Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
60


__ADS_3

Inka terkejut mendengar pertanyaan dari Kanigara. Ia segera memutar otaknya, mencari jawaban agar Kanigara tak mencurigai hubungannya Niskala.


"Ehmmm, maaf kalo aku bohong kak. A..., aku sebenarnya curhat sama Kak Niskala tentang..., kita...." jawab Inka berpura-pura menunduk tersipu, yang membuat Kanigara menaikkan sebelah alisnya.


"Kita?" selidik Kanigara yang membuat Inka mengangguk malu. Ia berusaha memainkan perannya dengan baik, karena ia tahu Kanigara adalah pengamat yang sangat teliti. Kanigara mencoba memastikan kejujuran dari sang istri dengan mengangkat dagu Inka dan menatap langsung ke netra gadis itu.


Inka meremas belakang gaun santainya dan mencoba membalas tatapan Kanigara dengan tenang, padahal jantungnya sedang bertalu-talu karena tatapan intens dari suaminya itu. Rona merah jambu perlahan merambat di pipi mulus Inka, yang membuat Kanigara tersenyum simpul.


Tanpa aba-aba, ia menempelkan bibirnya sekilas lalu ke bibir sang istri, yang membuat Inka terkejut.


"Baiklah, aku percaya, istriku! Aku harap kamu tau batasan kamu, sekalipun Kak Niska adalah kakak ipar kamu!" tegas Kanigara yang membuat Inka mengerjapkan matanya karena bingung.


"Kakak cemburu?" tanya Inka yang tanpa sadar menyuarakan isi hatinya yang membuat Kanigara tertegun.


Cemburu? Aku? batin Kanigara yang baru kali ini merasakan perasaan cemburu dalam dirinya dan itu disebabkan oleh hubungan sang istri dan kakak kandungnya sendiri.


"Ekhem, mungkin!" ujar Kanigara jujur yang membuat Inka tersenyum simpul lalu mengalungkan tangannya ke leher Kanigara yang membuat lelaki itu terkejut. Inka berjinjit dan mendaratkan kecupan ringan di bibir Kanigara.


Kanigara segera memeluk Inka dan membawanya ke ranjang mereka. Inka hanya mengikuti keinginan suaminya dalam pasrah. Ia tahu bahwa malam itu adalah saat dimana ia harus menyerahkan dirinya secara utuh kepada sang suami. Kanigara yang melihat reaksi dari sang istri merasa bersyukur karena tak ada penolakan dari Inka.


Mereka menghabiskan malam mereka dengan kebahagiaan nyata. Pada akhirnya Kanigara berhasil mengklaim kepemilikannya atas Inka. Inka sendiri merasakan euforia kegembiraan dan rasa puas yang meliputinya secara bersamaan. Inka dilingkupi perasaan bahagia karena kini ia dan Kanigara telah bersatu dalam pernikahan yang sah.


****


"Apaaaa? Mereka..., mereka sudah..., sudah?" seru Leticia histeris saat mendengar kabar dari kaki tangannya yang masih ada di kediaman Kanigara.

__ADS_1


Arghhhh, Sial! Dasar perempuan m*rahannn! batin Leticia karena ia merasa tak rela saat mendengar Kanigara sudah mensahkan pernikahannya dengan Inka dengan penyatuan raga dan jiwa mereka malam tadi.


Seharian itu, Leticia merasa uring-uringan yang menarik perhatian dari Bimantara. Ia mencoba mengorek dari Leticia, alasan mengapa ia terlihat gelisah sepanjang hari itu. Leticia hanya menjawab bahwa periode datang bulannya akan segera tiba, yang membuat Bimantara mengangguk paham.


Bimantara selalu bertanya dalam hati mengapa saat siklus bulanan wanita akan tiba, wanita menjadi cenderung berubah menjadi sangat sensitif dan cenderung gampang terbawa emosi. Ia selalu tak habis pikir dengan fenomena yang sudah menjadi rahasia umum itu.


Terkadang ia merasa sangat bahagia, saat mengingat ia dilahirkan berjenis kelamin pria sehingga ia tak harus repot dengan semua kericuhan yang berhubungan dengan siklus m**truasi.


Ia membiarkan Leticia untuk menenangkan dirinya sendiri, sembari ia memikirkan cara lain untuk membalaskan dendamnya kepada keluarga Janu dan Alora. Ia harus mencari cara agar pembalasan dendamnya kali ini berhasil dengan sukses.


****


"Rhode, tolong periksa dokumen ini. Saya butuh kopiannya siang ini!" ujar Niskala keesokan harinya saat mereka sudah kembali bekerja.


"Baik Pak," ujar Rhode dengan sigap sembari menerima dokumen yang dimaksud dari tangan Niskala.


Niskala melihatnya dengan tatapan bertanya, Rhode segera menggelengkan kepalanya dan mencoba fokus memeriksa dokumen yang ada di tangannya. Niskala hanya mengangkat bahunya dan kembali fokus ke pekerjaannya.


S*al! Kenapa ke gap sih?! batin Rhode kesal. Mulutnya terlihat komat-kamit sembari menggerutu pelan, yang membuat Niskala kembali menatap ke arahnya. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat kebiasaan aneh asisten pribadinya itu muncul kembali ke permukaan.


"Rhode, kamu baik-baik aja?" tanya Niskala yang membuat gadis yang dipanggil Niskala itu terkejut dan langsung mengatupkan bibirnya. Ia tak menyangka, Niskala kembali memergoki dirinya melakukan kebiasaan yang selalu ia lakukan tanpa sadar itu.


"Saya baik, Pak. Saya cuma lagi membaca dokumen ini dengan suara kecil supaya lebih mudah saya pahami. Apa suara saya kedengaran sampai di meja, bapak?" tanya Rhode untuk memastikan apakah pendengaran atasannya yang terkenal tajam itu mampu mendengar gerutuannya tadi.


"Ehmmm, kecuali beberapa kali nama saya, kamu sebut..., yang lain saya tidak begitu dengar!" sindir Niskala sambil tersenyum geli yang membuat Rhode mengumpat dalam hati.

__ADS_1


Niskala acapkali menggoda dirinya dengan candaan seperti kata-katanya tadi yang membuat Rhode terkadang jengah. Rhode tahu bilang dibandingkan dengan Kanigara, Niskala adalah sosok yang santai dam lumayan ramah. Tidak seperti Kanigara yang terkesan dingin dan misterius.


Kehangatan Kanigara hanya terlihat saat ia berinteraksi dengan sang istri, Inka. Hal itu pun baru pertama kali Rhode lihat, saat ia menjenguk Inka di rumah sakit kala ia mengalami mati suri beberapa waktu yang lalu.


****


Kamar Kanigara hari itu masih terasa gelap hingga menjelang siang, karena gorden dalam ruangan itu sama sekali belum dibuka. Sang empunya kamar, masih terlelap di peraduannya sembari memeluk tubuh molek sang istri yang masih terbalut selimut.


Kanigara terbangun lebih dahulu, ia menatap sang istri yang masih terlelap dengan pandangan penuh cinta. Apa yang selama ini dijaga oleh Inka, akhirnya bisa ia dapatkan atas ijin dari istri cantiknya itu.


Kepuasan yang mereka gapai tadi malam, membuat Kanigara semakin yakin bahwa cintanya berbalas. Ia kembali mengingat wajah cantik Inka saat mereka mencapai puncak ke***matan bersama-sama. Senyum malu-malu Inka kala tangan lihai Kanigara me**yu tubuh Inka, masih terpatri jelas dalam ingatan Kanigara yang membuat ia merasa ingin mengulangi momen manis mereka berdua malam tadi.


Kanigara menahan keinginannya itu karena melihat Inka yang masih kelelahan akibat malam panjang yang mereka lalui tadi malam. Tiba-tiba Inka bergerak pelan dalam pelukan Kanigara yang membuat suami Inka itu tersenyum manis.


"Pagi sayangku, kamu sudah bangun?" tanya Kanigara pelan kala melihat Inka sudah membuka matanya dengan perlahan. Setelah pandangannya membaik, Inka melihat penampakan wajah tampan tanpa cela milik sang suami yang menyebabkan Inka mengingat malam p**nas mereka.


Semu merah merambat di pipi Inka, tanpa ia sadari, yang membuat Kanigara tersenyum geli. Ia mencuri ciuman selamat pagi dari bibir merah sang istri yang membuat wajah Inka semakin memerah. Tak butuh waktu lama bagi Inka untuk menyadari posisi mereka saat itu. Ia bisa melihat dada sang suami yang tak tertutupi apapun, dan tubuh polosnya yang hanya ditutupi oleh selimut.


Inka mencoba bergerak, tetapi ia merasa tubuhnya sangat lemas dan sakit. Kanigara yang memahami hal itu membantu Inka untuk membersihkan diri. Ia langsung mengangkat Inka dan menggendong sang istri ala bridal yang membuat Inka memekik karena melihat tubuh mereka yang tak tertutupi sehelai benang pun.


Inka menutup matanya, di sepanjang perjalanan mereka menuju kamar mandi. Kanigara meletakkan tubuh sang istri ke dalam bathtube. Kanigara segera menyalakan tombol air hangat untuk mengisi bathtube yang membuat Inka mendesah nyaman.


Hal itu justru memicu sesuatu dalam diri Kanigara, yang membuat lekaki itu pasrah pada apa yang ia rasakan.


"Istriku, bolehkah sekali lagi?"

__ADS_1


****


__ADS_2