
"Mami, istirahat dulu ya, kami mau bersih-bersih dulu. Rima, kamu jaga mami ya!" ujar Inka yang mendapat anggukan dari kedua wanita beda usia itu. Inka dan Gianna kembali ke kamar mereka masing-masing. Gianna segera menghubungi Segara dengan nomor kontak baru yang sudah diganti mereka saat masih berada di Jakarta, agar tak bisa dilacak oleh pihak musuh.
"Sayang, kami udah sampe. Kalian disana aman, kan?" tanya Gianna yang sebenarnya merasa khawatir dengan keselamatan semua orang terdekat mereka. Segara berusaha untuk menenangkan Gianna agar tak perlu mengkhawatirkan keadaan mereka.
"Jangan lupa untuk ngasih kabar ke aku ya, toko bunga kamu juga udah dijaga sama orang suruhan Kak Asher," ujar Segara yang membuat Gianna merasa lega, karena ia mempunyai beberapa staf yang mencari nafkah untuk keluarganya melalui toko bunga miliknya.
"Ehmmm, miss you," ujar Segara yang membuat wajah Gianna merona. Ia merasa terkejut kala mendengar perkataan dari sahabat sekaligus tunangannya itu. Ia terlalu malu untuk membalas perkataan dari Segara yang membuat Segara tertawa kecil, karena memahami hal itu.
"Waktu ngelamar urat malunya lagi ilang ya, Neng! Giliran aku bilang rindu malah diem aja!" goda Segara yang membuat Gianna mencebik.
"Miss you, too!" ujar Gianna yang langsung memutuskan panggilannya karena merasa tak siap mendengar jawaban dari tunangannya itu.
****
Asher yang kebetulan berada di ruang kerja Segara, hanya menggelengkan kepalanya karena merasa Segara seperti bocah yang baru jatuh cinta dan sedang menikmati manisnya madu cinta.
"Dasar bocah!" sindir Asher yang membuat Segara terkekeh.
Tiba-tiba wajah Asher berubah serius yang membuat Segara menjadi waspada.
"Aku tahu selama ini, Inka, Gianna dan kamu menjalankan sesuatu di belakang kami! Kanigara udah cerita beberapa hal yang ia tahu dari Inka. Tapi aku tahu masih ada yang ditutupi oleh Inka! Sekarang cerita, Gar!" tegas Asher yang membuat Segara terdiam.
Ia tahu bahwa Asher dan Kanigara pasti mengetahui sepak terjang mereka selama ini. Segara merasa bimbang, apakah harus menceritakan semuanya kepada Asher atau tidak, karena ia sudah berjanji pada Inka untuk merahasiakan hal itu. Asher menatap Segara dengan lekat seolah sedang menunggu keputusan dari sahabat adiknya itu.
__ADS_1
"Maaf kak, tapi aku udah janji sama Inka akan merahasiakan semuanya. Kalo memang kakak ingin tahu, kenapa kakak engga langsung tanya ke Inka." Jawaban dari Segara membuat Asher tertawa kecil sembari mengangguk-mengangguk kepalanya beberapa kali. Ia sama sekali tak memaksa Segara untuk menceritakan rahasia kedua sahabat itu. Namun, ia merasa khawatir bila ia dan Kanigara tidak mengetahui cerita konkrit dari apa yang terjadi selama ini, mereka tidak akan bisa melindungi Inka secara maksimal.
"Baiklah, kalo kamu engga mau cerita! Tapi kalo kalian terus menyembunyikan semua, apa kamu engga takut kejadian yang terjadi pada Gianna mungkin akan terulang lagi?"
Deg!!!
****
"Ka, menurut mata-mata kita, ada seseorang yang selama beberapa hari ini menginap di kediaman Bimantara! Panggilannya Ucok, nama aslinya Paolo," ujar Gianna yang membuat Inka terdiam. Ia merasa tak pernah mendengar nama itu di kehidupan sebelumnya. Inka segera meminta Gianna untuk menghubungi Kenneth dan mencari tahu tentang lelaki misterius itu.
Inka merasakan firasat buruk setelah mendengar nama lelaki itu. Inka tak bisa mengingat tentang lelaki itu, tetapi ia merasa tak asing kala mendengar nama lelaki itu. Perasaannya menjadi tak menentu, ia tidak ingin kecolongan lagi setelah kematian sang ayah dan penculikan terhadap Gianna.
"Jangan lagi, Tuhan! Aku mohon," gumam Inka sembari terus mencoba menggali ingatan masa lalunya. Ia juga tak sabar menunggu kabar tentang identitas Paolo dari Kenneth.
Malam itu, Inka tak bisa tidur dengan nyenyak dan hal itu diketahui oleh Kanigara. Ia merasa bahwa beberapa kali, Inka terus membolak-balik badannya.
Inka pun memilih jujur dan menceritakan apa yang menjadi kekhawatirannya. Kanigara terkejut saat mendengar nama lelaki yang disebutkan oleh Inka.
"Paolo?" ulang Kanigara yang membuat Inka mengangguk. Tubuh Kanigara menegang yang membuat Inka bangkit dan menatap wajah Kanigara yang menggelap.
"Kamu gapapa, yang? Kamu kenal lelaki itu?" tanya Inka yang merasa Kanigara mengetahui tentang lelaki yang membuat Inka merasa tak tenang sepanjang hari itu.
"Dia musuh Kak Niska, seharusnya dia masih penjara...,." Kanigara menceritakan kejadian yang terjadi di antara Paolo dan Niskala di masa lalu. Tiba-tiba kilatan masa lalu menghantam Inka. Inka tersengal sembari memegangi kepalanya. Kanigara terkejut saat melihat reaksi Inka itu. Ia segera memeriksa keadaan Inka.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?" ujar Kanigara yang mencoba memeluk Inka yang masih merintih seolah sang istri sedang menahan sakit pada tubuhnya. Kanigara mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Pembunuh! Pembunuh!" teriak Inka yang tiba-tiba histeris dan jatuh pingsan setelahnya.
****
Hanya berselang beberapa menit, seorang lelaki masuk ke kamar Kanigara. Kanigara memberi ruang bagi lelaki yang lebih muda dari Kanigara itu untuk memeriksa Inka. Lelaki itu bertanya kepada Kanigara tentang yang terjadi sebelum Inka pingsan. Kanigara pun menceritakan semuanya.
"Sepertinya trauma Kak Inka muncul lagi ke permukaan, Bro. Kita butuh psikiater untuk menemani Kak Inka dan Tante Elisha," ujar lelaki itu. Kanigara mengangguk dan meminta lelaki itu untuk segera membawa psikiater ke vila, secara diam-diam.
"Rengga, kembaran kamu mana?" tanya Kanigara yang membuat lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu cengengesan. Kanigara segera memutar bola matanya karena mengetahui maksud dari ekspresi yang ditunjukkan oleh Rengga.
Kanigara meminta Rengga, untuk menyampaikan tugas khusus kepada kembarannya yang bernama Ringga. Rengga langsung melaksanakan perintah dari atasan sekaligus kakak sepupunya itu. Si kembar adalah orang yang ditugaskan oleh Niskala untuk melindungi Inka dan keluarganya selama mereka berada di vila. Walau tempat itu sudah dikelilingi oleh pelindung dan pengawal handal yang diperintahkan oleh Niskala dan Asher, tetapi saat mendengar tentang Paolo, Niskala segera mengirimkan bala bantuan tambahan.
Setelah Rengga keluar dari kamar mereka, Kanigara segera menghubungi Niskala untuk mengkonfirmasi kebenaran tentang Paolo. Niskala membenarkan informasi yang diterima oleh Kanigara. Kanigara sempat protes karena Niskala sama sekali tak memberitahukan tentang kehadiran Paolo.
"Aku berencana untuk terbang ke sana dua hari lagi, ternyata Inka udah ngomong duluan ke kamu. Kenneth bilang ia sama sekali tak memberitahu tentang Paolo kepada Inka, tapi kayaknya Inka punya mata-mata yang menyusup ke kediaman Bimantara," jelas Kanigara yang membuat Kanigara menghela nafas berat sembari menatap ke arah Inka yang masih belum siuman.
Kejutan apalagi ini, sayangku? batin Kanigara yang merasa masih banyak hal yang dirahasiakan oleh Inka dari dirinya. Ia merasa sedikit kecewa, tetapi ia sadar, dirinyalah yang menyebabkan semua itu. Sikapnya yang sejak awal memberi batasan dalam hubungannya dengan Inka, membuat gadis itu sukar untuk berbagi perasaan Kanigara. Kanigara berjanji akan berubah hingga Inka akan mempercayai dirinya secara penuh.
****
"Mereka menyembunyikan keberadaan gadis itu, Tuan besar!" ujar seseorang kepada sang atasan yang menunggu informasi yang berasal dari mata-mata yang sudah mereka sebar sebelumnya.
__ADS_1
"Khasnya Niskala! Rupanya mereka masih gemar petak umpet ya! Baiklah, mari kita bermain, kawan lamaku!"
****