun yang ada di dekatnya.
"Cari siapa pun pelaku pembakaran ini! Dapatkan dia hidup atau mati!" seru Bimantara dengan intonasi suara yang sarat akan amarah.
Leticia memilih diam dan berdiri di samping Bimantara. Ia tak berani bertindak gegabah karena ini adalah urusan perusahaan dari Bimantara dan sebenarnya ia pun tidak terlalu peduli dengan urusan bisnis dari suaminya itu.
Yang Leticia pedulikan hanyalah bagaimana cara membalaskan dendamnya kepada Inka serta cara untuk mendapatkan Kanigara kembali.
****
"Misi selesai, pembalasan dendam sudah dilaksanakan, bu bos!" ujar seseorang dari seberang panggilan yang membuat seorang gadis tersenyum puas.
__ADS_1
Kali ini tak akan sama lagi Leticia, Bimantara! Aku akan membalas lebih dari yang pernah kalian lakukan kepadaku dulu, batin Inka. Ia mengepalkan tangannya kala ia mengingat bagaimana perusahaan cabang Alora Group yang ada di Batam, dibakar oleh Bimantara hanya karena ia ingin membalas dendam terhadap Kanigara.
Dulu, baik dirinya dan Asher tidak pernah berhubungan dengan Bimantara. Bimantara menjadikan keluarga Alora sebagai sasaran pembalasannya karena Kanigara menikahi Inka. Asher bahkan sama sekali tidak mencampuri urusan dendam yang terjadi antara Kanigara dan juga musuh bebuyutannya itu.
Inka masih mengingat dengan jelas berapa banyak kerugian yang harus ditanggung oleh Alora Group karena perbuatan keji Bimantara itu.
****
Tak lama, Asher datang dengan tergesa-gesa dan mengabarkan bahwa salah satu gedung penyimpanan milik perusahaan mereka terbakar. Inka hanya mengangguk dan mengatakan ia sudah mendapatkan kabar tentang itu dari sekuriti yang berjaga.
"Itu hanya gedung kosong kak, aku sudah memindahkan isinya ke gedung lain. Aku merasa bahwa gedung itu tak cocok jadi tempat penyimpanan barang material kita. Setelah di cek, kebakaran itu terjadi karena hubungan arus pendek kak!" jelas Inka yang membuat Asher merasa lega.
"Kakak, akui insting kamu emang jarang meleset ya!" ujar Asher sembari menyubit pelan hidung mancung sang adik. Mereka berdua pun bersiap untuk menuju lokasi kebakaran. Kedua orang tua Inka, Kanigara dan Niskala juga ikut ke tempat kejadian.
Sesampainya mereka di sana, si jago merah sudah berhasil di padamkan. Pihak pemadam kebakaran dan pihak kepolisian masih menyisir tempat itu untuk mencari temuan-temuan yang bisa dijadikan barang bukti untuk mencari penyebab kebakaran itu, selain pernyataan awal pihak pemadam kebakaran tadi.
"Sayang, kamu gapapa?" tanya Kanigara yang merasa tubuh Inka yang kian melemas.
"To..., tolong..., tolong aku, Kanigara!"
Deg!!!
Kenapa kata-kata Inka, sama dengan yang ada di mimpiku! batin Kanigara, tetapi pikirannya segera teralihkan karena Inka yang mendadak pingsan.
Kondisi Inka yang mendadak pingsan, membuat keluarganya merasa khawatir. Mereka segera melarikan Inka ke rumah sakit.
Sayang, kamu kenapa lagi?! batin Kanigara yang terus memeluk Inka sembari mencoba menyadarkan istrinya itu.
****
__ADS_1
"Inka belum sadar jugakah?" tanya Niskala saat ia dan Rhode mengunjungi Inka di rumah sakit setelah pertemuan mereka dengan klien dimana lokasinya tak jauh dari rumah sakit tempat Inka dirawat.
Kanigara hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah, saat menjawab pertanyaan sang kakak. Rhode menatap Inka yang masih tertidur dengan lekat. Tatapan itu terasa tak biasa! Ia tak pernah bergaul cukup dekat dengan Inka sebenarnya.
Hanya saja satu peristiwa yang sebenarnya terjadi secara tak sengaja, membuat Inka memusuhi dirinya. Ia mengakui, ia melakukan kesalahan terhadap Inka, tetapi bodohnya karena hasutan dari sahabat-sahabatnya Rhode sama sekali tidak meminta maaf kepada Inka, dan membuat Inka terus membenci dirinya.
Rhode masih merasa Inka belum melupakan masa lalu mereka, hal itu terlihat dari tatapan dingin yang diarahkan Inka padanya saat mereka bertemu di kantor Niskala. Di kesempatan kali ini, Rhode ingin menebus kesalahannya dan meminta maaf kepada Inka.
Rhode juga ingin, agar ia bisa mendekatkan diri kepada Inka karena selama ini ia sama sekali tak mempunyai sahabat. Sahabat yang dulu ia pikir teman sejatinya, ternyata adalah orang-orang yang munafik. Mereka meninggalkan Rhode saat gadis itu terpuruk dalam kesedihannya.
Hanya keluarga Janu, yang menawarkan uluran tangan dan pertemanan dengannya. Mereka bahkan memberikan pekerjaan dan tempat berteduh untuk dirinya kala itu.
Aku harap kamu baik-baik aja, Ka! batin Rhode sembari menggenggam tangan Inka, sekilas lalu.
****
"Sayang, kenapa kamu belum bangun-bangun juga?" ujar Kanigara lirih sembari menggenggam tangan Inka. Mereka sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap tubuh Inka, tetapi tak ada satu pun yang salah dengan tubuh istrinya itu.
Apa ada sesuatu yang terjadi sama kamu, yang aku engga tau, Ka?! batin Kanigara yang nyaris merasa putus asa karena Inka sudah tak sadarkan diri selama seminggu.
Mereka bahkan mendatangkan dokter spesialis dari luar negeri untuk melakukan pemeriksaan terhadap Inka. Kanigara tak perduli berapa biaya yang harus ia keluarkan, ia hanya ingin Inka sadar dan kembali menemaninya.
"Sayang, please bangun! I love you!" Kanigara membisikkan kata-kata keramat yang sama sekali tak pernah ia ucapkan kepada satu wanita pun di dunia ini, selain Inka. Ia sungguh berharap kata-katanya itu bisa membawa Inka kembali ke alam sadarnya.
Kanigara naik ke bangsal di mana istri cantiknya masih betah tertidur. Ia memeluk sang istri dengan lembut, sambil membisikkan kata cinta dan semua mimpi yang ingin ia bagi dengan wanitanya itu.
"Dimana aku?!"
****
__ADS_1