Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
70


__ADS_3

"Lama tak berjumpa, La!" ujar seseorang kepada seorang gadis yang sedang sibuk berias. Gadis yang berada di depan meja rias itu terkejut saat melihat rekan sekerjanya dulu, sedang duduk manis di ranjang yang ada di kamar hotel itu.


"Ka..., kamu! Darimana kamu masuk?!" teriak gadis itu yang membuat lawan bicaranya itu menyeringai.


"Kamu engga perlu tau! Yang kau perlu tau adalah..., kau telah salah pilih lawan, La! Kali ini mari kita lihat seberapa hebat penyamaranmu. Saranku, larilah seperti seekor buruan hebat yang bisa berkelit karena kalo tidak kau akan jadi mangsa dari seorang perempuan murka yang tengah sibuk membalaskan dendamnya," ujar gadis yang sedang duduk manis di ranjang tadi.


"Seila alias Sieska Lamara\, mantan pacar seorang Bimantara sekaligus pemuas n**su\, tangan kanan lelaki b*jingan itu! Ini hanya peringatan\, bergegaslah karena maut sudah mengintaimu!" ujar lawan bicara gadis yang dipanggil Seila itu. Gadis itu berlalu dari kamar itu dengan melenggang keluar melalui pintu dengan santai\, seolah ia tak takut bila kepergok oleh Bimantara atau salah satu penjaga yang menjadi bawahan Bimantara.


Seila menggeretakkan gigi sembari mengepalkan tangannya saat mendengar ancaman dari gadis yang dulu merupakan rekan kerjanya dulu. Ia tak menyangka bahwa gadis yang terlihat pendian dan misterius itu mempunyai kemampuan seperti tadi.


"Sallll!" teriak Seila secara tiba-tiba sembari menyapu semua peralatan make-up* yang ada di atas meja itu. Ia tak menyangka bahwa Inka mempunyai bawahan yang sangat cekatan dan cakap di sisinya.


Seila segera menghubungi Bimantara dan menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Penuturan dari Seila itu membuat Bimantara meradang. Ia tak menyangka bahwa Inka bisa mengetahui tempat persembunyian Seila, sembari mengancam kekasih gelapnya itu melalui anak buah Inka.


****


Inka sedang duduk melihat tayangan di televisi yang ada di kamar Elisha. Hari itu, Inkalah yang mendapat giliran untuk menemani sang ibu. Elisha masih terpukul dengan kepergian sang suami. Ia sama sekali tak membuka mulutnya sejak prosesi penguburan Oliver dilakukan.


Suara yang keluar dari bibir Elisha hanya isak tangis setiap kali kerinduannya kepada Oliver membuncah, tetapi tak bisa ia salurkan lagi. Inka, Gianna dan Asher berganti mengajak Elisha melakukan obrolan satu arah agar Elisha tak merasa kesepian. Tak ada tanggapan apapun dari Elisha, setiap kali ketiga insan muda itu mengajak ia mengobrol.


Hanya tatap kosong dan bibir kelulah yang Elisha hadiahkan untuk mereka. Saat itu Elisha sudah tertidur setelah diberi obat penenang oleh Inka. Obat penenang dan konsultasi kepada psikiater menjadi bagian dari keseharian Elisha selama beberapa minggu terakhir.

__ADS_1


Inka dan Asher merasa sangat tertekan melihat kondisi sang ibu, tetapi mereka tak bisa berbuat apapun jika Elisha masih sibuk meratapi kesedihan dalam sikap diamnya. Segala usaha sudah mereka coba, tetapi Elisha masih betah untuk berdiam diri dan tak menghiraukan apapun yang dikatakan atau yang dilakukan oleh kedua buah hatinya itu.


Tiba-tiba, Gianna masuk dan memutar tayangan televisi yang sedang memutar berita tentang suatu perusahaan yang digerebek oleh pihak kepolisian karena ada dugaan korupsi dan bisnis pencucian uang. Terlihat pada tayangan itu, bagaimana pihak kepolisian menangkap beberapa tersangka terkait hal itu.


Inka mencibir melihat tayangan itu.


"Seperti api yang membakar perlahan, makin lama makin besar dan melahap semuanya tanpa sisa!" ujar Inka yang membuat Gianna menyeringai puas.


"Setelah ini, apa Bu Bos?" tanya Gianna penasaran karena Inka secara tiba-tiba merubah rencana awal mereka akibat kematian dari Oliver.


"Buruan kita sepertinya akan segera berlari, buru dia sampai tak ada lagi jalan untuk menyelamatkan diri! Nyawa ganti nyawa!" balas Inka dengan tatapan penuh dendam yang membuat Gianna bergidik ngeri.


Gianna menyadari bahwa dendam Inka sudah mencapai limit tertinggi, dimana pengampunan akan susah untuk diberikan oleh sahabatnya itu. Kematian Oliver menjadi titik balik perubahan sikap Inka. Tadinya Inka tak ingin membalas dendam yang menyebabkan nyawa melayang, sekalipun nyawa gadis itu beberapa kali berada di ambang kematian.


****


"S*al! S*al! S*al! Kenapa pihak kepolisian bisa menggerebek tempat kita?! Bukannya udah banyak pelicin yang kita berikan selama ini!" teriak seorang pria yang melemparkan gelas berisi tequilla yang sedang digenggamnya tadi.


"Arghhh, ini pasti ulah Kanigara dan komplotannya! Awas kau, Kanigara dan Inka!" teriak Bimantara yang merasa depresi karena salah anak perusahaann miliknya resmi ditutup oleh pihak kepolisian karena ada dugaan korupsi dan bisnis pencucian uang. Semua aset dan dokumen yang ada di perusahaan itu, dan sebentar lagi bila ia tak segera bertindak, namanya akan terseret dalam kasus itu.


Selama ini, Bimantara menggunakan bisnis fiktif untuk menjalankan usaha ilegalnya dan memberikan uang pelicin kepada oknum pihak berwenang agar usahanya tetap bisa berjalan dengan baik. Ia berusaha mencari cara agar dirinya lepas dari jerat hukum untuk kasus itu.

__ADS_1


Selain bisnis ilegalnya yang terkena masalah, Bimantara juga harus memikirkan soal Seila yang mendapat teror dari pihak Inka. Ia segera meminta Seila untuk meninggalkan Indonesia untuk sementara waktu, menunggu keadaan kembali tenang. Bimantara meminta Seila untuk menaiki kapal laut agar terhindar dari pemeriksaan seperti yang terjadi di bandara.


Seila mengikuti keinginan Bimantara, ia segera mengemasi semua barangnya dan bersiap menunggu orang yang akan mengantarkan dirinya menuju pelabuhan.


Tiba-tiba, sebuah panggilan masuk tanpa nama muncul di layar Seila yang membuat gadis itu waspada. Ia merasa ragu untuk mengangkat panggilan itu, tetapi ia juga berpikir bahwa kemungkinan panggilan itu berasal dari orang yang dimintai Bimantara untuk menghubugi dirinya.


"Halo!" ujar Seila.


Tak ada jawaban dari seberang panggilan yang membuat Seila menjadi waspada.


"**jing betina, lari! larilah! Sebelum malaikat maut menjemput nyawamu yang tak berharga itu! Nyawa ganti nyawa, Seiska Lamara!" Suara Inka terdengar di telinga Seila yang membuat Seila melemparkan ponselnya ke lantai. Ia tak menyangka bahwa seorang Inkalah yang langsung menghubungi dirinya.


Tubuhnya bergetar menahan amarah dan rasa takut yang tiba-tiba menguasai dirinya. Seila merasakan sesuatu yang kelam seolah sedang mendekati dirinya. Ia mengambil kembali ponselnya yang berlayar retak itu, untuk menghubungi Bimantara.


"Je..., jemput aku secepatnya, Yang. Wanita..., wanita itu menghubungiku!" seru Seila histeris.


Tiba-tiba suara ketukan di pintu terdengar, Seila mengintip dan melihat ajudan Bimantara berdiri di depan pintu. Seila bernafas lega dan langsung membuka pintu kamar hotel itu.


"Maaf menunggu lama, Non!"


Tiba-tiba semua menjadi gelap.

__ADS_1


****


__ADS_2